Test Food di Rumah Kebon Cengkeh

Seperti janjiku pada postingan sebelumnya untuk mereview hasil menyelusup alias test food di Rumah Kebon Cengkeh, maka ini laporan pandangan mata bapak, ibu, Kak Linda dan suami, Risma dan suami juga Ilen anak mereka.  Jangan kaget jika yang berangkat survey  satu kampung.  Ini demi sportifitas dan netralitas penilaian…huahahahhaha…

Berdasarkan informasi dari bu Nani, bahwa selamatan kemarin, pengantin mengambil catering Dendrobium, sama dengan catering yang rencananya akan kuambil.  RKC sendiri menyediakan berbagai paket, yakni :

 

PAKET PERNIKAHAN I : (Rp.  32.250.000 untuk 200 orang), akan mendapat fasilitas sebagai berikut :

Venue      : rumah Joglo, patio, rumah pohon, taman, lahan parkir, wisma bougenville 1 lantai.

Dekorasi : pelaminan standar, meja penerima tamu, kotak amplop, janur umbul-umbul

Catering : Dendrobium A @ Rp. 52.500/pax (buffet 100 % + 3 desserts + 3 stall)

 

PAKET PERNIKAHAN II : (Rp. 34.250.000 untuk 200 orang), akan mendapat fasilitas sebagai berikut :

Venue            : rumah Joglo, patio, rumah pohon, lahan parkir, wisma Bougenville 1 lantai

Penginapan : menginap 1 malam di wisma Bougenville untuk 10 orang dan villa Cattleya untuk 2 orang.

Dekorasi      : pelaminan standar, meja penerima tamu, kotak amplop, janur umbul-umbul

Catering      : Dendrobium B @ Rp. 57.500/pax (buffet 100 % + 4  desserts + 4 stall)

 

PAKET PERNIKAHAN III : (Rp. 37.750.000 untuk 200 orang), akan mendapat fasilitas sebagai berikut :

Venue            : rumah Joglo, patio, rumah pohon, lahan parkir, wisma Bougenville 1 lantai.

Penginapan : menginap 1 malam di wisma Bougenville untuk 10 orang dan villa Cattleya untuk 2 orang.

Dekorasi       : pelaminan standar, meja penerima tamu, kotak amplop, janur umbul-umbul

Catering       : Dendrobium B @ Rp. 57.500/pax (buffet 100 % + 4 desserts + 4 stall)

MC dan entertaiment, dimana pilihannya :

A.  Keyboard and singer

B.  Akustik (gitar, saxophone/biola, cajon/drum, keyboard dan vokalis)

C. Keroncong trend (gitar, violin, flute, ukulele, cello, bass dan vokalis.

Pada dasarnya, terdapat 5 paket pernikahan yang ditawarkan RKC.  Namun sementara ini aku batasi menulis 3 paket pertama yang kemungkinan aku pilih.  Untuk info lainnya, aku bisa mengirimkan detail pake pernikahan IV dan V by email, termasuk detail paket-paket catering lainnya.

 

Saat  Menyelusup di RKC

1.  Dekorasi

Pernikahan dilaksanakan sore hari, suasana remang-remang gitu deh.  Bapak dan ibuku terpikat dengan dekorasi sederhana sore itu.  Untuk bisa menilai secara obyektif, bapak dan ibuku harus meninggalkan konsep dekorasi pernikahan di gedung yang selama ini mereka temui.   Lokasi yang didekor cukup luas, meliputi rumah Joglo, rumah pohon hingga kebun.

Hasil hitungan di kertas, bila dekor seperti itu dilakukan di gedung, cukup menguras dompet juga.  Jadi sebetulnya, harga sewa venue dan dekorasi di RKC hampir sama jika kita menyewa gedung (tergantung harga sewa dan luas gedung).  Tempo hari, aku sempat survey harga sewa tenda dan dekor garasi, halaman depan dan samping (tidak termasuk bagian dalam rumah),  ternyata nembus 10 jeti, dapet bonus beberapa kursi lipat Chitose.  Itu harga persahabatan dari penata rias langganan keluarga.  *kepala kejatuhan bata.

Masalah tingginya biaya dekor bisa disiasati dengan membaca baik-baik paket pernikahan yang ditawarkan vendor.  Umumnya, setiap pemesanan catering minimum 1000 pax, sudah termasuk dekor standar baik untuk gedung, pelaminan dan buffet.  Tinggal cocokan dengan kebutuhan dan budget kalian.  Sayangnya, paket catering including dekor tidak berlaku pada kasusku karena  perkiraan tamu yang hadir maksimal 300 orang (bukan 300 undangan).  Itu udah termasuk anak-anak kecil.  Salah satu kelemahan small wedding, memang harus cermat menghitung jumlah kepala tamu yang akan hadir.

Resepsi besar umumnya jumlah undangan x 2.  Sedangkan untuk mengantisipasi jumlah undangan diluar dugaan, biasanya total catering ditambah 20 % sebagai makanan cadangan.  Balik lagi ke RKC,  bapak dan ibuku tidak sempat menunggu sampai makanan dihidangkan.  Menurut Kak Linda dan Risma, dekor dan suasana di RKC cocok untuk sore hari.   Pendapat yang sama juga dilontarkan orang tuaku.  Namun, agar tidak terlalu capek dan mengantisipasi tamu ogah berlama-lama kena macet Bandung sore hari dan weekend pula, bapak menyarankan untuk jam makan siang saja, selepas pemberkatan di gereja.  Ini ide yang tepat menurutku.

2.  Catering

Menurut Risma dan Kak Linda, makanannya enak-enak, penyajiannya pun menarik.   Cuma, mungkin pas bagianku nanti, makanannya harus lebih asin dikit lagi, maklum lidah Batak.  Beberapa menu yang tidak perlu dilirik adalah : rujak dan jajajanan pasar… Kalau tentang rujak aku sepakat.  Karena lagi-lagi, orang Batak tidak makan rujak.  Namun jajanan pasar masih harus aku fikirkan masak-masak karena dari dulu aku pengen ada jajanan pasar dan tekwan di nikahanku.

Dalam beberapa hari ke depan, aku harus memberi keputusan pada bu Nani.  Sekarang masih nunggu jadwal pemberkatan dari gereja, biar ga bolak balik revisi.  Masih budgetting juga… huahahahah…tetep ini mah.  Maklum, aku dan Mas Ipung takut salah mengambil keputusan.

Intermezzo

Oh ya, kenapa aku bilang peserta test food ini adalah para penyelusup?  Karena biasanya jika kita mau test food, biasanya daftar pada WO atau pemilik catering.  Meski aku sudah melaporkan bahwa orang tua dan kakak serta sepupu akan test food, tapi Kak Linda dan Risma melakukan ritual sebaliknya.  Mereka mah makan dan kenyang duluan baru laporan sama bu Nani.

Keuntungan pakai cara yang ditempuh kakakku ini, kita bisa bebas menilai cara kerja vendor.  Kekurangannya, bisa saja keluarga yang punya hajat memandang aneh atau menyadari ada tamu tak diundang di acara mereka.  Meski ini kecil kemungkinannya.  Biasanya, kita tidak terlalu peduli terhadap tamu yang hadir.  Sekalipun kita tidak kenal, biasanya kita mengira ”tamu tak diundang” ini adalah kerabat dari istri atau suami.  Tapi lagi-lagi hal ini berlaku pada resepsi dengan jumlah undangan banyak.  Pada small wedding, para tamu tak diundang ini mudah terlacak.

Begitu ya review sementara.  Mohon didoakan agar semua berjalan lancar.

Salam hangat,

Lintasophia

Iklan

Sudah Sampai Manakah?

Serius ga sih kalau aku bakal nikah?  Rata-rata seperti itu pertanyaan teman-teman yang mengetahui aku bakal nikah.  Jawabnya : serius banget!  Trus, persiapannya udah nyampe mana?  Biasanya jawabanku yang tadi akan diikuti pertanyaan seperti itu.  Aku bisa menjawab bahwa persiapan sudah sampai pada jas bapakku dan Mas Ipung… Nah lho?

Iya, setelah  membahas masalah nikahan ini dan mungkin bapak menangkap tanda-tanda bahwa kali ini anaknya yang keras kepala  ini serius, maka bapak langsung menjahitkan jas.  Tidak tanggung-tanggung, langsung 2 jas sekaligus.   1 jas, kalau tidak salah warna abu-abu untuk kebaktian pertunangan di gereja dan jas hitam pas pemberkatan nanti.  Awas lho pak,  nanti jangan lebih cakep dari Mas Ipung… *ngikik.

Agar tulisan tidak terlalu panjang, aku batasi sampai venue Rumah Kebon Cengkeh ya…  Tulisan tentang Galeri Cinde pada halaman yang lain :

1.  VENUE

A.  Rumah Kebon Cengkeh (www.rumahkeboncengkeh.wordpress.com)

Persiapan lainnya?  Masih dalam tahap hunting.    Seandainya kemaren konsep acara cepat diputuskan, maka masalah venue bisa cepat terselesaikan.   Aku dan Mas Ipung sepakat untuk semi outdoor.  Alasannya sudah aku ungkapin di tulisan sebelumnya.  Kita butuh suasana yang hangat, intim dan homy.  Rasanya, gedung sekalipun didekor ala pesta kebun tetap  tidak mampu menjawab kegelisahan kita….tsaaahhh…

Sejak tahun lalu, aku dan Mas Ipung udah ngecengin Galeri Cinde dan Rumah Kebon Cengkeh.  Hanya saja, kemarin itu tidak ada rencana menikah tahun depan, jadi kita ga survey-survey pas aku mudik kemaren… Nyesel banget deh.  Kalau sekarang, aku dan Mas Ipung cukup berpuas diri berdasarkan laporan selayang pandang bapak, ibu, kakak dan sepupuku.

Berdasarkan informasi dari Bu Nani (pemilik Rumah Kebon Cengkeh), Sabtu 21 September ini ada nikahan di Rumah Kebon Cengkeh.  Ibu dan sepupu akan maen ke RKC lihat penampilan lokasi sambil icip-icip.  Kebetulan yang akan hajatan mengambil paket yang sama dengan paket yang akan kita ambil.  Semoga hasil icip-icipnya pas di lidah ibuku, biar jadi selametan di sana.

Kenapa sih aku dan Mas Ipung kesannya ”ngotot” banget di RKC?  Jawabnya, karena lokasi yang kita impikan memang terpenuhi di RKC.  Dulu sempat terfikirkan menikah di alam terbuka, dimana kelak bila kami sudah punya anak, kami bisa ajak anak kami berkunjung kembali ke sana untuk liburan.

Berikut alasan utama kenapa memilih RKC menurut versi aku dan Mas Ipung ;

a.  Suasana alam

Ini alasan utamanya.  Apalagi Mas Ipung berlatar belakang pecinta alam dan sampai sekarang masih aktif.    Rumah kita di Bantul juga dikelilingi pegunungan Bukit Menoreh,  dengan hamparan sawah mengepung menuju perumahan sederhana kami.  Mungkin kami juga jenuh dengan hingar bingar kota…hehehheeh….  Nah, RKC ini terletak di Bojongkoneng yang dalam bayanganku memang posisinya berbukit gitu dengan pemandangan kota Bandung.  

Tidak banyak resensi yang berhasil aku kumpulkan dari teman-teman dekat, kecuali Ocha yang sudah pernah dapet job dokumentasi.  Menurutnya, dalam arti positif  RKC patut dipertimbangkan.  Dari segi harga paket yang ditawarkan masih dalam kategori wajar dan tidak mahal.  Sebagai perbandingan,  tahun 2006 Ocha menikah di Puri Setiabudi dengan konsep yang sama (semi outdoor) dan porsi catering yang sama, Ocha membayar dengan harga yang sekarang ditawarkan oleh RKC.  So, hal ini patut dipertimbangkan dalam membuat keputusan.

b.   Rumah Joglo

Mewakili suasana Jogja tempat tinggal kita kelak.  Dulu kita punya angan-angan, sebelum menikah punya penginapan di Jogja dan akan syukuran menikah di sana.  Yang ini nyaris terwujud sampai akhirnya untuk sementara impian ini kandas karena rumah di Bandung sedang bersengketa.  Untuk sementara kita nebeng di RKC dulu deh…   Singkat cerita, kita jatuh cinta pada RKC.  Sayangnya ibuku kurang sreg.   Komentar pertama ibuku setelah survey ke RKC seperti ini :

”Nit, kamu teh serius mau nikah di kebun?”  dengan penuh hormat pada orang tua, aku menjawab secara takzim ”Ya namanya pesta kebun memang di kebun, masak di gedung?…” Maklumlah, ibuku orang tua yang konvensional.  Selama ini beliau mendapat undangan pernikahan di gedung.  Untungnya, setelah melihat  foto-foto RKC di internet, ibuku mulai terbuka fikirannya.  Katanya ” Ternyata bagus ya setelah di dekor.”   Heheheeh… Puji Tuhan!

c.  Fasilitas Lengkap

Untuk kalian yang merencanakan small wedding, pertemuan atau acara lainnya, bisa melirik tempat ini.   Karena RKC juga menyediakan villa (kapasitas 2 orang) dan wisma (kapasitas 10 orang).   Maksimal tamu 400 orang lho…  Jadi, jumlah undangan memang harus dihitung secara teliti.  Keterbatasan tempat di RKC ini bisa kamu pakai sebagai alasan untuk membatasi jumlah undangan.  *smile

d.  Catering

Untuk dapat menggunakan RKC, maka kamu minimal mengambil 3 item, yakni : catering, venue dan dekor.  RKC sudah memiliki catering rekanan dan tidak boleh memakai catering dari luar.  Nah, setiap paket pernikahan sudah termasuk catering untuk 200 pax.  Kekurangan catering tinggal menambah sekitar Rp. 52.500 sampai Rp. 57.500 per porsinya, tergantung paket mana yang kamu ambil.

Untuk paket-paket di RKC, silakan kontak : http://www.rumahkeboncengkeh.wordpress.com.   Berdasarkan pengalaman email-emailan dengan bu Nani, beliau sangat cepat menjawab email yang masuk.  Setelah beberapa kali komunikasi, aku menangkap bahwa bu Nani juga humoris dan funky.  Mungkin karena sering mengurus anak muda yang akan menikah.  Entah nanti jadi atau tidak kita selametan di RKC, aku tetap merekomendasikan RKC sebagai tempat melewatkan momen spesial hidupmu.

Sementara review venue sampai di sini dulu.  Besok-besok kita bahas Galeri Cinde.  Bakal ada review lagi tentang RKC setelah hari Sabtu ini.  Son, don’t miss it.  Sampai jumpa dan salam hangat,

Lintasophia

I

Selamat Ulang Tahun, mbak Septi!

Saat menulis malam ini, perutku sedang kekenyangan tak jelas. Pasalnya, kami baru pulang dari birthday surprise party. Yup, kejutan ulang tahun untuk Septi (rekan kerja). Berdasarkan kalender, baru besok ulang tahun Septi. Tapi, sejak 2 minggu lalu aku dan teman-teman sudah merancang surprise dinner.

Umumnya, jika salah satu diantara kita berulang tahun, maka acara tiup lilin dilakukan pas hari H setelah selesai kerja. Atau, bisa jadi kita makan siang bareng dengan master chef sekaligus majikan kita. Beliaulah yang memasak untuk makan siang. Setelah itu, tiup lilin, makan kue tart dan bersulang. Step terakhir tentu saja membuka kado yang dibeli dari hasil patungan teman-teman semua.

Sejak aku umumkan bahwa Septi akan berulang tahun 18 September ini (biasanya bagianku mengingatkan perihal ulang tahun rekan-rekan sejawat), si Om (majikan) langsung mengeluarkan ide untuk membuat surprise berupa dinner di luar. Kebetulan, sehari sebelum ultah Septi (hari Selasa) merupakan hari libur (off) di restoran. Waktu yang sempurna untuk misi rahasia. Septi tahunya bahwa ini makan malam biasa. 😉

Ada 3 (tiga) hal utama yang disiapkan untuk makan malam ulang tahun Septi ini, yakni ;

1. KADO
Ulang tahun tanpa kado bagaikan hape tanpa kamera…halah… Mestinya udah jauh-jauh hari masalah kado ini beres. Tapi kemarin kebetulan pekerjaan bejibun, susah nyolong waktu untuk survey-survey. Waktu break yang sebentar kita pakai untuk tidur atau melakukan pekerjaan domestik lain yang tidak sempat terjamah.

Kemudian, kado apa yang akan kita berikan untuk Septi? Nah, ini misteri yang tidak terpecahkan. Kemarin aku sempat jalan selama 2 jam untuk listing kado. Barang-barang yang masuk listing harus memenuhi unsur : sesuai budget, berfungsi alias tidak jadi penghuni abadi lemari dan harus lucu.

Berikut ini listing kado untuk Septi :
– Cappotto (jaket)
Sudah sejak dulu Septi pengen jaket, kebetulan pula sudah lama ia tidak beli jaket baru. Segera aku meluncur ke Zara. Sayangnya, kemaren ga ada jaket yang klik di hati, ya model ya harganya. Semua pertokoan aku jajal dengan pandangan fokus ke bagian jaket. Kebetulan waktuku kemarin lumayan sempit jadi ga sempat cuci mata melihat barang-barang lain. Perburuan jaket tidak membuahkan hasil. Benda yang bernama jaket terpaksa tersingkir dari daftar kado.

– Sepatu
Sasaran berikutnya adalah sepatu. Tadi secara sekilas aku menimbang-nimbang membeli sepatu high heels di salah satu butik di pusat kota. Tapi dalam beberapa waktu belakangan ini, Septi sudah membeli banyak sekali sepatu, termasuk sepasang high heels yang konon akan dipakai saat pernikahanku. Pertimbangan lainnya, butik ini tidak mempunyai banyak pilihan sepatu. Bila ukuran tidak pas atau Septi tidak suka, maka agak sulit mencari gantinya. Ini berdasarkan pengalamanku menukar sepatu di butik tersebut. Dengan terpaksa sepatu keluar dari daftar kado.

– Tas

Kalau kondisi terdesak, baru opsi ini ditempuh. Kalau tidak salah, sudah 2 kali ulang tahun kita memberikan tas sebagai kado. Sudah tidak menarik lagi opsi ini.

– Jam tangan
Nah, ini pilihan paling menarik. Sayangnya kemarin toko jam langganan tutup. Rencananya, hari ini aku kembali ke toko tersebut sambil membawa rencana A dan B. Rencana A, membeli jam tangan di toko tersebut. Namun bila rencana ini gagal, aku akan ke Fiumara (salah satu mall di pinggiran kota). Sayangnya rencana mentok di A. Karena hari ini bus pada mogok, jadi mau tidak mau harus menemukan kado di toko jam yang dimaksud.

Tadi aku selesai kerja tepat tengah hari. Cuma hitungan beberapa menit aku sampai di TKP. Sayangnya, jam tangan sesuai budget amat terbatas. Aku lirik jam tanganku. Beberapa menit lagi toko ini akan tutup untuk istirahat. Sambil memikirkan solusinya, penjaga toko mengeluarkan beberapa jam lagi yang harganya mendekati budget kita.

Mataku tertumbuk pada jam kulit Versace, agak klasik gitu. Talinya kecil, pas untuk pergelangan tangan Septi yang mungil. Desain angka warna-warni, cukup girly, memberi kesan klasik sekaligus modern. Aku suka banget dan (sok) yakin Septi bakal suka. Pada dasarnya seleraku dan Septi ga jauh berbeda, terbukti bahwa kami memiliki banyak barang kembar.

Kuhitung ulang dana didompetku. Dananya ga memadai… *nangis. Dasar rejekinya Septi, penjaga toko memberikan sedikit lagi diskon. Horeeee…. Hasil temuan eh hasil hunting aku laporkan pada rekan kerja yang lain. Untungnya mereka juga suka.

2. KUE ULANG TAHUN
Selesai masalah kado, maka waktunya memesan kue di toko roti langganan. Dulu toko roti ini menyediakan kue tart untuk 8 porsi ke atas. Namun sejak krisis, kebiasaan itu dihilangkan. Untuk kue tart ukuran 8 porsi di atas harus pesan dulu. Umumnya waktu pemesanan terakhir itu sebelum tengah hari.

Lalu, kalo ini toko langganan dan sudah faham bahwa kue harus dipesan sebelum pukul 11.oo, kenapa kami nekad tidak memesan sebelumnya.  Biasanya kami memesan jauh-jauh hari, tapi tadi pagi si Om keukeuh sumeukeuh bahwa kue dia yang urus.  Siangnya pas lunch, si Om malah lupa sama sekali…huuuuu…*miris.

Walau sedikit tidak yakin akan menemukan kue yang dimaksud, bersama Teh Maya dan Kombet kami sambangi toko kue tersebut. Benar saja, cuma ada kue-kue tart ukuran 6 porsi. Lagi-lagi rejekinya Septi, karena kita pelanggan yang manis…*ehem, mereka mau membuatkan kue tart padahal sudah pukul 14.00.

Kue tart akan diambil Teh Maya dan Kombet pukul 19.00 nanti dan langsung diantar ke restoran dimana kita akan makan malam. Sampai di sini, semua berjalan sesuai rencana. Sekarang waktunya membooking tempat ke pizzeria langganan.

3. RESTORAN
Sengaja urusan membooking restoran kita lakukan terakhir karena letak restoran searah dengan rumah. Jadi bisa sambil pulang. Ternyata restoran yang dimaksud baru selesai renovasi. Walau jadwal reopening malam ini, tapi pelayannya sendiri tidak yakin apakah mereka sanggup buka malam ini karena keadaan restoran masih berantakan. Kami disarankan untuk menelfon kembali sore nanti.

Hal ini kita laporkan pada teman kerja yang lain. Akhirnya kita memilih restoran Mio. Sebuah restoran yang menyajikan makanan China dan Jepang. Rasa makanannya gitu deh, nothing special. Tapi kita ga terlalu peduli juga, yang penting telan-able dan surprise untuk Septi bisa terlaksana malam ini.

Selama makan malam, semua berlangsung biasa, tidak ada tanda bahwa kejutan ini bocor.  *syukurlah.  Setelah selesai makan, it’s surprise timeeee… Keluarlah kue tart dengan lilin pink yang menyala di tengah angka 2 dan 6. Iya, ini ulang tahun Septi ke 26. Septi benar-benar terkejut, seneng banget liatnya. Berarti misi rahasia selama 2 minggu ini sama sekali tidak terendus Septi. Untungnya Septi juga suka sama kado yang kita berikan. Suasana malam tadi penuh kebahagiaan.

Selamat ulang tahun, mbak Septi. Gusti mberkahi… *peluk.
Salam hangat,

Lintasophia

Mendekatnya Pernikahan Idaman

Judulnya asyik banget yaaa… Betul, karena akhirnya aku dan pihak keluarga menemukan kata sepakat mengenai pernikahanku.  Di tulisan sebelumnya memang telah dijelaskan bahwa orang tua sudah kasih lampu hijau bahwa cuma pemberkatan dan makan siang saja.  Tapi saat proses hunting vendor dan budgetting, terungkap bahwa sekedar pemberkatan dan makan siang pun butuh biaya yang lumayan.

Nah, berdasarkan angka-angka di atas kertas, mulai deh ibuku menyarankan untuk menambah dana dikit lagi agar proses adat (sekalipun kecil) tetap terlaksana.  Sayangnya, setelah melakukan penghitungan ulang, tetap saja hal itu tidak dapat kami penuhi.    Rencana awal, jika berhasil melakukan pemotongan anggaran, maka dialokasikan untuk mangadati.  Upaya memotong anggaran tidak berjalan maksimal, karena pada dasarnya anggaran yang kami tulis pun sangat minimalis.  Sedang menambah budget pun tak mungkin, karena kita punya angka maksimal yang boleh dipakai untuk pernikahan ini.

Lalu seperti apa pernikahan yang aku dan Mas Ipung idamkan?  Cekidot…

1.   Sederhana

Hajatan kita harus berlangsung secara sederhana, baik perlengkapan terutama pengeluaran.  Bagaimana membuat tamu senang dan terkesan walau dalam kesederhanaan?  Di situ tantangannya.  Hampir tiap hari aku membanding-bandingkan paket pernikahan yang beredar di dunia maya.  Tidak semata masalah harga yang jadi perhatian, tapi pelayanan staff WO, vendor dan komunikasi jadi perhatian.  Untungnya konsep acara ini sederhana jadi kebutuhan tidak terlalu banyak dan ribet.

2.  Intim dan hangat

Ini juga salah satu point penting yang jadi perhatian kami.  Sangat beralasan, mengingat aku tinggal di Bandung sedangkan Mas Ipung di Yogya.  Pernikahan kami harus menjadi momen saling mengenal antara 2 keluarga besar.  Apalagi hampir 10 tahun ini aku tidak tinggal di Indonesia, maka pernikahan ini lebih tepat disebut sebagai ajang reuni keluarga dan teman-teman.  Keadaan ini didukung pula, masalah keterbatasan dana.  Karena itu kami tidak menyebar banyak undangan.  Pernikahan ini benar-benar cuma akan dihadiri keluarga dan sahabat  terdekat baik secara batin dan geografis.  Mohon pemaklumannya ya untuk kalian yang tidak mendapat undangan.  Mohon doa restunya saja yaaa…

3.  Homy

Yup, hajatan ini milik keluarga dan teman-teman yang hadir.  Mereka tidak boleh merasa canggung dan harus betah layaknya di rumah sendiri.  Rencana awal adalah setelah pemberkatan kita makan bersama di rumah.  Namun keterbatasan tempat membuat kita berfikir ulang akan rencana tersebut.   Walaupun hajatan sederhana dan ala kadarnya, aku dan Mas Ipung sepakat bahwa tamu adalah raja yang harus diperhatikan kenyamanannya.  Siapa sangka, keterbatasan tempat ini justru membuka jalan kami melaksanakan pernikahan impian kami, yakni pesta kebun.  Horeeeee….  Semoga kali ini konsep pernikahan tidak berubah lagi.  Mohon doanya ya temans…

Salam hangat,

Lintasophia

Konsep Pernikahanku. Sebuah Negosiasi yang Alot

6 (enam) bulan sejak aku memplokamirkan diri akan menikah tahun depan, belum ada satu pun report  persiapan pernikahan ini, karena sejatinya memang  tidak ada progress signifikan sih . 😦   Bahkan kalau boleh jujur, aku mengalami bulan-bulan berat setelah proklamasi itu.  Penyebab utamanya apalagi kalau bukan perbedaaan antara kemauan, kebutuhan dan kemampuan (baca : finansial) antara keluarga dan calon pengantin.

Perbedaan suku antara aku (Batak)  dan Mas Ipung  (Jawa) salah satu penyebabnya.  Bukan, ini bukan masalah restu yang tak kunjung turun tapi proses adat yang harus kami jalani sangat berat untuk kondisi kami saat ini.   Dari dulu ibuku sudah mensyaratkan bahwa adat Batak yang akan dipakai bila kelak kami menikah.  Untuk hal ini aku dan Mas Ipung tidak pernah menolak asal kondisi kami memungkinkan.  Tentu saja Mas Ipung tidak mau dianggap sebaga calon menantu kurang ajar atau tidak bertanggung jawab.  Satu sisi, Mas Ipung juga penasaran bagaimana sih rasanya menikah dengan tata cara adat Batak.  Difikir-fikir, justru Mas Ipung yang paling heboh pengen  mangadati.  🙂

Masalah kemudian muncul karena aku dan Mas Ipung ternyata tidak sanggup memenuhi harapan orang tua, terutama ibu.  Duh Gusti, bukan cuma ibu yang kecewa, perasaan kami juga hancur berkeping-keping.  Namanya anak, dimana-mana pasti ingin menyenangkan orang tua.

Sekalipun kami sudah menjelaskan kondisi finansial yang menyebabkan kami tidak mungkin menikah dengan adat Batak secara penuh (mangadati) dan memberi marga untuk Mas Ipung, ibuku tetap tidak bergeming.  Negosiasi demi negosiasi kami jalankan tapi ibuku tetap pada pendiriannya.  Rasanya tidak percaya menghadapi situasi itu.  Ibu yang kufikir paling ngerti keadaanku justru berbalik arah menjadi sangat tidak bersahabat.

Aku merasa kehilangan sosok yang selama ini menjadi sandaran saat aku lelah.  Satu-satunya kesepakatan yang berhasil kuraih saat negosiasi beberapa bulan lalu adalah, ibuku sepakat untuk menerima mengganti kerbau menjadi seekor babi.   *Jleb… Benar-benar aku tidak menyangka bahwa ibu menjadi rival terberatku untuk pada pernikahanku.  Padahal umumnya keluarga belah pihaklah yang konon akan rebutan akan konsep pernikahan anaknya, terutama adat mana yang akan dipakai.  Keluarga Mas Ipung dari jauh hari sudah memasrahkan hal ini padaku dan Mas Ipung.  Istilahnya, mereka ngikut seneng aja apapun keputusan kami.

Selama hampir 3 bulan proses negosiasi, tak terhitung berapa kali aku dan ibu berantem di telfon.  Masing-masing dari kami menyodorkan argumennya.  Tudingan bahwa aku dan Mas Ipung ”tidak tahu adat”  pun kuterima dengan lapang dada sambil nangis-nangis tentunya.

Sesedih apapun perasaanku dan Mas Ipung, kami tetap berusaha melihat sikap kontra yang ditunjukan oleh ibu sebagai bentuk sayang dan gembiranya atas pernikahanku yang telah lama ditunggu-tunggu.  Wajar pula ibuku bersikap demikian karena aku adalah anak perempuan terakhirnya dan menurut kepercayaan umum sudah agak ”telat” pula untuk menikah.  Pas nikah tahun depan umurku hampir 35 tahun saudara-saudara!

Sekedar gambaran,  beberapa kali bapak dan ibuku sebagai wali nikah orang lain, biasanya menjadi orang tua untuk mempelai yang berasal dari luar suku Batak.  Nah, kebayang kan perasaan ibuku yang biasanya menikahkan anak orang lain dengan adat Batak penuh sedangkan anak sendiri menikah ala kadarnya…hehehhehe…

Aku yakin, pelan-pelan, ibu sudah merangkai imajinasi indah dan pola yang indah akan pernikahanku kelak.  Sayangnya, imajinasi yang telah beliau gambar selama bertahun-tahun harus kami rusak dalam hitungan hari.  Tidak ada pesta besar, kami cuma sanggup pemberkatan saja.    I’m really, really sorry, mom.

Karena urusan perbedaaan pendapat ini, aku pernah mogok nelfon ke rumah hampir 1 bulan.  Biasanya minimal seminggu sekali aku menelfon ke rumah.  Kalaupun aku nelfon, lebih karena urusan anak-anak (ponakan), tidak lebih.  Obrolan tidak lagi hangat.  Aku dan ibu sama-sama marah,  merasa asing dan jauh.  Sedikit saja beda pendapat bisa membuat gagang telfon ikut terbakar.  Saking putus asanya, aku sempat mengancam tidak akan menikah kalo masih ada unsur pemaksaan seperti ini.   Cara ini lumayan berhasil.  Ibuku mulai melunak.  Mungkin trikku ini bisa teman-teman tiru kalau sudah mentok…hahahhahaha…

Bagaimana dengan sikap bapakku?   Suatu hari, mungkin bapak sudah tidak sanggup melihat ketidaksehatan komunikasi antara ibu dan anak, akhirnya beliau turun tangan.  Dengan nada lembut bapakku meyakinkan untuk maju terus sesuai kemampuan sekalipun cuma pemberkatan.  Puji Tuhan, itu berita terbaik yang kudengar selama negosiasi ini.

”Dilarang memikirkan hal-hal yang diluar jangkauan kita.  Case closed.”  Kata bapakku.  Horeeee….hore…tahun depan aku kawin… *singing ;).

Salam hangat,

Lintasophia

Tahun Ajaran Baru. Orang Tua : ”Aint’ Goin’ Down”

Sepotong bbm-an antara aku dan Tony (keponakan) yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional Sekolah Dasar.   Sebelumnya, Tony sudah melaporkan kebutuhan biaya pas masuk SMP nanti.

Tony : ”Tante pusing ya karena mikirin kami?.”

Aku  : ”Ga, tante ga pusing… Tante bakal pusing kalau kalian nakal.”

Saat ini, Tony lagi menimbang-nimbang SMP yang akan dipilihnya.   Faktor kualitas sekolah, biaya dan lokasi menjadi pertimbangan utama kami dalam memilih sekolah.  Secara umum, masalah biaya menjadi kajian paling mendalam. 😉    Maklum, salah mengambil keputusan, akan berpengaruh pada si anak dan (keuangan) keluarga.

Setiap tahun ajaran baru tiba,  pengeluaran selama beberapa bulan ke depan membengkak.  Misalnya, menjelang pembagian raport, umumnya SPP didobel (dimajukan pembayarannya).  Seperti bulan ini, kiriman harus ditambah untuk SPP bulan Juni.  Sedangkan bulan depan,kiriman harus ditambah untuk  pembayaran SPP bulan Juli.

*****

Beberapa bulan ke depan (paling tidak sampai Agustus) ”tahun ajaran baru syndrome” akan terasa.  Ini bulan-bulan yang berat bagi keluarga di Indonesia yang mempunyai anak masih sekolah.  Paling tidak, keriuhan tahun ajaran baru sudah aku rasakan beberapa tahun terakhir ini.

Bukan semata masalah uang pangkal (pendaftaran) atau  SPP yang dimajukan pembayarannya, masih ada item lain yang memaksa orang tua merogeh kocek lebih dalam.  Apalagi kalau bukan masalah seragam, buku tulis dan buku cetak hingga penggaris.

Kalau dalam keluarga cuma 1 orang anak usia sekolah, mungkin jeritan beratnya biaya sekolah tidak sampai terdengar.  Namun kondisi berbeda terjadi di keluargaku yang saat ini ada 3 orang anak kakak menjadi tanggung jawab kami.  Ajaibnya, nyaris setiap tahun ada saja yang masuk atau mendaftar ke sekolah dengan jenjang lebih tinggi.  Seperti tahun ini, Tony harus mendaftar SMP setelah tahun lalu Lia lulus TK dan menyusul Tony di SD yang sama.

Sudah sejak lama aku menyiapkan tabel pendidikan untuk Tony, Uih dan Lia.  Tabel ini berisi tahun masuk dan lulus para keponakanku.  Sebetulnya, aku pengen menyertakan tabel pendidikan mereka pada catatan kali ini, namun karena aku membuatnya di agenda, hasil foto pakai handphone malah membuat tabel tersebut kelihatan buram.

Secara garis besar, tabel tersebut seperti ini

Peta Pendidikan

*maaf, tampilan tabel berantakan.  Nanti aku edit lagi.

Dan seterusnya hingga masing-masing anak menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.  Jika tidak ada aral merintang dan semua terjadi seperti tabel yang aku buat, maka bisa ditelusuri (perkiraan) tahun kelulusan dari perguruan tinggi sebagai berikut :

Tony akan lulus kuliah tahun 2023

Uih akan lulus kuliah  tahun 2027

Lia akan lulus  kuliah tahun 2027

Masih butuh sekitar 15 tahun lagi proses mengantarkan Tony dan adik-adiknya menempuh pendidikan.  Semoga Tuhan memberikan kekuatan untukku dan keluarga agar bisa melewati semua ini.  Bagaimanapun juga, pendidikan mereka yang utama.  Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, pun begitu saat anak-anak menjadi tanggung jawabku.  Kadang suntuk sih pas tahun ajaran baru gini, pengeluaran edan gedenya.  Di alam bawah sadarku, udah tertulis : ain’t going down buat anak-anak.

Hidup menjadi lebih berwarna saat banyak hal difikirkan dalam waktu bersamaan. Mulai dari urusan pendidikan anak-anak, pernikahan,  bisnis di Indonesia hingga dana pensiun kelak.  Well, aku belum patah semangat mendeklarasikan akan pensiun dini pada usia 40 tahun.  Pensiun dini tak perlu  diartikan sebagai  ”total tidak bekerja.”

Sejatinya, dalam beberapa tahun ke depan, aku mau  bekerja karena aku pengen bekerja, bukan semata tuntutan materi.  Punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri.  Ini sebagai kompensasi selama ini selalu berjauhan dengan keluarga.  Apakah  mustahil?  Maybe yes maybe not.  Kita lihat saja nanti.  Kebetulan, aku suka memikirkan sesuatu diluar kemampuanku, termasuk perkara pensiun dini yang hitungan waktunya tidak lama lagi.  Waktu yang akan menjawab….kekekekeek…  😉 😉 .

Kamu tahu hal pertama yang jadi perhatian bila kelak aku menikah?  Yup, mengatur kehamilan dan kelahiran anak.  Orang tua bahagia, anak sejahtera. *

Semangat berjuang untuk para orang tua yang sedang menunggu hasil ujian nasional.

Salam hangat,

Lintasophia

Menangkap Peluang

Beberapa hari yang lalu, saat aku menjaga stand di sebuah fiera, aku mendapat  pelajaran yang kemudian menjadi bahan tulisan kali ini.  Sore itu, cuaca sedang tidak jelas.  Sebagai gambaran, meski kalender sudah menunjukan (nyaris) akhir bulan April, dingin dan hujan enggan meninggalkan Genova.  Padahal, sudah sebulan kita menginjak musim semi.  Berdasarkan pengalaman 9 tahun tinggal di sini, biasanya akhir April begini, sudah pantas kita hanya mengenakan sepatu teplek (ballerina) dan sekedar jaket atau blazer tipis saja.  Fenomena alam kali ini berkata lain.  Udara masih dingin walau sesekali matahari muncul.  Anomali alam.  Maka, sudilah kiranya kita menyebut fenomena yang tak biasa ini sebagai pendinginan global. 🙂

Di sekitarku, banyak pedagan asongan, mulai dari magnet (tempelan di kulkas) bertuliskan Genova, kacamata  hitam dengan frame warna warni, balon hingga tas palsu dari merk kenamaan.  Umumnya, pedagang suvenir khas Genova itu berasal dari India atau Bangladesh (penilaian murni berdasarkan ciri fisik dan bahasa yang digunakan mereka yang tampaknya dari kedua negara tersebut).  Kemudian, penjual tas dan payung biasanya orang Marocco dan Senegal.  Sejak kapan spesifikasi ini muncul, aku kurang memperhatikan.  Ada juga pedagang gelang bermaterial stainles steel.  Pada gelang ini, kita bisa minta diukirkan nama atau kata sesuai keinginan.  Umumnya, pedagang gelan porta fortuna (pembawa keberuntungan) ini berasal dari negeri China.

Sekedar informasi, pedagang asongan ini masuk kategori ilegal dan sering ditertibkan pihak keamanan.  Karena itu, kalau ada pedagang yang terbirit-birit, bisa dipastikan bahwa sedang ada penertiban.  Soal sanksi yang dikenakan, aku tidak faham.  Sejauh yang pernah aku lihat, pedagang yang tertangkap biasanya diperiksa dokumennya oleh petugas.  Baru sampai proses itu yang aku pernah lihat.

Nah, siang itu cuaca lumayan cerah setelah hujan mengguyur Genova sejak semalam.  Udara belumlah terasa hangat meski matahari sudah unjuk diri.  Sekarang, sudah tidak bisa langsung bertepuk tangan saat ada mentari, karena bisa saja beberapa saat kemudian hujan turun sangat deras.  Bila berada di luar ruangan, harus rajin bawa payung dan memandang langit.

Sedang asyik memandang sekeliling, ada seorang Senegal berlari dengan sangat kencang dari kejauhan.  Titik tolak ia berlari, persis dari sebuah trotoar  di depan Acquario di Genova.  Lokasi dimana para pedagang asongan menggelar jualannya.  ”Wah, ada penertiban nih.”  Fikirku.  Pria itu berlari sambil membawa jualannya berupa lempengan karton yang digantungi aneka kacamata hitam dengan frame warna-warni.  Ternyata ia cuma berlari sendiri.  Pedagang asongan yang lain tetap tenang-tenang saja.  Dalam sekejap, ia menerobos sebuah stand (milik orang Afrika).  Tidak lama kemudian ia keluar dari stand dengan membawa beberapa payung panjang dan pendek (lipat).  Secara tidak sadar, aku langsung menengadah.  Ternyata hujan turun lagi. Aku tidak menyadarinya karena terlalu asyik memandangi para pedagang di sekelilingku.

*****

Menurut temanku, peluang terasa indah bila sudah disikat oleh orang lain dan memang benar adanya.  Perasaan yang sama juga sering terjadi padaku.  Efeknya,  muncul sedikit penyesalan kenapa tangan tidak tangkas menangkap peluang yang ada. Atau, menyesal karena terlalu banyak pertimbangan yang membuat kita malah abai terhadap peluang yang sudah menanti sentuhan tangan.   Mengapa biasanya menyesal saat peluang hilang?  Ya, karena sesuai karakteristiknya, peluang muncul hanya sesekali, itu pun kedatangannya nyaris tak dapat diramal.  Hanya mereka yang siap mampu menangkap dan memanfaatkan peluang.   Jangan berkceil hati dulu,   para pakar juga berpendapat bahwa peluang dapat diciptakan.

Menciptakan peluang? Hmmmm…  Bagaimana caranya?  Adakah sekolah yang mengajarkan cara menciptakan peluang?  Menurutku sih, ada benarnya bahwa peluang dapat diciptakan.  Mereka yang biasa berlatih dan memiliki kepekaan tingga yang mampu menciptakan peluang.   Seperti pemuda Senegal penjual kacamata sekaligus payung yang kuceritakan di atas.   Saat mentari terik, ia berjualan kacamata sedangkan saat hujan maka payunglah yang ia tawarkan.  

Aku tidak hanya mengagumi ketangkasan kakinya saat berlari (mungkin karena terbiasa berlari cepat saat ada penertiban), namun lebih dari itu.  Aku juga mengagumin kecepatan fikirannya menangkap peluang yang datang.

Selamat melatih otot kaki sambil  mengasah kepekaan.

Salam hangat,

Lintasophia