9 Langkah Membeli Rumah

Setelah catatan sebelumnya tentang kenekadan dalam membeli rumah, ada beberapa teman bertanya tentang hal pertama yang harus dilakukan biar rumah idaman tidak sebatas angan-angan.  Lewat ngobrol dengan beberapa teman, terinspirasi untuk menulis ulang hal-hal yang kemarin kami bahas.  Jadi, aku membayar hutang semangat melalui catatan ini.  Tidak ada maksud untuk pamer, semata ingin berbagi optimisme dan semangat.  Karena bagaimana pun juga, semangat dan  optimisme itu menular, kawan.  Catatan ini ditujukan untuk kalian yang sedang berjuang sendiri membeli rumah pertama, tidak dibelikan oleh orang tua atau nunggu warisan juga untuk kamu yang baru masuk dunia kerja.

Pembuka

Well, di semua negara yang namanya rumah selalu jadi masalah besar karena ssalah satu kebutuhan primer.  Kamu tidak sendiri, banyak pasangan yang tidak mampu beli rumah atau memilih menyewa dulu untuk sementara sambil menunggu orang tuanya meninggal.  Dapet rumah warisan orang tua.  Ini banyak terjadi di Italia, dimana selain karena mahalnya harga rumah, umumnya keluarga di Italia memiliki anak cuma 1 atau 2 orang saja.  Tapi bagaimana dengan kita-kita yang memang harus mengusahakan sendiri membeli rumah karena orang tua tidak punya warisan untuk kita?  Atau, orang tua bakal mewariskan rumah tapi kita kakak beradik dalam jumlah banyak? Mau tidak mau, kita harus usaha sendiri, syukur-syukur keluarga bisa bantuin DP.  Untuk itu, selain duit, ada beberapa hal yang harus disiapkan, yakni ;

1.  Niat

Niat adalah atribut pertama yang harus dimiliki kalau pengen beli rumah.  Tanya dalam hati, pengen aja atau pengen banget punya rumah?  Beda niat, beda pula hasilnya.  Biasanya, ada aja kendala dalam berburu rumah.  Umumnya kendala mucul saat menyatukan antara keinginan, kemampuan dan kenyataan di lapangan.

Ada rumah yang cocok dengan budget, tapi lokasinya jauh dari tempat kerja.  Harus naik turun gunung dan melewati lembah, baru bertemu feeder bus.  Sampai kantor bisa-bisa tinggal narik selimut.  Tidur karena kecapean.  Bisa jadi kendalanya pengembang yang nakal.  Yang ga kalah tragis, rumahnya uda sesuai budget, lokasi prima dekat dengan tempat kerja, desain seperti yang diinginkan, eh tapi eh tapi pengajuan KPR ditolak.  Mak jleb!  Ini juga tragis.  Karena itu, niat memang benar-benar harus mantap bakal menjalani rintangan yang ada.

 

2.  Mohon Doa Restu pada Keluarga

Mau lajang atau udah berkeluarga, sebaiknya minta restu pada orang tua dan mertua.  Sampai sekarang, kami masih menempuh cara ini. Doanya orang tua itu mak nyuss.  Mereka akan memberikan semangat dan doa yang luar biasa banyaknya.  Syukur-syukur kalo mereka bisa ngasih bantuan dana juga. 😉 😉

Terutama untuk kita orang Indonesia, urusan rumah tinggal anak kadang masih menjadi tanggung jawab orang tua, paling tidak secara moril.  Karena itu, mereka akan senang bila dilibatkan dalam hal ini.  Jangan kaget kalau tiba-tiba ibu rela sampai jual perhiasannya demi membantu anaknya membeli rumah. Mereka juga akan senang dimintai pendapat, malah seringnya sih kasih pendapat walau tanpa diminta.  Itu salah satu bentuk rasa bangga orang tua terhadap anaknya.  Mereka juga bakal paling heboh diajak hunting rumah.  Kondisi ini berlaku kalau lokasi yang kita incar berdekatan dengan tempat tinggal orang tua.

Melepas anak hidup mandiri salah satu fase terpenting dalam hidup orang tua.  Kalau film silat, orang tua akan terisak-isak melepas anaknya yang akan berangkat dengan membawa tongkat dan gembolan.  (Eh, apa itu gembolan?).  Doa restu juga semacam alarm bahwa bakal ada perubahan gaya hidup (keuangan) dalam keluarga besar kita.

 

3.  Action and action and action

Dari nomer 3 dan seterusnya merupakan langkah lain yang harus dilakukan.  Niat udah ada, doa restu dari keluarga juga uda dapat.  Lalu apa lagi? Ke KUA (eh?).  Take an action.  Orang mau makan aja harus pakai niat apalagi untuk beli rumah.  Harus melakukan tindakan konkrit, misalnya;

 

4.  Tetapkan Kapan Harus Membeli Rumah

Ini penting karena berkaitan langsung dengan rencana kehidupan kamu selanjutnya.  Misalkan, 2 tahun lagi kamu akan menikahi si dia yang notabene rumah dicari lokasinya memiliki akses yang baik dengan tempat kerja kalian.  Menetapkan waktu kapan membeli rumah juga berkenaan dengan metode pengumpulan dana.  Kalau kamu yang baca ini kebetulan baru bekerja, itu bagus banget.  Artinya, kamu udah mulai memikirkan hendak dikemanakan gajimu.

Banyak diantara kita yang masa mudanya tidak hati-hati dalam mengelola penghasilan sehingga gaji numpang lewat saja, terutama yang masih lajang.  Padahal lajang dan belum banyak tanggungan adalah golden periode untuk membeli rumah. Masa muda memang baik untuk dinikmati, terutama saat kita punya gaji sendiri.  Tapi saking nikmatnya, kita jarang belajar untuk investasi.

Kesalahan semata bukan pada anak.  Biasanya orang tua tidak mengedukasi anaknya untuk membeli rumah sendiri.  Perasaan sungkan meminta anak untuk mencari rumah sendiri, karena seakan mengusir anak dari rumah.  Kebutuhan rumah akan terasa saat anak akan menikah.  Atau, urgensinya berbicara saat anggota keluarga bertambah karena kelahiran cucu atau anak lain menikah dan juga tinggal bersama orang tua.

Nah, setelah membaca tulisan ini, coba periksa saldo tabungan dan bandingkan dengan penghasilan.  Kalau ternyata saldo tabungan terlalu sedikit dibandingkan dengan penghasilanmu yang besar, mungkin harus mengedit pengeluaran kamu selama ini.  Bisa jadi gaya hidup diubah sedikit.  Dari yang tadinya tiap weekend makan, nonton dan belanja di luar, mungkin bisa dikurangi jadi sebulan sekali saja.  Itu pun persentase alokasi dana harus ditekan dan harus mau disiplin mematuhi pos yang sudah dianggarkan.   Mengubah gaya hidup yang enak memang butuh pengorbanan dan biasanya bikin pengen nangis.  Tapi balik lagi ke niat, temans.

 

5.  Cari Penghasilan Tambahan dan Investasikan

Sudah membandingkan antara saldo, penghasilan dan pengeluaran setiap bulan?  Kendalanya dimana?  Oh, ternyata karena masih membantu keluarga jadi sulit menyisihkan dana.  Cari pekerjaan sampingan.  Bisa bikin kue, jadi guide atau guru les, pelatih fitness, jadi broker dan lain-lain.  Apapun itu yang penting halal.  Nah, kalau ada penghasilan tambahan, jangan tergiur ya melihat big sale.

Coba belajar investasi sesuai dengan kepribadian kamu.  Kalau aku masih tipe konservatif, paling banter dibeliin emas.  Kalau tiba waktunya, baru dilego.  Eh untukku sih, emas bukan investasi, karena aku tidak bermain di ranah beli saat murah dan jual saat tinggi tapi untuk menjaga dana tidak tergerus inflasi.  Daripada dana ditaro di bank… 😉

 

6.  Tetapkan Model Rumah Impianmu

Aku percaya, apa yang kita fikirkan maka itulah yang terjadi, kurang lebih sih….  Seperti self motivation.  Coba gambarkan rumah impian kamu, tentu saja harus serealistis dan sesuai kebutuhan serta kemampuan.  Maksudnya gini,  kamu pegawai kantoran yang gawe di daerah Kuningan, Jakarta dengan penghasilan sekitar 5-7 juta/bulan,  yang sedang mendambakan rumah di pusat kota dengan halaman luas.   Apakah keinginan ini realistis?  Tentu tidak.  Coba cek harga rumah dengan halaman yang luas di pusat kota.  Dengan penghasilan 7 juta/bulan, maka akan didapat bahwa total (maksimum) angsuran adalah 30 % dari gaji atau sekitar 2,1 juta/bulan.  Nah, kira-kira dapet ga ya rumah di pusat kota dengan angsuran 2,1 juta per bulan?

Catat ya, total maksimal angsuran  termasuk untuk rumah  adalah 30 %  dari pendapatanmu.  Angka ini bukan cuma untuk angsuran rumah saja, tapi untuk seluruh angsuranmu, baik kartu kredit, motor, pinjaman tanpa agunan.  Jadi, kalau kamu berencana mengambil KPR, pastikan sudah tidak punya cicilan panci, hape, CC, motor dan lain sebagainya.  Buat schedule kapan melunasi pinjaman-pinjaman yang ada dan kapan harus mengajukan KPR.  Deal yaaaa… *jabat tangan.

Gambarkan, gambarkan, gambarkan rumah impianmu.  Kalo masih belum bisa detail, gambaran kasarnya juga ga apa-apa.  Misal, pengen rumah tinggal di Depok karena akses transportasinya mudah, 2 kamar tidur dengan harga maksimal 300 juta.  Mencari rumah dengan syarat yang jelas akan membuat proses pencarian lebih mudah, termasuk  metode pengumpulan dananya.

 

7.  Tidak bank-able, lalu Bagaimana?

Sebagian besar rumah tinggal dibeli dengan cara KPR (Kredit Perumahan Rakyat) yang tentunya memiliki syarat-syarat khusus.  Untuk calon debitur, biasanya dibutuhkan SK pengangkatan pegawai (ada beberapa bank mensyaratkan minimal 2 tahun telah bekerja), slip gaji 3 bulan terakhir dan rekening koran 3 bulan terakhir, selain dokumen KTP, KK, NPWP dan surat nikah bagi yang telah menikah.  Tidak masuk Daftah Hitam Bank Indonesia.  Ini istilah untuk teman-teman properti untuk seseorang yang masih punya masalah kredit macet.  Cek ke Bank Indonesia, semoga namamu tidak masuk daftar ini.

Sedangkan untuk rumah yang akan diajukan biasanya harus memiliki legalitas yang lengkap (sertifikat dan IMB), bebas banjir dengan jalan bagian depan harus bisa dilalui 2 mobil (untuk lokasi khusus, bank mengijinkan bila jalan depan hanya dilalui 1 mobil).  Tentu saja kita semua tidak memiliki kondisi yang sama.  Aku salah satu yang tidak bank-able karena bekerja di LN.  Makanya sampai sekarang cuma bisa nyicil langsung ke developer, bukan KPR.  Atau kalau kamu ternyata ribet masalah administrasi karena tidak punya SK pegawai, mungkin bisa beli tanah dulu, setelah itu ngumpulin lagi duit untuk membangun rumah.  Mungkin rumah yang kamu butuhkan ternyata di dalam gang dan tidak memenuhi syarat bank pemberi KPR, coba nego dengan pemilik rumah mengenai metode pembayarannya.  Intinya, walau membeli rumah membutuhkan pertimbangan yang masak, tapi kita harus fleksibel juga.

 

8.  Kunjungi Dinas Tata Kota

Masih ragu dengan lokasi yang ditawarkan oleh pengembang?  Coba berkunjung ke Dinas Tata Kota setempat.  Tanyakan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang lokasi tersebut.  Dengan informasi yang lengkap, akan memudahkan kita mengambil keputusan.  Sekitar 9 tahun lalu,  Bantul terutama daerah Sedayu, bukan daerah favorit untuk rumah tinggal.  Konsumen masih terfokus daerah kota Yogya dan Sleman yang lingkungannya sudah terbentuk.   Tapi pas tau kelak bandara dipindah ke Kulonprogo, maka kita yakin bahwa Bantul akan berkembang pesat.  Jalan Wates merupakan jalur alternatif menuju bandara Kulonprogo.  Sampai sekarang juga merupakan jalur bus antar provinsi.  9 tahun lalu belum begitu banyak perumahan di daerah Sedayu.  Berbeda dengan saat ini,  mulai dari rumah subsidi hingga perumahan Ciputra ada di sini.

 

9.  Edukasi

Point terakhir ini tidak berhubungan langsung dengan proses pencarian rumah saat ini, namun menurutku penting juga untuk disiapkan.  Jangan lupa mengedukasi anak-anak kita tentang investasi dan hidup mandiri, salah satunya mendorong anak-anak kita memiliki rumah sendiri.  Beberapa tahun terakhir, hal ini sudah kita lakukan pada Tony (sebagai keponakan tertua yang tinggal di rumah).  Misalnya, alasan memilih investasi di properti karena bisa disewakan dan kalau dijual bisa dapat keuntungan (selisih harga beli dan jual).  Kita juga mendorong anak-anak untuk hidup sederhana.  Untungnya anak-anak faham kondisi tantenya yang tidak selalu punya dana lebih tiap bulannya karena bayar cicilan rumah.

 

Penutup

Ini masih sambungan dari edukasi pada point no. 9.  Pada akhirnya, keluarga akan beradaptasi, belajar dan membuat ritme sendiri tentang bagaimana harus survive saat pemasukan berkurang karena membayar cicilan rumah.

Dulu sewaktu mereka kecil, aku lumayan tajir memberi kado atau sejenisnya.  Sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi.  Kita mencoba membentuk mereka semandiri mungkin.  Untuk kebutuhan pribadi (mainan, buku bacaan, pulsa, parfum, gitar dan lain-lain), mereka harus membeli sendiri dengan menyisihkan uang jajannya.  Bila ada kegiatan yang membutuhkan biaya agak besar, kita meminta mereka menabung jauh-jauh hari.  Kebiasaan nabung ini sering menyelamatkan keuangan keluarga, terutama saat tahun ajaran baru.  Bila tabungan mereka sudah lumayan namun tidak ada kebutuhan mendesak, biasanya kita patungan untuk membeli emas.  Kelak, emas ini kita pakai untuk nambah DP rumah.  Begitu seterusnya.  Dengan bahasa yang mudah difahami mereka, kita juga menanamkan mereka untuk memprioritaskan membeli rumah saat mereka memiliki penghasilan sendiri.

Karena nominal tabungan sekitar 1.000 hingga 2.000 rupiah per anak  tiap harinya, tentu jumlahnya tidak seberapa.  Tapi kegiatan ini mengajarkan anak-anak untuk membuat perencanaan terhadap penghasilan eh uang jajan mereka.  Misalnya, suatu hari Uih ingin memiliki sebuah Ukulele yang harganya sekitar 75.000 hingga 90.000.  Dengan menabung sekitar 1.000 hingga 2.000 rupiah per hari, Uih memiliki gambaran kapan bisa memiliki Ukulele yang dimaksud.  Untuk mendapatkan harga terbaik, melalui internet mereka membandingkan harga Ukulele.

Aku dan Mas Ipung  bertekad tidak akan memanjakan anak dengan materi, melainkan dengan membentuk mental mereka.  Proyek terbaru saat ini adalah Liburan ke Jogja pada bulan Februari yang akan datang.  Ongkos kereta api bayar masing-masing dengan cara ngumpulin uang jajan dari beberapa bulan yang lalu.  Ibuku pintar membuat proyek ini menjadi semakin menarik.  Setiap hari (sebelum berangkat sekolah), anak-anak wajib memasukan sebagian uang jajan mereka ke celengan bersama.  Ada kartu setoran yang berisi tanggal dan jumlah setoran tiap anak.

Kesepakatannya adalah, jika tabungan tidak memadai untuk semua anak, maka tidak jadi berangkat ke Jogja.  Efeknya sungguh luar biasa.  Mereka saling support untuk bisa nabung sebanyak-banyaknya.  Lebih tahan banting dan tidak mudah ngiler liat teman-temannya punya duit jajan lebih banyak.  Mereka juga makan lebih lahap di rumah. Pola dan cara yang sama bisa diterapkan untuk tujuan keuangan yang lain, salah satunya membeli rumah.  

Kiranya itu point-point yang harus disiapkan dalam memiliki rumah impian.  Semoga catatan ini bermanfaat dan mohon maaf bila ada salah-salah kata.  Semoga semakin semangat ya mewujudkan rumah impian.

Salam hangat,

 

Lintasophia

 

Iklan

Cerita dibalik Setiap Rumah. Antara Cinta, Niat dan Nekad

Horeee… Lintasophia kembali mengudara.  Maklum penganten baru, banyak sibuknya… Hahahhahaha, kalo yang ini boong banget, karena sampai sekarang kita berjauhan, ga berasa udah nikah. *smile.

Eh, barusan baca rubrik properti di detik dot com tentang susahnya mendapatkan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dari bank bagi mereka yang bekerja di LN.  Sebesar apapun gajimu, selama kamu kerja di LN jangan harap bakal dilirik oleh bank.  Karena berdasarkan peraturan dan pengalaman pribadi, calon debitur harus bekerja dan berdomisili di Indonesia.  Membaca artikel ini, seperti melihat bayanganku sendiri, tapi gajiku ga sampe puluhan juta per bulan seperti mereka yang ditulis di artikel detik dot com.

Pengantar

Dari kecil hingga dewasa (hampir lulus kuliah), keluargaku khatam yang namanya ilmu berpindah-pindah rumah. Bukan karena bapakku tentara sehingga sering dimutasi tapi bisa dibilang kami kontraktor sejati.  Rumah selalu berpindah-pindah, lingkungan baru dan KTP serta KK baru pula menjadi urusan kami sepanjang tahun, selain peningnya memikirkan uang kontrak rumah tahun berikutnya.  Bagi yang ngontrak rumah, 1 tahun itu cepat, jendral!

Setiap habis masa kontrakan atau kita harus pindah rumah itu rasanya sakit banget.  *sambil nunjuk ulu hati.  Barang-barang banyak yang rusak saat pindahan, termasuk foto-foto masa lalu keluarga kami.  Belum selesai adaptasi di lingkungan baru, sudah harus pindah lagi.  Belum selesai beberes barang bekas pindahan, sudah harus packing barang lagi untuk pindah ke kontrakan lainnya.

Ketidaknyamanan ngontrak rumah sangat berbekas di hatiku.  Tekadku, begitu bisa mandiri, maka benda pertama yang kubeli adalah rumah.  Setelah rumah sendiri, pastinya pengen membelikan orang tua rumah, biar mereka sempat merasakan nikmatnya tinggal di rumah sendiri.

Suatu hari, aku dan teman-teman nginep di rumah teman di Lembang yang baru saja selesai direnovasi.  Aku membayangkan seandainya orang tuaku bisa tinggal di rumah senyaman itu walau tidak harus semegah itu, yang penting rumah sendiri.  Untuk kondisi saat itu, rasanya mustahil memiliki rumah sendiri.  Aku juga ga sanggup mengungkapkan keingingan memiliki rumah sendiri pada orang lain, terutama pada orang tua, takutnya mereka semakin terbebani.  Orang tua mana yang tidak ingin memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?  Bisa mandiri dan beli rumah sendiri itu biasa, tapi bisa membelikan rumah untuk orang tua rasa itu sesuatu yang berbeda.

Ternyata pengalaman dan traumatik masa lalu menjadi sumber energi yang tidak ada habisnya dalam usaha memiliki rumah.  Selain penasaran bagaimana rasanya tinggal di rumah sendiri, aku juga penasaran mengapa ada orang yang bisa jadi juragan kost-kostan.  Bagaimana cara mereka mengumpulkan rumah demikian banyaknya? 

Stasiun Kiara Condong, 2003.

Ba’da Isha, aku mengantar Mas Ipung yang akan kembali ke Yogyakarta di stasiun KA Kiara Condong.   Ditemani kopi dan ketan bakar, kami ngobrol sangat serius sore itu.  Salah satu topik obrolan kami adalah bahwa aku menolak anti kemapanan dan bosan hidup miskin.  Inti obrolan sebetulnya yakni aku tidak akan memikirkan pernikahan sampai beberapa targetku tercapai, salah satunya memiliki rumah sendiri dan mengangkat derajat keluarga.  Ternyata Mas Ipung sepakat dengan syarat yang kuajukan dan kebetulan dia juga punya kaul yang sama.  Klop sudah!

Saat itu aku dan Mas Ipung bertekad untuk punya rumah dulu sebelum menikah, padahal saat itu kita belum bekerja dan ga tau gimana caranya.  Kita juga uda sepakat akan tinggal di Yogya, di lingkungan yang tenang dengan jendela menghadap sawah.  

Dari sini kegilaan kita dimula dan mulai aware terhadap penawaran dan harga rumah di Yogya.  Kita mulai mempejari dan mencatat pergerakan harga properti di Yogya termasuk rancangan pengembangan Yogyakarta ke depannya.  Sampai sekarang aku masih menyimpan catatan harga rumah.  Kalau ada pameran property, sebisa mungkin kita datang walau sekedar cuci mata dan ngumpulin brosur.  Gaya kita saat itu, seperti pasangan yang akan menikah sebulan lagi.  😉 .Padahal, kita bener-bener ga tahu gimana caranya beli rumah selain mengajukan kredit ke bank.  Masalah paling krusial, tentu saja kita belum punya dananya, tapi kita tetap semangat,   yang penting niat baik maka semesta akan menunjukan jalannya.  

September 2006.  Rumah Pertama

Setelah 2 tahun di Genova, aku mendadak mudik untuk membantu teman (mewakili organisasi sosial di Genova) dalam menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Yogya.  Saat ditunjuk, rasanya seperti mendapat durian runtuh.  Selain karena tiket dan akomodasi ditanggung oleh pihak donatur, aku juga boleh extend 2 minggu di Indonesia setelah urusan bantuan selesai.   Segera aku mengontak dan membuat janji dengan para marketing perumahan.  Pas mudik sebelumnya, dana belum seberapa dan banyak pertimbangan yang membuat kita menunda membeli rumah.  Hunting tetap jalan, biasanya diakhiri dengan tercengang karena harga rumah semakin tidak terkejar.

Kalau tidak salah, saat itu aku cuma punya 15 juta untuk uang muka rumah karena mudik kali ini mendadak sekali, danaku belum seberapa.  Aku tidak khawatir karena untuk uang muka biasanya boleh dicicil hingga beberapa kali, umumnya 6 kali (bulan) tergantung kesepakatan dengan developer.  Konsentrasiku justru pada masalah KPR, karena kerja di LN maka sangat kecil kemungkinan diapprove.  Namun bantuan para marketing yang akan membantu proses KPR agak membesarkan hatiku. 

Waktu extend yang kumiliki hanya 2 minggu. Mulai pagi sampai sore (kadang sampai malam) kami pergunakan untuk bertemu dengan beberapa marketing perumahan.  Keesokan harinya  survei lokasi.  Semua serba dikebut hingga akhirnya kami menyepekati beberapa rumah yang masuk kategori dan bujet kami.  Kurang lebih proses ini memakan waktu 1 minggu.  Perut kembung karena kebanyakan minum teh botol bersama para marketing. 😉

Singkat cerita, pagi-pagi sekali kami sudah nongkrong di depan salah satu bank milik pemerintah.  Agenda pagi ini adalah mengisi formulir pengajuan KPR.  Setelah menunggu agak lama, tiba giliran kami.  Sebelum mengisi formulir, beberapa pertanyaan diajukan oleh staff bank.  Interview tidak berjalan lama karena aku sudah mentok dibagian pekerjaan.  Ketika bank tahu aku kerja di LN, otomatis proses pengajuan KPR tidak dilanjutkan karena tidak memenuhi syarat.  Ini penolakan pertama oleh bank.  Masih banyak penolakan lain yang kami alami, baik dari bank swasta maupun pemerintah.

Sebetulnya kita masih punya kemungkinan untuk beli rumah tersebut dengan cara mencicil ke developer.  Tapi untuk harga sekitar 120 juta, developer minta maksimal pembayaran 1 tahun.  Manalah sanggup awak ni.  Nangis deh.  Mas Ipung juga kehabisan kata-kata untuk menghiburku.  Penolakan dari bank telak banget.  Ibarat pertandingan tinju, aku berhasil di-KO pada detik-detik pertandingan.  Cedera dan pertandingan tidak perlu dilanjutkan lagi.

Suatu sore, mau pulang ke kost-an setelah ditolak oleh salah satu bank, aku dan Mas Ipung lewat daerah belakang Stasiun Tugu Yogya (lupa nama jalannya).  Secara tidak sengaja aku lihat ada spanduk rumah gedeeee banget, ternyata itu kantor pemasaran salah satu perumahan.  Segera aku menepuk bahu Mas Ipung minta balik arah ke kantor pemasaran.  Mas Ipung antara kaget dan kasihan melihat aku akhirnya pasrah menuntun si Pitung menuju kantor yang kutunjuk tadi.

Untunglah kantornya masih buka.  Rasanya berdebar-debar.  Di spanduk, harga rumah tipe 36/90 cuma 55 juta dan 45 juta untuk tipe 30/72, belum termasuk biaya notaris.  Harga ini 50 persen lebih murah dari rumah yang kemarin kita coba KPR.  Pas liat maketnya yang cantik, ada feeling mengatakan bahwa kelak rumah ini jadi milik kita.  Beberapa kali nyari kontrakan, aku bisa merasakan bahwa sebuah rumah kelak akan kita sewa atau tidak.  Sekalipun rumahnya jelek atau lingkungan kurang baik dan kita ga suka, aku bisa merasakan akan pindah ke situ.  Dalam hal survey rumah, sensasi ini kembali hadir.  Untuk kalian yang pernah punya insting seperti ini, pasti mengerti apa yang aku maksud.

Perasaanku agak galau saat Mas Ipung menjelaskan lokasinya yang jauh, rasanya belum pernah aku dengar sebelumnya.  Keesokan harinya kita survey lokasi.  Ya Tuhan, jauh banget.  Pantesan murah.  Hampir aja aku minta untuk tidak melanjutkan perjalanan ke lokasi karena pantat uda tepos duluan.  Perjalanan ke lokasi lumayan indah karena masih banyak sawah.  Saat tiba di lokasi, kami lebih tercengang karena proyek ini benar-benar baru proses penggarapan.  Semua masih tanah kuning, sejauh mata memandang. Belum ada rumah contoh sebagai acuan. Lokasi ini sendiri dikelilingi oleh perbukitan. 

Aku dan Mas Ipung sama-sama terdiam. Kami berdiri di lokasi yang kami reka-reka adalah kavling yang kemarin tampaknya kita minati, mencoba membayangkan seperti apa kehidupan kami 5 tahun yang akan datang di sini.  Kami membentangkan tangan dan menarik nafas dalam-dalam.  Ada perasaan yang kuat mengatakan bahwa kami akan tinggal di sini.  Tapi kami mencoba rasional, sebab membeli rumah untuk tempat tinggal butuh pertimbangan lebih matang.  Kami sengaja menunggu sore saat akan meninggalkan lokasi, sekalian mau melihat lingkungan tersebut di malam hari.  

Singkat cerita, akhirnya kita jadi mengambil rumah pertama di sini dengan metode pembayaran dicicil selama 18 bulan.  Puji Tuhan!

 Tahun 2008.  Rumah Kedua

Tatanan ruang rumah pertama kita buat berbeda dari sketsa standard developer dengan maksud nanti mau kita renovasi jadi 2 lantai agar tetap punya halaman, tanah sisa sebelah kiri.  Beberapa bulan sebelum mudik, kami sudah mulai ngutak-ngatik biaya yang dibutuhkan untuk renovasi rumah.  Pas nemu angka 30 juta untuk renovasi kecil-kecilan, fikiran culasku muncul.  Huh, daripada renov 30 jeti, mending DP rumah lagi.  Renov rumah nanti aja pas aku bakal stay selamanya di Indonesia.  Hampir 2 tahun ga mantengin harga properti di Yogya, ternyata harga properti di Yogya makin tidak terbendung.  Sulit menemukan rumah di bawah 100 juta yang dengan lokasi tidak terlalu di desa.

Akhirnya kita putuskan untuk membeli kavling di sebelah kanan rumah pertama, 2 rumah digabung jadi 1.  Harganya sudah naik jadi 65 juta untuk tipe 36/90.  Kali ini mencicil ke developer selama 2 tahun.  Puji Tuhan.  Lagi-lagi semesta menjawab doa dan usaha kami dengan cara yang kami tidak duga sebelumnya.  Dari kedua rumah ini, kami punya sisa tanah di samping kanan dan kiri.  Ini lebih dari yang kami bayangkan sebelum punya rumah.  Sekarang rumah di situ sekitar 140 juta hingga 180 juta/unit.

Sekarang aku menyadari bahwa sebetulnya proses mencicil rumah kedua ini semacam latihan sekuat apa aku menjalani komitmen membayar rumah.  Membeli rumah dengan cara mencicil entah ke developer atau ke bank membutuhkan resistensi yang tinggi.  Kita tidak pernah tahu ada kejadian apa di kemudian hari, misalnya tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau ada kebutuhan mendadak yang membutuhkan biaya tinggi.  Di sini keteguhan hati akan diuji.

Tahun 2008 aku memutuskan kuliah di sini.  Nah, karena statusku bekerja, maka aku membayar biaya kuliah secara full.  Bayar kuliah, buku-buku dan cicilan rumah serta kebutuhan lainnya mulai membuat keuanganku dan imanku goyah.  Dimulai perjalanan panjang yang namanya puasa, baik pakaian atau sekedar beli jajanan.  

Ga bisa bohong, kadang aku menelan air liur saat melihat teman-teman yang lain bisa menunggu break kuliah dengan nongkrong di bar.  Aku paling baca-baca buku.  Zaman itu belum ada smartphone yang bisa dipake internetan untuk mengisi waktu senggang.  Logikanya, aktivitas bertambah maka waktu bekerja berkurang.  Tapi selama 2 tahun kuliah hal itu ga berlaku.  Sebisa mungkin kuliah tidak mengganggu kerjaku.  Bukan sekedar semangat tapi demi menjaga agar penghasilan tidak terganggu.  Lagi-lagi di sini resistensi diuji.  

Entah kekuatan dari mana, aku sanggup tidur hanya beberapa jam sehari.  Pulang kerja tengah malam, aku masih menyempatkan diri membaca materi yang tadi kudapat di kelas atau sekedar merapikan catatan kuliah, tidur sebentar dan siap-siap kuliah pagi.  Setiap hari sprint, baik dari rumah ke kampus dan dari kampus ke tempat kerja.  Atlet marathon mah kalah ciiiinnn…

Pada akhirnya aku menyerah tidak melanjutkan kuliah karena beban pekerjaan yang banyak.  Jadwal kuliah dan kerja sering bentrok.  Mulai timbul gesekan-gesekan dengan majikan.  Waktuku semakin tidak fleksibel untuk bekerja sementara kondisi mengharuskan aku untuk stand by bekerja.  Good bye bangku kuliah.  Sampai jumpa lagi.

Tahun 2010.  Rumah Ketiga

Aku dan Mas Ipung sepakat mencukupkan diri untuk urusan rumah kami meski sebetulnya rumah membutuhkan renovasi yang tidak sedikit, maklumlah rumah subsidi.  Begitu habis masa garansi, kusen-kusen mulai agak lapuk.  Angka yang dibutuhkan untuk renovasi pun bertambah.  Uedan!   Daripada untuk renov, mending buat DP rumah.  Perang bathin saat itu.

Kemudian teringat akan janji untuk membelikan orang tua rumah, walau sebetulnya rumah untuk orang tua  sudah terpecahkan.  Akhirnya rumah ketiga didedikasikan untuk para ponakan yang saat ini masih tinggal dengan bapak ibuku.  Rumah yang terletak di Arcamanik ini yang paling berdarah-darah mulai proses ngumpulin DP, cicilan hingga rumah tersangkut masalah hukum tepat 2 bulan lagi cicilan rumah beres.

Banyak kejadian di luar dugaan yang nyaris membuat gagal transaksi rumah ini.  Harga rumah tahun 2010 adalah 275 juta dengan ketentuan 150 juta dicicil 6 bulan.  Sisanya dibayar 30 bulan dengan dikenakan bungan 3 persen dari total sisa yang harus dibayarkan.  Kalau tidak salah, total harga rumah setelah dikenakan bunga adalah 315 juta.  Cicilan rumah Rp. 4.375.000/bulan.

Sedianya, uang muka aku kumpulkan dari gaji bulanan dan sebagian lagi dari dana pribadi yang saat itu dipegang pihak ketiga.  Karena sesuatu dan lain hal, dana dari pihak ketiga tidak turun.  Kocar-kacir aku pergi ke bank mengajukan pinjaman lunak sekitar 100 juta rupiah. Untunglah pinjaman dengan jangka waktu 5 tahun di-acc oleh bank akan lunas September 2015 nanti (berterima kasih pada kakakku yang mau jadi penjamin pinjamanku).  Begitu dana hasil pinjaman dikirim ke Indonesia, rupiah menguat.  Nilai tukarnya jeblok beberapa juta rupiah.  Pontang-panting nyari dana talangan (Berterima kasih banget pada Angelina)

Rumah terselamatkan dengan cara setiap bulan mencicil ke bank dan developer sekaligus.  Inilah yang aku sebut bahwa pas nyicil rumah kedua, sebetulnya aku sedang dilatih untuk lebih kuat lagi.  Karena secara angka, cicilan rumah ketiga ini jauh lebih besar dibanding pengalaman nyicil rumah sebelumnya.

Oke, demi cinta kepada para ponakan, ampe di sini aku masih bisa menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran.  Hingga suatu hari, krisis ekonomi semakin menjadi.  Aku mengalami pengurangan jam kerja. Kerja di toko hanya 1 atau 2 jam, maksimal 3 jam sehari.  Sebelumnya paling tidak di toko kerja 5 jam per hari.  Sedangkan di restoran, jam kerja dipotong juga setengahnya.  Aku kerja cuma weekend aja, ga setiap hari seperti dulu.  Ya Tuhan, rasa-rasanya ga sanggup kalau hidup lebih ketat lagi.  Seandainya aku tahu bakal pengurangan jam kerja, tentu aku ga senekad itu beli rumah.

Yang aku tahu, pengeluaran harus ditekan seminim mungkin.  Ini moment paling pahit dalam mencicil rumah.  Hampir 3 tahun tidak belanja pakaian, kalau pun beli sesuatu harus menunggu musim diskon, kadang walau sudah diskon tetep aja kebeli.  Nyaris tidak bisa mudik karena ga sanggup beli tiket pesawat.  Di saat yang lain masih tidur, aku sudah berangkat kerja.  Saat yang lain break, aku masih kerja.  Yang lain pergi liburan, aku milih tetap bekerja.  Beratnya pengorbanan, akhirnya membentuk karakterku untuk tidak menyerah.

Sehari-hari aku pasrah menyantap pasta yang sama. Di sini, saos tomat untuk pasta ukurannya gede-gede, sekitar 0,5 liter per botol, cukup untuk 4 kali makan.  Kemasan saos tomat begitu dibuka harus segera dihabiskan.  Jadilah seminggu menuku bisa spaghetti saos tomat setiap hari.  Kalau dana mepet, kadang makan siang dan malam disatukan, makannya agak sorean dikit biar kenyangnya lebih lama. Minum yang banyak atau teh manis biar perut tidak terlalu kosong. 

Selama di sini, aku kerja selalu di 2 tempat.  Pernah dari subuh sampai sore kerja sebagai cleaning service keliling, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.  Sore hingga malam aku kerja nyuci piring di restoran.  Keduanya bukan pekerjaan mudah tapi aku bisa menjalaninya.  Sekalipun badai salju dan hidung mimisan, aku tetap menuju lokasi kerja di pagi hari.  Jadi perkara perut lapar rasanya tidak krusial banget.  Ketakutanku kalau tidak bisa bayar cicilan rumah dan ke bank.

Tantangan terbesar itu menahan hasrat untuk tidak jajan saat melewati etalase penuh kudapan dalam kondisi perut lapar.  Yang ini bikin imajinasi terbang kemana-mana.  Untunglah orang tua selalu membesarkan hatiku untuk kuat melewati semua ini.  Support Mas Ipung dan teman-teman lain tidak kalah besarnya.  Puji Tuhan, kami berhasil melalui masa pahit itu.  Sekarang pahit lainnya adalah rumah itu sedang bermasalah hukum.  Next, dibuat catatan terpisah ya.

Sedikit saran untuk kalian yang sedang dalam kondisi serupa, pahit getir karena mencicil rumah, jangan pernah putus asa.  Konsentrasi dan fokus saja dengan mencicil rumah maka kesulitan yang lain akan menjadi nomor kesekian.  Sudah diniatkan untuk membeli rumah untuk orang yang kalian cintai, maka bertahanlah.  Cinta eh rejeki akan menemukan jalannya.  

Setelah 3 tahun berlalu, rasanya amazing bisa melalui itu semua.  Bukan cuma urusan mencicil rumah, karena penghasilan juga masih harus dibagi untuk membantu orang tua dan keperluan pribadi.  Rasanya 3 tahun yang ngeri-ngeri sedap.

 

Tahun 2014.  Rumah Keempat

Sekitar 2 minggu lalu baru saja penanda tanganan PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) rumah ke-4 di Yogya.  Letaknya tidak terlalu jauh dengan rumah sebelumnya.  Bedanya, rumah kali ini bukan rumah subsidi.  Harganya Rp. 292.100.000 untuk rumah tipe 45/102.  Dengan notaris dan pajak total sekitar 315 juta rupiah.

Ini juga agak-agak nekad (kayaknya kebanyakan nekadnya deh… 😦 ). Awalnya, kami mau beli tanah untuk usaha.  Tapi karena perubahan rencana, kita putuskan merintis usaha  dalam bentuk lain, sedangkan investasi tetap di properti.  Pengennya beli sawah, tapi sampai sekarang belum nemu sawah yang boleh nyicil bayarnya.

Sedianya kita mau nyoba lagi KPR ke bank, tapi perasaan kok setengah hati ya menjalani proses ini?  Takut ditolak lagi, walau kita udah di-back up oleh marketing salah satu bank.  Ini merupakan opsi pertama.  Sedangkan opsi kedua adalah ngambil pinjaman dari bank di sini.

Yang terjadi kemudian, kita malah menjalankan opsi kedua, yakni mengambil pinjaman lunak dari bank sini.  Mungkin karena lebih simple.  Sebelumnya, aku udah cari informasi tentang kemungkinan ngambil pinjaman baru walau masih ada pinjaman yang lama dan ternyata bisa.  Horeeee…. 

Setelah ngitung-ngitung  jumlah gaji yang bisa disisihkan untuk nyicil DP rumah, maka kita bergegas hunting rumah pada bulan April dan Mei lalu. Setelah rembukan dengan orang tua, rumah ini kita booking tanggal 31 Mei, tepat sehari sebelum harganya naik lagi.  Hasil tabungan, jual perhiasan pas nikahan dan uang kontrak rumah kita putar untuk DP rumah.  Masih kurang dikit lagi, tapi  waktu pelunasan masih ada sampai Januari  2015 nanti pas serah terima kunci dan sertifikat.

Sudah terbayang hidup ala kadarnya yang kembali harus kami jalani, tapi rasanya sebanding dengan nilai aset yang ada.   Semoga tidak ada halangan berarti (baca : kebocoran dana).  Semoga juga diberi kesehatan sehingga sanggup membayar hutang-hutang.

Memang aku menargetkan memiliki aset properti senilai X rupiah, tapi sejujurnya, Tuhan memberi lebih dari apa yang aku minta saat remaja dulu.  Terima kasih yang tidak terhingga untuk semua pihak yang sudah mau berbagi makanannya denganku, berbagi telinga dan hatinya untuk mendengarkan keluh kesahku, berbagi rejekinya untuk sekedar ngopi bareng.  Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua.

Untuk kalian yang ingin memiliki rumah, segera diniatkan.  Percayalah, semesta akan memeluk mimpi-mimpi kalian.  Semoga catatan ini bermanfaat ya.  

Dari hati yang terdalam,

 

Lintasophia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEBAYA (Yang Belum Beres Part. 2)

Sebelum lanjut  lagi menelisik item-item yang belum lengkap, ini dia up date terbaru dari  souvenir.  Pemirsa, akhirnya urusan souvenir beres juga, masih tetep gelas sablon.  Ga tau gimana caranya, Mas Ipung nemu penjual gelas sablon di daerah Pasar Beringharjo (Jogja). Horeee…seneng pisan.  Teringat kemaren setengah hari Mas Ipung nyangkut  di warnet nge-list ulang penjual gelas sablon di Jogja dan sekitarnya termasuk Semarang, tapi hasilnya nihil.  Jauh-jauh nyari ke Semarang eh malah nemu di pasar.   Harganya lebih murah dibanding penjual yang kami survey selama ini.

Rata-rata harga gelas ukuran 6 cm x 8 cm adalah Rp. 4000- Rp. 4.500 per buah.  Itu harga untuk gelas, sablon 1 warna dan packing plastik.  Untuk packing tile dikenakan biaya tambahan Rp. 1.500/bh sedangkan kotak mika dikenakan biaya tambahan Rp. 2.000/buah.  Artinya, total harga  untuk 1 buah gelas sablon dikemas sarung tile, harganya sekitar Rp. 6.000 – 6.500/buah.  Kita sepakat untuk mengambil gelas dove dengan packing sarung tile.  Dan tahukah kita bayar berapa? Di Pasar Beringharjo  cuma Rp. 4.500/buah.  Horeeee…*ekspresi  abis menang olimpiade.  Penjual sepakat beres dalam waktu 2 minggu, sementara tempat lain rata-rata butuh waktu 1 hingga 3 bulan pengerjaan.  Tanpa fikir panjang, Mas Ipung langsung bayar DP.  Saking senengnya, Mas Ipung sampai kehabisan kata-kata.  Malam ini bisa tidur nyenyak dia…hihihihi…

Puji Tuhan akhirnya dapet souvenir, terutama harganya lumayan miring.  Tepat pula tadi siang, emailku nongol 1 penawaran gelas dove, harganya Rp. 5.500/buah, kemasan plastik, minimum order 300 buah.  Wekksss… Bener-bener bersyukur banget 1 masalah terselesaikan dengan cara tak terduga.  Kalau boleh kasih saran, jika tanggal pernikahan sudah pasti dan dana udah tersedia (paling tidak untuk bayar DP), buruan deh pesen tuh souvenir.  Keburu harganya naik dan bikin souvenir itu butuh waktu saudara-saudara.

*****

OK, kita chek item lain, ini dia : KEBAYA

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Percaya atau tidak, klimaks dari sebuah persiapan pernikahan adalah kebaya.  Kayaknya, kalau kebaya (minimal) udah masuk ke tukang penjahit, calon penganten wanita bisa kembali  melanjutkan hidup dengan tenang.   Selain urusan gedung dan katering, maka kebaya adalah item lain yang membutuhkan konsentrasi khusus.  Banyak calon mempelai wanita butuh waktu berbulan-bulan hunting model kebayanya doang.  Semua majalah dan foto-foto kebaya dikumpulkan.  Karena bikin kebaya itu butuh waktu lama terutama kalau modelnya rumit dan full payet, bisa makan waktu 3 sampai 6 bulan.  Belum lagi keluar masuk pasar baru untuk hunting brokat kebaya.

Dari sini, aku bisa mencium aroma adu argumentasi dengan ibuku bakal terjadi lagi.  Aku pengen penghematan, ibuku pengen ada kebaya  kenang-kenangan. Kerasa banget deh beda cara pandang antara ibu dan anak.   Selain alasan penghematan, aku juga menolak karena bingung cara ngukur badan.  Ibuku ga menyerah (keras kepalaku turun dari ibuku).  Mulai deh tiap hari ibuku meneror tentang model atau warna kebaya yang cocok untuk tunangan dan pemberkatan.   Selalu saja ada cara membelokan pembicaraan hingga akhirnya bermuara pada kebaya.  Cuma ibuku yang bisa begini! 😉

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Sambil senewen, aku curhat-curhat dengan Mas Ipung tentang kebaya ini.  Singkat cerita, mari kita penuhi keinginan ibu selama kita masih sanggup.  Akhirnya jadi jahit kebaya.  Aku mengerahkan Mas Ipung untuk cari bahan brokat dengan panduanku.  Selama 2 minggu muter-muter, aku ga nemu yang sreg di hati.  Dalam hal ini aku menggunakan insting dalam menilai corak brokat yang dikirim via hape.

Ujung-ujungnya, aku beli on line dari London… Weks, apa ga kurang jauh?  Ya karena kebetulan corak yang aku suka ada di London.  Dalam hal ini aku memang agak susah dimengerti.  Lagi-lagi dominan pake feeling.  Pilihanku jatuh pada brokat warna putih gading bermotif sulur-sulur.  Resikonya memang agak susah menemukan chemistry antara brokat warna gading dengan brokat abu-abu cenderung perak.  Tapi biarlah masalah chemistry ini menjadi urusan tukang payet.  Ini dia penampakan brokat kebaya untuk pemberkatan.

Brokat kebaya martumpol

Brokat kebaya martumpol

Lalu bakal seperti apakah?  Untuk desainnya aku dibantu mbak Dilla (kakaknya Uning/sahabat baikku sejak jaman kuliah).  Ada beberapa desain kebaya kutu baru yang kuterima.  Ibuku ga terlalu memusingkan modelnya, sebab aku mau jahit kebaya aja beliau sudah cukup senang.  Yang mendapat kehormatan ketok palu model kebayaku justru bapakku.  Secara garis besar bapak meminta kebaya harus sopan, ga ada adegan bagian dada tumpah ruah dan harus sederhana.

Dalam hal kebaya ini, aku satu selera dengan bapak yang menyukai potongan sederhana dan lembut.  Good bye kebaya Anne Avantie yang cenderung meriah dan mewah.  Aku menyukai kebaya rancangan Vera Anggraini yang lebih klasik, ringan dan lembut.  Ini dia sketsa kebaya yang aku dan bapak pilih :

Kalau difikir-fikir, untuk urusan kebaya dan songket, aku menempuh cara-cara tidak lazim.  Misal nih, songket Tarutung (bukan songket Palembang lho) dijahit di Tarutung, brokat beli di London.  Setelah brokat aku terima di Genova, tuh brokat masih keliling lautan dan beberapa negara lainnya sebelum tiba di Jogja.  Brokat itu aku titipkan pada salah satu kru kapal yang kebetulan mau pulang ke Jogja. Sebelum pulang ke Indonesia, dia masih harus ke Barcellona dulu dan beberapa negara lainnya.   Seru!  Makasih banyak, Mas Andi.  Jasamu tak akan kulupakan.

Sketsa kebaya pemberkatan

Sketsa kebaya pemberkatan

Bagaimana menyelesaikan urusan ukuran badan?  Kebetulan aku punya kebaya yang dijahit 9 tahun lalu dan ukurannya masih pas di badanku, hmmm…agak sempit sih.  *umur ga bisa bohong.  Ibuku mengirim selendang songketku plus  2 kebaya (warna hitam dan pink) ke Jogja sebagai panduan.  

Kebaya hitam pendek sebagai patokan ukuran badan, sedangkan kebaya pink sebagai patokan panjang kebaya.  Nah, selendang songket adalah panduan untuk milih warna payet.  Semua serba main kira-kira.  Kurang lebih, hasil akhirnya seperti foto di bawah, cuma beda bagian leher dan bawah kebaya aja.  Semoga hasilnya sesuai dengan harapan, terutama ukuran badan.

Mari membandingkan harga jahit kebaya di Bandung dan Jogja (terutama di tempat aku jahit kebaya ini).  Di Bandung, ongkos jahit 1 kebaya pengantin sederhana (pendek/sepinggang) berkisar 2 juta sampai 3 juta rupiah.  Payet cuma bagian tertentu saja, biasanya leher/dada dan pergelangan tangan.  Kalau full payet harganya lebih ngeri lagi, bisa sekitar 8 jutaan (tergantung model dan panjang kebaya).  Lalu, berapa tarif di Kebaya Laksmi Anjani?

Kurang lebih seperti ini

Kurang lebih seperti ini

Yang aku suka, di Laksmi Anjani ongkos jahit dihitung per item, untuk jahit Rp. 250.000, bustier 300.000 dan payet start dari Rp. 500.000 untuk payet bagian dada/leher dan pergelangan tangan.  Enak, bisa disesuaikan dengan keadaan kantong.  Khusus brokat Prancis seperti punyaku, dikenakan biaya jahit tambahan Rp. 200.000 (diskon, charge awal Rp. 250.000).

 Memboyong jahitan ke Jogja juga merupakan salah satu langkah strategis yang kita akui cukup membantu menekan pengeluaran.  Rencananya mau jahit 3 kebaya.  Kerasa banget kan penghematan yang berhasil kami lakukan?

Tadi What’sappan dengan mbak Iin (pemilik Kebaya Anjani).  Katanya, akhir bulan kebayaku sudah jadi.  Semoga hasilnya sesuai harapan ya sodara-sodara.

Salam hangat,

Lintasophia

Foto dari Google dan koleksi pribadi

Yang Belum Beres… (Part. 1)

Aduh, aduh…  Udah setahun ga ngeblog *hiperbola.  Bener tho, terakhir nulis itu tahun 2013 lalu dan sekarang udah 2014. ;).  Sebelumnya, mau nyapa kalian semua.  Apa khabar?  Semoga hari-hari kalian tetap hangat dan menarik di tengah situasi politik dan cuaca yang ga bisa diprediksi.

Eh iya, sebelumnya mari kita ucapkan selamat menempuh baru untuk Henskih  (temen baikku pas kuliah jadul)  yang kemaren baru saja melepas masa lajangnya.  Ikut seneng, Henskih.  Kita akan setia menunggu foto-foto dan cerita dirimu.  Akhirnya terlewati juga ya masa persiapan yang kadang bikin perang-perang kecil dengan pihak di kanan, kiri, atas bawah.  Sekarang tinggal aku yang dalam beberapa hari ini kejar tayang menyelesaikan beberapa eh banyak item.

*****

Dulu, waktu  bantuin nikahan kakakku rasanya senang  aja, padahal itu pesta besar.  Giliran bagianku, syukurannya kecil tapi butuh kesabaran besar.  Baiklah, karena intronya udah terlalu panjang, mari kita melirik item yang belum beres, hampir beres dan tidak beres sama sekali.  Intinya, malam ini kita akan berbicara tentang  sesuatu yang tidak beres.

1. ADMINISTRASI

Diantara semua proses persiapan pernikahan yang kami lalui,  selain masalah finansial *ehem, masalah administrasi menempati urutan kedua yang memakan waktu paling lama.  Seingatku, pertengahan 2013 Mas Ipung daftar untuk Katekisasi Sidi baru 6 bulan kemudian dibaptis (27 Desember lalu).   Apakah beres baptisan lantas bisa langsung mendaftar nikah di Bandung?  Tidak, saudara-saudara.  Masih ada yang harus dilengkapi, seperti Surat Pengantar (untuk menikah) dari GKJ.

Setelah Mas Ipung megang surat baptis, baru boleh mengurus  dokumen lain, yakni ;  KTP dan KK untuk mengubah data-data terkait dengan berganti keyakinan yang kemarin ditempuhnya.    Kalau ga salah, untuk KTP dan KK udah beres.  Tentang KTP dan KK sejujurnya aku lupa lagi.  Beberapa hari terakhir ngurusin undangan dan souvenir.  Mak jleb, sebulan lagi nikah, undangan baru masuk tahap desain.  Sedangkan untuk Surat Pengantar, sekretaris gereja berjanji bahwa hari Minggu ini uda beres.  So, hari Minggu malam dengan kereta api tercinta, Mas Ipung bisa meluncur ke Bandung.

Katekisasi berlangsung selama 6 bulan dengan pertemuan 1 x seminggu selama 1,5 hingga 2 jam.  Itu berlangsung selama 3 bulan pertama.  Sedangkan 3 bulan berikutnya lebih intensif, sekitar 2 kali seminggu karena disisipi juga konseling pra nikah.  Sejak bulan November atau 2 bulan sebelum baptis lebih sibuk lagi.  Selain jadwal katekisasi sidi dan konseling pra nikah yang jadwalnya telah tetap, Mas Ipung lebih sibuk lagi karena menyiapkan keperluan baptisan dan Natal yang memang berdekatan waktunya.

2.  UNDANGAN

Undangan molor bukan semata kelalaianku tapi karena orang tua bersikeras undangan diurus HANYA jika masalah administrasi beres.  Ternyata date line administrasi meleset dari dugaan kami.  Iyalah, kalo ini kan mutlak wewenang pihak ketiga alias gereja yang membaptis Mas Ipung.  Kebetulan kemarin bersamaan dengan hari Natal dan Tahun Baru,  banyak kegiatan di gereja.  Mas Ipung juga ga enak bolak balik minta surat pengantar.

Padahal sejak Oktober aku sudah minta bapak dan ibuku membuat draft/kalimat yang akan disusun di undangan.  Aku sendiri punya alasan sendiri kenapa pengen beresin undangan jauh-jauh hari.  Biasanya sekitar November dan Desember kerjaan di sini bejibun.  Daripada nanti semua dikerjain terburu-buru.  Belum tentu nyetak undangan tepat waktu atau semua lancar jaya.  Tapi gitu deh, bapak ibuku ga setuju cetak undangan sebelum semuanya pasti.  Katanya, pamali.  Benar saja dugaanku, bapak dan ibuku beberapa hari ini mulai panik karena undangan belum beres.

Cover depan undanganSetelah adu argumentasi yang kesekian kali dengan ibuku, tiba-tiba tuh draft undangan udah nongol aja di inbox FB-ku.  Beruntung Adeku lumayan jago masalah desain.  Ga nyampe beberapa jam beres deh lay out undangan.  Tuh kan, yang susah itu menyatukan visi dan cara pandang.  

Kalo udah dibenturkan pada kebutuhan yang sama (dalam hal ini undangan segera naik cetak), maka semuanya mudah dan cepat.  Coba dari kemaren mau ngikutin run down-ku, bisa hemat energi tanpa naik tensi.

Undangan yang aku dan Mas Ipung pengenin harus sederhana, ringan, tidak banyak motif dan tanpa foto.  Iyalah, buat apa pake foto, secara yang dateng juga keluarga inti dan sahabat dekat yang sama-sama udah kenal wajahku dan Mas Ipung. Lalu, undangannya juga cukup 2 lembar agar mudah pengerjaannya dan murah pembayarannya.  *penganten irit.

Ini contekan undangan yang kita mau.  Pertama kali Adeku lihat dia takjub akan pilihanku.  ”Beneran ini cover undangannya?  Sesederhana ini?”  Tanya adeku.  Lalu secara halus ia menawarkan template-template undangan lain yang kira-kira mendekati seleraku.  Ga tau kenapa, aku dan Mas Ipung udah cukup sreg dengan undangan minimalis ini. Kertas bagian dalamnya nanti warna peach dengan border abu-abu.  Semoga nemu percetakan yang bisa diajak SKS (Sistem Kebut Semalam).  Atau kalo kepepet, print dan tempel sendiri deh.

3.  SOUVENIR

Souvenir tersendat karena yang ngurusnya (dalam hal ini Mas Ipung) sibuk pisan.  Alasan lain, karena kita tidak butuh souvenir dalam jumlah banyak, maka souvenir bisa diurus belakangan.  Dan ternyata saudara-saudara, souvenir itu harus dipesan paling tidak 3 bulan sebelumnya.  *nangis.

Ok, tenang…tenang…sebetulnya ga sehoror itu, tergantung jenis souvenirnya sih.  Awalnya untuk menyenangkan hati ibuku yang dari dulu terobsesi ama souvenir kipas, maka kita sepakat akan mengambil kipas sebagai souvenir.  Di lapangan, minimum order untuk kipas adalah 200 pieces, sedangkan kebutuhan cuma 150 buah (maksimal).  Akan dikemanakan sisa souvenir?  Walau harganya ga seberapa, kita berusaha untuk tidak membuang/membayar sesuatu yang ga perlu.  Bisa sih beli kipas secara eceran tapi harganya lebih mahal.  Lumayan selisihnya untuk nambah payet kebaya….halah… *ga mau rugi.

Gelas sablon wayangRembukan lagi, pilihan jatuh pada gelas dan aku suka banget opsi ini.  Minimum order tetep 200 buah, tapi kalo sisa kan masih bisa dipake sebagai modal awal berumah tangga…kekekkkekeke… Jelek-jeleknya, nih gelas masih bisa dipake orang rumah.  Atau bagiin ke sodara.  Alasan lainnya, bentuknya lebih besar dari kipas tapi harganya lebih mini.  Selisih harga gelas dan kipas cukup untuk luluran.

Waktu berjalan, tahun 2013 terlewati.  Baru beberapa hari ini kembali ngurus nikahan termasuk souvenir. Mulailah Mas Ipung survey gelas sablon.  Di sini kejutan demi kejutan  kita temui.  Mulai dari stock gelas yang kosong hingga full of order .  Kira-kira, calon penganten lainnya bikin souvenir dari berapa bulan sebelumnya ya? Padahal seandainya bikin souvenir butuh 1 bulan pun masih masuk run down kita kok.  Duh Gustiiiii…

Kejutan lainnya,    ternyata saudara-saudara  harga gelas naik.  Ga kira-kira pula naiknya.  Jika sebelumnya di price list berkisar Rp. 3.500-an, sekarang sekitar 5.000 bahkan Rp. 6.500.  Nangis, ga jadi luluran!

4.  PITA MOBIL PENGANTEN

Yang ini ga terlalu krusial.  Ntar kita ga nyewa mobil penganten, abis mehong ciiiiin.  Kisaran harga 1,5 jt-2,5 jt.  Lupa jenis dan tipe sedannya.  Tapi kemaren Bang Dani ngasih up date harga sewa mobil penganten, masih sekitar segitu.  Berhubung kita penganten irit dan cenderung pelit, maka mobil penganten dicoret dari list.  Sebagai gantinya, kita pake mobil yang ada di rumah.  Sedangkan untuk orang rumah  kita akan sewa semacam elf atau minibus.  Aku dan Mas Ipung ga mau bayar mahal untuk mobil penganten karena nantinya juga cuma dipake sekitar 4 jam saja dengan rute : rumah ke gereja setelah itu ke lokasi acara.

Pertama kali dengar ide ini, ibuku rada shock juga karena bukan hal yang lazim terutama di keluarga besarku.  Tapi untunglah akhirnya beliau mengerti kondisi keuangan anak-anaknya ini yang cenderung tidak menggembirakan beberapa waktu belakangan.   Sekarang tinggal hunting pita untuk mobil penganten.  Sudah survey harganya di ebay, sekitar 7 – 10 euro (Rp. 160 ribuan).  Kebayang kan berapa rupiah yang bisa kami tekan dengan cara ini?

Disisi lain, kita memang masih harus menyediakan mobil untuk keluarga besar yang datang dari luar kota.  Nah, kalau nyewa elf  (harga sewa memang lebih mahal dari avanza dan sejenisnya), tapi pengeluaran akhirnya sama aja, karena kita cukup mengisi bensin untuk 1 mobil dan bayar 1 orang supir saja.  *insting auditor keluar.

Kira-kira itulah item persiapan yang belum beres, part 1 lho.  Masih ada part 2 yang aku harap sih ga terjadi.  Semoga semua lancar jaya… Amin.

Salam hangat,

Lintasophia

Ulang Tahun. Yang Hilang, Yang Terbang

Pukul 01.37 dini hari, tiba-tiba si empunya blog gatel ingin bercerita tentang ulang tahunnya yang sudah lewat seminggu lalu.  Betul, minggu lalu aku baru saja berulang tahun ke-34.  Jadi, sekarang  kalau ada yang menanyakan umurku, udah sah dijawab : jalan 35 (tahun)…. Ahhh, masih muda. *ekspresi menang.

Bulan November ini rasanya cepet banget berlalu. Kemarin tuh tiba-tiba udah nyampe 12 November dan mulai ditodong pertanyaan tentang kado apa yang aku inginkan.  Ritual patungan dan membelikan kado bila salah satu diantara kami berulang tahun, memang masih kami pelihara sampai sekarang.  Di tengah tumpukan pekerjaan dan diselingi ngurus nikahan, aku tidak sempat memikirkan kado apa yang aku inginkan untuk ulang tahun kali ini.

Sadar bahwa sebentar lagi usiaku bertambah, malah membawaku bernostalgia pada perjalanan hidupku mulai  beberapa tahun terakhir hingga beberapa bulan terakhir.  Ceritanya, pertengahan 2010 lalu aku membeli rumah di Bandung dengan cara mencicil secara bertahap selama 3 tahun kepada pengembang.  Berdasarkan kesepakatan, rumah akan lunas pada Juni 2013 walau akhirnya mundur menjadi Agustus 2013 karena aku ada bolong membayar pas bulan Februari lalu.  Namun masalahnya bukan di situ.

Jadi, sekitar 23 Juli lalu kakakku mengabarkan bahwa rumah yang selama ini aku bayar dan tinggal 2 kali cicil ternyata bermasalah.   Sertifikat rumah yang masih atas nama pengembang digadaikan oleh pimpinan pengembang ke pihak lain.  Sampai saat ini belum terlacak siapa yang pegang sertifikat rumah yang telah kubayar 99 % LUNAS.  Bahkan Bu Eva sebagai developer ikut-ikutan menghilang dan oleh Kepolisian  statusnya menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kira-kira, gimana ya perasaanku saat itu?  Mungkin bila aku membuat tulisan ini beberapa saat setelah kejadian, bisa sangat emosional dan berdarah-darah.  Dulu rumah itu aku beli untuk para keponakanku yang saat ini tinggal bersama ibu dan bapakku.  Skenarionya, sewaktu-waktu para keponakan membutuhkan tempat tinggal, maka mereka akan tinggal di situ.

*****

Karena beberapa perkembangan terjadi dalam keluarga, kembali skenario harus diubah.  Rumah itu akan dijual untuk modal usaha, dalam hal ini untuk membeli sebuah penginapan di Yogyakarta.  Secara garis besar, langkah ini sebagai jaminan bahwa para keponakanku akan mendapatkan penghasilan setiap bulannya.  Sampai sekitar awal bulan Juli semua berjalan mulus.

Rumah sudah tahap negosiasi pada kakakku yang berminat untuk membelinya.  Secara bersamaan, di Jogja sana ada beberapa properti yang sudah masuk tahap negosiasi.  Beberapa properti yang sesuai  kebutuhan pun sudah disurvei dan dihitung hingga detail.  Sudah menemukan beberapa yang cocok.  Ibarat kata, tinggal tunjuk dan transfer uang muka dari hasil penjualan rumah di Bandung.

Konsep, nama dan logo penginapan, email, standard operasional hingga rencana jangka pendek dan menengah sudah aku dan Mas Ipung siapkan.  Begitu cepat?  Iya, karena dari dulu aku memang pengen punya penginapan.  Bahkan, aku udah menyiapkan nama dan font-nya.

Begitulah, ditengah proses negosiasi muncul khabar tidak sedap.  Sempat aku merasa seperti mimpi.  Butuh 2 hari untukku menerima kenyataan bahwa rumah dalam masalah.  Pas kakakku menyampaikan berita duka ini, reaksiku biasa banget.  Beneran!  Namanya juga orang lagi linglung.  Setelah 2 hari berlalu dan percaya bahwa semua ini nyata, mulai deh nangis terus….hahahaha, parah banget deh telminya.

Bener-bener bingung, bagaimana hidup ke depannya.  Karena menjual rumah itu dan membeli penginapan di Jogja adalah rencana paling dekat dan tinggal ketok palu.  Sampai sekarang kadang masih ga percaya ini terjadi.  Selama 2 bulan masih suka nangis, dan mellow-mellow gitu.  Untungnya ga sampai pada tahap suka ngomong sendiri….Iiih amit-amit…*ketok meja.

Ketimpa masalah seperti ini, ibarat rumah kemasukan maling dan mengambil semua yang kita miliki.  Terus terang, sejak mengumpulkan DP hingga masa mencicil setiap bulannya, aku tidak sempat nabung lagi.  Boro-boro nabung kale, bisa survive juga udah syukur.  Seringnya sih gali lubang tutup lubang….tosss… *mulai stress dan emosional. 😦 .  Jangankan nabung, yang ada juga karena nyicil rumah, aku masih memiliki hutang…grrrrhhh….

Apa yang paling menyakitkan dari sebuah (nyaris) kehilangan?  Jawabnya ; kenangan.  Iya, yang aku punya sekarang adalah kenangan  masa-masa berat selama 3 tahun ini.  Kalau tidak salah, aku sempat menulis status di FB-ku : kalau jadi ambil, berarti bakal puasa 3 tahun.  Kuat ga ya?

Status di FB itu benar adanya saudara-saudara!  Entah pegimana polanya, begitu aku jadi mengambil rumah itu, tiba-tiba krisis menjadi.  Aku bahkan pernah mengalami periode kerja cuma weekend aja.  Haduuuuh, bagaimana membayar pengeluaran rutin bila kerjaan juga ala kadarnya padahal pengeluaran justru lebih besar dari sebelumnya?  Agar bisa tetap membantu orang tua, membayar rumah dan pengeluaran rutin (dan tidak bisa dihindari), aku terpaksa melakukan adaptasi lumayan ekstrim.

Aku udah ngalamin deh merapel (menggabungkan) makan siang eh sore dan makan malam.  Ini terjadi pas aku cuma kerja Jumat dan Sabtu aja, otomatis aku makan di rumah.   Ceritanya, biar kenyangnya agak lama, makan siang aku mundurkan beberapa jam.  Kalau biasa makan siang pukul 14.00 atau 15.00, maka aku makan sekitar pukul 17.00 sore.   Itu namanya makan siang sekaligus makan malam.   Dengan demikian perutku tetap kenyang sampai malam.  Emangnya kenyang?  Ga selalu sukses sih… Sering aku menyiasati dengan banyak-banyak minum air putih.  *nulis ini udah mulai nangis.

Menunya pun bener-bener parah.  Biasanya aku membeli pasta dan sebotol saosnya.  Pokoknya, selama saos di botol belum habis, aku makan dengan menu yang sama.  Bisa jadi, dalam seminggu aku makan pasta kupu-kupu secara berturut-turut  Mabok…mabok deh.  Selama masa nyicil rumah, makan di luar adalah kemewahan luar biasa untukku.

Adaptasi apa lagi yang kulakukan?  Hampir 2 tahun aku tidak beli pakaian sekalipun amat sangat butuh banget.  Seingatku, baru tahun lalu aku mulai belanja sweater dan baju hangat itu pun nyari yang murce (murah cekali) atau saat diskon.  Semua merk kosmetik di down grade.  Bila awalnya masih kuat pakai Collistar dan Christian Dior,  diganti ke yang agak murce hingga berlabuh pada muceli alias murah cekali.. * 😉 😉

Ada cerita lucu tentang parfum muceli ini.  Suatu hari, aku kehabisan parfum dan pastinya sedang tidak sanggup beli Christian Dior.  Akhirnya aku beli merk Nivea botol kaleng yang di dalamnya terdapat  gundu.  Biasanya, sebelum disemprotkan, kaleng digoyang dulu hingga menimbulkan bunyi kolantang…klontang…  Siang itu, aku dan adikku sedang siap-siap mau ke stand bazaar di Firenze.  Kami sedang dandan, sudah mandi.  Aku mengeluarkan parfum Nivea, menggoyang-goyangnya hingga siap untuk disemprotkan.

”Apa itu, Nit?”  Tanya adikku yang rupanya bunyi kaleng Nivea mencuri perhatiannya.

”Ini parfumku.”  Jawabku sambil menyemprotkan parfum.

”Oh parfum, kirain pengharum ruangan.”  Timpalan adikku membuatku sadar betapa  besar banget perubahan yang aku tempuh demi cicilan rumah aman terkendali.

Setiap bulan, setelah terima gaji adalah moment paling mendebarkan.  Bagaimana menyiasati penghasilan agar semua pos terpenuhi?  Puji Tuhan, kalau flash back rasanya ga percaya aku bisa melalui semua ini.  Karena secara rasio pendapatan dan pengeluaran memang sudah tidak sehat dan cenderung kritis, sering keluar masuk UGD atau gali lubang tutup lubang.  Aku harus berterima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang mensupport selama ini.

Banyak sekali kenangan sadis dan berdarah-darah lainnya.  Selama 3 tahun ini, aku harus skip jalan-jalan.  Ketika orang lain jalan-jalan saat cuti musim panas, aku memilih bekerja.  Masih inget ceritaku terancam ga bisa ikut mudik karena ga punya duit?  Ya, itu salah satunya…  Gila banget yaaaa… *hapus ingus.

Aku juga terpaksa memutus tali persahabatan dengan tas-tas bagus dan berharga mahal…  Ini agak susah.  Tapi saat ga punya duit, semuanya menjadi mudah.  *miris.  Kemana-mana aku pasang kaca mata kuda agar tidak mudah tergoda.  Awalnya memang berat tapi akhirnya jadi kebiasaan.

Proses 3 tahun ini secara tidak sadar ternyata mengubah kebiasaan belanjaku menjadi lebih hemat dan selektif (baca : pelit).  Istilah think before you pay, setiap hari aku terapkan.  Puji Tuhan, sekarang mah udah kebal sama tas-tas atau sepatu lucu, walau pernah sih terpeleset.  Manusiawi kan? But the fact is : aku  memang selalu ga punya duit sih.  Pan masih nabung buat nikahan…*membela diri.

*****

Kita udah bicara beberapa pengalaman selama 3 tahun ini.  Lalu bagaimana perasaanku sekarang?  Pastinya sedih, gila, stress dan sejenisnya.   Secara  kita lagi ngomongin rumah yang harganya di atas 350 jeti.  Dan bagian paling menyedihkan, itu adalah tabunganku selama ini.  Mungkin bagi orang lain itu ga seberapa, tapi untukku sangat berarti karena memang udah direncanakan untuk modal usaha bagi kelangsungan pendidikan para keponakanku.  Sampai abis air mataku mendoakan semoga masih rejekinya anak-anak dan rumah itu kembali lagi.

Kalau sekarang ditanya rencana selanjutnya apa?  Blank!  Aku masih belum bisa mikir.   Perasaanku sekarang udah ga sekalut bulan Juli lalu.  Aku mencoba mengiklaskan apa yang terjadi  termasuk menyiapkan  diri bila kondisi terburuk terjadi.  Awalnya memang sulit memahami semua ini dan sampai sekarang pun aku ga faham-faham kenapa mesti aku ya?  Keluarga dan sahabat-sahabat mencoba meyakinkan bahwa ada hikmah dibalik semua ini.  Tetep, sampai sekarang juga masih belum nemu hikmahnya.

Kadang bapak dan ibuku juga mikir, salah apa Nita kok bebannya berat terus?  Tapi semakin difikirin ya semakin ga bisa mikir.  Beneran…. Yang ada aku susah makan dan tidur.  Pernah beberapa hari berturut-turut aku ga tidur.  Kadang aku tidur eh tertidur lebih karena kecapaian menangis.  Kondisiku bener-bener buruk dan nyaris sakit karena ga makan dan ga tidur.  Menurut ibuku, aku cukup tangguh selama 3 tahun ini mencicil tanpa putus (nunggak) walo hidup serba dalam keprihatinan.  Dulu sering gamang, bakal mampu ga ya melunasinya?

Pertanyaan yang sama muncul beberapa bulan lalu saat kasus ini menguak.  Mampu ga ya menghadapinya?  Bagaimana bila ternyata rumah benar-benar hilang?  Bagaiman dengan rencana-rencana yang telah kami susun?  Bagaimana dengan anak-anak?   Setelah aku berusaha ikhlas, semuanya terasa lebih ringan.  Aku percaya, setiap orang udah punya jalan dan jatahnya masing-masing.  Semua ini hanya titipan.  Bila si Dia berkehendak, apa aja boleh Dia ambil kok. *lagi bener.

Tepat pas ulang tahun kemaren, rasanya ga henti-henti bersyukur masih bisa tegar menghadapi sekian banyak masalah.  Bapak dan ibu atau teman-temanku salut karena aku masih bisa ngamuk-ngamuk, lucu dan bersikap sadis.  Berarti aku masih normal.  Ulang tahun tidak selalu berarti menerima kado-kado indah, namun juga melepaskan sesuatu  sesuatu  yang hilang dan terbang.

Salam hangat,

Lintasophia

My Wedding Preparation ; Akhirnya Ada Progress

Sekitar awal Oktober lalu, jadwal tunangan dan pemberkatan pernikahanku di-acc dan diumumkan oleh gereja melalui Warta Jemaat.   Perasaanku campur aduk.  Merasa senang karena salah satu masalah krusial terjawab.  Di sisi lain, masih kaget, linglung dan lemas…halah…  Serius, reaksiku saat itu : Oh my God, berarti beneran ya aku bakal nikah?  Astaga, berarti ntar ganti KTP dan bikin Kartu Keluarga (KK) terpisah dari ibu dong?

Atau, pertanyaan seperti ini : Gila, trus nanti aku harus masak apa setiap hari?  *buru-buru Googling resep-resep praktis… hahahahah…  Serius pula, aku mendadak panik.  Dari yang tadinya santai banget kayak di pantai, tiba-tiba blank!  Ga tau mau ngomong atau mikir apa.   Masih harus adaptasi status dari pacar menjadi calon istri.  Tuhan, sekarang si gue adalah calon penganten.  *tutup muka, ketauan ga siap mental.

Hal pertama yang kita lakukan setelah dapat jadwal tunangan dan pemberkatan adalah bayar DP venue.  Bapak dan ibuku yang ngurus masalah ini.

”Berarti bener ya aku bakal nikah? ”  Batinku waktu itu kayak orang bangun kesiangan,  sambil baca BBM ibuku yang melaporkan telah membayarkan DP venue.  Antara sadar dan ga sadar,  tergagap-gagap sambil melotin kalender.  Astaga, 4 bulan lagi saudara-saudara dan kita belum nyiapin apa-apa.  *mulai panik, lempar selimut.    Jangan ditiru ya, temans…

”Bisa ga ya semua printilan ini di-skip,trus  tau-tau bulan madu aja?”  Teriakku ke Mas Ipung.  Aku mulai uring-uringan demi melihat list dan batas waktu yang ternyata udah mepet…pet…pet…  Apalagi kalo ada pertanyaan ; udah nyampe mana, suvenirnya apa, kebayanya mana?  Hiiiii….*nangis beneran.

Bisa dibilang, sejak keluarnya jadwal tunangan dan pemberkatan merupakan titik balik aku dan Mas Ipung serius memikirkan pernikahan ini.  Ga mungkin mundur.  Intensitas berantem pun mulai meningkat. *ukur tensi.   

Mulai deh bongkar-bongkar email, menandai penawaran dari berbagai vendor pernikahan.  Mencatat dan menghitung ulang pos-pos pengeluaran.  Merapikan jumlah undangan yang  (padahal) jumlahnya tidak seberapa….  Memang kalau ingin sound system eh konsisten dengan pernikahan sederhana, langkah pertama dan mungkin terberat adalah membatasi banget jumlah undangan.  Azas tega harus diterapkan dalam hal ini…. *saran Uni.

Baiklah, agar sesuai dengan judul, mari kita lihat progress apa saja yang sudah terjadi dalam persiapan sederhana ini ,

A.  MARTUMPOL (TUNANGAN)

Hari dan tanggal : Sabtu, 22 Februari 2014

Waktu                    : pukul 11.30 – 13.00

Venue                    : HKBP Bandung Timur, Jln.  Jakarta No. 11 Bandung

Catering                : snack kotak  yang dibagikan seusai kebaktian.  Untuk keluarga inti, makan siang biasa di rumah (masak sendiri)

Busana                 : – kebaya belum tau dari mana, belum beli bahan 😉

–                               – Tenun Basana.  songket Tarutung, in processing ditenun di Tarutung (Sumatera Utara) sana.

Dokumentasi    :  pake jasa Joni Boy (kakakku).  Aku dan Mas Ipung memasrahkan diri saat Kombet alias Joni meminta ijin terlibat (baca : latihan moto) saat pernikahanku.  Mumpung ada momen, katanya.

Make Up             : Teh Tiara (perias langganan keluarga).  Masih harus DP nih untuk booking tanggal.

B.  PEMBERKATAN PERNIKAHAN

Hari dan Tangal   : 1 Maret 2014

Waktu                    : pukul 11.30 -13.00

Venue                    : HKBP Bandung Timur

Jln.  Jakarta No. 11 Bandung

Busana                  : songket mesen ke Kak Rotua, (Tenun Basana)  sedangkan kebaya rencananya baru mau beli bahan bulan depan.

Dokumentasi      :  Joni Boy dan kawan-kawan

Make up               : Teh Tiara

C.  SYUKURAN

Hari dan Tanggal              : 1 Maret 2014

Waktu                                 : pukul 14.30 – 19.30

Venue dan catering        : Rumah Kebon Cengkeh  (Bojongkoneng – Cikutra), Bandung

MC and entertainmet   : Sebayang Music.  Ini request ortu, kudu ada lagu-lagu Batak.  No lagu Batak, no party…. *ancaman ibuku.

Busana                              : tetep pakai baju pas pemberkatan.

Make up                           : Teh Tiara

Sementara itu dulu list yang sudah fix.  

Beberapa printilan yang masih harus diselesaikan adalah :

1.  Kebaya

Ini  salah satu paling krusial dan bikin ibuku pusing melihat betapa santainya aku dan Mas Ipung.  Aku mau make kebaya kutubaru, tapi belum yakin untuk jahit sendiri, mending nyewa ajalah.  Tapi pas nerima price list sewa kebaya dan model-model kebaya, ide sewa kebaya terpaksa dicoret.   Kebaya kutubaru yang aku inginkan adalah sebuah kebaya sederhana dan pendek.

Kebanyakan model kebaya yang disewakan model princess (model kebaya Ashanty), berekor panjang (sementara aku pengennya sepinggang atau sepinggul aja) dan terlalu banyak payet.  Huahahahha, bener-bener bukan kebaya yang aku inginkan.  Kebaya-kebaya yang aku sebutkan barusan, harganya memang mahal, mungkin karena itu  harga sewanya juga lumayan, walau jatuhnya lebih murah nyewa sih.  Tapi untuk kasusku yang butuh kebaya sederhana, maka bikin sendiri adalah pilihan tepat…*peluk ibu.

2.  Undangan

Udah ada sih beberapa ide undangan, tinggal ketok palu.  Ide awalnya cuma makan siang biasa setelah pemberkatan, maka  kita ga kefikiran bakal bikin undangan,.  Cukup by phone atau SMS/email/FB.   Tapi ternyata hal ini kurang berkenan di hati ibuku.  Jadilah urusan undangan nyempil diantara hal lain yang harus disiapkan.

3.  Suvenir

Ini salah satu yang aku dan Mas Ipung kurang serius menyiapkannya.  Kadang pengen ngasih suvenir untuk para undangan, tapi sering mikir ; penting ga sih?  Kalau pun pengen ngasih suvenir, dari dulu udah kefikiran suvenir itu sambal teri kacang buatan ibuku, masukin stoples kecil,  kasih stiker dan pita unyu-unyu gitu.  Porsi 1 stoples untuk 2 orang.  Tapi ibuku ga suka ide ini.  Siapa yang bakal menggoreng dan menyambal?  Beberapa waktu belakangan ini kesehatan ibuku menurun.  Sambal teri kacang dicoret dari list.  Sedangkan ide ibuku, ga jauh dari kipas, notes atau gantungan kunci.  Tampaknya, ibuku terobsesi sama yang namanya kipas tangan.

4.  Cincin Nikah

Apalagi yang ini, masih gelap urusannya.  Liat ntar aja deh pas mudik, hunting bareng Mas Ipung.  Paling ga kita ngerasain seperti calon penganten lain sibuk hunting-hunting.

Sementara, itu dulu list-list yang sudah final dan yang masih semi final. 🙂   Untuk venue, songket, dokumentasi dan lain-lain akan direview secara terpisah berdasarkan item atau vendornya.  Terima kasih untuk keluarga, teman-teman dan para vendor atas bantuannya. 

Salam hangat,

Lintasophia

Our Wedding Songs

Sejak memutuskan untuk menikah,  aku jadi rajin nulis. terutama masalah pernikahan dan printilannya.  Mumpung timingnya pas dan lumayan untuk kenangan-kenangan.  Semoga kalian tidak bosan ya…

Kita mau menikah secara sederhana, maka fokus utamaku dan Mas Ipung adalah prosesi pemberkatan.  Diibaratkan sebuah film, prosesi pemberkatan adalah pemeran utama, sedangkan makan siang adalah pemeran hiburan….hihihihi…  Beruntung kita akan mengambil paket pernikahan,  jadi serasa punya WO yang bantuin ngurus ini itu.  Untuk urusan undangan, suvenir, songket, perias dll kita sudah kontak.   Tinggal bayar tanda jadi saja begitu jadwal pemberkatan diputuskan oleh gereja.

Nah, sambil nunggu jadwal pemberkatan,  aku  akan cerita tentang lagu-lagu yang bakal ada di pemberkatan nanti termasuk alasan pemilihan lagunya.  Susunan acara dan lagu-lagu selama pemberkatan biasanya sudah ada tata cara tersendiri.  Namun masalah lagu dan acara masih boleh dirubah asal tidak mengubah pakem yang ada.  Dan pastinya selama disetujui majelis gereja. 😉   Ok, ini 2 lagu utama pas pemberkatan nanti ;

1.  If you’re not the one  (Daniel Bedingfield)

Alasan :

Ga ada alasan khusus milih lagu ini.  Kebetulan aja lagu Christina Perri (Thousand Years) atau From This Moment-nya Shania Twain sudah terlalu sering jadi lagu kawinan.  Mungkin pengen sedikit beda aja… *nyari alasan.   Jujur, aku dan Mas Ipung ga punya banyak lagu kenangan yang bisa dipakai referensi untuk pemberkatan.  Maklum saja, 11 tahun pacaran jarak jauh,  kalau bertemu pun setiap mudik, maksimal 10 hari itu tidak selalu ada lagu-lagu yang menyertai.  Minim lagu.  *nasib cinta jarak jauh.

Eh ada deng beberapa lagu hits pas aku mudik dan jalan bareng Mas Ipung.    Sekitar 2006 ada lagu dangdut judulnya : SMS Siapa ini, Bang?  Yang mau nyari di Youtube, penyanyinya Ria Amelia.  Liriknya seperti ini :

Bang, SMS siapa ini Bang

Bang , pesannya pakai sayang-sayang…

Hehehe, ga mungkin banget kan lagu dangdut beraroma Minang ini dipakai pas pemberkatan?

Lagu lainnya yang sempet booming, seluruh penjuru toko di Yogya menyetel lagu ini, saling bersahut-sahutan.  Apalagi kalau bukan Ayat-ayat Cinta yang dinyanyikan oleh Rossa.  Lagu ini lebih slow dan romantis tapi tetep aja tidak ada chemistry sebagai lagu untuk pemberkatanku nanti.   Beberapa temen juga merekomendasikan lagu tapi aku lebih klik dengan Daniel Bedingfield.

Setelah lama baru aku bisa menemukan jawaban kenapa keukeuh akan lagu ini.  Dulu banget, pas kita baru jadian, lagu ini populer banget.  Kalau ga salah, kita dengerin lagu ini pas nginep di rumah Echi di Puri Cipugeran  (Cimahi), sekitar bulan April 2003.  Buset, aku sampe apal gini.  Dulu mah ga kefikiran nikah make lagu ini.  Boro-boro kali mikir sejauh itu, wong baru sebulan jadian.  Aku suka liriknyaaaaa….

If you’re not the one

Why does my soul feel so glad today?

If you’re not the one

Why does my hand fit your this way?

If you’re not the mine

Then why does your heart return my call?

If you’re not mine

Would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings

But I know your here with me now

We’ll make it through

And I hope you are the one I share my life with

Lirik selanjutnya bisa dilihat di Youtube sambil nyanyi-nyanyi.  Ada kalimat yang bagus banget, selain yang aku bold di atas :

And I pray that you are the one

I build my home with…

I hope I love u all my life…

Bagus banget ya.  Seakan-akan lagu ini diciptakan untuk aku dan Mas Ipung… *ngakak guling-guling.   Sayang kalau lagu bagus seperti ini diacuhkan… *masukin ke list.

Jadi, lagu ini akan dipakai pas aku dan bapak tiba  gereja.  Bapak yang akan nganter aku nemuin Mas Ipung yang udah nungguin di altar.  Prosesi  ini kita pilih sebagai bentuk penghargaan kita pada bapak atas andilnya memuluskan pernikahan sederhana.  Rasanya ga ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa terima kasihku dan Mas Ipung atas kebesaran jiwa bapak.  Makanya, detik-detik terakhir melajang, pengen dilewatkan dengan bapak.  *anak papi.

2.  Nang Gumalunsang Angka Laut  (Dipopulerkan oleh Victor Hutabarat)

Lirik :

Nang gumalusang angka laut,   (Walau laut bergemuruh)
Nang rope halisungsung i,   (Walau angin besar datang)
Laho mangharophon solungki.   (Hendak mengkaramkan kapalku)
Molo Tuhan parhata saut,   (Bila Tuhan  berkehendak)

Mandok hata na ingkon saut,  (Maka kehendak-Nya jadilah)

Sai saut doi, sai saut doi, sai saut doi.   (Maka terjadilah, terjadilah)

Ndang be mabiar ahu disi,   (Aku tak takut lagi)
Mangalugahon solukki,    (Mengayuh kapalku)
Ai Tuhanku donganki,    (Karena Tuhan besertaku)
Tung godang pe musukki.   (Meski banyak musuhku)
Na mangharophon solungki,    (Yang ingin mengkaramkan kapalku)
Sai lao do i, sao lao do i sian lambungku i.   (Semua itu akan jauh, jauh dari sisiku)

Hatop marlojong do solukku tu labuhan na sonang,  (Kapalku melaju kencang menuju kebahagiaan)
Naso adong be dapot hasusahan i.  (Aku tak lagi merasa susah)
Tudos tu si nang pardalanan ki,   (Walau ke mana perjalananku)
Laho mandapothon surgo i.   (Untuk mendapatkan surga)

Reff:

Sipata naeng lonong do ahu,   (Kadang aku nyaris tenggelam)
So halugahan galumbang i.  (Betapa gelombang tak terlawan)
Tudia ma haporusanku i,  (Kemana kubawa kesedihan ini)
Ingkon hutiop tongtong Jesus i.  (Tangan Yesus selalu kupegang)

Ditogu-togu tanganku,  (Ia menuntun tanganku)
di dalan na sai maol i.  (Di jalan yang sulit itu)
Di parungkilon hasusahan,  (Sekalipun dirundung kesusahan)
Tung Jesus haporusan ki.   (Cuma Yesus harapanku)
Nang pe di dalan lao tu surgo,  (Dalam perjalanan mencari surga)
Diiring Jesus ahu disi.  (Tuhan selalu bersamaku)

*alih bahasa ala Lintasophia

 *****

Hari Minggu kemarin pas aku minta ijin lagu ini dipakai pas sungkeman, ibuku langsung nangis.   Beliau terharu banget.  Lalu aku inisiatif menyetel lagu Nang Gumalunsang Angka Laut di youtube.  Lewat Skype, aku dan ibuku nyari bareng.   Suara ibuku timbul tenggelam.  Terpotong antara mengatur nafas, bernyanyi, menangis dan menghafal lirik yang kadang tidak cocok dengan tulisan yang muncul di layar komputerku.  Sangat emosional.  Masih 5 bulan lagi, tapi ibuku udah nangis kayak mau ditinggal jauh.  Apa setiap ibu akan seperti ini jika anaknya menikah?  Aroma nikahannya udah kecium banget.

” Aku masih ga percaya Nita mau nikah.”  Kata ibuku sambil nyanyi dan nangis.  Usahaku meredam tangisnya sia-sia.   Duh,  baru dengerin lewat telfon aja ibuku udah begini, apalagi pas pemberkatan nanti.  Curiganya mah, tissue doang ga akan cukup.  Tampaknya perlu dipertimbangkan untuk menyediakan handuk.  Semoga semua fihak bisa mengendalikan diri pas hari H nanti.

Alasan memilih lagu ini :

Dari sekian banyak lagu rohani, dari dulu aku suka lagu ini terutama kalau beban lagi berat-beratnya.  Lagu ini menggunakan banyak sekali bahasa personifikasi alias ungkapan-ungkapan.  Bercerita tentang sebuah sampan, dalam hal ini tentu saja bisa diartikan sebagai pribadi, pasangan bahkan rumah tangga.

Walau angin besar dan badai menghadang hampir membuat kapalku karam.  Berkat Tuhan Yesus sampanku bisa bertahan dan melaju kencang.    Intinya seperti itu.  *alih bahasa ala Lintasophia.

Sampai hari ini, aku dan Mas Ipung adalah pasangan berbeda keyakinan.   Officially Mas Ipung belum dibaptis.  Berdasarkan jadwal GKJ, rencananya November Mas Ipung baru dibaptis.  

Aku ga tahu kapan persisnya Mas Ipung mulai ke gereja,  sebab semua proses ia jalankan secara diam-diam.  Mungkin sekitar tahun 2008.  Lalu, kenapa ga dari dulu dibaptis?  Kalau ini sebagian besar adalah karena keras kepalaku.  Bagaimana bila ga berjodoh?  Mungkin aku akan merasa bersalah… Pokoknya, sejuta ada sejuta bagaimana…bagaimana kalau…

Kalo inget bandelnya aku selalu menahan Mas Ipung untuk baptisan, rasanya emosi jiwa.  Padahal selama bertahun-tahun, Mas Ipung rutin kebaktian, persekutuan dengan adik-adik Papua.  Bahkan, di rumah juga suka ada persekutuan doa oleh tetangga seiman atau GKJ deket rumah.  *siram kepala pakai air es.

Ibuku memuji bahwa memakai lagu ini pas pemberkatan nanti sebagai pilihan tepat.   Dalam lagu ini ada doa setiap orang tua yang akan melepas anaknya memasuki biduk rumah tangga.  Kembali ibuku mengeluarkan jurus-jurus bertahan dalam pernikahan Kristen.  Ibarat kata, menikah itu serupa mengayuh sampan di atas lautan.  Angin dan gelombang bisa datang kapan saja berusaha mengkaramkan sampanmu.  

”Tetap pegangan, saling berpegangan…”  Seru ibuku.  

”Ok, mom.”

”Walau banyak badai, akhirnya menikah juga.”  Sambung ibuku lagi, mengingat belakangan ini banyak banget cobaan menghampiriku.

”Iya, menikah dalam badai.”  Kataku…

Salam,

Lintasophia