Menangkap Peluang

Beberapa hari yang lalu, saat aku menjaga stand di sebuah fiera, aku mendapat  pelajaran yang kemudian menjadi bahan tulisan kali ini.  Sore itu, cuaca sedang tidak jelas.  Sebagai gambaran, meski kalender sudah menunjukan (nyaris) akhir bulan April, dingin dan hujan enggan meninggalkan Genova.  Padahal, sudah sebulan kita menginjak musim semi.  Berdasarkan pengalaman 9 tahun tinggal di sini, biasanya akhir April begini, sudah pantas kita hanya mengenakan sepatu teplek (ballerina) dan sekedar jaket atau blazer tipis saja.  Fenomena alam kali ini berkata lain.  Udara masih dingin walau sesekali matahari muncul.  Anomali alam.  Maka, sudilah kiranya kita menyebut fenomena yang tak biasa ini sebagai pendinginan global. 🙂

Di sekitarku, banyak pedagan asongan, mulai dari magnet (tempelan di kulkas) bertuliskan Genova, kacamata  hitam dengan frame warna warni, balon hingga tas palsu dari merk kenamaan.  Umumnya, pedagang suvenir khas Genova itu berasal dari India atau Bangladesh (penilaian murni berdasarkan ciri fisik dan bahasa yang digunakan mereka yang tampaknya dari kedua negara tersebut).  Kemudian, penjual tas dan payung biasanya orang Marocco dan Senegal.  Sejak kapan spesifikasi ini muncul, aku kurang memperhatikan.  Ada juga pedagang gelang bermaterial stainles steel.  Pada gelang ini, kita bisa minta diukirkan nama atau kata sesuai keinginan.  Umumnya, pedagang gelan porta fortuna (pembawa keberuntungan) ini berasal dari negeri China.

Sekedar informasi, pedagang asongan ini masuk kategori ilegal dan sering ditertibkan pihak keamanan.  Karena itu, kalau ada pedagang yang terbirit-birit, bisa dipastikan bahwa sedang ada penertiban.  Soal sanksi yang dikenakan, aku tidak faham.  Sejauh yang pernah aku lihat, pedagang yang tertangkap biasanya diperiksa dokumennya oleh petugas.  Baru sampai proses itu yang aku pernah lihat.

Nah, siang itu cuaca lumayan cerah setelah hujan mengguyur Genova sejak semalam.  Udara belumlah terasa hangat meski matahari sudah unjuk diri.  Sekarang, sudah tidak bisa langsung bertepuk tangan saat ada mentari, karena bisa saja beberapa saat kemudian hujan turun sangat deras.  Bila berada di luar ruangan, harus rajin bawa payung dan memandang langit.

Sedang asyik memandang sekeliling, ada seorang Senegal berlari dengan sangat kencang dari kejauhan.  Titik tolak ia berlari, persis dari sebuah trotoar  di depan Acquario di Genova.  Lokasi dimana para pedagang asongan menggelar jualannya.  ”Wah, ada penertiban nih.”  Fikirku.  Pria itu berlari sambil membawa jualannya berupa lempengan karton yang digantungi aneka kacamata hitam dengan frame warna-warni.  Ternyata ia cuma berlari sendiri.  Pedagang asongan yang lain tetap tenang-tenang saja.  Dalam sekejap, ia menerobos sebuah stand (milik orang Afrika).  Tidak lama kemudian ia keluar dari stand dengan membawa beberapa payung panjang dan pendek (lipat).  Secara tidak sadar, aku langsung menengadah.  Ternyata hujan turun lagi. Aku tidak menyadarinya karena terlalu asyik memandangi para pedagang di sekelilingku.

*****

Menurut temanku, peluang terasa indah bila sudah disikat oleh orang lain dan memang benar adanya.  Perasaan yang sama juga sering terjadi padaku.  Efeknya,  muncul sedikit penyesalan kenapa tangan tidak tangkas menangkap peluang yang ada. Atau, menyesal karena terlalu banyak pertimbangan yang membuat kita malah abai terhadap peluang yang sudah menanti sentuhan tangan.   Mengapa biasanya menyesal saat peluang hilang?  Ya, karena sesuai karakteristiknya, peluang muncul hanya sesekali, itu pun kedatangannya nyaris tak dapat diramal.  Hanya mereka yang siap mampu menangkap dan memanfaatkan peluang.   Jangan berkceil hati dulu,   para pakar juga berpendapat bahwa peluang dapat diciptakan.

Menciptakan peluang? Hmmmm…  Bagaimana caranya?  Adakah sekolah yang mengajarkan cara menciptakan peluang?  Menurutku sih, ada benarnya bahwa peluang dapat diciptakan.  Mereka yang biasa berlatih dan memiliki kepekaan tingga yang mampu menciptakan peluang.   Seperti pemuda Senegal penjual kacamata sekaligus payung yang kuceritakan di atas.   Saat mentari terik, ia berjualan kacamata sedangkan saat hujan maka payunglah yang ia tawarkan.  

Aku tidak hanya mengagumi ketangkasan kakinya saat berlari (mungkin karena terbiasa berlari cepat saat ada penertiban), namun lebih dari itu.  Aku juga mengagumin kecepatan fikirannya menangkap peluang yang datang.

Selamat melatih otot kaki sambil  mengasah kepekaan.

Salam hangat,

Lintasophia

Iklan