Semoga Tahun Terakhir Pacaran

Yeay….  Judulnya gurih banget!!.  

23 Maret 2013 kemarin, tepat 10 tahun berpacaran antara aku dan Mas Ipung.  Jangan ditanya gimana rasanya pacaran selama itu.  Namun kita menjalaninya dengan santai, saking santainya sampai ga terasa 10 tahun dan jarak jauh pula.  Kalau difikir-fikir, selama 10 tahun pacaran, baru sekali saja  kita merayakan ulang tahunku, ulang tahun Mas Ipung, Natal dan tahun baru  secara bersama-sama.  Sisanya dirayakan di udara (baca : telfon atau SMS).

Jadi, dulu setahun pertama pacaran, aku masih tinggal di Bandung dan Mas Ipung di Jogja.  Sebulan sekali, ia mengunjungiku di Bandung selama 2 atau 3 hari atau aku menyambangi Jogja.  Ah gila, waktu benar-benar ga terasa ya.  Dulu waktu pertama kali ketemu, Mas Ipung rambutnya panjang banget, nyaris sepinggang.  Gayanya rock and roll.  Januari lalu pas ketemu, rambutnya sudah klimis khas gaya kelas pekerja.

Menurutnya, 12 tahun lalu pas kita pertama kali ketemu (belum pacaran), gayaku ancur dan preman banget.  Ini semua orang mengakuinya dan ampe sekarang juga masih ancur sih.  Tapi kemaren pas ketemu, si dia memujiku.  Katanya, walau secara gaya berpakaian masih gitu-gitu  aja (kaos oblong atau kemeja dengan lengan dilinting), sekarang aku lebih rapi dan  lembut cara jalannya.  Thank’s to  God!

*****

”Hei, kapan kalian kawin?”  Tanya seorang sahabat lama kami pas ngumpul-ngumpul suatu malam saat menghabiskan beberapa teguk miras yang sengaja kubawa sebagai buah tangan.

”Belum tahu.”  Jawabku acuh sambil membenahi jaketku untuk mengusir dinginnya malam di seberang Taman Societet Jogja.

”Dulu  (tahun 2011), kalian bilang target untuk  nikah 2 tahun lagi (artinya 2013, saat percakapan ini terjadi).”  Tanya sahabatku lagi.

”Lha, bukannya target memang harus dilewati?”  Jawabanku yang diplomatis tak urung membuat suasana lewat tengah malam layaknya baru lepas maghrib.

”Semprullll….”  Balas temanku.

Obrolan di atas merupakan kondisi umum ketika aku diajak bicara mengenai pernikahanku; acuh, dingin dan ga asyik.  Aku bisa berubah jadi monster menakutkan bila ada pihak yang memaksaku untuk membicarakan hal ini.  Belum pernah dalam sejarah, aku mampu membicarakan atau memikirkan pernikahan selama 1 jam penuh.  Biasanya cuma kalimat ini yang melintas  ”Menikah?  Oh, ntar aja deh.”  Nah, untuk kalimat seperti itu, menurutmu butuh waktu berapa lama untuk melintas di benakku?

Tapiiiii, itu dulu.  Sejak mudik Januari lalu, sudah hampir 2 bulan aku memikirkan  pernikahan ini. Bahkan  setiap hari.  Hebat kan?  Belum pernah aku memikirkan sebuah masalah  seserius ini, bahkan sanggup menguras beberapa kilo berat badanku dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Sekarang, aku lagi menahan berat badanku agar tidak terjun bebas.  Bila Tuhan berkehendak, mungkin sekitar Januari atau Februari 2014 kita bakal menikah, masih 10 bulan lagi.  Aku ga mau menikah dengan kondisi tubuh kering kerontang, rambut kusam karena kurang gizi.

10 tahun pacaran dan aku masih menolak untuk memikirkan untuk menikah.  Hingga 2 bulan lalu, beberapa hari menjelang pulang kembali ke sini, fikiranku berubah.  Ceritanya, setelah melihat ibu dan bapak yang semakin tua, juga permintaan anak-anak (keponakan) yang membuatku akhirnya melunak.  Kebetulan, aku (bersama kakak dan adik)  diberkahi untuk menanggung  kebutuhan para keponakanku yang saat ini tinggal bersama bapak dan ibu.

Orang tuaku sudah tidak muda lagi dan sering sakit-sakitan.   Mereka kewalahan mengurus para keponakanku.  Selain itu, para keponakanku juga sudah menagih aku untuk pulang dan tinggal bersama mereka.  Rencananya, setelah aku dan Mas Ipung menikah, mereka akan ikut kita tinggal di Jogja.  Tak terhitung berapa kali mereka menanyakan tentang ini, biasanya saat aku menemani mereka sarapan.   Dengan alasan takut pertanyaan-pertanyaan keponakan membuatku semakin terbebani, ibu melarang mereka untuk menanyakan hal serupa.  Namun bukan anak-anak namanya kalau tidak kehabisan akal.  Saat tidak ada ibu alias opung mereka,  maka pertanyaan-pertanyaan senada selalu membombardir diriku.  Reaksiku?  Cuma bisa diam.

*****

Demi ibu dan anak-anak juga demi rencana-rencana lain, aku berubah fikiran.  Mas Ipung seneng banget saat aku mengiyakan untuk menikah.  Bapak dan ibu, kakak adik,  para sahabat, sepupu juga ikut berteriak kencang.  Sahabat-sahabatku malah sudah sibuk hunting model dan warna kebaya.  Ada pula yang sudah tidak sabar ingin ke Pasar Baru  untuk lihat-lihat bahan kebaya….halah…  Belum lagi cerita sahabatku yang lainnya, ia mulai menabung untuk menjahit jas dan ongkos ke Bandung.  Sahabatku yang lainnya akan menjaga absen kerjanya sepanjang tahun ini, agar tahun depan bisa datang dan tinggal lebih lama di Bandung.   Ya Tuhan, benar-benar terharu lihat reaksi mereka.  Gila, aku ga pernah memikirkan efek rencana nikahanku akan sedahsyat ini.  Makasih ya, ciiinnn….

Lalu, sudah sampai mana persiapannya?  Bisa dikatakan sudah 1 %.  Iya, benar, sudah  satu persen.  Kita mencoba untuk berfikir positif dan fokus pada rencana akbar ini.  Kendala terbesar adalah dana.  Mungkin karena sedianya aku dan Mas Ipung pengen nikah 2 tahun lagi, bukan tahun ini, jadi kami belum memiliki dananya.  Dulu, kita sudah sempat nabung, namun karena belum ada kejelasan kapan akan menikah, akhirnya dana diputar dan hasilnya kurang sesuai dengan harapan.

Menurut  teman-teman yang sudah menikah, kita cuma perlu berusaha dan ikhtiar.  Niat baik akan dimudahkan oleh si Dia.  Tuhan tidak tidur, kata Mas Ipung menguatkanku.  Aku harap kami bisa melewati rintangan yang bakal datang.  Semoga saja benar bahwa ini tahun terakhir kami pacaran, setelah itu ke pelaminan.  

Mohon doanya ya temans…

Salam hangat,

Lintasophia

Valentine Pertama yang Berantakan

Menyongsong…(halah) Valentine’s Day yang jatuh esok hari, Lintasophia merasa gatel juga untuk mencatat sesuatu yang ringan tentang hari Kasih Sayang ini.  Bukan mengenai sejarah Valentine’s Day karena hal itu sudah banyak tersebar di internet.  Lalu tentang apa dong?  Hihihihihihi, aku mau bercerita tentang Valentine’s Day pertamaku yang berantakan.

Beberapa Hari Menjelang 14 Februari 2004

Jadi ceritanya, setelah menaikan status berteman menjadi teman beneran eh teman spesial dengan Mas Ipung pada tahun 2003 lalu (yup, bulan depan genap 9 tahun nih kita pacaran.  Cihui banget ga sih?), udah sah dong ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day.  Kebetulan pula, butuh 1 tahun sejak resmi berpacaran untuk bisa merasakan gegap gempita hari Kasih Sayang yang jatuh setiap bulan Februari.  Kita jadian bulan Maret 2003, so baru Februari 2004 bertemu Valentine’s Day sebagai sepasang kekasih…cieeeee…  

Kenapa ya, mereka yang pacaran mendadak menganggap Valentine’s Day itu  penting?  Sama seperti aku yang awalnya tidak peduli mendadak cepat  dan tanggap melihat hal-hal yang berhubungan dengan hari Kasih Sayang ini.

Sejak tahun 2000, aku sering mondar mandir Bandung-Yogyakarta. Sedangkan  pada tahun 2003 dan awal 2004 aku lebih banyak tinggal di Jogja, ngekost di belakang Ambarukmo Hotel.  Kost khusus puteri.  Sedangkan Mas Ipung stay di kost khusus putera di daerah Jalan Pakel.  Letak kost-an kita memang lumayan jauh dan kita berdua sama-sama sibuk.  Kebanyakan bertemu cuma akhir pekan saja.  Biasanya aku yang ke kost-an Mas Ipung.  Sebab di kost-anku, tamu pria hanya sampai teras saja.  Bayangkan, teras yang kecil itu harus dibagi-bagi dengan tamu penghuni kost-an lainnya.

Valentine’s Day tahun 2004 kalau tidak salah jatuh pada hari Sabtu, sempurna sebagai wakuncar.  Sudah beberapa hari kita tidak bertemu.  Aku sibuk dan Mas Ipung juga tidak mau kalah sibuk bisnis parcel  Valentine.  Bersama teman-teman sekostan, mereka membuat paket-paket Valentine yang terbuat dari kertas recycle, bunga, coklat dan boneka tentunya.

Keranjang-keranjang parcel semua dibuat secara manual, rame-rame dengan menggunakan azas gotong royong.  Kadang kalau aku mampir, aku dan Mas Ipung cuma bertukar khabar sebentar, sebelum ia kembali larut dan tenggelam dengan parcel-parce mini.  Aku pun tidak protes.   Cuma setahun sekali, fikirku.

14 Februari 2004

Siang menjelang sore aku tiba di kostan Mas Ipung.  Di teras,  teman-teman kostan Mas Ipung yang sudah kukenal baik sedang pada ngumpul.  Ada teh dan kopi menemani kelakar mereka sore itu.  Kedatanganku disambut siulan dan godaan yang saling bersahutan sama lain.  Aku tidak melihat kehadiran Mas Ipung di situ.

”Cieeeeee….yang mau dapat coklat.”  Sambut mereka melihat kehadiranku.

”Asyik, bakal dapet coklat nih.”  Fikirku dalam hati.  Tidak urung, perasaan senang sempat terpantik di hati.   Aku melambaikan tangan membalas sapaan mereka.

”Jangan lupa bagi-bagi ya coklatnya.”  Sahut yang lain…  Aku tertawa riang sambil menanyakan keberadaan Mas Ipung.  Salah satu teman mengibaskan tangannya.  Sebuah kode yang menunjukan bahwa Mas Ipung ada di kamarnya.  Sementara yang lain  menjelaskan bahwa mereka begadang dan tidak tidur demi menyelesaikan pesanan parcel.  Aku mengangguk-angguk faham.  Aku ikut senang karena ternyata parcel mereka cukup diminati.

”Buruan gih, keburu bunganya kering.”  Teman yang lain menimpali.  Wajahku merona.

Pintu kamar Mas Ipung tertutup rapat, lampu padam.  Artinya tidak boleh diganggu.  Pelan-pelan kudorong pintu dan menyalakan lampu.  Mas Ipung tidak terganggu sama sekali.   Wajahnya terlihat lelah dan aku membiarkannya istirahat dulu.

Menjelang sore, aku membangunkan Mas Ipung karena sudah mendekati waktuku untuk pulang ke kostan.  Mas Ipung bangun dengan sikap malas-malasan sambil mengucek matanya yang silau oleh cahaya lampu.  Sejurus kemudian ia kembali jatuh tertidur.  Kamar kembali sepi.  

Fikiranku melayang-melayang dan sedikit terusik dengan godaan teman-teman tadi sore.  Benarkah Mas Ipung bakal memberiku bunga dan coklat?  Walau sedikit ragu tapi aku cukup senang membayangkan bila itu terjadi.  Kadang fikiran seperti itu muncul menjelang Valentine’s Day tapi segera kutepis.  Mas Ipung bukan pria romantis.  Bunga, coklat dan Valentine’s Day adalah hal-hal tidak penting untuknya.  Lalu, bagaimana dengan becandaan teman-teman tadi?  Apakah karena tahun ini Mas Ipung bisnis parcel Valentine sehingga ia sengaja menyisihkan sepotong coklat dan bunga dari jualannya untukku?  Ah so sweet… Wajahku kembali terasa hangat.  Senang!

Waktu beranjak senja.  Aku tidak bisa berlama-lama.  Kembali kubangunkan Mas Ipung dan kali ini berhasil.  Sambil berbincang-bincang tentang parcel Valentine yang laku keras, dalam hati aku menunggu momen si dia membuat kejutan.  Misalnya nih, nyuruh aku nutup mata dan kemudian tiba-tiba di depanku telah ada sepotong coklat dan bunga mawar.  Tapi, tunggu punya tunggu, kok Mas Ipung tidak menunjukan gelagat seperti itu ya?  Ia masih saja asyik-asyik rebahan di kasur.

Eh, jangan-jangan Mas Ipung bakal memberikan coklat dan bunga saat candle light dinner nanti malam?  Tapi dari penampilannya yang berantakan sampai menjelang maghrib begini, kecil hal itu terjadi.  Aku menghela nafas dalam-dalam.  Menunggu kejutan ternyata ga asyik juga.  Mau nodong minta coklat, rasanya gengsi juga.  Sekiranya  tidak ada yang spesial hari ini, mending aku pulang saja.  Sambil menunggu, aku melirik jam weker yang berada tepat di dekat kepala Mas Ipung…tik..tok…tik….tok…

”Mana coklat untukku?”  Todongku dengan nada seakan menyerah pada sebuah penantian yang panjang.

”Coklat apa?”  Tanya dia sambil menarik bantal, membenahi letak badannya biar lebih enak tidur.  : (

”Ya, coklat Valentine.”  Jawabku sambil menatap lantai.  Kesalahan terbesar baru saja kulakukan, batinku  mengutuki diri sendiri.  Dari awal aku tidak mau membicarakannya duluan,  namun  kesepakatan dengan hati ini  kecil kulanggar juga.   Dalam benakku, aku dapat melihat tanganku  memukul-mukul kepalaku karena kebodohan ini.  

”Kamu  kayak perempuan lain deh  yang ikut-ikutan Valentine.”  Sahutnya dingin masih dengan mata tertutup.  Mas Ipung ini, sudah tidak  romantis, sadis pula… Huwaaaaa….tuh kan, apa kubilang?  Perihal coklat, bunga dan Valentine ga ada dalam kamus si dia.  Nyesel banget udah melontarkan pertanyaan bodoh itu.  Nyesel…nyesel…nyesel….  Aku kan perempuan mandiri.  Jangankan sepotong coklat, satu box pun aku sanggup beli.  Tapi kan, mendapat coklat dari kekasih hati pas Valentine’s Day pasti beda rasanya, pembenaranku dalam hati.

”Aku kan pengen seperti perempuan lain, dapet bunga dan coklat pas Valentine.”  Jawabku terpekur.  Aduuuuhhh, jawabanku benar-benar kekanak-kanakan.  Sambil memicingkan mata, siap-siap mendengar jawaban sinis selanjutnya.

”Kamu jangan kayak perempuan lain dong yang pengen coklat pas Valentine. ”  Weks, si dia mampu  membaca fikiranku.

”Kalo pengen coklat, ga harus Valentine kan?  Punya prinsip dong.”  Tuntas Mas Ipung.  Kalau tidak gengsi, rasanya pengen nangis.  Coklat dan bunga ga dapet,eh yang ada  malah  kuliah 7 menit.  Apes bangetttt….

”Aku mau pulang.”  Jawabku sambil berdiri.  Mas Ipung kaget sampai berhasil membuatnya bangun dari kasur.

”Jam segini?  Bus sudah habis.”  Jawabnya.  Di Jogjakarta, bus kota  beroperasi cuma sampai sekitar pukul 17.00 atau magrib.

”Biarin.  Aku bisa jalan kaki.”  Aku pura-pura membalikan badan.  Diluar, hujan mulai turun.  Kalau kepepet, aku naik taxi biar ga keujanan.

”Oh ya udah, nanti aku anter.”  Mas Ipung menawarkan diri  untuk mengantarku pulang.  Antara gondok, gengsi dan takut membayangkan pulang jalan kaki (lumayan jauh), aku tidak menjawab tawarannya.  Bukan itu yang kumau.    Dalam hati, aku pengen Mas Ipung menahan tanganku  untuk tidak pulang.  Mungkin setelah sedikit tawar menawar, ia  mengajak makan malem bersama.  Oke, lupakan bahwa hari ini Valentine’s Day, tapi ini kan malam minggu.  Waktunya pacaran dan bersenang-senang.

Tapi belum selesai hal itu aku fikirkan, Mas Ipung sudah menghilang dari hadapanku.  Ia berlari-lari kecil menuju kamar mandi untuk  mencuci muka.  Aku mematung dengan bahu menempel pada pintu.   Kepalaku tertunduk memandangi ujung tali tas yang terjatuh gontai.

”Ternyata, motor sedang dipake semua.  Ta’ anter pake sepeda yo?”  Tanyanya sambil mengelap wajah dengan handuk kecil.  Udah ga penting naik apa, yang penting pulang ke kostan dan bisa menumpahkan kemarahan di sana.  

Saat meninggalkan kostan Mas Ipung, kumpulan teman-teman yang tadi menggodaku sudah tak tampak lagi.  Mungkin karena magrib sehingga mereka membubarkan diri.  Entahlah apa komentar mereka jika melihat raut wajahku sore ini.

Cerita apesnya my first Valentine’s Day tidak berhenti di situ saja.  Tepat di seberang jalan, dekat Warung Padang langganan, kami menemukan bahwa sepeda yang baru kami pakai beberapa meter ternyata bannya kempes.  Mungkin sepeda tua itu tak  sanggup menahan beban tubuh kami berdua.  Aduuuuhhh, mana hujan mulai lebat.  Aku menolak tawaran Mas Ipung untuk berteduh dulu.  Gengsi…  

Aku, Mas Ipung dan sepeda kempes berjalan bersisian.  Mas Ipung diam karena masih terkantuk-kantuk sedangkan aku menahan amuk.  Entahlah apa fikiran sepeda waktu itu.  Mungkin sepeda cuma merasa bosan dan kesepian melihat kami berdua terdiam.  😦

15 Februari 2004

Tampaknya, setelah istirahat yang cukup, Mas Ipung baru menyadari bahwa selama perjalanan pulang kemarin, aku lebih banyak diam.  Keesokan harinya ia mengajakku ketemu namun awalnya kutolak.  Ia minta maaf untuk kejadian yang kemarin dan minta pengertianku tentang prinsip hidupnya.  

Agar masalah tidak semakin rumit, menjelang tengah hari kami bertemu.  Sebagai permintaan maafnya, ia mengajakku ke pantai Parangtritis.  Not bad.  Sebelum berangkat, ia mengajakku mampir ke supermarket untuk beli minuman dan cemilan di perjalanan.  Di atas bus yang menuju pantai Parangtritis, ia menyodorkan sepotong coklat sambil minta maaf.  Memang sih ini bukan adegan  Valentine seperti yang ada di film-film.   Adegan yang baru saja terjadi jauh dari kesan romantis moment Vanlentine’s Day… 

Pada akhirnya, peristiwa Valentine tahun 2004 jadi kenangan tidak indah sekaligus lucu untuk kami berdua.  Sampai saat ini, Valentine 2004 menjadi satu-satunya Valentine’s Day saat kami berdekatan.  Sisanya, 8 kali Valentine’s Days (sejak 2005-2012) selalu kami lalui dengan kondisi berjauhan.

Happy Valentine’s Day untuk kalian yang merayakannya.

Salam penuh cinta,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Cinta Tak Pernah Salah, Sayang….

Pembuka

Kemarin malam, gara-gara liat Joni (kakakku) lagi nyanyi-nyanyi lagu  milik Christine Panjaitan di Youtube, obrolan kami menyerempet masalah cinta.  Cinta mati, cinta sejati.

“Ternyata Christine dulu pernah jadian ama si A dan si B ya waktu mereka muda dulu.”  Kataku sambil menyebutkan nama sejumlah musisi tanah air.  Teh Maya yang sedari tadi asyik menertawakan gaya Joni, matanya terbelalak.

“Oh ya?”  Tanya Teh Maya tidak percaya.

“Yup.  Aku  nemu beritanya karena suatu hari ada rame-rame  karena tulisan isteri si A (mantan pacar Christine).  Akhirnya ga sengaja deh nemu cerita cinta Christine dengan si A.”  Jelasku.

‘Oh gituuu….”  Teh Maya manggut-manggut.  Sesekali Joni menambahkan informasi yang dia punya.

” Nah, masih menurut Mr. Google,  si A itu cinta matinya Christine, padahal masing-masing dari mereka telah menikah dengan orang lain dan punya anak.  Walahualam…”   Begitulah obrolan kemarin terpaksa terhenti karena kami harus keluar rumah.  Cinta sejati tidak mengenal usia, batinku dalam hati.

*****

Cinta Mati, Cinta Sejati

Obrolan kemarin malam masih membekas di benakku.  Benarkah ada cinta sejati?   Lalu, apa bedanya cinta sejati dan cinta mati?  Benarkah cinta sejati itu hanya ditujukan pada satu orang dan bersyarat tetap, yakni seumur hidup?  Bagaimana dengan orang yang rela mengorbankan segalanya demi orang yang dicintainya.  Apakah harus mati terlebih dahulu agar mendapat cap cinta sejati?  Bukankah cinta mati  itu adalah esensi sebuah cinta?  Kesimpulannya, cinta mati itu adalah benar-benar cinta sejati.

Berhubung aku tidak ahli dalam masalah percintaan, aku mengajak teman-temanku untuk menjernihkan dan mengelompokan makhluk gaib yang bernama cinta ini.  Dengan memakai perumpamaan Christine Panjaitan dan si A, juga kisah percintaan Angelina (sahabat baikku di sini) yang masih mencintai pria yang telah menduakan eh mentigakannya (karena sekarang pria yang dicintainya telah punya 2 anak),  maka menurut temanku, itu kategori cinta sejati yang mampu melanggar aturan hingga salah waktu dan tempat.  Kita mengenalnya dengan istilah cinta yang salah.  Bisa jadi cinta yang salah orang, salah tempat dan salah waktu.  Kebanyakan sih cinta salah orang di saat yang tidak tepat, yakni mencintai orang yang sudah tidak single lagi. *smile.

“Aduh, kasihan amat si cinta.  Dosa apa ya si cinta sehingga disalahkan melulu?”  Balasku menanggapi pendapat temanku.

“Maksudnya cinta yang salah itu adalah cinta yang diarahkan pada suami atau isteri orang.”  Temanku memberi penjelasan singkat.

“Kalau apa yang dialami Christine dan Angelina adalah cinta sejati, berarti cinta sejati tidak harus berpasangan ya?”  Tanyaku lagi.  Temanku mengiyakan.

“Tidak harus berjodoh?”  Tandasku lagi.  Temanku menyetujuinya.

Ingatanku melayang kembali pada Angelina, suatu pagi beberapa hari yang lalu.  Aku menyarankannya untuk membuka diri pada pria lain.  Entah ini saran ke berapa kali yang kuutarakan padanya.  Menurut pengakuannya, ia sudah mencoba tapi tidak mudah.  Setiap mencoba, ia kembali gagal.  Setiap kegagalan mengakibatkan bayangan mantan semakin kuat.  Aku sendiri kehabisan ide bagaimana agar Angelina mampu  menghalau bayang-bayang mantan kekasih.

Kisah Angelina mungkin sering kita temui.  Hidup dalam bayang-bayang mantan pujaan hati.  Jadi teringat seorang teman, yang wajah pujaan hati kerap mengganggu tidurnya meski ia tidak pernah memikirkan sebelumnya. Padahal ia sudah punya pasangan hidup, artinya ia sudah membuka diri terhadap pria lain.  Tapi alam bawah sadarnya masih memiliki hubungan yang kuat dengan mantan pujaan hati.  Meski ia berusaha sekuat tenaga untuk menghilangkan jejak kenangan, tampaknya perasaan itu tidak pernah benar-benar hilang.  Ia cuma mengendap di sudut hati.

Suatu pagi,  bayangannya datang begitu saja, pada saat ia diam.   Sama seperti di malam hari, wajahnya hadir dalam mimpi-mimpi tidurnya.  Pagi datang. Ia kecewa menemukan bahwa pria yang terlelap di sampingnya bukanlah pria yang ia mimpikan semalam.  Kecewa dengan aroma yang sama kembali menyengatnya.  Ia pernah merasakan ini sebelumnya,  bertahun-tahun yang lalu.  Cinta sejati yang salahkah?

Lama-lama  kalau diibaratkan, si cinta ini malah mirip jalangkung.  Datang tak diundang, pulang tak diantar.  Sifatnya mirip dengan bayangan, ketika kita  diam maka ia sangat dekat.  Ketika dikejar, ia malah menjauh.  Begitulah,karena sudah komitmen akan  setia pada pasangan, sang teman hanya berani memandangi dan membayangkan pujaan hati dari jauh.  Kasihan amat.   Paling banter kirim doa. :).  Mungkin benar kata orang, cinta sejati tidak akan pernah selesai.  Sampai mati.

*****

Manajemen Cinta

Apa sih cinta itu?  Selain rasa suka, mengapa begitu banyak penderitaan yang diakibatkan oleh cinta?   Seperti yang aku pernah tulis di catatan lainnya, bahwa cinta itu merepotkan.  Ia bisa mengubah kaki menjadi kepala dan kepala menjadi kaki.  Benar-benar tidak masuk akal.

Berhubung di sini tidak ada Kamus Besar Bahasa Indonesia, aku meluncur menuju Wikipedia.  Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut  (sumber : Wikipedia).

Menilik arti harfiah cinta menurut Wikipedia, aku lebih sepakat bila memakai tinjauan filosofis.  Sisanya lebih kepada hubungan sebab dan akibat (baca : komitmen).  Ada perasaan empati, kasih sayang dan mau melakukan apapun yang diinginkan oleh objek tersebut.  Hmmm, menarik!  Ini alasan mengapa ada orang yang awalnya malas mandi mendadak rajin mandi saat ia jatuh cinta.  *smile.

“What should I do?”  Tanya Angelina saat aku mengantarnya membeli kado untuk anak mantan pacarnya.

”Gimana mau terbebas dari bayangan masa silam kalau tiap ulang tahun si dia dan anaknya kau masih fikirin juga?”  Tanyaku.

“Aku terjebak cinta yang salah ya?”  Tanyanya lagi.

“Cinta tidak pernah salah….”.  Jawabku. Ia terdiam.

“Mending mana, dicintai atau mencintai?”  Tanyanya lagi sambil memilah-milah gaun anak bermotif kotak-kotak.  Secara jujur aku mengakui bahwa itu hal sulit.  Dikasih pertanyaan begini saja aku bingung menjawabnya, apalagi kudu memilih.  Pertanyaan itu Angelina ajukan karena sebetulnya selama ini ada beberapa pria yang (tampaknya) tulus mencintainya.

” Dalam cinta harus ada rasa ikhlas.  Kalau masih merasa terpaksa ya jangan mencintai.”  Saranku asal karena aku sendiri tidak tahu mana pilihan terbaik.

” Jadi apa yang harus kulakukan agar keluar dari cinta yang salah ini?”  Tanya Angelina sambil memandangi tas belanjaan berisi gaun dan jaket anak yang lucu-lucu.

” Cinta tidak pernah salah, sayang….”  Tekanku lagi.  Jalan terbaik yang dapat dilakukan bila terjebak dalam ‘cinta yang salah’ adalah dengan memenej (mengelola)  cinta itu sendiri.  Bukankah begitu, teman?

“Kalau si dia adalah kebahagiaanmu, suka citamu, maka lepaskanlah ia.  Biarkan ia bahagia dengan jalan yang telah ia pilih.  Terima keadaan dengan rasa iklhas.  Jangan buang waktumu dengan mencintai orang yang tidak mungkin kau capai.  Lupakan dia yang cuma bisa kau cumbu dalam angan-angan.”  Angelina terdiam memandangi ujung sepatunya mendengar saranku.  Rasanya tidak tega juga.

” Jangan bersedih. Meski cinta itu kerap pahit dan menyakitkan, namun mencintai itu tidak pula dosa.  Buka hatimu untuk yang lain.  Pegang erat-erat cintamu dan bidikkan pada orang yang tepat dan…..”  Angelina mengangguk.

“Dan apa lagi?”  Tanya Angelina tidak sabar.

“Dan pastikan masih single…”  Tambahku lagi.  Ia tertawa.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video milik Youtube