Abah dan Emak, don’t worry. Kami Bahagia.

Barusan liat foto-foto pertemuan kembali seorang sahabat istrinya yang tengah menempuh pendidikan di LN.  Umumnya istri yang nyusul suami ke LN, ini malah kebalikannya.  Sahabatku dan 2 anaknya yang menyusul istrinya ke LN.  Selamat ya, bang.  Ikut seneng untuk kalian.  Terharu liat foto-foto pertemuan kalian di bandara.

Teringat pertanyaan beberapa sahabat dan juga ibuku, tentang gimana rasanya tinggal berjauhan dengan suami untuk waktu yang belum pasti tahu sampai kapan.  Terutama untuk ibuku yang selalu kujawab bahwa aku dan Mas Ipung bahagia walau (mungkin) tak sempurna.  Ini bukan jawaban mengada-ada agar ibu tidak cemas memikirkan masalah kami tinggal berjauhan. Ini perasaan kami  sebenarnya yang mencoba mensyukuri apa pun kondisi saat ini.  Bukan rekayasa.

Beberapa hari lalu dengan Uni, Uning dan Henski kita ngobrol di WA.  Mereka adalah sahabat karib semasa kuliah dulu.  Biasanya kita sharing  bertukar resep masakan hingga kekonyolan dan kelucuan suami masing-masing, pokoknya obrolan-obrolan ajaib ala emak-emak.   Sebagai orang yang terakhir menikah diantara para sahabat karib, tentu aku masih harus belajar lebih banyak dari mereka.

Henskih cerita tentang pernikahannya yang bahagia.  Suaminya meski tidak romantis namun selalu ada saat dibutuhkan.  Ia juga suami yang asyik sekalipun sering ditinggal keluar kota karena urusan pekerjaan.  Begitu juga Uni yang belakangan ini menggeluti baking dan jogging.  Bentuk dukungan suami tidak semata membelikan peralatan masak memasak, juga bekerja sama  menjaga anaknya saat Uni harus jogging di pagi hari.   Seorang isteri tidak semata dicukupkan lewat materi.  Ada unsur lain, misalnya support suami untuk kemajuan isteri.

Mendengar kebahagiaan sahabat karibku, tentu saja aku ikut senang.  Mungkin sama seperti yang dirasakan ibuku di seberang sana saat aku bilang bahwa aku dan Mas Ipung bahagia.  Dimana-mana, seorang ibu pasti menginginkan anaknya (terutama anak perempuannya) hidup bahagia.  Tidak hanya menghibur aku, rupanya ibuku juga sering berkomunikasi via telfon dengan Mas Ipung.  Biasanya ibu menghibur Mas Ipung agar sabar karena selalu kutinggal merantau.

JON_0378Beberapa hari setelah menikah, ada pertanyaan yang mengusik benakku mengenai perpindahan keyakinan yang dilakukan oleh Mas Ipung sekalipun akhirnya dikucilkan keluarga besarnya.  Rupanya pertanyaan yang sama juga muncul dari beberapa teman kami.  Jawab Mas Ipung : ”Karena ia (aku) memang pantas dibela.”

Pujian demi pujian dilontarkan Mas Ipung yang membuatku jumawa saat mendengarnya.  Baginya, aku serupa gift from heaven.  Tapi itu dulu.  Nyatanya, bila di-flash back, justru Mas Ipung adalah gift  untukku.  Ia adalah keajaiban itu sendiri.  Bagaimana ia mampu bertahan menunggu dan mendampingiku hingga belasan tahun lamanya.  Padahal kalau mau, ia bisa dengan mudah mencari penggantiku.

Dulu aku meminta pada Tuhan agar diberi pendamping yang lembut hatinya.  Seorang  pria yang hormat pada perempuan yang melahirkannya, ibuku dan aku sendiri sebagai calon ibu dari anak-anaknya.  Mas Ipung adalah doa-doa yang mengejewantah.    Hatinya sangat lembut.  Belasan tahun bersama, aku belum pernah dengar ia marah atau tinggi nada suaranya.  Tidak padaku, tidak juga pada yang lain.  Ia pun memperlakukanku dengan sangat hormat baik di depan umum maupun saat berdua.  Pun sayangnya pada orang tuaku sama seperti pada orang tuanya.

Beberapa hari setelah menikah, kita silaturahmi ke beberapa teman lama.  Mereka memuji kita sebagai pasangan yang humoris, lucu dan kompak.  Ya, kita memang udah komitmen untuk tidak menunjukan kemarahan di depan orang lain.  Urusan domestik ada di balik pintu kamar.  Bisa jadi aku lagi ngambek, tapi pas ada tetangga atau teman berkunjung, kita biasa lagi.  Tinggalkan amarah di parkiran.  Itu kita lakukan kalo aku lagi ngambek dalam perjalanan.

Setelah menikah, ia punya kebiasaan lain untuk meredakan ngambekku.  Kalo sampe sore aku masih ngambek, ia akan menunjuk-nunjuk arlojinya.  Ini berkaitan dengan nasihat perkawinan bu pendeta yang menyatakan bahwa amarah harus sudah reda sebelum matahari terbenam.  Wah, repot kalo ngambeknya siang menjelang sore.  Urusan belum beres, harus udah harus maaf-maafan.  Rasanya rugi kalo ngambeknya siang-siang, mending dari pagi sekalian… 😉 😉

Berbicara tentang suppor, maka supporter terbesarku adalah Mas Ipung, yang bertahan tetap di sampingku saat keadaan sedang susah-susahnya.   Dukungannya selalu melimpah ruah.  Aku boleh  melakukan apa aja selama itu baik dan bikin aku senang.  Cuma itu saja syaratnya.  Tanpa dukungannya, pasti aku ga akan pernah seperti sekarang ini.

Diantara kebaikannya, sikap ikhlasnya menerima para keponakanku menjadi pertimbangan lain yakin memilih Mas Ipung.  Hal yang tidak kudapatkan dari pria-pria lain (sebelum menikah, masih ada beberapa pria yang mendekatiku).  Umumnya, mereka angkat tangan kalau kelak para keponakan ikut aku.  Katanya, mendekati aku serasa mendekati janda beranak 3.  Banyak banget anaknya!  Begitulah, kedekatan dan rasa nyaman para keponakanku bersama Mas Ipung  jadi petunjuk sendiri bahwa ia adalah pria yang tepat.

Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna, demikian aku dan Mas Ipung.  Dengan keterbatasannya sebagai manusia, Mas Ipung selalu berusaha membuat aku merasa istimewa.   Kebaikan-kebaikannya menutupi kesalku saat ia (nyaris) selalu lupa ulang tahunku.  Tampaknya kondisi dan situasi yang mematangkan aku dengan Mas Ipung.  Menjalani masa pacaran dan nikah dengan cara tidak lazim (berjauhan) membuat kita berusaha memandang setiap masalah dengan cara berbeda.  Jalan yang kita tempuh juga tidak mudah,  namun rupanya ini menjadi arena sekuat apa kita saling mendukung satu sama lain.

Sebagai pasangan yang baru menikah kemarin sore, kita masih harus belajar lebih banyak lagi. Pastinya bakal nemu banyak masalah lagi.  Semoga bisa tetep solid setiap bertemu masalah.  Mungkin kita tidak punya banyak foto saat berdua.  Tapi kita bisa mencatatnya.  Hingga suatu hari nanti, anak-anak bisa membaca bahwa ayah dan ibunya bahagia.  Demikian juga untuk abah dan emak, jangan terlalu banyak fikiran.  Don’t worry, kami bahagia kok.

Salam sayang,

 

Lintasophia

Iklan

Tahun Ajaran Baru. Orang Tua : ”Aint’ Goin’ Down”

Sepotong bbm-an antara aku dan Tony (keponakan) yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional Sekolah Dasar.   Sebelumnya, Tony sudah melaporkan kebutuhan biaya pas masuk SMP nanti.

Tony : ”Tante pusing ya karena mikirin kami?.”

Aku  : ”Ga, tante ga pusing… Tante bakal pusing kalau kalian nakal.”

Saat ini, Tony lagi menimbang-nimbang SMP yang akan dipilihnya.   Faktor kualitas sekolah, biaya dan lokasi menjadi pertimbangan utama kami dalam memilih sekolah.  Secara umum, masalah biaya menjadi kajian paling mendalam. 😉    Maklum, salah mengambil keputusan, akan berpengaruh pada si anak dan (keuangan) keluarga.

Setiap tahun ajaran baru tiba,  pengeluaran selama beberapa bulan ke depan membengkak.  Misalnya, menjelang pembagian raport, umumnya SPP didobel (dimajukan pembayarannya).  Seperti bulan ini, kiriman harus ditambah untuk SPP bulan Juni.  Sedangkan bulan depan,kiriman harus ditambah untuk  pembayaran SPP bulan Juli.

*****

Beberapa bulan ke depan (paling tidak sampai Agustus) ”tahun ajaran baru syndrome” akan terasa.  Ini bulan-bulan yang berat bagi keluarga di Indonesia yang mempunyai anak masih sekolah.  Paling tidak, keriuhan tahun ajaran baru sudah aku rasakan beberapa tahun terakhir ini.

Bukan semata masalah uang pangkal (pendaftaran) atau  SPP yang dimajukan pembayarannya, masih ada item lain yang memaksa orang tua merogeh kocek lebih dalam.  Apalagi kalau bukan masalah seragam, buku tulis dan buku cetak hingga penggaris.

Kalau dalam keluarga cuma 1 orang anak usia sekolah, mungkin jeritan beratnya biaya sekolah tidak sampai terdengar.  Namun kondisi berbeda terjadi di keluargaku yang saat ini ada 3 orang anak kakak menjadi tanggung jawab kami.  Ajaibnya, nyaris setiap tahun ada saja yang masuk atau mendaftar ke sekolah dengan jenjang lebih tinggi.  Seperti tahun ini, Tony harus mendaftar SMP setelah tahun lalu Lia lulus TK dan menyusul Tony di SD yang sama.

Sudah sejak lama aku menyiapkan tabel pendidikan untuk Tony, Uih dan Lia.  Tabel ini berisi tahun masuk dan lulus para keponakanku.  Sebetulnya, aku pengen menyertakan tabel pendidikan mereka pada catatan kali ini, namun karena aku membuatnya di agenda, hasil foto pakai handphone malah membuat tabel tersebut kelihatan buram.

Secara garis besar, tabel tersebut seperti ini

Peta Pendidikan

*maaf, tampilan tabel berantakan.  Nanti aku edit lagi.

Dan seterusnya hingga masing-masing anak menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.  Jika tidak ada aral merintang dan semua terjadi seperti tabel yang aku buat, maka bisa ditelusuri (perkiraan) tahun kelulusan dari perguruan tinggi sebagai berikut :

Tony akan lulus kuliah tahun 2023

Uih akan lulus kuliah  tahun 2027

Lia akan lulus  kuliah tahun 2027

Masih butuh sekitar 15 tahun lagi proses mengantarkan Tony dan adik-adiknya menempuh pendidikan.  Semoga Tuhan memberikan kekuatan untukku dan keluarga agar bisa melewati semua ini.  Bagaimanapun juga, pendidikan mereka yang utama.  Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, pun begitu saat anak-anak menjadi tanggung jawabku.  Kadang suntuk sih pas tahun ajaran baru gini, pengeluaran edan gedenya.  Di alam bawah sadarku, udah tertulis : ain’t going down buat anak-anak.

Hidup menjadi lebih berwarna saat banyak hal difikirkan dalam waktu bersamaan. Mulai dari urusan pendidikan anak-anak, pernikahan,  bisnis di Indonesia hingga dana pensiun kelak.  Well, aku belum patah semangat mendeklarasikan akan pensiun dini pada usia 40 tahun.  Pensiun dini tak perlu  diartikan sebagai  ”total tidak bekerja.”

Sejatinya, dalam beberapa tahun ke depan, aku mau  bekerja karena aku pengen bekerja, bukan semata tuntutan materi.  Punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri.  Ini sebagai kompensasi selama ini selalu berjauhan dengan keluarga.  Apakah  mustahil?  Maybe yes maybe not.  Kita lihat saja nanti.  Kebetulan, aku suka memikirkan sesuatu diluar kemampuanku, termasuk perkara pensiun dini yang hitungan waktunya tidak lama lagi.  Waktu yang akan menjawab….kekekekeek…  😉 😉 .

Kamu tahu hal pertama yang jadi perhatian bila kelak aku menikah?  Yup, mengatur kehamilan dan kelahiran anak.  Orang tua bahagia, anak sejahtera. *

Semangat berjuang untuk para orang tua yang sedang menunggu hasil ujian nasional.

Salam hangat,

Lintasophia

Doa Sempurna Seorang Ayah

”Itu laguku waktu SMP.”  teriak adikku saat Sleeping Child-nya Michael Learns To Rock menghentak riang ruang toko tempatku bekerja.

”Oh ya?”  Tanyaku.

”Lagu pas pelajaran bahasa Inggris tepatnya.”  Tambah adikku. ”Dulu, kami wajib hafal lagu ini.  Sekalian belajar grammar.”  Adikku menambahkan sambil menggusur posisiku dari depan komputer.  Secara bersama-sama  kami menyanyikan Sleeping Child yang dipopulerkan oleh Jascha Richter yang berasal dari Denmark.

*****

Sleeping Child sebuah lagu yang hebat.  Bisa dikatakan salah satu lagu favoritku, mungkin juga jadi  lagu favorit untuk generasi usia 30 tahun ke atas, seperti aku dan adikku.  Ketika lagu Sleeping Child booming sekitar tahun 1992 (kalau tidak salah), ada perasaan campur aduk.  Maksudku, senang karena  karena ini sebuah lagu easy listening.  Enak untuk disenandungkan.  Tapi cemburu merupakan  kata yang lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku saat itu.

Secara singkat, dulu setelah aku beranjak remaja, hubunganku dengan bapakku tidak begitu dekat.  Bawaannya berantem melulu.  Sampai sekarang, bapak  mengingatku sebagai anak pembangkang dan keras kepala… 😉 .  Berbeda dengan kakak atau adikku yang pembawaannya lebih tenang.  Tidak ketinggalan, relasi bapak dan ibu juga tidak selalu indah saat itu.  Padahal pada lirik lagu terdapat satu kalimat  manis menurutku : I’ll sing for you, I’ll sing for mother.  Lirik sederhana itu terasa istimewa karena jarang lho lagu yang menyelipkan isteri ke dalam ceritanya.  Biasanya sebuah lagu sebatas untuk kekasih saja.  Setelah punya anak, biasanya laki-laki fokus mencurahkan kasih sayangnya pada anak. Ayo, bapak-bapak ngaku…. 🙂 .

Kembali lagi ke latar belakang peristiwa. 😉 Karena aku masuk kategori sering berantem dengan bapak, pas dengar lagu ini (yang  menceritakan doa seorang bapak untuk anak dan isterinya), muncul keinginan seandainya bapakku yang menyanyikan lagu ini. Seandainya yang menyanyikan Sleeping Child itu bapakku.   Seandainya bapakku selembut Jascha Richter dan kawan-kawan.  Dan masih banyak seandainya, seandainya…

Ternyata Tuhan mendengarkan doaku.  Si Dia mengirimkan banyak sekali bapak yang baik untukku, salah satunya bapak seorang sahabat yang kini bermukim di Bali.  Memang sih beliau tidak cakep (hihihihi, maaf Mr. D).  Ia tidak pula bisa menyanyi atau bermain gitar seperti Jascha Richter.   Namun cara Mr. D (panggilanku pada bapak temanku) memperlakukan anak-anak dan isterinya sangat memukauku. Mr. D sangat sayang anak-anaknya dan tentu saja pada isterinya.  Ia bapak yang hangat dan bertanggung jawab.

Setelah bertemu Mr. D dan keluarga, perlahan aku mulai melupakan Sleeping Child dan rasa cemburu yang menyertainya.  Kini aku memiliki bapak Sleeping Child!   Walau harus kuakui, pengaruh lagu Sleeping Child  tidak pernah benar-benar hilang dari ingatanku.  Pengaruh lirik lagu ini menginspirasiku saat mencari laki-laki kecengan….tsaaahhhh…  🙂

Selain kudu pinter dan enak diajak bicara (mulai dari masalah tempe, sendal jepit hingga pesawat luar angkasa), salah satu kriteria laki-laki yang OK menurutku adalah mengerti cara memperlakukan perempuan.  Seorang laki-laki hebat tahu cara menghormati dan menyayangi isterinya.  Laki-laki yang keren harus terlebih dulu sayang pada ibu dari anak-anaknya dan Sleeping Child adalah doa sempurna dari seorang ayah 😉

Oh my sleeping child, the world’s so wild

But you’ve build your own paradise

That’s one reason why

I’ll cover you sleeping child

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Ultah Ibu dan Kesempatan Terlewat

Hari ini ulang tahun ke-64 ibuku.  Seneng banget mendengar suaranya barusan walau cuma beberapa menit.  Ibu juga seneng mendengar suaraku.  Ibuku bercerita bahwa pagi ini ia kesiangan bangun.  Tadi malam tidurnya sangat pulas.

”Perasaan jadi ga karuan kalau kesiangan.  Kerja jadi serba salah.”  tutur ibuku.

”Ini ultahmu, your special day.  Mestinya libur.”  Saranku  yang dibalasnya dengan suara renyah.   Pagi ini ia sangat riang.  Secara ga sengaja, ibu bilang kangen juga terhadap kami yang jauh ini.  Aku menahan diri untuk tidak menangis, karena ibu jarang sekali mengatakan rindu.

Takut  bikin kalian menjadi lemah,  begitu alasannya ketika suatu hari kutanya mengapa ia tidak pernah merajuk karena rindu.  Berbeda denganku yang  selalu memborbardir ibuku dengan telfon saat aku rindu atau galau….halah….

”Sayang sekali, hari ini kita ga bisa ngumpul ya.”  sesalku.

”Ah, ga perlu difikirkan.  Ga perlu difikirkan.”  kata ibuku buru-buru meralat seakan baru saja  melontarkan sebuah rahasia negara.  Begitulah ibuku.  Perempuan yang selama ini kukenal setangguh batu karang tiba-tiba pagi ini aku menemukannya dalam sosok lain.  Sosok ibu yang merindukan kehadiran anak-anaknya.

”Doakan kami semua sehat dan keadaan di sini membaik sehingga cepat-cepat bisa buka usaha di Indonesia.”

”Pasti, pasti itu mah…”  jawabnya yakin.

”Aku juga udah ga sabar pengen pensiun dini biar bisa ngumpul lagi.”  aku meminta beliau untuk lebih sabar atas perpisahan yang tak terelakan ini.

”Selamat ulang tahun, semoga panjang umur dan jaga kesehatan.  Kasih aku waktu untuk membayar kesempatan indah yang telah terlewat.”

”Pasti….”  jawab ibuku pelan saja, nyaris tidak terdengar.

Selamat ulang tahun pelita hatiku.  Luv u so much…. *crying.

Lintasophia

Perempuan Teristimewa

Pada tanggal 22 Desember lalu, secara bergantian kami menelfon ke ibu di Bandung.  Setiap orang mengucapkan selamat  Hari Ibu.  Rasanya seneng masih bisa mengucapkan salam itu walau kami saling berjauhan.  Eh justru, setelah kami berjauhan atau tinggal di luar negeri, setiap tanggal 22 Desember menjadi lebih istimewa.  Mungkin pengaruh umur atau pengalaman hidup yang membuat kami lebih menghormati Hari Ibu.

Saat remaja atau kanak-kanak dulu, kami tidak ada ritual mengucapkan Hari Ibu.  Mungkin karena jatuhnya di bulan Desember, jadi kami lebih inget bahwa tanggal segitu lagi sibuk-sibuknya buat kue Natal.  Menurut keponakan-keponakanku, sekolah sekarang lebih intens mengedukasi para murid  mengenai ibu dan Hari Ibu itu sendiri.  Beberapa sekolah menyelenggarakan kegiatan untuk merayakan Hari Ibu.

Sekolah Lia (keponakanku) misalnya, ikut juga mengadakan acara nyanyi dan tari untuk ibu.  Setelah itu, dari pihak sekolah memberi bingkisan pada setiap murid.  Lebih tepatnya, sekolah menitipkan sekotak tanda cinta pada ibu.  Isinya  berupa sepotong kue dan setangkai bunga mawar.    Bila setiap anak mengingat momen peringatan Hari Ibu saat mereka masih kecil, tentu hal baik itu akan terbawa hingga ia dewasa.  Aku fikir, kegiatan semacam itu positif dan membentuk karakter anak menjadi lebih lembut dan welas asih.

Dulu, waktu ibuku di sini, jarang sekali pas Hari  Ibu beliau ada di samping kami.  Karena biasanya, ibu memilih pulang ke Indonesia sekitar bulan November karena beliau tidak kuat dingin yang  menusuk tulang.  Mungkin cuma sekali atau 2 kali aku berkesempatan mendaratkan ciuman pada pipinya di Hari Ibu.  Kalau sekarang, harus puas cuma lewat udara, seperti kali ini.

”Selamat Hari Ibu juga untukmu.”  Kata ibuku sesaat kami akan mengakhir pembicaraan.

”Siapa?  Aku?  Untukku?”  Tanyaku tidak faham.  Ibuku mengulang kalimat yang sama.

”Selama ini, kau udah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak.”  Jawab ibuku sambil menyebut nama para kurcaci satu per satu.

Terbayang nakalnya anak-anak (para ponakanku).  Mereka yang selalu berantem satu sama lain.  Belum lagi saat mereka sedang  rewel atau mencari perhatian.  Suatu hari Lia tidak mau makan kecuali aku bujuk dan rayu dari sini.  Tony kadang berulah, semangat belajarnya naik turun.  Bagaimana memaksimalkan obrolan di telfon agar semangat belajar Tony tetap terkendali.

Sampai sekarang, aku memposisikan diri sebagai teman ngobrol anak-anak.  Sesekali aku kembali ke lakon asal sebagai tante mereka jika ada sesuatu yang tidak bisa ditawar atau aku sedang tidak ingin dibantah.

”Anakmu udah banyak ya…”  Canda ibuku di ujung sana.   Lamunanku buyar.   Tidak sadar, tenggorokanku tercekat.  Begini tho rasanya menjadi ibu?  Rasanya deg-degan, bangga dan terharu.  Meski apa yang aku, kakak-kakakku dan adikku lakukan (membantu keluarga) merupakan hal yang lumrah dan biasa, namun mendapat ucapan Hari Ibu ternyata mempunyai efek luar biasa.   Ini sebagai tanda sekaligus penghargaan apa yang telah aku lakukan selama ini.  Aku merasa menjadi perempuan paling istimewa sedunia.  😉 😉 .  Sebuah perasaan yang menggayuti semua ibu di dunia.

Selamat Hari Ibu  Sudahkah Anda menyapa ibu hari ini?…..

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Kecewa Pada Dunia

Pelajaran hidup ada dimana-mana, termasuk dari orang-orang terdekat Anda.  Hal ini aku simpulkan setelah minggu lalu Angelina mampir ke toko tempatku bekerja.  Ia mampir untuk mengambil beberapa amplop yang ditujukan padanya dengan menggunakan alamat rumahku.

Ceritanya, dulu ia tinggal satu rumah denganku tapi berbeda pintu masuk.  Sejak Juli lalu ia pindah rumah namun untuk korespondensi masih menggunakan alamat rumahku karena administrasi residenza-nya belum beres.

Setelah membolak-balik amplop yang kusodorkan, ia melontarkan kalimat yan membuatku terperanjat.

” Aku mau menutup kedua studio pijatku.”  Katanya.

” What?”  Aku berteriak terkejut.  Ia mengulang kalimat yang sama.  Seolah aku mengalami gangguan pendengaran.

” Kenapa?”  Tanyaku.

” Setiap bulan makin sepi.  Aku ga yakin bisa survive dalam situasi krisis ini.” Katanya dengan nada datar.  Beberapa detik aku butuhkan untuk mencerna ucapannya.  Karena kedua studio pijat miliknya belumlah lama dibuka.  Studio pijat pertama dibuka sekitar 3 tahun lalu.  Sedangkan yang terakhir belumlah genap setahun umurnya.

” Separah itu?”  Lalu sebuah cerita yang pernah kudengar sebelumnya meluncur bebas dari bibirnya yang tipis.   Setelah ia membuka studio pijat untuk pertama kalinya sekitar 3 tahun lalu, persaingan amat berat.   Awalnya semua berjalan lancar.  Tamu tak terbendung bahkan beberapa terpaksa ditolak karena waktu tidak memadai.  Angelina bersama kakak dan 2 karyawan buka sejak pukul 10.00-22.00.  Setiap hari tanpa mengenal libur.  Sekarang, Angelina memiliki 5 orang karyawan ditambah 1 orang kakak yang bekerja padanya.

Mungkin sudah adatnya dalam bisnis bahwa sebuah usaha yang maju pasti akan ditiru oleh orang lain.  Bak cendawan di musim hujan, muncul studio pijat lainnya, dengan harga bersaing dan layanan plus-plus (baca : prostitusi).  Angelina bertahan dengan studio pijat yang pure untuk kesehatan.  Pelan dan pasti ia mulai ditinggal pelanggan.  Ia hanya mengandalkan pelanggan loyal yang kemudian karena krisis menghantam, para pelanggan ini mengurangi frekuensi kunjungan ke studio miliknya.

Tahun lalu, ketika ia berniat membuka studio baru, aku bersikeras tidak setuju saat ia menanyakan pendapatku.  Alasanku karena krisis seperti ini, maka sangat beresiko.  Lebih baik ia bertahan dengan studio lamanya.   Masih menurutku, mending tabungannya selama ini ia fokuskan untuk  membeli rumah di China sana seperti mimpinya selama ini.  Menginvestasikan seluruh tabungan untuk  studio pijat baru rasanya bukan langkah yang tepat.  Bagaimana kalau bernasib sama dengan studio pertama?   Namun Angelina bersikukuh untuk maju.  Menurutnya, Buddha sudah memberi petunjuk bahwa tahun ini (2011) adalah saat yang tepat untuk mengembangkan usaha.  Kalau ia sudah membawa-bawa nama  Budha, aku menyerah.  Semoga benar  demikian, kataku.

Begitulah, waktu berlalu.  Belum setahun studio terbarunya dibuka, Angelina sudah berniat melego.  Awalnya aku bingung mau bersikap, antara gemas dengan kenekadannya dan kecewa dengan semua yang telah terjadi.  Tapi melihat wajahnya yang datar-datar saja, tanpa ekspresi membuatku lebih tenang.  Sikapnya ini berbeda saat terakhir kali bertemu sebulan lalu.  Ia kelihatan sangat kusut waktu itu, ditambah bahwa telah 20 hari ia  tidak enak badan.  Banyak toko, restoran dan tempat usaha lainnya yang bertumbangan.  Tapi melihat dengan kepala sendiri tempat usaha sahabat tumbang, tentu bukanlah hal yang mudah.

*****

Jujur bahwa aku sangat salut akan kebesaran hatinya.  Ia masih bisa bertahan di tengah deraan hidup yang begitu kerasnya.  Waktu memang bisa mengubah watak seseorang yang dulunya rapuh menjadi sekuat karang.  Saat pertama kali kami bertemu, ia sangat rapuh dan cengeng.

Sebagai orang asing di sini dengan kondisi tidak seperti yang  diharapkan sebelumnya, membuat ia sering putus asa.  Apalagi tiada kawan dan keluarga untuk berbagi cerita.  Ditambah keterbatasannya dalam bahasa Italia membuat kami kemana-mana selalu berdua. Kami menjadi dekat.  

Memang  aku tidak bisa berbahasa Mandarin, tapi aku bisa memahami bahasa Italia-nya yang patah-patah.  Kendala terbesar ketika ia harus belanja sesuatu.  Penjaga toko di sini tidak sabar dan faham dengan bahasa Italia ala Angelina yang berantakan.  Karena itu aku menjadi penengah.

6 tahun lalu, kami selalu berangkat kerja bersama-sama, di pagi buta.  Ia kerja di sebuah restauran di salah satu hotel, sedangkan aku bekerja  sebagai cleaning service keliling.  Tempat pertama yang harus kubersihkan setiap pagi searah dengan hotel dimana Angelina bekerja.  Saat itu, tubuh kami sangat kurus, sehingga pada sebuah musim dingin yang buruk, kami berdua memeluk tiang besi, tangan kami saling menahan satu sama lain agar kami tidak terbang tertiup angin.  Sebuah periode yang berat untukku dan Angelina.

Kedatangannya ke kota ini setelah sebelumya ia bekerja di sebuah pabrik tekstil di pinggiran kota Milan selama 2 tahun.  Kerja 15 jam sehari dengan kondisi pangan dan papan seadanya dijalani agar dapat membayar agen yang mengurus visa kerjanya.  Setelah semua lunas, ia memutuskan untuk hengkang  ke Genova mengikuti pacarnya yang stay di sini.  Seperti yang aku bilang, bahwa aku salut padanya.  Walau ia sering mengeluh bahwa ia kecewa pada dunia dan kadang merasa jalan hidupnya selalu berdarah-darah, ia masih mampu bertahan.  Sebagai gambaran, ia menikah muda dan memiliki seorang putri berusia 18 tahun.   Tidak pula memiliki cerita percintaan yang manis.

Setelah susah payah mendapatkan visa kerja untuk masuk Italia dan menyusul suami di Napoli, justru kenyataan pahit yang ditemui.  Suaminya telah menikah lagi dengan sesama orang China.  Gubrak….  Sinetron Indonesia  banget.  Untunglah nasib baik masih berpihak padanya saat ia menemukan pekerjaan di sebuah pabrik tekstil untuk membayar agen yang telah mengurus dokumen dan visa kerjanya.  Suaminya tidak mau bertanggung jawab tentang ini.  Bahkan menurut analisisku dan Angelina, bahwa sebetulnya (mantan) suaminya tidak menyangka bahwa Angelina akan berhasil mendapatkan visa kerja dan menyusulnya ke Italia.

Cerita sedih tidak sampai di sini.  Pacar tempatnya mengadu selama ini ternyata menduakannya setelah 5 tahun mereka berpacaran.   Biduk rumah tangga  berantakan serta ditinggal pacar, begitulah romansa cinta Angelina.   Nyaris ia gila dan mencoba  bunuh diri ala Nazi.  Suatu hari  ia menghidupkan gas dan menutup semua jendela dan pintu.  Ancamanku bahwa jika ia gagal mati, maka ia bakal masuk penjara karena tindakannya membahayakan orang banyak yang membuatnya membuka pintu.

” Kalau mau mati, pilih cara yang elegan dong.”  Candaku saat ia telah membuka pintu kamarnya yang nyaris kudobrak.  Tapi itu cerita lalu.  Sejak ia ditinggal pacarnya  (sekarang menjadi sahabat),  ia lebih kuat.  Bila selama ini (mantan) pacar yang mengurus dokumennya, perlahan ia ambil alih hingga ia berhasil mandiri dan membuka kedua studio pijat.  Akhirnya Angelina jadi pengusaha, godaku saat ia mengantarkan undangan pembukaan studio miliknya.

Semua cerita di atas terputar ulang di benakku.  Aku mengingat betul saat Angelina selalu sedih dan merasa dunia tidak adil padanya.  Sering ia merasa kecewa telah dilahirkan ke dunia ini.

*****

”Untuk apa aku dilahirkan jika hanya untuk mengecap kesedihan?”  Tanyanya suatu hari.  Ia sangat kecewa akan tindakan keluarganya yang tidak memberitahu bahwa ibunya telah  meninggal.  Tragisnya, ia mengetahui bahwa ibunya telah tiada setelah 3 tahun ibundanya berpulang.   Kenyataan pahit itu ditemukan saat ia mudik untuk pertama kalinya sejak meninggalkan tanah kelahirannya.  Padahal Angelina sudah menabung  dan  membeli perhiasan untuk ibunya.  Aku sampai kehabisan kata-kata untuk menghiburnya.  Aku memilih diam dan membiarkan ia menumpahkan kemarahannya.

Sikap yang sama aku pilih saat tempo hari ia mencetuskan keinginannya menutup studio pijatnya.

” Mulai dari nol lagi.”  Jawabnya saat kutanya rencana ke depan.  Ia memilih menjual kedua studio dan akan mengambil sebuah studio yang lebih kecil untuk menekan ongkos produksi.  Ia dan kakaknya (yang juga tulang punggung keluarganya di China) akan mengelola bersama-sama.

” Yang penting bisa survive dan nabung untuk pulang ke China.”  Katanya lagi.

” Kamu biasa aja kelihatannya.”  Kataku mengomentari ekspresi wajahnya yang datar itu.

” Untuk apa kecewa, tidak akan menyelesaikan masalah.  Paling tidak, aku udah mencoba bagian terbaikku.”  Katanya.  Aku bengong sekaligus salut luar biasa.  Salah satu keberanian mengambil resiko dalam bisnis yang belum aku miliki.

” Aku kira kamu akan nyoba bunuh diri lagi.”  Aku menggodanya dan ia tertawa, menertawakan kebodohannya beberapa tahun lalu.  Saat ia berpamitan, kami berpelukan erat dan lama sekali, saling menguatkan.

” Janji ya untuk menghubungi aku kalau kamu ada waktu.  Kita rayakan kekacauan ini dengan pesta pizza.  Biar kamu gemuk lagi”  Katanya.  Ternyata ia masih sempat memperhatikan wajahku yang semakin tirus.

” Siap, komandan!”  Kataku sambil mengangkat tangan kanan ke pelipisku.  Ia tertawa sambil meninggalkanku yang memandangi punggunggnya dengan perasaan tidak karuan.  God bless you, my friend.  Sang Budha  akan mengganti air mata dan kecewamu dengan sejuta kebahagiaan, doaku dalam hati.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Selalu Ada Rezeki Untuk Mereka

Tutup Facebook dan mengasingkan diri di sini. 🙂

Apa ya yang mau kucatat hari ini?  Kepala sedang kosong melompong efek dari  ngobrol ama ibu 2 jam lalu.  Kemaren ibuku sengaja menelfon Mas Ipung untuk menanyakan khabar terbaru dari usaha yang sedang kami rintis.  Dari  Mas Ipung, ibu sudah tahu bahwa usaha yang sedang kami rintis terpaksa melambat karena kekurangan dana.  Dari nada suaraku pun ibu sudah tahu kegelisahan hatiku.  Beliau berusaha menguatkan hatiku yang sedang down dengan bercerita hal-hal lucu tentang keponakan-keponakanku.

Sudah beberapa hari aku tidak menelfon demi penghematan pulsa (karena itu beliau memilih menelfon Mas Ipung).  Rasanya berat untukku dan keluarga di Bandung,  terutama ibu yang merasa kehilangan teman bercerita.  Walau tidak ingin membebaniku, tapi katanya ia telah menunggu telfonku sedari pagi.  Bahkan tadi ibu sengaja tidur di depan telfon agar bisa langsung mengangkat telfon jika aku menghubunginya.  Sungguh terharu.  Belum lagi ibu sedikit kesulitan menjawab pertanyaan keponakan yang mencari-cariku.

Aku cuma menitipkan salam dan ucapan selamat untuk  mereka (keponakanku) yang baru saja dibagikan hasil Ujian Tengah Semester (UTS).  Mereka pasti sudah menunggu seribu pujian dariku atas pencapaian mereka selama ini.  Aku jadi ingat beberapa hari lalu saat Uis sedikit tergagap meminta maaf karena nilai Bahasa Inggrisnya tidak sebaik yang diharapkan.  Tentu saja aku tidak marah, kataku.  Aku meyakinkan Uis bahwa sebetulnya ia bisa lebih baik lagi asal tidak malu bertanya.  Anak pintar tidak malu bertanya, kataku pada Uis.

Demikian juga dengan Tony yang tiba-tiba merasa rendah diri karena Matematikanya harus remedial (mengulang), padahal beberapa hari sebelumnya ia sangat optimis  bahwa tahun ini nilainya pasti lebih baik.  Aku pun tidak marah sepanjang mereka berusaha dengan baik dan tidak nyontek.

Cerita penutup dari ibuku yang membuat fikiranku mendadak kosong…halah…  Kata ibuku, pendaftaran untuk tahun ajaran baru sudah dimulai.

” Haaaaaa….  Cepat banget?  Baru juga 3 bulan masuk TK.  Kejam amat”  Kataku.

” Iya, itu kalau kita minat memasukan Lia ke SD  yang sama yayasannya dengan TK-nya sekarang ini.”  Jelas ibuku.

” Oh gitu?  Lalu…”

” Formulir sudah di tanganku dan tadi aku sudah bicara dengan kepala sekolahnya.  Karena berasal dari TK  milik yayasan, maka Lia mendapat potongan harga 20 persen.”  Terang ibuku sambil menyebutkan angka awal dikurangin potongan harga dan harga akhir. 😦

Aku terdiam, sama seperti ibuku yang kemudian buru-buru mengalihkan pembicaraan.  Kondisi krisis gini, aku ga tau dari mana mendapatkan dana untuk mencicil uang masuk sekolah Lia yang harus mulai bayar Desember nanti.

Keadaan tidak pernah sesulit ini.  Dalam sejarah keuanganku, aku bahkan pernah memasukan sekolah 3 keponakan sekaligus (masuk TK, SMP dan SMA dalam waktu bersamaan) ditambah pula menjadi donatur sejumlah adik asuh selama bertahun-tahun (sekarang tinggal kenangan).  Kali ini, untuk mencicil uang masuk  1 anak pun rasanya gelap….Grhhhh….

” Jangan jadi fikiranmu, ntar kamu sakit.”   Hibur ibuku.  Segera kuatur nafasku agar tangis tak tumpah.

” Kita bisa daftarin Lia ke SD Inpres dekat rumah.”  Kata ibuku.  Aku menolak mentah-mentah ide itu.  Lia anak yang pintar dan energinya banyak.  Rasanya sayang sekali kalau semua itu tidak tersalurkan dengan baik.  Lia berjanji akan belajar balet dengan baik agar ketika aku pulang ia bisa menari untukku.  Ia pun sudah tidak sabar agar sekolah full seperti kakak-kakaknya dan menikmati fasilitas sekolah yang sama seperti yang diterima kakak-kakaknya.  Kebetulan mereka bertiga sekolah di sekolah yang sama.

” Aku usahakan ya, bu.  Pegang saja dulu formulirnya.  Besok berbicaralah dengan Kepala Sekolah bahwa Desember ini kita pasti bisa kasih cicilan pertamanya.”  Pintaku pada ibu walau dalam hati tidak tahu bagaimana cara mendapatkan dananya.

” Kamu yakin?” Tanya ibuku.  Ada rasa was-was dan perasaan bersalah pada suaranya.

” Aku yakin.  Semoga selalu ada rezeki untuk mereka.”  Kami menutup telfon.  Tangisku pecah.

Salam,

Lintasophia.

Gambar dari Google