Yang Belum Beres… (Part. 1)

Aduh, aduh…  Udah setahun ga ngeblog *hiperbola.  Bener tho, terakhir nulis itu tahun 2013 lalu dan sekarang udah 2014. ;).  Sebelumnya, mau nyapa kalian semua.  Apa khabar?  Semoga hari-hari kalian tetap hangat dan menarik di tengah situasi politik dan cuaca yang ga bisa diprediksi.

Eh iya, sebelumnya mari kita ucapkan selamat menempuh baru untuk Henskih  (temen baikku pas kuliah jadul)  yang kemaren baru saja melepas masa lajangnya.  Ikut seneng, Henskih.  Kita akan setia menunggu foto-foto dan cerita dirimu.  Akhirnya terlewati juga ya masa persiapan yang kadang bikin perang-perang kecil dengan pihak di kanan, kiri, atas bawah.  Sekarang tinggal aku yang dalam beberapa hari ini kejar tayang menyelesaikan beberapa eh banyak item.

*****

Dulu, waktu  bantuin nikahan kakakku rasanya senang  aja, padahal itu pesta besar.  Giliran bagianku, syukurannya kecil tapi butuh kesabaran besar.  Baiklah, karena intronya udah terlalu panjang, mari kita melirik item yang belum beres, hampir beres dan tidak beres sama sekali.  Intinya, malam ini kita akan berbicara tentang  sesuatu yang tidak beres.

1. ADMINISTRASI

Diantara semua proses persiapan pernikahan yang kami lalui,  selain masalah finansial *ehem, masalah administrasi menempati urutan kedua yang memakan waktu paling lama.  Seingatku, pertengahan 2013 Mas Ipung daftar untuk Katekisasi Sidi baru 6 bulan kemudian dibaptis (27 Desember lalu).   Apakah beres baptisan lantas bisa langsung mendaftar nikah di Bandung?  Tidak, saudara-saudara.  Masih ada yang harus dilengkapi, seperti Surat Pengantar (untuk menikah) dari GKJ.

Setelah Mas Ipung megang surat baptis, baru boleh mengurus  dokumen lain, yakni ;  KTP dan KK untuk mengubah data-data terkait dengan berganti keyakinan yang kemarin ditempuhnya.    Kalau ga salah, untuk KTP dan KK udah beres.  Tentang KTP dan KK sejujurnya aku lupa lagi.  Beberapa hari terakhir ngurusin undangan dan souvenir.  Mak jleb, sebulan lagi nikah, undangan baru masuk tahap desain.  Sedangkan untuk Surat Pengantar, sekretaris gereja berjanji bahwa hari Minggu ini uda beres.  So, hari Minggu malam dengan kereta api tercinta, Mas Ipung bisa meluncur ke Bandung.

Katekisasi berlangsung selama 6 bulan dengan pertemuan 1 x seminggu selama 1,5 hingga 2 jam.  Itu berlangsung selama 3 bulan pertama.  Sedangkan 3 bulan berikutnya lebih intensif, sekitar 2 kali seminggu karena disisipi juga konseling pra nikah.  Sejak bulan November atau 2 bulan sebelum baptis lebih sibuk lagi.  Selain jadwal katekisasi sidi dan konseling pra nikah yang jadwalnya telah tetap, Mas Ipung lebih sibuk lagi karena menyiapkan keperluan baptisan dan Natal yang memang berdekatan waktunya.

2.  UNDANGAN

Undangan molor bukan semata kelalaianku tapi karena orang tua bersikeras undangan diurus HANYA jika masalah administrasi beres.  Ternyata date line administrasi meleset dari dugaan kami.  Iyalah, kalo ini kan mutlak wewenang pihak ketiga alias gereja yang membaptis Mas Ipung.  Kebetulan kemarin bersamaan dengan hari Natal dan Tahun Baru,  banyak kegiatan di gereja.  Mas Ipung juga ga enak bolak balik minta surat pengantar.

Padahal sejak Oktober aku sudah minta bapak dan ibuku membuat draft/kalimat yang akan disusun di undangan.  Aku sendiri punya alasan sendiri kenapa pengen beresin undangan jauh-jauh hari.  Biasanya sekitar November dan Desember kerjaan di sini bejibun.  Daripada nanti semua dikerjain terburu-buru.  Belum tentu nyetak undangan tepat waktu atau semua lancar jaya.  Tapi gitu deh, bapak ibuku ga setuju cetak undangan sebelum semuanya pasti.  Katanya, pamali.  Benar saja dugaanku, bapak dan ibuku beberapa hari ini mulai panik karena undangan belum beres.

Cover depan undanganSetelah adu argumentasi yang kesekian kali dengan ibuku, tiba-tiba tuh draft undangan udah nongol aja di inbox FB-ku.  Beruntung Adeku lumayan jago masalah desain.  Ga nyampe beberapa jam beres deh lay out undangan.  Tuh kan, yang susah itu menyatukan visi dan cara pandang.  

Kalo udah dibenturkan pada kebutuhan yang sama (dalam hal ini undangan segera naik cetak), maka semuanya mudah dan cepat.  Coba dari kemaren mau ngikutin run down-ku, bisa hemat energi tanpa naik tensi.

Undangan yang aku dan Mas Ipung pengenin harus sederhana, ringan, tidak banyak motif dan tanpa foto.  Iyalah, buat apa pake foto, secara yang dateng juga keluarga inti dan sahabat dekat yang sama-sama udah kenal wajahku dan Mas Ipung. Lalu, undangannya juga cukup 2 lembar agar mudah pengerjaannya dan murah pembayarannya.  *penganten irit.

Ini contekan undangan yang kita mau.  Pertama kali Adeku lihat dia takjub akan pilihanku.  ”Beneran ini cover undangannya?  Sesederhana ini?”  Tanya adeku.  Lalu secara halus ia menawarkan template-template undangan lain yang kira-kira mendekati seleraku.  Ga tau kenapa, aku dan Mas Ipung udah cukup sreg dengan undangan minimalis ini. Kertas bagian dalamnya nanti warna peach dengan border abu-abu.  Semoga nemu percetakan yang bisa diajak SKS (Sistem Kebut Semalam).  Atau kalo kepepet, print dan tempel sendiri deh.

3.  SOUVENIR

Souvenir tersendat karena yang ngurusnya (dalam hal ini Mas Ipung) sibuk pisan.  Alasan lain, karena kita tidak butuh souvenir dalam jumlah banyak, maka souvenir bisa diurus belakangan.  Dan ternyata saudara-saudara, souvenir itu harus dipesan paling tidak 3 bulan sebelumnya.  *nangis.

Ok, tenang…tenang…sebetulnya ga sehoror itu, tergantung jenis souvenirnya sih.  Awalnya untuk menyenangkan hati ibuku yang dari dulu terobsesi ama souvenir kipas, maka kita sepakat akan mengambil kipas sebagai souvenir.  Di lapangan, minimum order untuk kipas adalah 200 pieces, sedangkan kebutuhan cuma 150 buah (maksimal).  Akan dikemanakan sisa souvenir?  Walau harganya ga seberapa, kita berusaha untuk tidak membuang/membayar sesuatu yang ga perlu.  Bisa sih beli kipas secara eceran tapi harganya lebih mahal.  Lumayan selisihnya untuk nambah payet kebaya….halah… *ga mau rugi.

Gelas sablon wayangRembukan lagi, pilihan jatuh pada gelas dan aku suka banget opsi ini.  Minimum order tetep 200 buah, tapi kalo sisa kan masih bisa dipake sebagai modal awal berumah tangga…kekekkkekeke… Jelek-jeleknya, nih gelas masih bisa dipake orang rumah.  Atau bagiin ke sodara.  Alasan lainnya, bentuknya lebih besar dari kipas tapi harganya lebih mini.  Selisih harga gelas dan kipas cukup untuk luluran.

Waktu berjalan, tahun 2013 terlewati.  Baru beberapa hari ini kembali ngurus nikahan termasuk souvenir. Mulailah Mas Ipung survey gelas sablon.  Di sini kejutan demi kejutan  kita temui.  Mulai dari stock gelas yang kosong hingga full of order .  Kira-kira, calon penganten lainnya bikin souvenir dari berapa bulan sebelumnya ya? Padahal seandainya bikin souvenir butuh 1 bulan pun masih masuk run down kita kok.  Duh Gustiiiii…

Kejutan lainnya,    ternyata saudara-saudara  harga gelas naik.  Ga kira-kira pula naiknya.  Jika sebelumnya di price list berkisar Rp. 3.500-an, sekarang sekitar 5.000 bahkan Rp. 6.500.  Nangis, ga jadi luluran!

4.  PITA MOBIL PENGANTEN

Yang ini ga terlalu krusial.  Ntar kita ga nyewa mobil penganten, abis mehong ciiiiin.  Kisaran harga 1,5 jt-2,5 jt.  Lupa jenis dan tipe sedannya.  Tapi kemaren Bang Dani ngasih up date harga sewa mobil penganten, masih sekitar segitu.  Berhubung kita penganten irit dan cenderung pelit, maka mobil penganten dicoret dari list.  Sebagai gantinya, kita pake mobil yang ada di rumah.  Sedangkan untuk orang rumah  kita akan sewa semacam elf atau minibus.  Aku dan Mas Ipung ga mau bayar mahal untuk mobil penganten karena nantinya juga cuma dipake sekitar 4 jam saja dengan rute : rumah ke gereja setelah itu ke lokasi acara.

Pertama kali dengar ide ini, ibuku rada shock juga karena bukan hal yang lazim terutama di keluarga besarku.  Tapi untunglah akhirnya beliau mengerti kondisi keuangan anak-anaknya ini yang cenderung tidak menggembirakan beberapa waktu belakangan.   Sekarang tinggal hunting pita untuk mobil penganten.  Sudah survey harganya di ebay, sekitar 7 – 10 euro (Rp. 160 ribuan).  Kebayang kan berapa rupiah yang bisa kami tekan dengan cara ini?

Disisi lain, kita memang masih harus menyediakan mobil untuk keluarga besar yang datang dari luar kota.  Nah, kalau nyewa elf  (harga sewa memang lebih mahal dari avanza dan sejenisnya), tapi pengeluaran akhirnya sama aja, karena kita cukup mengisi bensin untuk 1 mobil dan bayar 1 orang supir saja.  *insting auditor keluar.

Kira-kira itulah item persiapan yang belum beres, part 1 lho.  Masih ada part 2 yang aku harap sih ga terjadi.  Semoga semua lancar jaya… Amin.

Salam hangat,

Lintasophia

Iklan

Our Wedding Songs

Sejak memutuskan untuk menikah,  aku jadi rajin nulis. terutama masalah pernikahan dan printilannya.  Mumpung timingnya pas dan lumayan untuk kenangan-kenangan.  Semoga kalian tidak bosan ya…

Kita mau menikah secara sederhana, maka fokus utamaku dan Mas Ipung adalah prosesi pemberkatan.  Diibaratkan sebuah film, prosesi pemberkatan adalah pemeran utama, sedangkan makan siang adalah pemeran hiburan….hihihihi…  Beruntung kita akan mengambil paket pernikahan,  jadi serasa punya WO yang bantuin ngurus ini itu.  Untuk urusan undangan, suvenir, songket, perias dll kita sudah kontak.   Tinggal bayar tanda jadi saja begitu jadwal pemberkatan diputuskan oleh gereja.

Nah, sambil nunggu jadwal pemberkatan,  aku  akan cerita tentang lagu-lagu yang bakal ada di pemberkatan nanti termasuk alasan pemilihan lagunya.  Susunan acara dan lagu-lagu selama pemberkatan biasanya sudah ada tata cara tersendiri.  Namun masalah lagu dan acara masih boleh dirubah asal tidak mengubah pakem yang ada.  Dan pastinya selama disetujui majelis gereja. 😉   Ok, ini 2 lagu utama pas pemberkatan nanti ;

1.  If you’re not the one  (Daniel Bedingfield)

Alasan :

Ga ada alasan khusus milih lagu ini.  Kebetulan aja lagu Christina Perri (Thousand Years) atau From This Moment-nya Shania Twain sudah terlalu sering jadi lagu kawinan.  Mungkin pengen sedikit beda aja… *nyari alasan.   Jujur, aku dan Mas Ipung ga punya banyak lagu kenangan yang bisa dipakai referensi untuk pemberkatan.  Maklum saja, 11 tahun pacaran jarak jauh,  kalau bertemu pun setiap mudik, maksimal 10 hari itu tidak selalu ada lagu-lagu yang menyertai.  Minim lagu.  *nasib cinta jarak jauh.

Eh ada deng beberapa lagu hits pas aku mudik dan jalan bareng Mas Ipung.    Sekitar 2006 ada lagu dangdut judulnya : SMS Siapa ini, Bang?  Yang mau nyari di Youtube, penyanyinya Ria Amelia.  Liriknya seperti ini :

Bang, SMS siapa ini Bang

Bang , pesannya pakai sayang-sayang…

Hehehe, ga mungkin banget kan lagu dangdut beraroma Minang ini dipakai pas pemberkatan?

Lagu lainnya yang sempet booming, seluruh penjuru toko di Yogya menyetel lagu ini, saling bersahut-sahutan.  Apalagi kalau bukan Ayat-ayat Cinta yang dinyanyikan oleh Rossa.  Lagu ini lebih slow dan romantis tapi tetep aja tidak ada chemistry sebagai lagu untuk pemberkatanku nanti.   Beberapa temen juga merekomendasikan lagu tapi aku lebih klik dengan Daniel Bedingfield.

Setelah lama baru aku bisa menemukan jawaban kenapa keukeuh akan lagu ini.  Dulu banget, pas kita baru jadian, lagu ini populer banget.  Kalau ga salah, kita dengerin lagu ini pas nginep di rumah Echi di Puri Cipugeran  (Cimahi), sekitar bulan April 2003.  Buset, aku sampe apal gini.  Dulu mah ga kefikiran nikah make lagu ini.  Boro-boro kali mikir sejauh itu, wong baru sebulan jadian.  Aku suka liriknyaaaaa….

If you’re not the one

Why does my soul feel so glad today?

If you’re not the one

Why does my hand fit your this way?

If you’re not the mine

Then why does your heart return my call?

If you’re not mine

Would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings

But I know your here with me now

We’ll make it through

And I hope you are the one I share my life with

Lirik selanjutnya bisa dilihat di Youtube sambil nyanyi-nyanyi.  Ada kalimat yang bagus banget, selain yang aku bold di atas :

And I pray that you are the one

I build my home with…

I hope I love u all my life…

Bagus banget ya.  Seakan-akan lagu ini diciptakan untuk aku dan Mas Ipung… *ngakak guling-guling.   Sayang kalau lagu bagus seperti ini diacuhkan… *masukin ke list.

Jadi, lagu ini akan dipakai pas aku dan bapak tiba  gereja.  Bapak yang akan nganter aku nemuin Mas Ipung yang udah nungguin di altar.  Prosesi  ini kita pilih sebagai bentuk penghargaan kita pada bapak atas andilnya memuluskan pernikahan sederhana.  Rasanya ga ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa terima kasihku dan Mas Ipung atas kebesaran jiwa bapak.  Makanya, detik-detik terakhir melajang, pengen dilewatkan dengan bapak.  *anak papi.

2.  Nang Gumalunsang Angka Laut  (Dipopulerkan oleh Victor Hutabarat)

Lirik :

Nang gumalusang angka laut,   (Walau laut bergemuruh)
Nang rope halisungsung i,   (Walau angin besar datang)
Laho mangharophon solungki.   (Hendak mengkaramkan kapalku)
Molo Tuhan parhata saut,   (Bila Tuhan  berkehendak)

Mandok hata na ingkon saut,  (Maka kehendak-Nya jadilah)

Sai saut doi, sai saut doi, sai saut doi.   (Maka terjadilah, terjadilah)

Ndang be mabiar ahu disi,   (Aku tak takut lagi)
Mangalugahon solukki,    (Mengayuh kapalku)
Ai Tuhanku donganki,    (Karena Tuhan besertaku)
Tung godang pe musukki.   (Meski banyak musuhku)
Na mangharophon solungki,    (Yang ingin mengkaramkan kapalku)
Sai lao do i, sao lao do i sian lambungku i.   (Semua itu akan jauh, jauh dari sisiku)

Hatop marlojong do solukku tu labuhan na sonang,  (Kapalku melaju kencang menuju kebahagiaan)
Naso adong be dapot hasusahan i.  (Aku tak lagi merasa susah)
Tudos tu si nang pardalanan ki,   (Walau ke mana perjalananku)
Laho mandapothon surgo i.   (Untuk mendapatkan surga)

Reff:

Sipata naeng lonong do ahu,   (Kadang aku nyaris tenggelam)
So halugahan galumbang i.  (Betapa gelombang tak terlawan)
Tudia ma haporusanku i,  (Kemana kubawa kesedihan ini)
Ingkon hutiop tongtong Jesus i.  (Tangan Yesus selalu kupegang)

Ditogu-togu tanganku,  (Ia menuntun tanganku)
di dalan na sai maol i.  (Di jalan yang sulit itu)
Di parungkilon hasusahan,  (Sekalipun dirundung kesusahan)
Tung Jesus haporusan ki.   (Cuma Yesus harapanku)
Nang pe di dalan lao tu surgo,  (Dalam perjalanan mencari surga)
Diiring Jesus ahu disi.  (Tuhan selalu bersamaku)

*alih bahasa ala Lintasophia

 *****

Hari Minggu kemarin pas aku minta ijin lagu ini dipakai pas sungkeman, ibuku langsung nangis.   Beliau terharu banget.  Lalu aku inisiatif menyetel lagu Nang Gumalunsang Angka Laut di youtube.  Lewat Skype, aku dan ibuku nyari bareng.   Suara ibuku timbul tenggelam.  Terpotong antara mengatur nafas, bernyanyi, menangis dan menghafal lirik yang kadang tidak cocok dengan tulisan yang muncul di layar komputerku.  Sangat emosional.  Masih 5 bulan lagi, tapi ibuku udah nangis kayak mau ditinggal jauh.  Apa setiap ibu akan seperti ini jika anaknya menikah?  Aroma nikahannya udah kecium banget.

” Aku masih ga percaya Nita mau nikah.”  Kata ibuku sambil nyanyi dan nangis.  Usahaku meredam tangisnya sia-sia.   Duh,  baru dengerin lewat telfon aja ibuku udah begini, apalagi pas pemberkatan nanti.  Curiganya mah, tissue doang ga akan cukup.  Tampaknya perlu dipertimbangkan untuk menyediakan handuk.  Semoga semua fihak bisa mengendalikan diri pas hari H nanti.

Alasan memilih lagu ini :

Dari sekian banyak lagu rohani, dari dulu aku suka lagu ini terutama kalau beban lagi berat-beratnya.  Lagu ini menggunakan banyak sekali bahasa personifikasi alias ungkapan-ungkapan.  Bercerita tentang sebuah sampan, dalam hal ini tentu saja bisa diartikan sebagai pribadi, pasangan bahkan rumah tangga.

Walau angin besar dan badai menghadang hampir membuat kapalku karam.  Berkat Tuhan Yesus sampanku bisa bertahan dan melaju kencang.    Intinya seperti itu.  *alih bahasa ala Lintasophia.

Sampai hari ini, aku dan Mas Ipung adalah pasangan berbeda keyakinan.   Officially Mas Ipung belum dibaptis.  Berdasarkan jadwal GKJ, rencananya November Mas Ipung baru dibaptis.  

Aku ga tahu kapan persisnya Mas Ipung mulai ke gereja,  sebab semua proses ia jalankan secara diam-diam.  Mungkin sekitar tahun 2008.  Lalu, kenapa ga dari dulu dibaptis?  Kalau ini sebagian besar adalah karena keras kepalaku.  Bagaimana bila ga berjodoh?  Mungkin aku akan merasa bersalah… Pokoknya, sejuta ada sejuta bagaimana…bagaimana kalau…

Kalo inget bandelnya aku selalu menahan Mas Ipung untuk baptisan, rasanya emosi jiwa.  Padahal selama bertahun-tahun, Mas Ipung rutin kebaktian, persekutuan dengan adik-adik Papua.  Bahkan, di rumah juga suka ada persekutuan doa oleh tetangga seiman atau GKJ deket rumah.  *siram kepala pakai air es.

Ibuku memuji bahwa memakai lagu ini pas pemberkatan nanti sebagai pilihan tepat.   Dalam lagu ini ada doa setiap orang tua yang akan melepas anaknya memasuki biduk rumah tangga.  Kembali ibuku mengeluarkan jurus-jurus bertahan dalam pernikahan Kristen.  Ibarat kata, menikah itu serupa mengayuh sampan di atas lautan.  Angin dan gelombang bisa datang kapan saja berusaha mengkaramkan sampanmu.  

”Tetap pegangan, saling berpegangan…”  Seru ibuku.  

”Ok, mom.”

”Walau banyak badai, akhirnya menikah juga.”  Sambung ibuku lagi, mengingat belakangan ini banyak banget cobaan menghampiriku.

”Iya, menikah dalam badai.”  Kataku…

Salam,

Lintasophia