KEBAYA (Yang Belum Beres Part. 2)

Sebelum lanjut  lagi menelisik item-item yang belum lengkap, ini dia up date terbaru dari  souvenir.  Pemirsa, akhirnya urusan souvenir beres juga, masih tetep gelas sablon.  Ga tau gimana caranya, Mas Ipung nemu penjual gelas sablon di daerah Pasar Beringharjo (Jogja). Horeee…seneng pisan.  Teringat kemaren setengah hari Mas Ipung nyangkut  di warnet nge-list ulang penjual gelas sablon di Jogja dan sekitarnya termasuk Semarang, tapi hasilnya nihil.  Jauh-jauh nyari ke Semarang eh malah nemu di pasar.   Harganya lebih murah dibanding penjual yang kami survey selama ini.

Rata-rata harga gelas ukuran 6 cm x 8 cm adalah Rp. 4000- Rp. 4.500 per buah.  Itu harga untuk gelas, sablon 1 warna dan packing plastik.  Untuk packing tile dikenakan biaya tambahan Rp. 1.500/bh sedangkan kotak mika dikenakan biaya tambahan Rp. 2.000/buah.  Artinya, total harga  untuk 1 buah gelas sablon dikemas sarung tile, harganya sekitar Rp. 6.000 – 6.500/buah.  Kita sepakat untuk mengambil gelas dove dengan packing sarung tile.  Dan tahukah kita bayar berapa? Di Pasar Beringharjo  cuma Rp. 4.500/buah.  Horeeee…*ekspresi  abis menang olimpiade.  Penjual sepakat beres dalam waktu 2 minggu, sementara tempat lain rata-rata butuh waktu 1 hingga 3 bulan pengerjaan.  Tanpa fikir panjang, Mas Ipung langsung bayar DP.  Saking senengnya, Mas Ipung sampai kehabisan kata-kata.  Malam ini bisa tidur nyenyak dia…hihihihi…

Puji Tuhan akhirnya dapet souvenir, terutama harganya lumayan miring.  Tepat pula tadi siang, emailku nongol 1 penawaran gelas dove, harganya Rp. 5.500/buah, kemasan plastik, minimum order 300 buah.  Wekksss… Bener-bener bersyukur banget 1 masalah terselesaikan dengan cara tak terduga.  Kalau boleh kasih saran, jika tanggal pernikahan sudah pasti dan dana udah tersedia (paling tidak untuk bayar DP), buruan deh pesen tuh souvenir.  Keburu harganya naik dan bikin souvenir itu butuh waktu saudara-saudara.

*****

OK, kita chek item lain, ini dia : KEBAYA

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Percaya atau tidak, klimaks dari sebuah persiapan pernikahan adalah kebaya.  Kayaknya, kalau kebaya (minimal) udah masuk ke tukang penjahit, calon penganten wanita bisa kembali  melanjutkan hidup dengan tenang.   Selain urusan gedung dan katering, maka kebaya adalah item lain yang membutuhkan konsentrasi khusus.  Banyak calon mempelai wanita butuh waktu berbulan-bulan hunting model kebayanya doang.  Semua majalah dan foto-foto kebaya dikumpulkan.  Karena bikin kebaya itu butuh waktu lama terutama kalau modelnya rumit dan full payet, bisa makan waktu 3 sampai 6 bulan.  Belum lagi keluar masuk pasar baru untuk hunting brokat kebaya.

Dari sini, aku bisa mencium aroma adu argumentasi dengan ibuku bakal terjadi lagi.  Aku pengen penghematan, ibuku pengen ada kebaya  kenang-kenangan. Kerasa banget deh beda cara pandang antara ibu dan anak.   Selain alasan penghematan, aku juga menolak karena bingung cara ngukur badan.  Ibuku ga menyerah (keras kepalaku turun dari ibuku).  Mulai deh tiap hari ibuku meneror tentang model atau warna kebaya yang cocok untuk tunangan dan pemberkatan.   Selalu saja ada cara membelokan pembicaraan hingga akhirnya bermuara pada kebaya.  Cuma ibuku yang bisa begini! 😉

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Sambil senewen, aku curhat-curhat dengan Mas Ipung tentang kebaya ini.  Singkat cerita, mari kita penuhi keinginan ibu selama kita masih sanggup.  Akhirnya jadi jahit kebaya.  Aku mengerahkan Mas Ipung untuk cari bahan brokat dengan panduanku.  Selama 2 minggu muter-muter, aku ga nemu yang sreg di hati.  Dalam hal ini aku menggunakan insting dalam menilai corak brokat yang dikirim via hape.

Ujung-ujungnya, aku beli on line dari London… Weks, apa ga kurang jauh?  Ya karena kebetulan corak yang aku suka ada di London.  Dalam hal ini aku memang agak susah dimengerti.  Lagi-lagi dominan pake feeling.  Pilihanku jatuh pada brokat warna putih gading bermotif sulur-sulur.  Resikonya memang agak susah menemukan chemistry antara brokat warna gading dengan brokat abu-abu cenderung perak.  Tapi biarlah masalah chemistry ini menjadi urusan tukang payet.  Ini dia penampakan brokat kebaya untuk pemberkatan.

Brokat kebaya martumpol

Brokat kebaya martumpol

Lalu bakal seperti apakah?  Untuk desainnya aku dibantu mbak Dilla (kakaknya Uning/sahabat baikku sejak jaman kuliah).  Ada beberapa desain kebaya kutu baru yang kuterima.  Ibuku ga terlalu memusingkan modelnya, sebab aku mau jahit kebaya aja beliau sudah cukup senang.  Yang mendapat kehormatan ketok palu model kebayaku justru bapakku.  Secara garis besar bapak meminta kebaya harus sopan, ga ada adegan bagian dada tumpah ruah dan harus sederhana.

Dalam hal kebaya ini, aku satu selera dengan bapak yang menyukai potongan sederhana dan lembut.  Good bye kebaya Anne Avantie yang cenderung meriah dan mewah.  Aku menyukai kebaya rancangan Vera Anggraini yang lebih klasik, ringan dan lembut.  Ini dia sketsa kebaya yang aku dan bapak pilih :

Kalau difikir-fikir, untuk urusan kebaya dan songket, aku menempuh cara-cara tidak lazim.  Misal nih, songket Tarutung (bukan songket Palembang lho) dijahit di Tarutung, brokat beli di London.  Setelah brokat aku terima di Genova, tuh brokat masih keliling lautan dan beberapa negara lainnya sebelum tiba di Jogja.  Brokat itu aku titipkan pada salah satu kru kapal yang kebetulan mau pulang ke Jogja. Sebelum pulang ke Indonesia, dia masih harus ke Barcellona dulu dan beberapa negara lainnya.   Seru!  Makasih banyak, Mas Andi.  Jasamu tak akan kulupakan.

Sketsa kebaya pemberkatan

Sketsa kebaya pemberkatan

Bagaimana menyelesaikan urusan ukuran badan?  Kebetulan aku punya kebaya yang dijahit 9 tahun lalu dan ukurannya masih pas di badanku, hmmm…agak sempit sih.  *umur ga bisa bohong.  Ibuku mengirim selendang songketku plus  2 kebaya (warna hitam dan pink) ke Jogja sebagai panduan.  

Kebaya hitam pendek sebagai patokan ukuran badan, sedangkan kebaya pink sebagai patokan panjang kebaya.  Nah, selendang songket adalah panduan untuk milih warna payet.  Semua serba main kira-kira.  Kurang lebih, hasil akhirnya seperti foto di bawah, cuma beda bagian leher dan bawah kebaya aja.  Semoga hasilnya sesuai dengan harapan, terutama ukuran badan.

Mari membandingkan harga jahit kebaya di Bandung dan Jogja (terutama di tempat aku jahit kebaya ini).  Di Bandung, ongkos jahit 1 kebaya pengantin sederhana (pendek/sepinggang) berkisar 2 juta sampai 3 juta rupiah.  Payet cuma bagian tertentu saja, biasanya leher/dada dan pergelangan tangan.  Kalau full payet harganya lebih ngeri lagi, bisa sekitar 8 jutaan (tergantung model dan panjang kebaya).  Lalu, berapa tarif di Kebaya Laksmi Anjani?

Kurang lebih seperti ini

Kurang lebih seperti ini

Yang aku suka, di Laksmi Anjani ongkos jahit dihitung per item, untuk jahit Rp. 250.000, bustier 300.000 dan payet start dari Rp. 500.000 untuk payet bagian dada/leher dan pergelangan tangan.  Enak, bisa disesuaikan dengan keadaan kantong.  Khusus brokat Prancis seperti punyaku, dikenakan biaya jahit tambahan Rp. 200.000 (diskon, charge awal Rp. 250.000).

 Memboyong jahitan ke Jogja juga merupakan salah satu langkah strategis yang kita akui cukup membantu menekan pengeluaran.  Rencananya mau jahit 3 kebaya.  Kerasa banget kan penghematan yang berhasil kami lakukan?

Tadi What’sappan dengan mbak Iin (pemilik Kebaya Anjani).  Katanya, akhir bulan kebayaku sudah jadi.  Semoga hasilnya sesuai harapan ya sodara-sodara.

Salam hangat,

Lintasophia

Foto dari Google dan koleksi pribadi

Yang Belum Beres… (Part. 1)

Aduh, aduh…  Udah setahun ga ngeblog *hiperbola.  Bener tho, terakhir nulis itu tahun 2013 lalu dan sekarang udah 2014. ;).  Sebelumnya, mau nyapa kalian semua.  Apa khabar?  Semoga hari-hari kalian tetap hangat dan menarik di tengah situasi politik dan cuaca yang ga bisa diprediksi.

Eh iya, sebelumnya mari kita ucapkan selamat menempuh baru untuk Henskih  (temen baikku pas kuliah jadul)  yang kemaren baru saja melepas masa lajangnya.  Ikut seneng, Henskih.  Kita akan setia menunggu foto-foto dan cerita dirimu.  Akhirnya terlewati juga ya masa persiapan yang kadang bikin perang-perang kecil dengan pihak di kanan, kiri, atas bawah.  Sekarang tinggal aku yang dalam beberapa hari ini kejar tayang menyelesaikan beberapa eh banyak item.

*****

Dulu, waktu  bantuin nikahan kakakku rasanya senang  aja, padahal itu pesta besar.  Giliran bagianku, syukurannya kecil tapi butuh kesabaran besar.  Baiklah, karena intronya udah terlalu panjang, mari kita melirik item yang belum beres, hampir beres dan tidak beres sama sekali.  Intinya, malam ini kita akan berbicara tentang  sesuatu yang tidak beres.

1. ADMINISTRASI

Diantara semua proses persiapan pernikahan yang kami lalui,  selain masalah finansial *ehem, masalah administrasi menempati urutan kedua yang memakan waktu paling lama.  Seingatku, pertengahan 2013 Mas Ipung daftar untuk Katekisasi Sidi baru 6 bulan kemudian dibaptis (27 Desember lalu).   Apakah beres baptisan lantas bisa langsung mendaftar nikah di Bandung?  Tidak, saudara-saudara.  Masih ada yang harus dilengkapi, seperti Surat Pengantar (untuk menikah) dari GKJ.

Setelah Mas Ipung megang surat baptis, baru boleh mengurus  dokumen lain, yakni ;  KTP dan KK untuk mengubah data-data terkait dengan berganti keyakinan yang kemarin ditempuhnya.    Kalau ga salah, untuk KTP dan KK udah beres.  Tentang KTP dan KK sejujurnya aku lupa lagi.  Beberapa hari terakhir ngurusin undangan dan souvenir.  Mak jleb, sebulan lagi nikah, undangan baru masuk tahap desain.  Sedangkan untuk Surat Pengantar, sekretaris gereja berjanji bahwa hari Minggu ini uda beres.  So, hari Minggu malam dengan kereta api tercinta, Mas Ipung bisa meluncur ke Bandung.

Katekisasi berlangsung selama 6 bulan dengan pertemuan 1 x seminggu selama 1,5 hingga 2 jam.  Itu berlangsung selama 3 bulan pertama.  Sedangkan 3 bulan berikutnya lebih intensif, sekitar 2 kali seminggu karena disisipi juga konseling pra nikah.  Sejak bulan November atau 2 bulan sebelum baptis lebih sibuk lagi.  Selain jadwal katekisasi sidi dan konseling pra nikah yang jadwalnya telah tetap, Mas Ipung lebih sibuk lagi karena menyiapkan keperluan baptisan dan Natal yang memang berdekatan waktunya.

2.  UNDANGAN

Undangan molor bukan semata kelalaianku tapi karena orang tua bersikeras undangan diurus HANYA jika masalah administrasi beres.  Ternyata date line administrasi meleset dari dugaan kami.  Iyalah, kalo ini kan mutlak wewenang pihak ketiga alias gereja yang membaptis Mas Ipung.  Kebetulan kemarin bersamaan dengan hari Natal dan Tahun Baru,  banyak kegiatan di gereja.  Mas Ipung juga ga enak bolak balik minta surat pengantar.

Padahal sejak Oktober aku sudah minta bapak dan ibuku membuat draft/kalimat yang akan disusun di undangan.  Aku sendiri punya alasan sendiri kenapa pengen beresin undangan jauh-jauh hari.  Biasanya sekitar November dan Desember kerjaan di sini bejibun.  Daripada nanti semua dikerjain terburu-buru.  Belum tentu nyetak undangan tepat waktu atau semua lancar jaya.  Tapi gitu deh, bapak ibuku ga setuju cetak undangan sebelum semuanya pasti.  Katanya, pamali.  Benar saja dugaanku, bapak dan ibuku beberapa hari ini mulai panik karena undangan belum beres.

Cover depan undanganSetelah adu argumentasi yang kesekian kali dengan ibuku, tiba-tiba tuh draft undangan udah nongol aja di inbox FB-ku.  Beruntung Adeku lumayan jago masalah desain.  Ga nyampe beberapa jam beres deh lay out undangan.  Tuh kan, yang susah itu menyatukan visi dan cara pandang.  

Kalo udah dibenturkan pada kebutuhan yang sama (dalam hal ini undangan segera naik cetak), maka semuanya mudah dan cepat.  Coba dari kemaren mau ngikutin run down-ku, bisa hemat energi tanpa naik tensi.

Undangan yang aku dan Mas Ipung pengenin harus sederhana, ringan, tidak banyak motif dan tanpa foto.  Iyalah, buat apa pake foto, secara yang dateng juga keluarga inti dan sahabat dekat yang sama-sama udah kenal wajahku dan Mas Ipung. Lalu, undangannya juga cukup 2 lembar agar mudah pengerjaannya dan murah pembayarannya.  *penganten irit.

Ini contekan undangan yang kita mau.  Pertama kali Adeku lihat dia takjub akan pilihanku.  ”Beneran ini cover undangannya?  Sesederhana ini?”  Tanya adeku.  Lalu secara halus ia menawarkan template-template undangan lain yang kira-kira mendekati seleraku.  Ga tau kenapa, aku dan Mas Ipung udah cukup sreg dengan undangan minimalis ini. Kertas bagian dalamnya nanti warna peach dengan border abu-abu.  Semoga nemu percetakan yang bisa diajak SKS (Sistem Kebut Semalam).  Atau kalo kepepet, print dan tempel sendiri deh.

3.  SOUVENIR

Souvenir tersendat karena yang ngurusnya (dalam hal ini Mas Ipung) sibuk pisan.  Alasan lain, karena kita tidak butuh souvenir dalam jumlah banyak, maka souvenir bisa diurus belakangan.  Dan ternyata saudara-saudara, souvenir itu harus dipesan paling tidak 3 bulan sebelumnya.  *nangis.

Ok, tenang…tenang…sebetulnya ga sehoror itu, tergantung jenis souvenirnya sih.  Awalnya untuk menyenangkan hati ibuku yang dari dulu terobsesi ama souvenir kipas, maka kita sepakat akan mengambil kipas sebagai souvenir.  Di lapangan, minimum order untuk kipas adalah 200 pieces, sedangkan kebutuhan cuma 150 buah (maksimal).  Akan dikemanakan sisa souvenir?  Walau harganya ga seberapa, kita berusaha untuk tidak membuang/membayar sesuatu yang ga perlu.  Bisa sih beli kipas secara eceran tapi harganya lebih mahal.  Lumayan selisihnya untuk nambah payet kebaya….halah… *ga mau rugi.

Gelas sablon wayangRembukan lagi, pilihan jatuh pada gelas dan aku suka banget opsi ini.  Minimum order tetep 200 buah, tapi kalo sisa kan masih bisa dipake sebagai modal awal berumah tangga…kekekkkekeke… Jelek-jeleknya, nih gelas masih bisa dipake orang rumah.  Atau bagiin ke sodara.  Alasan lainnya, bentuknya lebih besar dari kipas tapi harganya lebih mini.  Selisih harga gelas dan kipas cukup untuk luluran.

Waktu berjalan, tahun 2013 terlewati.  Baru beberapa hari ini kembali ngurus nikahan termasuk souvenir. Mulailah Mas Ipung survey gelas sablon.  Di sini kejutan demi kejutan  kita temui.  Mulai dari stock gelas yang kosong hingga full of order .  Kira-kira, calon penganten lainnya bikin souvenir dari berapa bulan sebelumnya ya? Padahal seandainya bikin souvenir butuh 1 bulan pun masih masuk run down kita kok.  Duh Gustiiiii…

Kejutan lainnya,    ternyata saudara-saudara  harga gelas naik.  Ga kira-kira pula naiknya.  Jika sebelumnya di price list berkisar Rp. 3.500-an, sekarang sekitar 5.000 bahkan Rp. 6.500.  Nangis, ga jadi luluran!

4.  PITA MOBIL PENGANTEN

Yang ini ga terlalu krusial.  Ntar kita ga nyewa mobil penganten, abis mehong ciiiiin.  Kisaran harga 1,5 jt-2,5 jt.  Lupa jenis dan tipe sedannya.  Tapi kemaren Bang Dani ngasih up date harga sewa mobil penganten, masih sekitar segitu.  Berhubung kita penganten irit dan cenderung pelit, maka mobil penganten dicoret dari list.  Sebagai gantinya, kita pake mobil yang ada di rumah.  Sedangkan untuk orang rumah  kita akan sewa semacam elf atau minibus.  Aku dan Mas Ipung ga mau bayar mahal untuk mobil penganten karena nantinya juga cuma dipake sekitar 4 jam saja dengan rute : rumah ke gereja setelah itu ke lokasi acara.

Pertama kali dengar ide ini, ibuku rada shock juga karena bukan hal yang lazim terutama di keluarga besarku.  Tapi untunglah akhirnya beliau mengerti kondisi keuangan anak-anaknya ini yang cenderung tidak menggembirakan beberapa waktu belakangan.   Sekarang tinggal hunting pita untuk mobil penganten.  Sudah survey harganya di ebay, sekitar 7 – 10 euro (Rp. 160 ribuan).  Kebayang kan berapa rupiah yang bisa kami tekan dengan cara ini?

Disisi lain, kita memang masih harus menyediakan mobil untuk keluarga besar yang datang dari luar kota.  Nah, kalau nyewa elf  (harga sewa memang lebih mahal dari avanza dan sejenisnya), tapi pengeluaran akhirnya sama aja, karena kita cukup mengisi bensin untuk 1 mobil dan bayar 1 orang supir saja.  *insting auditor keluar.

Kira-kira itulah item persiapan yang belum beres, part 1 lho.  Masih ada part 2 yang aku harap sih ga terjadi.  Semoga semua lancar jaya… Amin.

Salam hangat,

Lintasophia

My Wedding Preparation ; Akhirnya Ada Progress

Sekitar awal Oktober lalu, jadwal tunangan dan pemberkatan pernikahanku di-acc dan diumumkan oleh gereja melalui Warta Jemaat.   Perasaanku campur aduk.  Merasa senang karena salah satu masalah krusial terjawab.  Di sisi lain, masih kaget, linglung dan lemas…halah…  Serius, reaksiku saat itu : Oh my God, berarti beneran ya aku bakal nikah?  Astaga, berarti ntar ganti KTP dan bikin Kartu Keluarga (KK) terpisah dari ibu dong?

Atau, pertanyaan seperti ini : Gila, trus nanti aku harus masak apa setiap hari?  *buru-buru Googling resep-resep praktis… hahahahah…  Serius pula, aku mendadak panik.  Dari yang tadinya santai banget kayak di pantai, tiba-tiba blank!  Ga tau mau ngomong atau mikir apa.   Masih harus adaptasi status dari pacar menjadi calon istri.  Tuhan, sekarang si gue adalah calon penganten.  *tutup muka, ketauan ga siap mental.

Hal pertama yang kita lakukan setelah dapat jadwal tunangan dan pemberkatan adalah bayar DP venue.  Bapak dan ibuku yang ngurus masalah ini.

”Berarti bener ya aku bakal nikah? ”  Batinku waktu itu kayak orang bangun kesiangan,  sambil baca BBM ibuku yang melaporkan telah membayarkan DP venue.  Antara sadar dan ga sadar,  tergagap-gagap sambil melotin kalender.  Astaga, 4 bulan lagi saudara-saudara dan kita belum nyiapin apa-apa.  *mulai panik, lempar selimut.    Jangan ditiru ya, temans…

”Bisa ga ya semua printilan ini di-skip,trus  tau-tau bulan madu aja?”  Teriakku ke Mas Ipung.  Aku mulai uring-uringan demi melihat list dan batas waktu yang ternyata udah mepet…pet…pet…  Apalagi kalo ada pertanyaan ; udah nyampe mana, suvenirnya apa, kebayanya mana?  Hiiiii….*nangis beneran.

Bisa dibilang, sejak keluarnya jadwal tunangan dan pemberkatan merupakan titik balik aku dan Mas Ipung serius memikirkan pernikahan ini.  Ga mungkin mundur.  Intensitas berantem pun mulai meningkat. *ukur tensi.   

Mulai deh bongkar-bongkar email, menandai penawaran dari berbagai vendor pernikahan.  Mencatat dan menghitung ulang pos-pos pengeluaran.  Merapikan jumlah undangan yang  (padahal) jumlahnya tidak seberapa….  Memang kalau ingin sound system eh konsisten dengan pernikahan sederhana, langkah pertama dan mungkin terberat adalah membatasi banget jumlah undangan.  Azas tega harus diterapkan dalam hal ini…. *saran Uni.

Baiklah, agar sesuai dengan judul, mari kita lihat progress apa saja yang sudah terjadi dalam persiapan sederhana ini ,

A.  MARTUMPOL (TUNANGAN)

Hari dan tanggal : Sabtu, 22 Februari 2014

Waktu                    : pukul 11.30 – 13.00

Venue                    : HKBP Bandung Timur, Jln.  Jakarta No. 11 Bandung

Catering                : snack kotak  yang dibagikan seusai kebaktian.  Untuk keluarga inti, makan siang biasa di rumah (masak sendiri)

Busana                 : – kebaya belum tau dari mana, belum beli bahan 😉

–                               – Tenun Basana.  songket Tarutung, in processing ditenun di Tarutung (Sumatera Utara) sana.

Dokumentasi    :  pake jasa Joni Boy (kakakku).  Aku dan Mas Ipung memasrahkan diri saat Kombet alias Joni meminta ijin terlibat (baca : latihan moto) saat pernikahanku.  Mumpung ada momen, katanya.

Make Up             : Teh Tiara (perias langganan keluarga).  Masih harus DP nih untuk booking tanggal.

B.  PEMBERKATAN PERNIKAHAN

Hari dan Tangal   : 1 Maret 2014

Waktu                    : pukul 11.30 -13.00

Venue                    : HKBP Bandung Timur

Jln.  Jakarta No. 11 Bandung

Busana                  : songket mesen ke Kak Rotua, (Tenun Basana)  sedangkan kebaya rencananya baru mau beli bahan bulan depan.

Dokumentasi      :  Joni Boy dan kawan-kawan

Make up               : Teh Tiara

C.  SYUKURAN

Hari dan Tanggal              : 1 Maret 2014

Waktu                                 : pukul 14.30 – 19.30

Venue dan catering        : Rumah Kebon Cengkeh  (Bojongkoneng – Cikutra), Bandung

MC and entertainmet   : Sebayang Music.  Ini request ortu, kudu ada lagu-lagu Batak.  No lagu Batak, no party…. *ancaman ibuku.

Busana                              : tetep pakai baju pas pemberkatan.

Make up                           : Teh Tiara

Sementara itu dulu list yang sudah fix.  

Beberapa printilan yang masih harus diselesaikan adalah :

1.  Kebaya

Ini  salah satu paling krusial dan bikin ibuku pusing melihat betapa santainya aku dan Mas Ipung.  Aku mau make kebaya kutubaru, tapi belum yakin untuk jahit sendiri, mending nyewa ajalah.  Tapi pas nerima price list sewa kebaya dan model-model kebaya, ide sewa kebaya terpaksa dicoret.   Kebaya kutubaru yang aku inginkan adalah sebuah kebaya sederhana dan pendek.

Kebanyakan model kebaya yang disewakan model princess (model kebaya Ashanty), berekor panjang (sementara aku pengennya sepinggang atau sepinggul aja) dan terlalu banyak payet.  Huahahahha, bener-bener bukan kebaya yang aku inginkan.  Kebaya-kebaya yang aku sebutkan barusan, harganya memang mahal, mungkin karena itu  harga sewanya juga lumayan, walau jatuhnya lebih murah nyewa sih.  Tapi untuk kasusku yang butuh kebaya sederhana, maka bikin sendiri adalah pilihan tepat…*peluk ibu.

2.  Undangan

Udah ada sih beberapa ide undangan, tinggal ketok palu.  Ide awalnya cuma makan siang biasa setelah pemberkatan, maka  kita ga kefikiran bakal bikin undangan,.  Cukup by phone atau SMS/email/FB.   Tapi ternyata hal ini kurang berkenan di hati ibuku.  Jadilah urusan undangan nyempil diantara hal lain yang harus disiapkan.

3.  Suvenir

Ini salah satu yang aku dan Mas Ipung kurang serius menyiapkannya.  Kadang pengen ngasih suvenir untuk para undangan, tapi sering mikir ; penting ga sih?  Kalau pun pengen ngasih suvenir, dari dulu udah kefikiran suvenir itu sambal teri kacang buatan ibuku, masukin stoples kecil,  kasih stiker dan pita unyu-unyu gitu.  Porsi 1 stoples untuk 2 orang.  Tapi ibuku ga suka ide ini.  Siapa yang bakal menggoreng dan menyambal?  Beberapa waktu belakangan ini kesehatan ibuku menurun.  Sambal teri kacang dicoret dari list.  Sedangkan ide ibuku, ga jauh dari kipas, notes atau gantungan kunci.  Tampaknya, ibuku terobsesi sama yang namanya kipas tangan.

4.  Cincin Nikah

Apalagi yang ini, masih gelap urusannya.  Liat ntar aja deh pas mudik, hunting bareng Mas Ipung.  Paling ga kita ngerasain seperti calon penganten lain sibuk hunting-hunting.

Sementara, itu dulu list-list yang sudah final dan yang masih semi final. 🙂   Untuk venue, songket, dokumentasi dan lain-lain akan direview secara terpisah berdasarkan item atau vendornya.  Terima kasih untuk keluarga, teman-teman dan para vendor atas bantuannya. 

Salam hangat,

Lintasophia

Our Wedding Songs

Sejak memutuskan untuk menikah,  aku jadi rajin nulis. terutama masalah pernikahan dan printilannya.  Mumpung timingnya pas dan lumayan untuk kenangan-kenangan.  Semoga kalian tidak bosan ya…

Kita mau menikah secara sederhana, maka fokus utamaku dan Mas Ipung adalah prosesi pemberkatan.  Diibaratkan sebuah film, prosesi pemberkatan adalah pemeran utama, sedangkan makan siang adalah pemeran hiburan….hihihihi…  Beruntung kita akan mengambil paket pernikahan,  jadi serasa punya WO yang bantuin ngurus ini itu.  Untuk urusan undangan, suvenir, songket, perias dll kita sudah kontak.   Tinggal bayar tanda jadi saja begitu jadwal pemberkatan diputuskan oleh gereja.

Nah, sambil nunggu jadwal pemberkatan,  aku  akan cerita tentang lagu-lagu yang bakal ada di pemberkatan nanti termasuk alasan pemilihan lagunya.  Susunan acara dan lagu-lagu selama pemberkatan biasanya sudah ada tata cara tersendiri.  Namun masalah lagu dan acara masih boleh dirubah asal tidak mengubah pakem yang ada.  Dan pastinya selama disetujui majelis gereja. 😉   Ok, ini 2 lagu utama pas pemberkatan nanti ;

1.  If you’re not the one  (Daniel Bedingfield)

Alasan :

Ga ada alasan khusus milih lagu ini.  Kebetulan aja lagu Christina Perri (Thousand Years) atau From This Moment-nya Shania Twain sudah terlalu sering jadi lagu kawinan.  Mungkin pengen sedikit beda aja… *nyari alasan.   Jujur, aku dan Mas Ipung ga punya banyak lagu kenangan yang bisa dipakai referensi untuk pemberkatan.  Maklum saja, 11 tahun pacaran jarak jauh,  kalau bertemu pun setiap mudik, maksimal 10 hari itu tidak selalu ada lagu-lagu yang menyertai.  Minim lagu.  *nasib cinta jarak jauh.

Eh ada deng beberapa lagu hits pas aku mudik dan jalan bareng Mas Ipung.    Sekitar 2006 ada lagu dangdut judulnya : SMS Siapa ini, Bang?  Yang mau nyari di Youtube, penyanyinya Ria Amelia.  Liriknya seperti ini :

Bang, SMS siapa ini Bang

Bang , pesannya pakai sayang-sayang…

Hehehe, ga mungkin banget kan lagu dangdut beraroma Minang ini dipakai pas pemberkatan?

Lagu lainnya yang sempet booming, seluruh penjuru toko di Yogya menyetel lagu ini, saling bersahut-sahutan.  Apalagi kalau bukan Ayat-ayat Cinta yang dinyanyikan oleh Rossa.  Lagu ini lebih slow dan romantis tapi tetep aja tidak ada chemistry sebagai lagu untuk pemberkatanku nanti.   Beberapa temen juga merekomendasikan lagu tapi aku lebih klik dengan Daniel Bedingfield.

Setelah lama baru aku bisa menemukan jawaban kenapa keukeuh akan lagu ini.  Dulu banget, pas kita baru jadian, lagu ini populer banget.  Kalau ga salah, kita dengerin lagu ini pas nginep di rumah Echi di Puri Cipugeran  (Cimahi), sekitar bulan April 2003.  Buset, aku sampe apal gini.  Dulu mah ga kefikiran nikah make lagu ini.  Boro-boro kali mikir sejauh itu, wong baru sebulan jadian.  Aku suka liriknyaaaaa….

If you’re not the one

Why does my soul feel so glad today?

If you’re not the one

Why does my hand fit your this way?

If you’re not the mine

Then why does your heart return my call?

If you’re not mine

Would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings

But I know your here with me now

We’ll make it through

And I hope you are the one I share my life with

Lirik selanjutnya bisa dilihat di Youtube sambil nyanyi-nyanyi.  Ada kalimat yang bagus banget, selain yang aku bold di atas :

And I pray that you are the one

I build my home with…

I hope I love u all my life…

Bagus banget ya.  Seakan-akan lagu ini diciptakan untuk aku dan Mas Ipung… *ngakak guling-guling.   Sayang kalau lagu bagus seperti ini diacuhkan… *masukin ke list.

Jadi, lagu ini akan dipakai pas aku dan bapak tiba  gereja.  Bapak yang akan nganter aku nemuin Mas Ipung yang udah nungguin di altar.  Prosesi  ini kita pilih sebagai bentuk penghargaan kita pada bapak atas andilnya memuluskan pernikahan sederhana.  Rasanya ga ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa terima kasihku dan Mas Ipung atas kebesaran jiwa bapak.  Makanya, detik-detik terakhir melajang, pengen dilewatkan dengan bapak.  *anak papi.

2.  Nang Gumalunsang Angka Laut  (Dipopulerkan oleh Victor Hutabarat)

Lirik :

Nang gumalusang angka laut,   (Walau laut bergemuruh)
Nang rope halisungsung i,   (Walau angin besar datang)
Laho mangharophon solungki.   (Hendak mengkaramkan kapalku)
Molo Tuhan parhata saut,   (Bila Tuhan  berkehendak)

Mandok hata na ingkon saut,  (Maka kehendak-Nya jadilah)

Sai saut doi, sai saut doi, sai saut doi.   (Maka terjadilah, terjadilah)

Ndang be mabiar ahu disi,   (Aku tak takut lagi)
Mangalugahon solukki,    (Mengayuh kapalku)
Ai Tuhanku donganki,    (Karena Tuhan besertaku)
Tung godang pe musukki.   (Meski banyak musuhku)
Na mangharophon solungki,    (Yang ingin mengkaramkan kapalku)
Sai lao do i, sao lao do i sian lambungku i.   (Semua itu akan jauh, jauh dari sisiku)

Hatop marlojong do solukku tu labuhan na sonang,  (Kapalku melaju kencang menuju kebahagiaan)
Naso adong be dapot hasusahan i.  (Aku tak lagi merasa susah)
Tudos tu si nang pardalanan ki,   (Walau ke mana perjalananku)
Laho mandapothon surgo i.   (Untuk mendapatkan surga)

Reff:

Sipata naeng lonong do ahu,   (Kadang aku nyaris tenggelam)
So halugahan galumbang i.  (Betapa gelombang tak terlawan)
Tudia ma haporusanku i,  (Kemana kubawa kesedihan ini)
Ingkon hutiop tongtong Jesus i.  (Tangan Yesus selalu kupegang)

Ditogu-togu tanganku,  (Ia menuntun tanganku)
di dalan na sai maol i.  (Di jalan yang sulit itu)
Di parungkilon hasusahan,  (Sekalipun dirundung kesusahan)
Tung Jesus haporusan ki.   (Cuma Yesus harapanku)
Nang pe di dalan lao tu surgo,  (Dalam perjalanan mencari surga)
Diiring Jesus ahu disi.  (Tuhan selalu bersamaku)

*alih bahasa ala Lintasophia

 *****

Hari Minggu kemarin pas aku minta ijin lagu ini dipakai pas sungkeman, ibuku langsung nangis.   Beliau terharu banget.  Lalu aku inisiatif menyetel lagu Nang Gumalunsang Angka Laut di youtube.  Lewat Skype, aku dan ibuku nyari bareng.   Suara ibuku timbul tenggelam.  Terpotong antara mengatur nafas, bernyanyi, menangis dan menghafal lirik yang kadang tidak cocok dengan tulisan yang muncul di layar komputerku.  Sangat emosional.  Masih 5 bulan lagi, tapi ibuku udah nangis kayak mau ditinggal jauh.  Apa setiap ibu akan seperti ini jika anaknya menikah?  Aroma nikahannya udah kecium banget.

” Aku masih ga percaya Nita mau nikah.”  Kata ibuku sambil nyanyi dan nangis.  Usahaku meredam tangisnya sia-sia.   Duh,  baru dengerin lewat telfon aja ibuku udah begini, apalagi pas pemberkatan nanti.  Curiganya mah, tissue doang ga akan cukup.  Tampaknya perlu dipertimbangkan untuk menyediakan handuk.  Semoga semua fihak bisa mengendalikan diri pas hari H nanti.

Alasan memilih lagu ini :

Dari sekian banyak lagu rohani, dari dulu aku suka lagu ini terutama kalau beban lagi berat-beratnya.  Lagu ini menggunakan banyak sekali bahasa personifikasi alias ungkapan-ungkapan.  Bercerita tentang sebuah sampan, dalam hal ini tentu saja bisa diartikan sebagai pribadi, pasangan bahkan rumah tangga.

Walau angin besar dan badai menghadang hampir membuat kapalku karam.  Berkat Tuhan Yesus sampanku bisa bertahan dan melaju kencang.    Intinya seperti itu.  *alih bahasa ala Lintasophia.

Sampai hari ini, aku dan Mas Ipung adalah pasangan berbeda keyakinan.   Officially Mas Ipung belum dibaptis.  Berdasarkan jadwal GKJ, rencananya November Mas Ipung baru dibaptis.  

Aku ga tahu kapan persisnya Mas Ipung mulai ke gereja,  sebab semua proses ia jalankan secara diam-diam.  Mungkin sekitar tahun 2008.  Lalu, kenapa ga dari dulu dibaptis?  Kalau ini sebagian besar adalah karena keras kepalaku.  Bagaimana bila ga berjodoh?  Mungkin aku akan merasa bersalah… Pokoknya, sejuta ada sejuta bagaimana…bagaimana kalau…

Kalo inget bandelnya aku selalu menahan Mas Ipung untuk baptisan, rasanya emosi jiwa.  Padahal selama bertahun-tahun, Mas Ipung rutin kebaktian, persekutuan dengan adik-adik Papua.  Bahkan, di rumah juga suka ada persekutuan doa oleh tetangga seiman atau GKJ deket rumah.  *siram kepala pakai air es.

Ibuku memuji bahwa memakai lagu ini pas pemberkatan nanti sebagai pilihan tepat.   Dalam lagu ini ada doa setiap orang tua yang akan melepas anaknya memasuki biduk rumah tangga.  Kembali ibuku mengeluarkan jurus-jurus bertahan dalam pernikahan Kristen.  Ibarat kata, menikah itu serupa mengayuh sampan di atas lautan.  Angin dan gelombang bisa datang kapan saja berusaha mengkaramkan sampanmu.  

”Tetap pegangan, saling berpegangan…”  Seru ibuku.  

”Ok, mom.”

”Walau banyak badai, akhirnya menikah juga.”  Sambung ibuku lagi, mengingat belakangan ini banyak banget cobaan menghampiriku.

”Iya, menikah dalam badai.”  Kataku…

Salam,

Lintasophia

Test Food di Rumah Kebon Cengkeh

Seperti janjiku pada postingan sebelumnya untuk mereview hasil menyelusup alias test food di Rumah Kebon Cengkeh, maka ini laporan pandangan mata bapak, ibu, Kak Linda dan suami, Risma dan suami juga Ilen anak mereka.  Jangan kaget jika yang berangkat survey  satu kampung.  Ini demi sportifitas dan netralitas penilaian…huahahahhaha…

Berdasarkan informasi dari bu Nani, bahwa selamatan kemarin, pengantin mengambil catering Dendrobium, sama dengan catering yang rencananya akan kuambil.  RKC sendiri menyediakan berbagai paket, yakni :

 

PAKET PERNIKAHAN I : (Rp.  32.250.000 untuk 200 orang), akan mendapat fasilitas sebagai berikut :

Venue      : rumah Joglo, patio, rumah pohon, taman, lahan parkir, wisma bougenville 1 lantai.

Dekorasi : pelaminan standar, meja penerima tamu, kotak amplop, janur umbul-umbul

Catering : Dendrobium A @ Rp. 52.500/pax (buffet 100 % + 3 desserts + 3 stall)

 

PAKET PERNIKAHAN II : (Rp. 34.250.000 untuk 200 orang), akan mendapat fasilitas sebagai berikut :

Venue            : rumah Joglo, patio, rumah pohon, lahan parkir, wisma Bougenville 1 lantai

Penginapan : menginap 1 malam di wisma Bougenville untuk 10 orang dan villa Cattleya untuk 2 orang.

Dekorasi      : pelaminan standar, meja penerima tamu, kotak amplop, janur umbul-umbul

Catering      : Dendrobium B @ Rp. 57.500/pax (buffet 100 % + 4  desserts + 4 stall)

 

PAKET PERNIKAHAN III : (Rp. 37.750.000 untuk 200 orang), akan mendapat fasilitas sebagai berikut :

Venue            : rumah Joglo, patio, rumah pohon, lahan parkir, wisma Bougenville 1 lantai.

Penginapan : menginap 1 malam di wisma Bougenville untuk 10 orang dan villa Cattleya untuk 2 orang.

Dekorasi       : pelaminan standar, meja penerima tamu, kotak amplop, janur umbul-umbul

Catering       : Dendrobium B @ Rp. 57.500/pax (buffet 100 % + 4 desserts + 4 stall)

MC dan entertaiment, dimana pilihannya :

A.  Keyboard and singer

B.  Akustik (gitar, saxophone/biola, cajon/drum, keyboard dan vokalis)

C. Keroncong trend (gitar, violin, flute, ukulele, cello, bass dan vokalis.

Pada dasarnya, terdapat 5 paket pernikahan yang ditawarkan RKC.  Namun sementara ini aku batasi menulis 3 paket pertama yang kemungkinan aku pilih.  Untuk info lainnya, aku bisa mengirimkan detail pake pernikahan IV dan V by email, termasuk detail paket-paket catering lainnya.

 

Saat  Menyelusup di RKC

1.  Dekorasi

Pernikahan dilaksanakan sore hari, suasana remang-remang gitu deh.  Bapak dan ibuku terpikat dengan dekorasi sederhana sore itu.  Untuk bisa menilai secara obyektif, bapak dan ibuku harus meninggalkan konsep dekorasi pernikahan di gedung yang selama ini mereka temui.   Lokasi yang didekor cukup luas, meliputi rumah Joglo, rumah pohon hingga kebun.

Hasil hitungan di kertas, bila dekor seperti itu dilakukan di gedung, cukup menguras dompet juga.  Jadi sebetulnya, harga sewa venue dan dekorasi di RKC hampir sama jika kita menyewa gedung (tergantung harga sewa dan luas gedung).  Tempo hari, aku sempat survey harga sewa tenda dan dekor garasi, halaman depan dan samping (tidak termasuk bagian dalam rumah),  ternyata nembus 10 jeti, dapet bonus beberapa kursi lipat Chitose.  Itu harga persahabatan dari penata rias langganan keluarga.  *kepala kejatuhan bata.

Masalah tingginya biaya dekor bisa disiasati dengan membaca baik-baik paket pernikahan yang ditawarkan vendor.  Umumnya, setiap pemesanan catering minimum 1000 pax, sudah termasuk dekor standar baik untuk gedung, pelaminan dan buffet.  Tinggal cocokan dengan kebutuhan dan budget kalian.  Sayangnya, paket catering including dekor tidak berlaku pada kasusku karena  perkiraan tamu yang hadir maksimal 300 orang (bukan 300 undangan).  Itu udah termasuk anak-anak kecil.  Salah satu kelemahan small wedding, memang harus cermat menghitung jumlah kepala tamu yang akan hadir.

Resepsi besar umumnya jumlah undangan x 2.  Sedangkan untuk mengantisipasi jumlah undangan diluar dugaan, biasanya total catering ditambah 20 % sebagai makanan cadangan.  Balik lagi ke RKC,  bapak dan ibuku tidak sempat menunggu sampai makanan dihidangkan.  Menurut Kak Linda dan Risma, dekor dan suasana di RKC cocok untuk sore hari.   Pendapat yang sama juga dilontarkan orang tuaku.  Namun, agar tidak terlalu capek dan mengantisipasi tamu ogah berlama-lama kena macet Bandung sore hari dan weekend pula, bapak menyarankan untuk jam makan siang saja, selepas pemberkatan di gereja.  Ini ide yang tepat menurutku.

2.  Catering

Menurut Risma dan Kak Linda, makanannya enak-enak, penyajiannya pun menarik.   Cuma, mungkin pas bagianku nanti, makanannya harus lebih asin dikit lagi, maklum lidah Batak.  Beberapa menu yang tidak perlu dilirik adalah : rujak dan jajajanan pasar… Kalau tentang rujak aku sepakat.  Karena lagi-lagi, orang Batak tidak makan rujak.  Namun jajanan pasar masih harus aku fikirkan masak-masak karena dari dulu aku pengen ada jajanan pasar dan tekwan di nikahanku.

Dalam beberapa hari ke depan, aku harus memberi keputusan pada bu Nani.  Sekarang masih nunggu jadwal pemberkatan dari gereja, biar ga bolak balik revisi.  Masih budgetting juga… huahahahah…tetep ini mah.  Maklum, aku dan Mas Ipung takut salah mengambil keputusan.

Intermezzo

Oh ya, kenapa aku bilang peserta test food ini adalah para penyelusup?  Karena biasanya jika kita mau test food, biasanya daftar pada WO atau pemilik catering.  Meski aku sudah melaporkan bahwa orang tua dan kakak serta sepupu akan test food, tapi Kak Linda dan Risma melakukan ritual sebaliknya.  Mereka mah makan dan kenyang duluan baru laporan sama bu Nani.

Keuntungan pakai cara yang ditempuh kakakku ini, kita bisa bebas menilai cara kerja vendor.  Kekurangannya, bisa saja keluarga yang punya hajat memandang aneh atau menyadari ada tamu tak diundang di acara mereka.  Meski ini kecil kemungkinannya.  Biasanya, kita tidak terlalu peduli terhadap tamu yang hadir.  Sekalipun kita tidak kenal, biasanya kita mengira ”tamu tak diundang” ini adalah kerabat dari istri atau suami.  Tapi lagi-lagi hal ini berlaku pada resepsi dengan jumlah undangan banyak.  Pada small wedding, para tamu tak diundang ini mudah terlacak.

Begitu ya review sementara.  Mohon didoakan agar semua berjalan lancar.

Salam hangat,

Lintasophia

Sudah Sampai Manakah?

Serius ga sih kalau aku bakal nikah?  Rata-rata seperti itu pertanyaan teman-teman yang mengetahui aku bakal nikah.  Jawabnya : serius banget!  Trus, persiapannya udah nyampe mana?  Biasanya jawabanku yang tadi akan diikuti pertanyaan seperti itu.  Aku bisa menjawab bahwa persiapan sudah sampai pada jas bapakku dan Mas Ipung… Nah lho?

Iya, setelah  membahas masalah nikahan ini dan mungkin bapak menangkap tanda-tanda bahwa kali ini anaknya yang keras kepala  ini serius, maka bapak langsung menjahitkan jas.  Tidak tanggung-tanggung, langsung 2 jas sekaligus.   1 jas, kalau tidak salah warna abu-abu untuk kebaktian pertunangan di gereja dan jas hitam pas pemberkatan nanti.  Awas lho pak,  nanti jangan lebih cakep dari Mas Ipung… *ngikik.

Agar tulisan tidak terlalu panjang, aku batasi sampai venue Rumah Kebon Cengkeh ya…  Tulisan tentang Galeri Cinde pada halaman yang lain :

1.  VENUE

A.  Rumah Kebon Cengkeh (www.rumahkeboncengkeh.wordpress.com)

Persiapan lainnya?  Masih dalam tahap hunting.    Seandainya kemaren konsep acara cepat diputuskan, maka masalah venue bisa cepat terselesaikan.   Aku dan Mas Ipung sepakat untuk semi outdoor.  Alasannya sudah aku ungkapin di tulisan sebelumnya.  Kita butuh suasana yang hangat, intim dan homy.  Rasanya, gedung sekalipun didekor ala pesta kebun tetap  tidak mampu menjawab kegelisahan kita….tsaaahhh…

Sejak tahun lalu, aku dan Mas Ipung udah ngecengin Galeri Cinde dan Rumah Kebon Cengkeh.  Hanya saja, kemarin itu tidak ada rencana menikah tahun depan, jadi kita ga survey-survey pas aku mudik kemaren… Nyesel banget deh.  Kalau sekarang, aku dan Mas Ipung cukup berpuas diri berdasarkan laporan selayang pandang bapak, ibu, kakak dan sepupuku.

Berdasarkan informasi dari Bu Nani (pemilik Rumah Kebon Cengkeh), Sabtu 21 September ini ada nikahan di Rumah Kebon Cengkeh.  Ibu dan sepupu akan maen ke RKC lihat penampilan lokasi sambil icip-icip.  Kebetulan yang akan hajatan mengambil paket yang sama dengan paket yang akan kita ambil.  Semoga hasil icip-icipnya pas di lidah ibuku, biar jadi selametan di sana.

Kenapa sih aku dan Mas Ipung kesannya ”ngotot” banget di RKC?  Jawabnya, karena lokasi yang kita impikan memang terpenuhi di RKC.  Dulu sempat terfikirkan menikah di alam terbuka, dimana kelak bila kami sudah punya anak, kami bisa ajak anak kami berkunjung kembali ke sana untuk liburan.

Berikut alasan utama kenapa memilih RKC menurut versi aku dan Mas Ipung ;

a.  Suasana alam

Ini alasan utamanya.  Apalagi Mas Ipung berlatar belakang pecinta alam dan sampai sekarang masih aktif.    Rumah kita di Bantul juga dikelilingi pegunungan Bukit Menoreh,  dengan hamparan sawah mengepung menuju perumahan sederhana kami.  Mungkin kami juga jenuh dengan hingar bingar kota…hehehheeh….  Nah, RKC ini terletak di Bojongkoneng yang dalam bayanganku memang posisinya berbukit gitu dengan pemandangan kota Bandung.  

Tidak banyak resensi yang berhasil aku kumpulkan dari teman-teman dekat, kecuali Ocha yang sudah pernah dapet job dokumentasi.  Menurutnya, dalam arti positif  RKC patut dipertimbangkan.  Dari segi harga paket yang ditawarkan masih dalam kategori wajar dan tidak mahal.  Sebagai perbandingan,  tahun 2006 Ocha menikah di Puri Setiabudi dengan konsep yang sama (semi outdoor) dan porsi catering yang sama, Ocha membayar dengan harga yang sekarang ditawarkan oleh RKC.  So, hal ini patut dipertimbangkan dalam membuat keputusan.

b.   Rumah Joglo

Mewakili suasana Jogja tempat tinggal kita kelak.  Dulu kita punya angan-angan, sebelum menikah punya penginapan di Jogja dan akan syukuran menikah di sana.  Yang ini nyaris terwujud sampai akhirnya untuk sementara impian ini kandas karena rumah di Bandung sedang bersengketa.  Untuk sementara kita nebeng di RKC dulu deh…   Singkat cerita, kita jatuh cinta pada RKC.  Sayangnya ibuku kurang sreg.   Komentar pertama ibuku setelah survey ke RKC seperti ini :

”Nit, kamu teh serius mau nikah di kebun?”  dengan penuh hormat pada orang tua, aku menjawab secara takzim ”Ya namanya pesta kebun memang di kebun, masak di gedung?…” Maklumlah, ibuku orang tua yang konvensional.  Selama ini beliau mendapat undangan pernikahan di gedung.  Untungnya, setelah melihat  foto-foto RKC di internet, ibuku mulai terbuka fikirannya.  Katanya ” Ternyata bagus ya setelah di dekor.”   Heheheeh… Puji Tuhan!

c.  Fasilitas Lengkap

Untuk kalian yang merencanakan small wedding, pertemuan atau acara lainnya, bisa melirik tempat ini.   Karena RKC juga menyediakan villa (kapasitas 2 orang) dan wisma (kapasitas 10 orang).   Maksimal tamu 400 orang lho…  Jadi, jumlah undangan memang harus dihitung secara teliti.  Keterbatasan tempat di RKC ini bisa kamu pakai sebagai alasan untuk membatasi jumlah undangan.  *smile

d.  Catering

Untuk dapat menggunakan RKC, maka kamu minimal mengambil 3 item, yakni : catering, venue dan dekor.  RKC sudah memiliki catering rekanan dan tidak boleh memakai catering dari luar.  Nah, setiap paket pernikahan sudah termasuk catering untuk 200 pax.  Kekurangan catering tinggal menambah sekitar Rp. 52.500 sampai Rp. 57.500 per porsinya, tergantung paket mana yang kamu ambil.

Untuk paket-paket di RKC, silakan kontak : http://www.rumahkeboncengkeh.wordpress.com.   Berdasarkan pengalaman email-emailan dengan bu Nani, beliau sangat cepat menjawab email yang masuk.  Setelah beberapa kali komunikasi, aku menangkap bahwa bu Nani juga humoris dan funky.  Mungkin karena sering mengurus anak muda yang akan menikah.  Entah nanti jadi atau tidak kita selametan di RKC, aku tetap merekomendasikan RKC sebagai tempat melewatkan momen spesial hidupmu.

Sementara review venue sampai di sini dulu.  Besok-besok kita bahas Galeri Cinde.  Bakal ada review lagi tentang RKC setelah hari Sabtu ini.  Son, don’t miss it.  Sampai jumpa dan salam hangat,

Lintasophia

I

Mendekatnya Pernikahan Idaman

Judulnya asyik banget yaaa… Betul, karena akhirnya aku dan pihak keluarga menemukan kata sepakat mengenai pernikahanku.  Di tulisan sebelumnya memang telah dijelaskan bahwa orang tua sudah kasih lampu hijau bahwa cuma pemberkatan dan makan siang saja.  Tapi saat proses hunting vendor dan budgetting, terungkap bahwa sekedar pemberkatan dan makan siang pun butuh biaya yang lumayan.

Nah, berdasarkan angka-angka di atas kertas, mulai deh ibuku menyarankan untuk menambah dana dikit lagi agar proses adat (sekalipun kecil) tetap terlaksana.  Sayangnya, setelah melakukan penghitungan ulang, tetap saja hal itu tidak dapat kami penuhi.    Rencana awal, jika berhasil melakukan pemotongan anggaran, maka dialokasikan untuk mangadati.  Upaya memotong anggaran tidak berjalan maksimal, karena pada dasarnya anggaran yang kami tulis pun sangat minimalis.  Sedang menambah budget pun tak mungkin, karena kita punya angka maksimal yang boleh dipakai untuk pernikahan ini.

Lalu seperti apa pernikahan yang aku dan Mas Ipung idamkan?  Cekidot…

1.   Sederhana

Hajatan kita harus berlangsung secara sederhana, baik perlengkapan terutama pengeluaran.  Bagaimana membuat tamu senang dan terkesan walau dalam kesederhanaan?  Di situ tantangannya.  Hampir tiap hari aku membanding-bandingkan paket pernikahan yang beredar di dunia maya.  Tidak semata masalah harga yang jadi perhatian, tapi pelayanan staff WO, vendor dan komunikasi jadi perhatian.  Untungnya konsep acara ini sederhana jadi kebutuhan tidak terlalu banyak dan ribet.

2.  Intim dan hangat

Ini juga salah satu point penting yang jadi perhatian kami.  Sangat beralasan, mengingat aku tinggal di Bandung sedangkan Mas Ipung di Yogya.  Pernikahan kami harus menjadi momen saling mengenal antara 2 keluarga besar.  Apalagi hampir 10 tahun ini aku tidak tinggal di Indonesia, maka pernikahan ini lebih tepat disebut sebagai ajang reuni keluarga dan teman-teman.  Keadaan ini didukung pula, masalah keterbatasan dana.  Karena itu kami tidak menyebar banyak undangan.  Pernikahan ini benar-benar cuma akan dihadiri keluarga dan sahabat  terdekat baik secara batin dan geografis.  Mohon pemaklumannya ya untuk kalian yang tidak mendapat undangan.  Mohon doa restunya saja yaaa…

3.  Homy

Yup, hajatan ini milik keluarga dan teman-teman yang hadir.  Mereka tidak boleh merasa canggung dan harus betah layaknya di rumah sendiri.  Rencana awal adalah setelah pemberkatan kita makan bersama di rumah.  Namun keterbatasan tempat membuat kita berfikir ulang akan rencana tersebut.   Walaupun hajatan sederhana dan ala kadarnya, aku dan Mas Ipung sepakat bahwa tamu adalah raja yang harus diperhatikan kenyamanannya.  Siapa sangka, keterbatasan tempat ini justru membuka jalan kami melaksanakan pernikahan impian kami, yakni pesta kebun.  Horeeeee….  Semoga kali ini konsep pernikahan tidak berubah lagi.  Mohon doanya ya temans…

Salam hangat,

Lintasophia