Nasionalisme Lewat Indomie

Beberapa tahun lalu, Indomie merupakan barang langka di sini.  Kalaupun ada, itu pun jarang-jarang dan varian rasa tidak semua tersedia.  Untuk orang Asia, terutama orang Indonesia yang merantau di luar negeri, Indomie bagai dewa penyelamat saat kantong kering (baca : belum gajian) atau sudah sangat lapar tapi tidak sempat masak.  Maka, tidak berlebihan kiranya bila aku menyebut Indomie sebagai P3K (Pertolongan Pertama Pada saat Kelaparan).

Aku lupa, kapan persisnya Indomie ekspansi sampai Genova.  Seingatku, untuk beberapa tahun kami terpaksa makan mie China (sebutan mie instant selain Indomie).  Hingga suatu hari tiba-tiba Indomie nangkring manis di rak salah satu Asian Store.  Kita happy dong, meski harus kuakuin rasa Indomie yang beredar di sini tidak seenak Indomie yang biasa kita makan di Indonesia.  Indomie di sini cuma asin doang, minim rasa rempahnya.  Ga spesifiklah nikmatnya.  Tapi ga mengapa, segitu juga kita udah seneng kok.   Ga ada lagi cerita tiap balik ke Genova harus isi koper dengan Indomie aneka rasa.

Suatu hari aku lagi ngantri di kasir dengan membawa beberapa bungkus Indomie.  Di depanku juga sedang ngantri seorang pria kulit hitam.  Sama, dia juga membawa banyak Indomie siap bayar.  Belanjaan kami sama persis ;D.

Suasana toko yang penuh membuat aku dan pria di depanku beberapa kali bersentuhan.  Ia melihat ke arahku sambil minta maaf, aku mengangguk hingga pandangannya tertumbuk pada belanjaanku.  Indomie.

”Kamu juga suka makan mie itu?”  Ia bertanya sambil mengisyaratkan Indomie yang kubawa.  Aku menggangguk.

”Aku juga,” katanya sambil mengangkat belanjaannya.  Ini salah satu produk terbaik kami, ia menambahkan.

”Dari mana?”  tanyaku.

”Nigeria.” jawabnya.

”Dari mana?” Ulangku

”Nigeria.”  Jawabnya sambil menjelaskan cara memasak Indomie dengan baik dan benar, termasuk opsi menambahkan daging, telur dan cabai bila suka.  Aku  menggeleng,

”Itu tidak benar,  Indomie itu dari Indonesia.” Aku meluruskan informasinya.  Eh dia ga terima.  Kang Mas malah cerita dengan suara berapi-api kalo Nigeria punya pabrik Indomie, terbesar di Afrika.  Produknya kualitas export hingga Eropa.  Sebagaimana khasnya orang Afrika kalau bicara suaranya kenceng dan to the point, berhasil menyulut emosiku ampe ke ubun-ubun.  Nasionalismeku langsung mengalir keras di seluruh pembuluh darahku.  Bela Indonesia.

”Eh denger ya, mas!  Begitu aku ga minum air susu ibu lagi, makanan pertamaku itu Indomie.  Seluruh dunia pun tau kalo Indomie itu dari Indonesia!”  kataku sengit.

”Itu mie yang lain kali.”  katanya.  Eh buset dah, nih orang makin semena-mena.  Ga tau aja nih orang kalo dulu orang tuaku punya warung makan dan jualan Indomie juga.  Jadi, aku tahu pasti mana Indomie dan yang bukan.

”Gini ya, sejak kecil aku uda makan Indomie,  ya sama seperti Indomie yang kamu pegang sekarang ini.  Jadi, berhenti ngaku-ngaku kalo Indomie itu dari Nigeria.  Indomie itu made in Indonesia.”  Aku menunjukan sikap tidak mau melanjutkan perdebatan dan mengalihkan padangan ke arah yang lain.*ngambek.

Tiba-tiba dia meletakan keranjang belanjanya di meja dan mengambil sebungkus Indomie lalu membolak-baliknya.  Dia mencolek bahuku.

”Liat nih, produce in Nigeria.”  Jarinya menunjuk kuat-kuat pada sebaris tulisan di kemasan Indomie.  Aku cuma melirik ga minat.  *masih ngambek.  Eh dia malah menyodorkan lebih dekat lagi. Aku mengambil Indomienya dan membaca lekat-lekat.   Benar saja, di kemasan ada 2 baris kalimat cetak tebal (kalau tidak salah ingat);

PT. Indofood Sukses Makmur T.b.k (Indonesia)

Produced in Nigeria

Kampret, kalah telak aku.  Sesungguhnya, itu baru pertama kali aku baca kemasan Indomie yang edar di sini.  Biasanya cuma fokus pada varian rasa dan tanggal kadaluarsa.

”Permisi, giliranku.  Aku mau bayar Indomie made in Nigeria.”   katanya sambil mengambil Indomie milik dia dari tanganku.  Aku mengangguk sambil memandangi lantai.

Salam,

 

Lintasophia

 

 

 

Iklan

Partai Politik Boleh Berganti, Tapi Ideologi tak Pernah Mati

Partai politik boleh berganti, tapi ideologi tak pernah mati.  Kalimat menakjubkan itu aku dengar pertama kali dari ibuku. Seorang perempuan perempuan biasa yang notabene jauh dan tidak pernah terjun langsung ke hingar bingar dunia politik.

Bandung 1999

Setelah pergolakan politik, ekonomi dan sosial sepanjang tahun 1997 hingga 1998 yang melahirkan berbagai peristiwa penting, salah satunya adalah Indonesia memasuki Era Reformasi dengan tumbangnya Era Orde Baru, pemerintah memutuskan mempercepat pemilihan umum, sedianya 2002 menjadi 1999.

Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama dimana aku ikut nyoblos.  Aku buta politik, bingung harus milih partai apa.  Seperti anak kecil tersesat di keramaian pasar.  Gimana ga tersesat, jumlah partai peserta pemilu biasanya cuma 3, yakni Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Aku cuma tau, merah, hijau dan kuning.   Untunglah ada ibuku sehingga aku tidak tersesat lama.

Mulailah obrolan-obrolan kecil dengan ibuku mengenai faktor apa yang harus diperhatikan dalam menentukan partai pilihan.

Aku : ”Pemilu nanti milih apa ya?”

Ibuku : ”PDI-P.”

Aku : ”Kenapa bukan Golkar?”

Ibuku : ”Karena Golkar adalah partainya pegawai negeri.”

Aku : ”Oh… Kenapa harus PDI-P?”

Ibuku : ”Karena kita adalah Marhaen!”

Aku :”Haaaaa?”  Itu pertama kali aku mendengar kata Marhaen (sebutan bagi penganut Marhaenisme).

Berikutnya, ibuku mulai sering bercerita tentang betapa heroiknya Soekarno.  Sangat mudah mendapat cerita kehebatan Soekarno, baik lewat cerita dari mulut ke mulut warga kampung, maupun dari opung doli.  Selama masa pengasingan di Sumatra Utara, opung doli (bapak dari ibuku) merupakan salah satu ajudan dari Soekarno.

Masih menurut ibuku, saat itu rakyat cinta sekali terhadap Soekarno.  Baik yang muda maupun yang tua setia dan militan mengikuti Soekarno selama pengasingan di Sumatra Utara.   Menurutku, mungkin ini salah satu alasan mengapa di tubuh partai PDI-P banyak sekali orang Batak.  Karena secara historis ada hubungan emosional.  Soekarno pernah menginjakan kaki di Sumatra Utara.  Sampai sekarang, banyak orang tua yang bertahan dan setia dengan PDI-P. Imbasnya adalah, para orang tua ini menurunkan Marhaenisme dengan kemasan baru (PDI-P) kepada anak-anaknya.  Contohnya adalah ibuku.

Ibuku gemar sekali bercerita tentang Soekarno dan opung doli, padahal ibuku tidak mengalami langsung masa saat Soekarno ditahan di Sumatra Utara.  Ibuku cuma mendengar penuturan dari opung doli dan orang-orang sekampung.   And you know what, kami pun ga pernah bosan mendengar, padahal yang diceritain sama aja….hahahhaha….

Aku seneng moment saat ibuku bercerita, wajahnya ga bisa bohong kalo ibuku sangat bangga dengan sepak terjang bapaknya.  Bercerita adalah kesempatn untuk ”memiliki  kembali” almarhum opung doli.

Akhir cerita ibuku udah bisa ditebak, beliau akan cerita tentang namanya.  Jadi, karena situasi tidak kondusif saat itu, opung doli memilih mengikuti Soekarno di pengasingan (menurut ibuku bukan pengasingan, tapi penjara) daripada menemani opung boru yang sedang mengandung ibuku.

Di penjara Soekarno memberi nama Megayani untuk ibuku, biar mirip dengan nama putrinya.  Sedangkan nama lengkap ibuku adalah ; Megayani Puspa Pangungsian Hamardekaon P (semoga aku ga salah nulis).  Mungkin karena diberi nama oleh Soekarno, ibuku merasa ”terikat” dengan Soekarno.  Setiap mudik dan ngumpul, kam masih suka menggoda ibu : ”deuuhh…yang dikasih nama (dari) Soekarno.”  Ibuku sumringah betul kalo digituin.

Bandung tahun 2000-an

Ibuku : ”Kalo mau masuk partai politik, masuklah ke PDI-P.”

Aku  : ”Kenapa harus PDI-P?”

Ibuku : ”Karena kita adalah Marhaen.”

Aku  : ”Kalo PDI-P bubar, gimana?”

Ibuku : ”Terserah partai apa aja, yang penting Marhaen.”

Aku : ”Kok gitu?”

Ibu  : ”Partai politik boleh berganti (nama), tapi ideologi tak pernah mati.”

Salam,

Lintasophia

 

Cinta 0 kilometer

Rindu itu permainan kata-kata

Mengubah jarak menjadi angka tak bermakna

Menyulam waktu menjadi bilangan semata

Membuat warna tak lagi sama

Ribuan persinggahan yang harus dilewati

Pada musim yang silih berganti

Cinta di 0 kilometer

Bikin gila sekaligus menguatkan

Yang Belum Beres… (Part. 1)

Aduh, aduh…  Udah setahun ga ngeblog *hiperbola.  Bener tho, terakhir nulis itu tahun 2013 lalu dan sekarang udah 2014. ;).  Sebelumnya, mau nyapa kalian semua.  Apa khabar?  Semoga hari-hari kalian tetap hangat dan menarik di tengah situasi politik dan cuaca yang ga bisa diprediksi.

Eh iya, sebelumnya mari kita ucapkan selamat menempuh baru untuk Henskih  (temen baikku pas kuliah jadul)  yang kemaren baru saja melepas masa lajangnya.  Ikut seneng, Henskih.  Kita akan setia menunggu foto-foto dan cerita dirimu.  Akhirnya terlewati juga ya masa persiapan yang kadang bikin perang-perang kecil dengan pihak di kanan, kiri, atas bawah.  Sekarang tinggal aku yang dalam beberapa hari ini kejar tayang menyelesaikan beberapa eh banyak item.

*****

Dulu, waktu  bantuin nikahan kakakku rasanya senang  aja, padahal itu pesta besar.  Giliran bagianku, syukurannya kecil tapi butuh kesabaran besar.  Baiklah, karena intronya udah terlalu panjang, mari kita melirik item yang belum beres, hampir beres dan tidak beres sama sekali.  Intinya, malam ini kita akan berbicara tentang  sesuatu yang tidak beres.

1. ADMINISTRASI

Diantara semua proses persiapan pernikahan yang kami lalui,  selain masalah finansial *ehem, masalah administrasi menempati urutan kedua yang memakan waktu paling lama.  Seingatku, pertengahan 2013 Mas Ipung daftar untuk Katekisasi Sidi baru 6 bulan kemudian dibaptis (27 Desember lalu).   Apakah beres baptisan lantas bisa langsung mendaftar nikah di Bandung?  Tidak, saudara-saudara.  Masih ada yang harus dilengkapi, seperti Surat Pengantar (untuk menikah) dari GKJ.

Setelah Mas Ipung megang surat baptis, baru boleh mengurus  dokumen lain, yakni ;  KTP dan KK untuk mengubah data-data terkait dengan berganti keyakinan yang kemarin ditempuhnya.    Kalau ga salah, untuk KTP dan KK udah beres.  Tentang KTP dan KK sejujurnya aku lupa lagi.  Beberapa hari terakhir ngurusin undangan dan souvenir.  Mak jleb, sebulan lagi nikah, undangan baru masuk tahap desain.  Sedangkan untuk Surat Pengantar, sekretaris gereja berjanji bahwa hari Minggu ini uda beres.  So, hari Minggu malam dengan kereta api tercinta, Mas Ipung bisa meluncur ke Bandung.

Katekisasi berlangsung selama 6 bulan dengan pertemuan 1 x seminggu selama 1,5 hingga 2 jam.  Itu berlangsung selama 3 bulan pertama.  Sedangkan 3 bulan berikutnya lebih intensif, sekitar 2 kali seminggu karena disisipi juga konseling pra nikah.  Sejak bulan November atau 2 bulan sebelum baptis lebih sibuk lagi.  Selain jadwal katekisasi sidi dan konseling pra nikah yang jadwalnya telah tetap, Mas Ipung lebih sibuk lagi karena menyiapkan keperluan baptisan dan Natal yang memang berdekatan waktunya.

2.  UNDANGAN

Undangan molor bukan semata kelalaianku tapi karena orang tua bersikeras undangan diurus HANYA jika masalah administrasi beres.  Ternyata date line administrasi meleset dari dugaan kami.  Iyalah, kalo ini kan mutlak wewenang pihak ketiga alias gereja yang membaptis Mas Ipung.  Kebetulan kemarin bersamaan dengan hari Natal dan Tahun Baru,  banyak kegiatan di gereja.  Mas Ipung juga ga enak bolak balik minta surat pengantar.

Padahal sejak Oktober aku sudah minta bapak dan ibuku membuat draft/kalimat yang akan disusun di undangan.  Aku sendiri punya alasan sendiri kenapa pengen beresin undangan jauh-jauh hari.  Biasanya sekitar November dan Desember kerjaan di sini bejibun.  Daripada nanti semua dikerjain terburu-buru.  Belum tentu nyetak undangan tepat waktu atau semua lancar jaya.  Tapi gitu deh, bapak ibuku ga setuju cetak undangan sebelum semuanya pasti.  Katanya, pamali.  Benar saja dugaanku, bapak dan ibuku beberapa hari ini mulai panik karena undangan belum beres.

Cover depan undanganSetelah adu argumentasi yang kesekian kali dengan ibuku, tiba-tiba tuh draft undangan udah nongol aja di inbox FB-ku.  Beruntung Adeku lumayan jago masalah desain.  Ga nyampe beberapa jam beres deh lay out undangan.  Tuh kan, yang susah itu menyatukan visi dan cara pandang.  

Kalo udah dibenturkan pada kebutuhan yang sama (dalam hal ini undangan segera naik cetak), maka semuanya mudah dan cepat.  Coba dari kemaren mau ngikutin run down-ku, bisa hemat energi tanpa naik tensi.

Undangan yang aku dan Mas Ipung pengenin harus sederhana, ringan, tidak banyak motif dan tanpa foto.  Iyalah, buat apa pake foto, secara yang dateng juga keluarga inti dan sahabat dekat yang sama-sama udah kenal wajahku dan Mas Ipung. Lalu, undangannya juga cukup 2 lembar agar mudah pengerjaannya dan murah pembayarannya.  *penganten irit.

Ini contekan undangan yang kita mau.  Pertama kali Adeku lihat dia takjub akan pilihanku.  ”Beneran ini cover undangannya?  Sesederhana ini?”  Tanya adeku.  Lalu secara halus ia menawarkan template-template undangan lain yang kira-kira mendekati seleraku.  Ga tau kenapa, aku dan Mas Ipung udah cukup sreg dengan undangan minimalis ini. Kertas bagian dalamnya nanti warna peach dengan border abu-abu.  Semoga nemu percetakan yang bisa diajak SKS (Sistem Kebut Semalam).  Atau kalo kepepet, print dan tempel sendiri deh.

3.  SOUVENIR

Souvenir tersendat karena yang ngurusnya (dalam hal ini Mas Ipung) sibuk pisan.  Alasan lain, karena kita tidak butuh souvenir dalam jumlah banyak, maka souvenir bisa diurus belakangan.  Dan ternyata saudara-saudara, souvenir itu harus dipesan paling tidak 3 bulan sebelumnya.  *nangis.

Ok, tenang…tenang…sebetulnya ga sehoror itu, tergantung jenis souvenirnya sih.  Awalnya untuk menyenangkan hati ibuku yang dari dulu terobsesi ama souvenir kipas, maka kita sepakat akan mengambil kipas sebagai souvenir.  Di lapangan, minimum order untuk kipas adalah 200 pieces, sedangkan kebutuhan cuma 150 buah (maksimal).  Akan dikemanakan sisa souvenir?  Walau harganya ga seberapa, kita berusaha untuk tidak membuang/membayar sesuatu yang ga perlu.  Bisa sih beli kipas secara eceran tapi harganya lebih mahal.  Lumayan selisihnya untuk nambah payet kebaya….halah… *ga mau rugi.

Gelas sablon wayangRembukan lagi, pilihan jatuh pada gelas dan aku suka banget opsi ini.  Minimum order tetep 200 buah, tapi kalo sisa kan masih bisa dipake sebagai modal awal berumah tangga…kekekkkekeke… Jelek-jeleknya, nih gelas masih bisa dipake orang rumah.  Atau bagiin ke sodara.  Alasan lainnya, bentuknya lebih besar dari kipas tapi harganya lebih mini.  Selisih harga gelas dan kipas cukup untuk luluran.

Waktu berjalan, tahun 2013 terlewati.  Baru beberapa hari ini kembali ngurus nikahan termasuk souvenir. Mulailah Mas Ipung survey gelas sablon.  Di sini kejutan demi kejutan  kita temui.  Mulai dari stock gelas yang kosong hingga full of order .  Kira-kira, calon penganten lainnya bikin souvenir dari berapa bulan sebelumnya ya? Padahal seandainya bikin souvenir butuh 1 bulan pun masih masuk run down kita kok.  Duh Gustiiiii…

Kejutan lainnya,    ternyata saudara-saudara  harga gelas naik.  Ga kira-kira pula naiknya.  Jika sebelumnya di price list berkisar Rp. 3.500-an, sekarang sekitar 5.000 bahkan Rp. 6.500.  Nangis, ga jadi luluran!

4.  PITA MOBIL PENGANTEN

Yang ini ga terlalu krusial.  Ntar kita ga nyewa mobil penganten, abis mehong ciiiiin.  Kisaran harga 1,5 jt-2,5 jt.  Lupa jenis dan tipe sedannya.  Tapi kemaren Bang Dani ngasih up date harga sewa mobil penganten, masih sekitar segitu.  Berhubung kita penganten irit dan cenderung pelit, maka mobil penganten dicoret dari list.  Sebagai gantinya, kita pake mobil yang ada di rumah.  Sedangkan untuk orang rumah  kita akan sewa semacam elf atau minibus.  Aku dan Mas Ipung ga mau bayar mahal untuk mobil penganten karena nantinya juga cuma dipake sekitar 4 jam saja dengan rute : rumah ke gereja setelah itu ke lokasi acara.

Pertama kali dengar ide ini, ibuku rada shock juga karena bukan hal yang lazim terutama di keluarga besarku.  Tapi untunglah akhirnya beliau mengerti kondisi keuangan anak-anaknya ini yang cenderung tidak menggembirakan beberapa waktu belakangan.   Sekarang tinggal hunting pita untuk mobil penganten.  Sudah survey harganya di ebay, sekitar 7 – 10 euro (Rp. 160 ribuan).  Kebayang kan berapa rupiah yang bisa kami tekan dengan cara ini?

Disisi lain, kita memang masih harus menyediakan mobil untuk keluarga besar yang datang dari luar kota.  Nah, kalau nyewa elf  (harga sewa memang lebih mahal dari avanza dan sejenisnya), tapi pengeluaran akhirnya sama aja, karena kita cukup mengisi bensin untuk 1 mobil dan bayar 1 orang supir saja.  *insting auditor keluar.

Kira-kira itulah item persiapan yang belum beres, part 1 lho.  Masih ada part 2 yang aku harap sih ga terjadi.  Semoga semua lancar jaya… Amin.

Salam hangat,

Lintasophia

Ulang Tahun. Yang Hilang, Yang Terbang

Pukul 01.37 dini hari, tiba-tiba si empunya blog gatel ingin bercerita tentang ulang tahunnya yang sudah lewat seminggu lalu.  Betul, minggu lalu aku baru saja berulang tahun ke-34.  Jadi, sekarang  kalau ada yang menanyakan umurku, udah sah dijawab : jalan 35 (tahun)…. Ahhh, masih muda. *ekspresi menang.

Bulan November ini rasanya cepet banget berlalu. Kemarin tuh tiba-tiba udah nyampe 12 November dan mulai ditodong pertanyaan tentang kado apa yang aku inginkan.  Ritual patungan dan membelikan kado bila salah satu diantara kami berulang tahun, memang masih kami pelihara sampai sekarang.  Di tengah tumpukan pekerjaan dan diselingi ngurus nikahan, aku tidak sempat memikirkan kado apa yang aku inginkan untuk ulang tahun kali ini.

Sadar bahwa sebentar lagi usiaku bertambah, malah membawaku bernostalgia pada perjalanan hidupku mulai  beberapa tahun terakhir hingga beberapa bulan terakhir.  Ceritanya, pertengahan 2010 lalu aku membeli rumah di Bandung dengan cara mencicil secara bertahap selama 3 tahun kepada pengembang.  Berdasarkan kesepakatan, rumah akan lunas pada Juni 2013 walau akhirnya mundur menjadi Agustus 2013 karena aku ada bolong membayar pas bulan Februari lalu.  Namun masalahnya bukan di situ.

Jadi, sekitar 23 Juli lalu kakakku mengabarkan bahwa rumah yang selama ini aku bayar dan tinggal 2 kali cicil ternyata bermasalah.   Sertifikat rumah yang masih atas nama pengembang digadaikan oleh pimpinan pengembang ke pihak lain.  Sampai saat ini belum terlacak siapa yang pegang sertifikat rumah yang telah kubayar 99 % LUNAS.  Bahkan Bu Eva sebagai developer ikut-ikutan menghilang dan oleh Kepolisian  statusnya menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kira-kira, gimana ya perasaanku saat itu?  Mungkin bila aku membuat tulisan ini beberapa saat setelah kejadian, bisa sangat emosional dan berdarah-darah.  Dulu rumah itu aku beli untuk para keponakanku yang saat ini tinggal bersama ibu dan bapakku.  Skenarionya, sewaktu-waktu para keponakan membutuhkan tempat tinggal, maka mereka akan tinggal di situ.

*****

Karena beberapa perkembangan terjadi dalam keluarga, kembali skenario harus diubah.  Rumah itu akan dijual untuk modal usaha, dalam hal ini untuk membeli sebuah penginapan di Yogyakarta.  Secara garis besar, langkah ini sebagai jaminan bahwa para keponakanku akan mendapatkan penghasilan setiap bulannya.  Sampai sekitar awal bulan Juli semua berjalan mulus.

Rumah sudah tahap negosiasi pada kakakku yang berminat untuk membelinya.  Secara bersamaan, di Jogja sana ada beberapa properti yang sudah masuk tahap negosiasi.  Beberapa properti yang sesuai  kebutuhan pun sudah disurvei dan dihitung hingga detail.  Sudah menemukan beberapa yang cocok.  Ibarat kata, tinggal tunjuk dan transfer uang muka dari hasil penjualan rumah di Bandung.

Konsep, nama dan logo penginapan, email, standard operasional hingga rencana jangka pendek dan menengah sudah aku dan Mas Ipung siapkan.  Begitu cepat?  Iya, karena dari dulu aku memang pengen punya penginapan.  Bahkan, aku udah menyiapkan nama dan font-nya.

Begitulah, ditengah proses negosiasi muncul khabar tidak sedap.  Sempat aku merasa seperti mimpi.  Butuh 2 hari untukku menerima kenyataan bahwa rumah dalam masalah.  Pas kakakku menyampaikan berita duka ini, reaksiku biasa banget.  Beneran!  Namanya juga orang lagi linglung.  Setelah 2 hari berlalu dan percaya bahwa semua ini nyata, mulai deh nangis terus….hahahaha, parah banget deh telminya.

Bener-bener bingung, bagaimana hidup ke depannya.  Karena menjual rumah itu dan membeli penginapan di Jogja adalah rencana paling dekat dan tinggal ketok palu.  Sampai sekarang kadang masih ga percaya ini terjadi.  Selama 2 bulan masih suka nangis, dan mellow-mellow gitu.  Untungnya ga sampai pada tahap suka ngomong sendiri….Iiih amit-amit…*ketok meja.

Ketimpa masalah seperti ini, ibarat rumah kemasukan maling dan mengambil semua yang kita miliki.  Terus terang, sejak mengumpulkan DP hingga masa mencicil setiap bulannya, aku tidak sempat nabung lagi.  Boro-boro nabung kale, bisa survive juga udah syukur.  Seringnya sih gali lubang tutup lubang….tosss… *mulai stress dan emosional. 😦 .  Jangankan nabung, yang ada juga karena nyicil rumah, aku masih memiliki hutang…grrrrhhh….

Apa yang paling menyakitkan dari sebuah (nyaris) kehilangan?  Jawabnya ; kenangan.  Iya, yang aku punya sekarang adalah kenangan  masa-masa berat selama 3 tahun ini.  Kalau tidak salah, aku sempat menulis status di FB-ku : kalau jadi ambil, berarti bakal puasa 3 tahun.  Kuat ga ya?

Status di FB itu benar adanya saudara-saudara!  Entah pegimana polanya, begitu aku jadi mengambil rumah itu, tiba-tiba krisis menjadi.  Aku bahkan pernah mengalami periode kerja cuma weekend aja.  Haduuuuh, bagaimana membayar pengeluaran rutin bila kerjaan juga ala kadarnya padahal pengeluaran justru lebih besar dari sebelumnya?  Agar bisa tetap membantu orang tua, membayar rumah dan pengeluaran rutin (dan tidak bisa dihindari), aku terpaksa melakukan adaptasi lumayan ekstrim.

Aku udah ngalamin deh merapel (menggabungkan) makan siang eh sore dan makan malam.  Ini terjadi pas aku cuma kerja Jumat dan Sabtu aja, otomatis aku makan di rumah.   Ceritanya, biar kenyangnya agak lama, makan siang aku mundurkan beberapa jam.  Kalau biasa makan siang pukul 14.00 atau 15.00, maka aku makan sekitar pukul 17.00 sore.   Itu namanya makan siang sekaligus makan malam.   Dengan demikian perutku tetap kenyang sampai malam.  Emangnya kenyang?  Ga selalu sukses sih… Sering aku menyiasati dengan banyak-banyak minum air putih.  *nulis ini udah mulai nangis.

Menunya pun bener-bener parah.  Biasanya aku membeli pasta dan sebotol saosnya.  Pokoknya, selama saos di botol belum habis, aku makan dengan menu yang sama.  Bisa jadi, dalam seminggu aku makan pasta kupu-kupu secara berturut-turut  Mabok…mabok deh.  Selama masa nyicil rumah, makan di luar adalah kemewahan luar biasa untukku.

Adaptasi apa lagi yang kulakukan?  Hampir 2 tahun aku tidak beli pakaian sekalipun amat sangat butuh banget.  Seingatku, baru tahun lalu aku mulai belanja sweater dan baju hangat itu pun nyari yang murce (murah cekali) atau saat diskon.  Semua merk kosmetik di down grade.  Bila awalnya masih kuat pakai Collistar dan Christian Dior,  diganti ke yang agak murce hingga berlabuh pada muceli alias murah cekali.. * 😉 😉

Ada cerita lucu tentang parfum muceli ini.  Suatu hari, aku kehabisan parfum dan pastinya sedang tidak sanggup beli Christian Dior.  Akhirnya aku beli merk Nivea botol kaleng yang di dalamnya terdapat  gundu.  Biasanya, sebelum disemprotkan, kaleng digoyang dulu hingga menimbulkan bunyi kolantang…klontang…  Siang itu, aku dan adikku sedang siap-siap mau ke stand bazaar di Firenze.  Kami sedang dandan, sudah mandi.  Aku mengeluarkan parfum Nivea, menggoyang-goyangnya hingga siap untuk disemprotkan.

”Apa itu, Nit?”  Tanya adikku yang rupanya bunyi kaleng Nivea mencuri perhatiannya.

”Ini parfumku.”  Jawabku sambil menyemprotkan parfum.

”Oh parfum, kirain pengharum ruangan.”  Timpalan adikku membuatku sadar betapa  besar banget perubahan yang aku tempuh demi cicilan rumah aman terkendali.

Setiap bulan, setelah terima gaji adalah moment paling mendebarkan.  Bagaimana menyiasati penghasilan agar semua pos terpenuhi?  Puji Tuhan, kalau flash back rasanya ga percaya aku bisa melalui semua ini.  Karena secara rasio pendapatan dan pengeluaran memang sudah tidak sehat dan cenderung kritis, sering keluar masuk UGD atau gali lubang tutup lubang.  Aku harus berterima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang mensupport selama ini.

Banyak sekali kenangan sadis dan berdarah-darah lainnya.  Selama 3 tahun ini, aku harus skip jalan-jalan.  Ketika orang lain jalan-jalan saat cuti musim panas, aku memilih bekerja.  Masih inget ceritaku terancam ga bisa ikut mudik karena ga punya duit?  Ya, itu salah satunya…  Gila banget yaaaa… *hapus ingus.

Aku juga terpaksa memutus tali persahabatan dengan tas-tas bagus dan berharga mahal…  Ini agak susah.  Tapi saat ga punya duit, semuanya menjadi mudah.  *miris.  Kemana-mana aku pasang kaca mata kuda agar tidak mudah tergoda.  Awalnya memang berat tapi akhirnya jadi kebiasaan.

Proses 3 tahun ini secara tidak sadar ternyata mengubah kebiasaan belanjaku menjadi lebih hemat dan selektif (baca : pelit).  Istilah think before you pay, setiap hari aku terapkan.  Puji Tuhan, sekarang mah udah kebal sama tas-tas atau sepatu lucu, walau pernah sih terpeleset.  Manusiawi kan? But the fact is : aku  memang selalu ga punya duit sih.  Pan masih nabung buat nikahan…*membela diri.

*****

Kita udah bicara beberapa pengalaman selama 3 tahun ini.  Lalu bagaimana perasaanku sekarang?  Pastinya sedih, gila, stress dan sejenisnya.   Secara  kita lagi ngomongin rumah yang harganya di atas 350 jeti.  Dan bagian paling menyedihkan, itu adalah tabunganku selama ini.  Mungkin bagi orang lain itu ga seberapa, tapi untukku sangat berarti karena memang udah direncanakan untuk modal usaha bagi kelangsungan pendidikan para keponakanku.  Sampai abis air mataku mendoakan semoga masih rejekinya anak-anak dan rumah itu kembali lagi.

Kalau sekarang ditanya rencana selanjutnya apa?  Blank!  Aku masih belum bisa mikir.   Perasaanku sekarang udah ga sekalut bulan Juli lalu.  Aku mencoba mengiklaskan apa yang terjadi  termasuk menyiapkan  diri bila kondisi terburuk terjadi.  Awalnya memang sulit memahami semua ini dan sampai sekarang pun aku ga faham-faham kenapa mesti aku ya?  Keluarga dan sahabat-sahabat mencoba meyakinkan bahwa ada hikmah dibalik semua ini.  Tetep, sampai sekarang juga masih belum nemu hikmahnya.

Kadang bapak dan ibuku juga mikir, salah apa Nita kok bebannya berat terus?  Tapi semakin difikirin ya semakin ga bisa mikir.  Beneran…. Yang ada aku susah makan dan tidur.  Pernah beberapa hari berturut-turut aku ga tidur.  Kadang aku tidur eh tertidur lebih karena kecapaian menangis.  Kondisiku bener-bener buruk dan nyaris sakit karena ga makan dan ga tidur.  Menurut ibuku, aku cukup tangguh selama 3 tahun ini mencicil tanpa putus (nunggak) walo hidup serba dalam keprihatinan.  Dulu sering gamang, bakal mampu ga ya melunasinya?

Pertanyaan yang sama muncul beberapa bulan lalu saat kasus ini menguak.  Mampu ga ya menghadapinya?  Bagaimana bila ternyata rumah benar-benar hilang?  Bagaiman dengan rencana-rencana yang telah kami susun?  Bagaimana dengan anak-anak?   Setelah aku berusaha ikhlas, semuanya terasa lebih ringan.  Aku percaya, setiap orang udah punya jalan dan jatahnya masing-masing.  Semua ini hanya titipan.  Bila si Dia berkehendak, apa aja boleh Dia ambil kok. *lagi bener.

Tepat pas ulang tahun kemaren, rasanya ga henti-henti bersyukur masih bisa tegar menghadapi sekian banyak masalah.  Bapak dan ibu atau teman-temanku salut karena aku masih bisa ngamuk-ngamuk, lucu dan bersikap sadis.  Berarti aku masih normal.  Ulang tahun tidak selalu berarti menerima kado-kado indah, namun juga melepaskan sesuatu  sesuatu  yang hilang dan terbang.

Salam hangat,

Lintasophia

My Wedding Preparation ; Akhirnya Ada Progress

Sekitar awal Oktober lalu, jadwal tunangan dan pemberkatan pernikahanku di-acc dan diumumkan oleh gereja melalui Warta Jemaat.   Perasaanku campur aduk.  Merasa senang karena salah satu masalah krusial terjawab.  Di sisi lain, masih kaget, linglung dan lemas…halah…  Serius, reaksiku saat itu : Oh my God, berarti beneran ya aku bakal nikah?  Astaga, berarti ntar ganti KTP dan bikin Kartu Keluarga (KK) terpisah dari ibu dong?

Atau, pertanyaan seperti ini : Gila, trus nanti aku harus masak apa setiap hari?  *buru-buru Googling resep-resep praktis… hahahahah…  Serius pula, aku mendadak panik.  Dari yang tadinya santai banget kayak di pantai, tiba-tiba blank!  Ga tau mau ngomong atau mikir apa.   Masih harus adaptasi status dari pacar menjadi calon istri.  Tuhan, sekarang si gue adalah calon penganten.  *tutup muka, ketauan ga siap mental.

Hal pertama yang kita lakukan setelah dapat jadwal tunangan dan pemberkatan adalah bayar DP venue.  Bapak dan ibuku yang ngurus masalah ini.

”Berarti bener ya aku bakal nikah? ”  Batinku waktu itu kayak orang bangun kesiangan,  sambil baca BBM ibuku yang melaporkan telah membayarkan DP venue.  Antara sadar dan ga sadar,  tergagap-gagap sambil melotin kalender.  Astaga, 4 bulan lagi saudara-saudara dan kita belum nyiapin apa-apa.  *mulai panik, lempar selimut.    Jangan ditiru ya, temans…

”Bisa ga ya semua printilan ini di-skip,trus  tau-tau bulan madu aja?”  Teriakku ke Mas Ipung.  Aku mulai uring-uringan demi melihat list dan batas waktu yang ternyata udah mepet…pet…pet…  Apalagi kalo ada pertanyaan ; udah nyampe mana, suvenirnya apa, kebayanya mana?  Hiiiii….*nangis beneran.

Bisa dibilang, sejak keluarnya jadwal tunangan dan pemberkatan merupakan titik balik aku dan Mas Ipung serius memikirkan pernikahan ini.  Ga mungkin mundur.  Intensitas berantem pun mulai meningkat. *ukur tensi.   

Mulai deh bongkar-bongkar email, menandai penawaran dari berbagai vendor pernikahan.  Mencatat dan menghitung ulang pos-pos pengeluaran.  Merapikan jumlah undangan yang  (padahal) jumlahnya tidak seberapa….  Memang kalau ingin sound system eh konsisten dengan pernikahan sederhana, langkah pertama dan mungkin terberat adalah membatasi banget jumlah undangan.  Azas tega harus diterapkan dalam hal ini…. *saran Uni.

Baiklah, agar sesuai dengan judul, mari kita lihat progress apa saja yang sudah terjadi dalam persiapan sederhana ini ,

A.  MARTUMPOL (TUNANGAN)

Hari dan tanggal : Sabtu, 22 Februari 2014

Waktu                    : pukul 11.30 – 13.00

Venue                    : HKBP Bandung Timur, Jln.  Jakarta No. 11 Bandung

Catering                : snack kotak  yang dibagikan seusai kebaktian.  Untuk keluarga inti, makan siang biasa di rumah (masak sendiri)

Busana                 : – kebaya belum tau dari mana, belum beli bahan 😉

–                               – Tenun Basana.  songket Tarutung, in processing ditenun di Tarutung (Sumatera Utara) sana.

Dokumentasi    :  pake jasa Joni Boy (kakakku).  Aku dan Mas Ipung memasrahkan diri saat Kombet alias Joni meminta ijin terlibat (baca : latihan moto) saat pernikahanku.  Mumpung ada momen, katanya.

Make Up             : Teh Tiara (perias langganan keluarga).  Masih harus DP nih untuk booking tanggal.

B.  PEMBERKATAN PERNIKAHAN

Hari dan Tangal   : 1 Maret 2014

Waktu                    : pukul 11.30 -13.00

Venue                    : HKBP Bandung Timur

Jln.  Jakarta No. 11 Bandung

Busana                  : songket mesen ke Kak Rotua, (Tenun Basana)  sedangkan kebaya rencananya baru mau beli bahan bulan depan.

Dokumentasi      :  Joni Boy dan kawan-kawan

Make up               : Teh Tiara

C.  SYUKURAN

Hari dan Tanggal              : 1 Maret 2014

Waktu                                 : pukul 14.30 – 19.30

Venue dan catering        : Rumah Kebon Cengkeh  (Bojongkoneng – Cikutra), Bandung

MC and entertainmet   : Sebayang Music.  Ini request ortu, kudu ada lagu-lagu Batak.  No lagu Batak, no party…. *ancaman ibuku.

Busana                              : tetep pakai baju pas pemberkatan.

Make up                           : Teh Tiara

Sementara itu dulu list yang sudah fix.  

Beberapa printilan yang masih harus diselesaikan adalah :

1.  Kebaya

Ini  salah satu paling krusial dan bikin ibuku pusing melihat betapa santainya aku dan Mas Ipung.  Aku mau make kebaya kutubaru, tapi belum yakin untuk jahit sendiri, mending nyewa ajalah.  Tapi pas nerima price list sewa kebaya dan model-model kebaya, ide sewa kebaya terpaksa dicoret.   Kebaya kutubaru yang aku inginkan adalah sebuah kebaya sederhana dan pendek.

Kebanyakan model kebaya yang disewakan model princess (model kebaya Ashanty), berekor panjang (sementara aku pengennya sepinggang atau sepinggul aja) dan terlalu banyak payet.  Huahahahha, bener-bener bukan kebaya yang aku inginkan.  Kebaya-kebaya yang aku sebutkan barusan, harganya memang mahal, mungkin karena itu  harga sewanya juga lumayan, walau jatuhnya lebih murah nyewa sih.  Tapi untuk kasusku yang butuh kebaya sederhana, maka bikin sendiri adalah pilihan tepat…*peluk ibu.

2.  Undangan

Udah ada sih beberapa ide undangan, tinggal ketok palu.  Ide awalnya cuma makan siang biasa setelah pemberkatan, maka  kita ga kefikiran bakal bikin undangan,.  Cukup by phone atau SMS/email/FB.   Tapi ternyata hal ini kurang berkenan di hati ibuku.  Jadilah urusan undangan nyempil diantara hal lain yang harus disiapkan.

3.  Suvenir

Ini salah satu yang aku dan Mas Ipung kurang serius menyiapkannya.  Kadang pengen ngasih suvenir untuk para undangan, tapi sering mikir ; penting ga sih?  Kalau pun pengen ngasih suvenir, dari dulu udah kefikiran suvenir itu sambal teri kacang buatan ibuku, masukin stoples kecil,  kasih stiker dan pita unyu-unyu gitu.  Porsi 1 stoples untuk 2 orang.  Tapi ibuku ga suka ide ini.  Siapa yang bakal menggoreng dan menyambal?  Beberapa waktu belakangan ini kesehatan ibuku menurun.  Sambal teri kacang dicoret dari list.  Sedangkan ide ibuku, ga jauh dari kipas, notes atau gantungan kunci.  Tampaknya, ibuku terobsesi sama yang namanya kipas tangan.

4.  Cincin Nikah

Apalagi yang ini, masih gelap urusannya.  Liat ntar aja deh pas mudik, hunting bareng Mas Ipung.  Paling ga kita ngerasain seperti calon penganten lain sibuk hunting-hunting.

Sementara, itu dulu list-list yang sudah final dan yang masih semi final. 🙂   Untuk venue, songket, dokumentasi dan lain-lain akan direview secara terpisah berdasarkan item atau vendornya.  Terima kasih untuk keluarga, teman-teman dan para vendor atas bantuannya. 

Salam hangat,

Lintasophia