Kendaraan dan Tujuan

Tujuan yang baik saja tidak cukup.  Diperlukan kendaraan yang tepat untuk tiba di sana.

Selamat menyambut Desember, sahabat.   Jangan pernah menyepelekan mimpimu.

Salam hangat,

 

Lintasophia

Ketika Terpaksa Gagal Berlayar

Siapa yang tidak pernah gagal, silakan mengangkat tangan!  Lho, kok tidak ada yang mengangkat tangan?  Artinya, kita semua pernah gagal.  Hari ini, catetan perdana di bulan Maret (walau bulan ini hampir berakhir….sigh…), kita akan berbicara tentang kegagalan.  Sesuai dengan judul : Ketika terpaksa gagal berlayar…*aduh, serem amat.

Aku mau cerita dikit mengapa sekonyong-konyong si gagal ini tampak menarik hingga mampu membuatku turun gunung dari puasa menulis.  Karena aku dan Mas Ipung baru saja mengalami kegagalan.  Husss….kami tidak putus.  Kami cuma gagal membuat usaha yang selama ini kami idam-idamkan.

Seperti yang pernah aku ceritakan, bahwa kami sudah sangat ingin memiliki usaha sendiri di Indonesia, walau skala kecil.    Nah, pertengahan tahun lalu kami memutuskan untuk mewujudkannya.  Lalu, sambil berjabat tangan setelah melalui diskusi yang sangat panjang dan lama, kami memilih usaha A.  Kami mulai belajar tetek bengek usaha ini sambil mengumpulkan modal.

Akhirnya, walau kondisi ekonomi sedang Senen Kemis, kami berdua secara patungan berhasil mengumpulkan modal yang diperlukan.  Tahap persiapan mulai dilakukan oleh Mas Ipung.  Aku yang jauh ini tidak berkesempatan untuk terjun langsung, cuma dapet laporan dan foto-foto saja.

Setelah masa persiapan rampung, tiba saatnya untuk start.  Tiba-tiba, ada kejadian yang membuat kami memutuskan untuk menunda untuk sementara usaha ini sekalipun persiapan sudah beres.  Ini pilihan terbaik untuk mencegah kerugian lebih besar.  Kami berada pada situasi seperti judul catatan ini.

Kami mengibaratkan, kami sedang menyiapkan sebuah perjalanan panjang dengan menggunakan kapal layar buatan sendiri.  Kapal telah berhasil kami rakit, layar pun telah terpasang.  Bahkan rute perjalanan sudah ada di tangan.  Apa mau di kata.  Ternyata ombak sedang pasang dan tidak baik untuk dilalui kapal layar kami yang mungil ini.  Begitulah…  Kami memilih bertahan di daratan sambil menunggu gelombang lebih bersahabat sambil merakit kapal yang lebih besar lagi.

Menilik cerita di atas, sebenarnya kami belumlah gagal 100 % walau agak sulit bagiku untuk menyebutkan angka pasti kerugian yang kami alami.  Sebagai gambaran, perangkat usaha masih utuh.  Kami cuma rugi waktu, fikiran dan sedikit dana untuk membayar tukang.   Sebagian modal kerja sudah dalam bentuk peralatan.   Seperti aku bilang di atas, kegagalan yang kami alami ini terjadi secara tidak sengaja, ehm istilahnya ya diharuskan gagal berlayar. 🙂

Ketika Gagal, Sebaiknya Bagaimana?

  • Jangan Putus Asa

Sebelum kami memutuskan untuk mencoba membuka usaha, kami sudah tahu resiko yang dihadapi cuma 2, yakni berhasil atau gagal sama sekali.  Kami juga sudah berjanji untuk tidak putus asa bila ternyata gagal,  hal ini tidak mudah, karena  kami kehilangan tabungan yang susah payah kami kumpulkan.  Apalagi kegagalan terjadi justru pas usaha baru mau dimulai.  Nenek bilang, layu sebelum berkembang.

Secara emosional, Mas Ipung yang paling kecewa atas kegagalan ini, tidak semata masalah materi namun secara psikis juga.  Setiap hari, kecuali pas jadwalnya ronda, ia pasti sibuk megang paku dan palu.  Tampaknya, tidak ada sedetik pun dalam hidupnya berlalu tanpa memikirkan usaha ini.  Pada akhirnya,  pemahaman yang baik serta berjiwa besar untuk menikmati kegagalan membuat kami berdua tidak putus asa.  Yummy!

  • Cari Dukungan dari Orang Terdekat

Hari gini udah ga zaman bergalau-galau ria.  Butuh temen curhat atau marah?  Cari ayah, ibu, suami atau sahabat terdekat yang mengerti kondisimu.  Kemarin, saat kami memutuskan untuk gagal, kami tetep saling support.  Awalnya, aku meminta untuk melego perangkat kerja yang ada.  Lumayan bisa jadi duit lagi.  Namun setelah menimbang lebih lanjut, niat itu aku urungkan.  Biar saja perlatan yang sudah terlanjur dibeli atau dibuat Mas Ipung tetap di situ.  Tujuan awalnya adalah sebagai penghargaan bahwa kami pernah mencoba.  Semoga suatu hari nanti kami masih bisa menggunakannya.

  • Boleh Menyendiri, Asal Jangan Bunuh Diri

Bila curhat session belum cukup, boleh kok mengambil waktu untuk menyepi.  Menyendiri untuk sementara waktu, tapi jangan bunuh diri lho.  Kata kuncinya tetap sama : jangan putus asa.  Setelah fikiran tenang, emosi jiwa… halah…terkendali, boleh deh masuk ke langkah terakhir di bawah ini.

  • Bangkit dan Berlayar Lagi

Perencanaan sudah pernah, mengalami kegagalan juga sudah, berarti tinggal bangkit dong.  Yup, jangan terlalu lama menyesali nasib.  Dengan tawakal, membuat semua lebih mudah dilalui.  Tapi bagaimana caranya tawakal dan bangkit lagi?

Begini, begini.  Letakan peta perjalanan di  atas meja.  Amati baik-baik.   Kenali lagi passion serta potensi dirimu.  Sudah tahu tujuan perjalanan berikutnya?  Tap,  angkat layarmu dan melajulah.  Seandainya laut masih bergelombang, ambil jalur lain.  Putar haluan, baca peluang yang ada.  

Dalam perjalanan waktu, tidak semua yang terjadi selalu sesuai dan ideal menurut keinginan kita.  Jangan takut bila ternyata jalanan menanjak atau menikung tajam.  Setiap perjalanan ada akhirnya kan?  Banyak-banyak membaca pengalaman orang lain karena semangat mereka mampu memberi energi positif lho, setidaknya menurutku sih. 😉 .  Ada baiknya juga mengatur nafas dan ritme kerja.  Bila ternyata strategi tarik ulur, maju  mundur  perlu dilakukan ya lakukan saja.  Aku percaya, untuk mendapat hasil lompatan yang jauh, seorang atlit lompat jauh harus mundur dulu beberapa langkah.  Iya kan?  

Sibuk apa kami sekarang setelah kegagalan kemarin?  Masih seperti dulu, aku dan Mas Ipung tetap pada pekerjaan selama ini.  Tidak ada yang berubah kecuali tabungan kami. *smile.  Semangat untuk nyoba-nyoba masih menggebu kok walau harus nabung lagi dari awal….hihihihihih….  

Untuk teman-teman yang masih galau (hari gini masih galau?), be strong darling!  Untuk yang merasa gagal dalam karir, rumah tangga, proposal selalu ditolak, gebetan selalu memandang sebelah mata aku sarankan jangan putus asa.  Bangkit dan mulai rintis tujuan perjalanan selanjutnya.  Selamat berlayar.

Salam hangat,

Lintasophia

Kenangan Seperti Apa yang Ingin Kamu Catat?

Pengantar

Suatu sore, beberapa hari menjelang Natal di sebuah jalan kecil yang kulewati setiap hari, terdapat kerumunan orang.   Beberapa mobil polisi, sebuah ambulance.   Jumlah polisi banyak sekali.  Mereka mengamankan antusias masyarakat yang penasaran dengan kejadian sore itu.  Sebagian petugas terlihat sibuk mencatat dan berbincang satu sama lain.

Sama seperti masyarakat yang kebetulan lewat, aku memilih berhenti dan mengamati situasi yang ada.  Aku tidak menemukan jawaban atas apa yang terjadi.  Beruntung aku bertemu dengan Abdul, seorang tetangga  yang berdiri tidak jauh dari lokasi.  Dari Abdul aku mendapat informasi bahwa baru saja seorang pria dalam keadaan mabuk terjatuh.

”Kepalanya menyentuh tanah dan berdarah.  Kemungkinan mati.”  Demikian terang Abdul sambil menjelaskan ciri-ciri pria yang dimaksud.  Aku sedikit kesulitan mengindentifikasi pria malang itu, mengingat di sekitar sini banyak pemabuk.    Abdul menyarankanku untuk bertanya pada sepupuku Eik.  Karena ternyata pria yang terjatuh tersebut sebelumnya sempat berbicara dengan Eik.

Singkat cerita, malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan Eik mengenai kejadian sore itu.  Katanya, aku tidak perlu khawatir lagi, sebab  pria yang selama ini suka menguntitku sudah mati.   Ia terjatuh dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri saat berkeliaran di sekitar sini sore tadi.  Wajah dan badannya lebam seperti habis digebukin orang.  Mungkin juga ia sedang sakau, bukan mabuk karena minuman keras.    What?  Aku terhenyak.

Memang sering aku jengkel karena kehadirannya, atau bahkan tidak segan juga aku menyumpahinya agar mati saja (biasanya karena aku ketakutan hingga keluar doa seperti ini).  Tapi mendengar dia pergi secepat ini rasanya masih sulit dipercaya.  Bukankah orang jahat biasanya sulit mati?  Katanya sih….

Fikiranku melayang-layang pada sosok seorang pria mungil dengan gigi depan nyaris tandas tak bersisa.  Seorang pemabuk yang berbicara dengan nada gagu.   Pria ini tiba-tiba saja hadir dalam kehidupanku.  Di seberang jalan toko tempatku bekerja, ada sebuah tempat dimana pria itu suka nongkrong bersama teman-temannya.   Suatu hari, saat aku merokok, aku merasa seseorang menatapku lekat.  Itu adalah dia.  Instingku berkata bahwa pria ini bermaksud tidak baik padaku, tapi kuacuhkan dan tetap berfikir positif.

Keadaan  berubah saat aku bertemunya di semua tempat  (maklum kota ini sangat kecil).  Jika awalnya aku fikir ia cuma mau mengemis seperti yang dilakukan pada orang lain yang lewat di hadapannya, ternyata kalau kebetulan bertemu, ia selalu mengatakan sesuatu.  Masih dengan nada gagu dan ragu.  Sekalipun aku tidak pernah menangkap apa yang dia ungkapkan.  Kejadian ini berulang terus sejak pertengahan tahun lalu.

Aku punya banyak kekhawatiran atas kehadiran dia.  Toko dan restoran tempatku bekerja letaknya berdekatan.  Aku tidak mau ia melakukan sesuatu yang buruk padaku dan keluarga atau teman-temanku yang lain.  Demikian juga dengan rumahku yang berjarak hanya 3 sampai 5 menit berjalan kaki dari restoran.  Aku sempat ketakutan jika ia menguntitku saat aku pulang sendiri.  Berbagai perasaan terganggu akhirnya memaksaku untuk bercerita pada majikan.

Majikan sempat berkonsultasi pada polisi mengenai tindakan pencegahan yang dapat aku ambil, salah satunya dengan melaporkan pria yang tidak pernah kuketahui nama dengan tuduhan tindakan tidak menyenangkan.  Saran ini aku tolak.  Alasanku, karena selama ini aku tidak pernah berkenalan secara official, berjabat tangan apalagi sampai  mengucap; nice to meet you.  Tidak, aku sama sekali tidak kenal dia dan menolak berurusan dengannya.

Alih-alih memperkarakan ke jalur hukum,   aku memilih melawan ketakutan atas kehadirannya dengan hidup normal.    Asal tetap waspada, semua masih di bawah kendali.  Secara bergantian, kakak dan iparku menemaniku jika aku harus jalan sendiri.  Tapi aku tidak suka merepotkan orang lain.  Sampai kapan harus ditemani kemana-mana?  Akhirnya aku berhasil keluar dari rasa cemas akibat kehadiran pria tidak jelas itu.  Aku berani jalan sendiri lagi.

*****

”Menurutmu, bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan oleh pria itu?”  Tanyaku pada Eik yang menjawab dengan mengangkat bahu.  Kami berdua pun larut dalam diskusi mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada setelah peristiwa jatuh atau mungkin meninggalnya pria itu tadi sore.    Kira-kira, keluarga yang ditinggalkan pria itu menangis histeris karena merasa kehilangan?  Atau, jangan-jangan malah mengucap syukur atas kematiannya, sama seperti kebingungan perasaan yang aku aku rasakan.

Bila ia benar-benar mati saat terjatuh tempo hari,  apakah aku sebaiknya mengucap turut berduka cita untuk kematiannya atau bersorak gembira?  Kebingungan ini aku ungkapkan pada Abdul yang berfikiran sama.  Kematian tetaplah kematian akan meninggalkan kesedihan, kata Abdul.  Tapi tergantung juga sih, selama hidupnya ia telah melakukan apa saja, lanjut Abdul sambil membenahi sayur dagangannya.  Aku mengangguk setuju.

Kembali lagi ke obrolanku dengan Eik mengenai pria tadi.  Tentang bagaimana rasanya sebuah kehidupan yang kita isi dengan kesia-siaan belaka.  Kesia-siaan belaka ini maksudku (berkaca dari pria tadi), yang sehari-harinya tidak bekerja, memakai narkoba, mabuk dan mengganggu orang lain.  Kira-kira, berapa banyak orang yang pernah mendoakan kematiannya ya?  Entahlah…

*****

Penutup

Berkaca dari pengalaman hidup pria tadi yang dapat dengan mudah kita temui di sekitar kita.  Mumpung masih suasana tahun baru, ada pelajaran yang bisa kita petik dari kematian pria tersebut dalam usia muda.  Kematian bisa datang kapan saja karena sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mampu meramal usia hidup manusia.

Mungkin sering kita mendengar bahwa hiduplah seakan hari ini waktu terakhirmu di dunia.  Dengan demikian, berlaku baiklah dan sebisa mungkin berguna bagi orang lain.  Maksudnya, tentu saja agar orang-orang terdekat memiliki kenangan manis tentang kita.

Minggu pertama di 2012, masih ada sekitar 350 hari ke depan kemungkinan kita hidup di tahun ini.  Artinya, kita memiliki waktu yang panjang untuk mencatat kebaikan, apalagi kalau dihitung menjadi berapa jam, menit dan detik ya….

Sebetulnya, penting ga ya kita berlaku baik terhadap orang-orang sekitar kita?  Menurutku sih penting karena bakal dapat banyak doa dan support.  Bandingkan kalau kita selalu mendzolimi orang lain, bukankah cuma sumpah serapah yang didapat? *amit-amit.  ;).  Coba tanya pada pasangan hidup Anda, seandainya Anda tiada, kenangan seperti apa yang ada di benak mereka tentang dirimu?  Bertanyalah pada teman sejawat, teman sepermainan atau sekolah dasar dulu.  Apa yang mereka ingat tentang Anda?  Bisa jadi mereka cuma mampu menuliskan sepotong-sepotong kenangan mengenai diri Anda, karena periode hidup bersama mereka sangat singkat.  Hanya saat sekolah.

Tapi, apakah Anda berani menanyakan hal yang sama pada orang tua, kakak dan adik, suami atau anak Anda?  Bagaimana pendapat orang terdekat mengenai Anda?  Seorang pemarah, keras kepala, sombong, kikir, ramah, baik hati atau lainnya?  Apa yang telah kita lakukan selama ini tentu saja  tidak bisa diubah lagi. Justru pertanyaan terbesar sekarang adalah, kenangan hidup seperti apa yang ingin kamu catat?   Selamat mencatat kenangan indah, teman….

Salam (pura-pura) hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Ini 2011-ku. Mana 2011-mu?

Hari terakhir di tahun 2011.  Lewat tengah hari di sini. Aku masih pakai piyama karena tadi pagi bos mendadak SMS bahwa hari ini aku tidak kerja.  Akhirnya, agenda yang mestinya pagi-pagi aku bereskan sebelum kerja terbengkalai.  Minggu depan saja kalau begitu.

Sejatinya, niatku siang ini adalah jalan-jalan, keluar masuk gang karena diluar mentari sangat cerah dan cantik.  (Heran deh ama hobiku yang satu ini.  Keluar masuk gang atau jalan kecil).  Kemudian, bergulung-gulung dibalik selimut kupilih sebagai cara menghabiskan sisa tahun ini.  Tidak sepenuhnya bisa tidur nyenyak.  Dalam hati sebagian fikiran melayang-layang ke perjalanan selama setahun ini, sebagian lagi memikirkan tahun yang akan datang.  Susah ya jadi manusia.  Selalu diliputi rasa khawatir.  *smile.

Berbicara tentang tahun 2011 yang notabene salah satu tahun terberat untukku, bukan secara fisik justru secara psikis menguras fikiran.  Ketika berat badan hilang beberapa kilo dan raut wajah kusam masai, mengingatkanku untuk hidup lebih tenang dan optimis lagi.    Banyak  yang terjadi dan diluar kendaliku.  Kebetulan, unexpected things tersebut selalu sesuatu yang menyedihkan.  Betul-betul banyak pil pahit yang terpaksa harus kutelan sepanjang 2011 lalu. 😉

Baiklah, 2011 adalah tahun yang sedih. Namun  tahun kesedihan itu pun akan segera berlalu.  Tidak baik mengingat-ingat dan terpaku pada masa lalu.  Mencoba yakin dan optimis menghadapi tahun-tahun yang akan datang.  Bukankah lebih baik begitu?

Lalu, apa agenda dan targetan yang telah aku susun untuk tahun yang akan datang?  Ada banyak agenda besar yang telah lama kususun di agendaku.  Namun telah lama pula aku masukan daftar impian tersebut ke dalam kotak mungil. Sealed.  Bukan, aku bukannya menyerah dan putus asa lantas berhenti bermimpi.  Nyatanya, aku harus bersikap lebih realistis.

Duka, kecewa dan penat selama setahun terakhir ini merupakan guru yang hebat untukku. Mungkin ia merupakan  satu-satunya guru yang membuat muridnya babak belur nyaris tak mampu berdiri. *smile.  Kadang kalo udah suntuk, aku suka bilang : Ya ampuuunnnn, sadis amat guru kehidupan ini.  Tapi itulah kehidupan.  Selalu ada hikmah dibalik cerita.  Mungkin kalo ga ”digituin” sama guru kehidupan, pasti aku tumbuh menjadi pribadi yang cengeng dan mudah menyerah.  Special thanks untuk keluarga, sahabat dan kerabat yang  menjadi sumber inspirasi dan keceriaan selama ini. 😉

Lalu, harapan 2012?  Tik….tok…tik…tok….  Secara spesifik, point per point agak bingung jawabnya.  Pan tadi aku udah cerita kalau keinginan-keinginan terbesarku sudah masuk ke dalam kotak.  Disegel dan menyepi di laci mejaku.  Tapi secara garis besar, aku cuma pengen lebih sehat, mengelola waktu dengan baik.

Ke depannya, aku pengen   hidup lebih simple dan lepas dari khawatir.  Lebih menikmati hidup istilahnya.  Aku juga berharap keluarga dan sahabat-sahabatku selalu sehat dan diberi keberkahan luar biasa.  Tahun 2012 semoga menjadi tahun kebahagiaan untuk kita semua

Apa lagi ya?  Pastinya hidup lebih sederhana juga.  Kalau yang ini mah bukan harapan tapi tuntutan keadaan….hihihihihi….    Masih tetap harus disyukuri kesusahan ini.  Walau kehilangan banyak pekerjaan selama 2011, tapi masih bisa makan walau seadanya.  Di luar sana, banyak orang Italia kehilangan pekerjaan.  Merasa bersyukur banget karena secara rutin masih bisa bantu keluarga dan sedikit investasi.

Eh ngomong-ngomong tentang investasi.  Rupanya, ini yang menjadi salah satu agenda besar di tahun mendatang.  Belajar dan diversifikasi investasi biar portofolio proporsional.  Periode ini berawal sekitar 2 atau 3 tahun terakhir, saat inget umur yang beranjak senja…halah…  Tantangannya?  Bagaimana memilih investasi yang tepat di saat yang kurang tepat alias kondisi Senen Kemis seperti sekarang….*sigh…

Begitulah 2011-ku.  Bagaimana dengan 2011-mu selama ini.  Pasti ada cerita menarik  dong?  Sharing yuks….  Selamat tahun baru 2012 ya teman.  Banyak kebahagiaan menanti kita setahun yang akan datang, tergantung bagaimana kita memandang dan mensyukurinya.  Life is beautiful.

Terima kasih karena sudah mampir di di sini dan menjadi sahabat Lintasophia yang hebat.

Salam damai,

Lintasophia

Mencari Passion

Pertanyaan seorang sahabat menyadarkanku bahwa kiranya telah lama aku tidak pulang ke rumah  Lintasophia.   ”What’s going on?”  Tanya dia.

”Tidak going on apa-apa.”  Maksudku, tidak terjadi apa-apa.  Bukan karena sibuk bekerja, justru sebaliknya.  Belakangan ini aku lebih banyak di rumah, bahkan di depan komputer.  Tapi ternyata, intensitas menghabiskan waktu di depan komputer tidak berbanding lurus dengan produktivitas menulis.  Baiklah, aku mau membuat pengakuan saja kalau begitu.

Sekarang di rumah ada keponakan baru, 2 minggu sudah usianya.  Eleonora Manurung namanya  (lha, kok malah nyalahin keponakan?).  Kalau sedikit jenuh di kamar, aku kabur ke kamar sebelah, main-main dengan Eleonora.  Setelah itu, aku kembali manyun di depan komputer.  Agak membosankan sih.  Tapi mengapa harus pakai acara manyun jika sedang di depan kompi?  Soalnya aku sedang merasa asing dengan diriku sendiri.  Kok bisa?  Ya bisa!

Secara tiba-tiba, mendadak dan mengejutkan, aku merasa tidak kenal dengan diriku sendiri.  Pokoknya, situasi yang tidak sedap.  Aku sedang mencari sesuatu yang biasa disebut dengan passion.   Terakhir nyimpen  passion dimana?  Kok sampai bisa kehilangan gitu?  Atau, siapa sih passion itu?  Gimana rupa dan warnanya? Ehem, passion  itu  sesuatu yang bakal tetep kita lakukan sekalipun hujan badai menghadang. 😉  Sesuatu yang membuatku menangis meraung-raung saat seseorang mengambilnya dari dekapanku.

Mengutip dari Wikipedia ; passion is often applied to a lively or eager interest in or admiration for a proposal, cause, or activity or love – to a feeling of unusual excitemententhusiasm or compelling emotion, a positive affinity or love, towards a subject, idea, person, or object. It is particularly used in the context of romance or sexual desire though it generally implies a deeper or more encompassing emotion than that implied by the term lust.

Selama ini, aku yakin bahwa passion terbesarku adalah kuliah.  Mau suhu di bawah 0 derajat Celcius, kurang tidur, ga punya duit, laper dan harus sprint pulang pergi ke kampus agar tidak telat kuliah dan bekerja, semua kulakukan dengan suka cita.  Tentang sprint ini, suatu hari saat mudik,  Mas Ipung mengakui  bahwa betisku sangat kencang.  Cuma satu level di bawah tukang becak.  Setelah gagal kuliah dengan segala dinamikanya, aku agak-agak kehilangan gairah hidup nih…. Cieeee….

Beneran lho, hidup tanpa huru-hara dan keriuhan sangat menyiksa.  Aku terbiasa kerja belasan jam sehari dan melakukan berbagai hal dalam waktu bersamaan.  Sekarang semua itu tercabut…but!  Sudah mulai gila setiap hari begini-begini saja.  Pulang kerja, nyalain kompi, main dengan ponakan, kembali ke depan kompi dan seterusnya.  Karena tidak tahan dengan aktivitas ini, aku berniat mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat tentunya.

Dari sini  pencarianku terhadap makhluk yang bernama passion itu dimulai.  Selain kembali kuliah, apalagi ya hal terbesar yang  selama ini ingin kulakukan?  Jalan-jalan!  Ah itu mah jangan ditanya karena selalu as always semangat untuk jalan-jalan.  Punya waktu tapi ga punya duit, jadi percuma  juga mikirin jalan-jalan.  

Ada beberapa ide menarik  yang dapat kupilih sebagai passion.   Belum aku putuskan yang mana karena ini membutuhkan perhatian serius.  Bisa dihitung dengan jari mengenai passionku namun agak susah diwujudkan karena butuh dana besar dan perhitungan serius.  Sekarang aku membebaskan diri dari fikiran dengan hal-hal baru, setelah itu baru aku mengarahkan telunjuk.

Sedikit catatan  mengenai passion ini aku tambahkan.  Sebuah passion akan kulakukan bila itu memperkaya batin, membuat senang, mempunyai nilai lebih dan berguna bagi orang banyak.  Nah, itulah alasan  mengapa beberapa waktu ini aku jarang membuat catatan… 😉 .  Sedang asyik berkelakar dengan keinginan, bayangan dan harapan.   Kita lihat saja, hal apa yang akan kupilih sebagai passionku.  Rasanya, aku pun penasaran dan ingin segera jungkir balik bersenang-senang dengan pacar eh passion baru.   Sudah tidak sabar untuk terbakar rasa antusias!

Kalau kamu ada ide, sharing yuks….

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Kecewa Pada Dunia

Pelajaran hidup ada dimana-mana, termasuk dari orang-orang terdekat Anda.  Hal ini aku simpulkan setelah minggu lalu Angelina mampir ke toko tempatku bekerja.  Ia mampir untuk mengambil beberapa amplop yang ditujukan padanya dengan menggunakan alamat rumahku.

Ceritanya, dulu ia tinggal satu rumah denganku tapi berbeda pintu masuk.  Sejak Juli lalu ia pindah rumah namun untuk korespondensi masih menggunakan alamat rumahku karena administrasi residenza-nya belum beres.

Setelah membolak-balik amplop yang kusodorkan, ia melontarkan kalimat yan membuatku terperanjat.

” Aku mau menutup kedua studio pijatku.”  Katanya.

” What?”  Aku berteriak terkejut.  Ia mengulang kalimat yang sama.  Seolah aku mengalami gangguan pendengaran.

” Kenapa?”  Tanyaku.

” Setiap bulan makin sepi.  Aku ga yakin bisa survive dalam situasi krisis ini.” Katanya dengan nada datar.  Beberapa detik aku butuhkan untuk mencerna ucapannya.  Karena kedua studio pijat miliknya belumlah lama dibuka.  Studio pijat pertama dibuka sekitar 3 tahun lalu.  Sedangkan yang terakhir belumlah genap setahun umurnya.

” Separah itu?”  Lalu sebuah cerita yang pernah kudengar sebelumnya meluncur bebas dari bibirnya yang tipis.   Setelah ia membuka studio pijat untuk pertama kalinya sekitar 3 tahun lalu, persaingan amat berat.   Awalnya semua berjalan lancar.  Tamu tak terbendung bahkan beberapa terpaksa ditolak karena waktu tidak memadai.  Angelina bersama kakak dan 2 karyawan buka sejak pukul 10.00-22.00.  Setiap hari tanpa mengenal libur.  Sekarang, Angelina memiliki 5 orang karyawan ditambah 1 orang kakak yang bekerja padanya.

Mungkin sudah adatnya dalam bisnis bahwa sebuah usaha yang maju pasti akan ditiru oleh orang lain.  Bak cendawan di musim hujan, muncul studio pijat lainnya, dengan harga bersaing dan layanan plus-plus (baca : prostitusi).  Angelina bertahan dengan studio pijat yang pure untuk kesehatan.  Pelan dan pasti ia mulai ditinggal pelanggan.  Ia hanya mengandalkan pelanggan loyal yang kemudian karena krisis menghantam, para pelanggan ini mengurangi frekuensi kunjungan ke studio miliknya.

Tahun lalu, ketika ia berniat membuka studio baru, aku bersikeras tidak setuju saat ia menanyakan pendapatku.  Alasanku karena krisis seperti ini, maka sangat beresiko.  Lebih baik ia bertahan dengan studio lamanya.   Masih menurutku, mending tabungannya selama ini ia fokuskan untuk  membeli rumah di China sana seperti mimpinya selama ini.  Menginvestasikan seluruh tabungan untuk  studio pijat baru rasanya bukan langkah yang tepat.  Bagaimana kalau bernasib sama dengan studio pertama?   Namun Angelina bersikukuh untuk maju.  Menurutnya, Buddha sudah memberi petunjuk bahwa tahun ini (2011) adalah saat yang tepat untuk mengembangkan usaha.  Kalau ia sudah membawa-bawa nama  Budha, aku menyerah.  Semoga benar  demikian, kataku.

Begitulah, waktu berlalu.  Belum setahun studio terbarunya dibuka, Angelina sudah berniat melego.  Awalnya aku bingung mau bersikap, antara gemas dengan kenekadannya dan kecewa dengan semua yang telah terjadi.  Tapi melihat wajahnya yang datar-datar saja, tanpa ekspresi membuatku lebih tenang.  Sikapnya ini berbeda saat terakhir kali bertemu sebulan lalu.  Ia kelihatan sangat kusut waktu itu, ditambah bahwa telah 20 hari ia  tidak enak badan.  Banyak toko, restoran dan tempat usaha lainnya yang bertumbangan.  Tapi melihat dengan kepala sendiri tempat usaha sahabat tumbang, tentu bukanlah hal yang mudah.

*****

Jujur bahwa aku sangat salut akan kebesaran hatinya.  Ia masih bisa bertahan di tengah deraan hidup yang begitu kerasnya.  Waktu memang bisa mengubah watak seseorang yang dulunya rapuh menjadi sekuat karang.  Saat pertama kali kami bertemu, ia sangat rapuh dan cengeng.

Sebagai orang asing di sini dengan kondisi tidak seperti yang  diharapkan sebelumnya, membuat ia sering putus asa.  Apalagi tiada kawan dan keluarga untuk berbagi cerita.  Ditambah keterbatasannya dalam bahasa Italia membuat kami kemana-mana selalu berdua. Kami menjadi dekat.  

Memang  aku tidak bisa berbahasa Mandarin, tapi aku bisa memahami bahasa Italia-nya yang patah-patah.  Kendala terbesar ketika ia harus belanja sesuatu.  Penjaga toko di sini tidak sabar dan faham dengan bahasa Italia ala Angelina yang berantakan.  Karena itu aku menjadi penengah.

6 tahun lalu, kami selalu berangkat kerja bersama-sama, di pagi buta.  Ia kerja di sebuah restauran di salah satu hotel, sedangkan aku bekerja  sebagai cleaning service keliling.  Tempat pertama yang harus kubersihkan setiap pagi searah dengan hotel dimana Angelina bekerja.  Saat itu, tubuh kami sangat kurus, sehingga pada sebuah musim dingin yang buruk, kami berdua memeluk tiang besi, tangan kami saling menahan satu sama lain agar kami tidak terbang tertiup angin.  Sebuah periode yang berat untukku dan Angelina.

Kedatangannya ke kota ini setelah sebelumya ia bekerja di sebuah pabrik tekstil di pinggiran kota Milan selama 2 tahun.  Kerja 15 jam sehari dengan kondisi pangan dan papan seadanya dijalani agar dapat membayar agen yang mengurus visa kerjanya.  Setelah semua lunas, ia memutuskan untuk hengkang  ke Genova mengikuti pacarnya yang stay di sini.  Seperti yang aku bilang, bahwa aku salut padanya.  Walau ia sering mengeluh bahwa ia kecewa pada dunia dan kadang merasa jalan hidupnya selalu berdarah-darah, ia masih mampu bertahan.  Sebagai gambaran, ia menikah muda dan memiliki seorang putri berusia 18 tahun.   Tidak pula memiliki cerita percintaan yang manis.

Setelah susah payah mendapatkan visa kerja untuk masuk Italia dan menyusul suami di Napoli, justru kenyataan pahit yang ditemui.  Suaminya telah menikah lagi dengan sesama orang China.  Gubrak….  Sinetron Indonesia  banget.  Untunglah nasib baik masih berpihak padanya saat ia menemukan pekerjaan di sebuah pabrik tekstil untuk membayar agen yang telah mengurus dokumen dan visa kerjanya.  Suaminya tidak mau bertanggung jawab tentang ini.  Bahkan menurut analisisku dan Angelina, bahwa sebetulnya (mantan) suaminya tidak menyangka bahwa Angelina akan berhasil mendapatkan visa kerja dan menyusulnya ke Italia.

Cerita sedih tidak sampai di sini.  Pacar tempatnya mengadu selama ini ternyata menduakannya setelah 5 tahun mereka berpacaran.   Biduk rumah tangga  berantakan serta ditinggal pacar, begitulah romansa cinta Angelina.   Nyaris ia gila dan mencoba  bunuh diri ala Nazi.  Suatu hari  ia menghidupkan gas dan menutup semua jendela dan pintu.  Ancamanku bahwa jika ia gagal mati, maka ia bakal masuk penjara karena tindakannya membahayakan orang banyak yang membuatnya membuka pintu.

” Kalau mau mati, pilih cara yang elegan dong.”  Candaku saat ia telah membuka pintu kamarnya yang nyaris kudobrak.  Tapi itu cerita lalu.  Sejak ia ditinggal pacarnya  (sekarang menjadi sahabat),  ia lebih kuat.  Bila selama ini (mantan) pacar yang mengurus dokumennya, perlahan ia ambil alih hingga ia berhasil mandiri dan membuka kedua studio pijat.  Akhirnya Angelina jadi pengusaha, godaku saat ia mengantarkan undangan pembukaan studio miliknya.

Semua cerita di atas terputar ulang di benakku.  Aku mengingat betul saat Angelina selalu sedih dan merasa dunia tidak adil padanya.  Sering ia merasa kecewa telah dilahirkan ke dunia ini.

*****

”Untuk apa aku dilahirkan jika hanya untuk mengecap kesedihan?”  Tanyanya suatu hari.  Ia sangat kecewa akan tindakan keluarganya yang tidak memberitahu bahwa ibunya telah  meninggal.  Tragisnya, ia mengetahui bahwa ibunya telah tiada setelah 3 tahun ibundanya berpulang.   Kenyataan pahit itu ditemukan saat ia mudik untuk pertama kalinya sejak meninggalkan tanah kelahirannya.  Padahal Angelina sudah menabung  dan  membeli perhiasan untuk ibunya.  Aku sampai kehabisan kata-kata untuk menghiburnya.  Aku memilih diam dan membiarkan ia menumpahkan kemarahannya.

Sikap yang sama aku pilih saat tempo hari ia mencetuskan keinginannya menutup studio pijatnya.

” Mulai dari nol lagi.”  Jawabnya saat kutanya rencana ke depan.  Ia memilih menjual kedua studio dan akan mengambil sebuah studio yang lebih kecil untuk menekan ongkos produksi.  Ia dan kakaknya (yang juga tulang punggung keluarganya di China) akan mengelola bersama-sama.

” Yang penting bisa survive dan nabung untuk pulang ke China.”  Katanya lagi.

” Kamu biasa aja kelihatannya.”  Kataku mengomentari ekspresi wajahnya yang datar itu.

” Untuk apa kecewa, tidak akan menyelesaikan masalah.  Paling tidak, aku udah mencoba bagian terbaikku.”  Katanya.  Aku bengong sekaligus salut luar biasa.  Salah satu keberanian mengambil resiko dalam bisnis yang belum aku miliki.

” Aku kira kamu akan nyoba bunuh diri lagi.”  Aku menggodanya dan ia tertawa, menertawakan kebodohannya beberapa tahun lalu.  Saat ia berpamitan, kami berpelukan erat dan lama sekali, saling menguatkan.

” Janji ya untuk menghubungi aku kalau kamu ada waktu.  Kita rayakan kekacauan ini dengan pesta pizza.  Biar kamu gemuk lagi”  Katanya.  Ternyata ia masih sempat memperhatikan wajahku yang semakin tirus.

” Siap, komandan!”  Kataku sambil mengangkat tangan kanan ke pelipisku.  Ia tertawa sambil meninggalkanku yang memandangi punggunggnya dengan perasaan tidak karuan.  God bless you, my friend.  Sang Budha  akan mengganti air mata dan kecewamu dengan sejuta kebahagiaan, doaku dalam hati.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Selalu Ada Rezeki Untuk Mereka

Tutup Facebook dan mengasingkan diri di sini. 🙂

Apa ya yang mau kucatat hari ini?  Kepala sedang kosong melompong efek dari  ngobrol ama ibu 2 jam lalu.  Kemaren ibuku sengaja menelfon Mas Ipung untuk menanyakan khabar terbaru dari usaha yang sedang kami rintis.  Dari  Mas Ipung, ibu sudah tahu bahwa usaha yang sedang kami rintis terpaksa melambat karena kekurangan dana.  Dari nada suaraku pun ibu sudah tahu kegelisahan hatiku.  Beliau berusaha menguatkan hatiku yang sedang down dengan bercerita hal-hal lucu tentang keponakan-keponakanku.

Sudah beberapa hari aku tidak menelfon demi penghematan pulsa (karena itu beliau memilih menelfon Mas Ipung).  Rasanya berat untukku dan keluarga di Bandung,  terutama ibu yang merasa kehilangan teman bercerita.  Walau tidak ingin membebaniku, tapi katanya ia telah menunggu telfonku sedari pagi.  Bahkan tadi ibu sengaja tidur di depan telfon agar bisa langsung mengangkat telfon jika aku menghubunginya.  Sungguh terharu.  Belum lagi ibu sedikit kesulitan menjawab pertanyaan keponakan yang mencari-cariku.

Aku cuma menitipkan salam dan ucapan selamat untuk  mereka (keponakanku) yang baru saja dibagikan hasil Ujian Tengah Semester (UTS).  Mereka pasti sudah menunggu seribu pujian dariku atas pencapaian mereka selama ini.  Aku jadi ingat beberapa hari lalu saat Uis sedikit tergagap meminta maaf karena nilai Bahasa Inggrisnya tidak sebaik yang diharapkan.  Tentu saja aku tidak marah, kataku.  Aku meyakinkan Uis bahwa sebetulnya ia bisa lebih baik lagi asal tidak malu bertanya.  Anak pintar tidak malu bertanya, kataku pada Uis.

Demikian juga dengan Tony yang tiba-tiba merasa rendah diri karena Matematikanya harus remedial (mengulang), padahal beberapa hari sebelumnya ia sangat optimis  bahwa tahun ini nilainya pasti lebih baik.  Aku pun tidak marah sepanjang mereka berusaha dengan baik dan tidak nyontek.

Cerita penutup dari ibuku yang membuat fikiranku mendadak kosong…halah…  Kata ibuku, pendaftaran untuk tahun ajaran baru sudah dimulai.

” Haaaaaa….  Cepat banget?  Baru juga 3 bulan masuk TK.  Kejam amat”  Kataku.

” Iya, itu kalau kita minat memasukan Lia ke SD  yang sama yayasannya dengan TK-nya sekarang ini.”  Jelas ibuku.

” Oh gitu?  Lalu…”

” Formulir sudah di tanganku dan tadi aku sudah bicara dengan kepala sekolahnya.  Karena berasal dari TK  milik yayasan, maka Lia mendapat potongan harga 20 persen.”  Terang ibuku sambil menyebutkan angka awal dikurangin potongan harga dan harga akhir. 😦

Aku terdiam, sama seperti ibuku yang kemudian buru-buru mengalihkan pembicaraan.  Kondisi krisis gini, aku ga tau dari mana mendapatkan dana untuk mencicil uang masuk sekolah Lia yang harus mulai bayar Desember nanti.

Keadaan tidak pernah sesulit ini.  Dalam sejarah keuanganku, aku bahkan pernah memasukan sekolah 3 keponakan sekaligus (masuk TK, SMP dan SMA dalam waktu bersamaan) ditambah pula menjadi donatur sejumlah adik asuh selama bertahun-tahun (sekarang tinggal kenangan).  Kali ini, untuk mencicil uang masuk  1 anak pun rasanya gelap….Grhhhh….

” Jangan jadi fikiranmu, ntar kamu sakit.”   Hibur ibuku.  Segera kuatur nafasku agar tangis tak tumpah.

” Kita bisa daftarin Lia ke SD Inpres dekat rumah.”  Kata ibuku.  Aku menolak mentah-mentah ide itu.  Lia anak yang pintar dan energinya banyak.  Rasanya sayang sekali kalau semua itu tidak tersalurkan dengan baik.  Lia berjanji akan belajar balet dengan baik agar ketika aku pulang ia bisa menari untukku.  Ia pun sudah tidak sabar agar sekolah full seperti kakak-kakaknya dan menikmati fasilitas sekolah yang sama seperti yang diterima kakak-kakaknya.  Kebetulan mereka bertiga sekolah di sekolah yang sama.

” Aku usahakan ya, bu.  Pegang saja dulu formulirnya.  Besok berbicaralah dengan Kepala Sekolah bahwa Desember ini kita pasti bisa kasih cicilan pertamanya.”  Pintaku pada ibu walau dalam hati tidak tahu bagaimana cara mendapatkan dananya.

” Kamu yakin?” Tanya ibuku.  Ada rasa was-was dan perasaan bersalah pada suaranya.

” Aku yakin.  Semoga selalu ada rezeki untuk mereka.”  Kami menutup telfon.  Tangisku pecah.

Salam,

Lintasophia.

Gambar dari Google