Hidup Bahagia Secara Frugal

Pengantar

5.-FrugalityPernah mendengar kata frugal?  Aku mendengar kata frugal sekitar 2011, secara ga sengaja nemu di youtube.  Saat itu, sekitar tahun 2010 sampai September 2012 aku hidup dalam kondisi gaji yang minim karena pengurangan jam kerja, sementara post-post yang harus dibayar sama saja seperti sebelumnya.  Di situlah aku mulai belajar lebih serius bagaimana orang-orang di luar sana bisa survive dengan penghasilan minim.  Sayangnya, sampai sekarang tidak banyak artikel maupun video tentang frugal dalam bahasa Indonesia, kebanyakan dari Amerika.

Baca-baca artikel hingga nonton youtube dengan kata kunci ”living in budget,” mengantarkanku ke deretan video tentang frugal living.  Jadi, frugal itu adalah istilah bule untuk hidup sederhana. Hidup di bawah penghasilan.  Serba minimalis dan ekonomis.  Sesuatu yang sebetulnya sudah diajarkan nenek moyang kita ya.

frozen frugalityDulu pas liat di youtube, para frugalista (sebutan untuk para pelaku hidup frugal), kok hidupnya mesakke yo?  Bikin selai sendiri, bikin saos tomat dan acar berbotol-botol lalu disimpan di gudang.  Serasa zaman perang.  Belum lagi jejeran makanan bekunya yang bikin merinding.  Nyaliku udah ciut duluan liat polah mereka.  Mana mungkin aku yang pemilih dan mudah bosan dalam hal makanan bisa hidup seperti itu?  Aku sih milih makan sekali sehari daripada makan makanan beku begitu. Belum lagi gaya belanja mereka yang menggunakan kupon makanan.  Oh Gosh, ribet bener!  Secara sederhana, aku memangkas beberapa pengeluaran yang tidak penting, misal biaya komunikasi, makan di luar dan beberapa hal kecil lainnya.

Pada intinya, frugal itu kemampuan hidup sederhana (di bawah penghasilannya), dengan melakukan belanja atau pilihan bijak serta ekonomis dan mengalihkan sebagian pendapatannya untuk sebuah tujuan terencana.  Menjadi frugalista tidak terjadi dalam satu malam, setahun atau dua tahun.  Lebih lama dari itu.  Karena itu, seorang frugalista sangat menghargai proses.

Seorang frugalista memilih sesuatu/barang karena value daripada prestise, apalagi sekedar gengsi.  Karena itu, seorang frugalista umumnya pintar bersyukur  dan bahagia dengan apa yang ia punya.  Mungkin pula itu sebabnya, seorang frugalista mampu tampil bersahaja, gembira dan penuh suka cita sekalipun penampilannya jauh dari rupa sosialita.   Seorang frugalista juga mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.  Point yang terakhir susah banget, percayalah… *hapus keringat.

Menjalani Frugal Karena Kepepet

Terhitung sejak 2010 aku serius menjadi frugalista meski masih berantakan.  Menjadi frugalista tidak semata hidup hemat dan sederhana tapi juga harus hidup bahagia. Nah, aku sering gagal di perasaan bahagia.  Masih suka ngambek kalo gaji abis padahal kan buat bayar rumah.  Ibarat kata kondisiku saat itu, situ yang beli rumah lha kok situ yang ngomel-ngomel?  Kurang lebih seperti itu.  Atau dulu menurutku, aku akan bahagia jika hutang telah beres dan hidup normal.  Bisa hang out dan belanja-belenji lagi. Aku tertekan dan belum bisa menikmati konsekuensi setiap pilihan.

Bolak-balik mantengin youtube dan melihat perbedaan antara aku dan mereka.  Setelah dijalani dan belajar lagi, aku menemukan ternyata esensinya bukan di situ.  Tidak semata bisa patuh terhadap budget dan nabung sebanyak mungkin tapi ya harus bahagia menjalaninya.

Bahagia itu cara hidup sekarang, bukan tujuan hidup yang akan datang.  Aku pernah gagal memaknai bahagia.  Kurang lebih, berbahagia dan bersyukurlah apapun keadaannya.  Dengan begitu, setengah beban terangkat dan semua menjadi lebih mudah.  Susah?  Terus terang, iya.  Susah adaptasi pada awalnya.  Masih suka nostalgia masa-masa keemasan saat duit tidak menjadi masalah besar, tapi akhirnya terbiasa kok.

Memutuskan Menjadi Frugalista

debt freeKeadaan keuangan membaik itu sekitar Oktober 2012 (3 tahun lalu), saat seorang rekan mengundurkan diri dan aku menggantikan posisinya.  Jelas pendapatan bertambah.  Namun aku dan Mas Ipung memutuskan tetap melakoni hidup frugal.  Kita membuat target baru, yakni melunasi hutang yang kecil-kecil akibat huru hara selama 2 tahun terakhir.  Bila ada kelebihan dana, kita belikan emas batangan yang kelak ini membantu biaya pernikahan kita.

Tahun 2013 keadaan keuangan lumayan tapi hidup lebih frugal lagi karena sedang mempersiapkan pernikahan yang berlangsung 2014 lalu. Semua dianggarkan.  Pendapatan dan pengeluaran dicatat dengan detail.  Pengeluaran ditekan seminim mungkin.

Beruntung aku punya pasangan seperti Mas Ipung yang mau diajak belajar bersama.  Kita membuka diri terhadap hal-hal baru termasuk masalah keuangan.  Beberapa seminar kita ikuti termasuk membeli buku-buku finansial.  Model keluarga seperti apa yang kita inginkan kelak sudah kita bicarakan jauh-jauh hari, termasuk masalah income dan gaya hidup.

Setelah menikah, sebetulnya keadaan agak mendingan.  Satu event yang memakan biaya besar terlewati.  Tapi mungkin karena kita kadung cinta dan terbiasa hidup secara frugal, maka kita memutuskan melanjutkan gaya hidup ini.  Kita menambah beberapa target yang harus dicapai, misalnya menambah aset, membuka usaha, melunasi hutang-hutang hingga dana darurat.

Saat ini target yang sedang kita lakukan adalah akan mulai mengumpulkan dana darurat dan melunasi hutang-hutang.  Tahun ini adalah tahunnya membayar hutang-hutang dan dana darurat.  Beberapa kali kami salah strategi.   Misalkan, sebaiknya menyiapkan dana darurat dulu baru bayar hutang, tapi kami melakukan sebaliknya.  Akibatnya, sebelum dana darurat terkumpul, sudah terjadi beberapa hal yang membutuhkan dana dan tentu saja kami tidak siap.  Akhirnya ya gitu deh, gali  lubang tutup lubang.

Beberapa Perubahanku Setelah  Menjadi Frugalista

Melakoni hidup frugal artinya mengubah cara pandang dan gaya hidup.  Pernah merasakan hidup lumayan tiba-tiba harus Senen Kemis dan sebaliknya membuat daya juang bolehlah diadu. 😉 . Proses naik turun (baca : keuangan) memang menguji sekuat apa kita bersyukur.  Kalo kondisi sedang baik, tentu bukan hal sulit mengucapkan Puji Tuhan.  Iya, kan?  Kalo sedang susah?

Mengubah cara pandang juga terhadap uang.  Sama seperti aku, dulu Mas Ipung juga ga berat buat hang out dengan teman-teman tiap akhir pekan.  Tapi sekarang udah jarang banget.  Mending buat beli emas atau hal penting lainnya, katanya.  Atau ngumpul di rumah bersama teman-teman atau tetangga. Ingat, yang mahal itu gaya hidup bukan biaya hidup.

Aku sendiri sudah lama ga makan siang dan ngopi di luar.  Dulu, post ngopi-ngopi ini memakan lebih dari separuh bekelku.  Sekarang, sejak 2 tahun terakhir ini aku bawa bekel dan kopi dari rumah.  Ini sangat menghemat pengeluaran bulananku.

Urusan membawa bekel ini menjadi tantangan tersendiri saat keuangan sedang baik seperti saat ini.  Tapi nilai juangnya justru di situ, pengendalian diri. ;). Pernah karena kecapean, aku memutuskan makan di luar selama 2 bulan penuh.  Lumayan enak dan ga ribet sih.  Paling resikonya, dompet menipis sedangkan pinggang melebar…hiihihihih…. Di sinilah seorang frugalista harus bisa membedakan antara need and want. Biaya bulananku dipangkas sebesar 30% hingga 50 %, dialokasikan untuk goals kami selanjutnya.

Punya duit tapi irup  kok sengsara tenan, men?  Ga sengsara kok.  Semua tergantung cara kita menjalaninya.  Masih ada biaya huru hara eh hura-hura alias bersenang-senang.  Sebisa mungkin aku sisihkan sedikit untuk belanja barang yang sifatnya tidak penting tapi menyenangkan.  Misalnya, tas atau sepatu.  Kalau membutuhkan biaya besar ya harus ngumpulin dulu.  Post hura-hura ini boleh digunakan untuk makan di luar, nonton ke bioskop atau nongkrong di bar.  Tapi tentu saja sifatnya terbatas.  Begitu budgetnya abis ya sudah… Kalo dulu ya terbalik, selama sudah mengirim ke keluarga, bayar ini itu dan nabung, berarti sisanya boleh dihabiskan.  Pun goals yang kita buat sederhana dengan kondisi yang nyaman memang membuat kita ga terlalu lihai mengelolanya.  No pressure.

Perubahan apalagi ya? Kalo kata Mas Ipung, aku sekarang udah jinak, jarang marah-marah.  Masih menurut beliau, setiap bulan ada 2 kali aku marah-marah, saat PMS dan tanggal tua.  Tapi itu dulu.  Sekarang Mas Ipung bahkan lupa kapan terakhir kali aku mengeluh karena tanggal tua.  Iyalah, karena setiap bulan duit belanja udah dimasukan ke amplop-amplop tersendiri.  Jadi uda bisa mengatur umur duit belanja.  Ga selalu mulus, tapi lumayan terkendalilah kecuali kalo ada pengeluaran mendadak.

Frugal sama dengan Pelit?

Bisa ya bisa juga tidak, tergantung dari mana memandangnya.  Untuk beberapa hal aku mungkin pelit dan penuh perhitungan tapi di sisi lain, sampai sekarang masih bisa membantu keluarga, teman atau menjadi donatur.  Puji Tuhan.

Teringat kata Mas Ipung.  Perkara hidup khususnya pas gajian, bukan semata jumlah nominalnya.  Tapi bagaimana kita mampu mensyukuri, mengelola dan membaginya hingga bermanfaat bagi orang lain.  Terutama keluarga atau teman dekat.  Yang dikelola jangan cuma gajinya tapi juga hatinya.  Mengelola gaji ya mengelola hati.  Hidup susah aja empati ga boleh mati apalagi hidup berkelimpahan.  Begitu kalimat yang sering dialamatkan Mas Ipung padaku.  Hidup boleh frugal tapi ingatlah berbagi.  Karena berbagi makes you happy…*eh, abaikan grammarnya.

Salam hidup sederhana,

 

Lintasophia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 Langkah Membeli Rumah

Setelah catatan sebelumnya tentang kenekadan dalam membeli rumah, ada beberapa teman bertanya tentang hal pertama yang harus dilakukan biar rumah idaman tidak sebatas angan-angan.  Lewat ngobrol dengan beberapa teman, terinspirasi untuk menulis ulang hal-hal yang kemarin kami bahas.  Jadi, aku membayar hutang semangat melalui catatan ini.  Tidak ada maksud untuk pamer, semata ingin berbagi optimisme dan semangat.  Karena bagaimana pun juga, semangat dan  optimisme itu menular, kawan.  Catatan ini ditujukan untuk kalian yang sedang berjuang sendiri membeli rumah pertama, tidak dibelikan oleh orang tua atau nunggu warisan juga untuk kamu yang baru masuk dunia kerja.

Pembuka

Well, di semua negara yang namanya rumah selalu jadi masalah besar karena ssalah satu kebutuhan primer.  Kamu tidak sendiri, banyak pasangan yang tidak mampu beli rumah atau memilih menyewa dulu untuk sementara sambil menunggu orang tuanya meninggal.  Dapet rumah warisan orang tua.  Ini banyak terjadi di Italia, dimana selain karena mahalnya harga rumah, umumnya keluarga di Italia memiliki anak cuma 1 atau 2 orang saja.  Tapi bagaimana dengan kita-kita yang memang harus mengusahakan sendiri membeli rumah karena orang tua tidak punya warisan untuk kita?  Atau, orang tua bakal mewariskan rumah tapi kita kakak beradik dalam jumlah banyak? Mau tidak mau, kita harus usaha sendiri, syukur-syukur keluarga bisa bantuin DP.  Untuk itu, selain duit, ada beberapa hal yang harus disiapkan, yakni ;

1.  Niat

Niat adalah atribut pertama yang harus dimiliki kalau pengen beli rumah.  Tanya dalam hati, pengen aja atau pengen banget punya rumah?  Beda niat, beda pula hasilnya.  Biasanya, ada aja kendala dalam berburu rumah.  Umumnya kendala mucul saat menyatukan antara keinginan, kemampuan dan kenyataan di lapangan.

Ada rumah yang cocok dengan budget, tapi lokasinya jauh dari tempat kerja.  Harus naik turun gunung dan melewati lembah, baru bertemu feeder bus.  Sampai kantor bisa-bisa tinggal narik selimut.  Tidur karena kecapean.  Bisa jadi kendalanya pengembang yang nakal.  Yang ga kalah tragis, rumahnya uda sesuai budget, lokasi prima dekat dengan tempat kerja, desain seperti yang diinginkan, eh tapi eh tapi pengajuan KPR ditolak.  Mak jleb!  Ini juga tragis.  Karena itu, niat memang benar-benar harus mantap bakal menjalani rintangan yang ada.

 

2.  Mohon Doa Restu pada Keluarga

Mau lajang atau udah berkeluarga, sebaiknya minta restu pada orang tua dan mertua.  Sampai sekarang, kami masih menempuh cara ini. Doanya orang tua itu mak nyuss.  Mereka akan memberikan semangat dan doa yang luar biasa banyaknya.  Syukur-syukur kalo mereka bisa ngasih bantuan dana juga. 😉 😉

Terutama untuk kita orang Indonesia, urusan rumah tinggal anak kadang masih menjadi tanggung jawab orang tua, paling tidak secara moril.  Karena itu, mereka akan senang bila dilibatkan dalam hal ini.  Jangan kaget kalau tiba-tiba ibu rela sampai jual perhiasannya demi membantu anaknya membeli rumah. Mereka juga akan senang dimintai pendapat, malah seringnya sih kasih pendapat walau tanpa diminta.  Itu salah satu bentuk rasa bangga orang tua terhadap anaknya.  Mereka juga bakal paling heboh diajak hunting rumah.  Kondisi ini berlaku kalau lokasi yang kita incar berdekatan dengan tempat tinggal orang tua.

Melepas anak hidup mandiri salah satu fase terpenting dalam hidup orang tua.  Kalau film silat, orang tua akan terisak-isak melepas anaknya yang akan berangkat dengan membawa tongkat dan gembolan.  (Eh, apa itu gembolan?).  Doa restu juga semacam alarm bahwa bakal ada perubahan gaya hidup (keuangan) dalam keluarga besar kita.

 

3.  Action and action and action

Dari nomer 3 dan seterusnya merupakan langkah lain yang harus dilakukan.  Niat udah ada, doa restu dari keluarga juga uda dapat.  Lalu apa lagi? Ke KUA (eh?).  Take an action.  Orang mau makan aja harus pakai niat apalagi untuk beli rumah.  Harus melakukan tindakan konkrit, misalnya;

 

4.  Tetapkan Kapan Harus Membeli Rumah

Ini penting karena berkaitan langsung dengan rencana kehidupan kamu selanjutnya.  Misalkan, 2 tahun lagi kamu akan menikahi si dia yang notabene rumah dicari lokasinya memiliki akses yang baik dengan tempat kerja kalian.  Menetapkan waktu kapan membeli rumah juga berkenaan dengan metode pengumpulan dana.  Kalau kamu yang baca ini kebetulan baru bekerja, itu bagus banget.  Artinya, kamu udah mulai memikirkan hendak dikemanakan gajimu.

Banyak diantara kita yang masa mudanya tidak hati-hati dalam mengelola penghasilan sehingga gaji numpang lewat saja, terutama yang masih lajang.  Padahal lajang dan belum banyak tanggungan adalah golden periode untuk membeli rumah. Masa muda memang baik untuk dinikmati, terutama saat kita punya gaji sendiri.  Tapi saking nikmatnya, kita jarang belajar untuk investasi.

Kesalahan semata bukan pada anak.  Biasanya orang tua tidak mengedukasi anaknya untuk membeli rumah sendiri.  Perasaan sungkan meminta anak untuk mencari rumah sendiri, karena seakan mengusir anak dari rumah.  Kebutuhan rumah akan terasa saat anak akan menikah.  Atau, urgensinya berbicara saat anggota keluarga bertambah karena kelahiran cucu atau anak lain menikah dan juga tinggal bersama orang tua.

Nah, setelah membaca tulisan ini, coba periksa saldo tabungan dan bandingkan dengan penghasilan.  Kalau ternyata saldo tabungan terlalu sedikit dibandingkan dengan penghasilanmu yang besar, mungkin harus mengedit pengeluaran kamu selama ini.  Bisa jadi gaya hidup diubah sedikit.  Dari yang tadinya tiap weekend makan, nonton dan belanja di luar, mungkin bisa dikurangi jadi sebulan sekali saja.  Itu pun persentase alokasi dana harus ditekan dan harus mau disiplin mematuhi pos yang sudah dianggarkan.   Mengubah gaya hidup yang enak memang butuh pengorbanan dan biasanya bikin pengen nangis.  Tapi balik lagi ke niat, temans.

 

5.  Cari Penghasilan Tambahan dan Investasikan

Sudah membandingkan antara saldo, penghasilan dan pengeluaran setiap bulan?  Kendalanya dimana?  Oh, ternyata karena masih membantu keluarga jadi sulit menyisihkan dana.  Cari pekerjaan sampingan.  Bisa bikin kue, jadi guide atau guru les, pelatih fitness, jadi broker dan lain-lain.  Apapun itu yang penting halal.  Nah, kalau ada penghasilan tambahan, jangan tergiur ya melihat big sale.

Coba belajar investasi sesuai dengan kepribadian kamu.  Kalau aku masih tipe konservatif, paling banter dibeliin emas.  Kalau tiba waktunya, baru dilego.  Eh untukku sih, emas bukan investasi, karena aku tidak bermain di ranah beli saat murah dan jual saat tinggi tapi untuk menjaga dana tidak tergerus inflasi.  Daripada dana ditaro di bank… 😉

 

6.  Tetapkan Model Rumah Impianmu

Aku percaya, apa yang kita fikirkan maka itulah yang terjadi, kurang lebih sih….  Seperti self motivation.  Coba gambarkan rumah impian kamu, tentu saja harus serealistis dan sesuai kebutuhan serta kemampuan.  Maksudnya gini,  kamu pegawai kantoran yang gawe di daerah Kuningan, Jakarta dengan penghasilan sekitar 5-7 juta/bulan,  yang sedang mendambakan rumah di pusat kota dengan halaman luas.   Apakah keinginan ini realistis?  Tentu tidak.  Coba cek harga rumah dengan halaman yang luas di pusat kota.  Dengan penghasilan 7 juta/bulan, maka akan didapat bahwa total (maksimum) angsuran adalah 30 % dari gaji atau sekitar 2,1 juta/bulan.  Nah, kira-kira dapet ga ya rumah di pusat kota dengan angsuran 2,1 juta per bulan?

Catat ya, total maksimal angsuran  termasuk untuk rumah  adalah 30 %  dari pendapatanmu.  Angka ini bukan cuma untuk angsuran rumah saja, tapi untuk seluruh angsuranmu, baik kartu kredit, motor, pinjaman tanpa agunan.  Jadi, kalau kamu berencana mengambil KPR, pastikan sudah tidak punya cicilan panci, hape, CC, motor dan lain sebagainya.  Buat schedule kapan melunasi pinjaman-pinjaman yang ada dan kapan harus mengajukan KPR.  Deal yaaaa… *jabat tangan.

Gambarkan, gambarkan, gambarkan rumah impianmu.  Kalo masih belum bisa detail, gambaran kasarnya juga ga apa-apa.  Misal, pengen rumah tinggal di Depok karena akses transportasinya mudah, 2 kamar tidur dengan harga maksimal 300 juta.  Mencari rumah dengan syarat yang jelas akan membuat proses pencarian lebih mudah, termasuk  metode pengumpulan dananya.

 

7.  Tidak bank-able, lalu Bagaimana?

Sebagian besar rumah tinggal dibeli dengan cara KPR (Kredit Perumahan Rakyat) yang tentunya memiliki syarat-syarat khusus.  Untuk calon debitur, biasanya dibutuhkan SK pengangkatan pegawai (ada beberapa bank mensyaratkan minimal 2 tahun telah bekerja), slip gaji 3 bulan terakhir dan rekening koran 3 bulan terakhir, selain dokumen KTP, KK, NPWP dan surat nikah bagi yang telah menikah.  Tidak masuk Daftah Hitam Bank Indonesia.  Ini istilah untuk teman-teman properti untuk seseorang yang masih punya masalah kredit macet.  Cek ke Bank Indonesia, semoga namamu tidak masuk daftar ini.

Sedangkan untuk rumah yang akan diajukan biasanya harus memiliki legalitas yang lengkap (sertifikat dan IMB), bebas banjir dengan jalan bagian depan harus bisa dilalui 2 mobil (untuk lokasi khusus, bank mengijinkan bila jalan depan hanya dilalui 1 mobil).  Tentu saja kita semua tidak memiliki kondisi yang sama.  Aku salah satu yang tidak bank-able karena bekerja di LN.  Makanya sampai sekarang cuma bisa nyicil langsung ke developer, bukan KPR.  Atau kalau kamu ternyata ribet masalah administrasi karena tidak punya SK pegawai, mungkin bisa beli tanah dulu, setelah itu ngumpulin lagi duit untuk membangun rumah.  Mungkin rumah yang kamu butuhkan ternyata di dalam gang dan tidak memenuhi syarat bank pemberi KPR, coba nego dengan pemilik rumah mengenai metode pembayarannya.  Intinya, walau membeli rumah membutuhkan pertimbangan yang masak, tapi kita harus fleksibel juga.

 

8.  Kunjungi Dinas Tata Kota

Masih ragu dengan lokasi yang ditawarkan oleh pengembang?  Coba berkunjung ke Dinas Tata Kota setempat.  Tanyakan rencana pembangunan jangka menengah dan panjang lokasi tersebut.  Dengan informasi yang lengkap, akan memudahkan kita mengambil keputusan.  Sekitar 9 tahun lalu,  Bantul terutama daerah Sedayu, bukan daerah favorit untuk rumah tinggal.  Konsumen masih terfokus daerah kota Yogya dan Sleman yang lingkungannya sudah terbentuk.   Tapi pas tau kelak bandara dipindah ke Kulonprogo, maka kita yakin bahwa Bantul akan berkembang pesat.  Jalan Wates merupakan jalur alternatif menuju bandara Kulonprogo.  Sampai sekarang juga merupakan jalur bus antar provinsi.  9 tahun lalu belum begitu banyak perumahan di daerah Sedayu.  Berbeda dengan saat ini,  mulai dari rumah subsidi hingga perumahan Ciputra ada di sini.

 

9.  Edukasi

Point terakhir ini tidak berhubungan langsung dengan proses pencarian rumah saat ini, namun menurutku penting juga untuk disiapkan.  Jangan lupa mengedukasi anak-anak kita tentang investasi dan hidup mandiri, salah satunya mendorong anak-anak kita memiliki rumah sendiri.  Beberapa tahun terakhir, hal ini sudah kita lakukan pada Tony (sebagai keponakan tertua yang tinggal di rumah).  Misalnya, alasan memilih investasi di properti karena bisa disewakan dan kalau dijual bisa dapat keuntungan (selisih harga beli dan jual).  Kita juga mendorong anak-anak untuk hidup sederhana.  Untungnya anak-anak faham kondisi tantenya yang tidak selalu punya dana lebih tiap bulannya karena bayar cicilan rumah.

 

Penutup

Ini masih sambungan dari edukasi pada point no. 9.  Pada akhirnya, keluarga akan beradaptasi, belajar dan membuat ritme sendiri tentang bagaimana harus survive saat pemasukan berkurang karena membayar cicilan rumah.

Dulu sewaktu mereka kecil, aku lumayan tajir memberi kado atau sejenisnya.  Sekarang hal itu sudah tidak berlaku lagi.  Kita mencoba membentuk mereka semandiri mungkin.  Untuk kebutuhan pribadi (mainan, buku bacaan, pulsa, parfum, gitar dan lain-lain), mereka harus membeli sendiri dengan menyisihkan uang jajannya.  Bila ada kegiatan yang membutuhkan biaya agak besar, kita meminta mereka menabung jauh-jauh hari.  Kebiasaan nabung ini sering menyelamatkan keuangan keluarga, terutama saat tahun ajaran baru.  Bila tabungan mereka sudah lumayan namun tidak ada kebutuhan mendesak, biasanya kita patungan untuk membeli emas.  Kelak, emas ini kita pakai untuk nambah DP rumah.  Begitu seterusnya.  Dengan bahasa yang mudah difahami mereka, kita juga menanamkan mereka untuk memprioritaskan membeli rumah saat mereka memiliki penghasilan sendiri.

Karena nominal tabungan sekitar 1.000 hingga 2.000 rupiah per anak  tiap harinya, tentu jumlahnya tidak seberapa.  Tapi kegiatan ini mengajarkan anak-anak untuk membuat perencanaan terhadap penghasilan eh uang jajan mereka.  Misalnya, suatu hari Uih ingin memiliki sebuah Ukulele yang harganya sekitar 75.000 hingga 90.000.  Dengan menabung sekitar 1.000 hingga 2.000 rupiah per hari, Uih memiliki gambaran kapan bisa memiliki Ukulele yang dimaksud.  Untuk mendapatkan harga terbaik, melalui internet mereka membandingkan harga Ukulele.

Aku dan Mas Ipung  bertekad tidak akan memanjakan anak dengan materi, melainkan dengan membentuk mental mereka.  Proyek terbaru saat ini adalah Liburan ke Jogja pada bulan Februari yang akan datang.  Ongkos kereta api bayar masing-masing dengan cara ngumpulin uang jajan dari beberapa bulan yang lalu.  Ibuku pintar membuat proyek ini menjadi semakin menarik.  Setiap hari (sebelum berangkat sekolah), anak-anak wajib memasukan sebagian uang jajan mereka ke celengan bersama.  Ada kartu setoran yang berisi tanggal dan jumlah setoran tiap anak.

Kesepakatannya adalah, jika tabungan tidak memadai untuk semua anak, maka tidak jadi berangkat ke Jogja.  Efeknya sungguh luar biasa.  Mereka saling support untuk bisa nabung sebanyak-banyaknya.  Lebih tahan banting dan tidak mudah ngiler liat teman-temannya punya duit jajan lebih banyak.  Mereka juga makan lebih lahap di rumah. Pola dan cara yang sama bisa diterapkan untuk tujuan keuangan yang lain, salah satunya membeli rumah.  

Kiranya itu point-point yang harus disiapkan dalam memiliki rumah impian.  Semoga catatan ini bermanfaat dan mohon maaf bila ada salah-salah kata.  Semoga semakin semangat ya mewujudkan rumah impian.

Salam hangat,

 

Lintasophia

 

Cerita dibalik Setiap Rumah. Antara Cinta, Niat dan Nekad

Horeee… Lintasophia kembali mengudara.  Maklum penganten baru, banyak sibuknya… Hahahhahaha, kalo yang ini boong banget, karena sampai sekarang kita berjauhan, ga berasa udah nikah. *smile.

Eh, barusan baca rubrik properti di detik dot com tentang susahnya mendapatkan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dari bank bagi mereka yang bekerja di LN.  Sebesar apapun gajimu, selama kamu kerja di LN jangan harap bakal dilirik oleh bank.  Karena berdasarkan peraturan dan pengalaman pribadi, calon debitur harus bekerja dan berdomisili di Indonesia.  Membaca artikel ini, seperti melihat bayanganku sendiri, tapi gajiku ga sampe puluhan juta per bulan seperti mereka yang ditulis di artikel detik dot com.

Pengantar

Dari kecil hingga dewasa (hampir lulus kuliah), keluargaku khatam yang namanya ilmu berpindah-pindah rumah. Bukan karena bapakku tentara sehingga sering dimutasi tapi bisa dibilang kami kontraktor sejati.  Rumah selalu berpindah-pindah, lingkungan baru dan KTP serta KK baru pula menjadi urusan kami sepanjang tahun, selain peningnya memikirkan uang kontrak rumah tahun berikutnya.  Bagi yang ngontrak rumah, 1 tahun itu cepat, jendral!

Setiap habis masa kontrakan atau kita harus pindah rumah itu rasanya sakit banget.  *sambil nunjuk ulu hati.  Barang-barang banyak yang rusak saat pindahan, termasuk foto-foto masa lalu keluarga kami.  Belum selesai adaptasi di lingkungan baru, sudah harus pindah lagi.  Belum selesai beberes barang bekas pindahan, sudah harus packing barang lagi untuk pindah ke kontrakan lainnya.

Ketidaknyamanan ngontrak rumah sangat berbekas di hatiku.  Tekadku, begitu bisa mandiri, maka benda pertama yang kubeli adalah rumah.  Setelah rumah sendiri, pastinya pengen membelikan orang tua rumah, biar mereka sempat merasakan nikmatnya tinggal di rumah sendiri.

Suatu hari, aku dan teman-teman nginep di rumah teman di Lembang yang baru saja selesai direnovasi.  Aku membayangkan seandainya orang tuaku bisa tinggal di rumah senyaman itu walau tidak harus semegah itu, yang penting rumah sendiri.  Untuk kondisi saat itu, rasanya mustahil memiliki rumah sendiri.  Aku juga ga sanggup mengungkapkan keingingan memiliki rumah sendiri pada orang lain, terutama pada orang tua, takutnya mereka semakin terbebani.  Orang tua mana yang tidak ingin memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?  Bisa mandiri dan beli rumah sendiri itu biasa, tapi bisa membelikan rumah untuk orang tua rasa itu sesuatu yang berbeda.

Ternyata pengalaman dan traumatik masa lalu menjadi sumber energi yang tidak ada habisnya dalam usaha memiliki rumah.  Selain penasaran bagaimana rasanya tinggal di rumah sendiri, aku juga penasaran mengapa ada orang yang bisa jadi juragan kost-kostan.  Bagaimana cara mereka mengumpulkan rumah demikian banyaknya? 

Stasiun Kiara Condong, 2003.

Ba’da Isha, aku mengantar Mas Ipung yang akan kembali ke Yogyakarta di stasiun KA Kiara Condong.   Ditemani kopi dan ketan bakar, kami ngobrol sangat serius sore itu.  Salah satu topik obrolan kami adalah bahwa aku menolak anti kemapanan dan bosan hidup miskin.  Inti obrolan sebetulnya yakni aku tidak akan memikirkan pernikahan sampai beberapa targetku tercapai, salah satunya memiliki rumah sendiri dan mengangkat derajat keluarga.  Ternyata Mas Ipung sepakat dengan syarat yang kuajukan dan kebetulan dia juga punya kaul yang sama.  Klop sudah!

Saat itu aku dan Mas Ipung bertekad untuk punya rumah dulu sebelum menikah, padahal saat itu kita belum bekerja dan ga tau gimana caranya.  Kita juga uda sepakat akan tinggal di Yogya, di lingkungan yang tenang dengan jendela menghadap sawah.  

Dari sini kegilaan kita dimula dan mulai aware terhadap penawaran dan harga rumah di Yogya.  Kita mulai mempejari dan mencatat pergerakan harga properti di Yogya termasuk rancangan pengembangan Yogyakarta ke depannya.  Sampai sekarang aku masih menyimpan catatan harga rumah.  Kalau ada pameran property, sebisa mungkin kita datang walau sekedar cuci mata dan ngumpulin brosur.  Gaya kita saat itu, seperti pasangan yang akan menikah sebulan lagi.  😉 .Padahal, kita bener-bener ga tahu gimana caranya beli rumah selain mengajukan kredit ke bank.  Masalah paling krusial, tentu saja kita belum punya dananya, tapi kita tetap semangat,   yang penting niat baik maka semesta akan menunjukan jalannya.  

September 2006.  Rumah Pertama

Setelah 2 tahun di Genova, aku mendadak mudik untuk membantu teman (mewakili organisasi sosial di Genova) dalam menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Yogya.  Saat ditunjuk, rasanya seperti mendapat durian runtuh.  Selain karena tiket dan akomodasi ditanggung oleh pihak donatur, aku juga boleh extend 2 minggu di Indonesia setelah urusan bantuan selesai.   Segera aku mengontak dan membuat janji dengan para marketing perumahan.  Pas mudik sebelumnya, dana belum seberapa dan banyak pertimbangan yang membuat kita menunda membeli rumah.  Hunting tetap jalan, biasanya diakhiri dengan tercengang karena harga rumah semakin tidak terkejar.

Kalau tidak salah, saat itu aku cuma punya 15 juta untuk uang muka rumah karena mudik kali ini mendadak sekali, danaku belum seberapa.  Aku tidak khawatir karena untuk uang muka biasanya boleh dicicil hingga beberapa kali, umumnya 6 kali (bulan) tergantung kesepakatan dengan developer.  Konsentrasiku justru pada masalah KPR, karena kerja di LN maka sangat kecil kemungkinan diapprove.  Namun bantuan para marketing yang akan membantu proses KPR agak membesarkan hatiku. 

Waktu extend yang kumiliki hanya 2 minggu. Mulai pagi sampai sore (kadang sampai malam) kami pergunakan untuk bertemu dengan beberapa marketing perumahan.  Keesokan harinya  survei lokasi.  Semua serba dikebut hingga akhirnya kami menyepekati beberapa rumah yang masuk kategori dan bujet kami.  Kurang lebih proses ini memakan waktu 1 minggu.  Perut kembung karena kebanyakan minum teh botol bersama para marketing. 😉

Singkat cerita, pagi-pagi sekali kami sudah nongkrong di depan salah satu bank milik pemerintah.  Agenda pagi ini adalah mengisi formulir pengajuan KPR.  Setelah menunggu agak lama, tiba giliran kami.  Sebelum mengisi formulir, beberapa pertanyaan diajukan oleh staff bank.  Interview tidak berjalan lama karena aku sudah mentok dibagian pekerjaan.  Ketika bank tahu aku kerja di LN, otomatis proses pengajuan KPR tidak dilanjutkan karena tidak memenuhi syarat.  Ini penolakan pertama oleh bank.  Masih banyak penolakan lain yang kami alami, baik dari bank swasta maupun pemerintah.

Sebetulnya kita masih punya kemungkinan untuk beli rumah tersebut dengan cara mencicil ke developer.  Tapi untuk harga sekitar 120 juta, developer minta maksimal pembayaran 1 tahun.  Manalah sanggup awak ni.  Nangis deh.  Mas Ipung juga kehabisan kata-kata untuk menghiburku.  Penolakan dari bank telak banget.  Ibarat pertandingan tinju, aku berhasil di-KO pada detik-detik pertandingan.  Cedera dan pertandingan tidak perlu dilanjutkan lagi.

Suatu sore, mau pulang ke kost-an setelah ditolak oleh salah satu bank, aku dan Mas Ipung lewat daerah belakang Stasiun Tugu Yogya (lupa nama jalannya).  Secara tidak sengaja aku lihat ada spanduk rumah gedeeee banget, ternyata itu kantor pemasaran salah satu perumahan.  Segera aku menepuk bahu Mas Ipung minta balik arah ke kantor pemasaran.  Mas Ipung antara kaget dan kasihan melihat aku akhirnya pasrah menuntun si Pitung menuju kantor yang kutunjuk tadi.

Untunglah kantornya masih buka.  Rasanya berdebar-debar.  Di spanduk, harga rumah tipe 36/90 cuma 55 juta dan 45 juta untuk tipe 30/72, belum termasuk biaya notaris.  Harga ini 50 persen lebih murah dari rumah yang kemarin kita coba KPR.  Pas liat maketnya yang cantik, ada feeling mengatakan bahwa kelak rumah ini jadi milik kita.  Beberapa kali nyari kontrakan, aku bisa merasakan bahwa sebuah rumah kelak akan kita sewa atau tidak.  Sekalipun rumahnya jelek atau lingkungan kurang baik dan kita ga suka, aku bisa merasakan akan pindah ke situ.  Dalam hal survey rumah, sensasi ini kembali hadir.  Untuk kalian yang pernah punya insting seperti ini, pasti mengerti apa yang aku maksud.

Perasaanku agak galau saat Mas Ipung menjelaskan lokasinya yang jauh, rasanya belum pernah aku dengar sebelumnya.  Keesokan harinya kita survey lokasi.  Ya Tuhan, jauh banget.  Pantesan murah.  Hampir aja aku minta untuk tidak melanjutkan perjalanan ke lokasi karena pantat uda tepos duluan.  Perjalanan ke lokasi lumayan indah karena masih banyak sawah.  Saat tiba di lokasi, kami lebih tercengang karena proyek ini benar-benar baru proses penggarapan.  Semua masih tanah kuning, sejauh mata memandang. Belum ada rumah contoh sebagai acuan. Lokasi ini sendiri dikelilingi oleh perbukitan. 

Aku dan Mas Ipung sama-sama terdiam. Kami berdiri di lokasi yang kami reka-reka adalah kavling yang kemarin tampaknya kita minati, mencoba membayangkan seperti apa kehidupan kami 5 tahun yang akan datang di sini.  Kami membentangkan tangan dan menarik nafas dalam-dalam.  Ada perasaan yang kuat mengatakan bahwa kami akan tinggal di sini.  Tapi kami mencoba rasional, sebab membeli rumah untuk tempat tinggal butuh pertimbangan lebih matang.  Kami sengaja menunggu sore saat akan meninggalkan lokasi, sekalian mau melihat lingkungan tersebut di malam hari.  

Singkat cerita, akhirnya kita jadi mengambil rumah pertama di sini dengan metode pembayaran dicicil selama 18 bulan.  Puji Tuhan!

 Tahun 2008.  Rumah Kedua

Tatanan ruang rumah pertama kita buat berbeda dari sketsa standard developer dengan maksud nanti mau kita renovasi jadi 2 lantai agar tetap punya halaman, tanah sisa sebelah kiri.  Beberapa bulan sebelum mudik, kami sudah mulai ngutak-ngatik biaya yang dibutuhkan untuk renovasi rumah.  Pas nemu angka 30 juta untuk renovasi kecil-kecilan, fikiran culasku muncul.  Huh, daripada renov 30 jeti, mending DP rumah lagi.  Renov rumah nanti aja pas aku bakal stay selamanya di Indonesia.  Hampir 2 tahun ga mantengin harga properti di Yogya, ternyata harga properti di Yogya makin tidak terbendung.  Sulit menemukan rumah di bawah 100 juta yang dengan lokasi tidak terlalu di desa.

Akhirnya kita putuskan untuk membeli kavling di sebelah kanan rumah pertama, 2 rumah digabung jadi 1.  Harganya sudah naik jadi 65 juta untuk tipe 36/90.  Kali ini mencicil ke developer selama 2 tahun.  Puji Tuhan.  Lagi-lagi semesta menjawab doa dan usaha kami dengan cara yang kami tidak duga sebelumnya.  Dari kedua rumah ini, kami punya sisa tanah di samping kanan dan kiri.  Ini lebih dari yang kami bayangkan sebelum punya rumah.  Sekarang rumah di situ sekitar 140 juta hingga 180 juta/unit.

Sekarang aku menyadari bahwa sebetulnya proses mencicil rumah kedua ini semacam latihan sekuat apa aku menjalani komitmen membayar rumah.  Membeli rumah dengan cara mencicil entah ke developer atau ke bank membutuhkan resistensi yang tinggi.  Kita tidak pernah tahu ada kejadian apa di kemudian hari, misalnya tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau ada kebutuhan mendadak yang membutuhkan biaya tinggi.  Di sini keteguhan hati akan diuji.

Tahun 2008 aku memutuskan kuliah di sini.  Nah, karena statusku bekerja, maka aku membayar biaya kuliah secara full.  Bayar kuliah, buku-buku dan cicilan rumah serta kebutuhan lainnya mulai membuat keuanganku dan imanku goyah.  Dimulai perjalanan panjang yang namanya puasa, baik pakaian atau sekedar beli jajanan.  

Ga bisa bohong, kadang aku menelan air liur saat melihat teman-teman yang lain bisa menunggu break kuliah dengan nongkrong di bar.  Aku paling baca-baca buku.  Zaman itu belum ada smartphone yang bisa dipake internetan untuk mengisi waktu senggang.  Logikanya, aktivitas bertambah maka waktu bekerja berkurang.  Tapi selama 2 tahun kuliah hal itu ga berlaku.  Sebisa mungkin kuliah tidak mengganggu kerjaku.  Bukan sekedar semangat tapi demi menjaga agar penghasilan tidak terganggu.  Lagi-lagi di sini resistensi diuji.  

Entah kekuatan dari mana, aku sanggup tidur hanya beberapa jam sehari.  Pulang kerja tengah malam, aku masih menyempatkan diri membaca materi yang tadi kudapat di kelas atau sekedar merapikan catatan kuliah, tidur sebentar dan siap-siap kuliah pagi.  Setiap hari sprint, baik dari rumah ke kampus dan dari kampus ke tempat kerja.  Atlet marathon mah kalah ciiiinnn…

Pada akhirnya aku menyerah tidak melanjutkan kuliah karena beban pekerjaan yang banyak.  Jadwal kuliah dan kerja sering bentrok.  Mulai timbul gesekan-gesekan dengan majikan.  Waktuku semakin tidak fleksibel untuk bekerja sementara kondisi mengharuskan aku untuk stand by bekerja.  Good bye bangku kuliah.  Sampai jumpa lagi.

Tahun 2010.  Rumah Ketiga

Aku dan Mas Ipung sepakat mencukupkan diri untuk urusan rumah kami meski sebetulnya rumah membutuhkan renovasi yang tidak sedikit, maklumlah rumah subsidi.  Begitu habis masa garansi, kusen-kusen mulai agak lapuk.  Angka yang dibutuhkan untuk renovasi pun bertambah.  Uedan!   Daripada untuk renov, mending buat DP rumah.  Perang bathin saat itu.

Kemudian teringat akan janji untuk membelikan orang tua rumah, walau sebetulnya rumah untuk orang tua  sudah terpecahkan.  Akhirnya rumah ketiga didedikasikan untuk para ponakan yang saat ini masih tinggal dengan bapak ibuku.  Rumah yang terletak di Arcamanik ini yang paling berdarah-darah mulai proses ngumpulin DP, cicilan hingga rumah tersangkut masalah hukum tepat 2 bulan lagi cicilan rumah beres.

Banyak kejadian di luar dugaan yang nyaris membuat gagal transaksi rumah ini.  Harga rumah tahun 2010 adalah 275 juta dengan ketentuan 150 juta dicicil 6 bulan.  Sisanya dibayar 30 bulan dengan dikenakan bungan 3 persen dari total sisa yang harus dibayarkan.  Kalau tidak salah, total harga rumah setelah dikenakan bunga adalah 315 juta.  Cicilan rumah Rp. 4.375.000/bulan.

Sedianya, uang muka aku kumpulkan dari gaji bulanan dan sebagian lagi dari dana pribadi yang saat itu dipegang pihak ketiga.  Karena sesuatu dan lain hal, dana dari pihak ketiga tidak turun.  Kocar-kacir aku pergi ke bank mengajukan pinjaman lunak sekitar 100 juta rupiah. Untunglah pinjaman dengan jangka waktu 5 tahun di-acc oleh bank akan lunas September 2015 nanti (berterima kasih pada kakakku yang mau jadi penjamin pinjamanku).  Begitu dana hasil pinjaman dikirim ke Indonesia, rupiah menguat.  Nilai tukarnya jeblok beberapa juta rupiah.  Pontang-panting nyari dana talangan (Berterima kasih banget pada Angelina)

Rumah terselamatkan dengan cara setiap bulan mencicil ke bank dan developer sekaligus.  Inilah yang aku sebut bahwa pas nyicil rumah kedua, sebetulnya aku sedang dilatih untuk lebih kuat lagi.  Karena secara angka, cicilan rumah ketiga ini jauh lebih besar dibanding pengalaman nyicil rumah sebelumnya.

Oke, demi cinta kepada para ponakan, ampe di sini aku masih bisa menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran.  Hingga suatu hari, krisis ekonomi semakin menjadi.  Aku mengalami pengurangan jam kerja. Kerja di toko hanya 1 atau 2 jam, maksimal 3 jam sehari.  Sebelumnya paling tidak di toko kerja 5 jam per hari.  Sedangkan di restoran, jam kerja dipotong juga setengahnya.  Aku kerja cuma weekend aja, ga setiap hari seperti dulu.  Ya Tuhan, rasa-rasanya ga sanggup kalau hidup lebih ketat lagi.  Seandainya aku tahu bakal pengurangan jam kerja, tentu aku ga senekad itu beli rumah.

Yang aku tahu, pengeluaran harus ditekan seminim mungkin.  Ini moment paling pahit dalam mencicil rumah.  Hampir 3 tahun tidak belanja pakaian, kalau pun beli sesuatu harus menunggu musim diskon, kadang walau sudah diskon tetep aja kebeli.  Nyaris tidak bisa mudik karena ga sanggup beli tiket pesawat.  Di saat yang lain masih tidur, aku sudah berangkat kerja.  Saat yang lain break, aku masih kerja.  Yang lain pergi liburan, aku milih tetap bekerja.  Beratnya pengorbanan, akhirnya membentuk karakterku untuk tidak menyerah.

Sehari-hari aku pasrah menyantap pasta yang sama. Di sini, saos tomat untuk pasta ukurannya gede-gede, sekitar 0,5 liter per botol, cukup untuk 4 kali makan.  Kemasan saos tomat begitu dibuka harus segera dihabiskan.  Jadilah seminggu menuku bisa spaghetti saos tomat setiap hari.  Kalau dana mepet, kadang makan siang dan malam disatukan, makannya agak sorean dikit biar kenyangnya lebih lama. Minum yang banyak atau teh manis biar perut tidak terlalu kosong. 

Selama di sini, aku kerja selalu di 2 tempat.  Pernah dari subuh sampai sore kerja sebagai cleaning service keliling, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.  Sore hingga malam aku kerja nyuci piring di restoran.  Keduanya bukan pekerjaan mudah tapi aku bisa menjalaninya.  Sekalipun badai salju dan hidung mimisan, aku tetap menuju lokasi kerja di pagi hari.  Jadi perkara perut lapar rasanya tidak krusial banget.  Ketakutanku kalau tidak bisa bayar cicilan rumah dan ke bank.

Tantangan terbesar itu menahan hasrat untuk tidak jajan saat melewati etalase penuh kudapan dalam kondisi perut lapar.  Yang ini bikin imajinasi terbang kemana-mana.  Untunglah orang tua selalu membesarkan hatiku untuk kuat melewati semua ini.  Support Mas Ipung dan teman-teman lain tidak kalah besarnya.  Puji Tuhan, kami berhasil melalui masa pahit itu.  Sekarang pahit lainnya adalah rumah itu sedang bermasalah hukum.  Next, dibuat catatan terpisah ya.

Sedikit saran untuk kalian yang sedang dalam kondisi serupa, pahit getir karena mencicil rumah, jangan pernah putus asa.  Konsentrasi dan fokus saja dengan mencicil rumah maka kesulitan yang lain akan menjadi nomor kesekian.  Sudah diniatkan untuk membeli rumah untuk orang yang kalian cintai, maka bertahanlah.  Cinta eh rejeki akan menemukan jalannya.  

Setelah 3 tahun berlalu, rasanya amazing bisa melalui itu semua.  Bukan cuma urusan mencicil rumah, karena penghasilan juga masih harus dibagi untuk membantu orang tua dan keperluan pribadi.  Rasanya 3 tahun yang ngeri-ngeri sedap.

 

Tahun 2014.  Rumah Keempat

Sekitar 2 minggu lalu baru saja penanda tanganan PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) rumah ke-4 di Yogya.  Letaknya tidak terlalu jauh dengan rumah sebelumnya.  Bedanya, rumah kali ini bukan rumah subsidi.  Harganya Rp. 292.100.000 untuk rumah tipe 45/102.  Dengan notaris dan pajak total sekitar 315 juta rupiah.

Ini juga agak-agak nekad (kayaknya kebanyakan nekadnya deh… 😦 ). Awalnya, kami mau beli tanah untuk usaha.  Tapi karena perubahan rencana, kita putuskan merintis usaha  dalam bentuk lain, sedangkan investasi tetap di properti.  Pengennya beli sawah, tapi sampai sekarang belum nemu sawah yang boleh nyicil bayarnya.

Sedianya kita mau nyoba lagi KPR ke bank, tapi perasaan kok setengah hati ya menjalani proses ini?  Takut ditolak lagi, walau kita udah di-back up oleh marketing salah satu bank.  Ini merupakan opsi pertama.  Sedangkan opsi kedua adalah ngambil pinjaman dari bank di sini.

Yang terjadi kemudian, kita malah menjalankan opsi kedua, yakni mengambil pinjaman lunak dari bank sini.  Mungkin karena lebih simple.  Sebelumnya, aku udah cari informasi tentang kemungkinan ngambil pinjaman baru walau masih ada pinjaman yang lama dan ternyata bisa.  Horeeee…. 

Setelah ngitung-ngitung  jumlah gaji yang bisa disisihkan untuk nyicil DP rumah, maka kita bergegas hunting rumah pada bulan April dan Mei lalu. Setelah rembukan dengan orang tua, rumah ini kita booking tanggal 31 Mei, tepat sehari sebelum harganya naik lagi.  Hasil tabungan, jual perhiasan pas nikahan dan uang kontrak rumah kita putar untuk DP rumah.  Masih kurang dikit lagi, tapi  waktu pelunasan masih ada sampai Januari  2015 nanti pas serah terima kunci dan sertifikat.

Sudah terbayang hidup ala kadarnya yang kembali harus kami jalani, tapi rasanya sebanding dengan nilai aset yang ada.   Semoga tidak ada halangan berarti (baca : kebocoran dana).  Semoga juga diberi kesehatan sehingga sanggup membayar hutang-hutang.

Memang aku menargetkan memiliki aset properti senilai X rupiah, tapi sejujurnya, Tuhan memberi lebih dari apa yang aku minta saat remaja dulu.  Terima kasih yang tidak terhingga untuk semua pihak yang sudah mau berbagi makanannya denganku, berbagi telinga dan hatinya untuk mendengarkan keluh kesahku, berbagi rejekinya untuk sekedar ngopi bareng.  Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua.

Untuk kalian yang ingin memiliki rumah, segera diniatkan.  Percayalah, semesta akan memeluk mimpi-mimpi kalian.  Semoga catatan ini bermanfaat ya.  

Dari hati yang terdalam,

 

Lintasophia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tahun Ajaran Baru. Orang Tua : ”Aint’ Goin’ Down”

Sepotong bbm-an antara aku dan Tony (keponakan) yang baru saja menyelesaikan Ujian Nasional Sekolah Dasar.   Sebelumnya, Tony sudah melaporkan kebutuhan biaya pas masuk SMP nanti.

Tony : ”Tante pusing ya karena mikirin kami?.”

Aku  : ”Ga, tante ga pusing… Tante bakal pusing kalau kalian nakal.”

Saat ini, Tony lagi menimbang-nimbang SMP yang akan dipilihnya.   Faktor kualitas sekolah, biaya dan lokasi menjadi pertimbangan utama kami dalam memilih sekolah.  Secara umum, masalah biaya menjadi kajian paling mendalam. 😉    Maklum, salah mengambil keputusan, akan berpengaruh pada si anak dan (keuangan) keluarga.

Setiap tahun ajaran baru tiba,  pengeluaran selama beberapa bulan ke depan membengkak.  Misalnya, menjelang pembagian raport, umumnya SPP didobel (dimajukan pembayarannya).  Seperti bulan ini, kiriman harus ditambah untuk SPP bulan Juni.  Sedangkan bulan depan,kiriman harus ditambah untuk  pembayaran SPP bulan Juli.

*****

Beberapa bulan ke depan (paling tidak sampai Agustus) ”tahun ajaran baru syndrome” akan terasa.  Ini bulan-bulan yang berat bagi keluarga di Indonesia yang mempunyai anak masih sekolah.  Paling tidak, keriuhan tahun ajaran baru sudah aku rasakan beberapa tahun terakhir ini.

Bukan semata masalah uang pangkal (pendaftaran) atau  SPP yang dimajukan pembayarannya, masih ada item lain yang memaksa orang tua merogeh kocek lebih dalam.  Apalagi kalau bukan masalah seragam, buku tulis dan buku cetak hingga penggaris.

Kalau dalam keluarga cuma 1 orang anak usia sekolah, mungkin jeritan beratnya biaya sekolah tidak sampai terdengar.  Namun kondisi berbeda terjadi di keluargaku yang saat ini ada 3 orang anak kakak menjadi tanggung jawab kami.  Ajaibnya, nyaris setiap tahun ada saja yang masuk atau mendaftar ke sekolah dengan jenjang lebih tinggi.  Seperti tahun ini, Tony harus mendaftar SMP setelah tahun lalu Lia lulus TK dan menyusul Tony di SD yang sama.

Sudah sejak lama aku menyiapkan tabel pendidikan untuk Tony, Uih dan Lia.  Tabel ini berisi tahun masuk dan lulus para keponakanku.  Sebetulnya, aku pengen menyertakan tabel pendidikan mereka pada catatan kali ini, namun karena aku membuatnya di agenda, hasil foto pakai handphone malah membuat tabel tersebut kelihatan buram.

Secara garis besar, tabel tersebut seperti ini

Peta Pendidikan

*maaf, tampilan tabel berantakan.  Nanti aku edit lagi.

Dan seterusnya hingga masing-masing anak menyelesaikan pendidikan perguruan tinggi.  Jika tidak ada aral merintang dan semua terjadi seperti tabel yang aku buat, maka bisa ditelusuri (perkiraan) tahun kelulusan dari perguruan tinggi sebagai berikut :

Tony akan lulus kuliah tahun 2023

Uih akan lulus kuliah  tahun 2027

Lia akan lulus  kuliah tahun 2027

Masih butuh sekitar 15 tahun lagi proses mengantarkan Tony dan adik-adiknya menempuh pendidikan.  Semoga Tuhan memberikan kekuatan untukku dan keluarga agar bisa melewati semua ini.  Bagaimanapun juga, pendidikan mereka yang utama.  Tidak ada yang terjadi secara kebetulan, pun begitu saat anak-anak menjadi tanggung jawabku.  Kadang suntuk sih pas tahun ajaran baru gini, pengeluaran edan gedenya.  Di alam bawah sadarku, udah tertulis : ain’t going down buat anak-anak.

Hidup menjadi lebih berwarna saat banyak hal difikirkan dalam waktu bersamaan. Mulai dari urusan pendidikan anak-anak, pernikahan,  bisnis di Indonesia hingga dana pensiun kelak.  Well, aku belum patah semangat mendeklarasikan akan pensiun dini pada usia 40 tahun.  Pensiun dini tak perlu  diartikan sebagai  ”total tidak bekerja.”

Sejatinya, dalam beberapa tahun ke depan, aku mau  bekerja karena aku pengen bekerja, bukan semata tuntutan materi.  Punya lebih banyak waktu untuk keluarga dan diri sendiri.  Ini sebagai kompensasi selama ini selalu berjauhan dengan keluarga.  Apakah  mustahil?  Maybe yes maybe not.  Kita lihat saja nanti.  Kebetulan, aku suka memikirkan sesuatu diluar kemampuanku, termasuk perkara pensiun dini yang hitungan waktunya tidak lama lagi.  Waktu yang akan menjawab….kekekekeek…  😉 😉 .

Kamu tahu hal pertama yang jadi perhatian bila kelak aku menikah?  Yup, mengatur kehamilan dan kelahiran anak.  Orang tua bahagia, anak sejahtera. *

Semangat berjuang untuk para orang tua yang sedang menunggu hasil ujian nasional.

Salam hangat,

Lintasophia

Too Good To Be True. Pentingnya Belajar Investasi

Hari ini aku terhenyak melihat berita tentang seorang pedangdut yang mengaku tertipu sebesar Rp. 1 Milyard.  Berita di media lain menyebutkan bahwa Annisa Bahar tertipu Rp. 1,5 M.  Bukan masalah angka 1 M atau 1,5 M yang ingin aku garis bawahi.  Untukku angka tersebut sama fantatisnya.  Pertanyaan yang menggangguku justru : kok bisa?  Duh,  Annisa nonton berita kriminal ga sih?  Penipuan dengan topeng investasi sudah ada sejak zaman kuda makan batu. *Annisa yang jadi korban tapi aku yang kesal….hehehehe….

Pada salah satu infotainment (halah…pagi-pagi sudah sarapan infotainment), Annisa menjelaskan bahwa modus yang ditawarkan adalah investasi pada logam mulia (emas).  Para pemilik modal (investor) dapat menanamkan dananya (dalam bentuk dollar) dengan nilai nominal sesuai keinginan.  Dalam hal ini, Annisa menginvestasikan dana sebanyak 5000 dollar dan dijanjikan keuntungan sebesar 300 % alias 3 kali lipat.  Sayangnya, dalam berita tidak dijelaskan tenggat waktu keuntungan sebesar 300 % tersebut akan tercapai.

Selama seminggu berturut-turut setelah dana disetorkan, Annisa mendapatkan transferan yang diyakini sebagai keuntungan sebanyak Rp. 1.600.000 per hari.  Setelah itu tidak ada transferan sama sekali.  Setelah tidak ada transfer keuntungan, barulah Annisa waspada dan berfikir bahwa ia telah menjadi korban penipuan.  Hmmmm….  Sampai di sini aku geleng-geleng kepala.  Baru baca judul beritanya aja aku sudah berfikir bahwa ini investasi yang ganjil.

Penyesalan selalu datang terlambat, saat nasi telah menjadi bubur.  Mengapa begitu mudah menyerahkan dana sebesar 5000 dollar tanpa merasa curiga akan besarnya imbal balik yang akan diterima?  Dalam dunia bisnis ada pepatah : too good to be true.  Kurang lebih maknanya : terlalu manis untuk menjadi kenyataan.

Tentu saja pepatah di atas bukan tanpa dasar sama sekali.  Sampai sekarang, belum ada investasi yang menjamin bahwa keuntungan akan diterima 100 % persis seperti hitungan di atas kertas.  Setiap investasi juga mengandung resiko.  Runyamnya lagi, tidak ada investasi yang memberikan keuntungan berkali lipat dalam waktu singkat.  Ada sih, kalau berani main saham atau valuta asing.  Tapi, menilik kasus Annisa Bahar yang katanya investasi pada logam mulia yang harganya cenderung naik beberapa waktu ini, aku bisa pastikan bahwa dana yang 5000 dollar itu tidak diinvestasikan pada logam mulia.  Memangnya tuh dana dibeliin berapa kilo emas sehingga mendapatkan kerugian (selisih harga jual dan beli) sampai 5000 dollar?

Atau katakanlah bahwa ternyata Manajer Investasi memutarkan dana tersebut di pasar saham.  Lalu, saham siapakah yang diperjualbelikan?  Sekarang harga saham juga pada terjun bebas, jadi justru waktu yang tepat untuk membeli, menyimpan dan menjualnya kembali saat harga saham tinggi.  Tapi Annisa perlu mengingat bahwa ini juga butuh waktu selain juga  penuh resiko.  Keuntungan besar, resikonya juga besar.  Bukan begitu, Nis?

Salah satu berita menyebutkan bahwa ini kali kedua Annisa Bahar berinvestasi dengan perusahaan tersebut.  Investasi pertama berjalan lancar dan keuntungan seperti yang dijanjikan diterima Annisa dengan baik.  Menurutku, investasi pertama itu cuma pancingan saja agar berikutnya Annisa menanamkan modal lebih besar lagi. *nepok jidat.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari nasib naas yang menimpa Annisa Bahar? Jangan malas belajar investasi.   Mending hilang waktu untuk belajar serta  check baby check piranti legal investasi yang ditawarkan atau milih kehilangan duit?  Agar tidak tertipu,  pemahaman investasi akan membantu proses perencanaan keuangan keluarga,  Kalau pun saat ini tidak ada dana untuk investasi, ya anggap sebagai pengetahuan umum saja.  Sehingga suatu saat ketika tawaran investasi nan menggiurkan datang, lengkap dengan janji-janji surga, maka kita punya pengetahuan dasar tentang investasi.  Dari situ  baru memutuskan apakah investasi itu baik dan layak untuk diikuti atau sebaiknya  lapor polisi.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

THR Enaknya Untuk Apa ya?

Met sore Indonesia,

Lama tak menyapa, termasuk  tidak mencatat masalah perencanaan keuangan.  Mumpung  mendekati akhir tahun, masih ada waktu untuk mereview apa yang telah kita lakukan sepanjang tahun lalu, termasuk masalah keuangan.

Untuk kalian yang sedang berada di daratan Eropa dan sekitarnya pasti sedang sibuk menyambut Natal, termasuk nungguin THR dong.  Berbeda dengan di Indonesia yang Tunjangan Hari Raya diberikan beberapa saat menjelang Lebaran, kalau di sini beberapa hari menjelang Natal.  Tentu saja maksudnya agar ada dana untuk merayakan Natal.

Sebagai catatan, THR  yang besarnya satu kali gaji pokok memang bonus atau pendapatan lebih, namun alangkah baiknya jika kita dapat menggunakannya secara bijak agar gaji THR tidak menguap begitu saja.  Berikut ini ada beberapa ide cara menghabiskan gaji THR :

1.  Membayar Hutang

30 % dari THR akan aku gunakan untuk membayar hutang… Hohohoho… Seandainya kamu tidak punya hutang yang harus dibayar, boleh mengalokasikan dana di atas ke post Dana Cadangan.  Perlu diingat, dana cadangan cuma boleh diambil saat kondisi darurat, menyangkut hidup dan mati.  Artinya, kalau pas jalan-jalan ke mall lalu melihat tas idaman sedang SALE, maka harus menahan diri untuk tidak menarik Dana Cadangan.  Tidak memiliki tas idaman tidak akan mati kan? 🙂

2.  Dana Cadangan

20 % dari THR juga akan aku save sebagai Dana Cadangan.  Terus terang, saat ini kondisi ekonomi  sedang tidak baik.  Selama bekerja di LN, baru sekarang aku sama sekali tidak punya tabungan apalagi Dana Cadangan.  Mumpung ada THR, maka sekarang  saat yang tepat untuk mengisi buku tabungan.  Kalau kamu sudah memiliki Dana Cadangan yang cukup, boleh men-skip Dana Cadangan lalu melirik investasi.

3.  Asuransi

25 %  untuk bayar asuransi dimuka.  Kalau selama ini kudu mengencangkan ikat pinggang demi asuransi setiap bulannya, bagaimana kalau sebagian THR digunakan untuk membayar asuransi sekaligus untuk 6 bulan atau setahun yang akan datang.  Bukankah itu ide yang menarik?  Lalu, bagaimana urusan pos asuransi yang sudah terlanjur dibuat anggaran setiap bulannya?  Gampang, alihkan saja untuk kebutuhan lain atau investasi.  Yang penting, tujuan keuangan keluarga tercapai. 🙂

4.  Investasi

Setelah semua komponen di atas terpenuhi, barulah melirik investasi.  Seandainya pos-pos di atas telah OK dan tidak perlu menggunakan THR untuk membayarnya, itu justru lebih baik.  Artinya, modal untuk memulai atau mengembangkan usaha semakin besar.  Jika tahun lalu, THR aku pakai untuk mencicil uang muka rumah (sampai sekarang masih nyicil), maka tahun ini fokus untuk menabung modal usaha.  Untuk usaha yang sedang dirintis ini, membutuhkan modal yang lumayan besar.  Sementara ini,  kami menjalani  skala kecil sambil belajar dan mengumpulkan modal.  Dengan demikian, cuma 10 % THR yang bisa dialokasikan untuk investasi ini. *keep simle  🙂

5.  Mudik

Biasanya, THR biasa  kami pakai untuk membayar tiket mudik.  Tahun depan aku tidak mudik, sehingga dana THR bisa dialokasikan untuk pos-pos di atas.  THR juga bisa digunakan untuk liburan bersama keluarga.

6.  Dana Natal

10 % dari THR akan meluncur ke Bandung untuk sekedar membeli penganan khas Natal.  Rencana awal, aku pengen menghadiahi ibu oven baru untuk mengganti panggangan kue jadul yang terbuat dari blek kerupuk.  Informasi tentang pemanggang kue yang OK sudah aku dapat dari kakak kelas yang hobi masak (Thank you Teh Yulli untuk konsultasi oven).  Tapi setelah ngobrol dengan adik, rencana tersebut ditunda.  Kalau rejeki memadai, adikku ingin merenovasi dapur dan mengganti peralatan dapur ibuku.

”Biar sekalian satu set.”  Kata adikku.  Deal, jawabku.

7. Shopping

5 % dari THR akan kugunakan shopping pas SALE end of season nanti.  Setelah sekian lama puasa jajan, pastinya nanti akan menyenangkan ya bisa membeli beberapa potong baju setelah sekian lama menunggu.  Hehehehe, dulu mah kalau mau belanja ya belanja aja, tidak perlu menunggu SALE.  Ga ada dana, masih punya kartu kredit.  Tapi sekarang semua berubah…wkwkwkwkwk….

Begitulah ancer-ancer penggunaan THR tahun ini.  Sengaja aku menggunakan dalam bentuk persen biar lebih gampang menghitungnya.  Kalau kamu, THR untuk apa?

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Selalu Ada Rezeki Untuk Mereka

Tutup Facebook dan mengasingkan diri di sini. 🙂

Apa ya yang mau kucatat hari ini?  Kepala sedang kosong melompong efek dari  ngobrol ama ibu 2 jam lalu.  Kemaren ibuku sengaja menelfon Mas Ipung untuk menanyakan khabar terbaru dari usaha yang sedang kami rintis.  Dari  Mas Ipung, ibu sudah tahu bahwa usaha yang sedang kami rintis terpaksa melambat karena kekurangan dana.  Dari nada suaraku pun ibu sudah tahu kegelisahan hatiku.  Beliau berusaha menguatkan hatiku yang sedang down dengan bercerita hal-hal lucu tentang keponakan-keponakanku.

Sudah beberapa hari aku tidak menelfon demi penghematan pulsa (karena itu beliau memilih menelfon Mas Ipung).  Rasanya berat untukku dan keluarga di Bandung,  terutama ibu yang merasa kehilangan teman bercerita.  Walau tidak ingin membebaniku, tapi katanya ia telah menunggu telfonku sedari pagi.  Bahkan tadi ibu sengaja tidur di depan telfon agar bisa langsung mengangkat telfon jika aku menghubunginya.  Sungguh terharu.  Belum lagi ibu sedikit kesulitan menjawab pertanyaan keponakan yang mencari-cariku.

Aku cuma menitipkan salam dan ucapan selamat untuk  mereka (keponakanku) yang baru saja dibagikan hasil Ujian Tengah Semester (UTS).  Mereka pasti sudah menunggu seribu pujian dariku atas pencapaian mereka selama ini.  Aku jadi ingat beberapa hari lalu saat Uis sedikit tergagap meminta maaf karena nilai Bahasa Inggrisnya tidak sebaik yang diharapkan.  Tentu saja aku tidak marah, kataku.  Aku meyakinkan Uis bahwa sebetulnya ia bisa lebih baik lagi asal tidak malu bertanya.  Anak pintar tidak malu bertanya, kataku pada Uis.

Demikian juga dengan Tony yang tiba-tiba merasa rendah diri karena Matematikanya harus remedial (mengulang), padahal beberapa hari sebelumnya ia sangat optimis  bahwa tahun ini nilainya pasti lebih baik.  Aku pun tidak marah sepanjang mereka berusaha dengan baik dan tidak nyontek.

Cerita penutup dari ibuku yang membuat fikiranku mendadak kosong…halah…  Kata ibuku, pendaftaran untuk tahun ajaran baru sudah dimulai.

” Haaaaaa….  Cepat banget?  Baru juga 3 bulan masuk TK.  Kejam amat”  Kataku.

” Iya, itu kalau kita minat memasukan Lia ke SD  yang sama yayasannya dengan TK-nya sekarang ini.”  Jelas ibuku.

” Oh gitu?  Lalu…”

” Formulir sudah di tanganku dan tadi aku sudah bicara dengan kepala sekolahnya.  Karena berasal dari TK  milik yayasan, maka Lia mendapat potongan harga 20 persen.”  Terang ibuku sambil menyebutkan angka awal dikurangin potongan harga dan harga akhir. 😦

Aku terdiam, sama seperti ibuku yang kemudian buru-buru mengalihkan pembicaraan.  Kondisi krisis gini, aku ga tau dari mana mendapatkan dana untuk mencicil uang masuk sekolah Lia yang harus mulai bayar Desember nanti.

Keadaan tidak pernah sesulit ini.  Dalam sejarah keuanganku, aku bahkan pernah memasukan sekolah 3 keponakan sekaligus (masuk TK, SMP dan SMA dalam waktu bersamaan) ditambah pula menjadi donatur sejumlah adik asuh selama bertahun-tahun (sekarang tinggal kenangan).  Kali ini, untuk mencicil uang masuk  1 anak pun rasanya gelap….Grhhhh….

” Jangan jadi fikiranmu, ntar kamu sakit.”   Hibur ibuku.  Segera kuatur nafasku agar tangis tak tumpah.

” Kita bisa daftarin Lia ke SD Inpres dekat rumah.”  Kata ibuku.  Aku menolak mentah-mentah ide itu.  Lia anak yang pintar dan energinya banyak.  Rasanya sayang sekali kalau semua itu tidak tersalurkan dengan baik.  Lia berjanji akan belajar balet dengan baik agar ketika aku pulang ia bisa menari untukku.  Ia pun sudah tidak sabar agar sekolah full seperti kakak-kakaknya dan menikmati fasilitas sekolah yang sama seperti yang diterima kakak-kakaknya.  Kebetulan mereka bertiga sekolah di sekolah yang sama.

” Aku usahakan ya, bu.  Pegang saja dulu formulirnya.  Besok berbicaralah dengan Kepala Sekolah bahwa Desember ini kita pasti bisa kasih cicilan pertamanya.”  Pintaku pada ibu walau dalam hati tidak tahu bagaimana cara mendapatkan dananya.

” Kamu yakin?” Tanya ibuku.  Ada rasa was-was dan perasaan bersalah pada suaranya.

” Aku yakin.  Semoga selalu ada rezeki untuk mereka.”  Kami menutup telfon.  Tangisku pecah.

Salam,

Lintasophia.

Gambar dari Google