Medali Pertama di Tahun Baru

Tadi pagi, sekitar pukul 08.45, pandanganku tertumbuk pada rombongan keluarga yang akan berolahraga.    Tidak tanggung-tanggung lho, mereka akan bersepeda.  Dengan mengenakan pakaian ketat untuk olah raga, kacamata dan topi layaknya atlet sepeda, mereka yang terdiri dari 2 orang dewasa dan 2 orang anak sedang menunggu lampu lalu lintas berganti agar bisa menyeberang.   Untuk beberapa saat niat untuk menyiapkan sarapan mendadak terlupa.

Aktivitas mereka mencuri perhatianku pagi tadi, mengingat cuma mereka penghuni jalan raya yang kelihatan jelas dari jendela dapurku.  Memang, kebetulan jendela dapurku langsung menghadap jalan raya.  Kira-kira 40 meterlah.  Uedan tuh orang, di saat yang lain masih lelap di kasur akibat perayaan tahun baru kemarin, eh mereka sepagi ini sudah berasyik-masyuk dengan sepedanya.

Buru-buru kubuka jendela dapur.  Kusorongkan badan agar aku lebih leluasa memandang sampai jauh keadaan sekelilingku termasuk jalan raya.  Benar-benar kosong melompong.  Saking kosongnya, di salah satu sudut jalan raya, terdapat segerombolan burung dara yang terbang rendah.  Cukup banyak jumlah burung dara tersebut, sebagian malah cuek saja berdiam diri di jalan raya.  Padahal sehari-hari jalan raya itu cukup padat merayap oleh kendaraan.

Pemandangan burung dan rombongan orang yang berangkat olah raga sepeda sangat menghibur pagi ini.  Walau dalam hati aku masih bertanya-tanya tentang pilihan mereka yang bersedia berolah raga pada tahun baru.  Wong uedan!  Kayak ga ada hari esok saja, pikirku.  Atau, berolah raga merupakan resolusi mereka untuk tahun 2012 ini?  Entahlah.

Berkat  kejadian tadi pagi, muncul sebuah ide iseng.  Seandainya aku punya program atau acara sendiri, setiap tahun baru aku pengen menangkap basah siapa saja yang ”nekad” berolah raga di pagi hari dan memberi mereka medali.

Skenarionya kurang lebih begitu.  Mungkin tidak cuma medali, bisa juga dilengkapi dengan trofi dan piagam penghargaan.  Ya bagaimanalah gambaran umum saat seorang atlet baru memenangkan sebuah pertandingan.    Pemberian medali diakhiri dengan acara mengabadikan moment ”aneh” tersebut dengan pose mengangkat tinggi-tinggi trofi dan medali pertama di tahun baru tersebut.   Kayaknya seru juga ya…. 😉

Salam sehat,

 

Lintasophia

Gambar dari Google

Bukan Lipoma Walau Masih Tumor Jinak

Kondisi tumor 6 bulan lalu.  Kaki dalam keadaan lelah

Kondisi tumor 6 bulan lalu. Kaki dalam keadaan lelah

Nyaris lupa untuk membuat catatan tentang Lipoma  (baca : Livin da  Lipoma) sampai suatu hari temanku menanyakan perkembangan kakiku.  Nah, ternyata eh ternyata, itu bukan Lipoma tapiiii…(lupa nama persis penyakitnya  *nepok jidat), masih keturunan keluarga tumor jinak sih.   Ah bo, ternyata tumor baik jinak maupun ganas punya banyak keturunan.  *smile.  Hal ini berdasarkan pengamatan 2 orang dokter ahli bedah yang menilai benjolan berdasarkan tekstur, kekenyalan, luas dan nyeri tidaknya benjolan tersebut.

Baru saja aku berusaha membaca surat hasil pemeriksaan pada 8 Juli lalu, tapi gagal.  Tulisan orang Itali itu jelek banget, apalagi tulisan dokternya…hehehehehe….  Ada sih beberapa kata yang aku mengerti setelah menelusuri internet.  Tapi karena informasi cuma sepotong-potong, baiklah kita sepakat saja bahwa benjolan-benjolan di kakiku ini kita sebut tumor jinak, seperti kata dokter.  Hasil obrolan dengan dokter, mereka menyarankanku untuk melakukan operasi  pengangkatan mengingat tumor ini sudah menahun dan semakin banyak.

“Waduh, operasi?”  Tanyaku.  Menurut dokter, tumor jinak tidak mematikan atau kecil kemungkinan mengarah pada tumor ganas (kanker), kecuali tumor jinak berkembang pada area vital.  Tapi kalau menimbulkan perasaan tidak nyaman (nyeri), berkembang dan tidak sedap secara estetika (merusak pemandangan…halah…), maka operasi adalah pilihan bijaksana.

“Kirain cukup dioles salep atau semacamnya.”  Tanyaku lagi.  Kembali dokter menjelaskan bahwa salep adalah obat luar dan tidak akan bekerja pada jaringan kulit yang terserang tumor.  So, opsi yang bisa kuambil cuma 2, yakni ; operasi atau operasi.  Podo wae.  Dasar dokternya pinter, sambil dia mengisi data-data hasil pemeriksaan, ia memberiku waktu 10 menit untuk memutuskan.  Deal, aku memilih operasi.

Untuk menuju operasi, masih dibutuhkan beberapa langkah yang harus aku tempuh, yakni test darah dan jantung.  Kedua test ini telah aku lakukan pada 14 November lalu.  Hasilnya dapat diketahui pada 7 Desember nanti.  Kedua test ini dibutuhkan untuk mengetahui kondisi terakhir tubuh,  apakah siap melakukan operasi atau tidak.  Bila ditemukan ada yang tidak beres, maka dokter akan menyarankan tindakan khusus yang harus aku lakukan hingga hasil test mengatakan : OK, silakan dibelek…..hehehehehe….

Kondisi tumor jinak malam ini.  Kaki dalam keadaan rileks

Kondisi tumor jinak malam ini. Kaki dalam keadaan rileks

Sedangkan pemeriksaan jantung hampir mirip kebutuhannya dengan test darah, tapi lebih untuk melihat apakah tubuhku cukup kuat menerima anestesi (pembiusan), pembedahan dan reaksi paska operasi.  Baik hasil test darah dan jantung akan bisa kulihat pada 7 Desember nanti sambil konseling.  Maksud konseling di sini, dokter akan memberikan bimbingan mental sehingga aku siap menjalani operasi. Nanti akan dijelaskan resiko, tahapan sebelum dan setelah operasi.

“Dioperasi itu sakit ya dok?”  Tanyaku dengan muka kecut.  Saat dokter tertawa mendengar pertanyaanku, sadarlah aku bahwa baru saja sebuah pertanyaan bodah terlontar begitu saja.

“Mana ada operasi yang tidak sakit.  Tapi jangan khawatir, nanti kan di-anestesis (bius), jadi tidak  akan terasa kok .”  Begitulah penjelasan dokter cantik itu.  Walau ia menghiburku, tapi tetep saja aku ga enjoy.  Aslinya aku itu takut obat apalagi pisau operasi. *crying.

Barusan, sambil memotret kaki, aku malah berfikir bahwa sebetulnya aku tidak terlalu terganggu karena tumor ini.  Sedikit nyut-nyutan, bengkak dan panas jika berdiri atau berjalan jauh (perhatikan kedua foto di atas untuk membedakan kondisi kaki saat lelah dan rileks), tapi masih bisa disiasati dengan pemilihan sepatu yang nyaman.  Tapi, seperti kata dokter bahwa tidak baik menunda mengobati suatu penyakit.  Bu dokter bisa membaca karakterku yang cenderung meremehkan masalah kesehatan 🙂 :)…  Baiklah bu dokter, setelah  kondisi tubuhku dinyatakan OK lahir bathin dan aku faham serta siap menerima resiko selama dan pasca operasi, mari kita buat jadwal operasinya yaa…..

Semoga bermanfaat dan salam hangat ya….

Lintasophia

Foto dokumentasi pribadi.

Tumpengan Ala Lintasophia

Hei, tidak terasa sudah setahun usia Lintasophia.  Merupakan blog terakhirku yang bertahan dan lumayan rutin kukunjungi.  Ada sekitar 130 catatan selama setahun ini.  Walau niat awal aku ingin membuat Lintasophia semacam jurnalku, tapi ternyata hal itu tidak mudah diwujudkan.

Terkadang sering ada perasaan minder karena catatan yang ada ternyata biasa saja, nyaris tidak bermanfaat.   Suatu hari Mas Ipung menyarankan agar catatanku lebih beragam dan mungkin lebih serius.  Aku terima kritiknya sekaligus menampiknya.  Karena Lintasophia memang begini saja apa adanya.  Sudah terlalu banyak catatan serius bertebaran di dunia maya dan aku memilih berada di luar lingkaran itu.

Lalu untuk apa aku masih mencatat?  Jawabnya, karena aku orang biasa.   Sebagian besar catatan Lintasophia berisi kehidupanku sehari-hari.  Biasa saja sih tapi sayang dilewatkan begitu saja (menurutku sih).     Tidak ada yang akan mengingatnya kecuali aku  mencatatkannya.  Aku mencatat maka aku ada.  Juga sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu kelak dan mereka yang pernah mengenalku.

Apakah ada Lintasophia edisi spesial pas ulang tahun ini?  Hihiihiih, jawabnya ga ada.  Malah sudah beberapa hari ini terkapar sakit.  Kemaren, saat orang lain kepanasan aku malah menggigil.  Untung Septi berbaik hati membawakanku obat.  Hari ini flu sudah mendingan, tidak demam lagi.  Sisa ingus, batuk dan nafsu makan yang hilang. Jadi, boro-boro bisa buat tumpeng beneran ya….

Tadi sempat bingung dan males banget untuk makan siang.   Untungnya aku cukup  berani melawan rasa tidak selera dengan menyeret kaki mengolah spaghetti dicampur seafood.  Kepada Septi aku bilang bahwa agendaku hari ini adalah bebersih rumah dan menulis.  Kedua-duanya tidak terwujud.  Haduh, hidung melerrrr… 😦 😦  Walau cuma influenza, tapi cukup membuat jeansku mendadak longgar….heheheheheh….  Btw, kayaknya flu di musim panas menjadi agenda rutinku.  Ntar kalau sudah ada yang tertular baru aku sembuh.  😉

Balik lagi ke melirik setahun usia Lintasophia.  Maaf, maaf  ya kalau selama setahun kebersamaan kita ini, Lintasophia ada salah-salah kata.  Tidak ada maksud menyombongkan diri, menggurui atau membuat bosan.  Sekedar berbagi, itu saja.  Syukur-syukur kalau catatan yang biasa ini bisa  kalian terima dengan baik.

Terima kasih tak terhingga untuk kalian yang mau meluangkan waktu membaca bahkan meninggalkan komentar.  Sungguh itu penghargaan yang luar biasa.  Maaf juga tools Lintasophia tidak canggih atau begitu-begitu saja.  Aku juga masih belajar ngeblog dan sampai saat ini prioritas utama adalah mencatat.  Mungkin nanti kalau senggang aku bongkar fitur-fitur yang ada.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan buat teman-teman ya.  Semoga amal ibadah kalian diterima Tuhan Yang Maha Esa.  Sampai jumpa di  tahun kedua Lintasophia.  Maaf banget ultah kali ini tanpa tiup lilin atau tumpengan.   Selama setahun yang akan datang aku akan belajar membuat tumpeng yang enak  😉  Jangan sungkan mengkritikku. 😉 😉

Salam anget banget,

Lintasophia

Gambar dari Google

Di sana Mogok, di sini Happy Ending

Holaaaa….

Ini dia laporan pandangan mata setelah nganter surat rujukan kemarin.  Seperti aku ceritakan sebelumnya, tantangan terbesar dalam benakku adalah bus yang akan mogok pada pukul 09.00 pagi.  Memastikan semua berjalan terkendali, tidak belok kanan atau ke kiri, apalagi make acara nyasar.

Aku sengaja bangun sangat pagi, sekitar pukul 06.30 dengan asumsi butuh sejam mulai dari sarapan, mandi dan berkemas.  Hitunganku tidak meleset.  Pukul 07.30 aku sudah nangkring dengan manisnya (ehem…) di halte bus.  Perjalanan ke studio dokter kurang lebih 30 menit.  Jadi, aku akan tiba sekitar pukul 08.00, tepat jam buka studio medico.  Cuma meleset dikit, aku tiba pukul 08.07 menit.  Not bad.

Butuh waktu sebentar saja hingga perawat yang sudah kukenal kemarin menemui para pasien di ruang tunggu.  Perawat itu terperanjat melihat aku benar-benar hadir, bahkan pagi sekali.  Aku tersenyum merasa mampu membayar hutang pada dokter itu.

”Aku kan sudah janji.”  Jawabku membalas pujiannya.  Kuserahkan richiesta dan bukti pembayaran via bank yang kemarin kulakukan.

”Sebentar, kok cuma 14 euro?”  Tanya perawat sambil membolak-balik berkas-berkas yang ditangannya.

”Kata CUP cuma 13,74 Euro kok.  Aku udah konfirmasi ulang angka persisnya.”  Kataku sambil menunjukan beberapa angka pada binderku.

”Duh itu CUP, bener-bener ga up to date deh.  Sudah lama naik, jadi 23,74 Euro.”

”Haaaaa, kok bisa?”

”Bukannya kok bisa, memang segitu neng….”   Sanggah perawat.

”Duh….”

”Sekarang gini aja deh, kau bayar kekurangannya yang 10 Euro trus bawa ke sini bukti pembayarannya.”  Jawab perawat sambil menunjukan jalan pintas yang bisa kutempuh menuju bank yang dimaksud.

Bagus!  Ternyata ini Mr. X yang bakal mengacaukan hari ini, batinku dalam hati.  Harus gitu selalu ada unexpected thing?  Aku meninggalkan ruang tunggu dengan berlari-lari sambil bolak-balik melirik arlojiku.  Duh Gusti, tolong lancarkan hari ini.  Jangan sampai aku ketinggalan bus.

Sampai di teller, ternyata duit di dompet cuma 12 Euro, itu pun sudah dianggarkan untuk membeli tembakau dan makan siang nanti.   Awalnya, aku pengen membayar pakai debit saja, ternyata kalo cuma 10 Euro kudu cash.  Kali ini aku menyesali keputusanku untuk  tidak memperpanjang kartu kreditku.  Kalau urgen gini, kerasa manfaat si plastik pipih.  Total 11 Euro dengan ongkos kirim melayang pagi itu.  Hampir pukul 08.30, aku harus bergegas.  Dana di dompet tinggal 1 Euro, tidak cukup kalau harus bayar taxi.

Lagi-lagi perawat memuji kecepatan kakiku.  Kali ini aku diam saja.  Sebel.  Urusan selesai dan aku kembali lari-lari menuju halte bus terdekat.  Dari kejauhan aku melihat bus yang menuju pusat kota tepat berlalu.  Pengen nangis rasanya.   Kuseka keringat dan menyiapkan diri kalau ternyata harus pulang berjalan kaki.  Terfikir juga kalau masa berlaku tiketku sudah habis?  Di sini, tiket bus berlaku selama 100 menit sejak dipakai pertama kali.  Sementara dana tinggal 1 Euro sedangkan harga tiket 1,50 Euro…. *Mulai hopeless.

Pukul 08.43, bus belum datang.  Aku berfikir keras, harus memutuskan apakah tetap gambling menunggu bus atau mulai berjalan kaki saja agar tepat waktu tiba di toko tempatku bekerja.  Kalau kondisi seperti ini, saat semua harus diurus sendiri, kadang merasa mellow ga jelas.  Menghalau terpaan mentari, kupandang erat-erat ujung sepatuku.  Rasanya capek dan bingung.  Aku memutuskan mulai jalan kaki saja agar tidak telat kerja.

Saat aku membalikan badan, aku melihat calon penumpang di sekitarku bergerak.   Ternyata ada bus!  Bukan jurusan ke kotaku,  cuma sampai stasiun kereta api.  Segera aku bergabung, melompat bersama penumpang lain.  Paling tidak,  berjalan kaki dari stasiun ke tempat kerja masih lebih manusiawi ketimbang dari sini.  Yang penting, bisa keluar dari negeri antah berantah ini.

Pukul 08.57 bus tiba di stasiun.  Senang sekali.  Cepat-cepat aku bergegas, berlari kecil melintasi taman.  Tujuan berikutnya adalah mencari bus tujuan pusat kota.  Asal sudah di stasiun, aku tidak keberatan harus jalan kaki ke toko tempatku bekerja.  Hal ini sudah sering kulakukan saat jalan-jalan sore.    Selama di bus tadi, Teh Maya bolak-balik aku kasih laporan mengenai posisi terakhirku.  Hahahaha, rasanya sedang menjalankan sebuah misi yang sangat rahasia. 😉 😉

Salah satu bus melintas, penumpangnya tidak seberapa sehingga masih memungkinkan duduk.  Kemungkinan besar masyarakat sudah berangkat pagi sekali sebagai jaga-jaga terdampar di jalan akibat bus mogok.  Rasanya aku seperti kelinci,    lompat sana, lompat sini.  Pada kaca jendela bus kuamati wajahku yang kuyu.   Sebuah perpaduan antara lapar, haus dan kurang tidur.

Pukul 09.00 tepat aku turun dari bus terakhir yang beroperasi pagi itu.  Jalanan sepi.  Segera kukirim pesan ke Teh Maya.  Kukhabarkan bahwa aku sudah tiba di Ferrari (pusat kota).  Ia membalasnya dengan acungan jempol.  Saat tiba di toko,  dari gelombang radio yang mengudara, tersiar khabar bahwa mogok bus secara nasional ini telah mengakibatkan macet dimana-mana.   Volume kendaraan  tak tertampung ruas jalan hingga aksi protes para turis di Roma dan beberapa kota pusat turis bergantian menyambutku pagi ini.

”Ah biar saja di sana mogok, yang penting pagi ini happy ending.”  Kataku sambil menyiapkan peralatan mengepel.

Happy Monday,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Livin La Lipoma

Tanggal 25 Mei lalu, dengan berbekal segenap keberanian, aku memberanikan diri ke dokter.  Terus terang, aku itu takut berurusan dengan dokter.  Belum apa-apa, aku sudah takut kalau harus minum obat.  Sejak kecil aku ga bisa minum obat, entah sirup, pil atau berbentuk kapsul.   Pokoknya, sebisa mungkin tidak ke dokter.  Kalau masih bisa jalan berarti masih sehat,  begitu fikirku. 😉 😉

Rencana awal aku cuma  mau periksa pinggang saja yang sudah sebulan sakit luar biasa.  Mumpung ke dokter, aku sekalian memeriksakan benjolan yang terdapat di punggun kaki kananku.   Benjolan ini pertama kali aku temukan 5 tahun lalu dan sudah pernah aku periksakan ke rumah sakit.  Saat itu ada 2 benjolan kecil, bulat sebesar kacang.  Aku diberi obat penghilang nyeri yang setelah obat habis aku tidak pernah  periksa lagi.  Aku tidak pernah tuntas memeriksakannya hingga beberapa minggu ini benjolan tersebut lebih sakit dari biasanya.

Benjolan ini biasanya nyut-nyutan saat aku lelah, tapi sekarang terasa sepanjang hari disertai rasa panas pada benjolan.  Kata dokter sih Lipoma, merupakan tumor jinak yang berkembang secara lambat.   Nama penyakit ini  lucu ya, Lipoma.  Serasa nama orang Amerika Latin seperti yang biasa kita lihat di telenovela.  Jangan-jangan nama lengkapnya Viva La Lipoma (just kidding 🙂 🙂 ).

Lipoma tidak berpotensi menjadi kanker.  Yes…! Umumnya menyerang perempuan usia 40-60 tahun.  Untuk masalah umur ini, aku agak bingung juga sih, karena umurku kan masih (agak) jauh dari kepala 4, tapi kok bisa ada Lipoma?  Sampai saat ini belum diketahui penyebab pasti Lipoma.  Kemungkinan faktor keturunan atau reaksi setelah terjadi benturan.  Informasi tentang Lipoma silakan Google sendiri ya.  Aku cuma masih bingung menerka penyebab Lipoma ini.  Seingatku, Lipoma ini tiba-tiba hadir begitu saja (atau karena aku tidak pernah memperhatikan kakiku ya?).

Seandainya Lipoma ini tidak bertambah banyak dan tidak sakit, mungkin tetap akan aku abaikan.  Saat ini, aku juga sedang mendalami ilmu per-Lipomaan….cieeee… Soalnya walau sudah dijelaskan dokter, tidak banyak informasi yang berhasil kuserap.  Lebih baik bertanya pada dokter Google. 🙂

Di luar sedang turun hujan dengan deras saat aku sedang mencocok-cocokan Lipoma di kakiku dengan info yang ada di Google.  Dulu (seingatku), benjolan ini berbentuk bulat utuh, ada 2 biji seukuran kacang tanah.  Sekarang kalau diamati baik-baik, justru berubah bentuk.  Benjolan ini jadi kecil-kecil seukuran nasi.  Walau kalau diperhatikan baik-baik, di kakiku seakan ada 2 benjolan besar saat ini.  Padahal kalau dilihat lebih dekat, setiap benjolan besar itu terbentuk dari benjolan-benjolan seukuran nasi tadi.  Nyut-nyutan dan terasa panas…hehehehhe…

Menurut dokter tempo hari, benjolan ini harus diangkat karena ukurannya (panjang) sudah lumayan besar, sekitar 5 cm dan menyebabkan rasa sakit.  Kemudian dokter membuatkanku surat rujukan ke rumah sakit bagian operasi plastik.  Glek!   Minum obat aja aku takut, apalagi berurusan dengan pisau dokter…. Whoaaaaa….

Juli nanti jadwalku untuk periksa benjolan ini.  Hehehehe, wait and see ya apakah aku berani maju ke rumah sakit yang telah aku booking atau aku mundur sambil bernyanyi Livin la Lipoma.  *ngarang. 🙂

Salam sehat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Kepala Isi Sampah

Ada pepatah yang mengatakan : jika ingin menilai seseorang, lihatlah bacaannya.  Sekarang aku modifikasi sedikit menjadi : bila ingin menilai seseorang, lihatlah tontonannya, musik favoritnya, soft drink yang setia di tangannya termasuk makanan kegemarannya.  Apakah itu cukup untuk menilai seseorang?  Aku fikir sih begitu.  Sesuatu menjadi favorit atau  the must have  item, tentu karena pertimbangan khusus dan membutuhkan waktu serta proses.  Hubungannya dengan judul di atas?   Pernah mendengar pepatah : witing trisno soko jalaran kulino.  Artinya kurang lebih, cinta hadir karena terbiasa bersama.  Sesuatu yang biasa kita asup, dengar dan sentuh sering menjadi bias.  Apakah kita memcintainya atau sekedar terbiasa saja?

Beberapa waktu ini, walau secara tidak sengaja tapi aku melakukannya dalam keadaan sadar penuh, yaitu menikmati infotainment.  Dulu banget, aku tidak pernah menonton infotainment.  Males banget deh liat acara gosip dan ga bermutu gitu.  Kemudian, saat ibuku tinggal di sini, agar beliau tidak kesepian, aku membantunya mencari gosip-gosip terbaru dari selebritis tanah air.

Supaya obrolanku dan ibu agak nyambung, mau tidak mau aku kudu membekali diri pula dengan informasi seputar selebritis.  Sekarang, walau ibuku sudah tidak di sini, kebiasaan bergunjing, membincangkan gosip terhangat di televisi terus berlanjut.  Ditambah pula, setiap aku pulang kerja tengah malam (pagi waktu Indonesia) dan menyalakan http://www.mivo.tv, kebetulan acara saat itu adalah infotainment.  Tidak tanggung-tanggung, ada sekaligus 2 acara infotainment pukul 06.00 pagi WIB dengan durasi 60 menit.  Ck…ck..ck….

Iklannya yang mana tahaaannn…(banyak) menandakan bahwa acara tersebut memang diminati.   Sudah lama aku tidak menonton infotainment.   Terakhir itu pas Briptu Norman lagi booming.  Aku merasa bosan dan mengambil jeda dari  dunia perinternetan.   Kemarin pas lagi suntuk, iseng nonton lagi infotainment sambil terkantuk-kantuk.  Difikir-fikir, iseng banget sih ada orang yang sabar menonton kisah Ashanty, Syahrini, Anang dan Krisdayanti selama 1 jam penuh.   Ga gila?  Beritanya itu melulu yang dibolak-balik.  Semua infotainment menyajikan berita serupa.  Apakah selebritis Indonesia cuma mereka saja?

Aku tidak pernah tuntas menonton infotainment, biasanya cuma lihat sekilas kemudian pindah chanel.    Aku sih menghargai keputusan orang untuk mau nonton infotainment di pagi hari.  Bisa saja mereka lagi suntuk, males  berfikir yang berat-berat.  Tapi tega banget sih stasiun televisi menyajikan berita-berita yang ga penting (minimal menurutku).  Apa  sih faedahnya untuk masyarakat melihat pemberitaan seputar niat Kris Dayanti menjual rumah yang dulu mereka diami?  Apakah penting diumbar ke publik mengenai kegemaran Syahrini akan makanan pedas.  Seandainya dugaan operasi plastik yang diduga dilakukan oleh Syahrini tidak dibesar-besarkan oleh media, tentu saja masyarakat tidak perlu memikirkan masalah ini.

Rasanya sayang melihat  banyak  orang yang bersedia meluangkan waktu menuliskan komentar di media on line, padahal beritanya biasa saja.  Sebuah berita yang tidak perlu tanggapan sama sekali.  Bahkan KOMPAS aku perhatikan tiddak bosan-bosannya menyajikan berita tentang si A, bolak-balik, atas-bawah.  Berita tentang si A ini umumnya singkat saja, semacam sekilas info, tapi banyak banget artikelnya.  Tinggal klik related article, maka akan muncul aneka berita mengenai artis A.  Bisa saja artis A diberitakan sedang menyusun pernikahannya.  Bisa ditebak bahwa artikel pertama tentang si A pergi ke desainer terkenal, fitting baju pengantin, mencari seserahan, pergi ke salon dan sebagainya.

Kembali lagi ke masalah cinta datang karena terbiasa.  Awalnya kita menonton infotainment atau berita tidak bermutu karena iseng, sedang senggang.  Namun karena menjadi kebiasaan, kita lalu merasa kehilangan bila kehilangan 1 episode.  Lama-lama, kita mulai mencocokan jadwal kita dengan acara televisi.   Biar saja sinetron favorit kita dicerca sebagai sebuah pembodohan,  tapi kita terlanjur cinta dan bersedia mengikuti setiap episodenya.     Tanpa sadar, kita menyuplai kepala kita dengan makanan tidak bermutu, cuma sampah (junk food).     Sayang banget kan kalau kebiasaan ini kita lanjutkan karena anak-anak kita akan meniru kebiasaan ini.  Mereka akan melahap semua makanan (tontonan) yang tersedia di hadapannya tanpa memilah terlebih dahulu.   Sebagai orang tua, kita wajib menjadi panutan untuk anak-anak kita.   Melakukan atau menonton sesuatu yang tidak bermutu pada akhirnya menjadi sebuah pembenaran untuk anak-anak kita dan mereka akan mengikuti.

Masalahnya sering karena pilihan acara yang tidak menarik dan cenderung seragam.  Rata-rata isi acara stasiun televisi bisa dibagi menjadi : edukasi dan hiburan.   Kalau makanan (acara) yang tersedia ternyata tidak mendidik ya jangan di santap.  Pemilik stasiun televisi memiliki hak untuk menyajikan apa yang mereka miliki, tapi kita punya hak untuk memilih makanan apa saja yang masuk ke tubuh kita.  Jangan isi kepalamu dengan sampah.  Kalau makanannya tidak bernutrisi,  lebih baik mematikan televisi.

Salam,

Lintasophia

Ket.  gambar dari Google

Generasi Baru si Gigi Spongebob

Gigi seri yang rengganBarusan kakak iparku yang baru tiba di sini  mengupload foto-foto terakhirnya saat di Bandung kemarin.   Ada beberapa foto keponakanku tersayang, Uis dan Lia.  Tidak banyak perubahan yang aku lihat di wajah para keponakanku karena terakhir bertemu baru 2 bulan silam, saat aku mudik.  Yang mengejutkan itu justru, foto Lia menunjukan bahwa gigi seri (gigi depan) agak renggang.  Persis dengan gigiku dan adikku (Mike).  Katanya sih, gigi depan Uis dan Lia sudah menunjukan gejala merenggang.  Kalau susunan gigi depan Uis agak sulit diamati.  Kemarin pas mudik, gigi depannya sedang keropos.  Berbeda dengan Lia yang giginya sehat dan rapi.

Tapi, baru 2 bulan tidak bertemu, kok langsung kelihatan ya fenomena gigi seri mereka ternyata renggang.  Dari segi medis, aku belum menemukan jawaban memuaskan perihal gigi renggang ini.  Aku cenderung menganggap ini sebagai faktor keturunan.  Kakekku (ayah dari bapakku) juga memiliki gigi seri yang renggang dan itu menurun langsung ke aku dan adikku.  Walau aku tidak memiliki info akurat berapa orang di keluarga besarku yang memiliki gigi seri yang renggang, tapi bisa dipastikan bahwa gigi seri bapakku rapat.

Apa boleh buat, gigi seri yang renggang di keluargaku lebih ke faktor gen walau terjadi dengan cara melompat-lompat dan acak.  Ibunya Lia dan Uis (kakakku) memiliki gigi seri yang rapat walau ia bermasalah dengan gusi.  Kalau aku sepakat bahwa sistem penurunan gigi seri yang renggang ini dengan cara lompat, mungkin anak-anakku nanti kecil kemungkinannya memiliki gigi seri yang renggang.  Bisa jadi justru keponakanku lainnya.

Berbekal sedikit info dari Google, masalah gigi seri yang renggang ini bisa diatasi, terlebih jika umur masih muda.  Tapi sementara ini aku memilih melihat perkembangannya saja terutama perkembangan psikis keponakan.  Aku harap sih gigi mereka tidak ”seaneh” gigiku.  Sebagai gambaran, aku memiliki 2 gigi seri yang besar-besar dan renggang.  Kemudian, bagian bawah gigi seriku itu bergerigi.  Kalau diamati baik-baik, bentuknya aneh.  😦 Ditambah, gigi depan bagian bawah juga renggang-renggang.  Agak merepotkan ketika makan, banyak makanan terselip.  Yaks!

Dulu, aku pernah bertanya mengapa keponakanku sangat suka nonton serial kartun anak-anak Spongebob (Lidah Lia menyebutnya Si Pon Bob.   Sama seperti Si Unyil, Si Amir).  Katanya, gigi si Pon Bob mengingatkan Lia akan aku, termasuk gigiku.  Lia  tak salah, karena ketika aku menuliskan kata kunici : gigi seri renggang di Google, yang muncul justru gambar-gambar Spongebob.   Kini  generasi baru si gigi Spongebob telah lahir di keluargaku.  Mungkin aku akan mulai menonton serital TV tersebut.  Karena itu akan mengingatkanku akan Lia dan Uis juga keluarga di Bandung…halah… 😉