Medali Pertama di Tahun Baru

Tadi pagi, sekitar pukul 08.45, pandanganku tertumbuk pada rombongan keluarga yang akan berolahraga.    Tidak tanggung-tanggung lho, mereka akan bersepeda.  Dengan mengenakan pakaian ketat untuk olah raga, kacamata dan topi layaknya atlet sepeda, mereka yang terdiri dari 2 orang dewasa dan 2 orang anak sedang menunggu lampu lalu lintas berganti agar bisa menyeberang.   Untuk beberapa saat niat untuk menyiapkan sarapan mendadak terlupa.

Aktivitas mereka mencuri perhatianku pagi tadi, mengingat cuma mereka penghuni jalan raya yang kelihatan jelas dari jendela dapurku.  Memang, kebetulan jendela dapurku langsung menghadap jalan raya.  Kira-kira 40 meterlah.  Uedan tuh orang, di saat yang lain masih lelap di kasur akibat perayaan tahun baru kemarin, eh mereka sepagi ini sudah berasyik-masyuk dengan sepedanya.

Buru-buru kubuka jendela dapur.  Kusorongkan badan agar aku lebih leluasa memandang sampai jauh keadaan sekelilingku termasuk jalan raya.  Benar-benar kosong melompong.  Saking kosongnya, di salah satu sudut jalan raya, terdapat segerombolan burung dara yang terbang rendah.  Cukup banyak jumlah burung dara tersebut, sebagian malah cuek saja berdiam diri di jalan raya.  Padahal sehari-hari jalan raya itu cukup padat merayap oleh kendaraan.

Pemandangan burung dan rombongan orang yang berangkat olah raga sepeda sangat menghibur pagi ini.  Walau dalam hati aku masih bertanya-tanya tentang pilihan mereka yang bersedia berolah raga pada tahun baru.  Wong uedan!  Kayak ga ada hari esok saja, pikirku.  Atau, berolah raga merupakan resolusi mereka untuk tahun 2012 ini?  Entahlah.

Berkat  kejadian tadi pagi, muncul sebuah ide iseng.  Seandainya aku punya program atau acara sendiri, setiap tahun baru aku pengen menangkap basah siapa saja yang ”nekad” berolah raga di pagi hari dan memberi mereka medali.

Skenarionya kurang lebih begitu.  Mungkin tidak cuma medali, bisa juga dilengkapi dengan trofi dan piagam penghargaan.  Ya bagaimanalah gambaran umum saat seorang atlet baru memenangkan sebuah pertandingan.    Pemberian medali diakhiri dengan acara mengabadikan moment ”aneh” tersebut dengan pose mengangkat tinggi-tinggi trofi dan medali pertama di tahun baru tersebut.   Kayaknya seru juga ya…. 😉

Salam sehat,

 

Lintasophia

Gambar dari Google

Bukan Lipoma Walau Masih Tumor Jinak

Kondisi tumor 6 bulan lalu.  Kaki dalam keadaan lelah

Kondisi tumor 6 bulan lalu. Kaki dalam keadaan lelah

Nyaris lupa untuk membuat catatan tentang Lipoma  (baca : Livin da  Lipoma) sampai suatu hari temanku menanyakan perkembangan kakiku.  Nah, ternyata eh ternyata, itu bukan Lipoma tapiiii…(lupa nama persis penyakitnya  *nepok jidat), masih keturunan keluarga tumor jinak sih.   Ah bo, ternyata tumor baik jinak maupun ganas punya banyak keturunan.  *smile.  Hal ini berdasarkan pengamatan 2 orang dokter ahli bedah yang menilai benjolan berdasarkan tekstur, kekenyalan, luas dan nyeri tidaknya benjolan tersebut.

Baru saja aku berusaha membaca surat hasil pemeriksaan pada 8 Juli lalu, tapi gagal.  Tulisan orang Itali itu jelek banget, apalagi tulisan dokternya…hehehehehe….  Ada sih beberapa kata yang aku mengerti setelah menelusuri internet.  Tapi karena informasi cuma sepotong-potong, baiklah kita sepakat saja bahwa benjolan-benjolan di kakiku ini kita sebut tumor jinak, seperti kata dokter.  Hasil obrolan dengan dokter, mereka menyarankanku untuk melakukan operasi  pengangkatan mengingat tumor ini sudah menahun dan semakin banyak.

“Waduh, operasi?”  Tanyaku.  Menurut dokter, tumor jinak tidak mematikan atau kecil kemungkinan mengarah pada tumor ganas (kanker), kecuali tumor jinak berkembang pada area vital.  Tapi kalau menimbulkan perasaan tidak nyaman (nyeri), berkembang dan tidak sedap secara estetika (merusak pemandangan…halah…), maka operasi adalah pilihan bijaksana.

“Kirain cukup dioles salep atau semacamnya.”  Tanyaku lagi.  Kembali dokter menjelaskan bahwa salep adalah obat luar dan tidak akan bekerja pada jaringan kulit yang terserang tumor.  So, opsi yang bisa kuambil cuma 2, yakni ; operasi atau operasi.  Podo wae.  Dasar dokternya pinter, sambil dia mengisi data-data hasil pemeriksaan, ia memberiku waktu 10 menit untuk memutuskan.  Deal, aku memilih operasi.

Untuk menuju operasi, masih dibutuhkan beberapa langkah yang harus aku tempuh, yakni test darah dan jantung.  Kedua test ini telah aku lakukan pada 14 November lalu.  Hasilnya dapat diketahui pada 7 Desember nanti.  Kedua test ini dibutuhkan untuk mengetahui kondisi terakhir tubuh,  apakah siap melakukan operasi atau tidak.  Bila ditemukan ada yang tidak beres, maka dokter akan menyarankan tindakan khusus yang harus aku lakukan hingga hasil test mengatakan : OK, silakan dibelek…..hehehehehe….

Kondisi tumor jinak malam ini.  Kaki dalam keadaan rileks

Kondisi tumor jinak malam ini. Kaki dalam keadaan rileks

Sedangkan pemeriksaan jantung hampir mirip kebutuhannya dengan test darah, tapi lebih untuk melihat apakah tubuhku cukup kuat menerima anestesi (pembiusan), pembedahan dan reaksi paska operasi.  Baik hasil test darah dan jantung akan bisa kulihat pada 7 Desember nanti sambil konseling.  Maksud konseling di sini, dokter akan memberikan bimbingan mental sehingga aku siap menjalani operasi. Nanti akan dijelaskan resiko, tahapan sebelum dan setelah operasi.

“Dioperasi itu sakit ya dok?”  Tanyaku dengan muka kecut.  Saat dokter tertawa mendengar pertanyaanku, sadarlah aku bahwa baru saja sebuah pertanyaan bodah terlontar begitu saja.

“Mana ada operasi yang tidak sakit.  Tapi jangan khawatir, nanti kan di-anestesis (bius), jadi tidak  akan terasa kok .”  Begitulah penjelasan dokter cantik itu.  Walau ia menghiburku, tapi tetep saja aku ga enjoy.  Aslinya aku itu takut obat apalagi pisau operasi. *crying.

Barusan, sambil memotret kaki, aku malah berfikir bahwa sebetulnya aku tidak terlalu terganggu karena tumor ini.  Sedikit nyut-nyutan, bengkak dan panas jika berdiri atau berjalan jauh (perhatikan kedua foto di atas untuk membedakan kondisi kaki saat lelah dan rileks), tapi masih bisa disiasati dengan pemilihan sepatu yang nyaman.  Tapi, seperti kata dokter bahwa tidak baik menunda mengobati suatu penyakit.  Bu dokter bisa membaca karakterku yang cenderung meremehkan masalah kesehatan 🙂 :)…  Baiklah bu dokter, setelah  kondisi tubuhku dinyatakan OK lahir bathin dan aku faham serta siap menerima resiko selama dan pasca operasi, mari kita buat jadwal operasinya yaa…..

Semoga bermanfaat dan salam hangat ya….

Lintasophia

Foto dokumentasi pribadi.

Tumpengan Ala Lintasophia

Hei, tidak terasa sudah setahun usia Lintasophia.  Merupakan blog terakhirku yang bertahan dan lumayan rutin kukunjungi.  Ada sekitar 130 catatan selama setahun ini.  Walau niat awal aku ingin membuat Lintasophia semacam jurnalku, tapi ternyata hal itu tidak mudah diwujudkan.

Terkadang sering ada perasaan minder karena catatan yang ada ternyata biasa saja, nyaris tidak bermanfaat.   Suatu hari Mas Ipung menyarankan agar catatanku lebih beragam dan mungkin lebih serius.  Aku terima kritiknya sekaligus menampiknya.  Karena Lintasophia memang begini saja apa adanya.  Sudah terlalu banyak catatan serius bertebaran di dunia maya dan aku memilih berada di luar lingkaran itu.

Lalu untuk apa aku masih mencatat?  Jawabnya, karena aku orang biasa.   Sebagian besar catatan Lintasophia berisi kehidupanku sehari-hari.  Biasa saja sih tapi sayang dilewatkan begitu saja (menurutku sih).     Tidak ada yang akan mengingatnya kecuali aku  mencatatkannya.  Aku mencatat maka aku ada.  Juga sebagai kenang-kenangan untuk anak cucu kelak dan mereka yang pernah mengenalku.

Apakah ada Lintasophia edisi spesial pas ulang tahun ini?  Hihiihiih, jawabnya ga ada.  Malah sudah beberapa hari ini terkapar sakit.  Kemaren, saat orang lain kepanasan aku malah menggigil.  Untung Septi berbaik hati membawakanku obat.  Hari ini flu sudah mendingan, tidak demam lagi.  Sisa ingus, batuk dan nafsu makan yang hilang. Jadi, boro-boro bisa buat tumpeng beneran ya….

Tadi sempat bingung dan males banget untuk makan siang.   Untungnya aku cukup  berani melawan rasa tidak selera dengan menyeret kaki mengolah spaghetti dicampur seafood.  Kepada Septi aku bilang bahwa agendaku hari ini adalah bebersih rumah dan menulis.  Kedua-duanya tidak terwujud.  Haduh, hidung melerrrr… 😦 😦  Walau cuma influenza, tapi cukup membuat jeansku mendadak longgar….heheheheheh….  Btw, kayaknya flu di musim panas menjadi agenda rutinku.  Ntar kalau sudah ada yang tertular baru aku sembuh.  😉

Balik lagi ke melirik setahun usia Lintasophia.  Maaf, maaf  ya kalau selama setahun kebersamaan kita ini, Lintasophia ada salah-salah kata.  Tidak ada maksud menyombongkan diri, menggurui atau membuat bosan.  Sekedar berbagi, itu saja.  Syukur-syukur kalau catatan yang biasa ini bisa  kalian terima dengan baik.

Terima kasih tak terhingga untuk kalian yang mau meluangkan waktu membaca bahkan meninggalkan komentar.  Sungguh itu penghargaan yang luar biasa.  Maaf juga tools Lintasophia tidak canggih atau begitu-begitu saja.  Aku juga masih belajar ngeblog dan sampai saat ini prioritas utama adalah mencatat.  Mungkin nanti kalau senggang aku bongkar fitur-fitur yang ada.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan buat teman-teman ya.  Semoga amal ibadah kalian diterima Tuhan Yang Maha Esa.  Sampai jumpa di  tahun kedua Lintasophia.  Maaf banget ultah kali ini tanpa tiup lilin atau tumpengan.   Selama setahun yang akan datang aku akan belajar membuat tumpeng yang enak  😉  Jangan sungkan mengkritikku. 😉 😉

Salam anget banget,

Lintasophia

Gambar dari Google