Spaghetti Sauce Lada Hitam

Spaghetti Sauce Lada Hitam

Spaghetti Saus Lada Hitam

Sudah beberapa hari aku kehilangan selera makan.  Ini salah satu kebiasaan burukku, dimana saat banyak fikiran maka nafsu makan ikutan menghilang.   Dalam kondisi biasa, aku usahakan makan sesuai jadwal dan tidak ada masalah meski makananku ala kadarnya.  Kalau kondisi tidak nafsu makan, biasanya aku membutuhkan stimulus.  Maksudku, aku memilih memikirkan sesuatu yang sangat ingin kusantap.  Saraf di kepalaku harus dirangsang agar mau menerima makanan. 😦 😦

Seperti hari ini, meski aku masih punya stok makanan di kulkas tapi aku tidak semangat memasaknya.   Mulai deh fikiran kemana-mana mencari inspirasi menu hari ini.  Pilihan jatuh pada steak sapi bumbu lada hitam.  Tapi setelah melihat wujud daging sapi, perasaanku malah mual.  Akhirnya, aku cuma mengambil sekerat lemak daging sapi.  Tampaknya yang aku butuhkan lebih pada aroma lemak sapi daripada harus mengunyah dalam bentuk steak.  Hitung-hitung mengembalikan berat badan yang ikutan hilang selama beberapa waktu ini.  Bagaimana dengan ide saus lada hitam?  Hehehehe, itu mah tetep ada dalam menu malam ini.  Cuma, daging sapi yang sedianya untuk steak dicincang halus menjadi topping spaghetti.  Berikut bahan, bumbu dan cara membuatnya.  Porsi untuk 1 orang dengan takaran pakai ilmu kira-kira. 🙂 🙂

Bahan dan bumbu :

– Spaghetti

– 1 sdm saus lada hitam instanst

– 1 buah tomat matang, potong dadu

– 1 sdm paprika iris tipis

– 1 siung bawang bombay.  Tadi aku pakai bawang merah biasa…ihiks…

– garam secukupnya

– lada hitam secukupnya

– bubuk pala secukupnya

– 1 sdm minyak untuk menumis

Cara membuat :

– Masukkan spaghetti pada air yang telah mendidih.  Angkat dan tiriskan jika telah lunak.  Sisihkan.

– Dengan menggunakan api kecil, panaskan minyak pada wajan dan masukkan bawang bombay.  Aduk-aduk hingga harum.

– Masukkan paprika.  Tumis hingga layu dan harum.

– Masukkan irisan daging sapi, tomat, saus lada hitam, merica hitam, garam dan lada bubuk.  Aduk perlahan hingga bumbu meresap.  Tutup dan diamkan sebentar. Angkat dan tuangkan pada spaghetti rebus.

Selamat makan,

Lintasophia

Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Makanan

Berikut ini salah satu makanan favoritku, pasta farfalla con zucchini e gambereti.   Merupakan campuran pasta, zucchini dan udang.   Biasanya teman sekaligus majikan yang memasaknya untuk kami pranzo (makan siang) rame-rame.  Nah, sudah beberapa hari ini aku ngidam masakan yang satu ini.  Hunting resep sejenis aku lakukan, tapi kok kelihatannya ribet ya?  Bolak-balik nodong resep dari teman tapi gagal melulu.  Alasannya, ntar acara makan siang bareng jadi tidak seru kalau resep ini kami kuasai…halah….  Akhirnya temanku menyerah dan membeberkan resep rahasianya. Yes!

Minggu lalu sudah terbersit ide masak pasta berbentuk kupu-kupu ini.  Tapi berhubung saos tomat minta dihabiskan dulu, terpaksa deh ditunda dulu bersua dengan le farfalle (kupu-kupu).  Sudah beberapa bulan ini aku rajin masak sendiri.  Sebisa mungkin makan di rumah biar hemat.  Sudah jarang bersentuhan dengan yang namanya mie instant, kecuali kalo ngiler.  

Biasanya aku membeli pasta dan saus yang sudah jadi (botolan).  Tinggal rebus pasta, tiriskan dan tuangi saos yang diinginkan.  Belajar dari pengalaman, aku tidak lagi membeli saos dalam kemasan besar, karena aku sering membuangnya karena basi.  Belum lagi sifatku yang moody, gampang bosan terhadap makanan yang sama.  Karena itu, saos yang baru terpakai sekali masak tak kulirik lagi.  Padahal, saos bila kemasan telah dibuka hanya kuat beberapa hari.  Solusinya, dalam beberapa hari aku makan pasta dengan saos yang sama.  😉 ;).

Dulu itu, aku ogah banget deh masak di rumah.  Selain karena ga sempet, kok rasanya ribet ya kudu nyiapin banyak bahan makanan cuma untukku seorang.  Belum lagi harus bersihin dapur dan peralatan masak…huwaaaaa…  Males aja sih, kerjaanku pan tukang cuci piring, mosok iyo di rumah juga masih kudu mikirin cuci piring?  Kalo laper ya beli pizza potong atau makan siang di luar.  Gampang kan?  Tapi itu dulu.  Sekarang aku suka-suka saja masak biar ga kelaperan.  Hasilnya tidak selalu enak atau baik tapi aku cuek aja, yang penting mangiabile (layak makan). 🙂

Bisa karena biasa.  Istilah itu tepat digunakan untuk mereka yang dulunya buta memasak, sekarang jagoan.  Aku menjadi saksi betapa teman-temanku yang dulunya ga bisa atau tidak suka masak, sekarang menjadi handal layaknya chef terkenal.  Rata-rata temanku jago masak setelah mereka menikah.  Padahal waktu zaman kuliah dulu, nyalain kompor aja ga bisa.   Teman-temanku sekaligus menjadi saksi betapa aku dulu dodol banget untuk urusan yang satu ini.  Sampai sekarang, teman-teman masih mengingat dengan baik saat aku membuat nasi goreng (yang katanya resep paling mudah selain membuat telor ceplok) pun aku tidak becus.  Saat nasi goreng (menurutku sih) kusajikan sebagai sarapan pagi itu, teman-teman malah sibuk mengamati piring masing-masing.

” Ini nasi goreng atau nasi kuning?”  Tanya mereka…  Huwaaa…sedih banget saat itu, walau sebagai penghiburan teman-teman menghabiskannya juga.  😦 .  Di akhir sarapan, teman-teman memberikus tips.  Untuk mendapatkan warna kuning kecoklatan pada nasi goreng, cukup menambahkan kecap dan saos tomat.  Tidak perlu kunyit seperti yang baru kulakukan.  Pesan ini aku ingat sampai sekarang.  * smile.

Nah, balik lagi ke masalah kemampuan dan kemauan masak yang ternyata beda-beda tipis.   Asal mau ngutak-atik dapur, dijamin deh lama-lama bakal bisa masak.  Dimana ada kemauan, di situ ada makanan *gue banget!  Sekarang aku sudah bisa masak nasi, mie dan bihun goreng.  Capcay merupakan resep paling mudah menurutku.  Cuma ribet nyiapin bahannya yang macem-macem, tapi prosesnya mudah.  Tinggal cemplungin.

Berhubung aku tidak suka pedas dan masakan berbumbu, di sini aku lebih suka makan makanan Italia.   Pasta kupu-kupu campur zucchini dan gamberetti sudah aku kuasai.  Kata temanku setelah melihat foto masakanku, kelihatannya enak….heheheh…  Ntar mau cari resep baru, yang penting mudah, murmer dan enak. 🙂 .  Sudah ah, mau cabut dulu.  Kebetulan masih ada sisa bahan makanan untuk sekali masak lagi.  Resep dan foto pada catatan terpisah ya.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Makan Malam yang Ga Banget!

Dengan terburu-buru kuteguk air mineral dari botolnya.  Sebanyak mungkin, pikirku.  Di kepalaku masih terbayang mie instan super aneh yang baru saja kusantap.  Tepatnya, terpaksa kusantap.  Barusan, akhirnya tanganku gatal juga untuk membenahi rumah, minus kamar mandi.  Tidak ada yang istimewa dari acara bersih-bersih itu.  Rencana semula, pengen ngepel seluruh ruangan termasuk kamar mandi.  Tapi sakit perut sejak beberapa hari ini akibat kedatangan tamu istimewa membuat gerakanku lambat, mirip kura-kura.

Aku cuma berhasil menyingkirkan beberapa barang yang sudah tidak terpakai.  Kemudian, mengelap kompor dan kitchen set, diikuti membersihkan kompor dan microwave.  Tentu diakhiri dengan menyapu setelah sebelumnya memastikan 2 meja yang ada higienis.

Acara bersih-bersih barusan tak urung membuatku kelaparan.  Sedari siang baru makan sandwich sisa, dengan isi ala kadarnya.  Bolak balik kubuka lemari makan.  Masih teronggok dengan manisnya 2 bungkus mie instan yang bertuliskan ”Authentic Rasa Thailand.”

Dulu aku membeli ini karena terpaksa.  Indomie sedang kosong di toko langganan.  Awalnya ragu, tapi kuberanikan juga membawa 2 bungkus mie otentik ini ke kasir.  Sebelumnya, aku hampir mengambil mie asal Korea.  Tapi berdasarkan pengalaman, bumbunya terlalu pedas dan pekat.  Ngeri aku!

Mie Thailand dengan kemasan transparan ini rupanya seperti bihun karena memang terbuat dari tepung beras.  Cuma,  tiap helainya lebih besar dan agak pipih.  Mungkin satu keluarga dengan kwetiaw.  Aku baca baik-baik petunjuk memasaknya sambil menunggu air rebusan mendidih.

Tercatat di kemasan bahwa berat mie 100 gram dan bumbu 50 gram.  Well, ini terlalu banyak untukku yang terbiasa menyantap Indomie seberat sekitar 60 gram.  Belum lagi bumbunya.  Kalau sudah mateng bisa jadi sepanci nih, pikirku.  Tak apalah, nanti porsi terbanyak untuk kakakku yang kebetulan minta sekalian direbuskan untuknya.

Menurut saran penyajian, mie cukup dimasukan ke air mendidih selama 1-2 menit.  Dan ternyata itu bohong.  Butuh nyaris 4 menit hingga mie lunak.  Setelah mie matang, kuangkat dan tiriskan seperti petunjuk.  Kemudian aku menyiapkan air rebusan kedua, untuk memasak bumbunya yang 50 gram ini.  Berarti total 100 gram bumbu dari 2 bungkus mie.  Sengaja air rebusan aku siapkan banyak, secara 100 gram bumbu gitu lho.

Setelah air mendidih, kumasukan bumbu yang dimaksud sambil terus mengaduk-aduk hingga air kembali mendidih.  Setelah bumbu tercampur, bukannya makin lapar akibat aromanya yang nikmat.  Perutku semakin melilit.  Oh tidaaakkk…  Tampaknya aku tidak cocok dengan mie otentik Thailand ini.  Sekuat tenaga kutuntaskan acara masak memasak ini.  Kuah bumbu berwarna orange kecoklatan membuatku berfikir, berapa banyak MSG di sini?  Hilang sudah nafsu makanku.

Walau ragu, tapi tak urung bumbu kutuang juga ke mie yang telah direbus tadi. Warna piring yang putih membuat penampilan mie kelihatan menarik.  Apalagi dengan kuahnya yang tampak rupawan.  Tapi aku benar-benar tidak berniat menyentuhnya.  Kebiasaan tidak boleh membuang makanan membuatku meraih garpu dan menyorongkan beberapa suapan ke mulut.  Yaks…  Rasa apa ini?

Sungguh, aku tidak bisa memakan ini.  Lalu aku memutar otak.  Ahaaaa…  Mungkin bila disantap dengan telor mata sapi akan lain ceritanya.  Oke darling, sedikit perjuangan lagi tentu akan membuat segalanya lebih mudah.  Bergegas kukeluarkan penggorengan.

Pasukan pertama adalah 2 butir telur mendarat dengan mulus di atas penggorengan yang minyaknya telah panas.  Yess…  Dengan cekatan tanganku meraih stoples di atas microwave dan menaburkan butiran putih.   Sengaja kutaburkan agak banyak dengan harapan menyamarkan rasa mie instan yang memuakan itu.  Anggap saja mie instan itu sebagai pengganti nasi.  Malem ini, menunya bihun rebus dan telor mata sapi.

Tapi tunggu dulu…. Pelan-pelan, dari balik aroma telur mata sapi menyeruak wangi sesuatu yang hangus.  Bau yang kukenal.  Itu kan aroma gula karamel alias gula gosong.  Aaaahhh… Dasar dodol!  Aku menaburkan banyak gula putih ke telur mata sapiku.  Huaaaa….sedih…. Pantes aja aroma telor kali ini serba tidak jelas.

Kucungkil sedikit telor mata sapi, hmmm… tidak terlalu ketara rasa gulanya.  Walau ga yakin hasil akhirnya, tapi kutaburkan juga garam.  Tentu saja kali ini kupastikan bahwa aku benar-benar membuka stoples garam.  Kemudian kutaburkan sedikit lada hitam, karena adanya cuma itu.  Aroma telor mata sapi yang selama ini aku kenal sudah mulai kerasa.  Yes!  🙂  Sedangkan telor mata sapi untuk kakakku matang dengan sempurna.  Sukses tanpa kendala berarti….hehehehehehe…

Kutuang telur mata sapi ke piring, bergabung dengan penghuni pertama si mie otentik Thailand.  Ternyata kuahnya sudah menguap dan mieku jadi segede raksasa.  Makin aneh.  Sedikit kucicipi mie.  Yaks…ga ada rasa sama sekali.  Sudah tidak ada ide bagaimana cara membuat mie ini menjadi nikmat.  Minimal kelihatan nikmat.  Pada akhirnya, aku cuma menyantap 2 telor mata sapi.  Makan malam dengan menu Karamel Telor Mata Sapi  Lada Hitam benar-benar tidak disarankan ya temans.  Rasanya ga banget!  Hiiiiiii…..

Salam,

Ket.

Gambar dari Google

Ternyata Daun Kelor itu Beneran Ada!

Beberapa waktu lalu pandanganku tertegun pada foto seorang teman yang sedang liburan di Lombok.  Bukan foto-foto pantainya yang membuatku takjub atau keindahan tenun Lombok yang sudah tersohor itu.  Bukan itu saudara-saudara.

Aku kaget melihat sebuah foto berjudul : Sayur Daun Kelor.  Benarkah itu daun Kelor yang selama ini sering disebut-sebut dalam pepatah : Dunia tidak selebar daun kelor.  Kirain cuma sekedar ungkapan… 🙂

Temanku mengiyakan kalau itu adalah daun Kelor yang dimaksud.   Oalaaaahhh…  Ternyata daun Kelor itu beneran ada ya?  Lagi-lagi temanku mengiyakan.  Di salah satu komentar balasan di FB miliknya, katanya daun Kelor itu baik untuk ibu yang menyusui.  Hmmm…jadi penasaran nih sama sayur mirip bening Bayam.

Untuk menjawab penasaranku, aku membuka-buka laman Wikipedia.  Ada sedikit penjelasan tentang daun Kelor di sana.  Bahasa Latin daun Kelor adalah Moringa oleifera yang merupakan suku dari Moringaceae.   Sedangkan daun Kelor itu sendiri memang merupakan dedaunan dari pohon tersebut yang biasanya tumbuh setinggi 7-11 meter.  Buset, tinggi juga ya?  Bayanganku, karena daun Kelor itu kecil-kecil, pastilah pohonnya pendek seperti bunga Flamboyan.

Selain daun Kelor yang kecil-kecil itu, ada juga bunganya yang berkembang sepanjang tahun.  Warnanya putih kekuning-kuningan dan wangi semerbak.  Sampai di sini aku tidak punya info, apakah bunga pohon Kelor juga dimanfaatkan untuk  bahan baku parfum.

Tidak banyak info di Wikipedia,  kecuali buah Kelor yang disebut Kelentang juga dapat dimanfaatkan sebagai sayur.  Berarti ya daun ya buah Kelor bisa dibuat sebagai teman lauk pauk ya.

Pencarian lebih dalam tentang daun Kelor ini berlanjut.  Dibeberapa blog yang aku temukan, ternyata katanya si daun Kelor ini mengandung banyak vitamin A, B1, B2 dan C.  Wah, banyak juga ya?  Nah, sedangkan akar dan bijinya diyakini dapat mengatasi beberapa penyakit, seperti ; kurap, luka bernanah, beri-beri dan udim, biduran, alergi serta rabun ayam.  Wah, makin menarik nih… 🙂

Kalau aku termasuk kurang gaul, karena baru tahu kalau pohon Kelor itu ternyata benar-benar ada.  Sedangkan nenek moyang kita sudah mengenalnya sejak zaman dahulu kala.  Tentu saja beda tempat beda pula panggilan terhadap daun Kelor.

Kalau kamu berada di warung makan di Madura dan kebetulan menemukan menu Sayur  Maronggih, dapat dipastikan kalau kamu sedang berhadapan dengan daun  Kelor.

Di Aceh ia dipanggil sebagai Murong, di Ternate ia berubah menjadi Kelo.  Perjalanan si daun Kelor tidak cuma di daerah Sumba dan sekitarnya yang dipanggil sebagai Kawona, tapi ia juga bermukim di ranah Minang dengan memperkenalkan diri sebagai Munggai.  Hebat kan?  Ternyata ia ada dimana-mana.  Cuma kita yang di tanah Sunda, Jawa dan Melayu yang mengenalnya sebagai Kelor.

Lalu, siapa yang memulai pepatah : dunia tidak selebar daun Kelor?  Kenapa harus daun Kelor?  Kenapa tidak kita ganti saja menjadi daun Jengkol?  Hihihihi, aku tidak punya ide dan tidak menemukan jawabnya.  Karena menelisik ukuran daun Kelor yang cuma selebar kuku orang dewasa, bisa jadi maksudnya bahwa dunia itu luas, temans.

Ternyata banyak hal-hal sepele yang sama sekali aku baru tahu, setelah umurku lewat dari sepertiga abad.  Tiba-tiba terpikir akan pepatah : bagai memakan buah Simalakama.  Kamu ada yang tahu dan sudah pernah memakan buah Simalakama?

Salam,

Sumber : wikipedia dan berbagai blog di internet

Ket. gambar dari Google

Special thank’s untuk GN : ternyata beneran ya kalo daun Kelor itu ada!

Wajik Asyik

Selamat pagi semua.  Apa khabar?  Setelah kemaren aku cerita kangen Jogja, kali ini aku mau bilang : kangen Lintasophia  🙂 .  Jangan bosen ya kalau aku bilang, waktuku itu lebih banyak dihabiskan di tempat kerja, jadi agak susah bertemu kompi.   Lama-lama  aku buat KTP nih  dengan residenza (alamat) tempat kerjaku 🙂 .

Oh ya,  untuk kalian yang  weekend ini ga ada acara, bagaimana kalau hari ini pada stay aja di rumah.  Lumayan kan bisa istirahat dan irit bensin.  Cukup mereka-mereka saja yang merasakan macetnya kota.  Kita tidak perlu menambahi (* smile).  Lalu, ngapain dong di rumah?  Bagaiamana kalau kita melongok sebentar dapur kesayangan kita.  Masak yuk!

Kali ini kita buat jajanan pasar yang gampang aja, yakni wajik.  Yup, kayaknya wajik ini salah satu jajanan tradisional yang masih eksis sampai sekarang.  Berbahan dasar ketan putih, santan dan gula merah.  Jadi bahan yang dibutuhkan cukup familiar di telinga kita.   Mumpung masih  pagi, yang belum punya bahan-bahannya, bisa belanja dulu ke pasar tradisional.  Setelah itu, kita beraksi.

Berikut ancer-ancer bahan yang dibutuhkan :

280 gram ketan putih

250 gram gula merah

400 ml santan kental (dari kelapa tua)

1 bungkus vanili

1 lembar daun pandan

garam seujung sendok teh

Cara membuat :

Liwet ketan di atas api kecil.  Tunggu hingga matang (kira-kira 30 menit).

Sambil menunggu ketan matang, siapkan katel dan sendok kayu untuk mengaduk.

Masukan ke katel santan, garam, gula merah, daun pandan dan vanila.  Aduk pelan-pelan di atas api kecil.

Yang paling penting, selama proses bercampurnya gula dan santan, harus selalu diaduk agar santannya tidak pecah.

Tunggu hingga santan mengental dan mengeluarkan minyak.

Periksa ketan apakah sudah matang dengan sempurna.  Biasanya, kalau ketan sudah matang, bulir nasinya berwarna/seakan transparan dan berminyak.  Tidak perlu diaduk agar ketan tidak hancur.  Untuk mengetes apakah ketan sudah matang, cukup mengambil sedikit dengan bantuan sendok makan.

Sisihkan daun pandan dari campuran gula dan santan, lalu  masukkan ketan.

Aduk ketan dengan cara memecah gumpalannya (agar ketan   tidak hancur).

Tuang ketan ke nampan yang telah dialasi daun pisang atau kertas minyak.  Ratakan

Biarkan sesaat hingga dingin dan agak keras.

Potong-potong sesuai selera dan wajik siap dihidangkan.  Lebih cocok ditemani teh hangat tawar.

Note :

  • Agar ketan mudah dilepaskan dari permukaan panci, setelah diangkat dari kompor, langsung basuh bagian bawahnya dengan air dingin.
  • Kadang kita tidak tahu kualitas ketan yang kita beli.  Sebagai takaran air untuk meliwet, gunakan 1 buku jari telunjuk dari permukaan ketan.
  • Untuk gula merah, jumlahnya tidak baku kok.  Bisa ditambah atau dikurang sesuai selera.

Untuk hari ini, catatannya cuma wajik aja ya.  Aku mau tidur dulu.  Seperti biasa, gambar masih dari Google.  Karena tadi saat buat wajik, aku lupa untuk mendokumentasikannya.  Tapi aku jamin, wajik ini cukup  asyik kok untuk melewatkan weekend kalian.  Happy weekend yaaa…

Salam,

Tumis Tauge dan Wijen

Kali ini aku mau berbagi resep makanan favoritku.  Aku bilang favorit, karena murah bahannya dan gampang buatnya. Cocok banget untuk sekedar mengganjal perut :).  Sekedar informasi, resep ini aku dapatkan waktu dulu kerja di restoran Jepang, di Bandung.  Kala itu, di menu restoran termasuk hidangan pembuka, tapi kalo ditambah nasi  jadi hidangan 2 in 1.  Ya hidangan pembuka ya hidangan utama.  Resep bisa ditambah dengan seafood, daging sapi atau suwiran daging ayam.   Favoritku cuma tauge dan wijen aja.

Untuk takaran dikira-kira aja.  Tapi berikut ini sebagai gambaran kalo aku lagi masak ini dan untuk porsi 1 orang.

Bahan :

125 gram tauge segar.  Buang akarnya, bersihkan dan tiriskan.

1 sdt wijen

1 sdt minyak wijen

1 siung bawang putih, memarkan

1/2 sdt minyak goreng untuk menumis

garam secukupnya

merica putih secukupnya

daun bawang (bila suka) secukupnya

Cara Membuat :

  • Panaskan minyak goreng dan masukkan bawang putih yang telah dimemarkan tadi.  Tunggu hingga bawang putih harum dan berubah warna.
  • Masukkan minyak wijen dan wijen.
  • Masukkan tauge yang telah dibersihkan tadi.
  • Bubuhi garam dan merica sesuai selera.
  • Angkat masakan jika touge telah layu.  Aku lebih senang taugenya masih kriuk-kriuk.

Sajikan selagi hangat dan cocok disajikan dengan nasi putih.

Selamat makan.

Salam,

Ket : gambar koleksi pribadi