Melatih Kesabaran Secara Digital

Sudah setahun ini, tepatnya sejak summer tahun lalu, Blackberry kesayanganku (disayang karena hapeku satu-satunya) selalu membuat kacau, balau dan galau….halah…  Sejak aku membelinya 2 tahun lalu, hape ini sering banget bikin darah tinggi.  Ada saja tingkahnya, sebut saja; ngehang atau loadingnya lama.  Tahun lalu, keypadnya benar-benar tidak mau bekerja sama dengan baik.  Yang ditekan apa, keluarnya huruf apa, borongan pula!  Maksudnya, langsung muncul beberapa huruf sekaligus.

Masih di periode yang sama, Blackberry tipe 8250 Curve ini malah mati total saat aku harus tinggal di luar kota (Firenze) untuk jangka waktu agak lama.  Acara jalan-jalan sedikit terganggu karena kami tidak bisa mengabadikan momen dan tempat-tempat indah.  Beberapa hari terakhir di Firenze, aku memutuskan membeli kamera poket demi memuaskan keinginan bernarsis ria.  Hasilnya tidak maksimal, selain momen yang terlewat dan tak mungkin terulang, alasan lain adalah banyak tempat tidak  berhasil kami abadikan karena waktunya sangat mepet menjelang pulang ke Genova.  Yang penting, ada dokumentasi, begitu fikirku.

Teman-teman yang sering melihat aku uring-uringan karena hape ini menyarankanku untuk segera berganti hape.  Mereka juga kadang terganggu saat sulit menghubungiku, misalnya kebetulan hapeku sedang error.  Beberapa bulan terakhir ini, kondisi hapeku makin parah.  Nada (dering) saat Bbm (blackberry messenger) masuk menghilang.  Padahal, aku tidak mengubah settingannya.  Terjadi begitu saja.  Menghilang!  Jadilah, sekarang gayaku itu laksana orang paling sibuk sedunia, sebentar-bentar check hape, barangkali ada Bbm masuk namun tak terdeteksi.   Kalau bbm dari teman-teman aku bisa tunda untuk membalasnya, biasanya mereka ngerti bahwa aku sedang sibuk.  Tapi coba banyangkan kalau majikan yang Bbm dan butuh direspon secara cepat?  Haduh!

Bukan karena aku ketergantungan akan tekhnologi maka perkara hape error bisa bikin aku seakan terguncang jiwanya.  Karena sebelum hape ini error, komputerku sudah duluan rusak sekitar  3 tahun lalu.  Mak, komputer sudah rusak masih dipertahankan?  Hihihihihih, lagi bokek berat nih.    Maka, perkara mengganti laptop dan hape saat ini bukan prioritas.   Terpaksa, berbesar dan bersabar hati menggunakan piranti yang ada.

Bersabar?  Ya, bersabar (kamu tidak salah baca).    Ternyata ada sisi lain dibalik rusaknya hape dan laptopku.    Semua ini melatih kesabaranku.  Usia hidup komputer dan hapeku yang tidak dapat ditebak membuatku lebih hati-hati menggunakannya.  Katakanlah,  bila hari ini laptopku bisa nyala maka esok hari belum tentu demikian.

Sadar akan kondisi ini, sekarang laptop aku pakai untuk hal-hal yang penting saja.  Berjalan-jalan di dunia maya juga sudah semakin jarang kulakukan.   Dengan hape dan laptop dengan kondisi ala kadarnya pula membuat waktu di sekitarku melambat.  Serangan informasi yang berlebihan tidak menderaku.  Kebetulan pula cuaca sudah membaik, aku lebih senang kembali ke dunia nyata (untungnya aku belum lupa passwordnya),  nongkrong di bar, keluar masuk gang dan sebagainya.  Enak deh! :).  Buah kesabaran menggunakan gadget rusak memang terasa adanya.  Beberapa buku berhasil kulahap sampai tuntas.  Hebat tho?

Saat berhasil  menyalakan laptop dan mengakses internet, hanya  hal-hal yang menurutku baik dan berguna yang kubaca (menurutku sih…heheheheh…).    Teman-teman dekat, baik yang kukenal dari dunia nyata maupun maya atau mereka yang memiliki minat yang sama denganku kusapa secara intim.   Selebihnya aku skip…..hihihihihi…

Punya waktu dan sarana terbatas memang secara tidak sadar memfilter diri kita untuk melakukan sesuatu yang penting, salah satunya ya model berkomunikasi dengan teman dan kerabat seperti yang aku tulis di atas.  Memang tidak semua dapat disapa, tapi sekarang terasa bedanya, setiap sapaan benar-benar dari hati…*smile.

Sosok pembaca yang terdiam di sudut dunia maya,  merupakan panggilan yang tepat untukku.  Bukannya mendadak sombong, tapi jika aku menyapa atau berkomentar di dunia jejaring sosial, maka notifikasi yang masuk mampu membuat hapeku meledak.   Seandainya meledak (baca : hang) dalam waktu sebentar masih bisa dimaklumi, tapi menyalakan kembali hapeku itu lho yang butuh perjuangan dan kesabaran lebih.  🙂 🙂 .   Batere harus dilepaskan dan didiamkan beberapa saat, terkadang batere  aku tiup-tiup dulu (yang aku sendiri ga tahu manfaat meniup batere hape sebelum memasangnya kembali).  Bosku cuma geleng-geleng kepala setiap aku bongkar pasang batere hape.

”Cah uedan!”  komentar bosku dalam bahasa Italia tentunya.

Setelah itu,  batere kemudian dipasang lagi dan tunggu deh hingga ada tanda kehidupan.   Nah, ini yang aku sebut sebagai melatih kesabaran secara digital.  Mau lihat bagaimana hal ini bekerja?  Coba cari perangkat elektronikmu yang sudah error  (setengah hidup atau setengah mati) dan paksa dirimu untuk tetap menggunakannya.  Hasilnya cuma ada 2.  Entah kamu berubah jadi lebih sabar atau malah jadi gila. 😉 😉

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Memahami Perasaan Seorang Ibu

Pada 16 Mei nanti, ibuku akan genap berusia 63 tahun.  Masih terbilang muda sebetulnya, mengingat usia harapan hidup belakangan ini semakin lama.  Namun, kondisi kesehatan ibuku yang cenderung tidak stabil sering membuat perasaan kami yang jauh ini deg-degan.  Hal ini diperparah karena kakakku (cowok) yang tinggal berdekatan dengan beliau hijrah ke Genova.   Keputusan kakakku menyusul kami bekerja di Genova menjadi sebuah dilema.  Satu sisi, secara ekonomi diyakini bekerja di Genova merupakan keputusan terbaik.  Namun di sisi lain, tidak ada lagi yang menemani ibu dan bapakku di Bandung.

Awalnya, Kombet (nama panggilan kakakku) sebetulnya memiliki toko handphone yang menjual aneka telfon genggam, pulsa termasuk asesoris.  Sudah 6 tahun toko itu ada.   Semua berjalan lancar, toko handphone itu mampu membuat dapur kakakku tetap berasap.   Hingga tiba saatnya semua berubah sangat cepat, saat semua provide perang harga.  Biaya percakapan sesama operator bisa dikatakan 0 (nol) rupiah.  Bila digambarkan, dengan pulsa Rp. 20.000,00.- kita bisa pakai nelfon selama sebulan penuh.

Kemudahan ini berakibat fatal terhadap nasib para penjual pulsa.  Frekuensi penjualan pulsa menurun drastis karena kebutuhan akan pulsa jauh berkurang dibanding sekitar 2 tahun lalu.  Ditambah kehadiran Blackberry yang cukup menjadi godam yang memecah urat nadi penjual pulsa menjadi berkeping-keping.  Rata-rata konsumen membeli pulsa sebulan sekali, itu pun dengan jumlah yang minim.  Sekedar memenuhi iuran Blackberry.  Karena sekarang handphone bersifat all included.  Bisa BBM-an (Blackberry messenger), situs jejaring sosial dan internet.  Bisa dibayangkan dampak perang harga antar operator ini terhadap kelangsungan para penjual pulsa.

Sebagai keluarga besar, kami terbiasa berdiskusi memecahkan masalah diantara kami, salah satunya ya tentang Kombet ini.  Tahun lalu, setelah melihat langsung merosotnya perkembangan toko handphone, akhirnya dicapai kata sepakat agar kakak bekerja di Genova.   Selama menunggu visa kerja turun, aku sering memastikan bahwa ibuku baik-baik saja bila ditinggal Kombet dan Teh Maya.

Walau sedih, ibu dan bapakku rela dan iklhas bila Kombet dan Teh Maya harus di Genova.  Demi kebaikan mereka, demikian penuturan ibuku.  Aku tahu, bahwa sebetulnya ibuku berat melepas Kombet jauh, mengingat selama ini Kombet menjadi tumpuan dan tempat curhat ibuku.  Entah itu ibuku meminta Kombet mengantar keponakan ke Sekolah Minggu atau sekedar mengantarkan sekarung beras ke rumah.   Selain itu, kalau kami yang di sini butuh apa-apa, biasanya tinggal menghubungi Kombet.  Ibarat sebuah organisasi, kami adalah tim pemikir dan Kombet sebagai tim eksekusi (pelaksana).  🙂 🙂

Orang tuaku juga bukan orang berada yang mampu memenuhi kebutuhan anak-anaknya.  Sampai saat ini, tiap orang dari kami harus benar-benar mandiri dan mengusahakan kehidupan yang lebih baik.  Orang tuaku tidak bisa dengan hanya menjentikan jari maka semua yang kami butuhkan dan inginkan tersedia.  Hal ini disadari betul oleh kedua orang tuaku hingga akhirnya merelakan kami untuk merantau, termasuk Kombet sebagai kloter terakhir.

Baru seminggu Kombet di sini, ada khabar kurang enak dari Bandung.  Ibuku sempat masuk UGD  (Unit Gawat Darurat).  Duhhhh… bingung jadinya, walau masih ada kakak perempuan dan kakak ipar di sana, tapi biasanya Kombet yang urus ini itu.  Karena terbiasa mendapatkan informasi perkembangan di rumah dari Kombet, urusan rumah sakit juga agak kurang sreg.  Kakak, kakak ipar dan bapak sudah mencoba menjelaskan kondisi ibuku, tapi   aku masih agak bingung.  Setelah masa kritis lewat dan mampu berfikir dengan tenang, barulah kami bisa menyerap informasi  tentang kesehatan ibuku dari orang rumah.  Ahhh…ada-ada saja.

Tidak cuma masalah administrasi yang membutuhkan kehadiran Kombet, salah satunya urusan pasang kaca patri.   Ceritanya,  di rumah sedang dipasang kaca patri.  Nah, ketika Kombet berangkat ke sini, pemasangan kaca ini sedang vakum karena sedang menunggu kaca yang dipesan belum jadi.  Seminggu yang lalu ibuku bercerita bahwa mereka tidak dapat menemukan alamat tukang kaca.  Bahkan, alamat yang ditulis di faktur tidak eksis.  Ibuku sempat panik.  Bolak-balik ibu dan bapakku menyusuri alamat yang dimaksud tapi hasilnya nihil.  Akhirnya aku minta Kombet yang menghubungi langsung tukang kaca.  Sekarang urusan kaca sudah beres.

Itu cuma segelintir masalah adaptasi yang harus dilakukan oleh ibuku tanpa kehadiran Kombet.  Pelan-pelan ibuku harus membiasakan dengan istilah-istilah asuransi, otomotif  dan perbankan.  Selama ini, Kombet yang mengurus pembayaran ini itu.  Awalnya ibuku serba bingung dan mendapat kejutan tidak enak, maklumlah selama ini ibuku cuma mendengar tapi tidak pernah terjun langsung.   Pelan-pelan kami bantu ibu untuk memahami istilah tekhnis yang ada di hadapannya.  Puji Tuhan, bapak dan ibu sangat kompak.  Mereka sabar aja menjalani kerepotan yang ada.

Kemaren aku tanya, apakah ibuku kangen Kombet?    Ibuku cuma bilang, yang penting kalian  (kami)  sehat-sehat saja.  Semoga keadaan membaik dan cepat kumpul kembali.  Sebagai orang tua, beliau tidak mau bersikap lebay dan menuntut berlebihan terhadap anak-anaknya.  Ulang tahun kali ini pasti berbeda.  Lebih sepi, tanpa Kombet dan Teh Maya.  Tapi mungkin ulang tahun kali ini ibuku merasa lebih lega karena Kombet dan Teh Maya mendapatkan  jalan untuk memperbaiki nasib.  Perkembangan terakhir di keluarga besarku membuka mataku bahwa seorang ibu mau melakukan apa saja untuk anak-anaknya.  Seorang ibu rela  hidup kesepian dan tidak nyaman  sebab tidak ada lagi yang membantunya mengurus ini itu.  Ibuku memilih menekan perasaannya sendiri dan melepaskan kami pergi jauh.  God bless u, mom.

Salam,

Lintasophia

Ket. gambar dari Google

Tak Ada Komputer Baru di Hatiku

Met pagi Indonesia,

Apa khabar kalian semua?  Semoga tetap sehat ya walau cuaca sedang tidak menentu.  Eh iya, Lintasophia  lagi numpang nih.  Maksudku,  aku sedang tidak punya komputer karena komputerku yang kubeli 3 tahun lalu mati total.  Menurut kakakku yang faham masalah komputer, kerusakan terjadi pada GPU (Graphic Processing Unit). * semoga aku ga salah dengar 🙂 * .  Lho, komputer rusak kok aku masih bisa nulis?  Psssttt… aku nebeng komputer kakak sampai Februari ini.

Ditilik-tilik, tewasnya komputerku kali ini merupakan penyakit tahunan.  Tahun lalupada bulan yang sama, komputer juga mengalami penyakit yang sama, namun sempat tertolong.  Karena penyakit komputer ini pula yang pelan-pelan mencabutku dari komunitas dunia maya.  Berhubung komputer dapet minjem, jadi aku sudah berjanji akan menggunakannya semaksimal mungkin.

Seperti di catatanku sebelumnya, aku lebih banyak menggunakan komputer untuk membaca artikel yang aku perlu, tidak pernah chat lagi, FB-an juga jarang via komputer.  Lumayan, sudah jarang begadang kecuali  menulis.  Pokoknya, sedaplah. 🙂

Sedikit tambahan kenapa waktuku ngontrak komputer kakak ini cuma sampai pertenghan Februari saja.  Karena komputer ini merupakan titipan seorang teman yang akan kami bawa pulang pas mudik kelak, bulan Februari.

Lalu, setelah ga punya komputer?  Nyante aja… Abis mudik biasanya aku bawa banyak buku bacaan.  Aku bakal banyak membaca atau melakukan hal lainnya (udah ada nih ancer-ancer kegiatan yang akan aku lakukan).

Kenapa ga beli saja?  Weks, sampai pertengahan tahun depan keuangan tidak bisa dikutak-katik.  Setiap bulan sudah ada pos-pos anggaran (paling banyak ya bayar hutang).  Menambah anggaran baru bukan ide yang bagus, walau sebetulnya harga komputer tidak seberapa.

Gimana rasanya tanpa komputer?  Hehehehe…biasa aja.  Cuma takut ga bisa nulis, selain itu ya nyante aja. Sedih karena rusak dan bakal ada pengeluaran tambahan (beli komputer lagi), tapi selain itu tidak ada rasa kehilangan berlebihan.

Beneran nih aku  sesantai itu? Benerannnnn…. Kebiasaan hidup ”di bawah garis kemiskinan” berbulan-bulan ternyata cukup ampuh membuat aku tidak tergiur untuk buru-buru membeli.  Atau, kita lihat saja nanti.  Mungkin saja aku akan langsung membeli komputer baru kalau butuh (tapi kayaknya ga…).   Seandainya butuh, ntar beli yang murah meriah.  Sing penting bisa nulis dan internetan. Tapi sementara ini, tak ada komputer baru di hatiku.  Bawa santai saja…hehehhehe…  🙂

Salam,

Ket.  gambar dari Google

Sujud Syukur Pada Blackberry

Tadi, kami baru pacaran jarak jauh, sekaligus nostalgia.  Lho kok?  Soalnya, sejak ada handphone pintar Blackberry, aku dan Mas Ipung jarang banget ngobrol sampai berjam-jam.  Kendalanya apalagi kalau bukan aku yang sok sibuk 🙂 . Biasanya kami bertukar khabar pagi hari saat aku bangun, kemudian komunikasi dilanjutkan beberapa jam kemudian.  Sekedar bertukar khabar juga, saling mengingatkan jangan sampai lupa makan siang (di sana makan malam).  Terakhir, pas aku mau berangkat ke restoran, Mas Ipung mengucapkan selamat bekerja.  Hihihihi…standar banget ya?

Lalu, kenapa aku sebut malam ini serasa nostalgia?  Karena, hingga beberapa bulan yang lalu, jadwal pacaran kami ya Selasa malem saat aku tidak bekerja.   Ya persis kayak yang barusan kami lakukan, kencan di Selasa malam. Jam pacarannya pun ga tentu, harus mengikuti jadwalku.  Biasanya, setelah aku stand by di depan komputer, aku mengirim SMS pemberitahuan.  Ini demi penghematan pulsa di pihak si dia.  Lagi pula, dengan gitu Mas Ipung tidak harus menunggu lama dan bisa melakukan urusannya terlebih dahulu.

Kadang aku kerja setengah hari, kadang juga full.  Nah, berhubung aku free cuma pas Selasa sore, maka belanja mingguan pun kulakukan selepas kerja.  Kalau sudah begini, jadwal tatap muka via YM-pun terpaksa ikutan mundur.  Meski kami menjadwalkan Selasa malam sebagai wakuncar, tapi bersifat fleksibel kok.  Sering karena terlalu lama menunggu aku, Mas Ipung ketiduran dan mengundurkan diri sebelum kencan dimulai… Hihihi, kasihan… 🙂  Eh, kayaknya ga adil kalau gagalnya kencan kesannya karena kesalahanku.  Mas Ipung juga kadang sering menggagalkan agenda mingguan ini.  Biasanya karena dia ketiduran atau ga punya pulsa…halah…

Sekarang sih, komunikasi lebih lancar berkat Blackberry.  Bisa saling berkirim pesan  (BBM) kapan saja tanpa khawatir pulsa membengkak.  Berbeda saat dulu masih menggunakan metode SMS-an dan telfon.  Demi penghematan, kadang seminggu ga bertukar khabar.  Kejam ya?  Ya namanya juga manusia, keuangan dan pengeluaran tidak selalu tetap.  Kalau si dia yang bokek, aku telfon sebentar, cuma memastikan semua aman terkendali.  Soalnya percuma di SMS, pasti ga akan dibales…hihihihihi…

Sejarah kami memutuskan punya Blackberry juga cukup unik dan lebih ke faktor kepepet.  Jadi, pas mudik lalu HP-ku error.   Lalu  aku meminjam HP Mas Ipung.  Jangan ditanya rupa dan model HP-nya.  Jelek banget!  Sampe lupa lagi, apakah Nokia pernah mengeluarkan seri itu… 🙂 .  Tapi tidak masalah, toh fungsinya cuma terima telfon dan berkirim SMS.  Walau akhirnya aku harus menahan emosi saat HP-ku dibuat mainan oleh keponakanku yang bandel itu.  Udah harus nahan emosi karena tindakan semena-mena keponakanku terhadap HP itu, penghargaaan publik dari keluargaku juga sangat rendah terhadap HP itu.

Pernah HP itu tergeletak di lantai dekat tempat tidur keponakanku, eh si ibu (pengasuh anak yang di rumah)  yang melihat tapi tidak mengambilnya.  Pas aku tanya kenapa dibiarkan saja tergeletak di lantai, si ibu cuma jawab : ” Eh kirain teh mainannya Uis…” Gubrakkkk…

Tapi memang iya sih, parah banget.  Masak pas ngecharge batere, kabelnya harus dipastikan dalam posisi sempurna.  Kalau tidak, walau berjam-jam dicharge tuh HP tidak terisi baterenya.

Pas balik lagi ke sini, ternyata tuh HP  pinjeman mati total.  Duh!  Mau minjem sama teman, kok yo rasane malu-maluin? Mosok timbang HP aja minjem… Tiba-tiba aku rajin mengamati katalog barang elektronik, memilah-milah HP dengan harga manusiawi.  Ada yang murah banget, kalo ga salah harganya sekitar 19 Euro + pajak 20 %.  Masih keluaran Nokia jadul juga.  Saat aku tanya ke kakak yang kebetulan tukang jual HP, eh dia malah kaget kalau seri yang kumaksud masih eksis…ihiks…   Katanya sih, sekarang orang Indonesia udah ga ada yang make HP jenis itu.  Wadow!

Lalu kakakku menawarkan pakai Blackberry   (selanjutnya kita sebut : BB) saja.  Aku yang selama ini tidak peduli dan tidak kepikiran punya BB menolak.  Pertimbanganku, tetap ke fungsi utama  : sekedar telfon dan SMS-an.  Hingga kemudian kakakku mengeluarkan kata kunci yang aku suka : pakai BB jatuhnya lebih hemat. Aku : Oh ya?

Kemudian, aku mencari lebih lengkap wujud asli BB itu seperti apa sih?  Kok orang Indonesia betah amat mainin BB.  Saat aku cari info itu, HP pinjemanku mulai menunjukan kondisi kritis.  Dan aku masih butuh pertimbangan untuk mengambil BB atau HP biasa saja.

Selama seminggu aku konsultasi dengan beberapa pengguna HP pintar ini, termasuk toko HP di sini.  Rata-rata jawabannya ya BB itu kayak komputer mini.  Bisa chat, FB-an, push email, browsing internet dan segala macam.

Lalu, kembali ke pertanyaan standard :  Berapa harga langganan BB per bulan?  Eh, ternyata murah, cuma 12 Euro/bulan.  Bahkan kalau aku ambil paket salah satu provider, maka biaya langganan BB ini gratis selama setahun.  Eh, belum selesai aku menimbang-nimbang, pada suatu hari HP butut itu mati total.  Iya, mati total.  Huwaaaa….sedih deh.

Kakakku yang ahli dalam masalah per-HP-an angkat tangan.  Nokia yang sempat dikira mainan oleh keponakanku tidak terselamatkan.  Mungkin saking jadulnya HP ini, pas kakakku berusaha memperbaiki, dia menimbang-nimbang HP ini di tangannya.  Diangkat ke udara dan diamati di bawah lampu.  Haiyaaahhh…  Wajah kakakku kayak arkeolog yang baru menemukan benda sejarah.  🙂

Nah, setelah gajian dan punya sedikit duit, oleh adikku aku diseret ke toko HP terdekat.  Aku disuruh beli HP saat itu juga, karena sudah 4 hari susah dihubungi.  Dan voila!  BB putih ada di genggamanku.  Mulailah aku jadi pengguna BB.  Saling add PIN dengan beberapa teman dan saudara.  Tapi kok malah Mas Ipung ga ada di daftar teman yang aku punya?

Mulailah aku merayu Mas Ipung untuk beralih ke BB.  Awalnya dia menolak, karena tidak sesuai dengan kebutuhannya.  Kalau aku punya BB tapi tetap harus SMS ke Indonesia, berarti sama juga bohong dong.  Tapi Mas Ipung keukeuh kumeukeuh ga mau ganti HP.

Hingga pada suatu hari, saat perjalanan pulang dari Bandung ke Jogja, kereta api yang ditumpanginya anjlok di dekat Garut (kalau tidak salah).  Mas Ipung cuma kirim pesan tentang tertundanya perjalanan karena KA anjlok di Garut.  Kemudian pada SMS-nya ditambahkan pula : Don’t worry babe, I’m Ok.  Maaf ga bisa SMS lg  (lagi), pulsa trakhir (terakhir).

Saat itu sudah hampir subuh di Indonesia.  Aku langsung menghubungi adikku yang saat itu sedang berada di Bandung untuk mengisi pulsa Mas Ipung.  Tapi karena hujan deras, adikku susah keluar rumah (di dekat rumah ada supermarket 24 jam yang jualan pulsa juga).  Adikku juga ga bisa share pulsa, kebetulan habis banget.  Akhirnya, ibuku membagi pulsanya dengan Mas Ipung.  Huuuuhhh… malu-maluin ga sih?

Keesokan harinya, aku mencoba menghubungi Mas Ipung, tapi tidak aktif.   Mungkin masih istirahat karena kemaren perjalanannya lebih lama.  Terus  menerus aku coba telfon via Skype,  eh  seharian nomornya tidak aktif.  Rasanya mangkel banget.  Aku harus bilang, seandainya dia mau menggunakan BB, pasti ga ribet bolak-balik ngisi pulsa.  Dalam hati, seandainya telfonku dijawab, aku mau marah lagi.  Tau ga sih gimana rasanya pengen marah tapi ga tersalurkan?  Ya gituuuu….

Nyaris 2 hari sejak KA anjlok, aku ga tidur karena kehilangan khabar Mas Ipung.  Hingga hari ketiga (kalo ga salah), tiba-tiba dia nongol di YM-ku, minta PIN BB.  Oalaaaa…. Ternyata diam-diam Mas Ipung survey harga BB dan provider yang cocok untuknya.  Dengan sedikit minta maaf dan memperbanyak rayuan, Mas Ipung mengakui kalau dia salah sangka terhadap BB.  Sekarang Mas Ipung udah gape pakai BB dan komunikasi kami lebih lancar, tanpa khawatir akan pulsa.

Sering aku dikirim foto-foto, walau yang terbanyak ya foto Piko guguk kami.  Atau mengirim foto pecel lele.  Fotonya sendiri jarang dikirim.  Takut ketularan narsisi, katanya.  Sampai sekarang, kadang aku masih menggoda kekonyolannya untuk tidak memiliki BB.  Malah katanya, kayaknya kita harus sujud syukur nih ama Blackberry eh tekhnologi.  Dengan 2 kali klik, kita sudah bisa mengirimkan foto.  Semuanya terasa lebih mudah dan dekat.  Halah….  Lupa ya kalau  kemaren menolak BB?

Nah, setelah beberapa bulan kita menggunakan BB, terasa banget ringan di dompet.  Untukku benar-benar sebuah penghematan demikian juga Mas Ipung.  Dan yang penting, kita bisa komunikasi kapan saja, tidak harus saling tunggu, buat jadwal dan konfirmasi via SMS.  Karena ada perbedaan waktu antara sini dan Indonesia, maka dengan tidak chat Selasa malam, kami punya waktu lebih untuk istirahat.  Sudah tidak pernah lagi begadang demi chat.  Kalau pun ngantuk, kan obrolan masih bisa dilanjutkan keesokan harinya.  Ahhh…menyenangkan sekali.

Salam,

Ket : gambar dari Google

Membuat Urutan Halaman

Ahaaa…. masih ber-euphoria atas keberhasilanku mengalahkan malas untuk nge-blog. Walaupun masih bingung ntar bakal nulis apa aja, tapi paling ga beberapa halaman sebagai panduan untuk menulis udah nongkrong dengan manisnya di blog ini, tinggal mengalahkan rasa malas dan memelihara semangat menulis aja.  Satu hal yang aku belum bisa pecahkan adalah, bagaimana mengatur urutan halaman agar sesuai dengan keinginan kita?

Karena kalau dilihat dari susunan halaman Lintasophia, bener-bener ga runut.  Ada yang bisa bantu aku mengubah susunan halaman tersebut?  Thank’s and salam,