Mengurai Kusut di Kepala

Beberapa hari yang lalu, aku sukses membuat komputer di toko tempatku bekerja error hingga sekarang.  Sebuah ketidaksengajaan yang mampu membuat aku tidak tidur beberapa hari.  Masalah komputer cuma satu dari sekian banyak hal yang bertengger di kepalaku beberapa waktu ini.

Ada periode dimana aku merasakan semangat sangat menggebu atau sebaliknya.  Namun ada  pula saat dimana aku memiliki banyak ide dan energi namun tidak memiliki chanel untuk menyalurkannya.  Semua menumpuk di kepala.  Rasa-rasanya, kepalaku berasap dan nyaris meledak karena energi dan ide yang meletup-letup.

Aku butuh waktu untuk menyendiri dan mengurai satu per satu, memisahkan setiap ide dan memberinya energi yang tepat.  Beruntung aku punya beberapa teman yang mau mendengarkan ide-ide tidak masuk akal itu.  Aku cuek saja….hihihihi…  Tapi, curhat saja tidak cukup, butuh keseriusan dan totalitas melaksanakan ide-ide itu meski mengurangi jatah tidur, pengeluaran pribadi termasuk berselancar di dunia maya.

Ini kebiasaan buruk yang sedang aku coba selesaikan.  Insomnia berat saat fikiran hendak meledak.  Begitu kurang lebih kondisiku saat ini.  Sebentar lagi, saat semua telah terurai, aku kembali lagi sekalian membayar hutang sebuah  catatan motivasi untuk seorang teman.  Selamat hari Rabu teman.  Semoga hari ini menyenangkan.

Salam hangat,

Lintasophia

Ini 2011-ku. Mana 2011-mu?

Hari terakhir di tahun 2011.  Lewat tengah hari di sini. Aku masih pakai piyama karena tadi pagi bos mendadak SMS bahwa hari ini aku tidak kerja.  Akhirnya, agenda yang mestinya pagi-pagi aku bereskan sebelum kerja terbengkalai.  Minggu depan saja kalau begitu.

Sejatinya, niatku siang ini adalah jalan-jalan, keluar masuk gang karena diluar mentari sangat cerah dan cantik.  (Heran deh ama hobiku yang satu ini.  Keluar masuk gang atau jalan kecil).  Kemudian, bergulung-gulung dibalik selimut kupilih sebagai cara menghabiskan sisa tahun ini.  Tidak sepenuhnya bisa tidur nyenyak.  Dalam hati sebagian fikiran melayang-layang ke perjalanan selama setahun ini, sebagian lagi memikirkan tahun yang akan datang.  Susah ya jadi manusia.  Selalu diliputi rasa khawatir.  *smile.

Berbicara tentang tahun 2011 yang notabene salah satu tahun terberat untukku, bukan secara fisik justru secara psikis menguras fikiran.  Ketika berat badan hilang beberapa kilo dan raut wajah kusam masai, mengingatkanku untuk hidup lebih tenang dan optimis lagi.    Banyak  yang terjadi dan diluar kendaliku.  Kebetulan, unexpected things tersebut selalu sesuatu yang menyedihkan.  Betul-betul banyak pil pahit yang terpaksa harus kutelan sepanjang 2011 lalu. 😉

Baiklah, 2011 adalah tahun yang sedih. Namun  tahun kesedihan itu pun akan segera berlalu.  Tidak baik mengingat-ingat dan terpaku pada masa lalu.  Mencoba yakin dan optimis menghadapi tahun-tahun yang akan datang.  Bukankah lebih baik begitu?

Lalu, apa agenda dan targetan yang telah aku susun untuk tahun yang akan datang?  Ada banyak agenda besar yang telah lama kususun di agendaku.  Namun telah lama pula aku masukan daftar impian tersebut ke dalam kotak mungil. Sealed.  Bukan, aku bukannya menyerah dan putus asa lantas berhenti bermimpi.  Nyatanya, aku harus bersikap lebih realistis.

Duka, kecewa dan penat selama setahun terakhir ini merupakan guru yang hebat untukku. Mungkin ia merupakan  satu-satunya guru yang membuat muridnya babak belur nyaris tak mampu berdiri. *smile.  Kadang kalo udah suntuk, aku suka bilang : Ya ampuuunnnn, sadis amat guru kehidupan ini.  Tapi itulah kehidupan.  Selalu ada hikmah dibalik cerita.  Mungkin kalo ga ”digituin” sama guru kehidupan, pasti aku tumbuh menjadi pribadi yang cengeng dan mudah menyerah.  Special thanks untuk keluarga, sahabat dan kerabat yang  menjadi sumber inspirasi dan keceriaan selama ini. 😉

Lalu, harapan 2012?  Tik….tok…tik…tok….  Secara spesifik, point per point agak bingung jawabnya.  Pan tadi aku udah cerita kalau keinginan-keinginan terbesarku sudah masuk ke dalam kotak.  Disegel dan menyepi di laci mejaku.  Tapi secara garis besar, aku cuma pengen lebih sehat, mengelola waktu dengan baik.

Ke depannya, aku pengen   hidup lebih simple dan lepas dari khawatir.  Lebih menikmati hidup istilahnya.  Aku juga berharap keluarga dan sahabat-sahabatku selalu sehat dan diberi keberkahan luar biasa.  Tahun 2012 semoga menjadi tahun kebahagiaan untuk kita semua

Apa lagi ya?  Pastinya hidup lebih sederhana juga.  Kalau yang ini mah bukan harapan tapi tuntutan keadaan….hihihihihi….    Masih tetap harus disyukuri kesusahan ini.  Walau kehilangan banyak pekerjaan selama 2011, tapi masih bisa makan walau seadanya.  Di luar sana, banyak orang Italia kehilangan pekerjaan.  Merasa bersyukur banget karena secara rutin masih bisa bantu keluarga dan sedikit investasi.

Eh ngomong-ngomong tentang investasi.  Rupanya, ini yang menjadi salah satu agenda besar di tahun mendatang.  Belajar dan diversifikasi investasi biar portofolio proporsional.  Periode ini berawal sekitar 2 atau 3 tahun terakhir, saat inget umur yang beranjak senja…halah…  Tantangannya?  Bagaimana memilih investasi yang tepat di saat yang kurang tepat alias kondisi Senen Kemis seperti sekarang….*sigh…

Begitulah 2011-ku.  Bagaimana dengan 2011-mu selama ini.  Pasti ada cerita menarik  dong?  Sharing yuks….  Selamat tahun baru 2012 ya teman.  Banyak kebahagiaan menanti kita setahun yang akan datang, tergantung bagaimana kita memandang dan mensyukurinya.  Life is beautiful.

Terima kasih karena sudah mampir di di sini dan menjadi sahabat Lintasophia yang hebat.

Salam damai,

Lintasophia

Something Green

Gimana, suka dengan penampilan baru Lintasophia?  Ga baru-baru amat sih, cuma ganti warna saja.  Di sini temperatur terjun bebas.  Gelap dan abu-abu sepanjang hari.  Untuk menyegarkan mata maka aku mengganti lay out Lintasophia.  Beberapa hari lihat thema-thema yang ditawarkan WordPress, tapi ga ada yang nendang.  Sekalinya ada yang aku suka, eh kudu bayar.  Terpaksa deh cuma ngecat Lintasophia.  

Thema apa sih yang aku cari?  Ga ada patokan khusus.  Yang penting, sesuatu yang simple, tidak membingungkan dan mudah untuk membaca catatan Lintasophia.  Satu lagi, kudu ada something green.  Ya itu tadi, balik ke niat awal mengganti thema, yaitu penyegaran mata.  Apakah kalian suka dengan hijau yang aku pilih?  Kenapa itu fotoku yang sepotong masih nongol di sebelah kanan?  Ya, biar ga terlalu misterius saja sih.  Mau pasang pas foto, kok rasanya ga pede ya? 😦

Baiklah, semoga kalian suka warna baru ini.

Salam (kedinginan),

Lintasophia

Etil<4 mEnuLi5 d4N t4nd4 I3aC4, pL3453!

Etika Menulis di Ruang Publik

Siapa yang bisa baca judul di atas?  Kalau bukan aku sendiri  yang ketik, pasti aku ga tau bagaimana membacanya.  Atau, aku butuh waktu untuk mengejanya.    Dibaca per huruf atau harus memecahkan kode-kode di atas menjadi sebuah kalimat.  Misteri!  Kata anak sekarang, itu bahasa alay, dimana mengganti beberapa huruf menggunakan angka sehingga kombinasi angka-angka dan kode (baca : tanda baca) menghasilkan makna tertentu (sumber : wikisophia).

Aku tidak suka cara penulisan yang jungkir balik seperti ini, bikin pusing dan mabuk.  Kalau digambarkan, mukaku pasti seperti ini \\!!(@_@)// saat bertemu model tulisan seperti ini.  Sampai sekarang, cara menulis alay seperti ini ternyata masih digemari.  Seperti tadi pagi aku menemukan seseorang mengirimkan greeting dengan cara ini pada sebuah komunitas.  Seketika aku komplein.   Mungkin aku lebay tapi aku merasa tidak nyaman.  Namanya juga ruang publik  yang pengikutnya sangat heterogen baik latar belakang pendidikan, usia dan minat,  sehingga sebaiknya memakai bahasa, kode dan sandi yang difahami secara bersama  🙂 .

Berbeda kasusnya jika kita menulis pada sebuah komunitas lebih spesifik dimana penggunaan kode, bahasa alay atau istilah tekhnis tertentu telah menjadi kesepakatan sebelumnya.  Katakanlah kita ikut komunitas : Jomblo alay-alay.  Dari namanya saja sudah spesifik bahwa pengikut komunitas ini mungkin atau bahkan mereka yang berstatus single dan agak lebay.  Dari situ, bisa saja mereka sudah mengesahkan cara menulis jungkir balik (alay) sebagai ciri khas mereka.  Dalam hal ini tidak masalah.  Namanya juga kesepakatan.  Misal contoh percakapan di bawah ini obrolan anggota komunitas Jomblo Alay-alay :

A : ”Q H2C euy””  (baca : Aku H2C/Harap-harap cemas).

B : ”w4y, cinnnn…????”  (baca : why, cin? Cin atau Cinta merupakan panggilan sayang untuk sahabat dekat).

A : “T4kut dtlk  o/ si dya (baca : takut ditolak oleh si dia)

B : ”Oh, No… 😦 ” (baca : tidakkkkk).

Kalau obrolan di atas, tampak komunikasi cuma pada segelintir orang, bahasannya spesifik dan mereka saling paham akan kode yang ada.  Tapi bagaimana kalau gaya penulisan itu diterapkan pada ruang publik?  Saranku, sebaiknya hal itu dihindari.  Kasihan menambah kepusingan orang lain.

Kadang kalau aku menemukan tulisan model begini, entah di blog atau Facebook, aku jadi suka bertanya sendiri.  Ini orang nulis dulu kalimat utuh baru setelah itu diedit satu-satu?  Huruf A diganti jadi angka 4 atau otak dan jarinya sudah sedemikian sinkron hingga berhasil menuliskan rentetan kode sepanjang itu?

Bagaimana kalau menulis status di Facebook?   Walau menulis di profil milik sendiri, sebaiknya menulislah dengan menggunakan kaidah dan aturan yang berlaku secara umum.  Tulisanmu adalah cerminan dirimu.  Jadi bagaimana menurutmu jika menemukan seorang teman, sudah punya beberapa anak tapi nulis status saja masih seperti ini : k4nG3n si dya…???  Kalau menurutku sih, cara penulisan seperti ini menunjukan Anda masih childish.

Tanda Baca

Sejak SD kita sudah belajar pemakaian tanda baca pada sebuah kalimat.  Tolong buku pelajaran Bahasa Indonesia anaknya atau keponakan dibuka lagi ya.  Sehingga kita tahu kapan menggunakan koma, titik, tanda tanya atau tanda seru.  Jangan kebalik-balik atau tanpa tanda baca sama sekali.  Kesalahan peletakan tanda baca hanya akan membuat kesalahpahaman dan pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur.  Sebagai contoh status pada Facebook seorang teman : Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan…???

Betul, ia meletakan 3 buah tanda tanya di belakang kalimat.  Bukankah hal ini menyebabkan kalimat menjadi rancu?  Tidak jelas maksud dan tujuan, apakah ia ingin menginformasikan sesuatu, bertanya atau berseru.  Masih banyak status-status lucu karena tanpa tanda baca yang kita temukan setiap hari.  Daripada menulis sesuatu yang akan menguap begitu saja, karena pesan tidak sampai, bagaimana kalau kita mulai menulis dengan kaidah yang benar.  Dimulai dari hal mudah, misalnya  saat menulis status atau mengirimkan komentar.  Perhatikan tanda baca sebelum mengklik : pubblish.

Font

Pemilihan jenis huruf (font) dan ukurannya juga wajib diperhatikan.  Ukuran font jangan terlalu kecil karena yang membacanya rawan terkena gangguan penglihatan.  Tidak baik juga terlalu besar karena berkesan : galak banget!  Ya, lihat situasi dan kondisilah.

Kapan Kecil dan Kapan Besar

Bagaimana dengan penggunaan huruf besar dan kecil?  Huruf besar digunakan untuk memulai sebuah kalimat.  Itu hal pertama yang harus diingat.  Huruf kapital juga diperlukan pada nama tempat, orang, wilayah dan sebagainya termasuk pada kata yang melambakang Tuhan.  Contoh : Berilah hamba-Mu ini kekuatan.  

Kapan sebuah kalimat boleh menggunakan huruf kapital secara keseluruhan?  Saat Anda membuat pengumuman yang bersifat mendesak atau saat Anda ingin menunjukan pada dunia bahwa Anda sedang marah hingga rasanya pengen makan orang.  🙂

Semoga bermanfaat dan salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Tersendat Mencatat

Met sore Indonesia,

Hadirrr….  Lama nian tak melongok Lintasophia dan terima kasih karena tiap hari masih ada saja yang mampir meski tidak ada catatan baru.  Kendalanya adalah,  saat ini aku sedang tidak punya komputer  *crying.   Seminggu yang lalu komputerku mati lagi seperti tahun-tahun sebelumnya ia (komputerku) selalu memasuki kondisi mengenaskan pada akhir tahun.    Kali ini aku udah males memperbaiki komputer dan berfikiran untuk membeli yang baru dengan harga terjangkau tentunya.  Walau ide kompi murmer sudah melintas di kepala saat kompi pertama kali menunjukan gejala kurang sehat, tapi tetap saja masih bingung dapet duitnya dari mana.  Hadeeeehhh…sebel!

Sementara ini aku nebeng pakai kompi kakak.   Kita bagaikan shampoo 3 in 1 (baca : 1 kompi untuk 3 orang).  Doakan saja dalam 2 bulan ini aku bisa menyisihkan sebagian dana untuk membeli kompi baru agar acara catat-mencatat tidak kembali tersendat.  Wish me luck, ya temans.

Eh iya, dari kemaren hujan mengguyur kotaku.  And why oh why, mengapa hujan selalu menghadirkan segenggam kenangan?  

Salam hangat,

Lintasophia

Selamat Lebaran

Huwaaa….udah setahun ga ketemu, tau-tau udah Lebaran lagi… *smile.  Walau Lebaran sempat ”dianulir”  akhirnya  hari yang mulia itu tiba juga.   Selamat Lebaran untuk kalian yang merayakan.  Mohon dimaafkan bila selama pertemanan di dunia maya ini ada kata, kalimat yang menyakitkan.  Sungguh tak bermaksud demikian lho….

Eh iya, lama juga aku ga melongok Lintasophia dikarenakan sibuk macul di sawah.  Mumpung lagi ada kerjaan maka aku menomersekiankan urusan yang lain.  Kemaren aku sempet bantu-bantu pameran di Firenze (Florence) selama beberapa hari.  Well, Firenze kota yang indah dan penduduknya sangat ramah.  Tampaknya aku jatuh cinta dengan Firenze 🙂 .  Kapan-kapan aku cerita ya hasil ngumpulin remah-remah selama berada di kota orang lain.  Sekarang, waktunya tidur sebentar sebelum kembali ke pacuan kuda eh ke tempat kerja.  

Happy Lebaran.    May God bless us….horayyy….

 

Lintasophia