Partai Politik Boleh Berganti, Tapi Ideologi tak Pernah Mati

Partai politik boleh berganti, tapi ideologi tak pernah mati.  Kalimat menakjubkan itu aku dengar pertama kali dari ibuku. Seorang perempuan perempuan biasa yang notabene jauh dan tidak pernah terjun langsung ke hingar bingar dunia politik.

Bandung 1999

Setelah pergolakan politik, ekonomi dan sosial sepanjang tahun 1997 hingga 1998 yang melahirkan berbagai peristiwa penting, salah satunya adalah Indonesia memasuki Era Reformasi dengan tumbangnya Era Orde Baru, pemerintah memutuskan mempercepat pemilihan umum, sedianya 2002 menjadi 1999.

Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama dimana aku ikut nyoblos.  Aku buta politik, bingung harus milih partai apa.  Seperti anak kecil tersesat di keramaian pasar.  Gimana ga tersesat, jumlah partai peserta pemilu biasanya cuma 3, yakni Golongan Karya (Golkar), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Aku cuma tau, merah, hijau dan kuning.   Untunglah ada ibuku sehingga aku tidak tersesat lama.

Mulailah obrolan-obrolan kecil dengan ibuku mengenai faktor apa yang harus diperhatikan dalam menentukan partai pilihan.

Aku : ”Pemilu nanti milih apa ya?”

Ibuku : ”PDI-P.”

Aku : ”Kenapa bukan Golkar?”

Ibuku : ”Karena Golkar adalah partainya pegawai negeri.”

Aku : ”Oh… Kenapa harus PDI-P?”

Ibuku : ”Karena kita adalah Marhaen!”

Aku :”Haaaaa?”  Itu pertama kali aku mendengar kata Marhaen (sebutan bagi penganut Marhaenisme).

Berikutnya, ibuku mulai sering bercerita tentang betapa heroiknya Soekarno.  Sangat mudah mendapat cerita kehebatan Soekarno, baik lewat cerita dari mulut ke mulut warga kampung, maupun dari opung doli.  Selama masa pengasingan di Sumatra Utara, opung doli (bapak dari ibuku) merupakan salah satu ajudan dari Soekarno.

Masih menurut ibuku, saat itu rakyat cinta sekali terhadap Soekarno.  Baik yang muda maupun yang tua setia dan militan mengikuti Soekarno selama pengasingan di Sumatra Utara.   Menurutku, mungkin ini salah satu alasan mengapa di tubuh partai PDI-P banyak sekali orang Batak.  Karena secara historis ada hubungan emosional.  Soekarno pernah menginjakan kaki di Sumatra Utara.  Sampai sekarang, banyak orang tua yang bertahan dan setia dengan PDI-P. Imbasnya adalah, para orang tua ini menurunkan Marhaenisme dengan kemasan baru (PDI-P) kepada anak-anaknya.  Contohnya adalah ibuku.

Ibuku gemar sekali bercerita tentang Soekarno dan opung doli, padahal ibuku tidak mengalami langsung masa saat Soekarno ditahan di Sumatra Utara.  Ibuku cuma mendengar penuturan dari opung doli dan orang-orang sekampung.   And you know what, kami pun ga pernah bosan mendengar, padahal yang diceritain sama aja….hahahhaha….

Aku seneng moment saat ibuku bercerita, wajahnya ga bisa bohong kalo ibuku sangat bangga dengan sepak terjang bapaknya.  Bercerita adalah kesempatn untuk ”memiliki  kembali” almarhum opung doli.

Akhir cerita ibuku udah bisa ditebak, beliau akan cerita tentang namanya.  Jadi, karena situasi tidak kondusif saat itu, opung doli memilih mengikuti Soekarno di pengasingan (menurut ibuku bukan pengasingan, tapi penjara) daripada menemani opung boru yang sedang mengandung ibuku.

Di penjara Soekarno memberi nama Megayani untuk ibuku, biar mirip dengan nama putrinya.  Sedangkan nama lengkap ibuku adalah ; Megayani Puspa Pangungsian Hamardekaon P (semoga aku ga salah nulis).  Mungkin karena diberi nama oleh Soekarno, ibuku merasa ”terikat” dengan Soekarno.  Setiap mudik dan ngumpul, kam masih suka menggoda ibu : ”deuuhh…yang dikasih nama (dari) Soekarno.”  Ibuku sumringah betul kalo digituin.

Bandung tahun 2000-an

Ibuku : ”Kalo mau masuk partai politik, masuklah ke PDI-P.”

Aku  : ”Kenapa harus PDI-P?”

Ibuku : ”Karena kita adalah Marhaen.”

Aku  : ”Kalo PDI-P bubar, gimana?”

Ibuku : ”Terserah partai apa aja, yang penting Marhaen.”

Aku : ”Kok gitu?”

Ibu  : ”Partai politik boleh berganti (nama), tapi ideologi tak pernah mati.”

Salam,

Lintasophia

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s