Hidup Bahagia Secara Frugal

Pengantar

5.-FrugalityPernah mendengar kata frugal?  Aku mendengar kata frugal sekitar 2011, secara ga sengaja nemu di youtube.  Saat itu, sekitar tahun 2010 sampai September 2012 aku hidup dalam kondisi gaji yang minim karena pengurangan jam kerja, sementara post-post yang harus dibayar sama saja seperti sebelumnya.  Di situlah aku mulai belajar lebih serius bagaimana orang-orang di luar sana bisa survive dengan penghasilan minim.  Sayangnya, sampai sekarang tidak banyak artikel maupun video tentang frugal dalam bahasa Indonesia, kebanyakan dari Amerika.

Baca-baca artikel hingga nonton youtube dengan kata kunci ”living in budget,” mengantarkanku ke deretan video tentang frugal living.  Jadi, frugal itu adalah istilah bule untuk hidup sederhana. Hidup di bawah penghasilan.  Serba minimalis dan ekonomis.  Sesuatu yang sebetulnya sudah diajarkan nenek moyang kita ya.

frozen frugalityDulu pas liat di youtube, para frugalista (sebutan untuk para pelaku hidup frugal), kok hidupnya mesakke yo?  Bikin selai sendiri, bikin saos tomat dan acar berbotol-botol lalu disimpan di gudang.  Serasa zaman perang.  Belum lagi jejeran makanan bekunya yang bikin merinding.  Nyaliku udah ciut duluan liat polah mereka.  Mana mungkin aku yang pemilih dan mudah bosan dalam hal makanan bisa hidup seperti itu?  Aku sih milih makan sekali sehari daripada makan makanan beku begitu. Belum lagi gaya belanja mereka yang menggunakan kupon makanan.  Oh Gosh, ribet bener!  Secara sederhana, aku memangkas beberapa pengeluaran yang tidak penting, misal biaya komunikasi, makan di luar dan beberapa hal kecil lainnya.

Pada intinya, frugal itu kemampuan hidup sederhana (di bawah penghasilannya), dengan melakukan belanja atau pilihan bijak serta ekonomis dan mengalihkan sebagian pendapatannya untuk sebuah tujuan terencana.  Menjadi frugalista tidak terjadi dalam satu malam, setahun atau dua tahun.  Lebih lama dari itu.  Karena itu, seorang frugalista sangat menghargai proses.

Seorang frugalista memilih sesuatu/barang karena value daripada prestise, apalagi sekedar gengsi.  Karena itu, seorang frugalista umumnya pintar bersyukur  dan bahagia dengan apa yang ia punya.  Mungkin pula itu sebabnya, seorang frugalista mampu tampil bersahaja, gembira dan penuh suka cita sekalipun penampilannya jauh dari rupa sosialita.   Seorang frugalista juga mampu membedakan antara kebutuhan dan keinginan.  Point yang terakhir susah banget, percayalah… *hapus keringat.

Menjalani Frugal Karena Kepepet

Terhitung sejak 2010 aku serius menjadi frugalista meski masih berantakan.  Menjadi frugalista tidak semata hidup hemat dan sederhana tapi juga harus hidup bahagia. Nah, aku sering gagal di perasaan bahagia.  Masih suka ngambek kalo gaji abis padahal kan buat bayar rumah.  Ibarat kata kondisiku saat itu, situ yang beli rumah lha kok situ yang ngomel-ngomel?  Kurang lebih seperti itu.  Atau dulu menurutku, aku akan bahagia jika hutang telah beres dan hidup normal.  Bisa hang out dan belanja-belenji lagi. Aku tertekan dan belum bisa menikmati konsekuensi setiap pilihan.

Bolak-balik mantengin youtube dan melihat perbedaan antara aku dan mereka.  Setelah dijalani dan belajar lagi, aku menemukan ternyata esensinya bukan di situ.  Tidak semata bisa patuh terhadap budget dan nabung sebanyak mungkin tapi ya harus bahagia menjalaninya.

Bahagia itu cara hidup sekarang, bukan tujuan hidup yang akan datang.  Aku pernah gagal memaknai bahagia.  Kurang lebih, berbahagia dan bersyukurlah apapun keadaannya.  Dengan begitu, setengah beban terangkat dan semua menjadi lebih mudah.  Susah?  Terus terang, iya.  Susah adaptasi pada awalnya.  Masih suka nostalgia masa-masa keemasan saat duit tidak menjadi masalah besar, tapi akhirnya terbiasa kok.

Memutuskan Menjadi Frugalista

debt freeKeadaan keuangan membaik itu sekitar Oktober 2012 (3 tahun lalu), saat seorang rekan mengundurkan diri dan aku menggantikan posisinya.  Jelas pendapatan bertambah.  Namun aku dan Mas Ipung memutuskan tetap melakoni hidup frugal.  Kita membuat target baru, yakni melunasi hutang yang kecil-kecil akibat huru hara selama 2 tahun terakhir.  Bila ada kelebihan dana, kita belikan emas batangan yang kelak ini membantu biaya pernikahan kita.

Tahun 2013 keadaan keuangan lumayan tapi hidup lebih frugal lagi karena sedang mempersiapkan pernikahan yang berlangsung 2014 lalu. Semua dianggarkan.  Pendapatan dan pengeluaran dicatat dengan detail.  Pengeluaran ditekan seminim mungkin.

Beruntung aku punya pasangan seperti Mas Ipung yang mau diajak belajar bersama.  Kita membuka diri terhadap hal-hal baru termasuk masalah keuangan.  Beberapa seminar kita ikuti termasuk membeli buku-buku finansial.  Model keluarga seperti apa yang kita inginkan kelak sudah kita bicarakan jauh-jauh hari, termasuk masalah income dan gaya hidup.

Setelah menikah, sebetulnya keadaan agak mendingan.  Satu event yang memakan biaya besar terlewati.  Tapi mungkin karena kita kadung cinta dan terbiasa hidup secara frugal, maka kita memutuskan melanjutkan gaya hidup ini.  Kita menambah beberapa target yang harus dicapai, misalnya menambah aset, membuka usaha, melunasi hutang-hutang hingga dana darurat.

Saat ini target yang sedang kita lakukan adalah akan mulai mengumpulkan dana darurat dan melunasi hutang-hutang.  Tahun ini adalah tahunnya membayar hutang-hutang dan dana darurat.  Beberapa kali kami salah strategi.   Misalkan, sebaiknya menyiapkan dana darurat dulu baru bayar hutang, tapi kami melakukan sebaliknya.  Akibatnya, sebelum dana darurat terkumpul, sudah terjadi beberapa hal yang membutuhkan dana dan tentu saja kami tidak siap.  Akhirnya ya gitu deh, gali  lubang tutup lubang.

Beberapa Perubahanku Setelah  Menjadi Frugalista

Melakoni hidup frugal artinya mengubah cara pandang dan gaya hidup.  Pernah merasakan hidup lumayan tiba-tiba harus Senen Kemis dan sebaliknya membuat daya juang bolehlah diadu.😉 . Proses naik turun (baca : keuangan) memang menguji sekuat apa kita bersyukur.  Kalo kondisi sedang baik, tentu bukan hal sulit mengucapkan Puji Tuhan.  Iya, kan?  Kalo sedang susah?

Mengubah cara pandang juga terhadap uang.  Sama seperti aku, dulu Mas Ipung juga ga berat buat hang out dengan teman-teman tiap akhir pekan.  Tapi sekarang udah jarang banget.  Mending buat beli emas atau hal penting lainnya, katanya.  Atau ngumpul di rumah bersama teman-teman atau tetangga. Ingat, yang mahal itu gaya hidup bukan biaya hidup.

Aku sendiri sudah lama ga makan siang dan ngopi di luar.  Dulu, post ngopi-ngopi ini memakan lebih dari separuh bekelku.  Sekarang, sejak 2 tahun terakhir ini aku bawa bekel dan kopi dari rumah.  Ini sangat menghemat pengeluaran bulananku.

Urusan membawa bekel ini menjadi tantangan tersendiri saat keuangan sedang baik seperti saat ini.  Tapi nilai juangnya justru di situ, pengendalian diri.😉. Pernah karena kecapean, aku memutuskan makan di luar selama 2 bulan penuh.  Lumayan enak dan ga ribet sih.  Paling resikonya, dompet menipis sedangkan pinggang melebar…hiihihihih…. Di sinilah seorang frugalista harus bisa membedakan antara need and want. Biaya bulananku dipangkas sebesar 30% hingga 50 %, dialokasikan untuk goals kami selanjutnya.

Punya duit tapi irup  kok sengsara tenan, men?  Ga sengsara kok.  Semua tergantung cara kita menjalaninya.  Masih ada biaya huru hara eh hura-hura alias bersenang-senang.  Sebisa mungkin aku sisihkan sedikit untuk belanja barang yang sifatnya tidak penting tapi menyenangkan.  Misalnya, tas atau sepatu.  Kalau membutuhkan biaya besar ya harus ngumpulin dulu.  Post hura-hura ini boleh digunakan untuk makan di luar, nonton ke bioskop atau nongkrong di bar.  Tapi tentu saja sifatnya terbatas.  Begitu budgetnya abis ya sudah… Kalo dulu ya terbalik, selama sudah mengirim ke keluarga, bayar ini itu dan nabung, berarti sisanya boleh dihabiskan.  Pun goals yang kita buat sederhana dengan kondisi yang nyaman memang membuat kita ga terlalu lihai mengelolanya.  No pressure.

Perubahan apalagi ya? Kalo kata Mas Ipung, aku sekarang udah jinak, jarang marah-marah.  Masih menurut beliau, setiap bulan ada 2 kali aku marah-marah, saat PMS dan tanggal tua.  Tapi itu dulu.  Sekarang Mas Ipung bahkan lupa kapan terakhir kali aku mengeluh karena tanggal tua.  Iyalah, karena setiap bulan duit belanja udah dimasukan ke amplop-amplop tersendiri.  Jadi uda bisa mengatur umur duit belanja.  Ga selalu mulus, tapi lumayan terkendalilah kecuali kalo ada pengeluaran mendadak.

Frugal sama dengan Pelit?

Bisa ya bisa juga tidak, tergantung dari mana memandangnya.  Untuk beberapa hal aku mungkin pelit dan penuh perhitungan tapi di sisi lain, sampai sekarang masih bisa membantu keluarga, teman atau menjadi donatur.  Puji Tuhan.

Teringat kata Mas Ipung.  Perkara hidup khususnya pas gajian, bukan semata jumlah nominalnya.  Tapi bagaimana kita mampu mensyukuri, mengelola dan membaginya hingga bermanfaat bagi orang lain.  Terutama keluarga atau teman dekat.  Yang dikelola jangan cuma gajinya tapi juga hatinya.  Mengelola gaji ya mengelola hati.  Hidup susah aja empati ga boleh mati apalagi hidup berkelimpahan.  Begitu kalimat yang sering dialamatkan Mas Ipung padaku.  Hidup boleh frugal tapi ingatlah berbagi.  Karena berbagi makes you happy…*eh, abaikan grammarnya.

Salam hidup sederhana,

 

Lintasophia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4 thoughts on “Hidup Bahagia Secara Frugal

  1. sirpa09 berkata:

    Dear kamu + ojobmu , yg jauh dimata tapi dekat dihati….
    menginjak bulan Desember kami sekeluarga lagi muter2 lagu Natal , (dari CD kirimanmu tempo doeloe)

    udah ya .. just keep in touch

    Cap jempol & Tanda tangan
    Sirpa

    PS .kami sekeluarga sehat2 smg kalian berdua juga demikian and GBU all

    • lintasophia berkata:

      Hai Pak Dhe,
      ga nyangka masih muter CD di zaman digital gini.
      Makasih banyak udah mampir. Selamat menyambut hari Natal. Tuhan memberkati.

      salam sayang dari aku dan Mas Ipung.

  2. sirpa09 berkata:

    Duh sampai lupa mo ngucapkan : Selamat Natal 2015 & Tahun Baru 2016
    Semoga dilimpahkan Rahmat NYA yg berlimpah.

    • lintasophia berkata:

      Selamat hari Natal, pak Dhe.
      Semoga Tuhan melimpahi keluargamu dengan banyak kebahagian.
      Tau ga, aku sangat seneng dan terkejut melihat kehadiranmu di sini. Long time ga ketemu.
      Kangen banget pastinya ama Pak Dhe sekeluarga.
      Sehat-sehat ya, Pak Dhe.
      Salam sayang,

      Lintasophia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s