Abah dan Emak, don’t worry. Kami Bahagia.

Barusan liat foto-foto pertemuan kembali seorang sahabat istrinya yang tengah menempuh pendidikan di LN.  Umumnya istri yang nyusul suami ke LN, ini malah kebalikannya.  Sahabatku dan 2 anaknya yang menyusul istrinya ke LN.  Selamat ya, bang.  Ikut seneng untuk kalian.  Terharu liat foto-foto pertemuan kalian di bandara.

Teringat pertanyaan beberapa sahabat dan juga ibuku, tentang gimana rasanya tinggal berjauhan dengan suami untuk waktu yang belum pasti tahu sampai kapan.  Terutama untuk ibuku yang selalu kujawab bahwa aku dan Mas Ipung bahagia walau (mungkin) tak sempurna.  Ini bukan jawaban mengada-ada agar ibu tidak cemas memikirkan masalah kami tinggal berjauhan. Ini perasaan kami  sebenarnya yang mencoba mensyukuri apa pun kondisi saat ini.  Bukan rekayasa.

Beberapa hari lalu dengan Uni, Uning dan Henski kita ngobrol di WA.  Mereka adalah sahabat karib semasa kuliah dulu.  Biasanya kita sharing  bertukar resep masakan hingga kekonyolan dan kelucuan suami masing-masing, pokoknya obrolan-obrolan ajaib ala emak-emak.   Sebagai orang yang terakhir menikah diantara para sahabat karib, tentu aku masih harus belajar lebih banyak dari mereka.

Henskih cerita tentang pernikahannya yang bahagia.  Suaminya meski tidak romantis namun selalu ada saat dibutuhkan.  Ia juga suami yang asyik sekalipun sering ditinggal keluar kota karena urusan pekerjaan.  Begitu juga Uni yang belakangan ini menggeluti baking dan jogging.  Bentuk dukungan suami tidak semata membelikan peralatan masak memasak, juga bekerja sama  menjaga anaknya saat Uni harus jogging di pagi hari.   Seorang isteri tidak semata dicukupkan lewat materi.  Ada unsur lain, misalnya support suami untuk kemajuan isteri.

Mendengar kebahagiaan sahabat karibku, tentu saja aku ikut senang.  Mungkin sama seperti yang dirasakan ibuku di seberang sana saat aku bilang bahwa aku dan Mas Ipung bahagia.  Dimana-mana, seorang ibu pasti menginginkan anaknya (terutama anak perempuannya) hidup bahagia.  Tidak hanya menghibur aku, rupanya ibuku juga sering berkomunikasi via telfon dengan Mas Ipung.  Biasanya ibu menghibur Mas Ipung agar sabar karena selalu kutinggal merantau.

JON_0378Beberapa hari setelah menikah, ada pertanyaan yang mengusik benakku mengenai perpindahan keyakinan yang dilakukan oleh Mas Ipung sekalipun akhirnya dikucilkan keluarga besarnya.  Rupanya pertanyaan yang sama juga muncul dari beberapa teman kami.  Jawab Mas Ipung : ”Karena ia (aku) memang pantas dibela.”

Pujian demi pujian dilontarkan Mas Ipung yang membuatku jumawa saat mendengarnya.  Baginya, aku serupa gift from heaven.  Tapi itu dulu.  Nyatanya, bila di-flash back, justru Mas Ipung adalah gift  untukku.  Ia adalah keajaiban itu sendiri.  Bagaimana ia mampu bertahan menunggu dan mendampingiku hingga belasan tahun lamanya.  Padahal kalau mau, ia bisa dengan mudah mencari penggantiku.

Dulu aku meminta pada Tuhan agar diberi pendamping yang lembut hatinya.  Seorang  pria yang hormat pada perempuan yang melahirkannya, ibuku dan aku sendiri sebagai calon ibu dari anak-anaknya.  Mas Ipung adalah doa-doa yang mengejewantah.    Hatinya sangat lembut.  Belasan tahun bersama, aku belum pernah dengar ia marah atau tinggi nada suaranya.  Tidak padaku, tidak juga pada yang lain.  Ia pun memperlakukanku dengan sangat hormat baik di depan umum maupun saat berdua.  Pun sayangnya pada orang tuaku sama seperti pada orang tuanya.

Beberapa hari setelah menikah, kita silaturahmi ke beberapa teman lama.  Mereka memuji kita sebagai pasangan yang humoris, lucu dan kompak.  Ya, kita memang udah komitmen untuk tidak menunjukan kemarahan di depan orang lain.  Urusan domestik ada di balik pintu kamar.  Bisa jadi aku lagi ngambek, tapi pas ada tetangga atau teman berkunjung, kita biasa lagi.  Tinggalkan amarah di parkiran.  Itu kita lakukan kalo aku lagi ngambek dalam perjalanan.

Setelah menikah, ia punya kebiasaan lain untuk meredakan ngambekku.  Kalo sampe sore aku masih ngambek, ia akan menunjuk-nunjuk arlojinya.  Ini berkaitan dengan nasihat perkawinan bu pendeta yang menyatakan bahwa amarah harus sudah reda sebelum matahari terbenam.  Wah, repot kalo ngambeknya siang menjelang sore.  Urusan belum beres, harus udah harus maaf-maafan.  Rasanya rugi kalo ngambeknya siang-siang, mending dari pagi sekalian… 😉 😉

Berbicara tentang suppor, maka supporter terbesarku adalah Mas Ipung, yang bertahan tetap di sampingku saat keadaan sedang susah-susahnya.   Dukungannya selalu melimpah ruah.  Aku boleh  melakukan apa aja selama itu baik dan bikin aku senang.  Cuma itu saja syaratnya.  Tanpa dukungannya, pasti aku ga akan pernah seperti sekarang ini.

Diantara kebaikannya, sikap ikhlasnya menerima para keponakanku menjadi pertimbangan lain yakin memilih Mas Ipung.  Hal yang tidak kudapatkan dari pria-pria lain (sebelum menikah, masih ada beberapa pria yang mendekatiku).  Umumnya, mereka angkat tangan kalau kelak para keponakan ikut aku.  Katanya, mendekati aku serasa mendekati janda beranak 3.  Banyak banget anaknya!  Begitulah, kedekatan dan rasa nyaman para keponakanku bersama Mas Ipung  jadi petunjuk sendiri bahwa ia adalah pria yang tepat.

Tentu saja tidak ada manusia yang sempurna, demikian aku dan Mas Ipung.  Dengan keterbatasannya sebagai manusia, Mas Ipung selalu berusaha membuat aku merasa istimewa.   Kebaikan-kebaikannya menutupi kesalku saat ia (nyaris) selalu lupa ulang tahunku.  Tampaknya kondisi dan situasi yang mematangkan aku dengan Mas Ipung.  Menjalani masa pacaran dan nikah dengan cara tidak lazim (berjauhan) membuat kita berusaha memandang setiap masalah dengan cara berbeda.  Jalan yang kita tempuh juga tidak mudah,  namun rupanya ini menjadi arena sekuat apa kita saling mendukung satu sama lain.

Sebagai pasangan yang baru menikah kemarin sore, kita masih harus belajar lebih banyak lagi. Pastinya bakal nemu banyak masalah lagi.  Semoga bisa tetep solid setiap bertemu masalah.  Mungkin kita tidak punya banyak foto saat berdua.  Tapi kita bisa mencatatnya.  Hingga suatu hari nanti, anak-anak bisa membaca bahwa ayah dan ibunya bahagia.  Demikian juga untuk abah dan emak, jangan terlalu banyak fikiran.  Don’t worry, kami bahagia kok.

Salam sayang,

 

Lintasophia

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s