Cerita dibalik Setiap Rumah. Antara Cinta, Niat dan Nekad

Horeee… Lintasophia kembali mengudara.  Maklum penganten baru, banyak sibuknya… Hahahhahaha, kalo yang ini boong banget, karena sampai sekarang kita berjauhan, ga berasa udah nikah. *smile.

Eh, barusan baca rubrik properti di detik dot com tentang susahnya mendapatkan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) dari bank bagi mereka yang bekerja di LN.  Sebesar apapun gajimu, selama kamu kerja di LN jangan harap bakal dilirik oleh bank.  Karena berdasarkan peraturan dan pengalaman pribadi, calon debitur harus bekerja dan berdomisili di Indonesia.  Membaca artikel ini, seperti melihat bayanganku sendiri, tapi gajiku ga sampe puluhan juta per bulan seperti mereka yang ditulis di artikel detik dot com.

Pengantar

Dari kecil hingga dewasa (hampir lulus kuliah), keluargaku khatam yang namanya ilmu berpindah-pindah rumah. Bukan karena bapakku tentara sehingga sering dimutasi tapi bisa dibilang kami kontraktor sejati.  Rumah selalu berpindah-pindah, lingkungan baru dan KTP serta KK baru pula menjadi urusan kami sepanjang tahun, selain peningnya memikirkan uang kontrak rumah tahun berikutnya.  Bagi yang ngontrak rumah, 1 tahun itu cepat, jendral!

Setiap habis masa kontrakan atau kita harus pindah rumah itu rasanya sakit banget.  *sambil nunjuk ulu hati.  Barang-barang banyak yang rusak saat pindahan, termasuk foto-foto masa lalu keluarga kami.  Belum selesai adaptasi di lingkungan baru, sudah harus pindah lagi.  Belum selesai beberes barang bekas pindahan, sudah harus packing barang lagi untuk pindah ke kontrakan lainnya.

Ketidaknyamanan ngontrak rumah sangat berbekas di hatiku.  Tekadku, begitu bisa mandiri, maka benda pertama yang kubeli adalah rumah.  Setelah rumah sendiri, pastinya pengen membelikan orang tua rumah, biar mereka sempat merasakan nikmatnya tinggal di rumah sendiri.

Suatu hari, aku dan teman-teman nginep di rumah teman di Lembang yang baru saja selesai direnovasi.  Aku membayangkan seandainya orang tuaku bisa tinggal di rumah senyaman itu walau tidak harus semegah itu, yang penting rumah sendiri.  Untuk kondisi saat itu, rasanya mustahil memiliki rumah sendiri.  Aku juga ga sanggup mengungkapkan keingingan memiliki rumah sendiri pada orang lain, terutama pada orang tua, takutnya mereka semakin terbebani.  Orang tua mana yang tidak ingin memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya?  Bisa mandiri dan beli rumah sendiri itu biasa, tapi bisa membelikan rumah untuk orang tua rasa itu sesuatu yang berbeda.

Ternyata pengalaman dan traumatik masa lalu menjadi sumber energi yang tidak ada habisnya dalam usaha memiliki rumah.  Selain penasaran bagaimana rasanya tinggal di rumah sendiri, aku juga penasaran mengapa ada orang yang bisa jadi juragan kost-kostan.  Bagaimana cara mereka mengumpulkan rumah demikian banyaknya? 

Stasiun Kiara Condong, 2003.

Ba’da Isha, aku mengantar Mas Ipung yang akan kembali ke Yogyakarta di stasiun KA Kiara Condong.   Ditemani kopi dan ketan bakar, kami ngobrol sangat serius sore itu.  Salah satu topik obrolan kami adalah bahwa aku menolak anti kemapanan dan bosan hidup miskin.  Inti obrolan sebetulnya yakni aku tidak akan memikirkan pernikahan sampai beberapa targetku tercapai, salah satunya memiliki rumah sendiri dan mengangkat derajat keluarga.  Ternyata Mas Ipung sepakat dengan syarat yang kuajukan dan kebetulan dia juga punya kaul yang sama.  Klop sudah!

Saat itu aku dan Mas Ipung bertekad untuk punya rumah dulu sebelum menikah, padahal saat itu kita belum bekerja dan ga tau gimana caranya.  Kita juga uda sepakat akan tinggal di Yogya, di lingkungan yang tenang dengan jendela menghadap sawah.  

Dari sini kegilaan kita dimula dan mulai aware terhadap penawaran dan harga rumah di Yogya.  Kita mulai mempejari dan mencatat pergerakan harga properti di Yogya termasuk rancangan pengembangan Yogyakarta ke depannya.  Sampai sekarang aku masih menyimpan catatan harga rumah.  Kalau ada pameran property, sebisa mungkin kita datang walau sekedar cuci mata dan ngumpulin brosur.  Gaya kita saat itu, seperti pasangan yang akan menikah sebulan lagi.  😉 .Padahal, kita bener-bener ga tahu gimana caranya beli rumah selain mengajukan kredit ke bank.  Masalah paling krusial, tentu saja kita belum punya dananya, tapi kita tetap semangat,   yang penting niat baik maka semesta akan menunjukan jalannya.  

September 2006.  Rumah Pertama

Setelah 2 tahun di Genova, aku mendadak mudik untuk membantu teman (mewakili organisasi sosial di Genova) dalam menyalurkan bantuan untuk korban gempa di Yogya.  Saat ditunjuk, rasanya seperti mendapat durian runtuh.  Selain karena tiket dan akomodasi ditanggung oleh pihak donatur, aku juga boleh extend 2 minggu di Indonesia setelah urusan bantuan selesai.   Segera aku mengontak dan membuat janji dengan para marketing perumahan.  Pas mudik sebelumnya, dana belum seberapa dan banyak pertimbangan yang membuat kita menunda membeli rumah.  Hunting tetap jalan, biasanya diakhiri dengan tercengang karena harga rumah semakin tidak terkejar.

Kalau tidak salah, saat itu aku cuma punya 15 juta untuk uang muka rumah karena mudik kali ini mendadak sekali, danaku belum seberapa.  Aku tidak khawatir karena untuk uang muka biasanya boleh dicicil hingga beberapa kali, umumnya 6 kali (bulan) tergantung kesepakatan dengan developer.  Konsentrasiku justru pada masalah KPR, karena kerja di LN maka sangat kecil kemungkinan diapprove.  Namun bantuan para marketing yang akan membantu proses KPR agak membesarkan hatiku. 

Waktu extend yang kumiliki hanya 2 minggu. Mulai pagi sampai sore (kadang sampai malam) kami pergunakan untuk bertemu dengan beberapa marketing perumahan.  Keesokan harinya  survei lokasi.  Semua serba dikebut hingga akhirnya kami menyepekati beberapa rumah yang masuk kategori dan bujet kami.  Kurang lebih proses ini memakan waktu 1 minggu.  Perut kembung karena kebanyakan minum teh botol bersama para marketing. 😉

Singkat cerita, pagi-pagi sekali kami sudah nongkrong di depan salah satu bank milik pemerintah.  Agenda pagi ini adalah mengisi formulir pengajuan KPR.  Setelah menunggu agak lama, tiba giliran kami.  Sebelum mengisi formulir, beberapa pertanyaan diajukan oleh staff bank.  Interview tidak berjalan lama karena aku sudah mentok dibagian pekerjaan.  Ketika bank tahu aku kerja di LN, otomatis proses pengajuan KPR tidak dilanjutkan karena tidak memenuhi syarat.  Ini penolakan pertama oleh bank.  Masih banyak penolakan lain yang kami alami, baik dari bank swasta maupun pemerintah.

Sebetulnya kita masih punya kemungkinan untuk beli rumah tersebut dengan cara mencicil ke developer.  Tapi untuk harga sekitar 120 juta, developer minta maksimal pembayaran 1 tahun.  Manalah sanggup awak ni.  Nangis deh.  Mas Ipung juga kehabisan kata-kata untuk menghiburku.  Penolakan dari bank telak banget.  Ibarat pertandingan tinju, aku berhasil di-KO pada detik-detik pertandingan.  Cedera dan pertandingan tidak perlu dilanjutkan lagi.

Suatu sore, mau pulang ke kost-an setelah ditolak oleh salah satu bank, aku dan Mas Ipung lewat daerah belakang Stasiun Tugu Yogya (lupa nama jalannya).  Secara tidak sengaja aku lihat ada spanduk rumah gedeeee banget, ternyata itu kantor pemasaran salah satu perumahan.  Segera aku menepuk bahu Mas Ipung minta balik arah ke kantor pemasaran.  Mas Ipung antara kaget dan kasihan melihat aku akhirnya pasrah menuntun si Pitung menuju kantor yang kutunjuk tadi.

Untunglah kantornya masih buka.  Rasanya berdebar-debar.  Di spanduk, harga rumah tipe 36/90 cuma 55 juta dan 45 juta untuk tipe 30/72, belum termasuk biaya notaris.  Harga ini 50 persen lebih murah dari rumah yang kemarin kita coba KPR.  Pas liat maketnya yang cantik, ada feeling mengatakan bahwa kelak rumah ini jadi milik kita.  Beberapa kali nyari kontrakan, aku bisa merasakan bahwa sebuah rumah kelak akan kita sewa atau tidak.  Sekalipun rumahnya jelek atau lingkungan kurang baik dan kita ga suka, aku bisa merasakan akan pindah ke situ.  Dalam hal survey rumah, sensasi ini kembali hadir.  Untuk kalian yang pernah punya insting seperti ini, pasti mengerti apa yang aku maksud.

Perasaanku agak galau saat Mas Ipung menjelaskan lokasinya yang jauh, rasanya belum pernah aku dengar sebelumnya.  Keesokan harinya kita survey lokasi.  Ya Tuhan, jauh banget.  Pantesan murah.  Hampir aja aku minta untuk tidak melanjutkan perjalanan ke lokasi karena pantat uda tepos duluan.  Perjalanan ke lokasi lumayan indah karena masih banyak sawah.  Saat tiba di lokasi, kami lebih tercengang karena proyek ini benar-benar baru proses penggarapan.  Semua masih tanah kuning, sejauh mata memandang. Belum ada rumah contoh sebagai acuan. Lokasi ini sendiri dikelilingi oleh perbukitan. 

Aku dan Mas Ipung sama-sama terdiam. Kami berdiri di lokasi yang kami reka-reka adalah kavling yang kemarin tampaknya kita minati, mencoba membayangkan seperti apa kehidupan kami 5 tahun yang akan datang di sini.  Kami membentangkan tangan dan menarik nafas dalam-dalam.  Ada perasaan yang kuat mengatakan bahwa kami akan tinggal di sini.  Tapi kami mencoba rasional, sebab membeli rumah untuk tempat tinggal butuh pertimbangan lebih matang.  Kami sengaja menunggu sore saat akan meninggalkan lokasi, sekalian mau melihat lingkungan tersebut di malam hari.  

Singkat cerita, akhirnya kita jadi mengambil rumah pertama di sini dengan metode pembayaran dicicil selama 18 bulan.  Puji Tuhan!

 Tahun 2008.  Rumah Kedua

Tatanan ruang rumah pertama kita buat berbeda dari sketsa standard developer dengan maksud nanti mau kita renovasi jadi 2 lantai agar tetap punya halaman, tanah sisa sebelah kiri.  Beberapa bulan sebelum mudik, kami sudah mulai ngutak-ngatik biaya yang dibutuhkan untuk renovasi rumah.  Pas nemu angka 30 juta untuk renovasi kecil-kecilan, fikiran culasku muncul.  Huh, daripada renov 30 jeti, mending DP rumah lagi.  Renov rumah nanti aja pas aku bakal stay selamanya di Indonesia.  Hampir 2 tahun ga mantengin harga properti di Yogya, ternyata harga properti di Yogya makin tidak terbendung.  Sulit menemukan rumah di bawah 100 juta yang dengan lokasi tidak terlalu di desa.

Akhirnya kita putuskan untuk membeli kavling di sebelah kanan rumah pertama, 2 rumah digabung jadi 1.  Harganya sudah naik jadi 65 juta untuk tipe 36/90.  Kali ini mencicil ke developer selama 2 tahun.  Puji Tuhan.  Lagi-lagi semesta menjawab doa dan usaha kami dengan cara yang kami tidak duga sebelumnya.  Dari kedua rumah ini, kami punya sisa tanah di samping kanan dan kiri.  Ini lebih dari yang kami bayangkan sebelum punya rumah.  Sekarang rumah di situ sekitar 140 juta hingga 180 juta/unit.

Sekarang aku menyadari bahwa sebetulnya proses mencicil rumah kedua ini semacam latihan sekuat apa aku menjalani komitmen membayar rumah.  Membeli rumah dengan cara mencicil entah ke developer atau ke bank membutuhkan resistensi yang tinggi.  Kita tidak pernah tahu ada kejadian apa di kemudian hari, misalnya tiba-tiba kehilangan pekerjaan atau ada kebutuhan mendadak yang membutuhkan biaya tinggi.  Di sini keteguhan hati akan diuji.

Tahun 2008 aku memutuskan kuliah di sini.  Nah, karena statusku bekerja, maka aku membayar biaya kuliah secara full.  Bayar kuliah, buku-buku dan cicilan rumah serta kebutuhan lainnya mulai membuat keuanganku dan imanku goyah.  Dimulai perjalanan panjang yang namanya puasa, baik pakaian atau sekedar beli jajanan.  

Ga bisa bohong, kadang aku menelan air liur saat melihat teman-teman yang lain bisa menunggu break kuliah dengan nongkrong di bar.  Aku paling baca-baca buku.  Zaman itu belum ada smartphone yang bisa dipake internetan untuk mengisi waktu senggang.  Logikanya, aktivitas bertambah maka waktu bekerja berkurang.  Tapi selama 2 tahun kuliah hal itu ga berlaku.  Sebisa mungkin kuliah tidak mengganggu kerjaku.  Bukan sekedar semangat tapi demi menjaga agar penghasilan tidak terganggu.  Lagi-lagi di sini resistensi diuji.  

Entah kekuatan dari mana, aku sanggup tidur hanya beberapa jam sehari.  Pulang kerja tengah malam, aku masih menyempatkan diri membaca materi yang tadi kudapat di kelas atau sekedar merapikan catatan kuliah, tidur sebentar dan siap-siap kuliah pagi.  Setiap hari sprint, baik dari rumah ke kampus dan dari kampus ke tempat kerja.  Atlet marathon mah kalah ciiiinnn…

Pada akhirnya aku menyerah tidak melanjutkan kuliah karena beban pekerjaan yang banyak.  Jadwal kuliah dan kerja sering bentrok.  Mulai timbul gesekan-gesekan dengan majikan.  Waktuku semakin tidak fleksibel untuk bekerja sementara kondisi mengharuskan aku untuk stand by bekerja.  Good bye bangku kuliah.  Sampai jumpa lagi.

Tahun 2010.  Rumah Ketiga

Aku dan Mas Ipung sepakat mencukupkan diri untuk urusan rumah kami meski sebetulnya rumah membutuhkan renovasi yang tidak sedikit, maklumlah rumah subsidi.  Begitu habis masa garansi, kusen-kusen mulai agak lapuk.  Angka yang dibutuhkan untuk renovasi pun bertambah.  Uedan!   Daripada untuk renov, mending buat DP rumah.  Perang bathin saat itu.

Kemudian teringat akan janji untuk membelikan orang tua rumah, walau sebetulnya rumah untuk orang tua  sudah terpecahkan.  Akhirnya rumah ketiga didedikasikan untuk para ponakan yang saat ini masih tinggal dengan bapak ibuku.  Rumah yang terletak di Arcamanik ini yang paling berdarah-darah mulai proses ngumpulin DP, cicilan hingga rumah tersangkut masalah hukum tepat 2 bulan lagi cicilan rumah beres.

Banyak kejadian di luar dugaan yang nyaris membuat gagal transaksi rumah ini.  Harga rumah tahun 2010 adalah 275 juta dengan ketentuan 150 juta dicicil 6 bulan.  Sisanya dibayar 30 bulan dengan dikenakan bungan 3 persen dari total sisa yang harus dibayarkan.  Kalau tidak salah, total harga rumah setelah dikenakan bunga adalah 315 juta.  Cicilan rumah Rp. 4.375.000/bulan.

Sedianya, uang muka aku kumpulkan dari gaji bulanan dan sebagian lagi dari dana pribadi yang saat itu dipegang pihak ketiga.  Karena sesuatu dan lain hal, dana dari pihak ketiga tidak turun.  Kocar-kacir aku pergi ke bank mengajukan pinjaman lunak sekitar 100 juta rupiah. Untunglah pinjaman dengan jangka waktu 5 tahun di-acc oleh bank akan lunas September 2015 nanti (berterima kasih pada kakakku yang mau jadi penjamin pinjamanku).  Begitu dana hasil pinjaman dikirim ke Indonesia, rupiah menguat.  Nilai tukarnya jeblok beberapa juta rupiah.  Pontang-panting nyari dana talangan (Berterima kasih banget pada Angelina)

Rumah terselamatkan dengan cara setiap bulan mencicil ke bank dan developer sekaligus.  Inilah yang aku sebut bahwa pas nyicil rumah kedua, sebetulnya aku sedang dilatih untuk lebih kuat lagi.  Karena secara angka, cicilan rumah ketiga ini jauh lebih besar dibanding pengalaman nyicil rumah sebelumnya.

Oke, demi cinta kepada para ponakan, ampe di sini aku masih bisa menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluaran.  Hingga suatu hari, krisis ekonomi semakin menjadi.  Aku mengalami pengurangan jam kerja. Kerja di toko hanya 1 atau 2 jam, maksimal 3 jam sehari.  Sebelumnya paling tidak di toko kerja 5 jam per hari.  Sedangkan di restoran, jam kerja dipotong juga setengahnya.  Aku kerja cuma weekend aja, ga setiap hari seperti dulu.  Ya Tuhan, rasa-rasanya ga sanggup kalau hidup lebih ketat lagi.  Seandainya aku tahu bakal pengurangan jam kerja, tentu aku ga senekad itu beli rumah.

Yang aku tahu, pengeluaran harus ditekan seminim mungkin.  Ini moment paling pahit dalam mencicil rumah.  Hampir 3 tahun tidak belanja pakaian, kalau pun beli sesuatu harus menunggu musim diskon, kadang walau sudah diskon tetep aja kebeli.  Nyaris tidak bisa mudik karena ga sanggup beli tiket pesawat.  Di saat yang lain masih tidur, aku sudah berangkat kerja.  Saat yang lain break, aku masih kerja.  Yang lain pergi liburan, aku milih tetap bekerja.  Beratnya pengorbanan, akhirnya membentuk karakterku untuk tidak menyerah.

Sehari-hari aku pasrah menyantap pasta yang sama. Di sini, saos tomat untuk pasta ukurannya gede-gede, sekitar 0,5 liter per botol, cukup untuk 4 kali makan.  Kemasan saos tomat begitu dibuka harus segera dihabiskan.  Jadilah seminggu menuku bisa spaghetti saos tomat setiap hari.  Kalau dana mepet, kadang makan siang dan malam disatukan, makannya agak sorean dikit biar kenyangnya lebih lama. Minum yang banyak atau teh manis biar perut tidak terlalu kosong. 

Selama di sini, aku kerja selalu di 2 tempat.  Pernah dari subuh sampai sore kerja sebagai cleaning service keliling, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya.  Sore hingga malam aku kerja nyuci piring di restoran.  Keduanya bukan pekerjaan mudah tapi aku bisa menjalaninya.  Sekalipun badai salju dan hidung mimisan, aku tetap menuju lokasi kerja di pagi hari.  Jadi perkara perut lapar rasanya tidak krusial banget.  Ketakutanku kalau tidak bisa bayar cicilan rumah dan ke bank.

Tantangan terbesar itu menahan hasrat untuk tidak jajan saat melewati etalase penuh kudapan dalam kondisi perut lapar.  Yang ini bikin imajinasi terbang kemana-mana.  Untunglah orang tua selalu membesarkan hatiku untuk kuat melewati semua ini.  Support Mas Ipung dan teman-teman lain tidak kalah besarnya.  Puji Tuhan, kami berhasil melalui masa pahit itu.  Sekarang pahit lainnya adalah rumah itu sedang bermasalah hukum.  Next, dibuat catatan terpisah ya.

Sedikit saran untuk kalian yang sedang dalam kondisi serupa, pahit getir karena mencicil rumah, jangan pernah putus asa.  Konsentrasi dan fokus saja dengan mencicil rumah maka kesulitan yang lain akan menjadi nomor kesekian.  Sudah diniatkan untuk membeli rumah untuk orang yang kalian cintai, maka bertahanlah.  Cinta eh rejeki akan menemukan jalannya.  

Setelah 3 tahun berlalu, rasanya amazing bisa melalui itu semua.  Bukan cuma urusan mencicil rumah, karena penghasilan juga masih harus dibagi untuk membantu orang tua dan keperluan pribadi.  Rasanya 3 tahun yang ngeri-ngeri sedap.

 

Tahun 2014.  Rumah Keempat

Sekitar 2 minggu lalu baru saja penanda tanganan PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual Beli) rumah ke-4 di Yogya.  Letaknya tidak terlalu jauh dengan rumah sebelumnya.  Bedanya, rumah kali ini bukan rumah subsidi.  Harganya Rp. 292.100.000 untuk rumah tipe 45/102.  Dengan notaris dan pajak total sekitar 315 juta rupiah.

Ini juga agak-agak nekad (kayaknya kebanyakan nekadnya deh… 😦 ). Awalnya, kami mau beli tanah untuk usaha.  Tapi karena perubahan rencana, kita putuskan merintis usaha  dalam bentuk lain, sedangkan investasi tetap di properti.  Pengennya beli sawah, tapi sampai sekarang belum nemu sawah yang boleh nyicil bayarnya.

Sedianya kita mau nyoba lagi KPR ke bank, tapi perasaan kok setengah hati ya menjalani proses ini?  Takut ditolak lagi, walau kita udah di-back up oleh marketing salah satu bank.  Ini merupakan opsi pertama.  Sedangkan opsi kedua adalah ngambil pinjaman dari bank di sini.

Yang terjadi kemudian, kita malah menjalankan opsi kedua, yakni mengambil pinjaman lunak dari bank sini.  Mungkin karena lebih simple.  Sebelumnya, aku udah cari informasi tentang kemungkinan ngambil pinjaman baru walau masih ada pinjaman yang lama dan ternyata bisa.  Horeeee…. 

Setelah ngitung-ngitung  jumlah gaji yang bisa disisihkan untuk nyicil DP rumah, maka kita bergegas hunting rumah pada bulan April dan Mei lalu. Setelah rembukan dengan orang tua, rumah ini kita booking tanggal 31 Mei, tepat sehari sebelum harganya naik lagi.  Hasil tabungan, jual perhiasan pas nikahan dan uang kontrak rumah kita putar untuk DP rumah.  Masih kurang dikit lagi, tapi  waktu pelunasan masih ada sampai Januari  2015 nanti pas serah terima kunci dan sertifikat.

Sudah terbayang hidup ala kadarnya yang kembali harus kami jalani, tapi rasanya sebanding dengan nilai aset yang ada.   Semoga tidak ada halangan berarti (baca : kebocoran dana).  Semoga juga diberi kesehatan sehingga sanggup membayar hutang-hutang.

Memang aku menargetkan memiliki aset properti senilai X rupiah, tapi sejujurnya, Tuhan memberi lebih dari apa yang aku minta saat remaja dulu.  Terima kasih yang tidak terhingga untuk semua pihak yang sudah mau berbagi makanannya denganku, berbagi telinga dan hatinya untuk mendengarkan keluh kesahku, berbagi rejekinya untuk sekedar ngopi bareng.  Semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua.

Untuk kalian yang ingin memiliki rumah, segera diniatkan.  Percayalah, semesta akan memeluk mimpi-mimpi kalian.  Semoga catatan ini bermanfaat ya.  

Dari hati yang terdalam,

 

Lintasophia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s