KEBAYA (Yang Belum Beres Part. 2)

Sebelum lanjut  lagi menelisik item-item yang belum lengkap, ini dia up date terbaru dari  souvenir.  Pemirsa, akhirnya urusan souvenir beres juga, masih tetep gelas sablon.  Ga tau gimana caranya, Mas Ipung nemu penjual gelas sablon di daerah Pasar Beringharjo (Jogja). Horeee…seneng pisan.  Teringat kemaren setengah hari Mas Ipung nyangkut  di warnet nge-list ulang penjual gelas sablon di Jogja dan sekitarnya termasuk Semarang, tapi hasilnya nihil.  Jauh-jauh nyari ke Semarang eh malah nemu di pasar.   Harganya lebih murah dibanding penjual yang kami survey selama ini.

Rata-rata harga gelas ukuran 6 cm x 8 cm adalah Rp. 4000- Rp. 4.500 per buah.  Itu harga untuk gelas, sablon 1 warna dan packing plastik.  Untuk packing tile dikenakan biaya tambahan Rp. 1.500/bh sedangkan kotak mika dikenakan biaya tambahan Rp. 2.000/buah.  Artinya, total harga  untuk 1 buah gelas sablon dikemas sarung tile, harganya sekitar Rp. 6.000 – 6.500/buah.  Kita sepakat untuk mengambil gelas dove dengan packing sarung tile.  Dan tahukah kita bayar berapa? Di Pasar Beringharjo  cuma Rp. 4.500/buah.  Horeeee…*ekspresi  abis menang olimpiade.  Penjual sepakat beres dalam waktu 2 minggu, sementara tempat lain rata-rata butuh waktu 1 hingga 3 bulan pengerjaan.  Tanpa fikir panjang, Mas Ipung langsung bayar DP.  Saking senengnya, Mas Ipung sampai kehabisan kata-kata.  Malam ini bisa tidur nyenyak dia…hihihihi…

Puji Tuhan akhirnya dapet souvenir, terutama harganya lumayan miring.  Tepat pula tadi siang, emailku nongol 1 penawaran gelas dove, harganya Rp. 5.500/buah, kemasan plastik, minimum order 300 buah.  Wekksss… Bener-bener bersyukur banget 1 masalah terselesaikan dengan cara tak terduga.  Kalau boleh kasih saran, jika tanggal pernikahan sudah pasti dan dana udah tersedia (paling tidak untuk bayar DP), buruan deh pesen tuh souvenir.  Keburu harganya naik dan bikin souvenir itu butuh waktu saudara-saudara.

*****

OK, kita chek item lain, ini dia : KEBAYA

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Percaya atau tidak, klimaks dari sebuah persiapan pernikahan adalah kebaya.  Kayaknya, kalau kebaya (minimal) udah masuk ke tukang penjahit, calon penganten wanita bisa kembali  melanjutkan hidup dengan tenang.   Selain urusan gedung dan katering, maka kebaya adalah item lain yang membutuhkan konsentrasi khusus.  Banyak calon mempelai wanita butuh waktu berbulan-bulan hunting model kebayanya doang.  Semua majalah dan foto-foto kebaya dikumpulkan.  Karena bikin kebaya itu butuh waktu lama terutama kalau modelnya rumit dan full payet, bisa makan waktu 3 sampai 6 bulan.  Belum lagi keluar masuk pasar baru untuk hunting brokat kebaya.

Dari sini, aku bisa mencium aroma adu argumentasi dengan ibuku bakal terjadi lagi.  Aku pengen penghematan, ibuku pengen ada kebaya  kenang-kenangan. Kerasa banget deh beda cara pandang antara ibu dan anak.   Selain alasan penghematan, aku juga menolak karena bingung cara ngukur badan.  Ibuku ga menyerah (keras kepalaku turun dari ibuku).  Mulai deh tiap hari ibuku meneror tentang model atau warna kebaya yang cocok untuk tunangan dan pemberkatan.   Selalu saja ada cara membelokan pembicaraan hingga akhirnya bermuara pada kebaya.  Cuma ibuku yang bisa begini! 😉

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Brokat untuk kebaya pemberkatan

Sambil senewen, aku curhat-curhat dengan Mas Ipung tentang kebaya ini.  Singkat cerita, mari kita penuhi keinginan ibu selama kita masih sanggup.  Akhirnya jadi jahit kebaya.  Aku mengerahkan Mas Ipung untuk cari bahan brokat dengan panduanku.  Selama 2 minggu muter-muter, aku ga nemu yang sreg di hati.  Dalam hal ini aku menggunakan insting dalam menilai corak brokat yang dikirim via hape.

Ujung-ujungnya, aku beli on line dari London… Weks, apa ga kurang jauh?  Ya karena kebetulan corak yang aku suka ada di London.  Dalam hal ini aku memang agak susah dimengerti.  Lagi-lagi dominan pake feeling.  Pilihanku jatuh pada brokat warna putih gading bermotif sulur-sulur.  Resikonya memang agak susah menemukan chemistry antara brokat warna gading dengan brokat abu-abu cenderung perak.  Tapi biarlah masalah chemistry ini menjadi urusan tukang payet.  Ini dia penampakan brokat kebaya untuk pemberkatan.

Brokat kebaya martumpol

Brokat kebaya martumpol

Lalu bakal seperti apakah?  Untuk desainnya aku dibantu mbak Dilla (kakaknya Uning/sahabat baikku sejak jaman kuliah).  Ada beberapa desain kebaya kutu baru yang kuterima.  Ibuku ga terlalu memusingkan modelnya, sebab aku mau jahit kebaya aja beliau sudah cukup senang.  Yang mendapat kehormatan ketok palu model kebayaku justru bapakku.  Secara garis besar bapak meminta kebaya harus sopan, ga ada adegan bagian dada tumpah ruah dan harus sederhana.

Dalam hal kebaya ini, aku satu selera dengan bapak yang menyukai potongan sederhana dan lembut.  Good bye kebaya Anne Avantie yang cenderung meriah dan mewah.  Aku menyukai kebaya rancangan Vera Anggraini yang lebih klasik, ringan dan lembut.  Ini dia sketsa kebaya yang aku dan bapak pilih :

Kalau difikir-fikir, untuk urusan kebaya dan songket, aku menempuh cara-cara tidak lazim.  Misal nih, songket Tarutung (bukan songket Palembang lho) dijahit di Tarutung, brokat beli di London.  Setelah brokat aku terima di Genova, tuh brokat masih keliling lautan dan beberapa negara lainnya sebelum tiba di Jogja.  Brokat itu aku titipkan pada salah satu kru kapal yang kebetulan mau pulang ke Jogja. Sebelum pulang ke Indonesia, dia masih harus ke Barcellona dulu dan beberapa negara lainnya.   Seru!  Makasih banyak, Mas Andi.  Jasamu tak akan kulupakan.

Sketsa kebaya pemberkatan

Sketsa kebaya pemberkatan

Bagaimana menyelesaikan urusan ukuran badan?  Kebetulan aku punya kebaya yang dijahit 9 tahun lalu dan ukurannya masih pas di badanku, hmmm…agak sempit sih.  *umur ga bisa bohong.  Ibuku mengirim selendang songketku plus  2 kebaya (warna hitam dan pink) ke Jogja sebagai panduan.  

Kebaya hitam pendek sebagai patokan ukuran badan, sedangkan kebaya pink sebagai patokan panjang kebaya.  Nah, selendang songket adalah panduan untuk milih warna payet.  Semua serba main kira-kira.  Kurang lebih, hasil akhirnya seperti foto di bawah, cuma beda bagian leher dan bawah kebaya aja.  Semoga hasilnya sesuai dengan harapan, terutama ukuran badan.

Mari membandingkan harga jahit kebaya di Bandung dan Jogja (terutama di tempat aku jahit kebaya ini).  Di Bandung, ongkos jahit 1 kebaya pengantin sederhana (pendek/sepinggang) berkisar 2 juta sampai 3 juta rupiah.  Payet cuma bagian tertentu saja, biasanya leher/dada dan pergelangan tangan.  Kalau full payet harganya lebih ngeri lagi, bisa sekitar 8 jutaan (tergantung model dan panjang kebaya).  Lalu, berapa tarif di Kebaya Laksmi Anjani?

Kurang lebih seperti ini

Kurang lebih seperti ini

Yang aku suka, di Laksmi Anjani ongkos jahit dihitung per item, untuk jahit Rp. 250.000, bustier 300.000 dan payet start dari Rp. 500.000 untuk payet bagian dada/leher dan pergelangan tangan.  Enak, bisa disesuaikan dengan keadaan kantong.  Khusus brokat Prancis seperti punyaku, dikenakan biaya jahit tambahan Rp. 200.000 (diskon, charge awal Rp. 250.000).

 Memboyong jahitan ke Jogja juga merupakan salah satu langkah strategis yang kita akui cukup membantu menekan pengeluaran.  Rencananya mau jahit 3 kebaya.  Kerasa banget kan penghematan yang berhasil kami lakukan?

Tadi What’sappan dengan mbak Iin (pemilik Kebaya Anjani).  Katanya, akhir bulan kebayaku sudah jadi.  Semoga hasilnya sesuai harapan ya sodara-sodara.

Salam hangat,

Lintasophia

Foto dari Google dan koleksi pribadi

Iklan

13 thoughts on “KEBAYA (Yang Belum Beres Part. 2)

    • lintasophia berkata:

      Hallo mbak Ika,

      Nih alamat Kebaya Anjani :
      Jalan Anggajaya 1 No. 188, Condong Catur Jogjakarta.

      Atau, coba search FB-nya Sewa Kebaya Yogyakarta.
      Makasih udah mampir di Lintasophia ya. Met hunting kebaya.

      Salam,
      Lintasophia

  1. Lia berkata:

    Halo sis, sy lagi nyari2 brokat jg, ketemunya blog nya sis, n brokatnya sis jg masuk bgt ke hati aku, hehee…
    gmn cara beli online brokatnya y? harganya kisaran brp y?
    thx sebelumya sis

  2. mega berkata:

    waaahh….puji Tuhan sampai di blog ini,lagi bingung banget mikirin nikahan ini.mbak,bisa minta nomor kontak owner kebaya anjani?makasih banyak mba

  3. Nova berkata:

    hai mba…Aku boleh minta nomor telepon “sebayang musicnya ga?’ kebetulan mamah aku ngasih syarat yang sama untuk masalah musik…hehehe

    • lintasophia berkata:

      Hallo mbak Nova,
      Coba kontak bu Nani (Rumah Kebon Cengkeh), dulu musik uda 1 paket dari mereka. Tinggal kita milih aja.
      Sebayang music keren dan kooperatif banget. Highly recommended lho.
      Sukses untuk acaranya ya…

      Lintasophia

    • lintasophia berkata:

      Aduh, mohon dimaafkan baru bisa on line lagi. Kayaknya aku ga punya deh nomer kontaknya. Dulu yang urus bu Nani RKC. Coba tanya beliau.
      Sebayang keren dan cooperatif banget deh.

  4. Lana berkata:

    Haii,sist. Mau nanya hasil kebayanya yg jahitin di iin laksmi anjani bagus gak? Kebetulan q lg nyari” penjahit kebaya. Mksh y.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s