Ulang Tahun. Yang Hilang, Yang Terbang

Pukul 01.37 dini hari, tiba-tiba si empunya blog gatel ingin bercerita tentang ulang tahunnya yang sudah lewat seminggu lalu.  Betul, minggu lalu aku baru saja berulang tahun ke-34.  Jadi, sekarang  kalau ada yang menanyakan umurku, udah sah dijawab : jalan 35 (tahun)…. Ahhh, masih muda. *ekspresi menang.

Bulan November ini rasanya cepet banget berlalu. Kemarin tuh tiba-tiba udah nyampe 12 November dan mulai ditodong pertanyaan tentang kado apa yang aku inginkan.  Ritual patungan dan membelikan kado bila salah satu diantara kami berulang tahun, memang masih kami pelihara sampai sekarang.  Di tengah tumpukan pekerjaan dan diselingi ngurus nikahan, aku tidak sempat memikirkan kado apa yang aku inginkan untuk ulang tahun kali ini.

Sadar bahwa sebentar lagi usiaku bertambah, malah membawaku bernostalgia pada perjalanan hidupku mulai  beberapa tahun terakhir hingga beberapa bulan terakhir.  Ceritanya, pertengahan 2010 lalu aku membeli rumah di Bandung dengan cara mencicil secara bertahap selama 3 tahun kepada pengembang.  Berdasarkan kesepakatan, rumah akan lunas pada Juni 2013 walau akhirnya mundur menjadi Agustus 2013 karena aku ada bolong membayar pas bulan Februari lalu.  Namun masalahnya bukan di situ.

Jadi, sekitar 23 Juli lalu kakakku mengabarkan bahwa rumah yang selama ini aku bayar dan tinggal 2 kali cicil ternyata bermasalah.   Sertifikat rumah yang masih atas nama pengembang digadaikan oleh pimpinan pengembang ke pihak lain.  Sampai saat ini belum terlacak siapa yang pegang sertifikat rumah yang telah kubayar 99 % LUNAS.  Bahkan Bu Eva sebagai developer ikut-ikutan menghilang dan oleh Kepolisian  statusnya menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kira-kira, gimana ya perasaanku saat itu?  Mungkin bila aku membuat tulisan ini beberapa saat setelah kejadian, bisa sangat emosional dan berdarah-darah.  Dulu rumah itu aku beli untuk para keponakanku yang saat ini tinggal bersama ibu dan bapakku.  Skenarionya, sewaktu-waktu para keponakan membutuhkan tempat tinggal, maka mereka akan tinggal di situ.

*****

Karena beberapa perkembangan terjadi dalam keluarga, kembali skenario harus diubah.  Rumah itu akan dijual untuk modal usaha, dalam hal ini untuk membeli sebuah penginapan di Yogyakarta.  Secara garis besar, langkah ini sebagai jaminan bahwa para keponakanku akan mendapatkan penghasilan setiap bulannya.  Sampai sekitar awal bulan Juli semua berjalan mulus.

Rumah sudah tahap negosiasi pada kakakku yang berminat untuk membelinya.  Secara bersamaan, di Jogja sana ada beberapa properti yang sudah masuk tahap negosiasi.  Beberapa properti yang sesuai  kebutuhan pun sudah disurvei dan dihitung hingga detail.  Sudah menemukan beberapa yang cocok.  Ibarat kata, tinggal tunjuk dan transfer uang muka dari hasil penjualan rumah di Bandung.

Konsep, nama dan logo penginapan, email, standard operasional hingga rencana jangka pendek dan menengah sudah aku dan Mas Ipung siapkan.  Begitu cepat?  Iya, karena dari dulu aku memang pengen punya penginapan.  Bahkan, aku udah menyiapkan nama dan font-nya.

Begitulah, ditengah proses negosiasi muncul khabar tidak sedap.  Sempat aku merasa seperti mimpi.  Butuh 2 hari untukku menerima kenyataan bahwa rumah dalam masalah.  Pas kakakku menyampaikan berita duka ini, reaksiku biasa banget.  Beneran!  Namanya juga orang lagi linglung.  Setelah 2 hari berlalu dan percaya bahwa semua ini nyata, mulai deh nangis terus….hahahaha, parah banget deh telminya.

Bener-bener bingung, bagaimana hidup ke depannya.  Karena menjual rumah itu dan membeli penginapan di Jogja adalah rencana paling dekat dan tinggal ketok palu.  Sampai sekarang kadang masih ga percaya ini terjadi.  Selama 2 bulan masih suka nangis, dan mellow-mellow gitu.  Untungnya ga sampai pada tahap suka ngomong sendiri….Iiih amit-amit…*ketok meja.

Ketimpa masalah seperti ini, ibarat rumah kemasukan maling dan mengambil semua yang kita miliki.  Terus terang, sejak mengumpulkan DP hingga masa mencicil setiap bulannya, aku tidak sempat nabung lagi.  Boro-boro nabung kale, bisa survive juga udah syukur.  Seringnya sih gali lubang tutup lubang….tosss… *mulai stress dan emosional. 😦 .  Jangankan nabung, yang ada juga karena nyicil rumah, aku masih memiliki hutang…grrrrhhh….

Apa yang paling menyakitkan dari sebuah (nyaris) kehilangan?  Jawabnya ; kenangan.  Iya, yang aku punya sekarang adalah kenangan  masa-masa berat selama 3 tahun ini.  Kalau tidak salah, aku sempat menulis status di FB-ku : kalau jadi ambil, berarti bakal puasa 3 tahun.  Kuat ga ya?

Status di FB itu benar adanya saudara-saudara!  Entah pegimana polanya, begitu aku jadi mengambil rumah itu, tiba-tiba krisis menjadi.  Aku bahkan pernah mengalami periode kerja cuma weekend aja.  Haduuuuh, bagaimana membayar pengeluaran rutin bila kerjaan juga ala kadarnya padahal pengeluaran justru lebih besar dari sebelumnya?  Agar bisa tetap membantu orang tua, membayar rumah dan pengeluaran rutin (dan tidak bisa dihindari), aku terpaksa melakukan adaptasi lumayan ekstrim.

Aku udah ngalamin deh merapel (menggabungkan) makan siang eh sore dan makan malam.  Ini terjadi pas aku cuma kerja Jumat dan Sabtu aja, otomatis aku makan di rumah.   Ceritanya, biar kenyangnya agak lama, makan siang aku mundurkan beberapa jam.  Kalau biasa makan siang pukul 14.00 atau 15.00, maka aku makan sekitar pukul 17.00 sore.   Itu namanya makan siang sekaligus makan malam.   Dengan demikian perutku tetap kenyang sampai malam.  Emangnya kenyang?  Ga selalu sukses sih… Sering aku menyiasati dengan banyak-banyak minum air putih.  *nulis ini udah mulai nangis.

Menunya pun bener-bener parah.  Biasanya aku membeli pasta dan sebotol saosnya.  Pokoknya, selama saos di botol belum habis, aku makan dengan menu yang sama.  Bisa jadi, dalam seminggu aku makan pasta kupu-kupu secara berturut-turut  Mabok…mabok deh.  Selama masa nyicil rumah, makan di luar adalah kemewahan luar biasa untukku.

Adaptasi apa lagi yang kulakukan?  Hampir 2 tahun aku tidak beli pakaian sekalipun amat sangat butuh banget.  Seingatku, baru tahun lalu aku mulai belanja sweater dan baju hangat itu pun nyari yang murce (murah cekali) atau saat diskon.  Semua merk kosmetik di down grade.  Bila awalnya masih kuat pakai Collistar dan Christian Dior,  diganti ke yang agak murce hingga berlabuh pada muceli alias murah cekali.. * 😉 😉

Ada cerita lucu tentang parfum muceli ini.  Suatu hari, aku kehabisan parfum dan pastinya sedang tidak sanggup beli Christian Dior.  Akhirnya aku beli merk Nivea botol kaleng yang di dalamnya terdapat  gundu.  Biasanya, sebelum disemprotkan, kaleng digoyang dulu hingga menimbulkan bunyi kolantang…klontang…  Siang itu, aku dan adikku sedang siap-siap mau ke stand bazaar di Firenze.  Kami sedang dandan, sudah mandi.  Aku mengeluarkan parfum Nivea, menggoyang-goyangnya hingga siap untuk disemprotkan.

”Apa itu, Nit?”  Tanya adikku yang rupanya bunyi kaleng Nivea mencuri perhatiannya.

”Ini parfumku.”  Jawabku sambil menyemprotkan parfum.

”Oh parfum, kirain pengharum ruangan.”  Timpalan adikku membuatku sadar betapa  besar banget perubahan yang aku tempuh demi cicilan rumah aman terkendali.

Setiap bulan, setelah terima gaji adalah moment paling mendebarkan.  Bagaimana menyiasati penghasilan agar semua pos terpenuhi?  Puji Tuhan, kalau flash back rasanya ga percaya aku bisa melalui semua ini.  Karena secara rasio pendapatan dan pengeluaran memang sudah tidak sehat dan cenderung kritis, sering keluar masuk UGD atau gali lubang tutup lubang.  Aku harus berterima kasih kepada keluarga dan teman-teman yang mensupport selama ini.

Banyak sekali kenangan sadis dan berdarah-darah lainnya.  Selama 3 tahun ini, aku harus skip jalan-jalan.  Ketika orang lain jalan-jalan saat cuti musim panas, aku memilih bekerja.  Masih inget ceritaku terancam ga bisa ikut mudik karena ga punya duit?  Ya, itu salah satunya…  Gila banget yaaaa… *hapus ingus.

Aku juga terpaksa memutus tali persahabatan dengan tas-tas bagus dan berharga mahal…  Ini agak susah.  Tapi saat ga punya duit, semuanya menjadi mudah.  *miris.  Kemana-mana aku pasang kaca mata kuda agar tidak mudah tergoda.  Awalnya memang berat tapi akhirnya jadi kebiasaan.

Proses 3 tahun ini secara tidak sadar ternyata mengubah kebiasaan belanjaku menjadi lebih hemat dan selektif (baca : pelit).  Istilah think before you pay, setiap hari aku terapkan.  Puji Tuhan, sekarang mah udah kebal sama tas-tas atau sepatu lucu, walau pernah sih terpeleset.  Manusiawi kan? But the fact is : aku  memang selalu ga punya duit sih.  Pan masih nabung buat nikahan…*membela diri.

*****

Kita udah bicara beberapa pengalaman selama 3 tahun ini.  Lalu bagaimana perasaanku sekarang?  Pastinya sedih, gila, stress dan sejenisnya.   Secara  kita lagi ngomongin rumah yang harganya di atas 350 jeti.  Dan bagian paling menyedihkan, itu adalah tabunganku selama ini.  Mungkin bagi orang lain itu ga seberapa, tapi untukku sangat berarti karena memang udah direncanakan untuk modal usaha bagi kelangsungan pendidikan para keponakanku.  Sampai abis air mataku mendoakan semoga masih rejekinya anak-anak dan rumah itu kembali lagi.

Kalau sekarang ditanya rencana selanjutnya apa?  Blank!  Aku masih belum bisa mikir.   Perasaanku sekarang udah ga sekalut bulan Juli lalu.  Aku mencoba mengiklaskan apa yang terjadi  termasuk menyiapkan  diri bila kondisi terburuk terjadi.  Awalnya memang sulit memahami semua ini dan sampai sekarang pun aku ga faham-faham kenapa mesti aku ya?  Keluarga dan sahabat-sahabat mencoba meyakinkan bahwa ada hikmah dibalik semua ini.  Tetep, sampai sekarang juga masih belum nemu hikmahnya.

Kadang bapak dan ibuku juga mikir, salah apa Nita kok bebannya berat terus?  Tapi semakin difikirin ya semakin ga bisa mikir.  Beneran…. Yang ada aku susah makan dan tidur.  Pernah beberapa hari berturut-turut aku ga tidur.  Kadang aku tidur eh tertidur lebih karena kecapaian menangis.  Kondisiku bener-bener buruk dan nyaris sakit karena ga makan dan ga tidur.  Menurut ibuku, aku cukup tangguh selama 3 tahun ini mencicil tanpa putus (nunggak) walo hidup serba dalam keprihatinan.  Dulu sering gamang, bakal mampu ga ya melunasinya?

Pertanyaan yang sama muncul beberapa bulan lalu saat kasus ini menguak.  Mampu ga ya menghadapinya?  Bagaimana bila ternyata rumah benar-benar hilang?  Bagaiman dengan rencana-rencana yang telah kami susun?  Bagaimana dengan anak-anak?   Setelah aku berusaha ikhlas, semuanya terasa lebih ringan.  Aku percaya, setiap orang udah punya jalan dan jatahnya masing-masing.  Semua ini hanya titipan.  Bila si Dia berkehendak, apa aja boleh Dia ambil kok. *lagi bener.

Tepat pas ulang tahun kemaren, rasanya ga henti-henti bersyukur masih bisa tegar menghadapi sekian banyak masalah.  Bapak dan ibu atau teman-temanku salut karena aku masih bisa ngamuk-ngamuk, lucu dan bersikap sadis.  Berarti aku masih normal.  Ulang tahun tidak selalu berarti menerima kado-kado indah, namun juga melepaskan sesuatu  sesuatu  yang hilang dan terbang.

Salam hangat,

Lintasophia

Iklan

2 thoughts on “Ulang Tahun. Yang Hilang, Yang Terbang

  1. Sary Melati berkata:

    “Ritual patungan dan membelikan kado bila salah satu diantara kami berulang tahun” nya cakep mba, kalo saya cuma gantian beliin cake aja buat yang berulang tahun, langganan kita sih di pelangicake.com abisnya bisa menta di custom biar unik ga cake nya yang itu2 aja XD

    • lintasophia berkata:

      Iya, mbak. Itu memang semacam tradisi kita biar tetep inget satu sama lain, apalagi semuanya jauh dari keluarga. Salah satu cara mujarab ngumpul dan makan kue. Kalo kue biasanya mesen dari langganan.
      Makasih udah mampir di sini, salam hangat dari Lintasophia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s