Our Wedding Songs

Sejak memutuskan untuk menikah,  aku jadi rajin nulis. terutama masalah pernikahan dan printilannya.  Mumpung timingnya pas dan lumayan untuk kenangan-kenangan.  Semoga kalian tidak bosan ya…

Kita mau menikah secara sederhana, maka fokus utamaku dan Mas Ipung adalah prosesi pemberkatan.  Diibaratkan sebuah film, prosesi pemberkatan adalah pemeran utama, sedangkan makan siang adalah pemeran hiburan….hihihihi…  Beruntung kita akan mengambil paket pernikahan,  jadi serasa punya WO yang bantuin ngurus ini itu.  Untuk urusan undangan, suvenir, songket, perias dll kita sudah kontak.   Tinggal bayar tanda jadi saja begitu jadwal pemberkatan diputuskan oleh gereja.

Nah, sambil nunggu jadwal pemberkatan,  aku  akan cerita tentang lagu-lagu yang bakal ada di pemberkatan nanti termasuk alasan pemilihan lagunya.  Susunan acara dan lagu-lagu selama pemberkatan biasanya sudah ada tata cara tersendiri.  Namun masalah lagu dan acara masih boleh dirubah asal tidak mengubah pakem yang ada.  Dan pastinya selama disetujui majelis gereja. ;)   Ok, ini 2 lagu utama pas pemberkatan nanti ;

1.  If you’re not the one  (Daniel Bedingfield)

Alasan :

Ga ada alasan khusus milih lagu ini.  Kebetulan aja lagu Christina Perri (Thousand Years) atau From This Moment-nya Shania Twain sudah terlalu sering jadi lagu kawinan.  Mungkin pengen sedikit beda aja… *nyari alasan.   Jujur, aku dan Mas Ipung ga punya banyak lagu kenangan yang bisa dipakai referensi untuk pemberkatan.  Maklum saja, 11 tahun pacaran jarak jauh,  kalau bertemu pun setiap mudik, maksimal 10 hari itu tidak selalu ada lagu-lagu yang menyertai.  Minim lagu.  *nasib cinta jarak jauh.

Eh ada deng beberapa lagu hits pas aku mudik dan jalan bareng Mas Ipung.    Sekitar 2006 ada lagu dangdut judulnya : SMS Siapa ini, Bang?  Yang mau nyari di Youtube, penyanyinya Ria Amelia.  Liriknya seperti ini :

Bang, SMS siapa ini Bang

Bang , pesannya pakai sayang-sayang…

Hehehe, ga mungkin banget kan lagu dangdut beraroma Minang ini dipakai pas pemberkatan?

Lagu lainnya yang sempet booming, seluruh penjuru toko di Yogya menyetel lagu ini, saling bersahut-sahutan.  Apalagi kalau bukan Ayat-ayat Cinta yang dinyanyikan oleh Rossa.  Lagu ini lebih slow dan romantis tapi tetep aja tidak ada chemistry sebagai lagu untuk pemberkatanku nanti.   Beberapa temen juga merekomendasikan lagu tapi aku lebih klik dengan Daniel Bedingfield.

Setelah lama baru aku bisa menemukan jawaban kenapa keukeuh akan lagu ini.  Dulu banget, pas kita baru jadian, lagu ini populer banget.  Kalau ga salah, kita dengerin lagu ini pas nginep di rumah Echi di Puri Cipugeran  (Cimahi), sekitar bulan April 2003.  Buset, aku sampe apal gini.  Dulu mah ga kefikiran nikah make lagu ini.  Boro-boro kali mikir sejauh itu, wong baru sebulan jadian.  Aku suka liriknyaaaaa….

If you’re not the one

Why does my soul feel so glad today?

If you’re not the one

Why does my hand fit your this way?

If you’re not the mine

Then why does your heart return my call?

If you’re not mine

Would I have the strength to stand at all?

I never know what the future brings

But I know your here with me now

We’ll make it through

And I hope you are the one I share my life with

Lirik selanjutnya bisa dilihat di Youtube sambil nyanyi-nyanyi.  Ada kalimat yang bagus banget, selain yang aku bold di atas :

And I pray that you are the one

I build my home with…

I hope I love u all my life…

Bagus banget ya.  Seakan-akan lagu ini diciptakan untuk aku dan Mas Ipung… *ngakak guling-guling.   Sayang kalau lagu bagus seperti ini diacuhkan… *masukin ke list.

Jadi, lagu ini akan dipakai pas aku dan bapak tiba  gereja.  Bapak yang akan nganter aku nemuin Mas Ipung yang udah nungguin di altar.  Prosesi  ini kita pilih sebagai bentuk penghargaan kita pada bapak atas andilnya memuluskan pernikahan sederhana.  Rasanya ga ada kalimat yang bisa menggambarkan rasa terima kasihku dan Mas Ipung atas kebesaran jiwa bapak.  Makanya, detik-detik terakhir melajang, pengen dilewatkan dengan bapak.  *anak papi.

2.  Nang Gumalunsang Angka Laut  (Dipopulerkan oleh Victor Hutabarat)

Lirik :

Nang gumalusang angka laut,   (Walau laut bergemuruh)
Nang rope halisungsung i,   (Walau angin besar datang)
Laho mangharophon solungki.   (Hendak mengkaramkan kapalku)
Molo Tuhan parhata saut,   (Bila Tuhan  berkehendak)

Mandok hata na ingkon saut,  (Maka kehendak-Nya jadilah)

Sai saut doi, sai saut doi, sai saut doi.   (Maka terjadilah, terjadilah)

Ndang be mabiar ahu disi,   (Aku tak takut lagi)
Mangalugahon solukki,    (Mengayuh kapalku)
Ai Tuhanku donganki,    (Karena Tuhan besertaku)
Tung godang pe musukki.   (Meski banyak musuhku)
Na mangharophon solungki,    (Yang ingin mengkaramkan kapalku)
Sai lao do i, sao lao do i sian lambungku i.   (Semua itu akan jauh, jauh dari sisiku)

Hatop marlojong do solukku tu labuhan na sonang,  (Kapalku melaju kencang menuju kebahagiaan)
Naso adong be dapot hasusahan i.  (Aku tak lagi merasa susah)
Tudos tu si nang pardalanan ki,   (Walau ke mana perjalananku)
Laho mandapothon surgo i.   (Untuk mendapatkan surga)

Reff:

Sipata naeng lonong do ahu,   (Kadang aku nyaris tenggelam)
So halugahan galumbang i.  (Betapa gelombang tak terlawan)
Tudia ma haporusanku i,  (Kemana kubawa kesedihan ini)
Ingkon hutiop tongtong Jesus i.  (Tangan Yesus selalu kupegang)

Ditogu-togu tanganku,  (Ia menuntun tanganku)
di dalan na sai maol i.  (Di jalan yang sulit itu)
Di parungkilon hasusahan,  (Sekalipun dirundung kesusahan)
Tung Jesus haporusan ki.   (Cuma Yesus harapanku)
Nang pe di dalan lao tu surgo,  (Dalam perjalanan mencari surga)
Diiring Jesus ahu disi.  (Tuhan selalu bersamaku)

*alih bahasa ala Lintasophia

 *****

Hari Minggu kemarin pas aku minta ijin lagu ini dipakai pas sungkeman, ibuku langsung nangis.   Beliau terharu banget.  Lalu aku inisiatif menyetel lagu Nang Gumalunsang Angka Laut di youtube.  Lewat Skype, aku dan ibuku nyari bareng.   Suara ibuku timbul tenggelam.  Terpotong antara mengatur nafas, bernyanyi, menangis dan menghafal lirik yang kadang tidak cocok dengan tulisan yang muncul di layar komputerku.  Sangat emosional.  Masih 5 bulan lagi, tapi ibuku udah nangis kayak mau ditinggal jauh.  Apa setiap ibu akan seperti ini jika anaknya menikah?  Aroma nikahannya udah kecium banget.

” Aku masih ga percaya Nita mau nikah.”  Kata ibuku sambil nyanyi dan nangis.  Usahaku meredam tangisnya sia-sia.   Duh,  baru dengerin lewat telfon aja ibuku udah begini, apalagi pas pemberkatan nanti.  Curiganya mah, tissue doang ga akan cukup.  Tampaknya perlu dipertimbangkan untuk menyediakan handuk.  Semoga semua fihak bisa mengendalikan diri pas hari H nanti.

Alasan memilih lagu ini :

Dari sekian banyak lagu rohani, dari dulu aku suka lagu ini terutama kalau beban lagi berat-beratnya.  Lagu ini menggunakan banyak sekali bahasa personifikasi alias ungkapan-ungkapan.  Bercerita tentang sebuah sampan, dalam hal ini tentu saja bisa diartikan sebagai pribadi, pasangan bahkan rumah tangga.

Walau angin besar dan badai menghadang hampir membuat kapalku karam.  Berkat Tuhan Yesus sampanku bisa bertahan dan melaju kencang.    Intinya seperti itu.  *alih bahasa ala Lintasophia.

Sampai hari ini, aku dan Mas Ipung adalah pasangan berbeda keyakinan.   Officially Mas Ipung belum dibaptis.  Berdasarkan jadwal GKJ, rencananya November Mas Ipung baru dibaptis.  

Aku ga tahu kapan persisnya Mas Ipung mulai ke gereja,  sebab semua proses ia jalankan secara diam-diam.  Mungkin sekitar tahun 2008.  Lalu, kenapa ga dari dulu dibaptis?  Kalau ini sebagian besar adalah karena keras kepalaku.  Bagaimana bila ga berjodoh?  Mungkin aku akan merasa bersalah… Pokoknya, sejuta ada sejuta bagaimana…bagaimana kalau…

Kalo inget bandelnya aku selalu menahan Mas Ipung untuk baptisan, rasanya emosi jiwa.  Padahal selama bertahun-tahun, Mas Ipung rutin kebaktian, persekutuan dengan adik-adik Papua.  Bahkan, di rumah juga suka ada persekutuan doa oleh tetangga seiman atau GKJ deket rumah.  *siram kepala pakai air es.

Ibuku memuji bahwa memakai lagu ini pas pemberkatan nanti sebagai pilihan tepat.   Dalam lagu ini ada doa setiap orang tua yang akan melepas anaknya memasuki biduk rumah tangga.  Kembali ibuku mengeluarkan jurus-jurus bertahan dalam pernikahan Kristen.  Ibarat kata, menikah itu serupa mengayuh sampan di atas lautan.  Angin dan gelombang bisa datang kapan saja berusaha mengkaramkan sampanmu.  

”Tetap pegangan, saling berpegangan…”  Seru ibuku.  

”Ok, mom.”

”Walau banyak badai, akhirnya menikah juga.”  Sambung ibuku lagi, mengingat belakangan ini banyak banget cobaan menghampiriku.

”Iya, menikah dalam badai.”  Kataku…

Salam,

Lintasophia

2 thoughts on “Our Wedding Songs

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s