Konsep Pernikahanku. Sebuah Negosiasi yang Alot

6 (enam) bulan sejak aku memplokamirkan diri akan menikah tahun depan, belum ada satu pun report  persiapan pernikahan ini, karena sejatinya memang  tidak ada progress signifikan sih .😦   Bahkan kalau boleh jujur, aku mengalami bulan-bulan berat setelah proklamasi itu.  Penyebab utamanya apalagi kalau bukan perbedaaan antara kemauan, kebutuhan dan kemampuan (baca : finansial) antara keluarga dan calon pengantin.

Perbedaan suku antara aku (Batak)  dan Mas Ipung  (Jawa) salah satu penyebabnya.  Bukan, ini bukan masalah restu yang tak kunjung turun tapi proses adat yang harus kami jalani sangat berat untuk kondisi kami saat ini.   Dari dulu ibuku sudah mensyaratkan bahwa adat Batak yang akan dipakai bila kelak kami menikah.  Untuk hal ini aku dan Mas Ipung tidak pernah menolak asal kondisi kami memungkinkan.  Tentu saja Mas Ipung tidak mau dianggap sebaga calon menantu kurang ajar atau tidak bertanggung jawab.  Satu sisi, Mas Ipung juga penasaran bagaimana sih rasanya menikah dengan tata cara adat Batak.  Difikir-fikir, justru Mas Ipung yang paling heboh pengen  mangadati.  :)

Masalah kemudian muncul karena aku dan Mas Ipung ternyata tidak sanggup memenuhi harapan orang tua, terutama ibu.  Duh Gusti, bukan cuma ibu yang kecewa, perasaan kami juga hancur berkeping-keping.  Namanya anak, dimana-mana pasti ingin menyenangkan orang tua.

Sekalipun kami sudah menjelaskan kondisi finansial yang menyebabkan kami tidak mungkin menikah dengan adat Batak secara penuh (mangadati) dan memberi marga untuk Mas Ipung, ibuku tetap tidak bergeming.  Negosiasi demi negosiasi kami jalankan tapi ibuku tetap pada pendiriannya.  Rasanya tidak percaya menghadapi situasi itu.  Ibu yang kufikir paling ngerti keadaanku justru berbalik arah menjadi sangat tidak bersahabat.

Aku merasa kehilangan sosok yang selama ini menjadi sandaran saat aku lelah.  Satu-satunya kesepakatan yang berhasil kuraih saat negosiasi beberapa bulan lalu adalah, ibuku sepakat untuk menerima mengganti kerbau menjadi seekor babi.   *Jleb… Benar-benar aku tidak menyangka bahwa ibu menjadi rival terberatku untuk pada pernikahanku.  Padahal umumnya keluarga belah pihaklah yang konon akan rebutan akan konsep pernikahan anaknya, terutama adat mana yang akan dipakai.  Keluarga Mas Ipung dari jauh hari sudah memasrahkan hal ini padaku dan Mas Ipung.  Istilahnya, mereka ngikut seneng aja apapun keputusan kami.

Selama hampir 3 bulan proses negosiasi, tak terhitung berapa kali aku dan ibu berantem di telfon.  Masing-masing dari kami menyodorkan argumennya.  Tudingan bahwa aku dan Mas Ipung ”tidak tahu adat”  pun kuterima dengan lapang dada sambil nangis-nangis tentunya.

Sesedih apapun perasaanku dan Mas Ipung, kami tetap berusaha melihat sikap kontra yang ditunjukan oleh ibu sebagai bentuk sayang dan gembiranya atas pernikahanku yang telah lama ditunggu-tunggu.  Wajar pula ibuku bersikap demikian karena aku adalah anak perempuan terakhirnya dan menurut kepercayaan umum sudah agak ”telat” pula untuk menikah.  Pas nikah tahun depan umurku hampir 35 tahun saudara-saudara!

Sekedar gambaran,  beberapa kali bapak dan ibuku sebagai wali nikah orang lain, biasanya menjadi orang tua untuk mempelai yang berasal dari luar suku Batak.  Nah, kebayang kan perasaan ibuku yang biasanya menikahkan anak orang lain dengan adat Batak penuh sedangkan anak sendiri menikah ala kadarnya…hehehhehe…

Aku yakin, pelan-pelan, ibu sudah merangkai imajinasi indah dan pola yang indah akan pernikahanku kelak.  Sayangnya, imajinasi yang telah beliau gambar selama bertahun-tahun harus kami rusak dalam hitungan hari.  Tidak ada pesta besar, kami cuma sanggup pemberkatan saja.    I’m really, really sorry, mom.

Karena urusan perbedaaan pendapat ini, aku pernah mogok nelfon ke rumah hampir 1 bulan.  Biasanya minimal seminggu sekali aku menelfon ke rumah.  Kalaupun aku nelfon, lebih karena urusan anak-anak (ponakan), tidak lebih.  Obrolan tidak lagi hangat.  Aku dan ibu sama-sama marah,  merasa asing dan jauh.  Sedikit saja beda pendapat bisa membuat gagang telfon ikut terbakar.  Saking putus asanya, aku sempat mengancam tidak akan menikah kalo masih ada unsur pemaksaan seperti ini.   Cara ini lumayan berhasil.  Ibuku mulai melunak.  Mungkin trikku ini bisa teman-teman tiru kalau sudah mentok…hahahhahaha…

Bagaimana dengan sikap bapakku?   Suatu hari, mungkin bapak sudah tidak sanggup melihat ketidaksehatan komunikasi antara ibu dan anak, akhirnya beliau turun tangan.  Dengan nada lembut bapakku meyakinkan untuk maju terus sesuai kemampuan sekalipun cuma pemberkatan.  Puji Tuhan, itu berita terbaik yang kudengar selama negosiasi ini.

”Dilarang memikirkan hal-hal yang diluar jangkauan kita.  Case closed.”  Kata bapakku.  Horeeee….hore…tahun depan aku kawin… *singing😉.

Salam hangat,

Lintasophia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s