Semoga Tahun Terakhir Pacaran

Yeay….  Judulnya gurih banget!!.  

23 Maret 2013 kemarin, tepat 10 tahun berpacaran antara aku dan Mas Ipung.  Jangan ditanya gimana rasanya pacaran selama itu.  Namun kita menjalaninya dengan santai, saking santainya sampai ga terasa 10 tahun dan jarak jauh pula.  Kalau difikir-fikir, selama 10 tahun pacaran, baru sekali saja  kita merayakan ulang tahunku, ulang tahun Mas Ipung, Natal dan tahun baru  secara bersama-sama.  Sisanya dirayakan di udara (baca : telfon atau SMS).

Jadi, dulu setahun pertama pacaran, aku masih tinggal di Bandung dan Mas Ipung di Jogja.  Sebulan sekali, ia mengunjungiku di Bandung selama 2 atau 3 hari atau aku menyambangi Jogja.  Ah gila, waktu benar-benar ga terasa ya.  Dulu waktu pertama kali ketemu, Mas Ipung rambutnya panjang banget, nyaris sepinggang.  Gayanya rock and roll.  Januari lalu pas ketemu, rambutnya sudah klimis khas gaya kelas pekerja.

Menurutnya, 12 tahun lalu pas kita pertama kali ketemu (belum pacaran), gayaku ancur dan preman banget.  Ini semua orang mengakuinya dan ampe sekarang juga masih ancur sih.  Tapi kemaren pas ketemu, si dia memujiku.  Katanya, walau secara gaya berpakaian masih gitu-gitu  aja (kaos oblong atau kemeja dengan lengan dilinting), sekarang aku lebih rapi dan  lembut cara jalannya.  Thank’s to  God!

*****

”Hei, kapan kalian kawin?”  Tanya seorang sahabat lama kami pas ngumpul-ngumpul suatu malam saat menghabiskan beberapa teguk miras yang sengaja kubawa sebagai buah tangan.

”Belum tahu.”  Jawabku acuh sambil membenahi jaketku untuk mengusir dinginnya malam di seberang Taman Societet Jogja.

”Dulu  (tahun 2011), kalian bilang target untuk  nikah 2 tahun lagi (artinya 2013, saat percakapan ini terjadi).”  Tanya sahabatku lagi.

”Lha, bukannya target memang harus dilewati?”  Jawabanku yang diplomatis tak urung membuat suasana lewat tengah malam layaknya baru lepas maghrib.

”Semprullll….”  Balas temanku.

Obrolan di atas merupakan kondisi umum ketika aku diajak bicara mengenai pernikahanku; acuh, dingin dan ga asyik.  Aku bisa berubah jadi monster menakutkan bila ada pihak yang memaksaku untuk membicarakan hal ini.  Belum pernah dalam sejarah, aku mampu membicarakan atau memikirkan pernikahan selama 1 jam penuh.  Biasanya cuma kalimat ini yang melintas  ”Menikah?  Oh, ntar aja deh.”  Nah, untuk kalimat seperti itu, menurutmu butuh waktu berapa lama untuk melintas di benakku?

Tapiiiii, itu dulu.  Sejak mudik Januari lalu, sudah hampir 2 bulan aku memikirkan  pernikahan ini. Bahkan  setiap hari.  Hebat kan?  Belum pernah aku memikirkan sebuah masalah  seserius ini, bahkan sanggup menguras beberapa kilo berat badanku dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.  Sekarang, aku lagi menahan berat badanku agar tidak terjun bebas.  Bila Tuhan berkehendak, mungkin sekitar Januari atau Februari 2014 kita bakal menikah, masih 10 bulan lagi.  Aku ga mau menikah dengan kondisi tubuh kering kerontang, rambut kusam karena kurang gizi.

10 tahun pacaran dan aku masih menolak untuk memikirkan untuk menikah.  Hingga 2 bulan lalu, beberapa hari menjelang pulang kembali ke sini, fikiranku berubah.  Ceritanya, setelah melihat ibu dan bapak yang semakin tua, juga permintaan anak-anak (keponakan) yang membuatku akhirnya melunak.  Kebetulan, aku (bersama kakak dan adik)  diberkahi untuk menanggung  kebutuhan para keponakanku yang saat ini tinggal bersama bapak dan ibu.

Orang tuaku sudah tidak muda lagi dan sering sakit-sakitan.   Mereka kewalahan mengurus para keponakanku.  Selain itu, para keponakanku juga sudah menagih aku untuk pulang dan tinggal bersama mereka.  Rencananya, setelah aku dan Mas Ipung menikah, mereka akan ikut kita tinggal di Jogja.  Tak terhitung berapa kali mereka menanyakan tentang ini, biasanya saat aku menemani mereka sarapan.   Dengan alasan takut pertanyaan-pertanyaan keponakan membuatku semakin terbebani, ibu melarang mereka untuk menanyakan hal serupa.  Namun bukan anak-anak namanya kalau tidak kehabisan akal.  Saat tidak ada ibu alias opung mereka,  maka pertanyaan-pertanyaan senada selalu membombardir diriku.  Reaksiku?  Cuma bisa diam.

*****

Demi ibu dan anak-anak juga demi rencana-rencana lain, aku berubah fikiran.  Mas Ipung seneng banget saat aku mengiyakan untuk menikah.  Bapak dan ibu, kakak adik,  para sahabat, sepupu juga ikut berteriak kencang.  Sahabat-sahabatku malah sudah sibuk hunting model dan warna kebaya.  Ada pula yang sudah tidak sabar ingin ke Pasar Baru  untuk lihat-lihat bahan kebaya….halah…  Belum lagi cerita sahabatku yang lainnya, ia mulai menabung untuk menjahit jas dan ongkos ke Bandung.  Sahabatku yang lainnya akan menjaga absen kerjanya sepanjang tahun ini, agar tahun depan bisa datang dan tinggal lebih lama di Bandung.   Ya Tuhan, benar-benar terharu lihat reaksi mereka.  Gila, aku ga pernah memikirkan efek rencana nikahanku akan sedahsyat ini.  Makasih ya, ciiinnn….

Lalu, sudah sampai mana persiapannya?  Bisa dikatakan sudah 1 %.  Iya, benar, sudah  satu persen.  Kita mencoba untuk berfikir positif dan fokus pada rencana akbar ini.  Kendala terbesar adalah dana.  Mungkin karena sedianya aku dan Mas Ipung pengen nikah 2 tahun lagi, bukan tahun ini, jadi kami belum memiliki dananya.  Dulu, kita sudah sempat nabung, namun karena belum ada kejelasan kapan akan menikah, akhirnya dana diputar dan hasilnya kurang sesuai dengan harapan.

Menurut  teman-teman yang sudah menikah, kita cuma perlu berusaha dan ikhtiar.  Niat baik akan dimudahkan oleh si Dia.  Tuhan tidak tidur, kata Mas Ipung menguatkanku.  Aku harap kami bisa melewati rintangan yang bakal datang.  Semoga saja benar bahwa ini tahun terakhir kami pacaran, setelah itu ke pelaminan.  

Mohon doanya ya temans…

Salam hangat,

Lintasophia

2 thoughts on “Semoga Tahun Terakhir Pacaran

  1. sirpa09 berkata:

    1. semoga cita2 luhur nya segera kelakon … ya Beh .
    2. mohon senternya euy –>seberang Taman Societet Jogja. … ini dimana ya ? heheh, aku jadi kangen Jogja juga …

    • lintasophia berkata:

      Makasih banyak, Pak Dhe…
      Semoga Gusti memudahkan semuanya.

      Taman Societet itu ada di seberang swalayan Progo, atau di samping Pasar Beringharjo.
      Ayo mulih, Pak Dhe. Ga kangen gitu ama Jogja? Aku tunggu di Jogja.😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s