Melatih Kesabaran Secara Digital

Sudah setahun ini, tepatnya sejak summer tahun lalu, Blackberry kesayanganku (disayang karena hapeku satu-satunya) selalu membuat kacau, balau dan galau….halah…  Sejak aku membelinya 2 tahun lalu, hape ini sering banget bikin darah tinggi.  Ada saja tingkahnya, sebut saja; ngehang atau loadingnya lama.  Tahun lalu, keypadnya benar-benar tidak mau bekerja sama dengan baik.  Yang ditekan apa, keluarnya huruf apa, borongan pula!  Maksudnya, langsung muncul beberapa huruf sekaligus.

Masih di periode yang sama, Blackberry tipe 8250 Curve ini malah mati total saat aku harus tinggal di luar kota (Firenze) untuk jangka waktu agak lama.  Acara jalan-jalan sedikit terganggu karena kami tidak bisa mengabadikan momen dan tempat-tempat indah.  Beberapa hari terakhir di Firenze, aku memutuskan membeli kamera poket demi memuaskan keinginan bernarsis ria.  Hasilnya tidak maksimal, selain momen yang terlewat dan tak mungkin terulang, alasan lain adalah banyak tempat tidak  berhasil kami abadikan karena waktunya sangat mepet menjelang pulang ke Genova.  Yang penting, ada dokumentasi, begitu fikirku.

Teman-teman yang sering melihat aku uring-uringan karena hape ini menyarankanku untuk segera berganti hape.  Mereka juga kadang terganggu saat sulit menghubungiku, misalnya kebetulan hapeku sedang error.  Beberapa bulan terakhir ini, kondisi hapeku makin parah.  Nada (dering) saat Bbm (blackberry messenger) masuk menghilang.  Padahal, aku tidak mengubah settingannya.  Terjadi begitu saja.  Menghilang!  Jadilah, sekarang gayaku itu laksana orang paling sibuk sedunia, sebentar-bentar check hape, barangkali ada Bbm masuk namun tak terdeteksi.   Kalau bbm dari teman-teman aku bisa tunda untuk membalasnya, biasanya mereka ngerti bahwa aku sedang sibuk.  Tapi coba banyangkan kalau majikan yang Bbm dan butuh direspon secara cepat?  Haduh!

Bukan karena aku ketergantungan akan tekhnologi maka perkara hape error bisa bikin aku seakan terguncang jiwanya.  Karena sebelum hape ini error, komputerku sudah duluan rusak sekitar  3 tahun lalu.  Mak, komputer sudah rusak masih dipertahankan?  Hihihihihih, lagi bokek berat nih.    Maka, perkara mengganti laptop dan hape saat ini bukan prioritas.   Terpaksa, berbesar dan bersabar hati menggunakan piranti yang ada.

Bersabar?  Ya, bersabar (kamu tidak salah baca).    Ternyata ada sisi lain dibalik rusaknya hape dan laptopku.    Semua ini melatih kesabaranku.  Usia hidup komputer dan hapeku yang tidak dapat ditebak membuatku lebih hati-hati menggunakannya.  Katakanlah,  bila hari ini laptopku bisa nyala maka esok hari belum tentu demikian.

Sadar akan kondisi ini, sekarang laptop aku pakai untuk hal-hal yang penting saja.  Berjalan-jalan di dunia maya juga sudah semakin jarang kulakukan.   Dengan hape dan laptop dengan kondisi ala kadarnya pula membuat waktu di sekitarku melambat.  Serangan informasi yang berlebihan tidak menderaku.  Kebetulan pula cuaca sudah membaik, aku lebih senang kembali ke dunia nyata (untungnya aku belum lupa passwordnya),  nongkrong di bar, keluar masuk gang dan sebagainya.  Enak deh! :).  Buah kesabaran menggunakan gadget rusak memang terasa adanya.  Beberapa buku berhasil kulahap sampai tuntas.  Hebat tho?

Saat berhasil  menyalakan laptop dan mengakses internet, hanya  hal-hal yang menurutku baik dan berguna yang kubaca (menurutku sih…heheheheh…).    Teman-teman dekat, baik yang kukenal dari dunia nyata maupun maya atau mereka yang memiliki minat yang sama denganku kusapa secara intim.   Selebihnya aku skip…..hihihihihi…

Punya waktu dan sarana terbatas memang secara tidak sadar memfilter diri kita untuk melakukan sesuatu yang penting, salah satunya ya model berkomunikasi dengan teman dan kerabat seperti yang aku tulis di atas.  Memang tidak semua dapat disapa, tapi sekarang terasa bedanya, setiap sapaan benar-benar dari hati…*smile.

Sosok pembaca yang terdiam di sudut dunia maya,  merupakan panggilan yang tepat untukku.  Bukannya mendadak sombong, tapi jika aku menyapa atau berkomentar di dunia jejaring sosial, maka notifikasi yang masuk mampu membuat hapeku meledak.   Seandainya meledak (baca : hang) dalam waktu sebentar masih bisa dimaklumi, tapi menyalakan kembali hapeku itu lho yang butuh perjuangan dan kesabaran lebih.  🙂 🙂 .   Batere harus dilepaskan dan didiamkan beberapa saat, terkadang batere  aku tiup-tiup dulu (yang aku sendiri ga tahu manfaat meniup batere hape sebelum memasangnya kembali).  Bosku cuma geleng-geleng kepala setiap aku bongkar pasang batere hape.

”Cah uedan!”  komentar bosku dalam bahasa Italia tentunya.

Setelah itu,  batere kemudian dipasang lagi dan tunggu deh hingga ada tanda kehidupan.   Nah, ini yang aku sebut sebagai melatih kesabaran secara digital.  Mau lihat bagaimana hal ini bekerja?  Coba cari perangkat elektronikmu yang sudah error  (setengah hidup atau setengah mati) dan paksa dirimu untuk tetap menggunakannya.  Hasilnya cuma ada 2.  Entah kamu berubah jadi lebih sabar atau malah jadi gila. 😉 😉

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s