Dipanggil Leluhur

Kemaren pagi, di tengah guyuran hujan deras, seorang perempuan berusia sekitar 40 tahunan mampir ke tokoku.  Singkat kata, ia bercerita sesuatu yang menurutku tidak masuk akal.  Katanya,  ada roh orang tua yang sudah meninggal yang menjagaku.  Aku tidak mengindahkan omongannya yang tidak jelas ujung pangkalnya.  

 Paling-paling, perempuan ini sedang butuh duit dan pura-pura mempunyai kemampuan membaca garis tangan seseorang.  Walau pada dasarnya, aku lebih tertarik dengan Focaccia di tangannya yang membuat perutku meronta-ronta lapar, apalagi pagi itu dingin banget.

”Ada roh orang mati yang menjagamu.”  Ulangnya lagi dari luar toko.  Jaketnya yang basah kuyup membuatnya enggan untuk melangkah masuk.  Aku mengernyitkan dahi dan menunjukan sikap waspada.

”Hei, aku seorang sensitive (cenayang).  Aku bukan orang gipsi.”  katanya sambil menggoyang-goyangkan tangannya, agar air hujan tiris darinya.

”So?”  tanyaku acuh.

”Lihat, aku kebetulan sedang lewat dan ada energi besar yang menarikku untuk mampir ke sini dan mengatakan itu.”  aku menggeleng-gelengkan kepala menyaksikan sikap percaya dirinya yang berlebihan.

”Terserah kalau kamu tidak percaya.  Tapi kamu bisa lihat kan kalau aku mengabaikan menghabiskan Focaccia yang enak ini agar bisa menyampaikan itu semua.”  Ia menunjukan sikap kecewa atas ketidakpercayaanku pada ucapannya termasuk karena Focaccia-nya menjadi dingin.  Aku memilih diam.

”Pada tahun-tahun terakhir, kamu tidak pernah ziarah ya?”  pertanyaannya membuatku terkejut.  Aku bingung  harus menjawab apa, karena aku tidak menyiapkan diri untuk pertanyaan ini.

”Kenapa kamu ga pernah ziarah?”  tanyanya lebih lanjut.  Lagi-lagi aku cuma diam sambil menyeringai.  Kepalaku memutar mesin waktu.  Mencoba mencari jawabannya.

”Ok, aku pamit dulu.  Semua yang harus kukatakan sudah kukatakan.”  ia bergegas meninggalkanku.  Mono dialoque pagi ini berakhir.

*****

Siangnya, saat kerjaan longgar, aku memutuskan menanyakan hal ini pada orang tuaku di Bandung.  Tentang obrolan di atas, menurut ibuku, kita bisa menyikapinya dari 2 sisi.  Pertama, sebagai orang Batak, hal ini bisa saja terjadi.  Kemungkinan yang dimaksud sebagai roh orang tua itu adalah mendiang ibunya kakekku (dari pihak bapak).  Bagaimana menjelaskan silsilahnya ya?  Hmmm….itu roh nenek buyut bapakku.  Ibuku sendiri pernah mendapat kunjungannya saat kami masih kecil-kecil.  Setelah itu tidak pernah lagi.  Aku kurang puas dengan jawaban ibuku, karena perempuan cenayang itu tidak menjelaskan jenis kelamin yang dimaksud.

Konon,  mendiang nenek adalah seorang datu (orang sakti) pada zamannya.  Masih menurut ibu dan bapakku, mungkin mendiang cuma kangen dan pengen lihat keturunannya sehingga bersedia mengunjungi aku yang jauh di Eropa ini….walah…  

”Wajar dong nenek kangen cucunya.”   tambah ibuku.

Kalau dana dan kondisi memungkinkan ada baiknya aku ziarah, saran bapakku.  Kebetulan, sejak kecil aku tidak pernah menginjakan kaki ke tanah leluhurku.   Mungkin  sudah waktunya aku untuk pulang.  Pendapat yang sama diutarakan Uni, salah satu sahabat baikku.  Mungkin ini teguran untukku karena tidak pernah mendoakan mereka.

Sedangkan menurut Kristen, kehidupan yang sudah meninggal itu sudah terpisah. Jadi diabaikan saja.  Awalnya aku mau mengabaikan hal-hal yang bersifat supernatural, mistik dan sejenisnya.  Untukku hal seperti ini tidak eksis.  Tapi, sejak kedatangan cenayang kemarin pagi, membuatku berfikir ulang.  Sebaiknya bagaimana aku harus bersikap?  Mengingat perempuan kemarin pagi  adalah orang ketiga yang mengatakan bahwa aku dijaga oleh roh orang tua yang telah meninggal.   Orang pertama yang mengatakan tentang ini adalah seorang perempuan tua, 2 tahun lalu.  Aku sempat membuat catatan yang berjudul : garis tanganku pagi ini.  Walau dalam catatan itu aku tidak menyertakan informasi ini.  Namun, baru cenayang kemarin yang mengungkit-ungkit masalah ziarah.  

Pendapat yang sama turun dari kakakku.  Di orang Batak, ini masalah biasa.  Kalau selama ini aku tidak pernah merasakan kehadirannya, mungkin karena aku terlalu logis sehingga tidak sensitif.    Asal tidak bersifat musryik dan meminta sesuatu ya tidak masalah.  Ok, deal.  Mungkin benar kata orang tuaku, kakak dan Uni.  Ini teguran untukku karena tidak pernah mendoakan mereka.  Kali ini, aku dipanggil leluhurku untuk pulang.

Salam hangat,

Lintasophia

*Focaccia : makanan khas Genova berupa tepung panggang.

Gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s