Ketika Terpaksa Gagal Berlayar

Siapa yang tidak pernah gagal, silakan mengangkat tangan!  Lho, kok tidak ada yang mengangkat tangan?  Artinya, kita semua pernah gagal.  Hari ini, catetan perdana di bulan Maret (walau bulan ini hampir berakhir….sigh…), kita akan berbicara tentang kegagalan.  Sesuai dengan judul : Ketika terpaksa gagal berlayar…*aduh, serem amat.

Aku mau cerita dikit mengapa sekonyong-konyong si gagal ini tampak menarik hingga mampu membuatku turun gunung dari puasa menulis.  Karena aku dan Mas Ipung baru saja mengalami kegagalan.  Husss….kami tidak putus.  Kami cuma gagal membuat usaha yang selama ini kami idam-idamkan.

Seperti yang pernah aku ceritakan, bahwa kami sudah sangat ingin memiliki usaha sendiri di Indonesia, walau skala kecil.    Nah, pertengahan tahun lalu kami memutuskan untuk mewujudkannya.  Lalu, sambil berjabat tangan setelah melalui diskusi yang sangat panjang dan lama, kami memilih usaha A.  Kami mulai belajar tetek bengek usaha ini sambil mengumpulkan modal.

Akhirnya, walau kondisi ekonomi sedang Senen Kemis, kami berdua secara patungan berhasil mengumpulkan modal yang diperlukan.  Tahap persiapan mulai dilakukan oleh Mas Ipung.  Aku yang jauh ini tidak berkesempatan untuk terjun langsung, cuma dapet laporan dan foto-foto saja.

Setelah masa persiapan rampung, tiba saatnya untuk start.  Tiba-tiba, ada kejadian yang membuat kami memutuskan untuk menunda untuk sementara usaha ini sekalipun persiapan sudah beres.  Ini pilihan terbaik untuk mencegah kerugian lebih besar.  Kami berada pada situasi seperti judul catatan ini.

Kami mengibaratkan, kami sedang menyiapkan sebuah perjalanan panjang dengan menggunakan kapal layar buatan sendiri.  Kapal telah berhasil kami rakit, layar pun telah terpasang.  Bahkan rute perjalanan sudah ada di tangan.  Apa mau di kata.  Ternyata ombak sedang pasang dan tidak baik untuk dilalui kapal layar kami yang mungil ini.  Begitulah…  Kami memilih bertahan di daratan sambil menunggu gelombang lebih bersahabat sambil merakit kapal yang lebih besar lagi.

Menilik cerita di atas, sebenarnya kami belumlah gagal 100 % walau agak sulit bagiku untuk menyebutkan angka pasti kerugian yang kami alami.  Sebagai gambaran, perangkat usaha masih utuh.  Kami cuma rugi waktu, fikiran dan sedikit dana untuk membayar tukang.   Sebagian modal kerja sudah dalam bentuk peralatan.   Seperti aku bilang di atas, kegagalan yang kami alami ini terjadi secara tidak sengaja, ehm istilahnya ya diharuskan gagal berlayar. 🙂

Ketika Gagal, Sebaiknya Bagaimana?

  • Jangan Putus Asa

Sebelum kami memutuskan untuk mencoba membuka usaha, kami sudah tahu resiko yang dihadapi cuma 2, yakni berhasil atau gagal sama sekali.  Kami juga sudah berjanji untuk tidak putus asa bila ternyata gagal,  hal ini tidak mudah, karena  kami kehilangan tabungan yang susah payah kami kumpulkan.  Apalagi kegagalan terjadi justru pas usaha baru mau dimulai.  Nenek bilang, layu sebelum berkembang.

Secara emosional, Mas Ipung yang paling kecewa atas kegagalan ini, tidak semata masalah materi namun secara psikis juga.  Setiap hari, kecuali pas jadwalnya ronda, ia pasti sibuk megang paku dan palu.  Tampaknya, tidak ada sedetik pun dalam hidupnya berlalu tanpa memikirkan usaha ini.  Pada akhirnya,  pemahaman yang baik serta berjiwa besar untuk menikmati kegagalan membuat kami berdua tidak putus asa.  Yummy!

  • Cari Dukungan dari Orang Terdekat

Hari gini udah ga zaman bergalau-galau ria.  Butuh temen curhat atau marah?  Cari ayah, ibu, suami atau sahabat terdekat yang mengerti kondisimu.  Kemarin, saat kami memutuskan untuk gagal, kami tetep saling support.  Awalnya, aku meminta untuk melego perangkat kerja yang ada.  Lumayan bisa jadi duit lagi.  Namun setelah menimbang lebih lanjut, niat itu aku urungkan.  Biar saja perlatan yang sudah terlanjur dibeli atau dibuat Mas Ipung tetap di situ.  Tujuan awalnya adalah sebagai penghargaan bahwa kami pernah mencoba.  Semoga suatu hari nanti kami masih bisa menggunakannya.

  • Boleh Menyendiri, Asal Jangan Bunuh Diri

Bila curhat session belum cukup, boleh kok mengambil waktu untuk menyepi.  Menyendiri untuk sementara waktu, tapi jangan bunuh diri lho.  Kata kuncinya tetap sama : jangan putus asa.  Setelah fikiran tenang, emosi jiwa… halah…terkendali, boleh deh masuk ke langkah terakhir di bawah ini.

  • Bangkit dan Berlayar Lagi

Perencanaan sudah pernah, mengalami kegagalan juga sudah, berarti tinggal bangkit dong.  Yup, jangan terlalu lama menyesali nasib.  Dengan tawakal, membuat semua lebih mudah dilalui.  Tapi bagaimana caranya tawakal dan bangkit lagi?

Begini, begini.  Letakan peta perjalanan di  atas meja.  Amati baik-baik.   Kenali lagi passion serta potensi dirimu.  Sudah tahu tujuan perjalanan berikutnya?  Tap,  angkat layarmu dan melajulah.  Seandainya laut masih bergelombang, ambil jalur lain.  Putar haluan, baca peluang yang ada.  

Dalam perjalanan waktu, tidak semua yang terjadi selalu sesuai dan ideal menurut keinginan kita.  Jangan takut bila ternyata jalanan menanjak atau menikung tajam.  Setiap perjalanan ada akhirnya kan?  Banyak-banyak membaca pengalaman orang lain karena semangat mereka mampu memberi energi positif lho, setidaknya menurutku sih. 😉 .  Ada baiknya juga mengatur nafas dan ritme kerja.  Bila ternyata strategi tarik ulur, maju  mundur  perlu dilakukan ya lakukan saja.  Aku percaya, untuk mendapat hasil lompatan yang jauh, seorang atlit lompat jauh harus mundur dulu beberapa langkah.  Iya kan?  

Sibuk apa kami sekarang setelah kegagalan kemarin?  Masih seperti dulu, aku dan Mas Ipung tetap pada pekerjaan selama ini.  Tidak ada yang berubah kecuali tabungan kami. *smile.  Semangat untuk nyoba-nyoba masih menggebu kok walau harus nabung lagi dari awal….hihihihihih….  

Untuk teman-teman yang masih galau (hari gini masih galau?), be strong darling!  Untuk yang merasa gagal dalam karir, rumah tangga, proposal selalu ditolak, gebetan selalu memandang sebelah mata aku sarankan jangan putus asa.  Bangkit dan mulai rintis tujuan perjalanan selanjutnya.  Selamat berlayar.

Salam hangat,

Lintasophia

Iklan

2 thoughts on “Ketika Terpaksa Gagal Berlayar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s