Valentine Pertama yang Berantakan

Menyongsong…(halah) Valentine’s Day yang jatuh esok hari, Lintasophia merasa gatel juga untuk mencatat sesuatu yang ringan tentang hari Kasih Sayang ini.  Bukan mengenai sejarah Valentine’s Day karena hal itu sudah banyak tersebar di internet.  Lalu tentang apa dong?  Hihihihihihi, aku mau bercerita tentang Valentine’s Day pertamaku yang berantakan.

Beberapa Hari Menjelang 14 Februari 2004

Jadi ceritanya, setelah menaikan status berteman menjadi teman beneran eh teman spesial dengan Mas Ipung pada tahun 2003 lalu (yup, bulan depan genap 9 tahun nih kita pacaran.  Cihui banget ga sih?), udah sah dong ikut-ikutan merayakan Valentine’s Day.  Kebetulan pula, butuh 1 tahun sejak resmi berpacaran untuk bisa merasakan gegap gempita hari Kasih Sayang yang jatuh setiap bulan Februari.  Kita jadian bulan Maret 2003, so baru Februari 2004 bertemu Valentine’s Day sebagai sepasang kekasih…cieeeee…  

Kenapa ya, mereka yang pacaran mendadak menganggap Valentine’s Day itu  penting?  Sama seperti aku yang awalnya tidak peduli mendadak cepat  dan tanggap melihat hal-hal yang berhubungan dengan hari Kasih Sayang ini.

Sejak tahun 2000, aku sering mondar mandir Bandung-Yogyakarta. Sedangkan  pada tahun 2003 dan awal 2004 aku lebih banyak tinggal di Jogja, ngekost di belakang Ambarukmo Hotel.  Kost khusus puteri.  Sedangkan Mas Ipung stay di kost khusus putera di daerah Jalan Pakel.  Letak kost-an kita memang lumayan jauh dan kita berdua sama-sama sibuk.  Kebanyakan bertemu cuma akhir pekan saja.  Biasanya aku yang ke kost-an Mas Ipung.  Sebab di kost-anku, tamu pria hanya sampai teras saja.  Bayangkan, teras yang kecil itu harus dibagi-bagi dengan tamu penghuni kost-an lainnya.

Valentine’s Day tahun 2004 kalau tidak salah jatuh pada hari Sabtu, sempurna sebagai wakuncar.  Sudah beberapa hari kita tidak bertemu.  Aku sibuk dan Mas Ipung juga tidak mau kalah sibuk bisnis parcel  Valentine.  Bersama teman-teman sekostan, mereka membuat paket-paket Valentine yang terbuat dari kertas recycle, bunga, coklat dan boneka tentunya.

Keranjang-keranjang parcel semua dibuat secara manual, rame-rame dengan menggunakan azas gotong royong.  Kadang kalau aku mampir, aku dan Mas Ipung cuma bertukar khabar sebentar, sebelum ia kembali larut dan tenggelam dengan parcel-parce mini.  Aku pun tidak protes.   Cuma setahun sekali, fikirku.

14 Februari 2004

Siang menjelang sore aku tiba di kostan Mas Ipung.  Di teras,  teman-teman kostan Mas Ipung yang sudah kukenal baik sedang pada ngumpul.  Ada teh dan kopi menemani kelakar mereka sore itu.  Kedatanganku disambut siulan dan godaan yang saling bersahutan sama lain.  Aku tidak melihat kehadiran Mas Ipung di situ.

”Cieeeeee….yang mau dapat coklat.”  Sambut mereka melihat kehadiranku.

”Asyik, bakal dapet coklat nih.”  Fikirku dalam hati.  Tidak urung, perasaan senang sempat terpantik di hati.   Aku melambaikan tangan membalas sapaan mereka.

”Jangan lupa bagi-bagi ya coklatnya.”  Sahut yang lain…  Aku tertawa riang sambil menanyakan keberadaan Mas Ipung.  Salah satu teman mengibaskan tangannya.  Sebuah kode yang menunjukan bahwa Mas Ipung ada di kamarnya.  Sementara yang lain  menjelaskan bahwa mereka begadang dan tidak tidur demi menyelesaikan pesanan parcel.  Aku mengangguk-angguk faham.  Aku ikut senang karena ternyata parcel mereka cukup diminati.

”Buruan gih, keburu bunganya kering.”  Teman yang lain menimpali.  Wajahku merona.

Pintu kamar Mas Ipung tertutup rapat, lampu padam.  Artinya tidak boleh diganggu.  Pelan-pelan kudorong pintu dan menyalakan lampu.  Mas Ipung tidak terganggu sama sekali.   Wajahnya terlihat lelah dan aku membiarkannya istirahat dulu.

Menjelang sore, aku membangunkan Mas Ipung karena sudah mendekati waktuku untuk pulang ke kostan.  Mas Ipung bangun dengan sikap malas-malasan sambil mengucek matanya yang silau oleh cahaya lampu.  Sejurus kemudian ia kembali jatuh tertidur.  Kamar kembali sepi.  

Fikiranku melayang-melayang dan sedikit terusik dengan godaan teman-teman tadi sore.  Benarkah Mas Ipung bakal memberiku bunga dan coklat?  Walau sedikit ragu tapi aku cukup senang membayangkan bila itu terjadi.  Kadang fikiran seperti itu muncul menjelang Valentine’s Day tapi segera kutepis.  Mas Ipung bukan pria romantis.  Bunga, coklat dan Valentine’s Day adalah hal-hal tidak penting untuknya.  Lalu, bagaimana dengan becandaan teman-teman tadi?  Apakah karena tahun ini Mas Ipung bisnis parcel Valentine sehingga ia sengaja menyisihkan sepotong coklat dan bunga dari jualannya untukku?  Ah so sweet… Wajahku kembali terasa hangat.  Senang!

Waktu beranjak senja.  Aku tidak bisa berlama-lama.  Kembali kubangunkan Mas Ipung dan kali ini berhasil.  Sambil berbincang-bincang tentang parcel Valentine yang laku keras, dalam hati aku menunggu momen si dia membuat kejutan.  Misalnya nih, nyuruh aku nutup mata dan kemudian tiba-tiba di depanku telah ada sepotong coklat dan bunga mawar.  Tapi, tunggu punya tunggu, kok Mas Ipung tidak menunjukan gelagat seperti itu ya?  Ia masih saja asyik-asyik rebahan di kasur.

Eh, jangan-jangan Mas Ipung bakal memberikan coklat dan bunga saat candle light dinner nanti malam?  Tapi dari penampilannya yang berantakan sampai menjelang maghrib begini, kecil hal itu terjadi.  Aku menghela nafas dalam-dalam.  Menunggu kejutan ternyata ga asyik juga.  Mau nodong minta coklat, rasanya gengsi juga.  Sekiranya  tidak ada yang spesial hari ini, mending aku pulang saja.  Sambil menunggu, aku melirik jam weker yang berada tepat di dekat kepala Mas Ipung…tik..tok…tik….tok…

”Mana coklat untukku?”  Todongku dengan nada seakan menyerah pada sebuah penantian yang panjang.

”Coklat apa?”  Tanya dia sambil menarik bantal, membenahi letak badannya biar lebih enak tidur.  : (

”Ya, coklat Valentine.”  Jawabku sambil menatap lantai.  Kesalahan terbesar baru saja kulakukan, batinku  mengutuki diri sendiri.  Dari awal aku tidak mau membicarakannya duluan,  namun  kesepakatan dengan hati ini  kecil kulanggar juga.   Dalam benakku, aku dapat melihat tanganku  memukul-mukul kepalaku karena kebodohan ini.  

”Kamu  kayak perempuan lain deh  yang ikut-ikutan Valentine.”  Sahutnya dingin masih dengan mata tertutup.  Mas Ipung ini, sudah tidak  romantis, sadis pula… Huwaaaaa….tuh kan, apa kubilang?  Perihal coklat, bunga dan Valentine ga ada dalam kamus si dia.  Nyesel banget udah melontarkan pertanyaan bodoh itu.  Nyesel…nyesel…nyesel….  Aku kan perempuan mandiri.  Jangankan sepotong coklat, satu box pun aku sanggup beli.  Tapi kan, mendapat coklat dari kekasih hati pas Valentine’s Day pasti beda rasanya, pembenaranku dalam hati.

”Aku kan pengen seperti perempuan lain, dapet bunga dan coklat pas Valentine.”  Jawabku terpekur.  Aduuuuhhh, jawabanku benar-benar kekanak-kanakan.  Sambil memicingkan mata, siap-siap mendengar jawaban sinis selanjutnya.

”Kamu jangan kayak perempuan lain dong yang pengen coklat pas Valentine. ”  Weks, si dia mampu  membaca fikiranku.

”Kalo pengen coklat, ga harus Valentine kan?  Punya prinsip dong.”  Tuntas Mas Ipung.  Kalau tidak gengsi, rasanya pengen nangis.  Coklat dan bunga ga dapet,eh yang ada  malah  kuliah 7 menit.  Apes bangetttt….

”Aku mau pulang.”  Jawabku sambil berdiri.  Mas Ipung kaget sampai berhasil membuatnya bangun dari kasur.

”Jam segini?  Bus sudah habis.”  Jawabnya.  Di Jogjakarta, bus kota  beroperasi cuma sampai sekitar pukul 17.00 atau magrib.

”Biarin.  Aku bisa jalan kaki.”  Aku pura-pura membalikan badan.  Diluar, hujan mulai turun.  Kalau kepepet, aku naik taxi biar ga keujanan.

”Oh ya udah, nanti aku anter.”  Mas Ipung menawarkan diri  untuk mengantarku pulang.  Antara gondok, gengsi dan takut membayangkan pulang jalan kaki (lumayan jauh), aku tidak menjawab tawarannya.  Bukan itu yang kumau.    Dalam hati, aku pengen Mas Ipung menahan tanganku  untuk tidak pulang.  Mungkin setelah sedikit tawar menawar, ia  mengajak makan malem bersama.  Oke, lupakan bahwa hari ini Valentine’s Day, tapi ini kan malam minggu.  Waktunya pacaran dan bersenang-senang.

Tapi belum selesai hal itu aku fikirkan, Mas Ipung sudah menghilang dari hadapanku.  Ia berlari-lari kecil menuju kamar mandi untuk  mencuci muka.  Aku mematung dengan bahu menempel pada pintu.   Kepalaku tertunduk memandangi ujung tali tas yang terjatuh gontai.

”Ternyata, motor sedang dipake semua.  Ta’ anter pake sepeda yo?”  Tanyanya sambil mengelap wajah dengan handuk kecil.  Udah ga penting naik apa, yang penting pulang ke kostan dan bisa menumpahkan kemarahan di sana.  

Saat meninggalkan kostan Mas Ipung, kumpulan teman-teman yang tadi menggodaku sudah tak tampak lagi.  Mungkin karena magrib sehingga mereka membubarkan diri.  Entahlah apa komentar mereka jika melihat raut wajahku sore ini.

Cerita apesnya my first Valentine’s Day tidak berhenti di situ saja.  Tepat di seberang jalan, dekat Warung Padang langganan, kami menemukan bahwa sepeda yang baru kami pakai beberapa meter ternyata bannya kempes.  Mungkin sepeda tua itu tak  sanggup menahan beban tubuh kami berdua.  Aduuuuhhh, mana hujan mulai lebat.  Aku menolak tawaran Mas Ipung untuk berteduh dulu.  Gengsi…  

Aku, Mas Ipung dan sepeda kempes berjalan bersisian.  Mas Ipung diam karena masih terkantuk-kantuk sedangkan aku menahan amuk.  Entahlah apa fikiran sepeda waktu itu.  Mungkin sepeda cuma merasa bosan dan kesepian melihat kami berdua terdiam.  😦

15 Februari 2004

Tampaknya, setelah istirahat yang cukup, Mas Ipung baru menyadari bahwa selama perjalanan pulang kemarin, aku lebih banyak diam.  Keesokan harinya ia mengajakku ketemu namun awalnya kutolak.  Ia minta maaf untuk kejadian yang kemarin dan minta pengertianku tentang prinsip hidupnya.  

Agar masalah tidak semakin rumit, menjelang tengah hari kami bertemu.  Sebagai permintaan maafnya, ia mengajakku ke pantai Parangtritis.  Not bad.  Sebelum berangkat, ia mengajakku mampir ke supermarket untuk beli minuman dan cemilan di perjalanan.  Di atas bus yang menuju pantai Parangtritis, ia menyodorkan sepotong coklat sambil minta maaf.  Memang sih ini bukan adegan  Valentine seperti yang ada di film-film.   Adegan yang baru saja terjadi jauh dari kesan romantis moment Vanlentine’s Day… 

Pada akhirnya, peristiwa Valentine tahun 2004 jadi kenangan tidak indah sekaligus lucu untuk kami berdua.  Sampai saat ini, Valentine 2004 menjadi satu-satunya Valentine’s Day saat kami berdekatan.  Sisanya, 8 kali Valentine’s Days (sejak 2005-2012) selalu kami lalui dengan kondisi berjauhan.

Happy Valentine’s Day untuk kalian yang merayakannya.

Salam penuh cinta,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s