Winter Terburuk dalam 30 Tahun Terakhir

Genova dan wilayah Liguria masih harus puas berada di bawah 0 derajat Celcius. Suhu pada malam  masih rata-rata -4 hingga -2 derajat Celcius.  Pada siang hari, suhu terhangat sekitar 2 derajat Celcius.  Genova tidak  sendiri kedinginan.  Winter yang ekstrim ini melanda wilayah Eropa lainnya bahkan di beberapa tempat merenggut korban jiwa.  

Eh, tahukah kamu?  Ternyata, meski secara wilayah berdekatan, tidak serta merta suhunya bakal sama atau tidak berbeda jauh.  Di Sassello/Savona  (sebuah kota dekat Genova) temperatur mencapai -20,9 hingga -22 derajat Celcius, pada saat yang sama Genova ”cuma” -4 derajat Celcius.

Kemarin, separuh kota Genova tidak mendapat air bersih yang disebabkan karena pada malam harinya, saat suhu terjun bebas, air membeku dan tidak mau mengalir ke pipa-pipa penduduk.  Ini pengetahuan baru untukku.  Karena sebelumnya, saat membaca sebagian wilayah Eropa Timur tidak mendapat aliran listrik dan air bersih karena suhu yang membeku.  Aku sempat bertanya-tanya, bagaimana mungkin winter tanpa air bersih?  Hubungannya apa?

Pertanyaan itu kemarin terjawab.  Jadi begini,  malam harinya, saat sebagian besar masyarakat terlelap dan tidak menggunakan (mengucurkan) air, otomatis air dalam kondisi berhenti (stagnan).  Layaknya dalam kulkas besar, air membeku.  Pagi harinya, masyarakat menemukan bahwa tidak ada air di rumah mereka.  

Beruntung, di rumahku ada air bersih.  Mestinya, penghuni lain di gedung apartemen ini berterima kasih pada kami  *smile.  Seandainya siklus hidup kami sama seperti mereka yang tidur sekitar pukul 21.00, tentu tidak ada pergerakan air di gedung ini.  Sedangkan kami yang pulang kerja tengah malam,  hingga pagi hari secara bergantian kami masih menggunakan air.  Bolak balik ke kamar mandi atau misalnya kakakku masih menggunakan air untuk masak dan bersiap-siap berangkat kerja.

Ini pengalaman pertama aku merasakan dingin sehebat ini.  Kami menjumpai  banyak es batu (kristal air) terbentuk dimana-mana.  Ia menempel di tembok rumah, sudut jalan, papan iklan, menggantung di jemuran, di sudut jendela.  Bahkan, penampungan air mancur di alun-alun kota berubah menjadi es batu.  Masyarakat memanfaatkannya dengan ber-ice skating ria.  *hadooohhh….  

Sama seperti aku yang tidak menyiapkan diri dan tidak memiliki sweater yang cukup hebat untuk winter kali ini,  masyarakat maupun pemerintah tidak ada yang siap akan kondisi ini. Saling tuding. Tentu saja, walau sudah mendapat peringatan bahwa cuaca memburuk, tapi tidak ada yang menyangka akan sedahsyat ini.  

Pada hari Minggu pagi lalu, melalui radio, aku mendengarkan pertengkaran beberapa pihak terkait badai salju yang melanda Roma pada hari Jumat lalu.  Pada akhirnya, baik pemerintah, masyarakat dan beberapa pihak terkait saling lempar tanggung jawab atas kesulitan yang ditimbulkan oleh badai salju.  Pemerintah tidak menyangka jika badai akan seburuk ini.  Hal ini dapat dimengerti, karena kota Roma termasuk wilayah yang jarang disapa salju.

Menurut dokumentasi, salju terakhir kali mampir di kota dengan sejuta obyek wisata tersebut sekitar tahun 1985.  Menurut kantor berita Ansa, sindaco Roma  Gianni Alemanno telah meminta maaf pada masyarakat terkait gangguan dan  ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh salju.  Melalui acara televisi Porta la Porta, Alemanno meminta semua pihak untuk siaga penuh selama 24 jam setiap harinya.

Ini merupakan winter terburuk dalam 30 tahun terakhir. Bukan salju yang ditakutkan, tapi dingin yang ekstrim  dikhawatirkan akan merusak tanaman.   Kecemasan tidak berhenti di situ.  Baik masyarakat biasa maupun petani mengkhawatirkan tagihan gas yang akan datang.  Untuk menyelamatkan tanamannya, petani terpaksa menyalakan penghangat sepanjang hari.  Berbeda dari winter sebelumnya yang cukup menyalakan penghangat pada malam hari saja.   Kecemasan yang sama juga dirasakan oleh masyarakat.  Mulai beredar lelucon di jejaring sosial mengenai bayang-bayang tagihan listrik dan gas yang akan datang.  *grhhhh…ikutan parno.

Salam (pura-pura) hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s