Tidak Mudik dan Aroma Masakan Tetangga

Telah seminggu adikku berangkat menuju Indonesia dalam rangka cuti tahunan.  Aku sebut menuju, karena yang bersangkutan saat ini masih piknik di Kuala Lumpur setelah sebelumnya mampir di Thailandia dan Vietnam.

Kemudian, beberapa hari yang lalu salah satu teman kerjaku juga pulang ke Bandung.  Lagi-lagi dalam rangka memanfaatkan cuti tahunan.   Mereka adalah kloter pertama yang mudik karena cuti.   Bulan depan, secara bergantian teman kerjaku yang lain juga pulang setelah Kang Tomy yang saat ini sedang cuti kembali ke sini.  Kontingen terakhir, tentu saja Septi yang akan cuti sekitar pertengahan bulan Maret nanti.  Lalu aku?

Plak!  Aku harus sabar untuk bisa pulang tahun depan.   Bukan karena majikan tidak memberi ijin pulang, malah sebaliknya.  Setiap orang dari kami berhak mendapat cuci, perkara tuh cuti diambil atau tidak  ya dikembalikan ke  setiap individu.   Atau pun misalnya mau ambil cuti tapi tetap di sini, ya tentu tidak masalah.  Semua benar-benar terserah kami.  Setelah menimbang dan memikiran secara masak-masak, aku memilih tahun ini untuk tetap bekerja.  Kalau tidak pulang, sayang juga tuh cuti diambil.  Bisa sih aku cuti dan keliling-keliling Eropa tapi ga punya duitttt…  Huahhahahaha…ketemu juga kata kunci alias alesan utama ga mudik.  Karena ga punya duit! *sambil nutup muka.

Biasanya, sebulan menjelang mudik, kami sudah sibuk hunting oleh-oleh.  Membuat daftar yang panjang, kemudian mencoret beberapa nama dan item.  Atau sebaliknya, hari-hari terakhir justru menambah panjang daftar oleh-oleh.   Tahun ini berbeda.  Selain karena cuti dan mudik tidak bareng, mudik kali ini pada  tidak bawa oleh-oleh.  Paling untuk keluarga, sahabat atau kerabat terdekat.  Penghematan.

Sejujurnya, aku kangen momen hunting oleh-oleh.  Mencari hadiah yang tepat dengan harga yang pas merupakan tantangan tersendiri.   Aku selalu menikmati atmosfer itu.  Selalu ada aura dan rona bahagia setiap akan mudik.

Tahun ini, dengan berbesar hati aku cuma bisa menonton aura kebahagiaan teman-teman yang mudik.  Tidak mudik merupakan keputusan yang kulakukan dengan sadar, namun tak urung ada rasa sedih yang gimanaaaa gitu.  Wajar saja.  Sejak tahun 2004 aku menginjakan kaki di Italia, setiap tahun kami selalu mudik, kecuali tahun 2007.  Menghilangkan kebiasaan apalagi sesuatu yang menyenangkan pasti sulit.  Maka tak heran jika  mudik merupakan ritual dan kebiasaan yang selalu kami tunggu-tunggu.

Daripada cuti dan bengong saja di sini, mending jatah cuti ditabung untuk tahun depan.   Rencanaku, tahun depan aku mau mudik agak lama.  Jika biasanya cuma sebulan, aku harap tahun depan 1,5 bulan.  Kebetulan, tahun depan ada sesuatu yang harus diurus.  Sebuah mimpi yang  butuh waktu dan dana besar.  Secara teori, run down yang kubuat sudah pas.  Tinggal berdoa dan berusaha agar semua berjalan terkendali dan mimpi ini bisa terwujud.

Tantangan terbesar saat ini adalah saat melihat teman-teman sedang mempersiapkan kepulangannya.  Lagi-lagi ada rasa yang gimanaaaa gitu.  Mestinya aku ada di situ (di Indonesia), teriakku dalam hati.   Melihat rona bahagia di wajah teman yang sedang membayangkan akan segera bertemu keluarga menciptakan sensasi tersendiri.  Seperti yang aku bilang di atas.  Perasaan berdebar dan atmosfer yang berbeda membuat mudik selalu mengharu biru.

Tentu saja aku ikut seneng melihat wajah bahagia teman-temanku.  Tapi ya itu tadi, sekedar melihat rona bahagia tentu saja berbeda bila dibandingkan mengalaminya sendiri.  Ini sama seperti mendapat kiriman aroma masakan dari tetangga sebelah.  Kita cuma dapat nikmat aromanyai tanpa merasakannya, apalagi ikut makan besar…halah…

Selamat mudik ya untuk teman-teman seperjuangan.  Untuk yang tidak pulang, mari menguatkan diri agar mampu melewatkan tahun ini….hihihi…. God bless you…

Salam bahagia,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s