Kenangan Seperti Apa yang Ingin Kamu Catat?

Pengantar

Suatu sore, beberapa hari menjelang Natal di sebuah jalan kecil yang kulewati setiap hari, terdapat kerumunan orang.   Beberapa mobil polisi, sebuah ambulance.   Jumlah polisi banyak sekali.  Mereka mengamankan antusias masyarakat yang penasaran dengan kejadian sore itu.  Sebagian petugas terlihat sibuk mencatat dan berbincang satu sama lain.

Sama seperti masyarakat yang kebetulan lewat, aku memilih berhenti dan mengamati situasi yang ada.  Aku tidak menemukan jawaban atas apa yang terjadi.  Beruntung aku bertemu dengan Abdul, seorang tetangga  yang berdiri tidak jauh dari lokasi.  Dari Abdul aku mendapat informasi bahwa baru saja seorang pria dalam keadaan mabuk terjatuh.

”Kepalanya menyentuh tanah dan berdarah.  Kemungkinan mati.”  Demikian terang Abdul sambil menjelaskan ciri-ciri pria yang dimaksud.  Aku sedikit kesulitan mengindentifikasi pria malang itu, mengingat di sekitar sini banyak pemabuk.    Abdul menyarankanku untuk bertanya pada sepupuku Eik.  Karena ternyata pria yang terjatuh tersebut sebelumnya sempat berbicara dengan Eik.

Singkat cerita, malamnya aku ngobrol-ngobrol dengan Eik mengenai kejadian sore itu.  Katanya, aku tidak perlu khawatir lagi, sebab  pria yang selama ini suka menguntitku sudah mati.   Ia terjatuh dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri saat berkeliaran di sekitar sini sore tadi.  Wajah dan badannya lebam seperti habis digebukin orang.  Mungkin juga ia sedang sakau, bukan mabuk karena minuman keras.    What?  Aku terhenyak.

Memang sering aku jengkel karena kehadirannya, atau bahkan tidak segan juga aku menyumpahinya agar mati saja (biasanya karena aku ketakutan hingga keluar doa seperti ini).  Tapi mendengar dia pergi secepat ini rasanya masih sulit dipercaya.  Bukankah orang jahat biasanya sulit mati?  Katanya sih….

Fikiranku melayang-layang pada sosok seorang pria mungil dengan gigi depan nyaris tandas tak bersisa.  Seorang pemabuk yang berbicara dengan nada gagu.   Pria ini tiba-tiba saja hadir dalam kehidupanku.  Di seberang jalan toko tempatku bekerja, ada sebuah tempat dimana pria itu suka nongkrong bersama teman-temannya.   Suatu hari, saat aku merokok, aku merasa seseorang menatapku lekat.  Itu adalah dia.  Instingku berkata bahwa pria ini bermaksud tidak baik padaku, tapi kuacuhkan dan tetap berfikir positif.

Keadaan  berubah saat aku bertemunya di semua tempat  (maklum kota ini sangat kecil).  Jika awalnya aku fikir ia cuma mau mengemis seperti yang dilakukan pada orang lain yang lewat di hadapannya, ternyata kalau kebetulan bertemu, ia selalu mengatakan sesuatu.  Masih dengan nada gagu dan ragu.  Sekalipun aku tidak pernah menangkap apa yang dia ungkapkan.  Kejadian ini berulang terus sejak pertengahan tahun lalu.

Aku punya banyak kekhawatiran atas kehadiran dia.  Toko dan restoran tempatku bekerja letaknya berdekatan.  Aku tidak mau ia melakukan sesuatu yang buruk padaku dan keluarga atau teman-temanku yang lain.  Demikian juga dengan rumahku yang berjarak hanya 3 sampai 5 menit berjalan kaki dari restoran.  Aku sempat ketakutan jika ia menguntitku saat aku pulang sendiri.  Berbagai perasaan terganggu akhirnya memaksaku untuk bercerita pada majikan.

Majikan sempat berkonsultasi pada polisi mengenai tindakan pencegahan yang dapat aku ambil, salah satunya dengan melaporkan pria yang tidak pernah kuketahui nama dengan tuduhan tindakan tidak menyenangkan.  Saran ini aku tolak.  Alasanku, karena selama ini aku tidak pernah berkenalan secara official, berjabat tangan apalagi sampai  mengucap; nice to meet you.  Tidak, aku sama sekali tidak kenal dia dan menolak berurusan dengannya.

Alih-alih memperkarakan ke jalur hukum,   aku memilih melawan ketakutan atas kehadirannya dengan hidup normal.    Asal tetap waspada, semua masih di bawah kendali.  Secara bergantian, kakak dan iparku menemaniku jika aku harus jalan sendiri.  Tapi aku tidak suka merepotkan orang lain.  Sampai kapan harus ditemani kemana-mana?  Akhirnya aku berhasil keluar dari rasa cemas akibat kehadiran pria tidak jelas itu.  Aku berani jalan sendiri lagi.

*****

”Menurutmu, bagaimana perasaan keluarga yang ditinggalkan oleh pria itu?”  Tanyaku pada Eik yang menjawab dengan mengangkat bahu.  Kami berdua pun larut dalam diskusi mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada setelah peristiwa jatuh atau mungkin meninggalnya pria itu tadi sore.    Kira-kira, keluarga yang ditinggalkan pria itu menangis histeris karena merasa kehilangan?  Atau, jangan-jangan malah mengucap syukur atas kematiannya, sama seperti kebingungan perasaan yang aku aku rasakan.

Bila ia benar-benar mati saat terjatuh tempo hari,  apakah aku sebaiknya mengucap turut berduka cita untuk kematiannya atau bersorak gembira?  Kebingungan ini aku ungkapkan pada Abdul yang berfikiran sama.  Kematian tetaplah kematian akan meninggalkan kesedihan, kata Abdul.  Tapi tergantung juga sih, selama hidupnya ia telah melakukan apa saja, lanjut Abdul sambil membenahi sayur dagangannya.  Aku mengangguk setuju.

Kembali lagi ke obrolanku dengan Eik mengenai pria tadi.  Tentang bagaimana rasanya sebuah kehidupan yang kita isi dengan kesia-siaan belaka.  Kesia-siaan belaka ini maksudku (berkaca dari pria tadi), yang sehari-harinya tidak bekerja, memakai narkoba, mabuk dan mengganggu orang lain.  Kira-kira, berapa banyak orang yang pernah mendoakan kematiannya ya?  Entahlah…

*****

Penutup

Berkaca dari pengalaman hidup pria tadi yang dapat dengan mudah kita temui di sekitar kita.  Mumpung masih suasana tahun baru, ada pelajaran yang bisa kita petik dari kematian pria tersebut dalam usia muda.  Kematian bisa datang kapan saja karena sampai sekarang tidak ada seorang pun yang mampu meramal usia hidup manusia.

Mungkin sering kita mendengar bahwa hiduplah seakan hari ini waktu terakhirmu di dunia.  Dengan demikian, berlaku baiklah dan sebisa mungkin berguna bagi orang lain.  Maksudnya, tentu saja agar orang-orang terdekat memiliki kenangan manis tentang kita.

Minggu pertama di 2012, masih ada sekitar 350 hari ke depan kemungkinan kita hidup di tahun ini.  Artinya, kita memiliki waktu yang panjang untuk mencatat kebaikan, apalagi kalau dihitung menjadi berapa jam, menit dan detik ya….

Sebetulnya, penting ga ya kita berlaku baik terhadap orang-orang sekitar kita?  Menurutku sih penting karena bakal dapat banyak doa dan support.  Bandingkan kalau kita selalu mendzolimi orang lain, bukankah cuma sumpah serapah yang didapat? *amit-amit.  ;).  Coba tanya pada pasangan hidup Anda, seandainya Anda tiada, kenangan seperti apa yang ada di benak mereka tentang dirimu?  Bertanyalah pada teman sejawat, teman sepermainan atau sekolah dasar dulu.  Apa yang mereka ingat tentang Anda?  Bisa jadi mereka cuma mampu menuliskan sepotong-sepotong kenangan mengenai diri Anda, karena periode hidup bersama mereka sangat singkat.  Hanya saat sekolah.

Tapi, apakah Anda berani menanyakan hal yang sama pada orang tua, kakak dan adik, suami atau anak Anda?  Bagaimana pendapat orang terdekat mengenai Anda?  Seorang pemarah, keras kepala, sombong, kikir, ramah, baik hati atau lainnya?  Apa yang telah kita lakukan selama ini tentu saja  tidak bisa diubah lagi. Justru pertanyaan terbesar sekarang adalah, kenangan hidup seperti apa yang ingin kamu catat?   Selamat mencatat kenangan indah, teman….

Salam (pura-pura) hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

2 thoughts on “Kenangan Seperti Apa yang Ingin Kamu Catat?

  1. vera berkata:

    Baca blogmu, aku tau pemabuk itu. Soalny wkt aku Hamil setiap ke diperdi selalu ketemu bahkan digangguin, pernah udah dikasir dia nungguin aku keluar sampai ngikutin aku jalan. Saking ketakutan, aku jalan cepat & tidak menghiraukan apa yg org itu ucapkan.

    Mungkin kenangan hidup yg akan kucatat dalam sejarah hidupku waktu aku menjalani masa kehamilan sampai dgn melahirkan, suka duka banyak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s