Perempuan Teristimewa

Pada tanggal 22 Desember lalu, secara bergantian kami menelfon ke ibu di Bandung.  Setiap orang mengucapkan selamat  Hari Ibu.  Rasanya seneng masih bisa mengucapkan salam itu walau kami saling berjauhan.  Eh justru, setelah kami berjauhan atau tinggal di luar negeri, setiap tanggal 22 Desember menjadi lebih istimewa.  Mungkin pengaruh umur atau pengalaman hidup yang membuat kami lebih menghormati Hari Ibu.

Saat remaja atau kanak-kanak dulu, kami tidak ada ritual mengucapkan Hari Ibu.  Mungkin karena jatuhnya di bulan Desember, jadi kami lebih inget bahwa tanggal segitu lagi sibuk-sibuknya buat kue Natal.  Menurut keponakan-keponakanku, sekolah sekarang lebih intens mengedukasi para murid  mengenai ibu dan Hari Ibu itu sendiri.  Beberapa sekolah menyelenggarakan kegiatan untuk merayakan Hari Ibu.

Sekolah Lia (keponakanku) misalnya, ikut juga mengadakan acara nyanyi dan tari untuk ibu.  Setelah itu, dari pihak sekolah memberi bingkisan pada setiap murid.  Lebih tepatnya, sekolah menitipkan sekotak tanda cinta pada ibu.  Isinya  berupa sepotong kue dan setangkai bunga mawar.    Bila setiap anak mengingat momen peringatan Hari Ibu saat mereka masih kecil, tentu hal baik itu akan terbawa hingga ia dewasa.  Aku fikir, kegiatan semacam itu positif dan membentuk karakter anak menjadi lebih lembut dan welas asih.

Dulu, waktu ibuku di sini, jarang sekali pas Hari  Ibu beliau ada di samping kami.  Karena biasanya, ibu memilih pulang ke Indonesia sekitar bulan November karena beliau tidak kuat dingin yang  menusuk tulang.  Mungkin cuma sekali atau 2 kali aku berkesempatan mendaratkan ciuman pada pipinya di Hari Ibu.  Kalau sekarang, harus puas cuma lewat udara, seperti kali ini.

”Selamat Hari Ibu juga untukmu.”  Kata ibuku sesaat kami akan mengakhir pembicaraan.

”Siapa?  Aku?  Untukku?”  Tanyaku tidak faham.  Ibuku mengulang kalimat yang sama.

”Selama ini, kau udah menjadi ibu yang baik untuk anak-anak.”  Jawab ibuku sambil menyebut nama para kurcaci satu per satu.

Terbayang nakalnya anak-anak (para ponakanku).  Mereka yang selalu berantem satu sama lain.  Belum lagi saat mereka sedang  rewel atau mencari perhatian.  Suatu hari Lia tidak mau makan kecuali aku bujuk dan rayu dari sini.  Tony kadang berulah, semangat belajarnya naik turun.  Bagaimana memaksimalkan obrolan di telfon agar semangat belajar Tony tetap terkendali.

Sampai sekarang, aku memposisikan diri sebagai teman ngobrol anak-anak.  Sesekali aku kembali ke lakon asal sebagai tante mereka jika ada sesuatu yang tidak bisa ditawar atau aku sedang tidak ingin dibantah.

”Anakmu udah banyak ya…”  Canda ibuku di ujung sana.   Lamunanku buyar.   Tidak sadar, tenggorokanku tercekat.  Begini tho rasanya menjadi ibu?  Rasanya deg-degan, bangga dan terharu.  Meski apa yang aku, kakak-kakakku dan adikku lakukan (membantu keluarga) merupakan hal yang lumrah dan biasa, namun mendapat ucapan Hari Ibu ternyata mempunyai efek luar biasa.   Ini sebagai tanda sekaligus penghargaan apa yang telah aku lakukan selama ini.  Aku merasa menjadi perempuan paling istimewa sedunia.  ;)😉 .  Sebuah perasaan yang menggayuti semua ibu di dunia.

Selamat Hari Ibu  Sudahkah Anda menyapa ibu hari ini?…..

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s