Tantangan Merayakan Natal

Untukku pribadi, ada tantangan terbesar untuk merayakan suka cita Natal tahun ini.  Apa itu?  Bukan masalah keamanan dan kenyamanan beribadah yang aku takutkan.  Ada hal lain.  Seperti telah banyak aku ceritakan pada catatanku sebelumnya, kondisi ekonomi yang tidak menentu di sini, mau tidak mau membuat perasaan selalu khawatir.  Bagaimana menepis rasa khawatir dan tetap bersuka cita meski dalam keadaan tidak enak?  Itu yang aku sebut tantangan terbesar.

Beruntung, keadaan yang serba memprihatinkan ini bukan milikku seorang.  Selama 8 kali merayakan Natal di sini, baru sekarang aku tidak menemukan geliat mempersiapkan Natal.  Sebagai informasi, di sini Natal itu sudah bergeser, tidak semata masalah keimanan tapi lebih ke arah liburan (baca : bersenang-senang) semata.

Perubahan esensi Natal menjadi sesuatu yang konsumtif mau tidak mau membuat Natal selalu terasa mahal.  Hal ini ditandai dengan acara tukaran kado  (awalnya bersifat suka rela, sekarang menjadi kewajiban).  Disusul kemudian sajian yang serba mewah.   Karena semua tradisi kegiatan di atas terbiasa dilakukan, maka ketika harus berhadapan dengan krisis ekonomi, maka mau tidak mau masyarakat melakukan adaptasi.

Berbeda dengan di Indonesia yang tidak mengenal tradisi tukar kado dan hidangan super mewah.  Makna Natal lebih ke makna religius (keimanan) dan kumpul keluarga.  Seingatku,  masyarakat kita tidak terlalu peduli dengan pernak pernik Natal.   Toh cuma sehari ini, Natal bakal lewat.  Yang penting bisa kumpul dan kebaktian bareng keluarga.  Begitu pemikiran umum keluarga Indonesia.  Entahlah kalau belakangan ini kebiasaan tersebut ikut berubah pula.

Di sini kegiatan di gereja sepi, malah lebih meriah gereja-gereja di Indonesia.  Cuma pertokoan yang sibuk menawarkan berbagai penawaran selama Natal.  *smile.  Karena keadaan ekonomi yang serba tidak pasti dan pengetatan ikat pinggang  termasuk saat Natal, banyak pengunjung toko yang akhirnya membenci Natal.  Sesuatu yang horor, katanya.

Dalam hati aku jatuh kasihan pada mereka.  Sering aku ingin bilang, kalau tidak mampu ya tak perlu memaksakan diri membeli kado Natal.  Tapi tentu saja apa yang aku fikirkan itu tidak boleh aku lakukan, karena itu bertentangan dengan pekerjaanku yang harus menjual barang sebanyak-banyaknya.  Akhirnya, karena bertemu dengan banyak orang dengan masalah yang beragam pula membuatku harus banyak-banyak bersyukur.

Jika dihitung-hitung, banyak betul berkat yang aku terima seumur hidupku ini.  Boleh saja keadaanku tidak sebaik teman-teman yang lain, tapi bukankah pandangan tidak boleh terus mengarah ke atas?  Agar tidak terantuk batu, selama perjalanan hidup, pandangan juga tidak boleh berhenti memandang ke bawah.  Kalau sudah begini, ada suka cita luar biasa.  Ini Natal terindah selama di sini.  Senang sekaligus bangga bisa merayakan Natal dengan penuh suka cita meski dalam kesederhanaan dan penuh keterbatasan.  Natal itu suka cita dan aku berhasil mengalahkan tantangan itu.

Selamat hari Natal untuk kalian yang merayakan.

Salam damai,

Lintasophia

Iklan

2 thoughts on “Tantangan Merayakan Natal

  1. Sirpa berkata:

    dear Mpi,
    nanti habis natalan kan menyambut tahun baru 2012 …
    apa new year’s resolution mu ?

    apa jadi berantas lipoma dikakimu?

    sukses selalu ya

    pakdhe mu

    • lintasophia berkata:

      Met malem Pak Dhe…
      Resolusi 2012 ya? Belum ada rencana baru. Sekarang mah susah bikin rencana A, B dan seterusnya. Masih fokus ama ide-ide selama ini, serta yang paling penting bisa survive…hiihihihihi…
      Lipoma jadi diangkat. Tapi, sebelumnya aku msh harus jalanin 2 pemeriksaan lagi, yakni ultrasonografi (kalo ga salah) ama radiologi (masih kalau tidak salah juga). Ternyata, cuma buat angkat daging segede jengkol ribet bener ya…

      Met Natal Pak Dhe… Salam damai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s