Too Good To Be True. Pentingnya Belajar Investasi

Hari ini aku terhenyak melihat berita tentang seorang pedangdut yang mengaku tertipu sebesar Rp. 1 Milyard.  Berita di media lain menyebutkan bahwa Annisa Bahar tertipu Rp. 1,5 M.  Bukan masalah angka 1 M atau 1,5 M yang ingin aku garis bawahi.  Untukku angka tersebut sama fantatisnya.  Pertanyaan yang menggangguku justru : kok bisa?  Duh,  Annisa nonton berita kriminal ga sih?  Penipuan dengan topeng investasi sudah ada sejak zaman kuda makan batu. *Annisa yang jadi korban tapi aku yang kesal….hehehehe….

Pada salah satu infotainment (halah…pagi-pagi sudah sarapan infotainment), Annisa menjelaskan bahwa modus yang ditawarkan adalah investasi pada logam mulia (emas).  Para pemilik modal (investor) dapat menanamkan dananya (dalam bentuk dollar) dengan nilai nominal sesuai keinginan.  Dalam hal ini, Annisa menginvestasikan dana sebanyak 5000 dollar dan dijanjikan keuntungan sebesar 300 % alias 3 kali lipat.  Sayangnya, dalam berita tidak dijelaskan tenggat waktu keuntungan sebesar 300 % tersebut akan tercapai.

Selama seminggu berturut-turut setelah dana disetorkan, Annisa mendapatkan transferan yang diyakini sebagai keuntungan sebanyak Rp. 1.600.000 per hari.  Setelah itu tidak ada transferan sama sekali.  Setelah tidak ada transfer keuntungan, barulah Annisa waspada dan berfikir bahwa ia telah menjadi korban penipuan.  Hmmmm….  Sampai di sini aku geleng-geleng kepala.  Baru baca judul beritanya aja aku sudah berfikir bahwa ini investasi yang ganjil.

Penyesalan selalu datang terlambat, saat nasi telah menjadi bubur.  Mengapa begitu mudah menyerahkan dana sebesar 5000 dollar tanpa merasa curiga akan besarnya imbal balik yang akan diterima?  Dalam dunia bisnis ada pepatah : too good to be true.  Kurang lebih maknanya : terlalu manis untuk menjadi kenyataan.

Tentu saja pepatah di atas bukan tanpa dasar sama sekali.  Sampai sekarang, belum ada investasi yang menjamin bahwa keuntungan akan diterima 100 % persis seperti hitungan di atas kertas.  Setiap investasi juga mengandung resiko.  Runyamnya lagi, tidak ada investasi yang memberikan keuntungan berkali lipat dalam waktu singkat.  Ada sih, kalau berani main saham atau valuta asing.  Tapi, menilik kasus Annisa Bahar yang katanya investasi pada logam mulia yang harganya cenderung naik beberapa waktu ini, aku bisa pastikan bahwa dana yang 5000 dollar itu tidak diinvestasikan pada logam mulia.  Memangnya tuh dana dibeliin berapa kilo emas sehingga mendapatkan kerugian (selisih harga jual dan beli) sampai 5000 dollar?

Atau katakanlah bahwa ternyata Manajer Investasi memutarkan dana tersebut di pasar saham.  Lalu, saham siapakah yang diperjualbelikan?  Sekarang harga saham juga pada terjun bebas, jadi justru waktu yang tepat untuk membeli, menyimpan dan menjualnya kembali saat harga saham tinggi.  Tapi Annisa perlu mengingat bahwa ini juga butuh waktu selain juga  penuh resiko.  Keuntungan besar, resikonya juga besar.  Bukan begitu, Nis?

Salah satu berita menyebutkan bahwa ini kali kedua Annisa Bahar berinvestasi dengan perusahaan tersebut.  Investasi pertama berjalan lancar dan keuntungan seperti yang dijanjikan diterima Annisa dengan baik.  Menurutku, investasi pertama itu cuma pancingan saja agar berikutnya Annisa menanamkan modal lebih besar lagi. *nepok jidat.

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari nasib naas yang menimpa Annisa Bahar? Jangan malas belajar investasi.   Mending hilang waktu untuk belajar serta  check baby check piranti legal investasi yang ditawarkan atau milih kehilangan duit?  Agar tidak tertipu,  pemahaman investasi akan membantu proses perencanaan keuangan keluarga,  Kalau pun saat ini tidak ada dana untuk investasi, ya anggap sebagai pengetahuan umum saja.  Sehingga suatu saat ketika tawaran investasi nan menggiurkan datang, lengkap dengan janji-janji surga, maka kita punya pengetahuan dasar tentang investasi.  Dari situ  baru memutuskan apakah investasi itu baik dan layak untuk diikuti atau sebaiknya  lapor polisi.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s