Mencari Passion

Pertanyaan seorang sahabat menyadarkanku bahwa kiranya telah lama aku tidak pulang ke rumah  Lintasophia.   ”What’s going on?”  Tanya dia.

”Tidak going on apa-apa.”  Maksudku, tidak terjadi apa-apa.  Bukan karena sibuk bekerja, justru sebaliknya.  Belakangan ini aku lebih banyak di rumah, bahkan di depan komputer.  Tapi ternyata, intensitas menghabiskan waktu di depan komputer tidak berbanding lurus dengan produktivitas menulis.  Baiklah, aku mau membuat pengakuan saja kalau begitu.

Sekarang di rumah ada keponakan baru, 2 minggu sudah usianya.  Eleonora Manurung namanya  (lha, kok malah nyalahin keponakan?).  Kalau sedikit jenuh di kamar, aku kabur ke kamar sebelah, main-main dengan Eleonora.  Setelah itu, aku kembali manyun di depan komputer.  Agak membosankan sih.  Tapi mengapa harus pakai acara manyun jika sedang di depan kompi?  Soalnya aku sedang merasa asing dengan diriku sendiri.  Kok bisa?  Ya bisa!

Secara tiba-tiba, mendadak dan mengejutkan, aku merasa tidak kenal dengan diriku sendiri.  Pokoknya, situasi yang tidak sedap.  Aku sedang mencari sesuatu yang biasa disebut dengan passion.   Terakhir nyimpen  passion dimana?  Kok sampai bisa kehilangan gitu?  Atau, siapa sih passion itu?  Gimana rupa dan warnanya? Ehem, passion  itu  sesuatu yang bakal tetep kita lakukan sekalipun hujan badai menghadang.😉  Sesuatu yang membuatku menangis meraung-raung saat seseorang mengambilnya dari dekapanku.

Mengutip dari Wikipedia ; passion is often applied to a lively or eager interest in or admiration for a proposal, cause, or activity or love – to a feeling of unusual excitemententhusiasm or compelling emotion, a positive affinity or love, towards a subject, idea, person, or object. It is particularly used in the context of romance or sexual desire though it generally implies a deeper or more encompassing emotion than that implied by the term lust.

Selama ini, aku yakin bahwa passion terbesarku adalah kuliah.  Mau suhu di bawah 0 derajat Celcius, kurang tidur, ga punya duit, laper dan harus sprint pulang pergi ke kampus agar tidak telat kuliah dan bekerja, semua kulakukan dengan suka cita.  Tentang sprint ini, suatu hari saat mudik,  Mas Ipung mengakui  bahwa betisku sangat kencang.  Cuma satu level di bawah tukang becak.  Setelah gagal kuliah dengan segala dinamikanya, aku agak-agak kehilangan gairah hidup nih…. Cieeee….

Beneran lho, hidup tanpa huru-hara dan keriuhan sangat menyiksa.  Aku terbiasa kerja belasan jam sehari dan melakukan berbagai hal dalam waktu bersamaan.  Sekarang semua itu tercabut…but!  Sudah mulai gila setiap hari begini-begini saja.  Pulang kerja, nyalain kompi, main dengan ponakan, kembali ke depan kompi dan seterusnya.  Karena tidak tahan dengan aktivitas ini, aku berniat mengisi waktu luang dengan kegiatan bermanfaat tentunya.

Dari sini  pencarianku terhadap makhluk yang bernama passion itu dimulai.  Selain kembali kuliah, apalagi ya hal terbesar yang  selama ini ingin kulakukan?  Jalan-jalan!  Ah itu mah jangan ditanya karena selalu as always semangat untuk jalan-jalan.  Punya waktu tapi ga punya duit, jadi percuma  juga mikirin jalan-jalan.  

Ada beberapa ide menarik  yang dapat kupilih sebagai passion.   Belum aku putuskan yang mana karena ini membutuhkan perhatian serius.  Bisa dihitung dengan jari mengenai passionku namun agak susah diwujudkan karena butuh dana besar dan perhitungan serius.  Sekarang aku membebaskan diri dari fikiran dengan hal-hal baru, setelah itu baru aku mengarahkan telunjuk.

Sedikit catatan  mengenai passion ini aku tambahkan.  Sebuah passion akan kulakukan bila itu memperkaya batin, membuat senang, mempunyai nilai lebih dan berguna bagi orang banyak.  Nah, itulah alasan  mengapa beberapa waktu ini aku jarang membuat catatan…😉 .  Sedang asyik berkelakar dengan keinginan, bayangan dan harapan.   Kita lihat saja, hal apa yang akan kupilih sebagai passionku.  Rasanya, aku pun penasaran dan ingin segera jungkir balik bersenang-senang dengan pacar eh passion baru.   Sudah tidak sabar untuk terbakar rasa antusias!

Kalau kamu ada ide, sharing yuks….

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

2 thoughts on “Mencari Passion

  1. Rosda berkata:

    Menikah !!
    Passion yang satu ini pastiakan memperkaya bathin, membuat senang, mempunyai nilai lebih dan berguna bagi banyak orang…setidaknya bagi pria yang akan menjadi suamimu. Berani ??…heheheeee

    • lintasophia berkata:

      Jesss…..tantangannya berat sekali, mbak. 🙂
      Bukan belum berani tapi belum pengen aja…hihihihi… Alasannya klasik banget ya?
      Tapi begitulah jalan hidup yang aku dan si dia pilih. Rencana ke arah sana pasti ada dan kita sedang menyiapkan ”passion” yang satu itu. Sayangnya, bukan dalam waktu dekat. Hehehhehe, sekarang mah udah ga berani ngomongin tahun berapa. Ntar aja kalo udah cetak undangan, baru press conference…halah…

      Titip salam untuk Yo dan Inas ya… Makasih banget udah nantangin…🙂
      kiss…kiss…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s