Kecewa Pada Dunia

Pelajaran hidup ada dimana-mana, termasuk dari orang-orang terdekat Anda.  Hal ini aku simpulkan setelah minggu lalu Angelina mampir ke toko tempatku bekerja.  Ia mampir untuk mengambil beberapa amplop yang ditujukan padanya dengan menggunakan alamat rumahku.

Ceritanya, dulu ia tinggal satu rumah denganku tapi berbeda pintu masuk.  Sejak Juli lalu ia pindah rumah namun untuk korespondensi masih menggunakan alamat rumahku karena administrasi residenza-nya belum beres.

Setelah membolak-balik amplop yang kusodorkan, ia melontarkan kalimat yan membuatku terperanjat.

” Aku mau menutup kedua studio pijatku.”  Katanya.

” What?”  Aku berteriak terkejut.  Ia mengulang kalimat yang sama.  Seolah aku mengalami gangguan pendengaran.

” Kenapa?”  Tanyaku.

” Setiap bulan makin sepi.  Aku ga yakin bisa survive dalam situasi krisis ini.” Katanya dengan nada datar.  Beberapa detik aku butuhkan untuk mencerna ucapannya.  Karena kedua studio pijat miliknya belumlah lama dibuka.  Studio pijat pertama dibuka sekitar 3 tahun lalu.  Sedangkan yang terakhir belumlah genap setahun umurnya.

” Separah itu?”  Lalu sebuah cerita yang pernah kudengar sebelumnya meluncur bebas dari bibirnya yang tipis.   Setelah ia membuka studio pijat untuk pertama kalinya sekitar 3 tahun lalu, persaingan amat berat.   Awalnya semua berjalan lancar.  Tamu tak terbendung bahkan beberapa terpaksa ditolak karena waktu tidak memadai.  Angelina bersama kakak dan 2 karyawan buka sejak pukul 10.00-22.00.  Setiap hari tanpa mengenal libur.  Sekarang, Angelina memiliki 5 orang karyawan ditambah 1 orang kakak yang bekerja padanya.

Mungkin sudah adatnya dalam bisnis bahwa sebuah usaha yang maju pasti akan ditiru oleh orang lain.  Bak cendawan di musim hujan, muncul studio pijat lainnya, dengan harga bersaing dan layanan plus-plus (baca : prostitusi).  Angelina bertahan dengan studio pijat yang pure untuk kesehatan.  Pelan dan pasti ia mulai ditinggal pelanggan.  Ia hanya mengandalkan pelanggan loyal yang kemudian karena krisis menghantam, para pelanggan ini mengurangi frekuensi kunjungan ke studio miliknya.

Tahun lalu, ketika ia berniat membuka studio baru, aku bersikeras tidak setuju saat ia menanyakan pendapatku.  Alasanku karena krisis seperti ini, maka sangat beresiko.  Lebih baik ia bertahan dengan studio lamanya.   Masih menurutku, mending tabungannya selama ini ia fokuskan untuk  membeli rumah di China sana seperti mimpinya selama ini.  Menginvestasikan seluruh tabungan untuk  studio pijat baru rasanya bukan langkah yang tepat.  Bagaimana kalau bernasib sama dengan studio pertama?   Namun Angelina bersikukuh untuk maju.  Menurutnya, Buddha sudah memberi petunjuk bahwa tahun ini (2011) adalah saat yang tepat untuk mengembangkan usaha.  Kalau ia sudah membawa-bawa nama  Budha, aku menyerah.  Semoga benar  demikian, kataku.

Begitulah, waktu berlalu.  Belum setahun studio terbarunya dibuka, Angelina sudah berniat melego.  Awalnya aku bingung mau bersikap, antara gemas dengan kenekadannya dan kecewa dengan semua yang telah terjadi.  Tapi melihat wajahnya yang datar-datar saja, tanpa ekspresi membuatku lebih tenang.  Sikapnya ini berbeda saat terakhir kali bertemu sebulan lalu.  Ia kelihatan sangat kusut waktu itu, ditambah bahwa telah 20 hari ia  tidak enak badan.  Banyak toko, restoran dan tempat usaha lainnya yang bertumbangan.  Tapi melihat dengan kepala sendiri tempat usaha sahabat tumbang, tentu bukanlah hal yang mudah.

*****

Jujur bahwa aku sangat salut akan kebesaran hatinya.  Ia masih bisa bertahan di tengah deraan hidup yang begitu kerasnya.  Waktu memang bisa mengubah watak seseorang yang dulunya rapuh menjadi sekuat karang.  Saat pertama kali kami bertemu, ia sangat rapuh dan cengeng.

Sebagai orang asing di sini dengan kondisi tidak seperti yang  diharapkan sebelumnya, membuat ia sering putus asa.  Apalagi tiada kawan dan keluarga untuk berbagi cerita.  Ditambah keterbatasannya dalam bahasa Italia membuat kami kemana-mana selalu berdua. Kami menjadi dekat.  

Memang  aku tidak bisa berbahasa Mandarin, tapi aku bisa memahami bahasa Italia-nya yang patah-patah.  Kendala terbesar ketika ia harus belanja sesuatu.  Penjaga toko di sini tidak sabar dan faham dengan bahasa Italia ala Angelina yang berantakan.  Karena itu aku menjadi penengah.

6 tahun lalu, kami selalu berangkat kerja bersama-sama, di pagi buta.  Ia kerja di sebuah restauran di salah satu hotel, sedangkan aku bekerja  sebagai cleaning service keliling.  Tempat pertama yang harus kubersihkan setiap pagi searah dengan hotel dimana Angelina bekerja.  Saat itu, tubuh kami sangat kurus, sehingga pada sebuah musim dingin yang buruk, kami berdua memeluk tiang besi, tangan kami saling menahan satu sama lain agar kami tidak terbang tertiup angin.  Sebuah periode yang berat untukku dan Angelina.

Kedatangannya ke kota ini setelah sebelumya ia bekerja di sebuah pabrik tekstil di pinggiran kota Milan selama 2 tahun.  Kerja 15 jam sehari dengan kondisi pangan dan papan seadanya dijalani agar dapat membayar agen yang mengurus visa kerjanya.  Setelah semua lunas, ia memutuskan untuk hengkang  ke Genova mengikuti pacarnya yang stay di sini.  Seperti yang aku bilang, bahwa aku salut padanya.  Walau ia sering mengeluh bahwa ia kecewa pada dunia dan kadang merasa jalan hidupnya selalu berdarah-darah, ia masih mampu bertahan.  Sebagai gambaran, ia menikah muda dan memiliki seorang putri berusia 18 tahun.   Tidak pula memiliki cerita percintaan yang manis.

Setelah susah payah mendapatkan visa kerja untuk masuk Italia dan menyusul suami di Napoli, justru kenyataan pahit yang ditemui.  Suaminya telah menikah lagi dengan sesama orang China.  Gubrak….  Sinetron Indonesia  banget.  Untunglah nasib baik masih berpihak padanya saat ia menemukan pekerjaan di sebuah pabrik tekstil untuk membayar agen yang telah mengurus dokumen dan visa kerjanya.  Suaminya tidak mau bertanggung jawab tentang ini.  Bahkan menurut analisisku dan Angelina, bahwa sebetulnya (mantan) suaminya tidak menyangka bahwa Angelina akan berhasil mendapatkan visa kerja dan menyusulnya ke Italia.

Cerita sedih tidak sampai di sini.  Pacar tempatnya mengadu selama ini ternyata menduakannya setelah 5 tahun mereka berpacaran.   Biduk rumah tangga  berantakan serta ditinggal pacar, begitulah romansa cinta Angelina.   Nyaris ia gila dan mencoba  bunuh diri ala Nazi.  Suatu hari  ia menghidupkan gas dan menutup semua jendela dan pintu.  Ancamanku bahwa jika ia gagal mati, maka ia bakal masuk penjara karena tindakannya membahayakan orang banyak yang membuatnya membuka pintu.

” Kalau mau mati, pilih cara yang elegan dong.”  Candaku saat ia telah membuka pintu kamarnya yang nyaris kudobrak.  Tapi itu cerita lalu.  Sejak ia ditinggal pacarnya  (sekarang menjadi sahabat),  ia lebih kuat.  Bila selama ini (mantan) pacar yang mengurus dokumennya, perlahan ia ambil alih hingga ia berhasil mandiri dan membuka kedua studio pijat.  Akhirnya Angelina jadi pengusaha, godaku saat ia mengantarkan undangan pembukaan studio miliknya.

Semua cerita di atas terputar ulang di benakku.  Aku mengingat betul saat Angelina selalu sedih dan merasa dunia tidak adil padanya.  Sering ia merasa kecewa telah dilahirkan ke dunia ini.

*****

”Untuk apa aku dilahirkan jika hanya untuk mengecap kesedihan?”  Tanyanya suatu hari.  Ia sangat kecewa akan tindakan keluarganya yang tidak memberitahu bahwa ibunya telah  meninggal.  Tragisnya, ia mengetahui bahwa ibunya telah tiada setelah 3 tahun ibundanya berpulang.   Kenyataan pahit itu ditemukan saat ia mudik untuk pertama kalinya sejak meninggalkan tanah kelahirannya.  Padahal Angelina sudah menabung  dan  membeli perhiasan untuk ibunya.  Aku sampai kehabisan kata-kata untuk menghiburnya.  Aku memilih diam dan membiarkan ia menumpahkan kemarahannya.

Sikap yang sama aku pilih saat tempo hari ia mencetuskan keinginannya menutup studio pijatnya.

” Mulai dari nol lagi.”  Jawabnya saat kutanya rencana ke depan.  Ia memilih menjual kedua studio dan akan mengambil sebuah studio yang lebih kecil untuk menekan ongkos produksi.  Ia dan kakaknya (yang juga tulang punggung keluarganya di China) akan mengelola bersama-sama.

” Yang penting bisa survive dan nabung untuk pulang ke China.”  Katanya lagi.

” Kamu biasa aja kelihatannya.”  Kataku mengomentari ekspresi wajahnya yang datar itu.

” Untuk apa kecewa, tidak akan menyelesaikan masalah.  Paling tidak, aku udah mencoba bagian terbaikku.”  Katanya.  Aku bengong sekaligus salut luar biasa.  Salah satu keberanian mengambil resiko dalam bisnis yang belum aku miliki.

” Aku kira kamu akan nyoba bunuh diri lagi.”  Aku menggodanya dan ia tertawa, menertawakan kebodohannya beberapa tahun lalu.  Saat ia berpamitan, kami berpelukan erat dan lama sekali, saling menguatkan.

” Janji ya untuk menghubungi aku kalau kamu ada waktu.  Kita rayakan kekacauan ini dengan pesta pizza.  Biar kamu gemuk lagi”  Katanya.  Ternyata ia masih sempat memperhatikan wajahku yang semakin tirus.

” Siap, komandan!”  Kataku sambil mengangkat tangan kanan ke pelipisku.  Ia tertawa sambil meninggalkanku yang memandangi punggunggnya dengan perasaan tidak karuan.  God bless you, my friend.  Sang Budha  akan mengganti air mata dan kecewamu dengan sejuta kebahagiaan, doaku dalam hati.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

2 thoughts on “Kecewa Pada Dunia

  1. GendukNdeso berkata:

    hmmmmm….cerita yg menarik…membuat semangatku menyala lagi. satu dari beberapa hal penting yang aku pelajari dari dunia ini adalah belajar menerima kekecewaan sedari awal. siapkan diri dan perkuat jiwa menerima kekecewaan apapun bentuknya. salam hangat dari Karibia!!

    • lintasophia berkata:

      Betul, salah satu pelajaran yang bisa dipetik adalah siap dan belajar menerima kekecewaan. Tapi suseh boooo… Apalagi kalau kita udah mengerahkan semua yang kita miliki. Istilahnya, udah edan-edananlah tapi akhirnya gagal. Haduh, nangis darah pastinya. Bagaimana mengelola rasa kecewa? Mungkin itu kata kuncinya.
      Salam hangat dari Genova.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s