Etil<4 mEnuLi5 d4N t4nd4 I3aC4, pL3453!

Etika Menulis di Ruang Publik

Siapa yang bisa baca judul di atas?  Kalau bukan aku sendiri  yang ketik, pasti aku ga tau bagaimana membacanya.  Atau, aku butuh waktu untuk mengejanya.    Dibaca per huruf atau harus memecahkan kode-kode di atas menjadi sebuah kalimat.  Misteri!  Kata anak sekarang, itu bahasa alay, dimana mengganti beberapa huruf menggunakan angka sehingga kombinasi angka-angka dan kode (baca : tanda baca) menghasilkan makna tertentu (sumber : wikisophia).

Aku tidak suka cara penulisan yang jungkir balik seperti ini, bikin pusing dan mabuk.  Kalau digambarkan, mukaku pasti seperti ini \\!!(@_@)// saat bertemu model tulisan seperti ini.  Sampai sekarang, cara menulis alay seperti ini ternyata masih digemari.  Seperti tadi pagi aku menemukan seseorang mengirimkan greeting dengan cara ini pada sebuah komunitas.  Seketika aku komplein.   Mungkin aku lebay tapi aku merasa tidak nyaman.  Namanya juga ruang publik  yang pengikutnya sangat heterogen baik latar belakang pendidikan, usia dan minat,  sehingga sebaiknya memakai bahasa, kode dan sandi yang difahami secara bersama  🙂 .

Berbeda kasusnya jika kita menulis pada sebuah komunitas lebih spesifik dimana penggunaan kode, bahasa alay atau istilah tekhnis tertentu telah menjadi kesepakatan sebelumnya.  Katakanlah kita ikut komunitas : Jomblo alay-alay.  Dari namanya saja sudah spesifik bahwa pengikut komunitas ini mungkin atau bahkan mereka yang berstatus single dan agak lebay.  Dari situ, bisa saja mereka sudah mengesahkan cara menulis jungkir balik (alay) sebagai ciri khas mereka.  Dalam hal ini tidak masalah.  Namanya juga kesepakatan.  Misal contoh percakapan di bawah ini obrolan anggota komunitas Jomblo Alay-alay :

A : ”Q H2C euy””  (baca : Aku H2C/Harap-harap cemas).

B : ”w4y, cinnnn…????”  (baca : why, cin? Cin atau Cinta merupakan panggilan sayang untuk sahabat dekat).

A : “T4kut dtlk  o/ si dya (baca : takut ditolak oleh si dia)

B : ”Oh, No… 😦 ” (baca : tidakkkkk).

Kalau obrolan di atas, tampak komunikasi cuma pada segelintir orang, bahasannya spesifik dan mereka saling paham akan kode yang ada.  Tapi bagaimana kalau gaya penulisan itu diterapkan pada ruang publik?  Saranku, sebaiknya hal itu dihindari.  Kasihan menambah kepusingan orang lain.

Kadang kalau aku menemukan tulisan model begini, entah di blog atau Facebook, aku jadi suka bertanya sendiri.  Ini orang nulis dulu kalimat utuh baru setelah itu diedit satu-satu?  Huruf A diganti jadi angka 4 atau otak dan jarinya sudah sedemikian sinkron hingga berhasil menuliskan rentetan kode sepanjang itu?

Bagaimana kalau menulis status di Facebook?   Walau menulis di profil milik sendiri, sebaiknya menulislah dengan menggunakan kaidah dan aturan yang berlaku secara umum.  Tulisanmu adalah cerminan dirimu.  Jadi bagaimana menurutmu jika menemukan seorang teman, sudah punya beberapa anak tapi nulis status saja masih seperti ini : k4nG3n si dya…???  Kalau menurutku sih, cara penulisan seperti ini menunjukan Anda masih childish.

Tanda Baca

Sejak SD kita sudah belajar pemakaian tanda baca pada sebuah kalimat.  Tolong buku pelajaran Bahasa Indonesia anaknya atau keponakan dibuka lagi ya.  Sehingga kita tahu kapan menggunakan koma, titik, tanda tanya atau tanda seru.  Jangan kebalik-balik atau tanpa tanda baca sama sekali.  Kesalahan peletakan tanda baca hanya akan membuat kesalahpahaman dan pesan yang ingin disampaikan menjadi kabur.  Sebagai contoh status pada Facebook seorang teman : Ya Allah, berilah hambamu ini kekuatan…???

Betul, ia meletakan 3 buah tanda tanya di belakang kalimat.  Bukankah hal ini menyebabkan kalimat menjadi rancu?  Tidak jelas maksud dan tujuan, apakah ia ingin menginformasikan sesuatu, bertanya atau berseru.  Masih banyak status-status lucu karena tanpa tanda baca yang kita temukan setiap hari.  Daripada menulis sesuatu yang akan menguap begitu saja, karena pesan tidak sampai, bagaimana kalau kita mulai menulis dengan kaidah yang benar.  Dimulai dari hal mudah, misalnya  saat menulis status atau mengirimkan komentar.  Perhatikan tanda baca sebelum mengklik : pubblish.

Font

Pemilihan jenis huruf (font) dan ukurannya juga wajib diperhatikan.  Ukuran font jangan terlalu kecil karena yang membacanya rawan terkena gangguan penglihatan.  Tidak baik juga terlalu besar karena berkesan : galak banget!  Ya, lihat situasi dan kondisilah.

Kapan Kecil dan Kapan Besar

Bagaimana dengan penggunaan huruf besar dan kecil?  Huruf besar digunakan untuk memulai sebuah kalimat.  Itu hal pertama yang harus diingat.  Huruf kapital juga diperlukan pada nama tempat, orang, wilayah dan sebagainya termasuk pada kata yang melambakang Tuhan.  Contoh : Berilah hamba-Mu ini kekuatan.  

Kapan sebuah kalimat boleh menggunakan huruf kapital secara keseluruhan?  Saat Anda membuat pengumuman yang bersifat mendesak atau saat Anda ingin menunjukan pada dunia bahwa Anda sedang marah hingga rasanya pengen makan orang.  🙂

Semoga bermanfaat dan salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

2 thoughts on “Etil<4 mEnuLi5 d4N t4nd4 I3aC4, pL3453!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s