Selalu Ada Rezeki Untuk Mereka

Tutup Facebook dan mengasingkan diri di sini. 🙂

Apa ya yang mau kucatat hari ini?  Kepala sedang kosong melompong efek dari  ngobrol ama ibu 2 jam lalu.  Kemaren ibuku sengaja menelfon Mas Ipung untuk menanyakan khabar terbaru dari usaha yang sedang kami rintis.  Dari  Mas Ipung, ibu sudah tahu bahwa usaha yang sedang kami rintis terpaksa melambat karena kekurangan dana.  Dari nada suaraku pun ibu sudah tahu kegelisahan hatiku.  Beliau berusaha menguatkan hatiku yang sedang down dengan bercerita hal-hal lucu tentang keponakan-keponakanku.

Sudah beberapa hari aku tidak menelfon demi penghematan pulsa (karena itu beliau memilih menelfon Mas Ipung).  Rasanya berat untukku dan keluarga di Bandung,  terutama ibu yang merasa kehilangan teman bercerita.  Walau tidak ingin membebaniku, tapi katanya ia telah menunggu telfonku sedari pagi.  Bahkan tadi ibu sengaja tidur di depan telfon agar bisa langsung mengangkat telfon jika aku menghubunginya.  Sungguh terharu.  Belum lagi ibu sedikit kesulitan menjawab pertanyaan keponakan yang mencari-cariku.

Aku cuma menitipkan salam dan ucapan selamat untuk  mereka (keponakanku) yang baru saja dibagikan hasil Ujian Tengah Semester (UTS).  Mereka pasti sudah menunggu seribu pujian dariku atas pencapaian mereka selama ini.  Aku jadi ingat beberapa hari lalu saat Uis sedikit tergagap meminta maaf karena nilai Bahasa Inggrisnya tidak sebaik yang diharapkan.  Tentu saja aku tidak marah, kataku.  Aku meyakinkan Uis bahwa sebetulnya ia bisa lebih baik lagi asal tidak malu bertanya.  Anak pintar tidak malu bertanya, kataku pada Uis.

Demikian juga dengan Tony yang tiba-tiba merasa rendah diri karena Matematikanya harus remedial (mengulang), padahal beberapa hari sebelumnya ia sangat optimis  bahwa tahun ini nilainya pasti lebih baik.  Aku pun tidak marah sepanjang mereka berusaha dengan baik dan tidak nyontek.

Cerita penutup dari ibuku yang membuat fikiranku mendadak kosong…halah…  Kata ibuku, pendaftaran untuk tahun ajaran baru sudah dimulai.

” Haaaaaa….  Cepat banget?  Baru juga 3 bulan masuk TK.  Kejam amat”  Kataku.

” Iya, itu kalau kita minat memasukan Lia ke SD  yang sama yayasannya dengan TK-nya sekarang ini.”  Jelas ibuku.

” Oh gitu?  Lalu…”

” Formulir sudah di tanganku dan tadi aku sudah bicara dengan kepala sekolahnya.  Karena berasal dari TK  milik yayasan, maka Lia mendapat potongan harga 20 persen.”  Terang ibuku sambil menyebutkan angka awal dikurangin potongan harga dan harga akhir. 😦

Aku terdiam, sama seperti ibuku yang kemudian buru-buru mengalihkan pembicaraan.  Kondisi krisis gini, aku ga tau dari mana mendapatkan dana untuk mencicil uang masuk sekolah Lia yang harus mulai bayar Desember nanti.

Keadaan tidak pernah sesulit ini.  Dalam sejarah keuanganku, aku bahkan pernah memasukan sekolah 3 keponakan sekaligus (masuk TK, SMP dan SMA dalam waktu bersamaan) ditambah pula menjadi donatur sejumlah adik asuh selama bertahun-tahun (sekarang tinggal kenangan).  Kali ini, untuk mencicil uang masuk  1 anak pun rasanya gelap….Grhhhh….

” Jangan jadi fikiranmu, ntar kamu sakit.”   Hibur ibuku.  Segera kuatur nafasku agar tangis tak tumpah.

” Kita bisa daftarin Lia ke SD Inpres dekat rumah.”  Kata ibuku.  Aku menolak mentah-mentah ide itu.  Lia anak yang pintar dan energinya banyak.  Rasanya sayang sekali kalau semua itu tidak tersalurkan dengan baik.  Lia berjanji akan belajar balet dengan baik agar ketika aku pulang ia bisa menari untukku.  Ia pun sudah tidak sabar agar sekolah full seperti kakak-kakaknya dan menikmati fasilitas sekolah yang sama seperti yang diterima kakak-kakaknya.  Kebetulan mereka bertiga sekolah di sekolah yang sama.

” Aku usahakan ya, bu.  Pegang saja dulu formulirnya.  Besok berbicaralah dengan Kepala Sekolah bahwa Desember ini kita pasti bisa kasih cicilan pertamanya.”  Pintaku pada ibu walau dalam hati tidak tahu bagaimana cara mendapatkan dananya.

” Kamu yakin?” Tanya ibuku.  Ada rasa was-was dan perasaan bersalah pada suaranya.

” Aku yakin.  Semoga selalu ada rezeki untuk mereka.”  Kami menutup telfon.  Tangisku pecah.

Salam,

Lintasophia.

Gambar dari Google

Iklan

4 thoughts on “Selalu Ada Rezeki Untuk Mereka

  1. Bejan Tenan berkata:

    Tidak ada salahnya masuk SD Inpres, dulu aku juga masuk SD Inpres dengan alasan dekat dari rumah, kalau istirahat bisa pulang, makan di rumah (ahhh jadi inget masa SD dulu, istirahatnya lama sekali lebih dari 30 menit ha ha) bisa irit, uang saku utuh , bisa buat beli buku Lima Sekawan dsb. Mungkin jamanku dulu kualitas SD Inpres dengan Negeri tidak jauh beda, jadi ortu santai saja. Aku juga suka-suka saja, temen-temennya juga asik, sederhana tidak matre meskipun aktivitas setelah sekolah hanya Pramuka, tidak ada kursus balet dsb. Dari pengalaman, masa-masa terpenting dalam pendidikan itu usia sekitar 12-15 alias SMP. SD masih waktunya anak untuk bersenang-senang dan belajar. Nanti mungkin pas waktunya Lia masuk SMP perlu dicarikan SMP yang bagus. ..
    Salam

    • lintasophia berkata:

      Satu sisi, aku lebih suka kalau anak-anak sekolah biasa saja seperti masa kanak-kanak kita dulu. Tapi sekarang udah jarang model begituan. Anak sekarang bawa ransel sekolah berat banget seperti prajurit berangkat ke medan perang. Tapi itulah, kadang kita yang tua ini (walau ga tega) tetep aja memilih dipusingkan dengan targetan akademis yang ”kudu” dicapai anak-anak. Jujur, aku mah kasian liat mereka tapi sebagai imbalannya, di rumah mereka harus boleh main-main, biar hidup seimbang.

      Kalau aku sendiri lebih sepakat mereka masuk SMP biasa saja, tidak harus SMP Katholik, internasional dan bla…bla…bla… Sing penting mereka enjoy di sekolah, bisa mengenali bakat dan minat mereka. Kayaknya, masih liat situasi keuangan termasuk mau rembukan dulu dengan keluarga. Prinsipku, kalo Lia memang minat ke SD yang sama dengan kakaknya, sebisa mungkin ta usahain. Tapi wait and see….

  2. lida berkata:

    Percalah kamu pasti bisa kok bayar nanti bulan desember aku yakin itu. ketika kamu yakin pasti rejeki itu ada aja.

    • lintasophia berkata:

      Makasih Lid,
      Belakangan ini, modal keyakinan ga cukup bikin perasaan tenang…..hehehehehe…
      Masih menimbang juga, apakah Lia dimasukan ke SD Negeri tapi cukup jauh dari rumah atau didaftarkan ke SD swasta yang deket dengan rumah.
      Makasih udah mampir. 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s