Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Makanan

Berikut ini salah satu makanan favoritku, pasta farfalla con zucchini e gambereti.   Merupakan campuran pasta, zucchini dan udang.   Biasanya teman sekaligus majikan yang memasaknya untuk kami pranzo (makan siang) rame-rame.  Nah, sudah beberapa hari ini aku ngidam masakan yang satu ini.  Hunting resep sejenis aku lakukan, tapi kok kelihatannya ribet ya?  Bolak-balik nodong resep dari teman tapi gagal melulu.  Alasannya, ntar acara makan siang bareng jadi tidak seru kalau resep ini kami kuasai…halah….  Akhirnya temanku menyerah dan membeberkan resep rahasianya. Yes!

Minggu lalu sudah terbersit ide masak pasta berbentuk kupu-kupu ini.  Tapi berhubung saos tomat minta dihabiskan dulu, terpaksa deh ditunda dulu bersua dengan le farfalle (kupu-kupu).  Sudah beberapa bulan ini aku rajin masak sendiri.  Sebisa mungkin makan di rumah biar hemat.  Sudah jarang bersentuhan dengan yang namanya mie instant, kecuali kalo ngiler.  

Biasanya aku membeli pasta dan saus yang sudah jadi (botolan).  Tinggal rebus pasta, tiriskan dan tuangi saos yang diinginkan.  Belajar dari pengalaman, aku tidak lagi membeli saos dalam kemasan besar, karena aku sering membuangnya karena basi.  Belum lagi sifatku yang moody, gampang bosan terhadap makanan yang sama.  Karena itu, saos yang baru terpakai sekali masak tak kulirik lagi.  Padahal, saos bila kemasan telah dibuka hanya kuat beberapa hari.  Solusinya, dalam beberapa hari aku makan pasta dengan saos yang sama.  ;)😉.

Dulu itu, aku ogah banget deh masak di rumah.  Selain karena ga sempet, kok rasanya ribet ya kudu nyiapin banyak bahan makanan cuma untukku seorang.  Belum lagi harus bersihin dapur dan peralatan masak…huwaaaaa…  Males aja sih, kerjaanku pan tukang cuci piring, mosok iyo di rumah juga masih kudu mikirin cuci piring?  Kalo laper ya beli pizza potong atau makan siang di luar.  Gampang kan?  Tapi itu dulu.  Sekarang aku suka-suka saja masak biar ga kelaperan.  Hasilnya tidak selalu enak atau baik tapi aku cuek aja, yang penting mangiabile (layak makan).🙂

Bisa karena biasa.  Istilah itu tepat digunakan untuk mereka yang dulunya buta memasak, sekarang jagoan.  Aku menjadi saksi betapa teman-temanku yang dulunya ga bisa atau tidak suka masak, sekarang menjadi handal layaknya chef terkenal.  Rata-rata temanku jago masak setelah mereka menikah.  Padahal waktu zaman kuliah dulu, nyalain kompor aja ga bisa.   Teman-temanku sekaligus menjadi saksi betapa aku dulu dodol banget untuk urusan yang satu ini.  Sampai sekarang, teman-teman masih mengingat dengan baik saat aku membuat nasi goreng (yang katanya resep paling mudah selain membuat telor ceplok) pun aku tidak becus.  Saat nasi goreng (menurutku sih) kusajikan sebagai sarapan pagi itu, teman-teman malah sibuk mengamati piring masing-masing.

” Ini nasi goreng atau nasi kuning?”  Tanya mereka…  Huwaaa…sedih banget saat itu, walau sebagai penghiburan teman-teman menghabiskannya juga.  :( .  Di akhir sarapan, teman-teman memberikus tips.  Untuk mendapatkan warna kuning kecoklatan pada nasi goreng, cukup menambahkan kecap dan saos tomat.  Tidak perlu kunyit seperti yang baru kulakukan.  Pesan ini aku ingat sampai sekarang.  * smile.

Nah, balik lagi ke masalah kemampuan dan kemauan masak yang ternyata beda-beda tipis.   Asal mau ngutak-atik dapur, dijamin deh lama-lama bakal bisa masak.  Dimana ada kemauan, di situ ada makanan *gue banget!  Sekarang aku sudah bisa masak nasi, mie dan bihun goreng.  Capcay merupakan resep paling mudah menurutku.  Cuma ribet nyiapin bahannya yang macem-macem, tapi prosesnya mudah.  Tinggal cemplungin.

Berhubung aku tidak suka pedas dan masakan berbumbu, di sini aku lebih suka makan makanan Italia.   Pasta kupu-kupu campur zucchini dan gamberetti sudah aku kuasai.  Kata temanku setelah melihat foto masakanku, kelihatannya enak….heheheh…  Ntar mau cari resep baru, yang penting mudah, murmer dan enak.🙂 .  Sudah ah, mau cabut dulu.  Kebetulan masih ada sisa bahan makanan untuk sekali masak lagi.  Resep dan foto pada catatan terpisah ya.

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

2 thoughts on “Dimana Ada Kemauan, Disitu Ada Makanan

  1. sophiemou berkata:

    masak nasi uduk juga gampang, berasm garam, santan, sereh jadi deh. Tinggal goreng telur dadar diiris, timun, dan emping, makan sama kecap dan sambel terasi..alamak..gelegek..aku jadi nelan ludah hahahaha..
    aku dulu juga ngk bisa masak, cuma karena sudah married ( alasan basi ) ngk mungkin beli terus, sekali masak jadi puluhan tahun, apalagi kalau tinggal di luar negeri, pengin makan ini itu harus muter otak masak sendiri. Ada rasa kepuasan kalau memasak, terus ada yg bilang ” yummy..enakk..”
    Ayo memasak, lebih irit dan sehat🙂. Nanti belajar buat batagor ya, hihihi

    • lintasophia berkata:

      Mbak Sophie, masak sendiri lebih higienis dan bisa nambah bahan/bumbu sesuka kita.
      Kemaren aku baru belanja bahan masakan untuk seminggu. Belum nemu resep baru yang keliatannya gampang. Mentok beli pasta dan saos yang udah jadi. Paling ntar ta tambah daging segar.

      Bikin batagor? Kayaknya bisa tuh pakai kulit lasagna… Menarik nih…. Thank you….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s