Daftar Tamu yang Harus Dikirim Ke Laut Part. 1

Barusan ada tamu menjengkolkan (baca : menjengkelkan).  Seorang pria beserta pacar, ibu, bibi dan bapaknya masuk ke toko tempatku bekerja.   Di belakang mereka (bukan termasuk rombongannya), menyusul sepasang pria dan wanita.  Kedatangan tamu-tamu inilah sebagai pencetus ide catatan hari ini, yakni ; tamu yang tidak sopan alias tidak berpendidikan.

Tidak membalas salam penjaga toko

Beberapa tahun lalu, saat aku mulai pekerjaan sebagai penjaga toko, sebagai pemula aku harus ikut sebuah kursus.  Corso Apprendista sebutannya.  Sebuah kursus untuk mereka yang mulai terjun di dunia kerja dengan usia maksimal 24 tahun atau 29 tahun, tergantung bidang pekerjaannya.  Dalam salah satu diskusi, kami diminta menyebutkan hal paling menyebalkan dari seorang tamu.  Dari 15 orang, jawabannya bulat, yakni para tamu yang tidak membalas salam pemilik/penjaga toko.  Kita kayak ngomong ama tembok, ga dianggap, padahal kita eksis bo…. Begitulah alasan kami para pemilik toko.

Sama seperti rombongan tamu pagi ini, pura tidak melihat atau buang muka.  Para tamu ini aku sebut sebagai jalangkung.  Datang tak diundang pulang tak diantar.  Biasanya mereka ini tidak ada niat untuk belanja.  Sekedar cuci mata saja.  Pengalaman memberiku keahlian/insting untuk membaca gelagat tamu, yang mana berniat membeli,  mencari sesuatu atau sekedar lihat-lihat.  Nah, yang tidak membalas sapaan pemilik toko biasanya golongan tamu yang datang sekedar melihat-melihat, iseng dan passa tempo (menghabiskan waktu senggang).  Biasanya ini terjadi pada hari Minggu.  Banyak keluarga yang cuma window shopping.  Satu hal yang aku sesalkan, banyak orang tua yang memberi contoh buruk di depan anaknya dengan tidak membalas sapaan penjaga toko.  Hmmmm….

Pakai kacamata hitam di dalam ruangan

Please deh, norak banget tamu model begini.  Seperti pria pagi tadi, ngobrol dengan aku, menanyakan detail daganganku tanpa melepas kacamata hitamnya yang nyaris menutupi setengah wajahnya.  Helllooo…. Anda sedang berbicara dengan manusia, bukan dengan tembok!  Dulu waktu kursus, temanku memilih mengkritik langsung tamu yang berbicara dengannya saat mengenakan kaca mata hitam.  Lagi-lagi masalah eksistensi diri seorang penjaga toko.  Berbeda dengan aku yang tetap melayani tamu model gini.  Rasanya, meski aku telah lama tinggal di luar negeri, tapi tipikal Indonesia masih melekat pada diriku, salah satunya perasaan tidak enak  mengkritik tamu.  Slogan tamu adalah raja masih terbawa ke sini.  Paling banter aku ngomel dalam hati atau mencatatnya… *Sigh….

Ada cerita tidak mengenakan saat seorang perempuan masuk ke toko dengan kaca mata hitamnya.  Si ibu ingin mencoba beberapa gelang dan aku membantunya.  Setiap gelang yang dicoba, pasti ditanya warnanya.

” Gelang ini berwarna putih, bu…”  Jawabku ramah.
” Oh kirain beige.”  Kata si ibu sambil sibuk menurunkan sedikit kaca mata hitamnya.  Berlangsung sesaat dan mengembalikan gelang putih yang tadi dicobanya dan meminta gelang berwarna lain.
” Gelang ini warna abu-abu tua.  Cocok dan netral untuk musim panas atau dingin.”  Saranku sambil menyorongkan gelang tersebut ke pergelangan tangannya.
” Oh, tapi kok kayak warna hitam ya?” Gubrak….  Rasanya mangkel dan pengen jitak ibu itu habis-habisan.
” Please deh bu, tuh kaca mata item copot duluuu….”   Teriakku, tapi dalam hati saja.

Memang sih kesannya sepele, cuma masalah kaca mata hitam.  Tapi percayalah,  pada dasarnya penjaga toko akan memperlakukan Anda sesuai dengan sikap Anda  selama menjadi tamunya.   Terutama untuk penjaga toko orang  Genova yang terkenal gampang komplein dan marah.  Kalau Anda penasaran dan pengen melihat reaksi penjaga toko saat Anda masuk ruangan dengan mengenakan kaca mata hitam, ya silakan…

Si Sok Tahu

Nah,  setelah rombongan keluarga dengan pria berkaca mata hitam meninggalkan ruangan, akhirnya kesampaian juga ngobrol dengan tamu-tamu ini.  Ternyata mereka sudah pernah mengunjungi Indonesia beberapa tahun silam.
”  Semua asli Indonesia?”  Tanya bapak itu dan aku membenarkan ucapannya.
” Yakin?”  Aku mengangguk kuat-kuat.
”  Soalnya, belakangan ini China meniru barang dari seluruh dunia.”  Ujarnya.  Padanya aku menceritakan dikit seluk-beluk toko ini termasuk bahwa kami belanja sendiri dan langsung ke pengrajin di Indonesia.  Semua proses belanja kami lakukan sendiri hingga barang masuk kontainer.  Bapak itu manggut-manggut.
”  Harganya mahal juga ya.  Karena itu (mungkin) kalian sudah kaya raya di Indonesia sana.”  Lanjut bapak itu sebagai teror pagi ini.
” Maksud bapak apa?”  Tanyaku tidak mengerti.
” Aku tahulah harga barang-barang ini, karena aku dan isteri kan pernah ke Indonesia beberapa tahun lalu.”  Jawabnya sambil menkonvers harga barang dalam Euro ke Rupiah.  Aduh pak, sebuah analisis yang tidak adil dan tanpa logika.

” Maaf ya pak, harga ini sudah murah.  Bukankah kita harus menghitung ongkos produksi?”  Pajak, ongkos kirim barang, transportasi dan akomodasi selama belanja barang, sewa toko, listrik, keamanan dan gaji pegawai yang kesemuanya aku sebut sebagai ongkos produksi terpaksa aku beberkan.

Pagi ini aku seperti sedang memberi mata kuliah Ekonomi dengan 2 orang mahasiswa abadi.  Percaya atau tidak, bapak itu tidak menerima penjelasanku.  Baginya, tetap saja barang jualanku itu sebetulnya di Indonesia sana tidak ada harganya.  Ia selalu mengingat harga  topeng Batik yang dibayarnya (dalam rupiah, kemudian dikonversi ke Euro).  Sabarrrrr…….   Pasangan aneh, fikirku dalam hati.  Baru sekali ke Indonesia seakan sudah tahu segalanya.  Tidak kehabisan akal, aku membalas ucapannya yang selalu mengkritik harga di toko terlalu mahal.

” Mungkin bapak lupa kalau dunia perdagangan apalagi antar negara yang menggunakan mata uang berbeda, sangat rentan dengan gejolak nilai tukar.  Dengan keadaan Italia krisis seperti ini, nilai tukar Euro itu melemah pak.  3 tahun lalu, 1 Eruo setara dengan Rp. 14.000.  Coba sekarang, dapet Rp. 11.500 untuk 1 Euro juga udah syukur pak.”
” Tapi tetep aja kan Neng, 1 Euro bisa beli banyak barang di sana.”  Bapak itu cuek saja ngomong gitu tanpa peduli roman mukaku yang mulai menunjukan sikap tidak nyaman dengan pembicaraan ini.
” Di negaraku, 1 Euro itu da buttare via (terj : untuk dibuang) alias tidak ada nilainya.”  Jawabku sengit.  Percuma saja teori inflasi, harga minyak dan nilai tukar dipaksa ditelan bapak ini, karena sebetulnya otaknya dan sikapnya tidak terbuka untuk diskusi 2 arah.  Kalau bukan karena pekerjaanku sebagai penjaga toko yang harus memperlakukan tamu dengan baik, tentu dari tadi sudah kutunjukan pintu keluar pada mereka.

” Sudah lama neng di sini (Italia-red).”  Tanya si ibu yang sedari tadi asyik mencoba semua cincin.

” 7,5 tahun, bu…”  Jawabku.

” Wow, lama juga… ” Teriak ibu itu takjub.   ” Suka ga?”  Tanya ibu itu lagi.

” Gitu deh…”  Jawabku.  Belum selesai gesture tanganku bercerita,  bapak itu langsung nyolot.

” Tentu saja betah kerja di sini, wong untungnya gede.”

” What?”  Keningku berkerut-kerut.  Bapak itu mengeluarkan analisis lagi, perpaduan analisis yang tadi diungkapkannya dengan cara menghitung untung yang kami peroleh dari setiap transaksi di toko ini.  Sok tahu banget sih….

”  Maaf ya pak.  Aku di sini bekerja.  Emangnya gajiku dibayar pakai rupiah?”  Huhhhh…kesallll…

Salam,

Lintasophia.

Note : gambar menyusul, maklum, masih emosi.   😦 😦

Iklan

4 thoughts on “Daftar Tamu yang Harus Dikirim Ke Laut Part. 1

  1. Sirpa berkata:

    @ my dearest MPI : “… Note : gambar menyusul, maklum, masih emosi…. ” …. ——– besok2 kalo mulai masuk ‘nguli lagi ketempat kerja mu supaya e s m o s i nya ditinggalkan dirumah saja , jangan dibawa ketoko ( have fun at work … salam maniz yang hangat dari Pakdhe mu di Kali Pornia )

    • lintasophia berkata:

      Pak Dheeeee, gimana ga kesel coba kalo punya tamu ngeyel. Lha, dia ke Indonesianya pan beberapa tahun yang lalu…. Trus, nada ngomongnya itu lho, ngajak perang banget.
      Untuk ukuran penjaga toko (di sini), aku itu termasuk sabar banget. Tamu model gini, udah dikasih hati lalu minta jantung…. grhhhh… 😦 Lagian, aku pan cuma mencoba meluruskan informasi yang ”dianutnya.”

      Pak dhe, kangen…. 🙂

  2. GendukNdeso berkata:

    hahahaha…orang kek gitu mah diketawain aja…kadang customer memang bikin jengkel..dimana² sama Mpi…aku disini kebetulan juga jualan barang dari Indonesia kayak kamu..ada juga pembeli yg bilang…”mebel² dari Indonesia kan murah²..” gubrags!!gak semua barang deh Buuuu..lagian kualitas juga penting!dipikir semua dari Indonesia itu barang murah²!!jengkel..tp yo pie meneh..prinsip “pembeli adalah raja” keknya sdh seharusnya diganti…”penjual juga manusia”..hihihi..salam!!

    • lintasophia berkata:

      Penjual juga manusia….hohohohohohoh…aku suka banget istilah itu.
      Biasanya, kalo tamu dijelasin tentang ongkos produksi, mereka ngerti kok. Tapi yang satu ini, duuuuhhhh….. Padahal, klien tetap kami suka bilang kalo harga kami dari tahun ke tahun sama, ga naik tuh. Dasar aja tamu yang satu itu gendheng. . *crying.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s