No More Argue, Just Thank You

Com’e’ straordinaria la vita.  Un giorno ti trovi in un sogno.  e poi ti ritrovi all’inferno!  (how wonderful is life, one day you feel like in a dream and in the next you’re in hell).  Bagaimana hidup itu tidak luar biasa hebat?  Hari ini kamu berada di alam mimpi, suatu hari nanti serasa di neraka. (quote : Dolcenera)

*****

Kemaren aku memilih tidak belajar tentang usaha yang sedang kami siapkan.  Selepas bekerja, aku menerima tawaran adikku untuk menemaninya nongkrong di bar di sebelah toko.   Tidak ada pembicaraan serius, sekedar bercanda atau menertawakan orang-orang lewat (ini memang kebiasaan burukku).  Hari ini Via San Lorenzo (tempatku nongkrong) penuh oleh pelajar dan beberapa orang dewasa yang kemungkinan besar adalah guru dan pendampingnya.

Menurut adikku, hari ini ada Global Games 2011 di Genova.  Sebuah pesta olahraga bagi anak-anak penyandang cacat.  Kelas dunia dan diikuti sekitar 35 negara serta berlangsung sejak 26 September hingga 4 Oktober 2011.  Sejak berita krisis nyaris 24 jam di radio dan berita, belakangan ini aku jarang mendengarkan radio.  Akibatnya, aku ketinggalan event atau peristiwa di sekitarku.  Reaksi pertamaku saat adikku bercerita : “Olimpiade para penyandang cacat?  Wow, luar biasa…..:”

Olimpiade untuk penyandang cacat baik pada bidang olah raga maupun sains bukanlah pertama kali aku dengar, tapi melihat langsung puluhan penyandang cacat, duduk di kursi roda hendak bertanding, baru pertama ini aku saksikan dengan mata kepalaku sendiri.  Sebagai informasi, aku tidak melihat acara pembukaan yang berlangsung hari ini, cuma iring-iringan kontingen tertentu menuju lokasi acara.  Tapi walau tidak melihat mereka bertanding, aku tidak bisa berbohong jika decak kagum tak putus keluar dari mulutku.

Walau agak sulit untuk menaksir usia para peserta,  tapi aku tebak-tebak usia rata-rata 13-14 tahun.  Aduh, 20 tahun lalu saat aku kana-kanak, jangankan berfikir untuk ikut olimpiade, bisa belajar dengan tekun saja sudah hebat.  Usia segitu aku lagi bandel-bandelnya.  Sedangkan mereka, dengan keterbatasan yang ada, persoalan untuk mandiri dan tidak tergantung orang lain pasti sudah cukup menjadi beban sehari-hari, apalagi ditambah dengan latihan menuju olimpiade.

Duh Gusti, aku minta ampun kalau selama ini sering lalai mengucap syukur atas nikmat yang telah kau berikan.   Keadaan yang sulit dan fokus mengejar target hidup sering membuatku lupa untuk menikmati apa yang telah kumiliki, padahal aku memiliki hidup yang luar biasa indahnya.    Melewati periode sulit perlu kebesaran jiwa untuk tetap mengucap syukur.   Aku mengakuinya.

Melihat anak-anak penyandang cacat yang begitu bersemangat luar biasa, mestinya ga ada lagi alasan untuk komplein melulu, secara udah dikasih sehat gitu lho.    Gusti, terima kasih sudah menyentilku.  Wis, saiki aku tenanan manut untuk rencana-Mu.   No more argue, just thank you ya….

Com’e’ straordinaria la vita!

Salam,

Lintasophia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s