Ini Itu Saat Menyiapkan Usaha

Meski usaha sampingan yang kemarin aku ceritakan belumlah 100 % rampung, rasanya aku sudah tidak sabar untuk berbagi sedikit cerita.  Hal-hal konyol dan cenderung tidak enak tapi siapa tahu bisa menghibur teman-teman.  Jadi, sesuai dengan judul catatan di atas, maka berikut ini ada beberapa hal yang dapat disiapkan sebelum atau  sedang  menyiapkan usaha :

1. Siapkan Mental

Apakah usaha yang sedang Anda fikirkan atau siapkan sesuai dengan minat dan mimpi selama ini, tetap siapkan mental karena selama proses persiapan (membuka usaha) bakal muncul hal-hal diluar dugaan dan cenderung tidak mengenakan.  Kadang kita berfikir A, sedang menjalankan rencana A, eh kenapa jadinya B?  Perencanaan bisnis yang matang mampu meminimalisir the unexpected things.

Mempersiapkan mental juga berkaitan dengan kemungkinan akan adanya perubahan gaya hidup kita.  Terlebih kalau usaha ini kita urus sendiri, tentu saja waktu untuk beristirahatberkurang.   Belum lagi kesempatan untuk nongkrong bersama teman atau keluarga untuk sementara terpaksa didiskon.  Kecuali kalau Anda punya modal lebih dan bisa menyerahkan urusan buka usaha ini kepada pihak lain.  Paling enak sih kalau kita punya karyawan, sedikit banyak kita terbantu.  Kita  bisa datang hanya untuk mengecek hasil kerja karyawan.  Tapi tidak semua seberuntung itu (tiba-tiba punya karyawan atau asisten), bagaimana kalau usaha ini dibuka karena tuntutan ekonomi yang pas-pasan sehingga harus menekan ongkos produksi?  Hehehehe, kondisi ini dialami Mas Ipung yang terpaksa selepas ngantor, makan malam lalu lanjut lagi menggarap (proses) persiapan usaha ini.  Pola pacaran juga ikut berubah, menjadi jarang-jarang berkirim pesan.  Sekalinya BBM-an, ia mengirimkanku foto palu dan kayu….hahahahah…  Obrolan pun tidak jauh dari urusan ini.  Kalau Anda masuk proses ini, nikmati saja.

Tekanan dan kondisi dalam kesempitan memang mengalahkan kantuk serta capek.  Kudu mau dan berbesar hati menerima keadaan (makan, minum dan tidur) yang serba  minim.  Sejak awal Mas Ipung sudah tahu bahwa membagi waktu antara pekerjaan utama, pekerjaan sampingan dan proses persiapan ini butuh energi (baca : semangat) tinggi.  Sampai sekarang Mas Ipung belum menyerah. Keren!

2.   Berbicara dengan Keluarga

Selain menyiapkan mental sendiri, ada baiknya untuk  menyiapkan mental keluarga.  Jangan lupa untuk selalu berkomunikasi dengan  pihak keluarga tentang ide membuka usaha sampingan ini termasul resiko-resiko yang menyertainya.  Dengan demikian keluarga dapat menyiapkan diri ketika ada beberapa perubahan dalam keluarga Anda.  Belum lagi jika Anda terpaksa harus ”menyekolahkan” aset keluarga seperti rumah, tanah atau mobil sebagai modal usaha.   Bisa saja urusan ”menyekolahkan” harta keluarga ini tidak menghasilkan satu suara antara Anda dan keluarga.  Berbicara baik-baik sambil menyodorkan bussines plan tampaknya jalan  yang dapat Anda tempuh.

Karena Anda sudah berjanji untuk melakukan yang terbaik untuk usaha ini, maka ingatkan juga keluarga bahwa kemungkinan akan ada perubahan gaya hidup dalam keluarga Ada.  Mintalah pemahaman dari keluarga saat Anda terpaksa ”menghilang” dari acara arisan keluarga besar.  Pengertian serta dukungan keluarga pada Anda merupakan kontribusi  besar juga pada usaha sampingan Anda.  Syukur-syukur bila keluarga mau urun tangan membantu (materi/imaterial).

3.  Ikhlas dan Sabar

Apalagi ya yang kudu disipain.  Sikap ikhlas dan sabar menjalani proses yang ada.   Ketika memutuskan membuka usaha sampingan dengan modal (dana dan tenaga) secara patungan dengan Mas Ipung,  kita berdua sudah berjanji untuk iklhas menjalani hari-hari dengan mengetatkan ikat pinggang.  Baik di Jogja maupun Genova sama-sama melakukan pemangkasan pengeluaran sehari-hari (padahal selama ini juga rajin pangkas ini-itu hingga nyaris gundul).  Alhasil, jeans kesayangan kedodoran 1 nomor….halah…

Tapi bener lho, kadang sedetail apa pun kita membuat perencanaan, selalu ada biaya tak terduga.  Ini yang membuat perasaan kebat-kebit.   Cukup ga ya modal yang telah dikumpulkan untuk menutupi ongkos produksi hingga masa panen tiba?  Perasaan yang sama kami alami karena ada sedikit perubahan rencana yang akhirnya menambah jumlah modal yang dibutuhkan.  Untungnya semua proses digarap satu per satu, sehingga kekurangan modal bisa disiasati dengan menabung lagi.  Nah, disini sikap sabar dan ikhlas dibutuhkan.  Nabung lagi, nabung lagi.  Puasa lagi, puasa lagi.   Saat melihat orang lain bisa belanja belenji, kita cuma bisa sekedar melihat atau menemani sambil gigit jari.  Namanya juga manusia, walau sudah menetapkan diri untuk tahan banting, tapi urusan jajan kadang menyiksa apalagi jika berhubungan dengan makanan favorit.  Menyadari bahwa yang namanya usaha tidak ada yang instan dan menikmati proses yang dibutuhkan ternyata menjadi obat yang ampuh kalau sedang jenuh.

4.   Saling Menguatkan

Sesulit apapun keadaan yang kita hadapi, semuanya terasa lebih ringan jika punya partner yang solid.  Tentu saja baik dalam arti ia ulet dan tidak mudah putus asa.  Sikap demikian aku harapkan pada Mas Ipung sebagai satu-satunya partner dan poros usaha ini.  Hal yang sama juga diharapkan Mas Ipung dari aku.  Kalau salah satu drop, maka yang lain harus mengangkatnya.  Selama proses persiapan membuka usaha ini, Mas Ipung pasrah untuk hanya  menyantap mie instan atau angkringan sebagai makan malamnya.  Demikian juga dengan aku yang paling banter masak spaghetti dengan saos tomat  (paling murah meriah).   Sudah lupa kapan terakhir kali jajan diluar.

Aku bilang, kelak kalau usaha ini sudah berjalan dan menampakan hasil, maka sampean boleh makan mie instan kalau sampean lagi pengen saja.  :) .  Hebatnya, Mas Ipung tidak pernah mengeluh, tidak seperti aku yang cenderung masih memilih dan moody dalam urusan makanan.  Ketika aku mengeluh dan merasa bosan dengan makanan yang itu-itu saja, Mas Ipung selalu membuatku lebih semangat menyantap spaghetti saos tomat.  *smile.

5.   Up date Isi Kepala

Diantara semua, ini pelajaran paling sulit untukku.  Karena kebetulan, apa yang sedang kami kerjakan bukanlah impianku.  Bukan angan-anganku.  Jika pada impian sebelumnya aku sudah ”qhatam” tinggal aksi saja, maka kali ini aku harus belajar dari awal.  Ya, bener-bener dari awal dan itu agak sulit….hehehehehe…  Saat menemukan istilah tekhnis yang sulit, paling  aku nepok jidat sambil tereak : Oh my God, makhluk apakah yang sedang aku pelajari ini?   Ternyata kendala yang sama juga dialami Mas Ipung.  Meski sama-sama belajar, tapi ketika harus praktek ia kebingungan juga.

Antara praktek dan teori kadang tidak sama.  ”Oh, ternyata ini tho yang selama ini disebut-sebut dalam buku panduan?  Oh, ternyata ini bentuk si A, begitu tekstur si B, segini ukuran si C dan seterusnya”.   Begitulah kira-kira fikiran Mas Ipung yang aku anggap lebih beruntung karena terjun langsung mengurus usaha ini.  Ia akan lebih kaya pengalaman.

Kalau aku tidak terjun langsung ke lapangan, lalu untuk apa aku ikut belajar sampai detail?  Jawabnya, untuk menemukan passion terhadap usaha ini.   Berhubung awalnya aku tidak minat dan memandang sebelah mata terhadap  usaha ini, jadi proses pertama yang aku lakukan adalah mengalahkan diri sendiri untuk mau membuka diri terhadap dunia lain selain mimpiku selama ini.   Selain itu, agar satu visi dan misi dengan Mas Ipung.  Biar klik, gitu lho… Ga lucu pan kalau  obrolan kami tidak nyambung?  Membuat bahasa tekhnis lebih mudah dipahami merupakan tantangan terbesar untukku dan Mas Ipung.  Maklum masih pemula….kekekekekek….

Nah, menurutku sih hal-hal diatas kayaknya bisa disiapkan saat kita memutuskan membuka usaha.  Kalau catatannya belum begitu ”dalam”  mohon maklum ya, karena tidak berdasarkan riset ilmiah.  Hanya berdasarkan pandangan mata saja…🙂🙂 .  Kapan-kapan kita sharing lagi ya.  Kalau ada tambahan saran, mohon kesediaannya berbagi pada kolom komentar.  Tetap semangat ya temans….

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s