Etika Tinggal Bersama ; Dilarang Meninggalkan Jejak

Ini sepotong cerita saat kemarin sempat tinggal di Firenze selama 2 minggu dalam rangka ikut semacam pameran.  Nah, biasanya kalau pameran di luar kota, kami biasanya menginap di hotel.  Berhubung perekonomian sedang lesu, kali ini kami ngekost.  Iya, ngekost alias cuma nyewa sebuah kamar di sebuah apartemen.  Pola perilaku ngekost tentu saja berbeda bila dibandingkan tinggal di hotel.  Kalo di hotel, kita tahu beres sedangkan ngekost semua urus sendiri.

Apartemen yang kami tempati terdiri dari 4 kamar tidur yang masing-pasing ditempati oleh pasangan pelajar dari Korea, seorang pemuda dari Israel dan seorang lagi (lupa berasal dari mana).  Pria terakhir ini bertubuh gempal dan bertindak sebagai kepala suku di apartemen.  Ia yang paling rajin mengingatkan aturan main di apartemen tersebut.  Seminggu pertama kami di sana, keadaan baik-baik saja.  Dapur, kamar mandi dan ruang nonton walau tidak dapat dikatakan higienis, tapi cukup layaklah untuk dihuni.  Setelah seminggu di Firenze, aku kembali ke Genova dan posisiku diganti oleh kakakku.  Jadi, selama beberapa hari kakak dan adikku berdua saja mengurus pameran.  Hingga seorang teman menggantikan posisi kakakku dan ia kembali ke Genova.   Seminggu terakhir aku dan kakakku yang ke Firenze, tukeran tempat dengan adik dan temanku.

Berdasarkan pengalaman saat tinggal di sana sebelumnya, adalah sangat merusak pencernaan jika setiap hari makan junk food.  Aku dan kakak komit untuk masak sendiri di rumah.  Selain lebih sehat, tentu saja lebih leluasa (murah).  Pagi pertama kita pengen masak air untuk menyeduh kopi.  Alamak!  Semua perabotan dapur kotor.  Sampah dimana-mana, termasuk beberapa botol bir.  Tampaknya tadi malam ada pesta besar di sini, fikirku.  Awalnya aku mau saja mencuci panci kecil yang biasa untuk memasak air.  Tapi setelah aku tilik-tilik, ternyata kotor banget, berminyak dan sulit dibersihkan.  Pagi ini gagal untuk minum Coffemix.

Akhirnya kami memutuskan untuk sarapan di luar saja sambil jalan-jalan.  Besok saja acara ngopi santai.  Saat di kamar mandi, aku menemukan kamar mandi dengan tingkat kekotoran yang tidak bisa ditolerir.  Pemakai WC sebelumnya tidak menyikat kakus setelah melakukan ritual pagi.  Niatku untuk  buang air kecil seketika mentah dan lari pontang-panting, kembali ke kamar.  Grrhhhh……

Namun beberapa menit kemudian, tuntutan untuk ke kamar mandi kembali bergema.  Kali ini lebih dahsyat, tak tertahankan.   Aduhhhh…. Dengan menutup mata, ritual pagi itu sukses terlaksana.  Dalam hati aku mengutuk dia yang tidak membersihkan kamar mandi ini.  Aku merasa gemas pengen membersihkan sekaligus  tidak rela alias ogah banget deh membersihkan bekas orang lain.

Lampu kamar mandi aku matikan dan aku kembali ke kamar.  Belum sempat aku melangkah jauh, perasaanku justru tidak nyaman karena menutup mata dari kamar mandi yang kotor.  Lagi pula, kalau ada yang melihat bahwa aku pemakai terakhir, pasti mengira bahwa kekotoran sisa  BAB yang di kakus itu milikku.  Dan orang itu pasti akan mengutuk diriku, sama halnya saat aku menyumpahi pemilik sisa BAB tersebut….Iiiiiihhhh….   Perasaan, kok aneh ya ada orang yang tidak mau membersihkan kotoran yang ditimbulkannya sendiri?   Tipe yang seperti ini sulit diajak kerja sama untuk menjaga kebersihan rumah.

Kejadian yang sama kembali terulang hari-hari berikutnya.  Aku perhatikan, sejak kedatangan orang Korea tersebut, kondisi rumah memang luar biasa kotornya.  Kamar mandi ada 2 dan kebetulan, kamar mandi yang biasa aku pakai mandi (siang hari) telah digunakan mereka pagi harinya.  Dari sampah yang berserakan di dapur, aku mengamati bahwa yang dominan itu adalah sampah yang berasal dari kemasan makanan bertuliskan aksara Korea.  Terbukti sudah siapa pelakunya.

Adik dan kakakku sempat bercerita bahwa memang betul sejak kehadiran pasangan tersebut, rumah ini jauh lebih kotor dan berisik.  Perempuan itu kalau melangkah menimbulkan suara yang luar biasa berisiknya.  Kamar dia paling ujung koridor.  Sedangkan kamarku bersebelahan dengan dapur.  Sebuah kombinasi yang  pas untuk merasakan ketidaktenangan saat dia bolak-balik dari kamar ke dapur dan sebaliknya.  :(.

Berhubung aku dan kakak semakin tersiksa urusan junk food, kami membeli piring plastik plus garpu plastik juga.  Intinya, yang penting bisa makan sehat tanpa harus mengantri piring bekas orang lain yang masih kotor.  Tapi berhubung ternyata urusan bukan cuma di piring, masih ada urusan peralatan masak yang masih jadi kendala.  Tidak mungkin kami membeli peralatan masak juga karena harganya lumayan mahal.  Akhirnya kami harus menghibur diri dengan menyantap burger, kebab atau hot dog setiap harinya.

Ada 1 pesan ringan untuk mereka yang terpaksa tinggal satu atap dengan orang lain; dilarang keras meninggalkan jejak!  Baik itu di kamar mandi, dapur maupun ruang publik lainnya.  Hargai penghuni lain dengan langsung membersihkan kotoran yang telah kita timbulkan dan cek kembali kebersihan dapur/kamar mandi sebelum meninggalkannya.  Tidak mau kan menjadi sasaran sumpah serapah orang lain ketika menemukan dapur bekas kita memasak ternyata kotor.  Begitu juga dengan kakus yang bersentuhan langsung dengan organ-organ vital, tentu kebersihannya harus terjaga, mengingat kakus adalah pusat segala dosa eh penyakit.  Intinya mah, kalau memang berat dan malas untuk membersihkan dapur ya jangan menggunakannya.  Kalau tidak mau membersihkan kamar mandi, ya sudah tahan saja, tidak usah BAB.

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s