Pertanyaan yang Sama dari Orang yang Berbeda

Kemaren aku nambah temen baru, seorang Indonesia yang baru menikah dan tinggal di Paris.  Orangnya cukup menyenangkan dan ceplas-ceplos.   Di tengah suasana becanda, ia menanyakan kapan aku menikah. Bujubune, ga di kampung ga di sini, ada aja yang nanya begituan.

Bagiku, itu merupakan salah satu pertanyaan paling nyebelin (baca : membosankan). Untung kemaren baru gajian jadi perasaan happy-happy saja.  Eh ga deng, aku ga marah, malah terbiasa banget denger pertanyaan ini.  Namun harus aku akui bahwa sudah cukup lama tidak ada yang berani bertanya perihal ini, terutama keluarga besarku yang ”beraninya” di belakang punggungku saja.  Mungkin mereka sudah bosen (sama seperti bosennya aku menjawab pertanyaan yang itu-itu saja).

Kadang bingung kudu kasih jawaban apa dan malas menjelaskannya.  Belum lagi reaksi membosankan dari mereka yang bertanya, misalnya; yang sabar ya, semua indah pada waktunya.  Betul sih, tapi aku pan tidak sedang merana sehingga membutuhkan hiburan seperti itu.  Atau bandingkan dengan pertanyaan susulan, misalnya, nunggu apa lagi?  Keburu tua lho  (tua itu pasti, yang penting berjiwa muda…halah…)…. Ntar begini begitu, kata orang-orang.  Lha, emangnya kenapa?  Batinku sambil menyembunyikan tangan ke belakang, takut nafsuku mencekek orang sedang kumat.  😉 😉

Kalau sekarang sih aku sudah kebal ditodong pertanyaan model gitu.   Pertanyaan yang ga penting untuk dijawab.  Lha, aku saja belum mikirin, so kenapa juga harus ribet kasih penjelasan.  Pertanyaan seperti itu membosankan, nyaris sama dengan model pertanyaan begini : kapan lulus, kapan bekerja, kapan punya anak.  Dijawab atau tidak dijawab pasti akan membutuhkan debat panjang, minimal penjelasan logis dari jawabanku.  Jalan keluarnya, tinggal cengengesan saja.  Syukur-syukur kalau tidak ada pertanyaan tambahan mengapa aku cuma cengengesan. 🙂  Dan catatan ini juga tidak akan menjelaskan apa-apa, kecuali hal di bawah ini :

*****

Aku bertanya kepada seorang teman alasannya menikah.  Jawabannya karena saling cinta dan sudah merasa cocok, lalu nunggu apa lagi kecuali menikah?  Aku menghargai alasannya yang standard itu.  Kemudian aku tanya lagi, trus bagaimana kau yakin bahwa kau ingin menikah dengannya? Masih berdasarkan penuturan temanku, karena dia merasa mau dan ikhlas melakukan pekerjaan yang selama ini dia tidak sukai, misalnya; mencuci, memasak, menyetrika dan pekerjaan rumah tangga lainnya.   Termasuk mematuhi aturan rumah tangga yang sebelumnya dia tidak suka.  Jawaban yang aneh.  Itu  kan konsekuensi  hidup bersama, saling berbagi hak selain tugas alias kewajiban.

Tapi masak sih cuma begitu lalu memutuskan memilih si dia sebagai teman dalam menghabiskan sisa usia?  Menurut temanku, perasaannya happy ketika dia dan pacarnya (sekarang suaminya) membicarakan perihal pernikahan.  Tiba-tiba aku faham perbedaan antara aku dan temanku.  Jawaban iseng dan sederhana dari temanku justru membuka mataku tentang mauku.  Asyik…asyik…asyik…  Hihihihihi….konsekuensinya ya kudu tebal kuping meneriman pertanyaan yang sama dari orang yang berbeda.  Ga apalah, hitung-hitung melatih kesabaran.  *kesimpulan yang ngarang banget.

* Catatan lama yang lolos juga untuk naik cetak  (aslinya males banget nulis perihat ginian).   Btw,  lumayan ngurangin utang draft yang kudu diberesin.

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s