Ada Rencana Ada Kendala

Sebelumnya aku harus berterimakasih pada seorang teman yang atas statusnya di Facebook rupanya mampu menjadi catatan kecil hari ini.  Ceritanya, temanku sedang deg-degan akan si bisnis yang punya target cepat, tepat dengan dukungan planning dan dana terbatas pula.  Waduh, komplit e rek tekanan si bisnis ini.  Bagaimana tidak penuh tekanan dengan kondisi seperti itu?

Walau aku tidak jelas juga kendala perencanaan serta di pendanaan di sebelah mana, tapi aku cuma mau menyoroti perencanaan sebagai pangkal permasalahan buat mencapai target si bisnis.  Aku umpamakan bila bisnis kekurangan dana tapi perencanaan matang, maka bukan hal sulit untuk menarik investor, yang penting sistem bagi hasil jelas.

Banyak kok orang yang sukses cuma dengan bermodalkan  proposal di tangan  yang lalu di lempar ke para investor.  Dan heppp… proyek jalan deh.  Semudah itu?  Bisa ya bisa tidak, semua tergantung pada ide apa yang kita tawarkan.  Berdasarkan pengalaman bekerja dalam tim, maka aku sarankan untuk membuat tim kerja.  Dengan demikian kita bisa mengukur tingkat keberhasilan dengan tenggat waktu yang telah ditetapkan.

Kalau teman ada yang jago marketing, maka minta dia untuk jualan ide/produk.  Isteri ternyata gape membuat website?  Habis ngurus pekerjaan di rumah, boleh minta isteri membantu mengurus website perusahaan.  Lalu bagaimana ongkos produksinya?  Ya itu tadi, bisa dari investor bisa juga dari dana pribadi.  Tinggal buat perjanjian kerja sama dengan tim kerja.  Apakah digaji berdasarkan jam kerja atau karya tapi bisa juga bagi hasil saat proyek selesai.  Kalau konsep jelas serta saling menguntungkan, pasti deh banyak yang mau bantuin.

Kayaknya juga penting untuk mengetahui kekuatan tim.   Dalam sebuah tim, ada orang yang jago konsep tapi lemah dalam pelaksanaan, begitu pun sebaliknya.  Jangan berkecil hati kalau Anda berada dalam kondisi ini, sebab seorang desainer pun tidak semuanya bisa menjahit, bahkan ada yang tidak bisa menggambar.  Ia hanya mendiktekan isi kepalanya pada seorang juru gambar.  Hasil kerja tim mereka luar biasa bagus karena satu sama lain saling melengkapi.

Konsep detail dan sempurna sangat disarankan, tapi jangan terlalu lama, ntar kehilangan momentum alias timing-nya sudah tidak pas.  Hahahahaha, ini mah berdasarkan pengalaman pribadi karena terlalu banyak mikir akhirnya gigit jari.  Niat awal ingin mengurangi resiko gagal, akhirnya aku malah jalan di tempat.  *nepok jidat.  Pegimana mau jadi pioneer kalau terlalu banyak mikir? hehehehe.  Padahal difikir-fikir, kalau punya ide ya dijalani saja dulu sambil mengoreksi kekurangannya dimana.  Orang bule bilang, learning by doing.. *curhat setengah hati.

Untungnya seiring bertambahnya umur, aku segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar.  Aku kembali memikirkan sesuatu dan menuliskannya pada kertas, tidak lupa dengan komponen tenggat waktu, kendala dan sumber potensi yang ada.  Itu semua aku sebut dengan perencanaan.  Dengan begini mulai jelas apa saja yang harus dilakukan.  Mulai mencari informasi apa saja yang harus aku siapkan, melakukan survey pasar,  menganalisis apakah rencana ini masih laku beberapa tahun yang akan datang.   Mendadak jadi visioner deh.  ;)

Menyiapkan ini itu, mencari informasi pendukung serta belajar tetek bengek juga merupakan bagian dari perencanaan.  Semakin banyak informasi yang kita miliki maka semakin mudah untuk  memutuskan,  misalnya tetap maju dengan kekuatan yang ada, mundur dan melupakan konsep ini seumur hidup atau sekedar diundur beberapa saat.  Setiap keputusan akan membentuk konsep baru pula.  Jangan malu untuk belajar dan selalu jujur untuk menilai kondisi kita.  Ini cara yang obyektif untuk menilai kondisi konsep kita keseluruhan.  Tak perlu malu atau sungkan untuk meminta bantuan orang lain, maka kembali lagi ke topik pentingnya penguasaan serta konsep yang matang.

Ada rencana pasti ada kendala tapi pasti terselip juga solusi.  Karena itu jangan sepelekan perencanaan.  Dengan konsep yang jelas dan terang benderang saja masih ada kemungkinan proyek atau bisnis gagal di tengah jalan, apalagi kalau konsep setengah matang?  Jangan-jangan kita pun sebetulnya tidak menguasai konsep yang ada sehingga menyulitkan proses pengerjaannya?  Telor setengah matang sih enak, tapi konsep setengah matang? Big no…no…no…karena rentan terhadap ”serangan jantung.” *big smile.

Salam,

Lintasophia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s