Cinta itu Buta

Note : tidak ada maksud dan tendensi apa-apa ya di catatan berikut ini.

Hari Minggu lalu, toko tempatku bekerja kedatangan sepasang tamu spesial.  Untukku spesial karena yang pria adalah tuna netra.  Dari kejauhan aku dan adikku yang sedang asyik membahas masa depan kita bersama terpukau melihat kedatangan mereka.  Perempuan mengenakan terusan sederhana berwarna ungu ditingkahi bunga berwarna krem.  Sedangkan pria mengenakan kaos oblong biasa dan sebuah tongkat yang sesekali dihentakan ke tanah.

Dengan hati-hati tangan perempuan menuntun pria tersebut menaiki undakan teras toko kami.  Mereka membalas sapaan kami.  Rupa si perempuan memerah, entah karena tersipu  malu atau terbakar matahari musim panas.  Atau dia merasa tidak nyaman karena secara sadar aku memerhatikan mereka.  Mereka berdua asyik mengamati statue kecil-kecil yang  berdiri berdesakan di salah satu lemari.

Tangan pria diajak menikmati kehalusan tubuh patung-patung tersebut.  Tidak jarang patung yang berukuran setelapak tangan berpindah tempat ke genggaman pria tersebut.  Seandainya  sedari awal aku tidak melihat  kedatangan mereka, pastilah aku terkecoh dan tidak menyangka bahwa pria ini adalah seorang tuna netra.

Pelan-pelan patung yang ada diusap-usap mereka.  Beberapa kali tangan perempuan dan pria saling bertumpu.  Kadang aku fikir, mereka sedang membicarakan masa lalu kayu tersebut hingga kemudian menjadi patung dan berakhir di tokoku.  Mereka bertukar cerita.  Atau bisa saja mereka sedang membahas tekhnik pembuatan patung sehingga menghasilkan tekstur yang demikian halus.

Langkah mereka bergeser.  Kembali pelan-pelan tangan perempuan itu mengarahkan tangan si pria untuk mengelus sebuah patung yang terbuat dari kayu jati.  Patung yang tepat berada di depan pintu ini menggambarkan sepasang kekasih yang saling berciuman.  Ukurannya cukup tinggi, kira-kira 80 centi meter.  Kembali tangan mereka berdua menelusuri setiap sudut patung.  Suara mereka tidak begitu keras tapi aku dapat memastikan kalau mereka sedang membicarakan patung itu.  Setelah sekian lama berada di dalam toko, mereka berdua pamit sambil mengucapkan terima kasih.  Sama seperti kedatangannya tadi, kali ini mereka keluar dengan saling bergandengan tangan.  Berjalan sangat pelan.

*****

”Gila, ini baru cinta buta namanya.”  Sahutku pada adik.

”Husss, jangan kurang ajar.  Ga boleh main fisik.”  Seru adikku.

”Eh bukan begitu maksudku.  Aku cuma salut dengan kesabaran perempuan itu yang aku asumsikan sebagai pacar si pria.”   Adikku melepaskan pandangannya dari komputer dan ikut-ikutan melihat keluar, namun pasangan itu sudah tak terlihat.

”Hari gini sulit menjadi seperti perempuan itu.  Pacar sedikit gemuk saja langsung diprotes.  Berapa banyak perempuan yang parno sama jerawat karena takut pacarnya berpaling?  Belum lagi urusan selingkuh sana, selingkuh sini.  Pacar baik dan tampan kayak malaikat masih juga mikirin yang lain.  Apa perempuan itu selalu setia walau kondisi si pria seperti itu?”  Tukasku.

”Ga semua kaleeee….”  Sambar adikku.

”Iya sih, tapi menerima dan memahami kekurangan pasangan itu salah satu hal yang menjengkolkan (baca : menjengkelkan)”.   Adikku cuma menatapku lekat-lekat.  Untung jarinya tidak keburu disilangkan ke dahinya.

”Eh, tapi yang apa yang baru saja kita lihat menurutku sangat menakjubkan.”  Ujarku.

”Menakjubkan apanya?  Emangnya kau belum pernah lihat tuna netra?”  Tanya adikku.

”Banyak, bahkan sering lihat orang yang pura-pura jadi tuna netra.”  Jawabku.

”Apaan sih?… Obrolanmu makin ga jelas deh.”  Protes adikku.

”Iya, banyak orang yang tiba-tiba ga bisa melihat dan tidak mau tahu saat saudara, teman atau rakyatnya kesusahan.  Persis lakon para pejabat di Senayan.”  Adikku geleng-geleng tanda tidak tertarik obrolanku.

”Eh De, menurutmu, pria tadi suka minder ga ya saat mereka jalan berdua?”  Adikku cuma angkat bahu.

”Apa dia tuna netra sejak lahir atau setelah mereka pacaran?  Kirain pasangan seperti mereka ini tidak eksis di dunia nyata.  Model beginian kan cuma ada di dongen atau sinetron”  Adikku lagi-lagi menggelengkan kepala.  Ini orang kalau kurang tidur memang agak susah diajak ngobrol dan cenderung menjadi orang yang membosankan, keluhku dalam hati.

”Trus, kenapa ya perempuan itu mau sama pria tuna netra itu?”  Tanyaku lagi.

”Yaelaaahhh…pan kau sendiri yang bilang kalau cinta itu buta!”  Teriak adikku sambil mengusirku keluar dari ruangan.

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s