Walau Tak Sempurna…

Met pagi Indonesia,

Lama ga bertukar khabar tentang keadaan ekonomi di sini secara umum ya.  Jika digambarkan secara umum, Italia masih krisis dan bahkan menurutku makin parah.  Hal ini ditandai dengan wajah-wajah kusut orang di sekitarku.  Padahal kalau summer gini, orangnya lebih ceria dan lebih gaya.  Tapi sekarang, sangat mudah mendapati orang mengeluh karena kekurangan dana, kehilangan pekerjaan atau ancaman PHK.

Pusat-pusat perbelanjaan sepi, restoran sepi, pizzeria sepi.  Masyarakat lebih teliti dan membatasi diri dalam berbelanja.  Pahit tentu saja karena aku juga mengalaminya.  Berdasarkan obrolan dengan Pino si tukang sol sepatu dan juga tukang sayur tetanggaku, keluhan yang sama terdengar.  Penjualan turun drastis.  Ini tahun yang buruk, kata Hassan  si penjual sayur.  Aku mengamininya dalam hati.  Keluhan yang sama dilontarkan oleh Pino.

Situasi ini terjadi tidak hanya pada Hassan dan Pino, juga Angelina yang merupakan tetanggaku (sekarang sudah pindah).  Demi penghematan, Angelina memutuskan menerima tawaran untuk tinggal di rumah temannya.  Mungkin tentang pindahnya Angelina dan serba-serbi yang terdapat di dalamnya akan kuceritakan lain kali.

Sampai dimana tadi?  Oh ya, tentu saja tentang krisis ekonomi yang makin parah.  Feelingku mengatakan, mungkin keadaan tidak akan bertambah parah, cukup segini saja tapi bukan berarti membaik.  Perekonomian Italia bakal jalan di tempat.  Sudah beberapa waktu ini tempat kerjaku ikutan sepi, bahkan dari tahun lalu.  Sudah lama kekhawatiran akan masa depan melintas di benakku, terutama saat aku putus kuliah.  Tiba-tiba semuanya buram.

Aku harus melakukan sesuatu, maksudku sebuah langkah konkrit agar bisa survive.  Salah satu kebutuhan khusus dan bersifat mendesak adalah membuka usaha di Indonesia.  Sekarang aku lebih kompromi, artinya dengan segala keterbatasan yang ada, aku mau mencoba sesuatu.  Jika awalnya, aku pengen memulai usaha sekitar 2013 saja saat keadaan keuangan sudah longgar, tapi tampaknya kali ini aku harus memaksa otakku jungkir balik menemukan solusi dari semua keterbatasan ini.   Katanya, mereka yang sedang terjepit biasanya lebih solid dan ulet.

Mencoba memegang pepatah bahwa cobaan tidak akan datang melebih kekuatan kita.  Well, artinya mau tidak mau aku memang harus maju dan menghadapi semua kesulitan ini.  Penghematan besar-besaran aku lakukan.  Kalau dulu aku pelanggan setia Christian Dior dan merk terkenal lainnya, maka sudah setahun ini parfumku berganti dengan yang lebih ekonomis.  Jangan tanya tentang harga…. Pastinya murmer.   Perawatan wajah tidak lagi merk yang harus dibeli di toko parfum besar.  Sekarang cukup merk  biasa yang bisa ditemukan di supermarket 🙂 🙂   Kalau tahun lalu masih bisa belanja-belanji, maka sekarang sudah tidak bisa begitu lagi.  Yang penting bisa makan.  🙂 🙂

Secara kasat mata, aku masih jauh lebih beruntung dibanding mereka yang tidak bekerja.  Banyak lho orang Italia yang hidup tanpa pekerjaan dan rela mengantri berjam-jam di lembaga sosial demi sekilo roti.  Aku masih bisa bantu orang tua, tidur di tempat yang aman dan nyaman, nyicil rumah, sesekali jajan and so on.   Jadi, kudu tetap bersyukur.  😉 Bahkan, aku masih diberi kesehatan untuk ngotret-ngotret bakal usaha di Indonesia.

Apa model usahanya?  Sungguh, sampai sekarang juga belum jelas karena baru tahap obrolan dengan beberapa pihak.  Belum ada yang bisa diceritakan dan mungkin terlalu dini.  Satu hal yang aku syukuri bahwa aku dianugerahi kekuatan hati untuk tidak depressi.  Tidak dipungkiri, beberapa masalah dalam waktu bersamaan kadang membuat sempoyongan.  Beruntung juga karena selama ini aku diberkati hobi membaca kisah hidup orang lain.  Bagiku, proses jatuh bangun seseorang selalu menarik untuk disimak.  Sangat banyak profil orang-orang hebat diluar sana yang menginspirasi dan membuat semangat berkobar lagi….halah….

Apa kesamaan dari mereka yang profilnya sering dijadikan teladan dan masuk koran?  Mereka orang yang ”aneh,” berani menantang arus,  kreatif, visioner,  yakin pada pilihannya dan berani mencoba serta tidak mudah menyerah.  Halah, jauh-jauh mengidolakan orang lain, ibuku sendiri contohnya.  Semangat beliau untuk tidak menyerah saat keadaan tidak ramah sangat menginspirasiku.  Sampai sekarang, masih hampir tiap hari aku ngobrol dengan ibu.  Tidak sekedar menanyakan khabarnya dan para keponakanku, tapi karena beliau sumber semangat yang tidak pernah kering.

Sudah beberapa hari ini aku utarakan keinginanku untuk membuka usaha.  Kadang berbeda pendapat dengan beliau walau akhirnya beliau faham akan watak kerasku yang akan mencoba hingga mentok.  Try till drop.  Satu per satu kendala yang ada kujabarkan dan berusaha mencari jalan keluarnya.  Asal aku mau lebih repot, kekurangan waktu istirahat, kepala selalu nyut-nyutan, mungkin aku bisa mengejar ketertinggalanku selama ini.  Beruntung ada internet yang memudahkan segalanya.  Thank’s to God aku dipertemukan dengan teman-teman di sebuah milis yang ”hobi” sharing pengalaman.

Masih kata pepatah, dimana ada kemauan di situ ada jalan.  Sekarang aku lebih fokus dan meluangkan waktu lebih banyak untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan ide ini.  Terus terang, ini ide yang terlambat diwujudkan.  Waktuku sudah tidak banyak.  Sebelum angkat koper dari sini baik secara suka rela maupun terpaksa, maka sebuah usaha untuk survive di Indonesia harus sudah terwjud.

Hahahaha, kadang aku merasa seperti kerbau, harus dipecut dulu baru mau bergerak.  Harus merasakan dulu puasa dan ketar-ketir  baru berani mengambil resiko membuka usaha.  Sekarang melangkahnya kudu ekstra hati-hati.  Kalau berhasil maka merupakan keberhasilan keluarga.  Sebaliknya, jika gagal, maka….hiiii…. (amit-amit sambil ketok meja).

Belajar dari pengalaman, ide tinggal ide kalau tidak dimulai.  Kemaren sempat gigit jari karena ada  fihak lain melakukan ide adikku selama ini.  Selalu begitu, kebanyakan mikir hingga kehilangan momen.  Ide besar sekalipun harus dimulai dengan langkah kecil.  Bukan begitu, kawan?    Lebih baik mulai saja dulu sambil membenahi kekurangan yang ada.   Walau tidak sempurna dan banyak cacat di sana sini, akhirnya aku berani mengatakan . ”Yes, I’ll do.”   Mohon doanya saja agar semua dilancarkan.  Ntar cerita-cerita lagi ya kalo progressnya baik.  Bahkan, dengan senang hati nanti undangannya aku sebar.  Wish me luck, cintaaaa…

Salam hangat,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s