Di sana Mogok, di sini Happy Ending

Holaaaa….

Ini dia laporan pandangan mata setelah nganter surat rujukan kemarin.  Seperti aku ceritakan sebelumnya, tantangan terbesar dalam benakku adalah bus yang akan mogok pada pukul 09.00 pagi.  Memastikan semua berjalan terkendali, tidak belok kanan atau ke kiri, apalagi make acara nyasar.

Aku sengaja bangun sangat pagi, sekitar pukul 06.30 dengan asumsi butuh sejam mulai dari sarapan, mandi dan berkemas.  Hitunganku tidak meleset.  Pukul 07.30 aku sudah nangkring dengan manisnya (ehem…) di halte bus.  Perjalanan ke studio dokter kurang lebih 30 menit.  Jadi, aku akan tiba sekitar pukul 08.00, tepat jam buka studio medico.  Cuma meleset dikit, aku tiba pukul 08.07 menit.  Not bad.

Butuh waktu sebentar saja hingga perawat yang sudah kukenal kemarin menemui para pasien di ruang tunggu.  Perawat itu terperanjat melihat aku benar-benar hadir, bahkan pagi sekali.  Aku tersenyum merasa mampu membayar hutang pada dokter itu.

”Aku kan sudah janji.”  Jawabku membalas pujiannya.  Kuserahkan richiesta dan bukti pembayaran via bank yang kemarin kulakukan.

”Sebentar, kok cuma 14 euro?”  Tanya perawat sambil membolak-balik berkas-berkas yang ditangannya.

”Kata CUP cuma 13,74 Euro kok.  Aku udah konfirmasi ulang angka persisnya.”  Kataku sambil menunjukan beberapa angka pada binderku.

”Duh itu CUP, bener-bener ga up to date deh.  Sudah lama naik, jadi 23,74 Euro.”

”Haaaaa, kok bisa?”

”Bukannya kok bisa, memang segitu neng….”   Sanggah perawat.

”Duh….”

”Sekarang gini aja deh, kau bayar kekurangannya yang 10 Euro trus bawa ke sini bukti pembayarannya.”  Jawab perawat sambil menunjukan jalan pintas yang bisa kutempuh menuju bank yang dimaksud.

Bagus!  Ternyata ini Mr. X yang bakal mengacaukan hari ini, batinku dalam hati.  Harus gitu selalu ada unexpected thing?  Aku meninggalkan ruang tunggu dengan berlari-lari sambil bolak-balik melirik arlojiku.  Duh Gusti, tolong lancarkan hari ini.  Jangan sampai aku ketinggalan bus.

Sampai di teller, ternyata duit di dompet cuma 12 Euro, itu pun sudah dianggarkan untuk membeli tembakau dan makan siang nanti.   Awalnya, aku pengen membayar pakai debit saja, ternyata kalo cuma 10 Euro kudu cash.  Kali ini aku menyesali keputusanku untuk  tidak memperpanjang kartu kreditku.  Kalau urgen gini, kerasa manfaat si plastik pipih.  Total 11 Euro dengan ongkos kirim melayang pagi itu.  Hampir pukul 08.30, aku harus bergegas.  Dana di dompet tinggal 1 Euro, tidak cukup kalau harus bayar taxi.

Lagi-lagi perawat memuji kecepatan kakiku.  Kali ini aku diam saja.  Sebel.  Urusan selesai dan aku kembali lari-lari menuju halte bus terdekat.  Dari kejauhan aku melihat bus yang menuju pusat kota tepat berlalu.  Pengen nangis rasanya.   Kuseka keringat dan menyiapkan diri kalau ternyata harus pulang berjalan kaki.  Terfikir juga kalau masa berlaku tiketku sudah habis?  Di sini, tiket bus berlaku selama 100 menit sejak dipakai pertama kali.  Sementara dana tinggal 1 Euro sedangkan harga tiket 1,50 Euro…. *Mulai hopeless.

Pukul 08.43, bus belum datang.  Aku berfikir keras, harus memutuskan apakah tetap gambling menunggu bus atau mulai berjalan kaki saja agar tepat waktu tiba di toko tempatku bekerja.  Kalau kondisi seperti ini, saat semua harus diurus sendiri, kadang merasa mellow ga jelas.  Menghalau terpaan mentari, kupandang erat-erat ujung sepatuku.  Rasanya capek dan bingung.  Aku memutuskan mulai jalan kaki saja agar tidak telat kerja.

Saat aku membalikan badan, aku melihat calon penumpang di sekitarku bergerak.   Ternyata ada bus!  Bukan jurusan ke kotaku,  cuma sampai stasiun kereta api.  Segera aku bergabung, melompat bersama penumpang lain.  Paling tidak,  berjalan kaki dari stasiun ke tempat kerja masih lebih manusiawi ketimbang dari sini.  Yang penting, bisa keluar dari negeri antah berantah ini.

Pukul 08.57 bus tiba di stasiun.  Senang sekali.  Cepat-cepat aku bergegas, berlari kecil melintasi taman.  Tujuan berikutnya adalah mencari bus tujuan pusat kota.  Asal sudah di stasiun, aku tidak keberatan harus jalan kaki ke toko tempatku bekerja.  Hal ini sudah sering kulakukan saat jalan-jalan sore.    Selama di bus tadi, Teh Maya bolak-balik aku kasih laporan mengenai posisi terakhirku.  Hahahaha, rasanya sedang menjalankan sebuah misi yang sangat rahasia.😉😉

Salah satu bus melintas, penumpangnya tidak seberapa sehingga masih memungkinkan duduk.  Kemungkinan besar masyarakat sudah berangkat pagi sekali sebagai jaga-jaga terdampar di jalan akibat bus mogok.  Rasanya aku seperti kelinci,    lompat sana, lompat sini.  Pada kaca jendela bus kuamati wajahku yang kuyu.   Sebuah perpaduan antara lapar, haus dan kurang tidur.

Pukul 09.00 tepat aku turun dari bus terakhir yang beroperasi pagi itu.  Jalanan sepi.  Segera kukirim pesan ke Teh Maya.  Kukhabarkan bahwa aku sudah tiba di Ferrari (pusat kota).  Ia membalasnya dengan acungan jempol.  Saat tiba di toko,  dari gelombang radio yang mengudara, tersiar khabar bahwa mogok bus secara nasional ini telah mengakibatkan macet dimana-mana.   Volume kendaraan  tak tertampung ruas jalan hingga aksi protes para turis di Roma dan beberapa kota pusat turis bergantian menyambutku pagi ini.

”Ah biar saja di sana mogok, yang penting pagi ini happy ending.”  Kataku sambil menyiapkan peralatan mengepel.

Happy Monday,

Lintasophia

Gambar dari Google

Video dari Youtube

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s