Happy Hurtday

Seharian ini aku pontang-panting mengurus sesuatu yang tidak masuk akal.  Tidak masuk akal karena terjadi padaku dan tidak menyiapkan diri untuk kerusuhan hari ini.  Ceritanya, pagi tadi aku ada kunjungan ke dokter kandungan.  Mau ngecek, kenapa udah lama belum juga punya anak…..halah, ngarang.  Yang bener itu cek baby cek organ kewanitaan (apa ya istilahnya?).

Kunjungan ini biasa disebut visita medico sudah aku booking sejak sebulan lalu.  Sebagai gambaran, di sini tiap orang punya dokter (umum) sendiri.  Setiap kita membutuhkan pemeriksaan, dokter ini yang membuat surat rujukan.  Setelah surat rujukan di tangan (richiesta), kita bisa  memesan tempat pemeriksaan sesuai yang dibutuhkan dalam surat rujukan.  Lama kita mendapat giliran tidak selalu sama.  Kalau aku booking sekarang, bisa saja besok ada tempat kosong atau bahkan baru bulan depan. Kita tidak bisa visita medico tanpa surat rujukan dan tanpa pesan tempat dulu.  Seandainya kita ternyata harus membayar, maka diwajibkan memasuki ruang pemeriksaan dengan bukti pembayaran.  Sebagai info tambahan, tidak semua biaya kesehatan di-cover oleh pemerintah.   Begitu ya kurang lebih sistem di sini.

Kapan kehororan hari ini dimulai?  Tadi malem, saat aku mendapati surat rujukanku tidak ada di binderku.  Alamak, tamat riwayatku.  Semua isi kamar kusisir, bahkan sampai tempat yang mustahil sekalipun namun nihil.  Aku berangkat tidur dengan rasa penasaran di kepala.

Pagi-pagi sekali aku mampir ke toko, mencari surat rujukan yang barangkali terjatuh di sana.  Sama, nihil juga.  Rasanya kesal sekali.  Aku sangat yakin itu jatuh, karena selama ini ada di binder.  Kalaupun aku menyimpannya ke suatu tempat, pasti tempatnya di meja tulisku juga.  Deket komputer, bersama amplop-amplop tagihan.   Setelah menelan pil pahit di toko, aku memutuskan nekad pergi ke dokter kandungan.

Jadwalku sendiri pukul 08.50.  Rencana awal, sebelum berangkat aku mampir dulu ke bank untuk membayar biaya pemeriksaan.  Aku memang terbiasa  membayar biaya pemeriksaan menit terakhir atau pas pemeriksaan, saat aku yakin memang bisa datang untuk visita medico.  Kalau ternyata aku sudah bayar dan tidak jadi datang, males banget ngurus dana yang sudah disetor.

Singkat cerita, dokter memarahiku habis-habisan karena nekad datang tanpa richiesta dan belum bayar pula.   Menurutnya, aku sangat tidak menghargai sistem yang ada.  Aku mencoba menjelaskan bahwa hilangnya richiesta itu baru tadi malem, saat menyiapkan keperluan hari ini.  Aku juga kena semprot karena tidak membayar biaya pemeriksaan jauh-jauh hari.  Aku berdalih, karena biasanya juga aku membayar pas hari H, saat dimana aku yakin bisa memenuhi jadwal.  Dokter manggut-manggut, perasaanku sedikit terhibur.

”Tidak, kamu harus mengambil lagi richiesta, booking tempat dan bayar.  Setelah itu baru boleh nongol di sini.”  Aduuuhhh…bener-bener deh nih dokter ga mau tahu.  Betul sih dokter itu harus bersikap tegas dalam menjalankan peraturan  walau dalam hati aku sedikit mengutuk sikapnya itu.

Sekali lagi aku jelaskan, bahwa logikanya, bila aku tahu richiestaku hilang beberapa hari sebelumnya, tentu aku sudah meminta gantinya.  Tapi faktanya, richiesta itu ketahuan raib tadi malam. Ide yang semalaman nempel di kepala hingga membuatku nekad datang tanpa richiesta kuutarakan.

”Bagaimana kalau pemeriksaan tetap kita lakukan.  Besok pagi aku bawa salinan richiesta plus bukti tanda pembayaran.”  Tuturku.

”Tidak.”  Ketus dokter itu.

Aku menyerah dan siap-siap angkat kaki karena dokter ini tidak mau mengerti situasiku.  Semua jalur diplomasi dan negosiasi sudah kutempuh namun gagal.   Saat aku membenahi tas dan binderku yang sudah terlanjur berantakan (sebelumnya aku membongkar binderku sebagai bukti bahwa aku sangat tertib dan rapi).

”Oke, tapi kalau besok pagi kau tidak datang dengan hal yang dimaksud, maka pemeriksaan hari ini hangus.”

”Deal.” Kataku.

*****

Cerita belum sampai disitu.  Setelah kembali ke toko, aksi bongkar pasang lemari di toko masih kulakukan.  Nol besar.  Aku juga meminta tolong kakak iparku untuk mencari di tempat-tempat yang barangkali tidak aku periksa dengan baik tadi malam.  Nol besar kuadrat.

Mau tidak mau aku menyambar telfon dan menghubungi studio dokterku.  Aku ceritakan masalahku dan mereka menyanggupi untuk membuatkan richiesta baru.  Haleluya.  Katanya, aku boleh ambil pukul 15.30 nanti sore.  Aku tawar agar bisa kumabil lebih awal tetapi mereka menolaknya.  Pertimbanganku, pukul 15.30 sangat mepet, karena aku harus pergi ke bank yang tutup pukul 16.30.  Jarak bank dan studio dokter berjauhan.  Aku tidak boleh salah hitung waktu.

Tepat pukul 15.30 richiesta sudah di tanganku.  Tantangan berikutnya adalah harus membayar biaya pemeriksaan sore ini juga.  Di pagi hari bank buka pukul 08.30, jadi kalau harus ke bank dulu tentu akan merepotkan.  Aku harus mengantar richiesta pagi-pagi sekali karena besok bus akan melakukan aksi mogok selama 24 jam.  Bus hanya beroperasi pada pukul 06.00-09.00 dan dilanjutkan  pukul 17.00-20.30.  Kenyataan di lapangan kadang tidak begitu.  Bus sangat jarang.  Aku khawatir jika besok pagi  terjadi hal tidak diinginkan yang membuat gagal semua perjuangan ini.

Di bus yang membawaku ke arah pusat kota sekaligus letak bank yang dirujuk  untuk membayar biaya pemeriksaan, bolak-balik kulirik arlojiku.  Sudah pukul 16.03. Bank tutup pukul 16.30 dan terakhir mengambil nomor antrian pada pukul 16.15.  Badanku kuyup.

Kutelan ludah yang terasa pahit.  Menenangkan diri sambil memanjatkan puja-puja.  Pukul 16.06 aku turun dari bus.  Secepat kilat aku berlari menuju bank.  Aku tiba cuma beberapa saat sebelum mesin nomor antrian dimatikan secara otomatis.  Lega dan terasa ingin pipis akibat kebanyakan minum dan berlari.

Aku meninggalkan bank dengan langkah gontai.  Lega sekaligus capek sekali karena berlari dari pagi.  Besok pagi kita lihat ending dari semua ini.  Apakah aku harus balik lagi pada tanggal 25 Agustus untuk mengambil hasil pemeriksaan, atau sebaliknya mulai dari semula.  Aku kudu meminta richiesta baru, membuat janji baru.  Semoga besok pagi semuanya lancar sehingga cukup sekali ini saja aku mengucapkan Happy Hurtday for myself (orang kita menyebutnya sebagai Hari Sial).   Capek.

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

2 thoughts on “Happy Hurtday

  1. Rosda berkata:

    Hari ini aku juga kelupaan datang ke salah satu klinik perawatan gigi, padahal sudah diingatkannya (via telpon) dua hari sebelumnya sesuai dengan jadwal appointment. Syukurnya mereka berbaik hati untuk membuatkan appoinment baru, besok pkl 17.30 pm.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s