Z, Sebuah Jalan untuk Pulang

“Every writer has an address”
(Isaac Bashaevis Singer)

Kalimat itu aku temukan pada sebuah obituari seorang kawan yang baru pergi setahun lalu.  Seorang kawan?  Rasanya tidak juga tepat seperti itu, karena relasi kami lebih lebih 1 arah.  Aku tidak pernah berkomunikasi secara langsung dengannya, baik mendengar suaranya lewat telfon atau mendapatkan email darinya.  Aku cuma membaca tulisannya untuk publik.

Seorang gurukah dia? Bila dia guru tentu murid adalah sebutan yang tepat untukku.  Tapi tidak juga seperti itu.  Guru dan murid adalah sebutan yang ganjil untuk relasi ini.   Tentu saja ganjil, karena terlibat dalam relasi guru dan murid pasti akan berbenturan dengan hak dan kewajiban setiap pihak.  Kalau ia, secara moral wajib menggawangi atau merawat rumah yang kami tinggali bersama di dunia maya.  Sedangkan aku cuma tim penggembira.  Boleh datang dan pergi sesuka hati.  Seorang murid tidak boleh begitu.  Minimal harus isi absensi atau menitip tanda tangan  😉  😉

Seorang moderator sekaligus  inspirator, mungkin itu sebutan yang pas untuknya di rumah maya yang kami tempati.  Sebuah komunitas Citizen Journalism yang mengusung motto Siapa saja menulis apa saja.    Zeverina sang moderator setiap harinya bertugas mengecek pintu, jendela, halaman, dapur bahkan genteng rumah komunitas ini.  Distribusi logistik berupa  ketersediaan bahan tulisan yang layak tayang  menjadi tugas utama Zeverina.

Urusan ledeng yang bocor alias perbedaan pendapat di rumah bisa dikerjakan secara bersama-sama dengan anggota lain komunitas.  Tapi masalah logistik itu mutlak Zeverina yang handle.  Untuk hal ini Zeverina memang piawai memilah tulisan dengan topik  beragam hingga rumah kami tidak pernah garing, kering  kerontang. *lebay. 😉 .  Zeverina selalu memastikan bahwa makanan (baca : tulisan) yang tersaji memenuhi unsur gizi.  Sebisa mungkin 4 sehat 5 sempurna. Rumah komunitas kami penuh warna lho.  Jelas, karena tulisan berasal dari berbagai negara.  Mungkin ini komunitas orang Indonesia terbesar di dunia karena tersebar di 166 negara.

Rumah komunitas maya ini biasa dikenal dengan sebutan KOKI atau Kolom Kita.  Dulu rumah KOKI  berada di kompleks Kompas.com  hingga akhirnya pindah ke perumahan lainnya, masih di portal berita yakni Detik.com.  Proses perpindahan rumah ini sangat memakan waktu dan tenaga Zeverina.  Belakangan aku baru tahu, ternyata sambil pindahan itu, Zeverina sedang sakit parah.  Membayangkan Zeverina angkat-angkat kursi, lemari, mesin cuci, buku-buku dalam keadaan sakit membuatku berdecak kagum.  Betapa hebat perempuan yang satu ini.  Zeverina itu ga pernah mengeluh selelah apapun dia.  Tetap ceria dan dedikasinya untuk KOKI tak tertandingi.  Menurut bahasa iklan : tiada tanding tiada banding!

Sayangnya, kebersamaan di rumah baru tidak lama.  7 Juli 2010 Zeverina dipanggil menghadap yang Maha Kuasa.  Berita itu aku terima saat aku di Portugal.  Seandainya tidak ada adikku di sebelahku, tentu aku sudah menangis meraung-raung.   Sayangnya, aku juga sedang bekerja saat itu.  Kalau tidak, bisa dipastikan aku memilih menyepi, mengantarkan Zeverina ke peristirahatan terakhirnya.

Setelah ga ada Zeverina, aku makin jarang pulang ke rumah.  Hehehehe, rasanya aneh aja sih.  Itu sebabnya aku bilang, Zeverina bukan guruku.  Jika aku muridnya, tentu saja sudah di DO (Drop Out) karena tidak pernah mengisi daftar hadir.  Pasti aku juga sudah dicoret dari daftar nama yang tertera di Kartu Keluarga KOKI karena jarang menjenguk saudara di rumah.  Tapi seingatku, tidak ada istilah mantan penghuni KOKI.  Jadi posisiku aman. 😉

Lalu sesungguhnya, siapakah Zeverina  untukku?  Zeverina adalah sebuah rumah yang penuh inspirasi, motivasi, kehangatan dan keceriaan.  Zeverina adalah kumpulan kata-kata, sebuah cerita yang tak pernah habis.  

Zeverina bisa menjadi apa saja, tergantung memandangnya dari mana.  Zeverina adalah sebuah semangat untuk tetap setia pada mimpi.   Seorang perempuan tangguh yang mengingatkanku akan cita-cita lamaku menjadi penulis (meski yang kucatat hal-hal remeh).  Ini terjadi beberapa hari setelah Zeverina berpulang, aku nge-blog (lagi).  Sejak booming blog beberapa tahun lalu, ada sekitar 3 atau 4 blog yang aku buat namun tidak pernah dengan serius aku rawat.  Blog terakhir lumayanlah ada kehidupan di dalamnya. 😉

Betul apa yang tertulis pada obituarinya : “Every writer has an address.”  Kalau diartikan kurang lebih seperti ini : setiap penulis mempunyai rumah.  Aku sudah menemukan rumahku.  Aku telah pulang.   Zeverina telah membantuku menemukan kembali passionku terhadap dunia tulis menulis hingga aku punya rumah sendiri.  Zeverina adalah sebuah jalan untuk pulang, melongok, berkumpul, bertukar cerita, menimbang dan menuliskan susunan kata.  Thank’s ya Z, sampai bertemu di rumah berikutnya!

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

Iklan

4 thoughts on “Z, Sebuah Jalan untuk Pulang

    • lintasophia berkata:

      Mbak Sophie, kayaknya rumahmu paling banyak. Ada dimana-mana. Aku salut ama sampean.
      Berterima kasih ama Z, dia membuka mata kita bahwa kita ada passion di dunia tulis menulis.
      Take care mbak. Inbox aku cerita-cerita terbarumu. Abis dari mana dan makan apa? Heheheehe… 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s