Cinta Yang Merepotkan

”Pokoknya dia harus mau menerima masa laluku!”  Tegas seorang ibu pagi ini mengawali perbincangan kami.

*****

Setelah mengamati etalase toko beberapa lama, ibu itu masuk.

”Neng, boleh nyoba cincin yang ada di etalase?”  Tanya ibu itu tanpa melepas kaca mata hitamnya dan beberapa plastik belanjaan.

”Oh tentu boleh bu.”  Jawabku.  Di sebelah sini, tunjukku ke deretan cincin aneka model dan ukuran.

Mulailah adegan yang telah kuhafal selama ini.  Klien yang mencoba beberapa cincin, mematut diri di depan cermin lalu berkomentar.  Begitu seterusnya.

Si ibu memutuskan untuk fokus terhadap cincin yang terbuat dari kerang.  Bentuknya agak tebal.  Sebetulnya ini ga nyaman untukku, katanya.

”Lalu?”  Tanyaku…

”Aku ga suka pakai cincin, tapi aku butuh untuk menutupi ini.”  Jawabnya sambil menunjuk jari tengah tangan kanannya.  Ada tatto bergambar huruf D.

”Kenapa harus ditutupi?”  Tanyaku agak usil (wong udah terlanjur si ibu yang memulai pembicaraan ini).

”Hari ini pacarku datang, dia tidak suka melihat tatto ini.”

”Lho, kok?”

”Ini inisial mantan pacarku yang dulu…”

”Oooohhhhh….begitu.”  Jawabku sambil menghela nafas panjang sambil menunjukan sikap prihatin atas kondisi si ibu.😉😉

*****

Aku kembali ke aktivitas mengelap-ngelap barang yang ada di toko dan membiarkan si ibu larut dengan cincin-cincin yang ada.  Sesekali mataku mengawasinya.

”Neng, menurutmu, apakah sikap pacarku berlebihan karena memintaku menghapus tatto ini?”  Tanyanya.  Bayangan jari berinisial D tengah disetrika untuk menghapus tatto yang ada melintas di benakku.

”Ha?  Dihapus begimana maksudnya, bu?”

”Ya dihapus.  Tatto ditimpa dengan tatto bergambar lain.  Gambar apa saja, yang penting bukan huruf D.”  Jelas si ibu.  Aku kembali ke meja kerjaku sambil memikirkan jawaban yang bersifat diplomatis untuk ibu ini.

”Uuupsss…  Berlebihan ga ya?”  Aku malah balik nanya. 😉

”Soalnya, pacarku itu lho, tiap lihat jariku bawaannya uring-uringan terus.  Childish banget kan?”  Aku buru-buru mengangguk.  Perempuan kalau sedang curhat begini tidak baik dihakimi.  Merasa kita di pihaknya membuat perasaan perempuan lebih nyaman.

”Mosok tho karena urusan tatto gini pacar ibu bisa marah-marah?”  Setelah mengajukan pertanyaan ini, aku merasa bersalah karena seakan tidak mempercayai ibu ini.

”Weeeehhh jangan salah Neng.  Pria itu makhluk paling menyebalkan sedunia.  Pernah kencan kami berantakan karena moodnya tiba-tiba hilang saat melihat tatto ini.”  Jelas si ibu sambil mengacungkan jari tengahnya.

”Lha?”  Aku melongo.

”Iya”

”Terus enaknya gimana bu?”

”Aku juga bingung.  Hari ini kami janjian bertemu, dia mau datang.  Tuh aku baru belanja untuk masak-masak siang nanti.”  Si ibu menunjuk plastik belanjaannya yang tergelatak begitu saja di lantai.

”Ohhhhh…”  Aku mengangguk tanda faham.

”Cuma, ya itu…  Aku males berantem karena urusan tatto ini.  Setiap kami bertemu, perasaanku was-was, takut dia marah.”   Si ibu merapikan kembali cincin yang telah di cobanya.

”Apa ibu terima saja saran pacarmu untuk buat tatto baru di atas huruf D itu.”   Saranku sekenanya.

”Ini bukan masalah aku tidak mau membuat tatto baru, tapi ini masalah prinsip.”

”Maksudnya, bu?

Lihat tatto ini dan ini, katanya sambil menunjukan tatto lain di daerah dadanya.  ”Tatto ini juga aku buat sewaktu aku bersama mantan pacarku.  Masih ada  tatto di daerah lain.  Masih dari mantan yang sama.   Masak semua harus aku hapus?”

”Hehehehe, iya juga ya?”

”Tatto ini aku buat jauh sebelum aku bertemu dengan pacarku yang sekarang.  Prinsipku, tiap orang punya masa lalu dan pacarku harus mau menerima masa laluku.  Betul kan, Neng?”

”Betul, betul.  Betul itu bu…”  Jawabku sambil mengacungkan jempol.

”Nah, masalahnya….  Menurut pacarku, aku bersikap ga adil.”

”Maksude opo, bu?”

”Kalau dulu aku mau membuat beberapa tatto untuk (mantan) pacarku, kenapa sekarang aku ga mau melakukannya untuk dia?  Apa menurutmu aku ga adil?”  Duh, ditodong pertanyaan begini bikin aku bingung.  Urusan cinta berbeda dengan ilmu kimia atau matematika yang merupakan ilmu pasti.  Dalam matematika,  1+1 = 2.  Kalau ilmu percintaan, bisa saja hasilnya = 2 atau 3.  Bisa juga 1+1 = 5,4 atau mungkin malah jadi minus.   Ada baiknya menyelesaikan masalah dengan logika tapi tampaknya tidak untuk urusan cinta ibu yang satu ini.

”Adil ga?”  Tanya si ibu membuyarkan lamunanku.

”Susah menjawabnya, bu.  Tapi tatto itu ibu buat jauh sebelum bertemu pacar yang sekarang, menurutku sih pacar ibu juga nrimo aja kondisi ibu.   Betul kata ibu,  tiap orang punya masa lalu.”  Aku membela si ibu.  Obrolan pagi ini serasa obrolan ibu-ibu di salon.🙂

”Pinter!  Nah itu maksudku.  Tapi pacarku ga mau mengerti.  Makanya aku menyiasati dengan menutupi tatto ini pakai cincin.”  Tangannya kembali meraih cincin yang tadi telah diletakan.

”Oooohhh…”  Jawabku.

”Masalahnya, aku ga suka pakai cincin.  Aku lebih senang pakai aneka gelang.”  Ia menggoyang-goyangkan lengannya, membuat aneka gelang perak yang dipakainya mengeluarkan suara riuh rendah.

”Kalau ibu tidak suka, jangan dipaksa (pakai cincin).”

”Ah, aku bosen berantem terus, Neng.”  Jawabnya.

”Ok.”

”Pacarku itu orangnya aneh.  Pernah kami akan bercinta, eh tiba-tiba nafsunya hilang setelah lihat tatto-tatto di badanku.”  Lanjutnya lagi.

”Waduh?” 😦

”Iyaaaa…   Tapi itu kondisi tertentu sih.  Kalau mood dia benar-benar parah.  Pas lagi nafsu mah, langsung nyosor aja.  Dia pura-pura tutup mata kali”  Tawa si ibu tergelak.

”Oohhh…”  Aku lagi-lagi melongo sambil mengangguk tak berkedip.

”Yang ini bagus ga, Neng?”  Tanya si ibu sambil memamerkan sebuah cincin.

”Yang penting ibu merasa nyaman.  Kan ga pernah pakai cincin.”  Ibu itu mengangguk sambil menyerahkan cincin untuk kubungkus.

*****

Setelah membayar cincin, ibu itu tidak langsung pergi.  Curhat pagi ini masih berlanjut.  Aku mendengarkan dengan seksama, sampai ibu itu merasa puas (curhatnya).🙂

”Kalau ibu tertekan dengan pacarmu, kenapa masih berlanjut?”

”Itulah cinta, tidak semua bisa dijelaskan.”

Agree, kataku dalam hati.

”Walau cinta itu merepotkan, tetap ibu jalani ya?”  Kataku sambil mengedipkan mata.

”Ciao, cara…”  Katanya sambil kiss bye.  Aku cuma bisa geleng-geleng melihat ibu itu.  Semoga ntar malem ga berantem lagi ya, bu…

Salam,

Lintasophia

Gambar dari Google

* Cara : teman (bhs Itallia)

2 thoughts on “Cinta Yang Merepotkan

  1. Rosda berkata:

    Cinta oh cinta….ada rumah tangga yg setip saat berantem…tapi tetap langgeng sampai kini. Mungkin disini nikmatnya….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s